Tutur Sang Mentari: Asal Dari Kebingungan

Pagi ini Mentari berbicara kepadaku:

Awan, diam dan perhatikanlah dari mana kebingungan muncul…

Engkau punya suatu gambaran di masa depan yang ingin engkau capai.
Engkau tidak tahu bagaimana cara mencapainya.
Engkaupun bingung…

Engkau punya gambaran di masa lalu, yang tidak ingin engkau alami lagi.
Engkau pun mencoba menghindarinya.
Engkau tidak tahu caranya, dan kau pun bingung…

Tetapi jika engkau diam, berada di saat ini…
Tanpa gambaran tentang masa depan dan masa lalu.
Bisakah engkau bingung?
Bisakah engkau berkata “aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan”
Coba renungkanlah…
Engkau bernafas, engkau duduk/berdiri, engkau tahu tanganmu diletakkan di mana, kakimu berpijak kemana.
Di saat ini, engkau selalu tahu apa yang perlu kau lakukan.
Di saat ini, engkau selalu punya lebih dari apa yang kau butuhkan.
Dan jika kau diam dan sadar, maka engkau akan mengerti bahwa saat ini…hanya saat inilah engkau hidup.
Bukan di masa depan, maupun di masa lalu…

————–
Pelajaran dari seseorang yang dekat:
– Lebih baik makan sedikit daripada tidak sama sekali
– Lebih baik olahraga sedikit daripada tidak sama sekali
– Lebih baik menulis sedikit daripada tidak sama sekali
– Karena yang sedikit, akan jauh lebih baik daripada tidak sama sekali 🙂

Quotes of the day

“Money only appeals to selfishness and always irresistibly tempts its owner to abuse it. Can anyone imagine Moses, Jesus or Gandhi with the moneybags of Carnegie?” – Albert Einstein

“The fruits of a fulfilling life—happiness, confidence, enthusiasm, purpose, and money—are mainly by-products of doing something we enjoy, with excellence, rather than things we can seek directly.”
— Dan Miller

“Many men go fishing all of their lives without knowing that it is not fish they are after.” – Henry David Thoreau

“What is success? To laugh often and much; to win the respect of intelligent people and the affection of children; to earn the appreciation of honest critics and endure the betrayal of false friends; to appreciate beauty; to find the best in others; to leave the world a better place than we found it, whether by a healthy child, a garden patch or a redeemed social condition; to know even one life has breathed easier because you have lived. This is to have succeeded.”
– Ralph Waldo Emerson

Cara Simple Untuk Jadi Kaya

Kemarin, pada sesi sore bertemu Mentari yang sedang tenggelam.
Aku mendapatkan pelajaran lagi.

Kata Mentari, untuk jadi kaya itu sangat simple.
Cukup melakukan dua hal:
1. Bersyukur
2. Membantu orang lain

Aku pun terdiam mendengar kata-kata itu…
Dan kebahagiaan pun merambat hangat, diiringi pancaran Mentari yang indah tenggelam di ufuk barat…

Terima kasih Sang Mentari, Terima kasih Tuhan 🙂

Super Kaya dan Super Miskin

Pagi ini Mentari bertanya kepadaku…

“Awan, kalau saat ini kamu jadi super kaya dan tidak perlu melakukan apapun untuk mencari uang apa yang akan kamu kerjakan?”

“Kamu tidak perlu bekerja untuk mencari uang, kamu tidak perlu melakukan apapun untuk mencari uang. Uang di bank sudah tersedia, bahkan kamu punya sistem yang otomatis menambah rekening bank mu. Sistem ini juga akan berjalan selamanya sejak saat ini sampai kamu meninggal. Apa yang akan kamu kerjakan?”

Pertanyaan itu membuatku terdiam.

Jelas bukan pertanyaan yang bisa dijawab dengan seketika.

Aku berpikir… mungkin aku akan membeli mobil yang bagus, membeli rumah yang mewah… membeli apapun yang aku butuhkan dan aku inginkan. Tetapi dalam pengalamanku, kepemilikan atas sesuatu tidak memberikan kebahagiaan yang bertahan lama. Seperti permen yang manis, namun cepat saja hilang dan kadang malah mengakibatkan gigi rusak.

Bertamasya keliling dunia? Mungkin saja… tetapi capek juga bertamasya terus2an. Dulu waktu aku jadi backpacker keliling ke pulau2 yang eksotis dan kota2 yang tidak pernah aku singgahi juga lama2 ada titik jenuhnya.

Lalu apa yang akan aku lakukan?

Aku merenung lebih dalam lagi…

Kemudian sebuah bayangan yang singgah adalah aku di dalam sebuah ruangan. Dikelilingi oleh rak-rak tinggi yang penuh berisi buku. Aku duduk di sebuah meja, dan menulis. Ada tumpukan buku di meja itu, yang mungkin beberapa waktu yang lalu aku baca.

Sepertinya, yang akan aku lakukan adalah… belajar dan mencipta.

Belajar dari luar diri: buku, orang-orang, film, musik, travelling
Belajar dari dalam diri: meditasi, sholat, zikir

Kemudian menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.
Sesuatu yang membantu orang lain memecahkan masalah yang sedang mereka hadapi.
Sesuatu yang membantu orang lain berkembang dalam hidupnya.

Ketika aku sedang asyik mengeksplorasi bayangan itu, Mentari tiba2 meluncurkan pertanyaan kedua.

“Awan, ayo kita coba skenario lain. Andaikan saja hidup mentakdirkanmu menjadi orang miskin. Seumur hidupmu kamu tidak akan pernah mendapatkan uang lebih dari yang kamu butuhkan. Kamu akan selalu bisa hidup, sampai saatnya kamu mati. Tetapi kamu akan terus tidak punya uang lebih selain cuma membiayai hidupmu secara biasa2 saja. Apa yang akan kamu lakukan?”

Pertanyaan itu membuatku tersentak…
Tampak menakutkan.
Lagipula selama ini di otakku banyak terdapat dogma2 bahwa uang akan memudahkan hidup.
Tetapi bagaimana kalau ada skenario seperti itu?
Selamanya miskin sampai mati…

Hei, bukankah itu berarti aku tidak perlu mengkhawatirkan uang? Sama seperti skenario dimana aku akan menjadi super kaya ?
Bukankah kedua skenario itu sama saja? aku akan punya cukup untuk hidup, sampai akhirnya aku mati? Bukankah semua kondisi sama saja? Aku akan hidup, sampai aku mati.

Dan sepertinya… bayanganku akan tetap sama…
Aku, berada di sebuah ruangan penuh rak buku.
Membaca dan menulis.
Belajar dan mencipta…

Bagaimana dengan kamu kawan? Apa jawabanmu?