Uang Waktu dan Ilmu

June 24, 2021
afi

UANG, WAKTU DAN ILMU
(Seri Happy Money Part 9)

Pada tulisan sebelumnya kita sudah membahas tentang 2 tipe manusia berdasarkan pola emosionalnya terhadap uang.
Tipe yang sudah kita bahas adalah THK(Tipe Hemat Kebangetan) dan juga TGB(Tipe Gatal Belanja).
Selain itu pada postingan sebelumnya kita juga membahasa mengenai kemungkinan kondisi penyebab dari kejadian yg dialami di masa lalu. Jika Anda belum membacanya, Anda bisa baca di t.me/awansg

Sebelum saya melanjutkan pembahasan kepada tipe yang ketiga, saya ingin bercerita satu hal terlebih dahulu.

Pada suatu ketika saya berpartner dengan salah satu rekan saya untuk membuat bisnis.
Setelah berjalan beberapa saat, tampaknya bisnis harus kita hentikan karena hasilnya tidak sesuai dengan keinginan.
Alhamdulillah karena diawali dengan niat baik, silaturahim kami terus berjalan tanpa ada kendala.

Kemudian setelah beberapa saat partner saya bertanya: kok mereka bisa sukses ya? kok kita tidak bisa ya?
Beliau bertanya seperti itu karena model bisnis yg kita jalani belum berhasil mencapai kesuksesan seperti salah satu brand yang jadi referensi kita.

Ketika saya merefleksikan diri terhadap pertanyaan itu, saya terpikirkan mengenai 3 komponen:
1. Uang
2. Waktu
3. Ilmu

Kebanyakan orang mengejar uang dalam aktifitasnya. Entah itu beraktifitas sebagai pengusaha atau sebagai profesional.
Namun jika ditelaah lebih lanjut kita akan bisa lihat bahwa uang merupakan efek terhadap manfaat-manfaat yang kita berikan kepada orang lain. Kita memberikan manfaat kepada orang lain dengan cara memberikan waktu kita, atau membagikan ilmu kita. Begitulah alur bagaimana uang tercipta.

Misalkan dokter. Dia memberikan manfaat kesehatan kepada orang sakit. Sehingga orang mau memberikan uang kepadanya. Dalam hal ini
Dokter memberikan manfaat berkaitan dengan ilmu yg dia miliki dan waktu yang dia berikan dalam menangani pasien.

Contoh lain mengenai penciptaan uang adalah kegiatan memasak. Karena saya tidak punya waktu untuk memasak maka orang lain yang memasak, saya yang makan. Selanjutnya saya akan membayar waktu yang dihabiskan untuk memasak makanan itu kepada yang memasak.

Semakin tinggi ilmu memasaknya, maka kemungkinan besar akan semakin banyak uang yang saya keluarkan. Misalnya yang masak adalah chef di restoran hotel bintang lima. Dia punya ilmu memasak yang tinggi sehingga membuat makanan jadi lezat, dia juga punya ilmu menyajikan makanan sehingga tampak sangat menarik dan menggugah selera. Bahkan dia juga bisa mendesain ruangan makanan jadi nyaman dan eksklusif sehingga sehingga ketika saya membawa kolega saya makan di restoran hotel bintang lima tersebut status sosial saya jadi naik.

Saya pikir, jika mau diberikan skala prioritas. Maka yang paling besar pengaruhnya dalam penciptaan uang adalah: ilmu. Uang akan mendekat kepada orang yang berilmu. Karena dari ilmu tersebut maka dia akan bisa memberikan manfaat kepada orang lain.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana jika belum punya ilmu?

Jika belum punya ilmu, berarti harus mau membayar dengan waktu. Harus mau meluangkan waktu untuk belajar, praktek dan bereksperimen. Sehingga akhirnya bisa berilmu dan bisa memberikan manfaat bagi orang lain.

Salah satu pengalaman saya ketika saya tidak punya uang adalah memberikan waktu saya agar bisa bermanfaat bagi orang lain. Waktu itu saya baru menjalani operasi lutut dan oleh dokter diminta untuk istirahat di atas tempat tidur selama 6 bulan. Karena tidak bisa masuk kantor, maka saya mencari pekerjaan lewat internet. Saya memulai dengan pekerjaan yang modalnya cuman waktu, yaitu mensetup situs wordpress untuk orang lain. Pekerjaan yang sangat mudah bahkan banyak sekali tutorial nya di youtube. Saya pikir pasti di luar sana ada orang yang tidak punya waktu untuk melakukan instalasi wordpress. Atau waktunya lebih berharga mengerjakan sesuatu yang lain daripada mensetup website. Ternyata betul saya menemukan orang-orang yang mau membayar atas jasa tersebut. Uang yang saya terima saya pakai untuk kebutuhan hidup saya dan belajar hal2 baru. Sehingga kemudian saya bisa terus melayani klien yang berbeda2 dari ilmu yg saya pelajari. Waktu itu saya sempat melayani klien dari USA, France dan juga Switzerland.

Itu jika dari sudut pandang profesional.

Jika sudut pandangnya adalah pebisnis maka pebisnis perlu menyiapkan uang, waktu dan juga ilmu. Uang untuk modal bukan hanya untuk modal produksi tetapi juga modal operasional.

Operasional standar yang dibutuhkan oleh sebuah usaha mencakup bidang:
1. Marketing
2. Sales
3. HRD
4. Financial
5. Produksi
6. RnD

Memang ada bidang2 usaha yang tidak membutuhkan lengkap seperti di atas. Misalnya jika Anda membuka kantin di dalam kampus yang ramai oleh mahasiswa, maka mungkin Anda tidak perlu marketing dan sales.

Namun untuk bidang2 tertentu prioritas terhadap Marketing dan Sales adalah urat nadi dari bisnis. Karena bisnis tidak bisa berjalan, jika tidak ada penjualan.

Untuk terjadinya sebuah penjualan pemilik bisnis perlu mengalokasikan Uang, Waktu atau Ilmu. Kalau ilmunya tidak ada, berarti harus mau menyediakan waktu untuk belajar. Namun jika waktunya juga tidak ada, maka harus mau menyediakan uang tambahan untuk membayar orang yang punya waktu dan ilmu. Dalam kasus saya, salah satu bisnis tidak berjalan dengan baik karena saat itu kami hanya menyiapkan biaya produksi saja. Kami tidak punya ilmunya dan kami tidak punya waktu untuk mempelajari, mengengeksekusi atau bereskperimentasi. Kami juga tidak menyiapkan biaya untuk membayar orang yang punya waktu dan punya ilmu untuk bisa menjalankan bisnis tersebut.

Ada yang bilang bahwa kadang kita menang dan kadang kita mendapatkan pelajaran.

Bagi saya semua proses di atas baik dalam kacamata profesional maupun bisnis adalah pelajaran yang sangat berharga bagi saya.
Mudah2an tulisan ini juga memberikan manfaat bagi Anda berkaitan dengan penciptaan uang dalam kehidupan Anda.

Tentu saja karena keterbatasan waktu penulisan saya tidak membahas mengenai faktor keberuntungan maupun campur tangan Tuhan. Yang mana hal itu berperan sangat dominan dan berada di luar jangkauan manusia. Tugas kita adalah terus bergerak, berusaha, dan mengiringinya dengan doa…

Semoga sehat dan sejahtera selalu ya… jangan lupa untuk tersenyum dan bahagia 🙂

(bersambung ke part 10…)

No comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *