Review Communication Workshop – Mustofa Romdloni

Bruce Lee pernah berkata, saya tidak takut dengan orang yang tahu 1000 tendangan.
Saya takut dengan orang yang tahu 1 tendangan, namun berlatih 1000x

Begitulah saya memandang 8 Worskhop Series (8WS) yang dibawakan oleh Pak MR kemarin.

Di sesi-sesi awal, beliau mensharingkan hal-hal yang terkesan biasa banget dalam berkomunikasi.
Seperti contohnya:
– Jangan mengkritik/menjatuhkan orang lain apalagi di depan orang banyak.
– Sayangi diri sendiri
– Sayangi orang lain.
– Tertarik lah dengan tulus pada orang lain.

Hal-hal yang terkesan biasa inilah prinsip dasar dalam berkomunikasi.
Namun seringkali kita lupa karena ingin menonjolkan diri, pengen dianggap lebih, dan pengen membuktikan bahwa orang lain salah.

Prinsip ini sedikit, namun jika dilatih beribu2 kali… maka itulah yang dilakukan oleh Pak MR.
Ternyata beliau melatih prinsip2 ini selama lebih dari 8tahun sehingga mengakibatkan bisnisnya bisa naik ke kelas korporasi.

Insight yang lain yang saya dapat adalah: Standing Over the Shoulder of Giants.
Dengan berdiri di atas bahu para raksasa, maka kita akan bisa melihat lebih jauh.
Ketika raksasa itu berjalan, maka kita yang “ndemplok” di bahunya akan bisa berjalan lebih cepat dan menempuh jarak lebih panjang.

Inilah yang beliau lakukan ketika menghubungi partner2 potensial di luar negri untuk mau berpartner.

“Saya tahu perusahaan Anda adalah yang salah satu yg terbesar di (negaraxxx). Saya Mustofa Romdloni, siap menjadi partner bisnis Anda untuk sukses di Indonesia.”

Begitulah penggalan email yang menandai pertambahan perusahaan beliau dari bisnis trading ke bisnis manufaktur.

Berpartner, berkolaborasi, adalah koentji untuk menjadi besar.

“Gimana orang2 besar itu mau berpartner dengan kita?” tanya saya.

Beliau jawab… “Melevelkan diri”
Caranya adalah dengan terus meningkatkan kualitas diri, karena kita tidak tahu kapan partner itu akan muncul.
Salah satunya adalah dengan mengasah skill komunikasi kita.

Namun skill komunikasi itu ternyata bukan dimulai ketika ada orang lain.
Skill komunikasi itu dimulai bahkan ketika kita sendiri.

Berkomunikasi pada diri sendiri, memungkinkan kita untuk mengetahui apa kelebihan dan kekurangan kita.
If you know yourself and you know your enemy then you will win 1000 battles – kata Sun Tzu

Sesi siang workshop kemarin ada praktek yg membuat para peserta bisa “mengintip” tipe kepribadian masing2 (Koleris, Melankolis, Sanguinis, Plegmatis)
Tidak berhenti sampai di situ saja, beliau juga mensharingkan bagaimana aplikasi tipe kepribadian ini pada kasus2 bisnisnya.

Sebenarnya workshop dijadwalkan selesai 16.00
Tapi karena pas terpotong di “Teknik Negoisasi”, kami pun sudah terlanjur kepo.
Walhasil materi dilanjut sampai Maghrib.

Sesi negoisasi tersebut banyak contoh2 kasus yang dibabarkan.
Salah satunya adalah bagaimana menjalankan permainan yang cantik antara calon klien, kompetitor yg sudah melayani klien tersebut, dengan perusahaan kita yang ingin masuk.
Kisah cinta segitiga yang sebenarnya bisa dimainkan dengan indah untuk kemudian menghasilkan keseimbangan baru.
Hasilnya win-win, dengan perusahaan kita masuk di dalamnya. Dengan catatan: tahu prinsip dan cara bermainnya ๐Ÿ˜€

Saya tahu betul tantangan Pak MR yang dalam mensharingkan materi ini.
Sebagai praktisi beliau harus berpikir bagaimana mensummary kan pengalaman bertahun2 dengan kasus yg sedemikian banyak menjadi workshop 1 hari.
Oleh karena itu saya mafhum jika di awal2 workshop beliau menshare yang ringan2 dan fun.
Untuk kemudian semakin sore semakin panasss apalagi ditambah dengan pertanyaan2 dari peserta yang semakin menguak tabir2 “off the record” lainnya.
Tidak heran peserta workshop dari pagi sampai maghrib tidak ada yg goyah.
Bahkan setelah maghrib sesi masih berlanjut dengan pindah tempat di kuliner kebuli.
Mungkin ini bedanya orang yang sharing motivasinya untuk dibayar dibanding dengan sharing yang pengen liat orang lain maju dan berkembang.

