Mengubah Malas menjadi Sukses – Kisah Pendiri Penerbit Jabal

Perkenalan saya dengan Kang Hendra Setiawan dimulai ketika saya mengikuti sebuah camp wirausaha. Kebetulan waktu itu saya kebagian menginap sekamar dengan beliau. Ketika saya menanyakan apa usahanya? Beliau bilang… pedagang kaki lima, jualan buku…

Saya tidak pernah menyangka bahwa itu adalah awal dari sebuah relationship yg membawa banyak pencerahan dalam hidup saya.

Tentu saja saya tidak begitu saya percaya bahwa Kang Hendra ini betul2 jualan buku di kaki lima. Pelan2 baru ketahuan siapa beliau…

Hendra Setiawan lahir tahun 77, pernah kuliah dobel di UGM jurusan akuntansi dan juga Unsoed manajemen. Pada saat kuliah menurutnya, beliau tergolong mahasiswa yg malas dan tukang tidur. IPK nya di UGM 2,0 dan di Unsoed 2,8. Namun perkenalannya dengan 2 organisasi membentuk perkembangan kepribadiannya.

Organisasi yang pertama adalah masjid. Sewaktu jadi mahasiswa, beliau tinggal di Masjid dan belajar banyak tentang pelayanan. Hal ini dikarenakan banyak orang yang datang ke masjid dan butuh bantuan. Pernah suatu keika ada orang yang mau nyari alamat, dan dibantu muter2 3 hari nyari kos2an. Eh kemudian diketahui bahwa motivasi orang ini pengen mengembalikan dompet dan ingin diberi imbalan. Di Masjid inilah PH belajar tentang membantu dan melayani orang lain secara ikhlas. Organisasi kedua yang berkontribusi di dirinya adalah HMI. Di sana PH belajar tentang kebebasan berpikir. Sampai saat ini masih sering bertemu dengan teman2 HMI dan juga tokoh2 besar yg pernah tergabung di dalamnya.

Karena ketika kuliah beliau menyadari bahwa dirinya adalah orangnya malas, jarang kuliah, dan tukang tidur, maka beliau merasa tidak cocok bekerja sebagai karyawan. Kemudian yang beliau lakukan adalah menciptakan sistem yg cocok dengan gayanya sendiri. Jadi mulailah beliau memulai berdagang. Dagang macem2 apa aja parfum, cendol, alat-alat tulis. Termasuk jualan pulpen di bis pernah beliau lakukan. Tahu kan orang2 yg jualan di bis, pidato dulu di depan dan pulpennya dibagi2kan?

Setelah lulus kuliah beliau mulai merintis usaha penerbitan. Rumus yg selalu dia pegang adalah: cari bisnis yg mensyaratkan dibayar secara cash oleh pembeli, dan jika membayar ke supplier juga cash, sukur2 ke supplier bisa mundur. Beliau berprunsip tidak pernah melakukan piutang, dan membayar secara cash.

Dengan rumus ini, keuangannya selalu sehat dan disukai oleh para supplierkarena selalu membayar dgn cash. Bisnisnya pun membesar sehingga Penerbit Jabal menjadi salah satu penerbit terkemuka untuk Al Quran dan juga buku-buku agama islam. Total Al Quran yang pernah dijual sudah menembus angka 1 juta.

Namun begitu beliau merasa bahwa pencapaian terbesar Jabal bukan di omset atau di penjualan, tetapi perusahaan senantiasa dalam kondisi yg sehat karena selalu membayar dengan cash dan tidak punya piutang.

