Day #10 – Everything That Has a Beginning, Has an End

Day #10

Everything that has a beginning, has an end…

Malam ini, begitu aku bilang “kartun nya udah habis, udah malem”, anakku nangis ga karuan…

Air matanya bercucuran, ingusnya kemana2, pokoknya yang tadinya mukanya imut dan menggemaskan jadi jelek bgt 😀

Hati engga tega, mau dinyalain aja tuh youtube dan tv nya… tp trus inget… too much of anything is good for nothing…

Aku biarin dia nangis, guling2, narik2, mbujuk2 simboknya sambil nangis teriak2…

Aku pandangi sambil sesekali bilang… no…no… udah malam, bobo, kartunnya besok lagi…

Sebuah suara membisikkan di pikiranku…bahwa semua yang punya awal, pasti punya akhir…

Tangisan anak itu pun seperti itu…

Masalah pun seperti itu…

Kebingungan pun seperti itu…

Ketidak tenangan pun seperti itu…

Ramadhan pun seperti itu…

Dan kini, di penghujung akhir Ramadhan, aku ingin mengucapkan terima kasih atas proses menjalani 90 days tahajud challenge ini…

Bagiku reset di #11 ,
kemudian reset lagi di #22 ,
lanjut lagi sekarang sampai #10 …
adalah sebuah rekor personal…

Apalagi diantaranya dijalani disaat Ramadhan…

Yang pasti, ini tidak terjadi di Ramadhan sebelumnya pada hidup seorang Awan…

Ramadhan sebelumnya…juga sepanjang hidup seorang Awan, tampak benar dosa, khilaf, khianat dan maksiatnya amat banyak… dan amalnya jauh2 amat sedikit… jomplang sekali timbangannya…

Oleh karena itu bersyukur sekali, di penghujung Ramadhan ini bisa refleksi ke belakang, kemudian melihat… cara2 apa yang sudah ditempuh untuk berusaha meningkatkan kondisi timbangan yang memprihatinkan itu…

Everything that has a beginning, has an end…
That also means…
Everything that end, will become a new beginning…
You cannot just delete a habit
You only can replace it with new habit

Di akhir Ramadhan ini, moga2 menjadi awal yang baru…dari sebuah kebiasaan untuk mengisi akhir malam dengan mengadu, curhat, berkeluh kesah, mensyukuri nikmat, ke hadapanMu ya Allah…

Karena Engkaulah yang Maha mengampuni…
Engkaulah yang Maha menyelesaikan…
Engkaulah yang Maha memudahkan…
Engkaulah yang Maha mencintai…
Engkaulah yang Maha menumbuhkan…
Engkaulah yang Maha mengikhlaskan…
Engkaulah yang Maha membijakkan…
Engkaulah yang Maha menghilangkan…

Terima kasih atas segala bantuannya saudara2ku…
Mohon maaf atas segala kesalahan, dosa, khianat, maksiat yang pernah aku lakukan kepadamu… ???????

Kehilangan Pendengaran – Bisakah Main Musik Lagi ?


….
I don’t live the way I want to
That whole picture never came into view
And I’m tired of getting used to
The Day
So I will try If I would Try
….

Itu adalah penggalan lirik lagu dari seseorang… yang kehilangan pendengarannya umur 18 tahun.

Bagaimana rasanya kehilangan pendengaran?

I don’t know…but I imagine, it must be devastating… and really frustrating…

Di dalam rasa kecewa dan frustrasinya, dia pun meninggalkan dunia musik

Wajar saja, bagaimana bisa bernyanyi atau bermain alat musik jika kamu tidak mendengar?

