Uang dan Rasa Minder

July 04, 2021
afi

Uang adalah efek samping.

Hasil dari manfaat yang kita berikan kepada orang lain.

Uang adalah tanda bukti. Bahwa sebelumnya saya telah memudahkan hidup orang lain. Kemudian orang tersebut memberikan tanda berupa uang.

Namun ada kalanya saat kita akan menciptakan sesuatu yg bermanfaat bagi orang lain, ada perasaan minder.

Misalnya saya ingin membuat buku. Saya tahu bahwa buku bisa menjadi sebuah hal yg bermanfaat buat ornag lain. Akan tetapi begitu mau bergerak ada pikiran yg berkata, saya ini siapa? Kok berani2nya bikin buku dan ngajarin orang lain. Emangnya sudah sehebat apa sih saya?

Lalu hari ini, didalam sebuah kelas menulis saya bertanya kepada guru saya.

Mas, gimana mengatasi rasa minder?

Setengah tertawa beliau menjawab… Wah kalau Mas Awan yg nanya tentang rasa minder saya bingung jawabnya…

Gini aja deh, saya tanya ke peserta kelas yg lain. Selain Mas Awan…

Bapak ibu… Kalau ada mantan ketua TDA Bandung nulis buku tentang kewirausahaan ada yg mau beli ga?

Jawab peserta yg lain: Mauuu…

Mendengar jawaban itu pikiran minder saya kembali usil menjawab: ah ini kan gara2 temen2 sekelasnya orang2 baik aja, jadi jawabnya mau. Sekedar solidaritas buat mendukung rekan seperjuangan 😀

Sayapun kembali sibuk dengan pikiran minder saya.

Namun beberapa saat kemudian saya teringat oleh sebuah pertanyaan. Kalau rasa ini tidak pernah hilang, apa yg akan saya lakukan?

Misalkan saja seumur hidup saya mencari cara untuk mengatasi rasa minder saya. Tapi ternyata rasa itu akan terus ada, apa yg akan saya lakukan?

Apakah akan terus mengikutinya dan tidak berbuat apa2.

Ataukah saya akan mengambil langkah penciptaan meskipun rasa minder itu tetap membayangi ?

Jangan2 saya salahengartikan. Jangan2 rasa itu memang diperlukan. Sebuah cara agar saya terus mencari ilmu. Tetapi bukan untuk menghalangi saya untuk bergerak dan menciptakan kebermanfaatan.

Lalu di sesi refleksi hening, saya kembali mengingat suara yg muncul beberapa minggu yg lalu.

Suara itu menyeruak begitu saja dalam keheningan semilir angin…

Sampai kapan kamu akan terus merasa tidak punya kemampuan? Merasa tidak punya cukup pencapaian? Merasa tidak punya cukup keahlian dan pengalaman?

Sampai kapan kamu terus berlindung dalam perasaan2 itu sehingga kamu tidak mengambil tindakan apa2 ?

Sampai kapan kamu akan terus lari, menghabiskan waktumu dengan pengalihan2 yang menyenangkan sesaat yang menghabiskan waktumu?

Padahal banyak sekali orang2 yang butuh bantuan. Banyak sekali orang2 yg kondisinya dibawahmu, dan kamu bisa membagikan sesuatu untuk perbaikan hidup mereka. Tuhan bisa saja melahirkanmu sebagai pemulung. Sebagai orang yg di phk. Sebagai org yg frustrasi karena masalah uang. Tapi Tuhan menjadikan cerita hidupmu berbeda. Masak iya kamu mau egois sendirian?

Mendengar suara itu, saya teringat sebuah ucapan…Tuhan tak pernah menghukum orang yg tidak mampu. Tapi Tuhan pasti akan mempertanyakan orang yg tidak berusaha…

Tulisan ini, adalah untuk orang2 yg punya rasa minder. Anda tidak sendirian. Saya pun sama.

Ini bukan hanya tentang menulis buku. Tetapi semua hal yg kita inginkan dalam hidup tetapi tidak kunjung kita lakukan. Hanya karena ada perasaan minder membayanginya. Besar kemungkinan orang2 yg PD itu bukanlah yg tidak punya perasaan minder. Tetapi yg terus berusaha walaupun punya perasaan minder.

Tulisan ini untuk berbagi semangat. Yuk sama-sama terus bergerak dan berusaha. Di luar sana banyak orang2 yg kondisinya tidak seberuntung kita.

Mulailah mencipta, walau tak sempurna. Karena anugerah yang diberikan oleh Tuhan tak pernah salah alamat. Karena pengalaman yg Dia berikan tak pernah salah orang. Kita bisa memberi manfaat kepada orang lain yg kondisinya berbeda dengan kita. Dan uang, hanyalah sebuah tanda akibat manfaat yg kita berikan kepada orang lain.

Jangan lupa buat tersenyum sepanjang perjalanan dalam proses penciptaan yg penuh ketidak sempurnaan. Untuk tidak terlalu serius memandang kegagalan dan kesalahan. Agar kita bisa sadar menyerahka kesempurnaan sebagai hak milik Tuhan saja.

Salam,

Awan

Bersambung….

No comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *