CATATAN PW NAS 2019 FROM BANDUNG WITH LOVE

Assalamualaikum para suhu dan rekan2 seperdjoeangan…
Ane pengen ngucapin terima kasih banyak kepada panitia dadakan kontingen bandung goes to PW Nasional.
Panitia dadakan ini diinisiasi dgn waktu yg sangat mepet oleh Kang Iman Firmansyah

Sebenernya apa yang beliau lakukan ini simple…
Mengawal dan mengkoordinasikan teman2 yg antusias ingin datang ke PW.

Namun sesuatu yg simple bukan berarti mudah.
Saya tahu banyak sekali waktu, tenaga dan pikiran yg tercurah…

Kang Iman, kemudian dibantu oleh Coach Branto, Coach Buder dan akhirnya banyak yg lain berkontribusi.
Baik dengan cara mengkoordinasikan jam keberangkatan, rental mobil, bikin kaos, arrange penginapan, jemputin yg terjebak hujan, sharing materi dlsb.

Bukan hal yg mudah di tengah2 waktu yg singkat dan kesibukan mengurus bisnis.

Alhamdulillah 48 orang member TDA Bandung berangkat ke PW Nas dan pulang dengan selamat.

Tapi kenapa sih mereka mau repot2 melakukan hal itu?

Saya yakin bukan karena uang, karena tidak mendapat gaji dari aktifitas ini. Besar kemungkinan tindakan ini lahir dari ketulusan untuk melayani orang lain.
Keinginan untuk berbuat kebaikan terlepas dari keterbatasan yg sedang dialami oleh pribadi masing2.

Teman-teman yang kemarin datang di PW juga punya pengalaman yg berbeda2. Karena banyak hal yg terjadi bersamaan dengan begitu banyak panggung dan pembicara.

Contohnya ada yang mengalami momen2 pencerahan di panggung inspirasi bersama Coach Rene.

Coach Rene yg saat itu bertindak sebagai Komisaris Utama Ancol mengingatkan kembali: “Seberapa banyakpun uang dan harta tidak akan bisa dibawa mati”

Yang lebih penting dari pertanyaan mencari uang sebanyak2nya adalah: “Apa yg sudah dan akan saya lakukan untuk bisa melayani orang lain?”
Karena itu adalah bekal yg sesungguhnya yang akan bisa dibawa mati.

Saya jadi teringat seorang bijak yg berkata: “Seumur hidup orang mencari sesuatu yg tidak pasti. Padahal kematian itu adalah sesuatu yg pasti”

Siang itu, rasanya saya tidak berada di lingkungan wirausaha tetapi berada di sebuah pengajian besar yg mengajarkan tentang makna kehidupan.

Saya juga menjadi saksi seorang teman yang mengalami manisnya deal-deal bisnis di luar gedung. Kebetulan dia ketemu dengan kenalan lama seorang pengusaha besar.

Sebenernya teman saya ini dari dulu pengen kerjasama, tapi tidak tahu bagaimana bentuknya. Kemarin pas ketemu lagi, teman saya ini berceletuk: “Pak ajarin saya tentang usaha Bapak dong…”
Eh pengusaha itu malah menimpali: :”Hayuk kita bikin brand bareng aja…”
Padahal sudah bertahun2 dia pengen kolaborasi, tp ternyata gongnya baru terjadi sekarang.
As simple as that, sebuah deal terjadi di suasana santai meja kantin. Saya yakin hal-hal seperti ini banyak terjadi di meja2 yg lain.

Ada juga yang nginep di Aston Marina terus waktu Subuh ga tau cari masjid di mana. Akhirnya dia melangkah ke mushola hotel. Harapannya di sana bisa ketemu orang lain yg bisa berjamaah. Nah kebetulan ketemu rombongan TDA dari kota lain.

Ngobrol kesana kemari sampai kemudian membuka topik tentang bagaimana menyeimbangkan bisnis dan sosial. Ternyata teman TDA dari daerah lain ini kemudian mensharingkan bagaimana caranya walaupun bisnis masih kecil tapi sudah bisa bikin sekolah tahfidz gratis.
Dengan murid tetap 70 orang plus santri kalong yg berjumlah ratusan orang. Semuanya gratis-tis.

Momen ini sepertinya menjadi titik Aha teman saya.
Mindsetnya mulai terbuka bahwa memungkinkan kok, membuat sebuah perbaikan sosial walaupun bisnisnya masih kecil.

Di waktu yg lain di area lobby gedung saya ketemu teman lama. Sebut saja si X dan si Y.
X ini cerita bisnis lagi struggle dan ancur2an, kebetulan Y bisnisnya sudah agak stabil dan trend nya menaik.

Selanjutnya X cerita bahwa dia udah belajar ke sana kemari, teknik2 bisnis udah banyak yg khatam. Tapi entah kenapa, kok ya selalu gagal ketika dieksekusi.
Ada yang udah deket mau deal besar, tapi gagal maning gagal maning.
Kemudian yg udah dapet deal, cari supplier banyak yg gak amanah.
Akhirnya kepercayaan customer luntur dan dia pun kena marah-marah.
Cerita lagi bahwa pegawainya keluar masuk dan bahkan ada yg melakukan penipuan.