Bahkan memahami orang lain berbicara saja harus menggunakan indera mata, bahasa isyarat…

Namun cerita tidak berhenti di situ…

Setelah mengatasi rasa frustrasinya dia berusaha bangkit lagi dan belajar untuk merasakan tempo musik lewat getaran lantai, muscle memory dan mempercayai perasaan agar pitch suara yg dihasilkan selaras dengan musik…

Menyerah dan beralasan adalah biasa, namun mencoba berjuang ditengah2 keterbatasan adalah pilihan…

Ladies and Gentleman I present you… 29 years old Mandy Harvey…

https://www.youtube.com/watch?v=ZKSWXzAnVe0

Wejangan dari Gus Dur

Suatu ketika Alissa, anak sulung Gus Dur mendapati adik sulungnya Inay mengecat rambut jadi kuning/merah.

Karena mengetahui bahwa Gus Dur yang saat itu jadi presiden sedang disorot banyak pihak, tentu saja dia memarahi adiknya. Anak kyai kok rambutnya di cat… nggak pantes, jadi bahan omongan orang…begitu mungkin dalam pikiran Alissa.

Selanjutnya, dia bawa adiknya itu kehadapan sang Bapak.

“Ini lho Pak… Inay rambutnya dicat warna kuning/merah… diomongin banyak orang yang lihat”
kira2 begitulah tuturnya kepada Bapak, dengan harapan Bapaknya akan juga memarahi Inay.

Gus Dur lalu bertanya…

“Kamu gimana Inay, sudah siap belum dikomentarin dan diomongin sama orang2 ?”

“Siap Pak, ga papa” – kata Inay

Gus Dur pun menengok kembali ke arah Alissa…
“Lah ini, orang yang melakukannya saja sudah siap dengan segala konsekwensi dari tindakan yang dipilih…kok kamu yang ribut…”

….

Tadi malam saya dengar ini dari penuturan Mbak Alissa dan Mbak Inay di acara Kompas TV – Warisan Gus Dur

Mungkin dialog nya tidak tepat seperti itu, tetapi kira2 begitulah kurang lebihnya.

Sayapun berfikir dan melakukan introspeksi… seringkali saya melihat orang berbuat sesuatu, mencoba menasehati…ttp tidak didengar… lalu saya uring2an sendiri…

Padahal orang yang dinasehati itu tentunya sudah siap dengan segala konsekwensinya…karena dinasehati pun tidak mau berubah… kenapa harus saya yang ribut?

Selain itu… saya juga teringat tentang tindakan saya sendiri… Bahwa apapun yang saya lakukan hari ini, akan ada konsekwensinya di masa depan.

Apa yang saya lakukan, maupun apa yang tidak saya lakukan.

Dulu waktu saya jadi “kebo-kebluk” susah bangun pagi… saya perlu sebuah shock therapy untuk diingatkan kembali apa konsekwensinya…

Konsekwensi bahwa saya memberikan contoh yang tidak baik bagi anak…
Ketika bangun siang, dan kemudian terjaga dengan pikiran yang semrawut…bagaimana konsekwensi di kerjaan saya… kemudian bagaimana dengan tanggung jawab saya untuk mencari nafkah untuk keluarga…
Konsekwensi ketika subuh tidur lagi, apa akibatnya nanti untuk kesehatan saya…
Kesehatan yang juga akan berpengaruh terhadap keluarga yang nanti akan mengurus saya ketika sakit…merepotkan istri…merepotkan anak…
Konsekwensi terhadap apa yang ingin saya capai dalam hidup… apa yang akan terjadi dengan cita2 yang masih ingin saya kejar…
Pastinya sedikit banyak anak saya akan mewarisi mindset dan kebiasaan yang saya lakukan… lalu apa yang akan terjadi dengan masa depan dia?
Siapkah saya dengan segala konsekwensinya?
Punya keinginan banyak…punya cita2 bagus…tp bahkan memulai meningkatkan diri sendiri saja tidak mau…sudah siap dengan konsekwensinya?
Ketika kebiasaan jelek dibangun sehingga sulit diubah, ketika kebiasaan2 baik tidak dimulai…ketika bermalas2an dibiarkan…sudah siapkah menerima konsekwensi ketika umur menginjak kepala 50, tetapi tidak ada karya apapun…sedikit sekali manfaat buat orang2 sekitar?
Siapkah menerima konsekwensi untuk dicontoh oleh anak anak dan keluarga?