Beliau menceritakan bahwa saat sekarang ini, cash is the king. Karena dengan adanya cash, maka sebuah perusahaan selalu bisa mempunyai posisi yg lebih menguntungkan dalam menentukan penawaran harga dari supplier. Perusahaan juga pastinya dalam kondisi yang sehat, karena memiliki cash segar untuk membiayai operasionalnya. Bahkan beliau mensharingkan tidak ada perusahaan yang bangkrut karena rugi… yg ada perusahaan bangkrut karena tidak punya cash untuk membiayai operasionalnya. Mungkin sudut pandang pencapaian ini, didapat karena background beliau yg mempelajari akuntansi. Beliau juga pernah mengikuti sertifikasi Islamic Financial Qualification yang diberikan oleh Farouk Abdullah Alwyni, mantan direktur bank muamalat.

Namun begitu perjalanan usaha tidak selalu mulus. Ketika sedang merintis bisnis baru yaitu travel umroh, beliau pernah tertipu sebesar 1,2 Milyar. Tentu saja itu bukan uang yang sedikit dan sempat membuat beliau galau selama 3 bulan. Momen kebangkitannya dimulai saat mengingat lagi apa yang paling membuat semangat dalam hidup saat ini, yaitu keluarga. Bukan hanya keluarga inti (anak/istri) tetapi juga ada anggota keluarga di luar keluarga inti yang mendapatkan manfaat dalam perjuangannya berusaha. Syukur alhamdulillah, kerugian itu tidak berdampak di bisnis penerbitannya. Bahkan kemudian malah bertambah asetnya. Seperti biasa pembelian aset pun dibayar secara cash.

Beliau berkata bahwa nasihat terbaik yg pernah didapat adalah… Differentiate or Die (Berbeda atau mati). Kang Hendra dapatkan itu di buku karangan Jack Trout. Dari situ beliau berpikir bahwa bisnisnya harus ada pembeda. Walaupun secara jujur mengatakan kalau ditanya apa perbedaan Jabal dengan penerbit lain, beliau berkata tidak tahu…tetapi mindset bahwa harus selalu berbeda itu selalu dipakai. Buku lain yang menginspirasi adalah The Road to Mecca, yang menceritakan tentang perjalanan hidup Mohammad Asad. Nilai yang menginspirasi dari buku itu adalah kebebasan untuk bertindak dan melakukan apa yang diinginkan dalam hidup.

Pak Hendra senang sekali menonton film perang dan autobiografi. Bahkan juga… main game tentang perang. Kalau main game perang bisa sampai di tegur istri karena habis isya main sampe subuh.. dan setelah subuh baru tidur. Setelah itu bangun, makan main lagi sampai tamat. Berhenti hanya kalau makan, sholat dan ke kamar mandi. Beliau mengungkapkan bahwa di game dan film perang terdapat strategi2 yang sangat beliau senangi. Nonton film tentang biography juga banyak memberikan pelajaran berharga di hidupnya.

Di akhir pertemuan, saya mengajukan pertanyaan imajiner…

Kalau Anda bangun di dunia yg baru, suasananya seperti bumi. Peradaban nya sama dengan saat ini. Namun Di sana tidak kenal siapa2 cuman ada uang 5jt dan laptop, apa yg mau dilakukan?

Beliau berkata dengan enteng….
– Laptopnya dikasihin ke orang yg membutuhkan.
– 2,5jt nya di infaq kan.
– 2,5jt sisanya dibuat menikmati hidup.

Kenapa bisa begitu? karena menurut beliau tidak ada jaminan besok masih hidup. Tidak ada jaminan besok bangun di dunia yg lain dan dapet laptop dan 5jt lagi. Juga tidak ada jaminan kalau engga ada duit engga bisa makan. Disamping itu tidak ada jaminan punya umur panjang.

Yang pasti adalah… sekarang ada laptop dan uang di tangan. Yang pasti adalah sekarang bisa bersedekah dan menikmati hidup yang diberikan.

Terus kalau ternyata umur masih ada dan duit sudah habis gimana? Yah tinggal kerja atau jualan apa gitu, jawabnya….