Ah, begitu banyak mutiara yang saya temukan di workshop kemarin.
Mutiara yang sebelumnya saya anggap “batu biasa” karena saya cuman sekedar tahu luarnya saja.
Tetapi dengan contoh2 kasus yg pernah beliau alami, Pak MR telah menunjukkan bahwa batu itu kalau digosok (dilatih) bakal jadi mutiara.

Nah buat para suhu dan rekan2 seperjuangan yang kelewatan, ini ada beberapa buku referensi yg dibahas di workshop kemarin:
– The Art of Dealing with People
– How to Win Friends and Influence People
– Personality Plus
– All Marketer are Liars
– Blue Ocean

Tentu saja, buku2 ini tidak akan bisa menceritakan pengalaman praktis dari Pak MR.
Tapi paling tidak di sana ada prinsip2 yang mendasari gurita bisnis beliau.

Semoga next time kita bisa belajar bersama di acara2 berikutnya.
Dan kalau ada dirasa ada kebutuhan tentang sesuatu bidang bisnis (sales, marketing, finance, operasional,hrd, legal, dll), jangan ragu2 buat kontak EPIK.
EPIK akan berusaha mencarikan praktisi bisnis yang punya pengalaman agar kita bisa belajar untuk naik kelas bersama2.
Karena belajar sendirian gak asyik, enaknya rame2 ๐Ÿ˜€

Salam,
Your Brother Awan Rimbawan
Pelayan di Div EPIK TDA Bandung

PS:
Special thanks buat Allah YME karena mengizinkan acara ini terlaksana.
Terima kasih buat Pak MR yang walaupun sudah bermacet2 ria 5 jam, namun masih sanggup ngisi materi sampai maghrib.
Terima kasih buat Tim EPIK yang bekerja di background. Tanpa pamrih berepot2 di tengah2 ngurusin bisnisnya masing2 bahkan fleksibel berimprovisasi menghadapi kondisi yg tak tak terduga. You are trully my inspiration: vicky fajar bagas ainy muji hendra ahmad . Om Brata yang udah bikin acara TDA jadi family friendly. Om Agung yg udah nunjukkin tempat nasi kebuli enak ๐Ÿ˜€ .
Terima kasih buat para suhu yg kemarin sudah datang dan melontarkan pertanyaan2 keren.
Terima kasih TDA Blitar dan TDA Tangerang yang udah jauh2 dateng buat acara ini.
Terima kasih buat pengurus yg full support banget banget banget buat acara ini.
Terima kasih buat penyumbang doorprize yang sama banyaknya dengan jumlah peserta ๐Ÿ˜€
Terima kasih… terima kasih… dan terima kasih…

Communication Workshop – Mustofa Romdloni (MR)

Assalamualaikum para suhu dan rekan2 seperjalanan…

Ada yg udah pernah membaca buku biografi Warren Buffet yg judulnya The Snowball Effect?

Disana diceritakan bahwa menurut Buffet… investasi yang paling baik adalah yang tidak dikenakan pajak dan tidak bisa dikalahkan oleh inflasi.

Investasi tersebut adalah: investasi leher ke atas.

“Nobody can take away what you’ve got in yourself, and everybody has potential they haven’t used yet”

Yang mengejutkan, menurut dia investasi terbaik yang pernah dia ambil bukanlah saham perusahaan.
Tetapi mengambil sebuah kursus public speaking dari Dale Carnegie.

Dale Carnegie sendiri terkenal dengan buku klasik yg jadi best seller selama berpuluh2 tahun: How to Win Friends and Influence People.

Konon sebelum mengambil kursus itu, Warren Buffet sangat ketakutan ketika berbicara di hadapan orang banyak.
Bahkan dia bisa tiba2 sakit secara fisik saat harus maju ke atas podium.

Namun Warren Buffet muda sangat bertekad untuk memperbaiki kemampuan komunikasinya.
Karena selain berguna untuk mengkomunikasikan peluang2 investasi kepada orang2 berduit, sekaligus juga sangat berguna untuk memenangkan pujaan hatinya: Susan Thompson.

