Mukernas TDA Bali – History Wakaf ACT

Assalamualaikum brother and sister, para suhu dan rekan2 seperdjoeangan…

Pingin share sedikit oleh2 dari Bali boleh?

Kemarin ane ikut ke acara Mukernas TDA 5.0 mengiringi suhu2 dan pembesar TDA bandung.

Sebenarnya ketika pertama diajak untuk datang di acara ini, ane masih ragu2 buat berangkat.

Soalnya kondisi cashflow belum dianggarkan, trus juga belum tahu itu acara isinya apa dan apa peran ane di sana.
Jangan2 cuman jadi pendengar aja gak mudeng yg di depan ngomong apa.

Tapi salah satu suhu ane pernah ngomong gini… “Fly with eagle, then you will become an eagle”

Ane ngebayangin pastinya di sana gak hanya bakal ketemu “eagle” tapi banyak Garuda2 jumbo size yang pastinya bisa nularin pencerahan kepada newbie cupu seperti ane ini…

Then what I experience in Bali during Mukernas moment…was beyond my wildest imagination…

Yang jadi catatan pertama kali adalah pemaparan dari temen2 Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Ane sudah sering dengar tentang ACT, aksi sosialnya ada di mana2.
Selalu jadi salah satu dari pionir dalam bencana2 yang terjadi di nasional.

Tapi ACT hadir di acara usaha? what’s the correlation?

Apalagi masuknya ada di sesi berkaitan dengan Permadani.
Permadani sendiri adalah sebuah ide permodalan dari TDA yang akan dikucurkan buat pengusaha2 yang membutuhkan dana.
Diatur secara syariah dan tanpa bunga tentunya.

Sumber dana dari Permadani ini adalah dari para anggota yang “kelebihan dana”, dan selain itu tak disangka2… juga dari ACT.

Kok bisa organisasi sosial seperti ACT mengucurkan dana permodalan?

Di awal presentasinya, ACT bercerita tentang history wakaf.
Dan ane sebagai seorang abangan, cuman tahunya wakaf itu ya tanah, atau duit.

Namun di situ diceritakan bahwa ternyata history wakaf pertama kali bukan tanah atau uang, tetapi aset produktif yaitu kebun kurma.
Kebun yang masih produktif, dan terus menerus menghasilkan.
Hasilnya itulah yang digunakan untuk kepentingan umat.

Mengadopsi konsep ini, ACT melakukan hal serupa.
Mereka membuat program bernama wakaf saham.
Kepemilikan perusahaanlah yang diwakafkan.
Sehingga setiap tahun dalam pembagian laba perusahaan, akan ada bagian yang bisa digunakan oleh kegiatan sosial.

ACT dalam hal ini bukanlah sebagai pemilik saham yang diwakafkan, tetapi hanya sebagai wakil(nazhir).
Pemilik sahamnya siapa? Allah.
Saham itu akan jadi harta wakaf yang tidak boleh di jual, diwariskan ataupun dibeli oleh orang lain.
Keren gak sih kalau ada Allah dalam board of commissioner kita.
Ketika kita buntu dalam usaha, kita bisa curhat sama Dia kapanpun dimanapun 😉

Pada presentasi tersebut ACT juga menceritakan sesuatu yang makjleb banget.
Kita kerja banting tulang, kepala pusing mikirin bisnis… percuma kalau anak2 kita engga jadi anak soleh.
Percuma kalau mereka tidak bisa mendoakan kita ketika kita meninggal.
Karena itulah salah satu passive pahala yang sesungguhnya.
Bisnis juga seperti itu, kalau bisnis yang sahamnya diwakafkan bisa terus berjalan… maka sepanjang umur bisnis itu, akan ada pahala kebaikan yang mengalir…

Kebetulan yang presentasi dari ACT adalah seorang pengusaha di bidang property.
Contoh teknisnya seperti ini…
Beliau mencari tanah2 yang kurang produktif.
Misal nilai tanah 50Milyar tp hanya menghasilkan 200jt per tahun.
Karena hanya digunakan sebagai kos2an sederhana.
Sedangkan di kanan kirinya sudah berdiri kantor2 dan apartemen.