Sekali lagi, tidak ada jaminan bahwa kalau tidak ada uang tidak bisa makan…

Pandangan yang menarik, mungkin inilah nilai yang membuat bisnisnya membesar secara sehat. Bersedekah dan menikmati apa yang ada sekarang. Kalau tidak punya dan ada kebutuhan, ya simple saja…berusaha. Tidak heran yayasan yang didirikannya: Pondok Yatim Al Hilal juga berfungsi sebagai saluran kegiatan philantrophynya. Memiliki beberapa pondok yang tersebar di bandung dan juga ratusan anak yatim yang tinggal di dalam pondok dan juga di luar pondok.

Terima kasih atas ilmunya Kang Hendra dalam tiga kata, beliau ini adalah lowprofile, ikhlas dan philantropist. Pastinya akan menginspirasi banyak orang lagi… ???

*Made with love by Awan Rimbawan*

Pelajaran dari Seekor Kadal

(catatan singkat dari Mastery Course Asiaworks dan Buku Mastery karangan George Leonard)

saya mengalami pikiran yang kacau
saya mengalami konsep kecewa
saya mengalami pikiran bahwa saya orang yang gagal
saya mengalami pikiran kembali ke masa lalu, masa di mana saya melakukan kesalahan
saya mengalami sensasi fisik lelah dan ingin tidur
saya mengalami pikiran bahwa saya adalah orang yang tidak berguna

Kawan…
Apakah yang anda alami, ketika Anda sedang kecewa?
Apakah anda kecewa…atau Anda mengalami konsep dari kecewa?
Jika Anda menjawab bahwa Anda kecewa…bagaimana Anda tahu bahwa itu adalah kekecewaan?

Dalam buku Mastery karangan George Leonard, salah satu hal yang saya dapatkan…
Bahwa saya pikir Mastery terbatas kepada seseorang yang sedang mengejar skill tertentu.
Katakanlah pelukis, ahli bela diri, programmer dll…

Namun kemudian saya mengalami pemikiran lain.
Pemikiran yang saya alami ini muncul setelah saya mengalami breakdown pagi ini.

Bahwa Mastery tidak terbatas kepada orang-orang yang saya sebutkan di atas.
Mastery sebagai sebuah jalan, melingkupi segala hal…
Melingkupi ketika saya mencuci piring…
Melingkupi ketika saya mengantarkan istri belanja…
Melingkupi segala aspek dalam hidup saya…

Bahkan menjalani hidup itu sendiri adalah sebuah Mastery, sebuah jalan untuk berlatih.
Karena berlatih…dalam jalan Mastery bukanlah kata kerja…namun sebuah kata benda…

Kemarin, di hari libur…saya berkomitmen untuk menghabiskan buku Mastery dalam 1 hari.
Di tengah2 saya membaca, entah dari mana datangnya…ada kadal kecil masuk ke dalam rumah.
Tahu kan kadal yg biasa ada di semak2 rimbun yang larinya cepat?

Walhasil, saya berusaha mengejar2 kadal itu lari kesana kemari.
Ke pojok lemari es, ke bawah lemari, ke kolong tempat tidur, bukan main susahnya…

Kegelian saya terhadap kadal tidak membantu sama sekali, malah memperpanjang proses penangkapan kadal tersebut.
Namun karena saya adalah satu2nya laki2 di rumah, mau tidak mau saya yang maju.

Di tengah2 kefrustrasian saya, saya mengalami pemikiran…
Arrgghhh… I just want to read a book…why this thing happened to me?
Why I can’t be alone enjoying this book…I just want to know what Mastery is…

Lalu saya teringat kata2 Ken Itoh, seorang Trainer Mastery Course dari Asiaworks
“Have what I have…”

George Leonard di bukunya juga berkata…
Bagi seseorang yang menapaki jalan Mastery, tdk ada “in between” semuanya adalah jalan untuk berlatih.

“Before enlightment, carry water and chop wood. After enlightment, carry water and chop wood”

Kebayang kan bagaimana seorang samurai yang mengeluh karena diberikan pertempuran yang menurut pikirannya gampang?