“You can exponentially increase your potential and enhancing your talents by simply being able to communicate better” kata Warren Buffet.

Biaya kursus public speaking seharga $100 menghasilkan ROI berjuta2 kali lipat dan mengantarkan Warren Buffet menjadi salah satu orang terkaya di dunia.

Saya sebenarnya sudah lama mencari sosok Warren Buffet di TDA.

Sosok yang aktif menciptakan bisnis dan juga sudah masuk ke dalam aktifitas jual beli bisnis.

Sosok ini saya temukan dalam diri Pak MR.

Pertemuan pertama saya dengan beliau di cafe De Tuik Bandung. Waktu itu beliau masih menjabat menjadi Presiden TDA 4.0

Gaya bicaranya santai dan penuh humor, membungkus materi yang berat menjadi ringan dan mudah dicerna.

Setelah pemaparan materi, saya mengajukan sebuah pertanyaan pada beliau…
“Setelah 8 tahun berjuang di level usaha kecil, bagaimana kok Bapak tiba2 bisa melompat ke kelas korporasi?”

Namun sayangnya jawaban beliau pada saat itu belum bisa ditangkap oleh keterbatasan wawasan saya.
Apalagi waktu yang tersedia cuman sebentar, membuat saya tidak bisa mengorek lebih jauh lagi.

Sehingga February yang lalu, ketika ada kesempatan workshop 8WS di bekasi yang diisi oleh beliau sayapun nekat ikut.
Walaupun topiknya masih jauh dari kelas bisnis saya saat ini: “Bagaimana Membuat Valuasi Perusahaan dan Menjualnya Dengan Harga Tinggi”

Di workshop itu mata ane terbuka… bahwa menjual perusahaan itu punya margin yang guedeeee banget.
Tapi lagi2… ane mesih belum ngerti… gimana caranya bisa kayak gitu.
Apa yang harus dilatih di dalam diri ane… dari yg kelas ecek-ecek gini… sehingga bisa naik kelas seperti itu.

Qodarullah beberapa waktu lalu TDA Bandung mengadakan Wisata Bisnis ke TDA Bekasi.
Di mana salah satu kunjungannya adalah ke kantor MR Corp.
Di pertemuan ketiga itulah missing puzzle nya ketemu.

Pada saat itu, beliau bercerita… bagaimana 8 tahun bermacam2 bisnis dibuka… hampir semuanya ditutup.
Mulai dari kursusan, MLM, limbah pabrik, dlsb.
Barisan para mantan kata beliau, mantan bisnis ๐Ÿ˜€

Ternyata di pertemuan ketiga lah saya baru “ngeh”… bahwa rahasia lompatan beliau adalah: skill komunikasi.
8 tahun adalah proses penggodokan skill komunikasi.
Skill yg bertanggung jawab melontarkan bisnisnya dari skala kecil ke skala korporasi dengan kontrak milyaran rupiah perhari.

Beliau membeberkan bahwa skill komunikasi adalah seni agar orang suka dengan kita, percaya, untuk kemudian bersedia mengikuti kemauan kita.

Bisnis di tengah2 banyak sisi dan kerumitan, ternyata fondasi dasarnya adalah komunikasi.
Komunikasi dengan partner agar mau “menyumbangkan” resourcenya.
Komunikasi dengan karyawan agar “rela” melaksanakan tugas2 mereka.
Komunikasi dengan supplier, agar “dengan senang hati” memprioritaskan barang berkualitas sambil dibayar tempo pula ๐Ÿ˜€
Komunikasi dengan customer agar mampu “menceritakan value” sehingga beli sekali kemudian membeli lagi, lagi dan lagi.

Namun sayangnya2… lagi2 waktu yg membatasi paparan pada saat itu.
“Ini kalau diceritakan bisa panjang mas, butuh waktu seharian” imbuh beliau.

Tanpa pikir panjang langsung aja kita todong:
“Kalau begitu kapan ada waktu kosong, sehingga bisa sharing lebih panjang lagi di Bandung Pak?”

Nah beruntung… besok Sabtu tanggal 28 April beliau ada waktu kosong untuk membedah skill komunikasi ini.

Nanti akan dibahas:
– Skill komunikasi seperti apa sih yg bisa membuat seseorang naik kelas dari skala kecil ke skala korporasi dengan kontrak milyaran per bulan?
– Skill komunikasi seperti apa sih yg bisa membuat “orang baru” di sebuah komunitas kemudian diamanahi sebuah kegiatan besar… yang kemudian terlaksana sukses dengan profit berlipat-lipat pula…?
– Skill komunikasi seperti apa sih yg bisa bikin seseorang bisa menciptakan perusahaan yang ketika dijual bikin perusahaan lain berebutan pengen membeli?

