Catatan Belajar FB Ads

Ga terasa, hampir setahun mainan FB ads.

Tanggal 15 July 2017 itu pertama kali ikutan trainingnya Om Bram.

Masih inget perasaannya…duduk di pojok belakang, sambil mikir… ini Om Bram ngomong bahasa planet apa ya?
Setiap ada istilah2 aneh yg keluar dari paparan Om Bram… ane lgsg buru2 googling.
Ga ketemu, nanya deh… (maaf ya om, waktu itu banyak nanya dari pojokan)

Pas waktu itu mikir… ternyata FB ads banyak banget istilah2 yg gw ga ngerti.
Padahal kirain cuman ngiklan gitu doang, apa susahnya sih?
Jebul banyak banget yg harus dipelajari.
Itupun seiring berjalannya waktu baru tau klo yg diajarin sama Om Bram udah cara yang paling simple.
Baru ngomongin metriks inti2nya aja…belum ngomongin metriks2 lain yang umum dipake oleh advertiser.

Bulan2 awal dipenuhi dengan cycle yg sama.
Replay video –> praktek –> laporan progress ke Om Bram –> pusing, cobain dulu… —> replay video lagi… dst dst…

Nanya2 juga sama suhu2 yg ada di kelas seangkatan ane @harys , @kamal , @mary
Super helpful banget nih suhu2 yg baik hati.

Tapi ternyata ini gak cuman tentang teknik beriklan.

Setahun terakhir ini pelajaran yang ane catat adalah:

1. Perubahan mindset dalam eksekusi.
Sebagai seorang Intuiting, nature nya adalah melihat gambaran besar.
Tetapi ane Intuiting yg berlebihan… ane perlu tahu setiap step dulu, jelas dulu, baru mau melangkah.
Ditambah lagi berlebihan keinginan untuk menjadikan setiap step itu sempurna.
Walhasil ga jadi praktek2. Banyak ide tapi lambat eksekusi.
Akhirnya pusing sendiri krn banyak nglamun tp ga ada hasil.

Mindset ini berbeda 180 derajat dengan pola Sensing nya Om Bram.
Hajar dulu, ga perlu perfect dulu, ambil cara yg paling simple kemudian lakukan.
Setelah jalan, lihat feedbacknya. Improve dari sana.
Fast execution – fast improvement.

2. Perubahan dalam logic
Logika ane berlebihan dalam intuisi. Ini perlu diimbangi oleh runtutan logika dan data yang memang kuat di orang Sensing.
Waktu dikasih tau buku Think Smarter nya Michael Kalet, langsung deh beli di Google Play.
Padahal waktu itu lg diskon jadi cuman 15rb. Tp krn terburu2 jadi beli pake full price, 237rb.
Ah sudahlah… yg penting ada hasilnya.
Ternyata di situ diajarin cara berpikir yg runut.
Gimana problem solving dengan berpikir secara kritis.
Pengambilan keputusan bisa di breakdown secara runut.
Dari sanalah jadi keranjingan untuk upgrade logika berpikir ane.

3. Perubahan dalam bekerja secara tim.
Sebelumnya ane terbiasa handle team online. Waktu itu pernah sampe 30 orang yg lokasinya beda2.
Tp sejak setahun kemarin ane eksperimen buat develop team offline setelah ikut DTF nya Om Bram.
Sekarang ini ada 5 orang teamnya.
Pengennya sih bisa nambah lagi biar bisa jadi jalan rejeki sama orang lain.
Cuman di sini mindset yg ditambahkan adalah… kekuranganku bisa ditambal dengan team.
Sebelumnya pengennya bisa jadi superman dan ngerjain sendiri semuanya.
Tp ternyata hidup jadi lebih enak dengan adanya team.
Grow juga jadi lebih cepat.

Menengok 1 tahun ke belakang, what a wonderful progress…
Walaupun masih jauh dari para mastah, tp ak ucapkan Alhamdulillah…
Bisa numpang belajar dan numpang idup.

Terima kasih Om Bram, terima kasih team managix, terima kasih rekan2 dan suhu2 seperjalanan.
Terima kasih Tuhan

Bisnis Jalur Utara VS Bisnis Jalur Selatan

Assalamualaikum para suhu dan rekan2 seperjuangan…

Pengen cerita sedikit tentang cerita mudik boleh?