Berangkat dari situ saya mencoba menjalani nya dengan sepenuh hati…
Surrender…coming from nothing…
Beruntung, kadal itu akhirnya berhasir saya keluarkan.
Dengan menahan kegelian yang membuncah2 di dada…

My fellow traveler…
Di titik ini saya menyadari, bahwa di dalam kehidupan tidak ada yang perlu dicapai.
Karena ketika mencapai sesuatu hal, maka sesuatu itu akan lewat menjadi masa lalu.
Selanjutnya akan ada lagi sesuatu yang baru.
Jalan menuju mastery tidak akan pernah ada ujungnya.
Seumur hidup.

Di dalam relationship saya…saya mengalami kemajuan…kedataran…kemunduran…kebahagiaan…kekecewaan…
But that’s not the point…The point is…
Whether I want to continue the journey of Mastery in my relationship or not?
Am I willing to see my spouse as if I don’t know anything about her…or my mind is already full about my concept, prejudice, judgement about (I know) her?

Di dalam usaha saya…saya mengalami kemajuan…kemunduran…stagnasi…
But that’s not the point…
The real question is…
Am I willing to embrace it and continue learning in the journey of Mastery in my business or not?
To accept the stagnation, the profit loss, while continue to hone my business acumen…

Awan Rimbawan, [16.04.17 12:16]
Di dalam keimanan saya…saya mengalami kemajuan…melakukan dosa…mengalami syukur dan kekecewaan…mengalami kemunduran…mengalami rasa datar2 saja…
But that’s not the point…
The real question is…
Am I willing to continue adding my knowledge about the essence of my religion?
Am I willing to do good things more and more good things after I committed a sin?
Am I willing to continue searching ways to become closer and closer to Him ?

The journey to Mastery it is a long long road…
There’s nothing to get…not there’s nothing to get…
The continuous process is what matters…
Continue to focus on the question instead on the answer.
Continue to let go what have been collected, in order to embrace new things that haven’t been understand.
Continue to use fool’s mind, instead of expert mind.

Itu sebabnya Jigoro Kano…pendiri Judo, di akhir hidupnya berwasiat kepada murid2 yang mengelilinginya.
Wasiatnya adalah agar dikubur menggunakan white belt (sabuk pemula).
Padahal dia adalah seorang guru martial art yang punya ratusan ribuan bahkan jutaan murid.
White belt bukan hanya cermin dari kerendahan hati.
Lebih dari itu, merupakan mindset bahwa dia adalah selamanya seorang yang tidak tahu apa-apa.
Karena ketidak tahuan nya itulah dia terus berlatih…mengeksplorasi…tanpa beban seorang ahli…tanpa beban pemikiran “I know”

Are you willing to wear your white belt?
Or do you prefer to protect your image as an expert and black belt owner?

*written with love by awan rimbawan
*feel free to share if you think this is going to be useful for other, no need to ask permission nor pay anything to me ???

Kisah MB, Pengusaha Muda Yang Memilih Untuk Tidak Bekerja di Perusahaan Besar

Kemarin saya mendapatkan sebuah kesempatan berbincang dengan seorang pengusaha muda.

Sebut saja namanya MB. Beliau kelahiran 83 dan kisahnya sungguh menginspirasi.

Awalnya di tahun 2006 beliau mencoba menjual kerajinan tangan dan untuk berjualan dibuatlah sebuah website untuk market di Indonesia.

Di awal2 jualan tentunya sulit cari orderan. Bahkan keadaan itu memanjang sampai berbulan2.
3 bulan awal kerjanya cuman mantengin komputer dan internet dari pagi sampai malam. Rutinitasnya adalah cek email, blast email, cari database, cari prospek yg mau ditawarin…

Namun sayang ga pernah ada hasil… selama 3 bulan itu penghasilan nol besar, malah ada ga behenti keluar. Ngerjainnya di tempat kosan temen, yang nyewain internet dan komputernya.