Jadi buat yang tertarik untuk naik kelas dengan membedah skill komunikasi beliau, yuk gabung pada:
ยป Sabtu, 28 April 2018
ยป 09.00-16.00
ยป Tebu Hotel, Jl. L.L.R.E Martadinata No. 62 Bandung

Tempat terbatas ya, kelas dibikin format workshop biar efektif supaya materi dagingnya diserap dengan baik.
Kursi hanya tersedia 12 seat lagi. Gak tahu sampai kapan.

Segera klik di sini untuk mengamankan seat Anda: bit.ly/8wscommunication
atau kontak @jargus

PS:
Kadang kita sering cari yang jauh, padahal ada yang dekat.
Kadang kita sering cari di luar, padahal jawabannya ada di dalam.
Kadang kita sering menunda-nunda, padahal tau bahwa solusinya adalah take action.
Kadang sering kita cari cara2 yang canggih, tp lupa bahwa kita punya senjata ampuh dalam diri yg belum di olah.

Karena Guru hanya akan datang jika murid telah siap.

Salam,
Pelayan di Div. EPIK TDA Bandung
Awan Rimbawan

MoslemPreneur

Setelah mendapatkan pencerahan dari suhu @muji ono, ane jadi termenung.
Bayangan kembali ke masa2 awal2 usaha beberapa tahun yg lalu.

Dulu… Waktu mau usaha, ortu ane kurang setuju.
Alesannya lebih baik kerja, karena orang tua ane… wiraswasta itu berat.
Ane pernah menyaksikan ibu pernah bikin pesanan kue sampe jam 2 pagi.
Jam 3 pagi udah bangun lagi lanjut bikin kue.
Itu terjadi berhari2…
Bapak juga coba berbagai usaha, hampir semuanya tidak membuahkan hasil yg diharapkan.
Karena wiraswasta itu berat, beliau ga ingin anaknya mengalami hal yg sama.

Cuman namanya darah muda… rasa penasarannya lebih besar.
Selain itu juga pas kerja pernah terbersit pemikiran.
Kayaknya klo usaha, mungkin ane bakal bisa lebih dekat sama Allah.
Karena ga lagi menggantungkan kepada gaji perusahaan yg pasti ada tiap akhir bulan.

Ternyata oh ternyata…
Setelah dijalani, ternyata lebih berat dr yg sebelumnya dibayangkan ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€
Setelah resign dari kerja, otot eksekusi masih lemah bangettt….
Banyak ide… banyak keinginan… tp sedikit sekali bisa action.
Bahasanya guru ane, nafsu banteng tenaga cacing ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€
Aktifitas yg berulang tiap hari adalah kebanyaikan mikir, berstrategi, berencana ini itu, tp digagalkan lagi pas mau action.

Sampe2 temen yg dulu pernah sekantor jadi kaget pas ketemu ane.
“Wan, kok kamu kurus kering gini???. Kamu ngobat ya???”

Ane cuman bisa tersenyum kecut.

Ga mungkin juga ane ceritain klo ane kebanyakan puasa.
Bukan karena soleh, tp karena ga punya duit sekaligus pusing mikirin tumpukan rencana yang ga ada eksekusinya.

Tapi ane menahan diri untuk curhat kondisi sebenarnya.
Walaupun posisi miskin, tapi masih punya gengsi di hadapan wanita cantik :p

Ditambah lagi, mindset karyawan dan wiraswasta beda.
Jangan2 nanti ane malah tergiur kerja lagi, sekantor lagi dengan dia dan… kemudian … dengannya…
ah… sudahlah… itu masa lalu…

Namun Alhamdulillahnya setelah itu di berikan jalan ketemu dengan orang2 bermindset wirausaha.
Yang gak pelit untuk berbagi ilmu dan pengalaman.
Itulah komunitas TDA.

Di komunitas inilah berkenalan dengan yg namanya mastermind.
Waktu itu ada Pak Kiki Sudiana, Kang dodi diantaranya.

Di mastermind itu enaknya tiap 2minggu ketemuan.
Jadi mau ada progress, ga ada progress, ane tetep datang.
Mau ga mau harus gerak, karena pas dateng harus laporan progress.