Maka di tanah itu bisa dibangunkan sebuah aset usaha berupa gedung perkantoran.
Setelah bangunannya diperbaiki, maka aset tersebut bakal lebih produktif.
Mungkin bisa menghasilkan 5M pertahun.
Nah dari pertambahan keuntungan tersebut pada RUPS bisa dibagi menjadi laba ditahan dan deviden.
Deviden dari saham yang diwakafkan itu yang nantinya dibagikan kepada kegiatan sosial.
Pemilik tanah untung lebih banyak.
Ummat juga diuntungkan.

Konsep inilah yang membuat ACT bisa menyalurkan berbagai bantuan.
Beberapa diantaranya adalah membangun sekolah di tepian negri:

Kapal kemanusiaan ke afrika:

Mengharukan sekali mendengarkan contoh nyata, bagaimana bisnis dan kegiatan kemanusiaan bisa dikolaborasikan.
Untuk seluas2nya kebaikan di dunia…

Lalu di pojok kiri ruang pertemuan, sambil merasakan bulir2 bening yang menetes dari mata, saya teringat Doa nabi sulaiman:

“Ya Tuhanku, ampunilah aku…
serta anugerahkan kepadaku kerajaan yang tidak dipunyai oleh seorang juapun sesudahku,
sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi”
(QS: Shaad 35)

Pertama kali mendengar doa ini terasa aneh… kok seorang nabi besar memintanya fokus ke dunia.

Namun setelah ditelaah lebih jauh… kuncinya ada di bagian awal doa tersebut…
“ampunilah aku”

Nabi Sulaiman tahu… manusia hanya punya sekian tahun saja untuk hidup…
Jika beristighfar tiap hari, hanya sebatas hidup sajalah bisa minta ampun…

Namun jika diberikan kerajaan yang luar biasa…
Maka kerajaan itu bisa menjadi amal jariyah, yang pahalanya tidak putus2 bahkan setelah orang nya meninggal jauhpun.
Semakin besar kerajaan itu, semakin besar potensi dia bisa bertahan lama memberikan passive pahala.

“yang tidak dipunyai oleh seorang juapun sesudahku” mungkin berkaitan dengan talent yang beliau miliki…

Talent nya sebagai orang yang sanggup mengatur dengan baik sumberdaya2 yang melimpah dan mengarahkannya kepada yang paling membutuhkan.
Talent untuk membuat sistem sehingga kerajaannya bukan hanya menghasilkan tetapi juga self sustain tanpa keberadaan dirinya.

Kita di sini dalam sebuah alur kehidupan, tidak pernah tanpa sebab.
Pasti ada maksud Allah, kenapa kita ada di profesi kita sekarang.

Semoga… kita semua, diberikan kemampuan, kebijaksanaan, ketenangan, untuk mengusahakan dan menerima “kerajaan yang luar biasa” untuk kemudian mengatur dan mengarahkannya kepada kebaikan…Amin…amin…amin…

Your brother,
Awan.
Newbie di divisi edukasi TDA bandung
28 July 04:00 Cozy Hotel, Denpasar

Polyphasic – Rahasia Bisikan Ilahi

Bismillahirrahmanirrahim…
Dengan menyebut namaMu Ya Allah…

Sesungguhnya tidak ada ilmu yang tidak dariMu
aku tak memiliki apapun selain dari diriMU

Sehingga tidak ada yang bisa disombongkan…
Karena semua karenaMu…semua dariMu…

Semoga apa yang aku tulis ini bisa menjadi sarana penambah amalku…

Karena dosaku, maksiatku, khianatku, khilafku, jauh2 lebih banyak daripada amal baik ku… semoga engkau menerima usahaku Ya Allah…

Perkenalan saya dengan Polyphasic adalah di seputaran tahun 2012. Waktu itu entah bagaimana saya membaca sebuah artikel tentang itu. Kalau tidak salah di Wikipedia.

Polyphasic berarti terdiri dari dua atau lebih fase.

Selain Polyphasic, ada yang namanya Uniphasic atau satu fase.

Fase yang dimaksud di sini adalah fase tidur.

Jadi yang pada umumnya dipakai oleh orang-orang adalah satu fase tidur. Biasanya 8 jam atau lebih. Dilakukan di malam hari.

Sebelum berkenalan dengan konsep Polyphasic, di mindset saya sudah tertanam. Tidur itu ya harus 8 jam atau lebih. Kalau kurang dari itu, maka saya akan mengalami “kurang tidur” dan akhirnya tidak produktif.