Tidak heran Anthony Robbins pernah bercerita bahwa mind akan melahirkan action… action akan melahirkan direction… direction akan membawa ke sebuah destination…

Bukan sebuah kebetulan juga bahwa destination dan destiny punya akar kata yang sama…

Tindakan kecil…sebuah perbaikan…akan bisa membawa seseorang ke tempat yang sama sekali berbeda…kepada takdir yang sangat beda…

Saya teringat sebuah kisah waktu Gus Dur SMP, beliau sudah membaca karya2 Karl Max dan filsafat Plato… Bacaan2 di masa lalu… telah membawanya ke arah yang sangat berbeda dengan rekan2 sebayanya…

Kemudian…jika ada yang mengatakan takdir ada di tangan Tuhan, tentu saja harus dilengkapi bahwa Dia tidak menolong suatu kaum sebelum kaum itu menolong dirinya sendiri…

Hmm…

Saya belum sempurna, juga pastinya tidak akan pernah menjadi sempurna. Tetapi setiap hari, pastinya ada yang bisa saya lakukan untuk bisa lebih baik daripada hari kemarin…

Terima kasih Gus… atas wejangannya…

Avoiding Pain – Seeking Pleasures

Wah kemaren seru banget…ikutan acaranya sosialnya TDA Bandung di Gunung Kasur, Desa Cipanjalu.
Ada pembagian paket lebaran buat warga, paket buat anak2, bukber, pengajian dan malemnya bakar jagung sambil ngopi2 ditemani api unggun dan bintang2. Rasanya antara kombinasi acara sosial, piknik keluarga, muhasabah alam plus networking bisnis… 😀

Entah kenapa, acara komunitas bisnis yang satu ini selalu berkesan…selalu berasa kayak piknik keluarga. Dimana istri dan anak bisa ikutan gabung…main sama anak2 yg lain…sementara ngobrol bisnis dan tukar ilmunya tetep jalan.

Pulang nyampe rumah jam 12 malam.
Ngobrol2 bareng sama istri tercinta sebentar, trus tidur 00.30

Wah bisa2… ga bangun sahur nih… wah… baru juga reset 90days tahajud setelah bolong hari ke #22 kemarin…
masak iya bolong lagi…

Apalagi waktu di Gn Kasur sempet mendengarkan tausiyah dari ust Dian Arief yang juga pengusaha konveksi beromset mencengangkan (jomblo pula)
Alasan banyak kegiatan dan badan capai trus engga sholat tahajud?
hmmm… afwan saudaraku…harusnya Allah tetap diprioritaskan, bagaimanapun kondisinya…
makjleb…

Karena mikir2 kayak gitu… ane cari cara gimana nih biar bisa bangun nanti jam 2.30
Beker…pasti…tapi pengalaman sebelumnya beker juga engga cukup…

Diperlukan sebuah pemahaman tentang bagaimana human behaviour bekerja…widih… dalem cuy 😀

Menurut teori Psikoanalisis Freud, semua bagian otak manusia…selalu menghindari rasa sakit dan mencari kesenangan (avoiding pain and seeking pleasure)

Kenapa malam sebelumnya aku udah nyalain beker, bangun…tp trus engga langsung ambil wudhu?
Karena di dalam otakku… wudhu itu dingin(avoiding pain), sementara tidur sebentar di kasur anget itu nikmat (seeking pleasure)

Kenapa dulu… aku selalu susah untuk tidur cepat…akhirnya tidurnya lambat…bangunnya juga kesiangan?
Itu karena kalau tidur lambat…bisa nonton film dulu…masak ditengah2 film yg seru tidur? ya tunggu sampai selesai dong (seeking pleasure)
atau klo putus nonton di tengah jalan…penasaran…(avoid pain)
bisa juga karena beresin sesuatu yang menarik… ah tanggung nih…ntar aja deh…ntar… (seeking pleasure for the completion of the task)

Semua tindakan manusia, pada dasarnya selalu avoid pain and seeking pleasure…

Nah the trick of the mind… yg aku pake untuk mengubah arah tindakannya adalah… mengevaluasi…apa sih yang aku hubungkan kan dengan pain… dan apasih yang aku hubungkan kan dengan pleasure?