Dibedahlah sama si Y.
Bukan tentang bisnisnya, tetapi apa yg dilakukan oleh X di luar bisnis.

Ternyata baru ketauanlah dosa2 yg sering dilakukan oleh si X dalam kehidupan sehari-hari-nya.

Y pun memberikan masukan bahwa dosa dan maksiat itu akan mengundang kesulitan hidup.
Kesulitan dalam bidang bisnis, karir, jodoh, finansial, kesehatan, keluarga, dlsb.
Nah untuk memulihkannya maka yg pertama dibenahi bukan teknis bagaimana membereskan kesulitan itu.
Yang perlu dibenahi adalah hubungan dengan Tuhannya terlebih dahulu.

Cara yg sangat ampuh adalah dengan memperbayak tobat, meningkatkan kualitas ibadah dan juga memperbanyak kegiatan membantu orang lain.

Anda tahu apa yang indah dari dialog di atas?
Teman saya X dan Y tidak berasal dari satu kepercayaan agama yg sama.
Saya mendengar secara jelas bahwa Y tidak menyalahkan agama X.
Tetapi mencari persamaan-persamaan yang bisa digunakan untuk memperbaiki hidup X.

Ah indah sekali menyaksikan dialog mereka berdua.
Menggunakan persamaan-persamaan sebagai jembatan untuk membuat dunia ini menjadi tempat yg lebih baik.

Memang komunitas dengan berbagai macam warna dan karakter di dalamnya adalah tempat ideal sebagai pemersatu persamaan.

Sebagai pendengar dan pengamat di PW nasional saya, cuman bisa membatin Subhanallah…

Ternyata etul juga bahwa hidup kita secara syariatnya diubah dengan dua hal: buku yg dibaca dan orang yg ditemui.

Begitu juga dengan orang-orang yg saya temui di kontingen bandung kemarin. Kami mengalami berbagai macam momen2 bersama:
– Malam2 hunting nasi goreng kambing…😆
– Pagi2 saling gerebek kamar, buat nyari sarapan…😆
– Lari terbirit2 waktu salah gedor kamar orang…😆
– Udah rame2 naik lift ternyata salah tower, terpaksa turun lagi lewat tangga darurat 😆
– Dorong2 orang jadi ketua, hanya untuk kemudian masuk ke dalam bursa pemilihan sekjen.😆
– Rame2 ngeliat pantai, sesuatu yg tidak ada di Bandung😆
– Makan mie goreng sepiring bareng2…😆
Ah…Banyak sekali tawa, haru dan inspirasi bercampur di PW Nasional.
Banyak sekali ilmu, insight dan pengalaman.
Banyak sekali orang yang mencerahkan.

Saya rasa, momen2 itulah yang abadi akan tersimpan sebagai sebuah kenangan indah.
Karena seringkali, hal-hal simple yg berharga di dalam kehidupan tidak bisa dinilai dengan uang.

Salut buat Kang Iman yang menginisiasi koordinasi kontingen kemarin dengan ketulusan.
Salut buat teman2 lain yg membantu keberangkatan dan kepulangan.
Salut buat panitia PW Nas dan juga Kang Ferdian Brillian yang sudah bekerja keras dengan ketulusan.

Saya yakin ketulusan tersebut akan menular di dalam diri orang-orang.
Untuk mau memulai mencari cara untuk melayani, untuk tidak melulu berpikir tentang keuntungan sendiri.
Hal jazaa ‘ul-ihsaani illal-ihsaan (Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula)

Terima kasih Ya Allah, Terima kasih atas persaudaraan dan keindahan ini. 🙏🙏🙏

SILATURAHMI FISIK YANG TAK PERNAH BISA TERGANTIKAN.


Pengen deh seperti suhu-suhu yg ane temui di acara Kelompok Mastermind (KMM) Bandung Entrpreneur Forum (BEF) TDA BDG kemarin…

 

Ada salah satu suhu yang bisa konsisten sedekah 50% dari keuntungan bisnisnya.

Mau keuntungan besar, mau keuntungan kecil pokoknya dipotong 50% buat sedekah.

 

Gimana cara mulainya?

Ternyata beliau mulai justru dari pendapatan kecil.

Sewaktu masih kerja, konsisten mensedekahkan 50% dari gajinya.

Kemudian sambil kerja, merintis usaha.

Ga muluk2 ga pakai modal uang.

Cuman bantuin jualan temen sekantornya aja.

Dikasih diskon 10%, itu yg diusahakan.

 

Kemudian berlanjut resign dari pekerjaan.

Padahal ketika mau resign pendapatan dari bisnis baru setengah dari gajinya di kerjaan.

Ujian selanjutnya, bisakah beliau konsisten mensedekahkan 50% dari pendapatannya?

Ternyata ujian tersebut pun dilalui, walau itu berarti beliau harus menurunkan gaya hidupnya.