Bahkan dulu…saya sempat ngobrol dengan sahabat saya Maria Virgini Claudya. Dia cerita tentang perjuangannya untuk kuliah di Belanda. Sewaktu s1 dagang macem2 barang, sampai kemudian akhirnya bisa kuliah Master di Belanda. Ketika ditanya apa rahasia pencapaiannya dia bilang…mengurangi tidur.

Waktu dengar itu, dalam pikiran saya tolak mentah2. Saya pikir badan saya membutuhkan tidur minimal 8 jam sehari (bahkan seringnya lebih) agar saya bisa beroperasi dengan normal sehari2.

Namun setelah mendengar teori tentang Polyphasic tersebut, ternyata ada cara lain. Cara yang bisa digunakan agar bisa tidur dengan efektif, namun tetap bisa produktif dan bertenaga di sepanjang hari.

Caranya adalah dengan membagi fase2 tidur. Salah satu profesi yang sering menggunakan Polyphasic adalah para tentara. Tentu saja di dalam kondisi perang mereka tidaktidak punya kemewahan untuk tidur dalam satu blok waktu yang panjang. Sebagai latihannya di kondisi damaipun mereka tetap melatih ini.

Terbukti bahwa tentara itu tetap bisa beroperasi dan membela negara dengan stamina prima walaupun tidak bisa tidur dalam blok panjang tersebut.

Praktek pertama kali saya dengan Polyphasic, saya terapkan bersama istri tercinta Dwi Fitrianty Kurnia.

Waktu itu kami sedang mengejar2 berbagai mode transportasi murah. Maklum pengantin baru yg terpisah 6 bulan trus ngotot pengen honeymoon ya harus pinter2 mengatur budget backpacker. Tentu saja transportasi yang murah2 tersedia di jam2 yang tidak normal karena jarang peminat.

Mode Polyphasic yang kami lakukan adalah bergantian tidur dalam fase2 pendek 15-30 menit. Sambil berjaga2 gantian tasnya.

Perjalanan murah backpackeran itu pun terlaksana sepanjang Arnhem – Belgia – Bratislava – Prague dan kota2 lainnya sampai kembali ke Amsterdam.

Belakangan saya baru mengetahui bahwa Polyphasic ini diterapkan juga oleh orang2 besar seperti Einstein, Nikola Tesla, Buckminster Fuller, Kennedy, dll…

Ada sebuah artikel yang saya baca bahwa Polyphasic dapat menstimulus inspirasi2 yang efektif digunakan sebagai problem solving.

Teknik Polyphasic bisa bermacam2, bersebaran teorinya di internet. Namun yang saya gunakan sekarang simple saja. Tidur malam 4-5 jam dan tidur siang 1 sesi selama 20 menit.

Atau alternatif lainnya 4jam malam, 15′ sebelum dhuhur dan 15′ sebelum Ashar.

Eksperimen yg saya lakukan, tidur 15′ – 20′ di siang hari bisa mengembalikan kesegaran badan dan fikiran.

Ada beberapa artikel yang menyebutkan bahwa 20′ merupakan waktu yang cukup untuk membawa otak masuk ke fase REM (rapid eye movement) atau Slow Wave Sleep. Pada fase inilah otak bisa beristirahat dengan baik, sehingga ketika bangun badan menjadi segar.

Dalam sebuah teori Polyphasic juga disebutkan bahwa tidur Uniphasic yang 8jam lebih itu, sebenarnya hanya 4jam yang dibutuhkan oleh tubuh. Selebihnya adalah tidur yang kurang efektif. Bisa jadi ditandai dengan tubuh yang masih terasa lelah ketika bangun.

Manusia adalah “creature of habit”. Selepas dari perkenalan awal saya, saya sempat kembali ke Uniphasic dalam waktu yang lama. Bahkan cenderung berlebihan tidurnya…bisa lebih dari 9jam.

Pada saat2 itu, ndak pernah Tahajud bahkan Subuhan juga bernuansa Dluha. Ingin kembali bisa bangun Subuh berat sekali rasanya.