Orang2 yang mudik dari Jawa belahan Barat menuju ke arah Timur, tentunya tidak asing dengan Jalur Selatan dan Jalur Utara.

Kemarin ane iseng2 cari2 data kecelakaan di kedua jalur ini.
Nemulah data di tahun 2011.

Ternyata data kecelakaan tahun 2011, terdapat 65 kecelakaan di Jalur Utara.
Sementara di Jalur Selatan terdapat 42 insiden kecelakaan di tahun itu.

Kalau melihat karakteristiknya, Jalur Selatan cenderung berbelok-belok dan naik turun.
Sementara Jalur Utara jalannya cenderung lurus, apalagi dengan adanya tol kinyis-kinyis yg masih mulus.

Mungkin karakter jalan ini ada kaitannya dengan jumlah kecelakaan yg terjadi.

Jalur Selatan yang berkelok-kelok membuat para pengemudi lebih waspada.
Ada belokan, ada turunan, harus siap-siap di rem.
Setelah turunan ada tanjakan, perlu turun gigi sehingga bisa punya daya yang maksimal buat naik ke atas.

Sementara Jalur Utara, gas pol… lancar jaya… tidak terasa kecepatan sudah 160km/jam.
Apalagi pemandangan kanan kiri Jalur Utara yang monoton ini sering membuat ngantuk.
Micro sleep alias tidur dalam hitungan detik, bisa berakibat fatal.

2 kondisi jalur ini mirip dengan bisnis.

Ketika orang membangun bisnis ada yang melalui “Jalur Selatan” dan ada yang melalui “Jalur Utara”.

Ada yang baru mulai bisnis, kok mudah banget… bisa mencapai profit ratusan juta dalam waktu singkat.
Milih produk langsung meledak.
Milih target market kok ya pas.
Milih supplier, kok ya dapat yg amanah.

Tapi ada juga yang sudah bertahun2 bisnis… melihat omset puluhan juta aja hanya di momen2 tertentu.
Itu omset, apalagi ngitung profit.
Coba berpuluh2 produk, ga ada yang jalan.
Milih target market, kok ya dingin2 aja.
Dapet supplier, dikasih barang yang reject, dst dst…

Nah yang repot kalau orang yang bisnisnya kebetulan ada di “Jalur Utara” ini jadi terlena, hilang kesadaran.
Merasa lebih pintar dan lebih berhasil.
Merasa dirinya hebat dalam bisnis… membanding2kan pencapaian yang lebih banyak dalam waktu tempuh yang lebih singkat.
Memandang rendah kepada orang yang bisnisnya di “Jalur Selatan”

Padahal di Jalur Utara terdapat jebakan betmen yang menunggu ketika lengah.
Terbukti dari statistik jumlah kecelakaan nya lebih tinggi dari jalur selatan.

Sementara saya diam-diam kagum dengan orang2 yg ulet berbisnis walau ada di “Jalur Selatan”.
Mereka menjalani jalur yg berkelok2, butuh tenaga ekstra untuk naik tanjakan, siap2 waspada rem pada saat turunan.
Kemudian menyerahkan hasil dari usaha kesabarannya di tangan Tuhan-nya.

Orang-orang seperti ini, memperbaiki fundamental dan mindset.
Belajar kesana-kemari.
Menghitung dan mengalokasikan sumber daya dengan se-hati-hati mungkin.
Mikir gimana caranya membuat “ada” dari sumber daya yang tidak ada dan tidak punya.
Gagal, bangkit lagi…
Bikin baru, gagal, coba lagi…
Masih gagal, terus2 di ulik lagi…
Sambil ibadahnya dikencengin, terus mendekat kepada Tuhan-nya…

“Bisnis Jalur Utara” tantangannya adalah apakah bisa bersyukur, berbagi dan tetap rendah hati.
Sementara “Bisnis Jalur Selatan” tantangannya adalah sabar sambil terus berjuang.

Bisa jadi di akhirat nanti Dia akan berkata:
“Yang Aku anggap hebat bukanlah pebisnis yang coba bisnis di bidang A, B, C, D…Z berhasil semua.
Karena keberhasilan itu adalah fasilitas dari Ku.
Hak prerogratif Ku fasilitas2 itu mau diberikan kepada siapa.
Yang Aku anggap hebat adalah justru pebisnis yang aku tugaskan di dunia dengan sedikit atau bahkan tanpa fasilitas keberhasilan.
Namun dia coba terus berjuang pantang menyerah sampai Aku menjemputnya.”