Biasanya tenaga untuk avoid pain, itu lebih besar daripada tenaga untuk seeking pleasure. Ini ada kaitannya dengan survival instinct manusia untuk mempertahankan eksistensinya.

Jadi yang aku lakukan dalam beberapa bulan terakhir adalah… menyambungkan pain kepada tindakan yang aku tahu tidak baik, tetapi tetap aku lakukan.

Contoh… waktu susah bangun pagi…
Inget banget waktu itu Ratu emoticon coach @lily olivia ngasih ultimatum… ini janji mau bangun pagi terus2an tp tiap report bangunnya siang terus…
Udah… sekarang… tiap telat bangun pagi, gak sholat subuh denda… mau denda berapa?
mmmm….50rb aku bilang…
kemurahan! kata dia dengan nada galak… 300rb yak!
Dengan muka asem, akhirnya aku menyanggupi…

Nah itu adalah contoh proses menyambungkan pain kepada bangun kesiangan…

Contoh yang lain adalah…
Pengen tidur cepat, biar bisa bangun cepat…

Wah mau tidur cepet ada film bagus…
Apa nih… pain yang bisa aku sambungkan dengan tindakan tidur larut malam?
Pain nya adalah…bangun kesiangan…ngasih contoh jelek ke istri/anak…berangkat kerja sempoyongan…tugas2 ga maksimal…bisnis berantakan…ga punya duit…sengsara selama2nya…

Muncul rasa males berangkat sholat subuh ke masjid… apa nih pain yang bisa aku link kan?
browsing2 di internet… apa sih kerugian tidak sholat subuh di masjid…
ooh…tidak mendapatkan keberkahan pagi…tidak mendapatkan cahaya sempurna pada saat kiamat…melewatkan kesempatan untuk pahala sholat subuh berjamaah = sholat subuh semalaman…
ooh ternyata ga punya ketenangan batin… ga bisa dzikir di rumah, soalnya hawanya ngantuk biasanya habis sholat subuh di rumah trus tidur…
klo tidur habis subuh…bangun sempoyongan…kepala pusing…pikiran ga tenang…pain pain pain…

Udah nyalain beker, pergi ke kamar mandi trus engga langsung ambil wudhu…
apa nih pain nya?
browsing2 dong… kerugian melewatkan sholat tahajud…
melewatkan kesempatan curhat sama Allah tentang berbagai kesulitan, kebingungan, masalah…
emang hidupmu udah ga punya kesulitan, kebingungan, masalah…Awan? kok ya sombong bener dikasih kesempatan ga dimanfaatkan…
Aku tambahi bingungmu lha… repot dewe kowe… 😀

Apakah efektif cara ini?

Klo ngeliat track recordnya sih pecah rekorku sendiri…
Rekorku sendiri lho ya… klo orang lain sepertinya sudah biasa…

Sebelumnya bangun siang…sekarang bisa bangun subuh…
Sebelumnya ga pernah tahajud, 11 hari lancar drop 3 hari… 22 hari lancar… drop sehari kemarin… sekarang reset lagi di day 1