Di masa2 itu saya merasakan swing mood mudah sekali terjadi. Merasa bersemangat di momen tertentu namun berganti kecewa karena hal2 kecil. Pikiran bingung, punya banyak rencana tp tidak ada yang dijalankan. Susah untuk fokus. Sering terjebak ke dalam victim mode dan merasa bahwa sesuatu terjadi karena salah kondisi/orang lain kemudian merasa saya tidak bisa melakukan apa2.

Perlu niat dan effort yang besar untuk mengganti dengan kebiasaan Polyphasic.

Begitu berganti kepada Polyphasic dan melakukan Tahajud yang saya rasakan pikiran lebih damai. Banyak inspirasi2 baru yang bisa difollow up. Lebih mudah untuk fokus. Dipertemukan dengan orang2 baik dan diberikan kekuatan mental yang lebih baik.

Berganti kebiasaan memang sulit, tp hal itu mungkin untuk dilakukan.

Kalau dari contoh dan anjuran, jelas2 Rasullullah menganjurkan bangun di malam hari. Jadi teori Polyphasic ini sebenarnya sudah dianjurkan oleh beliau. Ketika diterapkan maka jadilah orang2 yang penuh inspirasi dan jenius seperti Einstein, Nikola Tesla, Buckminster Fuller, dll…

Bahkan kemarin… saya nonton film “Rudi Habibie”, ada satu scene di mana beliau cari kamar yang mau ditinggali di Aachen Jerman. Muter2 tidak ada yang bisa menampung. Sampai akhirnya ketemu kamar yang kecil dan kurang ideal.

Pak Habibie kemudian dikasih tau sama yang mengantar… “Kamu tidak harus tinggal di sini, kalau tidak nyaman kita bisa cari tempat lain”

Lalu Pak Habibie, berkata… “Tidak perlu, saya hanya tidur 4 jam semalam”

Orang yang malamnya hanya tidur 4 jam, saya asumsikan bahwa siangnya pasti ada sesi tidurnya. So he too, Polyphasic.

Mungkin itu salah satu rahasia kejeniusan dan kesuksesan beliau menjadi seorang teknokrat yang bisa melakukan problem solving untuk masalah2 yang berat sekalipun.

Jadi temen2… buat yang khawatir bangun malam bisa menyebabkan siangnya tidak efektif…bisa dicoba cara ini.

Insya Allah hidupnya jadi lebih berkah, diberikan kekuatan dan inspirasi menghadapi berbagai permasalahan hidup ditambah dengan kedamaian pikiran ditengah badai.

Bisa jadi solusi dari masalah kita simple… ada di depan mata… tp karena pikiran yang kemrungsung jadi tidak terlihat…

Nah itu experienceku…kalau kamu gimana?

Your brother,
Awan Rimbawan

Cerita Guru di Vijayakusuma

Seorang nenek pernah berkata pada cucunya…
Cucuku… kamu boleh jadi punya seluruh pengetahuan di dunia ini, tetapi ada satu hal yang aku miliki dan kamu tidak. Sesuatu itu diberikan oleh waktu…
Sesuatu itu bernama Wisdom.

Tadi malam saya beruntung mendapatkan Wisdom dari seorang guru di Vijayakusuma.

Beliau baru saja pulang dari mengikuti training seminggu di Melbourne Business School.
Materinya tentang Business Transformation.
Bagaimana melakukan perubahan bisnis dalam skala enterprise.
Biaya trainingnya kira2 satu Daihatsu Sigra.
Ketika saya tanyakan, apa yang berkesan di training itu, beliau menjawab…
Satu minggu itu, isinya hanya 20 slide.
Sebagian besar isinya adalah praktek.
Salah satu hal yang mengesankan beliau adalah perbedaan versi tentang managerial dan leadership.
Managerial adalah tentang solving today problem.
Leadership adalah tentang creating the future.

Ada salah satu leader di perusahaan yang berkata….
Kenapa saya harus repot2 belajar dan merubah diri, kalau ternyata dengan apa yang saya lakukan sekarang saja semua sudah baik2 saja?
Target saya tercapai terus, bahkan lebih.