 

Bahkan sampai dengan sekarang…

Ketika bisnis sudah berkembang dan punya 4 karyawan pun, masih tetap seperti itu…

Pengen deh…

 

Pengen juga seperti suhu yg lain.

Belajar untuk diam, bukan belajar untuk pamer omset agar dianggap hebat oleh orang lain.

Padahal saya tahu salah satu gaji karyawannya aja ada yg menyentuh angka ribu-an dollar per bulan.

 

Itu baru satu karyawan, padahal beliau punya puluhan karyawan.

 

Karyawan2nya direkrut dari lingkungan tetangga2 sekitar.

Yang pengangguran, yang ga ada kerjaan, yang sehari-hari cuman nongkrong2, diajarin dari nol sampai bisa.

 

Kemudian diarahkan sering mendekat ke masjid.

Karena beliau percaya bahwa keberkahan suatu daerah berkorelasi erat dengan makmurnya masjid di daerah tersebut.

 

Ketika ngobrol2 santai dan dikorek2, baru beliau cerita bahwa sekarang ini beliau sedang belajar sesuatu…

Yaitu mendawamkan kebesaran Allah agar terhindar dari penyakit sombong.

Karena kesombongan dan keinginan untuk dihormati orang itulah yg nantinya justru bakal menghinakan.

 

Ada lagi yg mendesain sistem dikantornya untuk sama2 mendekat kepada Allah.

Karyawan2nya setiap pagi ada laporan ibadah tahajud, dzikir dan tilawah hari kemarin.

Pagi2 Dluha bersama, dan baca quran bersama.

Setiap minggu ngundang guru tahsin, dan juga ada sesi ngaji tafsir.

 

“Ini sebenarnya bungkusnya aja bisnis, tp dalemnya pelan2 pengen seperti pesantren Kang”, ujarnya.

 

Ternyata bisnis bagi dia, hanyalah sebuah jembatan untuk mendekatkan orang2 di dalamnya kepada Allah.

 

Pengen deh punya mindset seperti beliau2 ini…

Yang yakin (bukan sekedar percaya) bahwa Allah selalu memberi yg terbaik.

 

Salah satu suhu bercerita bahwa ketika anaknya lahir, dia cuman pegang uang 2jt.

Buat lahiran di bidan habis 1,5 juta.

Selesai lahiran uang cuman tersisa tinggal 500rb lagi, namun ada yang aneh… asi yg masuk selalu keluar lagi.

Akhirnya dicek ke rumah sakit dan baru ketahuan bahwa bayinya tidak punya kerongkongan.

 

Dokter bilang untuk operasi dan tindakan paling tidak butuh 100jt.

Padahal dia hanya pegang 500rb.

 

Namun yg mampu menyelesaikan segala masalah kan bukan uang, tetapi Allah.

Ya udah, bergantungnya sama Allah aja, jangan sama uang.

 

Apa yang mau dilakukan lagi selain mendekat kepada Allah?

 

Dari situ beliau kemudian belajar.

Bahwa Nabi Yunus pun seperti itu.

Ketika berada dalam tiga kegelapan: gelapnya malam, gelapnya dasar laut, dan gelapnya perut ikan, Nabi Yunus berdoa:

 

“La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minaz zalimin”

“Bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah Termasuk orang-orang yang zalim.”

 

Setelah berdoa apakah langsung dikeluarkan dari perut ikan paus?

 

Tidak…

 

Karena Ikan itu masih di dasar laut maka kalau langsung dikeluarkan, bisa2 nanti malah mati di dasar lautan.

Perlu dikondisikan dulu sama Allah untuk dikeluarkan dari kesulitan di saat yg tepat…

 

Dinaikkan pelan2 ke permukaan dan dikeluarkan di tempat yg aman di pinggir pantai.

Setelah Nabi Yunus kembali kepada kaumnya ternyata kondisi umatnya sudah beriman semua.

Dibereskan sama Allah semua permasalahan2nya.

 

Ah, dari suhu2 kemarin saya banyak sekali belajar.

Bahwa step awal memperbaiki segala kesulitan adalah: perbaiki dulu hubungan dengan Allah.

Perbaiki dulu ibadahnya.

Perbaiki dulu niatnya.

Baru kemudian sisanya baru berikhtiar.

 

Terima kasih atas pencerahannya para suhu…

 

Saya makin yakin bahwa tidak ada yang bisa menggantikan pertemuan fisik silaturahmi.

Karena pastinya cerita-cerita seperti ini tidak akan saya bisa dapatkan kalau saya cuman melototin group whatsapp dan telegram.

 

Selamat bersilaturahmi di hari minggu ini para sahabat 🙂

 

Jangan lupa minggu depan kita silaturahmi dan ketemu langsung dengan para suhu2 kelas kakap di Pesta Wirausaha Nasional

 

Mau berangkat baren g2 sama TDA BDG ?

Kontak aja suhu ane: Coach Subranto dari Dyummy Catering +62818277112

 

See you 🙂