Nah kalau temen2 bisnisnya ngerasa ada di “Jalur Utara” atau “Jalur Selatan” nih? 🙂

Salam,
Your brother di Divisi EPIK TDA Bandung 🙂

Laporan Wakaf Quran Ramadhan

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh…

Selamat Hari Raya Iedul Fitri yah bro/sist…
Mohon maaf lahir batin…
Semoga Allah menerima ibadahku dan ibadahmu 🙂

Aku bersyukur banget dikelilingi oleh teman-teman yang murah hati.
Di bulan Ramadhan kemarin, hanya dalam 2 minggu terkumpul 300 Al Quran Wakaf yang siap untuk didistribusikan.

Pada proses distribusinya aku tidak sendirian, tetapi dibantu para pejuang2 sosial yang menakjubkan.
Karena merekalah orang-orang yang lebih tahu medan di lapangan.
Daerah mana yang masih kekurangan, daerah mana yang perlu dibantu.
Mereka adalah mata di lapangan sehingga diharapkan wakaf Quran ini jadi tepat guna.

Salah satu pejuang sosial yang membantu distribusi wakaf Quran kemarin bernama Khoeruddin.
Bersama teman-temannya project yg digarap adalah renovasi sebuah madrasah di pelosok Bale Endah Bandung.

Madrasah itu ditemukan dengan kondisi yang mengenaskan.
Hampir rubuh dengan tiang2 yg lapuk, dinding tripleks dan pagar dari bilah-bilah bambu.
Sekilas dilihat mata, bangunan itu mirip banget kandang ayam.

Berkat kerja keras tim nya, akhirnya bisa dibangun bangunan permanen.
Hal ini penting untuk dilakukan karena di kawasan tersebut banyak terdapat warung remang2 dan karaoke2 liar tempat prostitusi.

Anak2 di sana perlu mendapatkan pendidikan agama, jika tidak maka akan terjebak kedalam lingkaran aktivitas yang dilakukan oleh orang tuanya. Ini adalah project penyelamat generasi bangsa.

Selain dari itu, Khoeruddin dan kawan2nya juga berkoordinasi dengan pesantren2 penghafal quran di pelosok Tasik dan Garut. Sebagian Quran wakaf dari temen2 sekalian Insya Allah akan didistribusikan ke sana.

Titik distribusi Quran yang lain adalah di daerah Gunung Puntang.
Lokasinya sekitar 2 jam ke arah Selatan pusat kota Bandung.
Dari daerah Banjaran, terus naik ke atas perbukitan sampai tiba di kawasan perkebunan kopi Gunung Puntang.

Untuk distribusi kesana, aku dibantu oleh ustad muda @Irwan yang juga pengusaha kopi di sana.
Ada 3 masjid yang masih kekurangan Al Quran.
Moga2 bisa bermanfaat bagi para petani kopi di sana, dan juga masyarakat jamaah masjid tersebut.

Tempat wakaf yang lain adalah desa Cidomas Garut.
Jaraknya sekitar 6 jam dari Bandung.
Untuk distribusi ke sana aku dibantu oleh pemuda bernama @Ali

@Ali adalah anak tertua dari 10 bersaudara.
Sejak kecil Ali tidak pernah bertemu dengan ayahnya.
Itu yang menyebabkan dia tinggal di panti asuhan Amanah di Batununggal.
Dibesarkan di panti asuhan tersebut, kini dia sudah tercatat menjadi mahasiswa UIN.
Calon ustad muda yang penuh semangat dalam aktifitas2 sosial.

Setiap lebaran dia pulang ke Cidomas.
Desa terpencil yang masyarakatnya mayoritas hidup sebagai petani padi.
Al Quran masih merupakan barang mewah, karena uang yang ada dipakai untuk makan sehari2.
Sehinnga mereka sangat menyambut gembira Wakaf Quran yang datang.

Selanjutnya bekerja sama dengan teman2 dari komunitas Kastrol, wakaf Al Quran juga dibagikan ke para siswa di MDT Maarif Pasir Impun.
Lokasi sekolahnya dari terminal Cicaheum teruuus naik ke puncak gunung yg masih susah sinyal.
Kondisi masyarakat di sana masih yg masih kekurangan, merasa sangat terbantu dengan adanya wakaf ini.
Selain Al Quran, di acara buka bareng komunitas Kastrol juga memberikan bantuan berupa paket2 alat2 sekolah kepada anak2 di sana.