Jawabannya… Memang betul… di kondisi sekarang cukup dengan menggunakan strategi yang ini.
Namun dunia berubah dengan sangat cepat, jika kita tidak terus meningkatkan diri maka ketika perubahan itu terjadi maka kapasitas kita tidak akan mampu menghandle perubahan yang ada.
Tidak bisa mengejar momentum perubahan.
Kemudian terulanglah cerita Nokia, Blackberry, Kodak, dll

Dan perubahan yang pertama kali harus dimulai adalah perubahan pribadi…

Beliau berkata…
Kalau Allah menginginkan pribadi seseorang menjadi lebih baik dari sebelumnya, biasanya akan dipahamkan ttg agama.

Cara memahamkannya bisa bermacam2.
Bisa jadi diberikan permasalahan, agar orang itu sadar untuk kembali.
Bisa jadi diberikan kejatuhan, agar orang itu mengerti bahwa usahanya tidak ada apa2nya tanpa campur tangan Dia.
Bisa jadi diberi kesuksesan…selalu achieve apa yang dia targetkan…lupa dengan agama… naik ke tempat yang tinggi di dunia…. untuk kemudian dijatuhkan secara tiba2.

Jadi…

Kalau kita sedang dalam kondisi susah, mungkin itu cara Tuhan untuk memanggil kita kembali.
Agar kita mengkaji lebih dalam lagi.
Mungkin itulah cara Tuhan untuk mengingatkan kita untuk kembali memperbaiki diri.
Karena dia sedang menyiapkan derajat yang lebih tinggi lagi, di dunia dan akhirat.

Begitupun kalau kita sedang diberikan banyak kesuksesan.
Semua terasa amat gampang diraih.
Dimudahkan dan dilancarkan segala sesuatunya.
Jangan sampai lengah… jangan sampai hal itu menjauhkan kita dari Tuhan.
Karena bisa jadi kejatuhan sedang menanti dari tempat yang tinggi.

Beliau mengingatkan kepada saya…
Ada sebuah hukum bernama Law of the diminishing return.

Hukum ini berkata bahwa ketika kita mengambil…mengambil.. dan mengambil…
Maka pada suatu titik, apa yang kita ambil tidak akan terasa nikmat lagi.
Kalau di Amerika, ada studi yang mengatakan ambang batasnya adalah ketika orang mencapai penghasilan $72000/tahun.
Hilang sudah excitementnya.

Kecuali orang itu melakukan sesuatu hal… yaitu memberi.
Ketika memberi, maka akan ditambahkan.
Ketika memberi maka akan muncul kenikmatan yang baru.

Mungkin itu sebabnya orang2 seperti Bill Gates dan Warren Buffet sangat jor-joran dalam charity.
Warren Buffet pernah menggemparkan orang2 karena menyumbangkan $2,8 Milyar dollar.
Atau kurang lebih 36 Trilyun rupiah.
Karena mereka mengerti bahwa kenikmatan mengambil ada batasnya.
Setelah itu ada kenikmatan yang lain yaitu memberi/mengeluarkan untuk orang lain.

Sama halnya seperti bernafas…
Coba tarik nafas… tarik lagi… tarik terus… dan lagi…terus…
Pasti tidak akan mampu menarik terus2an…
Kenikmatannya akan muncul ketika nafas itu dihembuskan, dilepaskan, dikeluarkan…

Sayapun bertanya kepada beliau…
“Bagaimana kalau kita sedang dalam survival mode? Bagaimana bisa memberi?”

Beliau menjawab pertanyaan saya dengan sebuah pertanyaan juga… Apa isi surat Ali Imron 134 ?
134. (yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit[1], dan orang-orang yang menahan amarahnya[2] dan mema’afkan (kesalahan) orang lain[3]. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan[4].

Memberi bisa berarti banyak hal.
Memberi sedekah dalam bentuk uang.
Memberi dalam senyuman (bukan tanpa sebab orang yang ramah, cenderung lebih bahagia)
Memberi dalam bentuk doa:
“Ya Allah ya Tuhan kami, ampunilah kami, ampunilah kedua orang tua kami, ampunilah saudara-saudara kami, kerabat, musllimin muslimat, mu’minim mu’minat baik yang masih ada maupun yang telah wafat. Kasih sayangilah kedua orang tua kami sebagaimana mereka telah menyayangi kami waktu masih kecil”
Bahkan memberi maaf juga termasuk di dalamnya.
Maafkan orang2 yang pernah mengganggu, menyakiti hati, menyinggung kita.
Memberi dalam bentuk tulisan, dalam bentuk nasihat yang baik dan perkataan…