Apakah ini efektif buat kamu?
Harus dicoba sendiri…biar tahu 🙂

Ini adalah pertanyaan2 yang biasa aku tanyakan pada diri sendiri…

Apa sih pain yang aku bisa sambungkan… ketika muncul dorongan untuk tidur larut malam
Apa sih pain yang bisa aku sambungkan… ketika muncul untuk melewatkan tahajud? untuk tidur lagi setelah subuh?
Apa sih pain yang bisa aku sambungkan… untuk tidak menghirup udara pagi setelah sholat subuh?
Apa efek negatifnya pada hidupku…apa resiko yang harus dibayar oleh orang2 di dekatku…orang2 yg aku sayangi…karena tindakan ini?
Gimana perasaanku…ketika nanti di akhirat… orang tuaku ditanya oleh Tuhan… “Bagaimana pertanggung jawabanmu dalam mendidik anak2mu? kok dia bisa jadi orang yang tidak bisa memprioritaskan Aku malah ngejar2 kenikmatan semu dunia?”
Jawaban apa yang aku akan berikan ketika di akhirat Tuhan bertanya… “Gimana kamu memberi contoh dan mendidik anak istrimu (mengingatkan suamimu), kok mereka bisa jadi orang yang seperti itu? ”

….

Hadits riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu:
Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam bahwa beliau bersabda: Ketahuilah! Masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin. Seorang raja yang memimpin rakyat adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin anggota keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap mereka. Seorang istri juga pemimpin bagi rumah tangga serta anak suaminya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya. Ingatlah! Masing-masing kamu adalah pemimpin dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya

…..
Semoga kita semua bisa menjadi orang yang lebih baik dari hari kemarin
Semoga aku selalu diingatkan, bahwa tidak ada yang bisa dibanggakan…dari amal ibadah yang sekarang…karena jika ditimbang…pastinya amal buruk dan perbuatan menganiaya diri sendiri selama puluhan tahun ke belakang masih jauh lebih banyak dibandingkan ibadah yg dilakukan saat ini…
…..

Have a great day… May Allah always guide us…
Meet me again at 3.00 ok?
Awan

Day #22 reset ke Day #1 lagi :D

Waaaaaaaahh… telat banguuun…. ???

Eh sebenernya engga telat juga sih… aku kan udah setel beker jam 2.30 …..

Udah bangun tuh, ke kamar mandi cuman buat matiin beker.

Loh kok, matiin bekernya di kamar mandi? Iya soalnya pake apps beker yang cuman bisa dimatiin kalau foto ember ijo di kamar mandi. ?

Selama #22 hari kebelakang efektif tuh… yang bikin apps beker ini Insya Allah banyak dapet pahala dari orang2 😀

Cumaaan… td malem foto ember, trus engga langsung ambil wudhu.

Malah keluar dari kamar mandi, goler2 di kasur depan tivi…

Pikirannya ah bentar aaah…

Lah bangun2 lagi, kok ya udah denger suara Aaaamiiiinnn di masjid.

Ini dah jam berapa? 5 kurang sprapat.

Berarti ga tahajud, ga sahur juga ???

Biasanya salah satu bangun, kalo engga aku duluan ya Dwi Fitrianty Kurnia duluan. Lah malam ini dua2nya bablasss… ga ada yg sahur, ga ada yg tahajud.

Jadiii…. udah nyampe day #22 , reset lagi deh :p

Tapi ada sesuatu yg beda yang aku rasain di banding yang sebelumnya reset di day #11

Kalau yang sebelumnya, rasanya malu…sempat kepikiran engga usah posting aja…ada kecenderungan buat jaim dengan dalih…biar semangat group ini terjaga…

Tapi sekarang, terasa ringan aja…
Bukan berarti ringan karena engga tahajud… tetapi aku rasain ga ada lagi image yang perlu dijaga…

Bahwa it’s ok kalau aku mengalami “gagal bangun”…
yang ga ok adalah kalau ak tidak berusaha…
yang ga ok adalah kalau ak berhenti berusaha…

Aku ngalamin… tidak ada yang salah dalam mensharing kegagalan, tidak harus kesuksesan terus yang disharing…

Bahkan dengan mensharing kegagalan, maka akan jadi pengingat aku di masa depan…bahwa semua butuh usaha, dan jalan menuju pencapaian ga akan selalu mulus…
self reminder that it’s life, and I will not always get what I want in life…

But the next question is… what I want to do next?