Pada saat itu, MB baru lulus kuliah dari kampus yang terkenal. Kawan2nya dapat dengan mudah masuk ke perusahaan bonafid. Kebanyakan oil dan gas. Tentunya dengan gaji besar dan prestise yang tinggi.

Apalagi MB baru memulai bisnis setelah lulus kuliah. Karena dulu saat kuliah fokusnya adalah belajar belajar dan belajar. Orang tua menginginkan agar MB bisa berprestasi kemudian diterima kerja di oil dan gas agar cepat kaya seperti pamannya. Saudara saudara dekat juga sering mengingatkan bahwa…kamu usaha ga ada untungnya…rugi udah kuliah…lebih baik cepat kerja agar bisa kaya raya…

Malu sekali rasanya MB pada saat itu melihat teman2nya sukses, MB merasa minder, tidak pede dst…

Kegagalan memulai usaha pertama tidak menghentikan langkahnya. Lanjut pertengahan tahun 2007 MB melihat ada peluang untuk menjual kerajian miniatur alat musik ke luar negeri. Disitu mulai sedikit demi sedikit ada penjualan.

Waktu berjalan dan sambil berjalan berjualan miniatur alat musik, MB mencoba merintis usaha baju muslim di pertengahan 2008.

Namun awal 2009 badai kembali datang. Usaha miniatur musik nya tidak berjalan dengan lancar karena sepi order gara2 krisis global. Usaha baju muslim juga masih merugi dengan rapotnya merah tiap bulan.

Padahal partner usaha bisnis muslimnya sudah dia ajak untuk hijrah ke bandung, meninggalkan peluang kerja yang ada di jakarta.

Ditambah lagi, waktu sedang mengurus produksi ke penjahit partnernya ini terkena kecelakaan.

Awal 2009 benar2 momen dimana MB ini hampir mau menyerah. Tidak ada pemasukan, usaha rugi, banyak saudara dekat dan teman2 yang menyayangkan keputusannya untuk tidak memilih kerja di oil dan gas seperti teman2 sekampusnya. Pada saat itu MB merasa down sekali.

Lalu apa yang terjadi pada saat itu?

MB melakukan refleksi, merenung…apa sih dampak2 nya kalau berhenti usaha… Ini yg ada di pikiran MB…
– Partner saya kecelakaan, udah jadi jobless pula karena dibujuk buat pindah ke bandung, masak mau ninggalin dia seorang sendiri jadi jobless?
– Terus ada setengah modal usaha yang berasal dari luar, itu gimana pertanggung jawabannya kalau saya berhenti usaha dan memilih kerja?
– Apa sih dampak2 positif kalau saya lanjut usaha?

MB kemudian teringat artikel dan buku2 yang dibaca dari Purdi Chandra. Bahwa disitu perlu dimunculkan keyakinan bahwa walaupun sekarang kondisinya lagi susah, tapi suatu saat pasti berhasil…

Pada saat itu MB tidak ikut seminarnya Purdi karena tidak punya uang. Cukup baca dari artikel dan buku2 nya saja.

Akhirnya setelah melakukan refleksi… MB memutuskan untuk lanjut. Bisnis dibenahi…sedikit demi sedikit… yang kemudian membuahkan hasil manis.

Saat ini bisnis baju muslimnya sudah menginjak 9 tahun. Produknya sudah melanglang buana ke luar negri dan punya banyak sekali reseller dari sabang sampai merauke yang menjual produk premium nya. MB juga membuat usaha baru di bidang IT.

Sudah bisa nebak siapa orangnya?
Beliau adalah Mas Baim, owner dari
www.tuneeca.com
www.bippo.co.id
www.bipstuff.com

Lalu apakah kemudian semua berjalan dengan baik? Tentu ada naik turunnya… Apa sih yang kemudian membuat MB jadi semangat lagi?