Disitulah pertama kali ngerasain sedapnya hasil usaha.
Bisa jualan tas 1200pcs dalam waktu kurang dr 3bln.
Salah satunya gara2 mekanisme mastermind yg harus ngasih progress, dan bisa jadi temen curhat dikala bingung pas mau action.

Yg ane pelajari dari proses tersebut adalah…

1. Usaha itu bukan cuman jalan buat cari uang. Tp terutama, adalah jalan dekat dengan Allah.
Dalam dunia usaha ane jd mengerti bahwa tidak ada yg pasti dan langgeng di dunia ini.
Yang ane dapet, bisa hilang seketika.
Yang ane blm dapet, bisa terwujud dalam waktu sebentar saja.
Denger2 cerita dari pengusaha lain, sesukses apapun bakal bisa rugi juga.
Semuanya mungkin kalau Allah mau.

Sehingga kalau dikasih lebih, tp ga ibadah lebih maka harus mawas diri.
Jangan2 kelebihan itu yg bakal diambil dengan seketika.
Lebih parah lagi kalau dijangkiti dengan kesombongan.
Merasa bahwa keberhasilan ini adalah murni atas usaha sendiri.
Jangan2 bukan hanya diambil, tp bisa2 dihinakan.

Kebalikannya…kalau merasa sedang di dalam kesulitan, tp ga bertambah giat ibadah maka juga perlu waspada.
Karena bisa jadi kesulitan2 itu adalah cara Allah memanggil2 hambanya.
Nah klo dipanggil2 ga dateng, jangan2 nanti lebih keras panggilannya.
Dengan cara ditambah masalah yg lebih berat lagi…lagi…dan lagi…

Pelajaran yang ke 2. Bisnis itu permainan tim.
Bakal berat kalau dijalani sendiri.

Di dalam tim itu ada yg pebih jago dr kita, ada yg setara dengan kita, ada yg skillnya dibawah kita.

Kita perlu berinteraksi dengan semuanya.

Yg lebih jago dari kita adalah mentor, coach, trainer dll.
Perlu didekati buat menimba ilmu dan insight2.

Yg setara dengan kita adalah temen2 seperjalanan.
Interaksi dengan mereka perlu buat saling menyemangati.

Untuk yg pengalamannya masih di bawah kita, itu adalah peluang untuk memberi dan berbagi pengalaman.
Proses ini penting karena bakal mengingatkan… sesusah apapun kondisi, tp selalu ada cara untuk bisa bermanfaat bagi orang lain.
Sehingga dalam diri ini muncul rasa syukur dan mindset berkelimpahan.
Sangat sejalan dengan semangat TDA yang saling memberi dan berbagi.

Namun buat pelajaran nomor 2 ini halangannya adalah: ego
Ego pengen dianggap hebat, akan menghalangi saya bercerita jujur tentang kondisi saat ini. Sehingga orang tidak tahu dan tidak bisa memberikan bantuan.
Ego pengen berhasil dengan usaha sendiri, akan menghalangi saya untuk meminta masukan dari orang2 yg lebih tahu dari saya. Sehingga menahan saya untuk berkembang lewat kolaborasi.
Ego pengen mengalahkan org lain, akan membuat saya minder ketika bertemu dengan org yg lebih hebat. Di saat yg sama, menimbulkan sombong ketika ketemu orang yang kurang dari saya.
Ego pengen selalu sempurna, akan menghalangi saya untuk take action. Semuanya harus nunggu perfect.

Ego-ego tersebut mengisolasi saya dengan orang lain.
Sehingga yg terjadi adalah saya… sendirian… muter2 dipermainkan oleh pemikiran sendiri.

Nah berkaitan dengan ego ini, salah satu cara efektif untuk mempertipisnya adalah dengan membuka diri dan bertemu dengan orang2 baru.
Sowan kepada para guru, menyemangati temen2 seperjalanan, dan juga berbagi kepada rekan2 yg belum tahu.

Beruntung banget… di TDA ketiga hal itu atmosfir tersebut sangat mendukung untuk dilakukan.

Apalagi di acara moslempreneur tanggal 21 nanti…
Banyak suhu bakal dateng, banyak temen2 seperjalanan yg bisa berbagi semangat, dan banyak peluang untuk berbagi skill dan pengalaman kepada orang lain.
Kesempatan untuk bertegur sapa dengan orang2 yg selama ini cuman ketemu di telegram.
Karena tidak ada yang bisa menggantikan silaturahmi secara fisik.