What I have learnt from this, and how can I do something better than before?

My brother and sister…
Hari ini aku sadari…dalam permainan ini… kita bareng2 berusaha mencapai angka #90

Tetapi tujuan dari permainan ini bukan hanya sekedar mencapai angka itu.

Hari ini aku menyadari bahwa proses perjalanannya lah yang penting untuk dilewati.

Bagaimana aku berusaha cari2 cara buat bangun malem… bagaimana aku mengalami gagal bangun…
bagaimana aku nyobain banyak tips/trick
bagaimana aku nambahin ibadah2 sunnah di pagi/siang/sore/malam untuk menyambut bangun di akhir malam…

It’s an experiment with my habit, experiment with my “nafsu” di pagi/siang/sore/malam

belum semua cara dicoba,
belum semua sunnah dilakukan…
belum semua amal hablum minannas dikerjakan…
belum kehabisan opsi2 untuk melakukan sedekah dan berbuat baik untuk menyambut bangun malam…
jadi aku juga ga mau usahaku dihentikan oleh pikiran yang ngomong “udah nyobain, tp engga bisa”

Kalau mau review lagi…kemarin…

Apakah saya makan terlalu banyak pada saat berbuka? sepertinya iya….

Apakah saya Isya tidak sholat di masjid tetapi masih di jalan? ya…

Apakah saya melewatkan tarawih, padahal saya bisa minggir sebentar dan mencari masjid? betul…

Lalu bagaimana kabarnya dengan rencana buat bersedekah dan mendatangi nenek di dekat rumah…yang kalau tidak ada uang maka hanya makan nasi dan garam? Udah sebulan lebih dari terakhir kali berkunjung ke sana…

“gagal bangun” di #22 kali ini adalah sebuah refleksi dari kehidupan yg aku jalani di pagi sbelumnya…

Karena bangun malam, mungkin hanyalah hasil dari apa yang aku kerjakan di pagi/siang/sore/malam…

….

Nah hari ini… aku mulai lagi dari hitungan ke #1

Hari ini aku diajak untuk…mengecek lagi ibadah2 sunnah apa yang kelewat kemarin…
Cek lagi… kebaikan2 apa kepada manusia yang belum/bisa aku lakukan hari ini…
Sama istri…sama anak…sama orang tua… sama saudara.. sama tetangga..sama teman2… sama orang yang membutuhkan…
Cek lagi… bacaan sholatnya… kekhusyukannya… dzikirnya… kesadaran untuk mengingat Tuhan nya…
Cek lagi…cinta kasih kepada sesama yang belum dilakukan dan masih ditahan…

Cek lagi…sedalam apa proses menuju rutin tahajud ini…telah merasuk dalam amal kepada Allah dan amal kepada manusia…di saat pagi/siang/sore/malam ku…

Sambil terus mengingatkan pada diri sendiri…
Tidak ada yang perlu dibanggakan… dosa, maksiat, kesalahan mu Awan… jauh….jauh…jauh….lebih banyak dari ibadah/amal yang kamu lakukan…

May Allah shine His light on you today brother/sister,
See you again, tonight at 03.00 !
Awan

Pertanyaan Yang Perlu Diajukan Untuk Menjawab Tantangan Hidup

Pagi ini saya beruntung dapat kuliah sebelum Subuh dari seorang guru.

Dia bercerita bahwa hidup tidak akan lepas dari masalah.
Namun cara saya untuk memandang masalah itulah yang akan menentukan kualitas hidup saya.

Cerita darinya membuat saya mengingatkan suatu konsep…
Bahwa saya bisa memandang masalah sebagai sebuah beban, atau memandangnya sebagai sebuah tantangan yang diambil untuk memperbesar kapasitas diri.

Karena ada perbedaan besar dari kata “saya dapat masalah” dengan “saya bersedia menjawab tantangan” tersebut.