Selanjutnya di Nun Learning Centre Bale Endah yg didirikan oleh Kyai Rofi.
Di sini siswa2 yang telah selesai program tahsin dan sudah mengkhatamkan Al Quran, akan lanjut ke program tahfidz (hafalan quran).
Al Quran dari temen2 Insya Allah akan membantu proses mereka menjadi para hafidz penghafal Quran.

My brother and sister…
Terima kasih sekali lagi atas kebaikan hatinya dalam membagikan sebagian rizki dan berwakaf Quran.
Aktifitas ini membuktikan bahwa bersama2 kita bisa menjadi bagian dari solusi bangsa ini.
Ketika ada orang2 yg bisanya berdebat dan berkomentar negatif di sosial media, ternyata masih ada yang menjawab dengan tindakan nyata.

Tentu saja, apa yang kita lakukan tidak sempurna.
Ada sahabat yang menyarankan, selain berwakaf Quran ada baiknya juga disertai dengan bantuan dana pendidikannya juga.
Karena banyak masyarakat miskin akan sangat terbantu.

Kemarin ternyata juga masih ada dana sisa karena mendapatkan diskon dari penerbit.
Aku mohon izin dari para donatur sekalian untuk memanfaatkan dana ini dalam pendidikan Al Quran.
Rencananya kita akan bekerja sama dengan lembaga pengajaran Quran untuk bisa memberikan pengajaran kepada yang membutuhkan dengan dana tersebut.

Aku sendiri sudah memastikan bahwa dari dana di atas tidak ada yang dipakai untuk kepentingan pribadi.
Bahkan sampai saat ini bensin dan transportasi disokong dari kantong para relawan.

Insya Allah ini adalah komitmen kita… untuk berbuat bukan untuk keuntungan finansial… tetapi sebagai keinginan untuk bisa bermanfaat bagi orang lain…

Semoga kita bisa terus bergerak, aktif membangun solusi2 sosial. Bersama-sama 🙂

Salam,
your brother…
Awan.

#7 – 90days Tahajud Challenge

#7

Salah satu guru ane pernah berkata…
“Kesalehan yang membawa kebanggaan lebih berbahaya daripada dosa yang membawa penyesalan”

Hidup kita tidak pernah lepas dari dosa dan maksiat.
Seringkali kita sudah berusaha sekuat tenaga menghindarinya… tetapi seringkali terjatuh juga kepada hal-hal yang dilarang.

Ketika itu terjadi, hendaknya kita segera bertaubat dan tidak berputus asa terhadap rahmat Allah.

“Ah, tp nanti gimana klo berbuat dosa lagi. Bukannya tobatnya cuman tobat sambel. Udahlah ga usah bertobat aja.”

Bisa jadi nanti kita berbuat lagi.
Tp bisa jadi juga itu akan jadi taubat terakhir kita.

Yang penting di sini adalah: kita berusaha bersungguh2 menghindarinya.

Karena Allah nanti tidak akan bertanya tentang hasil akhir.
Yang ditanyakan adalah usaha kita…

Sudahkah kita bersungguh2 berusaha menghindarinya?
Sudahkah kita bekerja keras mencari aktifitas lain untuk tidak melakukan dosa tersebut?
Sudahkah kita mencari berbagai ilmu untuk mempertebal iman kita?
Apakah waktu ketika kita sadar bisa dimaksimalkan untuk berbuat baik dan beribadah, sehingga bisa menambal waktu kita “tidak sadar” ?

Sehingga ketika saatnya peperangan itu tiba…
Melawan hawa nafsu… melawan bisikan setan… melawan kebiasaan jelek yang sudah bertahun2…
Kita akan menghadapinya dengan persiapan yang maksimal.

Kemudian, apakah kita menang melawan peperangan itu atau tidak, itu hak Allah untuk menentukan.

Karena Allah tidak akan menanyakan apakah kita menang/tidak.
Allah akan menanyakan perlawanan dan proses persiapan kita untuk menghadapinya.

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (QS Ali Imran: 133)”

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar {39} : 53-54).