Beliau juga menyampaikan…
Cicak ini makanannya apa?
Nyamuk…
Cicak engga punya sayap… makanannya terbang di udara…
Secara logika, tidak akan mampu…
Namun ada Allah yang menggerakkan nyamuk datang ke cicak.
Yang perlu Cicak lakukan adalah… berikhtiar denggan merayap kesana kemari…
Seperti di lagu…
Cicak2 di dinding… diam2 merayap… datang seekor nyamuk, hap lalu ditangkap…

Manusia juga diharuskan untuk berikhtiar harus merayap, harus mencari cara agar bisa diam2, keras2, ataupun bagaimanalah ikhtiarnya…

Agar kemudian didatangkan nyamuk… karena Allah lah yang menggerakkan nyamuk itu…

Kalau tidak berikhtiar bagaimana? apakah tidak akan diberikan rizki?

Tetap saja diberi, selama manusia hidup pasti dicukupkan…
Kayak pengemis… pasti ada juga yang ngasih…

Tp nanti akan ditanyakan… Apa yang kamu lakukan dengan karunia yang Aku berikan?
Apa yang kamu lakukan dengan kemampuan yang Aku berikan?
Apa yang kamu lakukan dengan waktumu…kesehatanmu…akal/pikiranmu?
Pertanggung jawaban yang berat, kalau semua itu disia-siakan…

Oleh karena itu ada doa yang dipanjatkan Rasulullah…
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, sifat pengecut, pikun, bakhil, dan aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur dan fitnah hidup dan mati.

Kenapa dalam doa itu kemalasan digabungkan dengan kelemahan… digabung dengan sifat pengecut…?
Apakah kemalasan adalah sumber pikun di hari tua?
Kemalasan menuju kepada bakhil, kikir, pelit?
Kemalasan menuju kepada azab kubur dan fitnah ketika hidup dan mati?
Apakah Anda tahu orang yang mengikuti kemalasan dan kemudian menjadi lemah, penakut, pelit?
Sebuah pertanyaan2 yang patut kita renungkan…

Berkaitan dengan rasa malas dan keengganan untuk berikhtiar/memperbaiki diri…
Beliau ini bercerita…
Kalau mau mempunyai anak yg soleh dan solehah, mulai prosesnya bukan ketika anaknya udah lahir.
Tetapi ketika memilih pasangan.

Karena pasangan yg soleh/solehah itulah yang akan menghasilkan anak yang baik.

Kalau sudah terlanjur bagaimana?
Masak iya harus cari pasangan baru? tanya saya
*lgsg dipentung sama guru saya wkwkw…*

Itu artinya kita dianggap mampu oleh Allah untuk menaikkan derajat dia.

Bagaimana caranya…?
Terlebih dahulu, saya perlu menaikkan derajat saya sendiri.
Tambahkan amal baik, tambahkan ibadah baik, kemudian ajak pasangan saya.
Sabar, pelan2…nikmati prosesnya… semua untuk mencapai ridlo Allah…

Tak terasa waktu sudah malam…
Sayapun kemudian pamit undur diri…

Di dalam perjalanan pulang, saya teringat2 satu ilustrasi beliau…

Kalau kita mau pergi ke sebuah tempat yang baru yang belum pernah kita kunjungi, kita perlu apa?
Penunjuk atau peta atau mungkin google map/waze/gps
Apa akibatnya kalau belum nginstall google map di hp?
Was-was, khawatir… ini bener jalannya atau bukan..
Kalau sudah nginstall google map tetapi tidak mau ngikutin apa akibatnya?
Bisa2 kesasar…habis bensin…cape badan… ga sampe2 di tujuan…

Nah kita hidup itu mau kemana? apa tujuan akhirnya?
Surga? Allah?
Sudah pernah kesana belum?
Apa petunjuk buat sampai kesana?
Apa akibatnya jika kita tidak mau mengikuti petunjuk itu?
Apa efeknya di batin kalau kita punya dan mengikuti petunjuk itu?

Dalam deru angin malam..
Perjalanan pulang…hati saya terasa hangat…

*nanti malam, niatkan tahajud yuk… 🙂

Your brother,
Awan Rimbawan