Analoginya seperti gambar no: 1

Saya ada di tengah lingkaran.
Garis lingkaran ini adalah batas kemampuan saya.
Apa yang ada di dalam lingkaran adalah semua yang bisa saya lakukan.
Apa yang ada di luar lingkaran adalah apa yang belum bisa saya lakukan.

Masalah/tantangan pastinya adalah hal yang belum bisa saya lakukan.
Maka hal itu pasti ada di luar lingkaran saya.

Nah hidup selalu memunculkan tantangan itu.

Kadang saya menghindarinya, namun biasanya akan muncul di tempat lain.
Dia akan terus menghantam garis batas pada apa yang bisa saya lakukan…
Bum…bum…bum…

Sampai tantangan itu terasa sangat menyakitkan, dan saya memilih untuk menjawab tantangan itu.

Yang terjadi kemudian adalah saya akan berusaha sekuat tenaga mengerahkan kemampuan untuk mengatasinya.
Namun karena apa yang saya tahu tidak mencukupi, maka saya tetap tidak bisa melakukannya.
Jika saya tidak menyerah, maka saya akan mencari sumber2 informasi yang lain… saya akan bertanya kepada banyak orang… saya akan browsing… saya akan ambil kursus… saya akan cari buku… dlsb…
Sampai saya mempunyai kompetensi dan kepercayaan diri untuk bisa mengatasi masalah itu.

Lalu suatu saat…tantangan itu bisa diselesaikan…

Tanpa sadar… lingkaran sayapun membesar…
Kapasitas saya sebagai seorang manusia pun membesar…
Masalah2 dan tantangan2 yang bisa saya selesaikan semakin banyak di banding sebelumnya…
Seperti contoh gambar berikut…

Bagaimana kalau masalahnya tidak selesai2 ?
Saya yakin efeknya akan sama… selama saya terus mencari cara, talk to people, get books, take a course… maka kapasitas saya sebagai seorang manusia juga akan membesar…

Proses ini akan berulang terus dan menerus… karena seorang master berkata…sejatinya… hidup bukanlah berisi rangkaian masalah/beban yang tidak pernah berhenti, namun rangkaian tantangan yang ditujukan untuk berkembang…

Selanjutnya…penting sekali untuk menyadari pertanyaan2 apa yang saya fokuskan dalam menghadapi sebuah tantangan dalam hidup.

Pertanyaan2 yang sering muncul adalah:
– Kenapa saya harus dapet masalah kayak gini sih?
– Ini masalah kok ga selesai2 kenapa ya?
– Nyebelin banget sih, beruntun gini dapet masalahnya!
Jawaban apa yang diberikan oleh pikiran? alasan2 kenapa saya dapat masalah… alasan2 kenapa masalahnya tidak selesai2… alasan2 bahwa saya selalu dapat masalah yang beruntun…

Tentunya respon saya akan berbeda jika ketika pertanyaan2 di atas timbul, saya mengganti fokus saya dengan menciptakan pertanyaan2 baru seperti contoh berikut:
– Bagaimana caranya untuk bisa melewati tantangan ini?
– Siapa yang pernah mengalami hal ini?
– Buku apa yang bisa saya baca agar saya mempunyai pengetahuan yang cukup untuk menjawab tantangan ini?
Jawaban apa yang diberikan oleh pikiran?

Group pertanyaan pertama fokus kepada masalah, group pertanyaan kedua fokus kepada solusi.
Menurut salah satu teori, kalau hidup saya terasa nelangsa dan isinya komplain… besar kemungkinan saya selalu fokus pada masalah, bukan pada solusi.
Sebuah saran bagus, untuk menghabiskan waktu 20% fokus kepada masalah dan 80% fokus kepada solusi.
Bukan sebaliknya.