Dulu MB berambisi menjadi pengusaha karena harta dan ingin menyalip kawan2 yang dikenalnya. Namun karena tahun 2012 sudah tercapai semua, MB mengalami kejenuhan. Bisnis tetap berjalan dengan baik, namun ada sesuatu yang kurang. Hal ini berlangsung selama kurang lebih setahun.

Dari situ MB mencoba mencari penyemangat baru yang positif…

Kemudian MB menemukan bahwa dirinya senang mengembangkan sesuatu menjadi besar.
Mb merasa senang melihat perusahaan tumbuh, melihat org2 yg dulu masuk masih SMA namun saat ini dibeasiswakan dan jadi leader2 di perusahaan. MB senang melihat konsumen yg dulu tidak pede tp semenjak kenal tuneeca, jadi pede untuk jualan dan semakin banyak saudara yaitu para pencinta produknya yang bergabung di komunitas tuneeca lovers…

Yang paling membuat semangat MB saat ini adalah kesenangan melihat sesuatu bisa tumbuh dan berkembang ke arah yg lebih baik dan berarti…

Kilas balik ke belakang, ada dua nasehat berharga yang pernah diterima:
1. Dari dosennya: kalau ga ingin dapat masalah, yaaa… jangan hidup…
2. Dari buku warren buffet: snow ball effect..apapun yang dikembangkan mulai dari yang kecil, jika konsisten pasti akan menggelinding semakin besar dan besar.

Bisnis jika sudah diatas 5 tahun, akan sulit untuk bertumbuh. Jadi salah satu yang MB banggakan adalah sudah 9 tahun Tuneeca berjalan dan bisa selalu bertumbuh tiap tahunnya.

Pengen tahu kebiasaan apa yang mengantarkannya ada di titik ini? MB membagikan resepnya yaitu mental belajar, mental terima kesalahan dan lakukan perbaikan, mental tidak pernah puas dan mental pantang menyerah.

MB sangat merekomendasikan untuk membaca buku2 biografi orang yang berpengalaman untuk memetik pelajarannya. Disamping itu buku-buku praktikal seperti Instant Cashflow dari Brad Sugar.

Untuk resource di internet, MB senang membaca laporan dan kinerja perusahaan di finance.google.com kemudian forbes.com untuk melihat berita list orang-orang terkaya, ted.com untuk nonton video di area leadership, inovasi, management. Terlihat di sini apa yang MB masukkan ke dalam kepalanya sehingga menghasilkan pencapaian seperti sekarang ini.

Pada akhir perbincangan kami, saya mengajukan sebuah pertanyaan imajiner…

“Kalau MB besok bangun di dunia yang baru, dunia ini mirip dengan bumi tetapi tidak ada yg dikenal di dunia ini. Anda masih mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang saat ini Anda miliki. Makanan dan tempat tinggal Anda sudah ada, tetapi Anda hanya punya laptop dan uang 5jt. Apa yang akan anda lakukan untuk 7 hari ke depan?”

Jawaban dari MB simple: cari komunitas, cari kenalan, kemudian cari peluang apa yg dibutuhkan oleh pasar

Ya bagi MB komunitas adalah elemen penting bagi bisnisnya. Beliau merasakan dukungan yang sangat besar dari kawan2 di TDA, TDA menurut MB bukan komunitas, tapi rumah yg beneran seperti layaknya ketika capek kita bisa pulang ke rumah dan mencharge up energi kembali.

Ah begitu banyak pelajaran dan inspirasi yang saya dapat dari MB. Semoga demikian halnya dengan Anda yang membaca tulisan ini. Sebuah cerita yang menginspirasi tentang apa arti terus usaha terus bangkit walau menemui berbagai kesulitan…

Saya kemudian teringat sebuah kata2 dari seorang pemimpin besar…

“Don’t judge me by my successes, judge me by how many times I fell down and got back up again”
– Nelson Mandela

Thank you MB, sukses selalu 🙂
(made with love by awanrimbawan.com)