Pertanyaannya, siapkah saya meninggalkan ego saya…
Kemudian take action dengan bertemu para suhu dan rekan2 TDA yang mungkin bisa membuat perbedaan dalam hidup saya?

*SaveTheDate, Moslempreneur 21 April 2018.
*Buruan kontak ke om @david sebelum keabisan tiketnya
*Punya produk bagus tp bingung jualannya? Masih dibuka sponsorship buat yang cari parter bisnis, reseller, atau keagenan. Buruan kontak sist @

RKB Ulum

Marketing selalu menjadi bahasan menarik.
Karena salah satu pilar bisnis ini biasanya gerbang awal menuju sales.

Kemarin ini di acara RKB TDA Bandung, kita belajar bersama tentang FB Ads.
Pematerinya adalah salah satu high quality suhu yang sudah bergelut di dunia ini sejak 2016: Kang Ulum.

Kerja kerasnya di dunia digital advertising ini membuahkan hasil yang manis.
Saya seringkali mendapati beliau malam2 dini hari masih ngulik beginian, di mana orang2 lain masih terlelap tidur.
Seorang pembelajar dan pejuang yang patut dicontoh (y) (y)
Saat ini beliau punya 2 tim di Jambi dan di Bandung dengan belasan karyawan.
Fokusnya pada memasarkan brand sendiri (Batik Zallatra) sambil di waktu yg sama juga membantu memasarkan brand orang lain.

Yang menarik dari pemaparan Kang Ulum adalah fundamental dalam beriklan di facebook.
Ini yang biasanya terlewat di dalam training2 marketing.
Karena jika fundamentalnya belum siap, maka seberapapun efektif teknik marketingnya akan sia2.

Fundamental dalam beriklan ini meliputi:
– Value of product. Seberapa besar manfaat dari produk yang kita jual, atau seberapa besar solusi yang ditawarkan dari produk tersebut.
– Copywriting. Yaitu cara untuk mengkomunikasikan value product kita kepada audience. Karena value yang tidak dikomunikasikan, akan gagal untuk ditangkap oleh customer. Ujung2nya ga jadi beli deh ๐Ÿ˜€
– Targeting. Targeting adalah bagaimana cara kita membagi2 market. Karena tidak ada produk yang ditujukan untuk semua orang. Kalau produk ditujukan untuk semua orang, maka valuenya akan sangat kecil sekali.
– Customer Service. Ini adalah komponen sales. Kalau CS/admin kita tidak bisa closing, maka seberapapun orang yang didatangkan dengan usaha marketing, akan sia-sia.

Setelah mensharingkan fundamentalnya, Kang Ulum membagikan tentang pengetahuan dashboard facebook. Bagaimana struktur iklan di dalam dashboard facebook yaitu Campaign, Adsets dan Ads. Dilengkapi dengan bagaimana cara dasar untuk mulai beriklan.

Berbagai fitur facebook advertising dijelaskan dengan lugas oleh Kang Ulum. Misalnya fitur include, suggestion dan exclude. Misalnya kita jualan fashion untuk kalangan menengah. Kita bisa mentargetkan orang-orang di facebook yang suka brand competitor kita. Misal Zara. Setelah ketemu brand competitor, facebook bisa memberikan saran brand2 yang lain. Lalu kita juga bisa mengeluarkan orang-orang tertentu. Misalnya kita bisa tidak menayangkan ke orang-orang yang suka Tokopedia / Shopee. Karena karakteristik marketnya tidak sesuai dengan yang suka brand Zara. Penyuka toped value nya di harga murah, penyuka brand Zara menyukai eksklusivitas dan brand.

Sesi bersama Kang Ulum ini sangat membuka mindset buat orang yang baru awal-awal beriklan, maupun sudah beriklan namun tidak closing-closing.
Mangga silahkan…buat yang gak sempet datang tetapi kepo buat liat2 slidenya bisa di download di sini http://bit.ly/2v35PFy

Moga2 nanti ada sesi lanjutannya biar lebih mantep lagi dan seperti Kang Ulum ๐Ÿ˜€

NB:
Jangan lupa tanggal 21 April nanti ada acara keren buangett yaitu MoslemPreneur.
Acara ini ditargetkan untuk para member komunitas TDA yang banyak
Buat yang pengen cari reseller, mengenalkan bisnis, atau membuka peluang kerja sama, masih terbuka kesempatan buat buka booth loh.
Buruan kontak panitia sebelum keabisan tempatnya.

Salam,
Div. EPIK (Edukasi dan Peningkatan Kapasitas Anggota)
TDA Bandung