Anthony Robbin di Personal Power (yang saya dengarkan sambil jemur baju pagi2) membagikan 5 pertanyaan yang memberikan kekuatan kepadanya ketika menghadapi tantangan2 hidup:

1. Apa sisi baik dari adanya kejadian ini? (What’s great about this?)
Ketika pertanyaan ini pertama diajukan, tentu jawaban cepatnya: tidak ada. Bagaimana kalau diganti… “Apa sisi baik yang mungkin bisa timbul dari kejadian ini?”… maka jawabannya bisa muncul.
Misal pasangan saya gak suka olahraga… saya ingin mengajak dia olahraga… sisi positif yang muncul dari kejadian itu adalah… karena kejadian ini, sisi baik yang mungkin akan muncul adalah saya jadi lebih rajin lagi berolah raga dengan mengajak pasangan saya olah raga…
Yang lainnya, saya jadi bisa belajar memotivasi orang lain… kalau saya bisa memotivasi pasangan saya, maka saya akan bisa memotivasi anak saya… kalau saya bisa memotivasi anak saya… maka saya bisa membangun kelg yg sehat… saya juga akan bisa memotivasi teman2 saya… saya akan bisa menjadi manusia yang lebih bermanfaat lagi… dst dst…

2. Apa yang belum sempurna? (What’s not perfect yet ?)
Kalau dicermati…ada asumsi tersembunyi didalam pertanyaan ini…yaitu…bahwa keadaan bisa jadi sempurna…tetapi untuk saat ini…apa yang belum sempurna? Tetapi sebuah pengingat bahwa keadaan bisa loh buat jadi sempurna…maka bisa memandang dengan lebih cerah.

Misal… dari kasus pasangan yang jarang olahraga… yang belum sempurna adalah kami hanya olahraga sebulan sekali, kalau sedang mood saja. Kalau kecapekan kerja sibuk sama ngurus anak ya udah ga kepikiran olahraga.

3. Saya bersedia melakukan apa agar keadaan bisa menjadi seperti yang saya inginkan? (What I’m willing to do to make it the way I want ?)
Pada pertanyaan ini juga ada sebuah asumsi…bahwa saya bersedia melakukan sesuatu untuk membuat keadaan jadi lebih baik…asumsi yg lain adalah…saya bisa membuat keadaan ini jadi lebih baik, kalau saya melakukan sesuatu…

Misal contoh kasus di atas… olahraga enaknya dilakukan pagi2… kalau saat ini saya bangunnya siang, ya saya akan bersedia untuk bangun lebih pagi dari biasanya… pasangan saya juga pastinya tidak mau mengajak saya olahraga kalau saya bangunnya siang… gimana mau ngajak olahraga, kalau sholat subuh saja susah dibangunkan?

4. Apa yang akan saya stop lakukan, agar keadaan bisa menjadi seperti yang saya inginkan? (What I’m no longer want to do in order to make it the way I want? )
Misal: Saya akan berhenti untuk complaint bahwa saya dan pasangan jarang olahraga…kemudian mulai mencari alternatif2 olahraga yang bisa dilakukan.. saya akan berhenti untuk menanyakan pertanyaan2 standar dan mulai menanyakan pertanyaan2 lebih dalam untuk menggali motivasi dia dalam hidup dan jg berolahraga…dlsb

5. How can I do what’s necessary to get this job done…and enjoy the process
Nah ini adalah pertanyaan yang bagus… karena begitu menanyakan hal ini maka otak akan mencari cara2 fun untuk melakukannya.
Misal: olahraga yang digabung dengan game, olahraga dengan menggunakan outfit2 yang lucu/tidak biasa, diskusi gimana nih olahraga yg fun menurut kamu? dlsb…

….

Wah jadi panjang…padahal maunya cuman bikin status biasa aja…

Ya udah… gitu aja deh, daripada nanti tambah panjang lagi hehehe…

Sebagai penutup…saya ucapkan terima kasih kepada guru saya untuk kuliah sebelum subuh hari ini…
Saya yakin, semua yang baik asalnya dari Tuhan… dan bukan kebetulan saya dan Anda di posisi sekarang ini… pertanyaannya sekarang… waktunya mau dihabiskan untuk fokus kepada masalah, atau fokus kepada solusi?

Enjoy your day!
Awan