Mau jadi Soros atau Buffet ?

Berkaitan dengan cara mendapatkan uang, tiap2 orang punya gaya masing-masing.

Gaya ini disesuaikan dengan bakat/personalitynya.

Misalkan gaya Buffet ini adalah tipe akumulator. Akumulator adalah orang yang menimbun aset. Begitu dia menemukan ada aset yang menurut dia akan meningkat terus maka dia akan membelinya. Setelah dibeli dan dimiliki maka aset itu tidak akan dilepaskan selama mungkin.

Orang tipe Buffet ini, bisa sebagai professional atau juga bisa sebagai pebisnis. Mereka biasanya setia terhadap satu hal. Konsisten melakukan itu terus menerus.

Ada tipe yang lain, yaitu Tipe Soros. Soros ini adalah tipe yang sensitif terhadap timing. Dia bukan orang yang suka mengumpulkan aset dan memegangnya selama-lamanya. Dia adalah tipe orang yang punya kepekaan terhadap timing. Dia tahu kapan waktu yang tepat untuk membeli dan menjual.

Pada suatu waktu ada yang bertanya bagaimana George Soros bisa mengetahui untuk menjual sebelum market jatuh. Dia bilang “Saya tidak tahu… Saya hanya merasakan ada sensasi di bagian belakang punggung saya. Kemudian saya punya dorongan untuk menjual.”

Orang tipe Soros ini sensitif dalam melihat peluang. Dia bisa berganti2 profesi ataupun bidang bisnis.

Yang saya ingin bagikan adalah penting untuk mengetahui tipe seperti apa diri Anda. Karena ini sangat berpengaruh dalam gaya Anda mendapatkan uang.

Kalau tipe Buffet, jangan memaksakan belajar menjadi Soros. Cukup konsisten dan pelan-pelan membangun pondasi. Jangan iri melihat orang lain mendapatkan kesukesan yang cepat.

Kalau tipe Soros, jangan berjalan pelan. Ikuti intuisi Anda dan bergeraklah cepat seiring dengan cepatnya pergerakan market. Anda punya sensitifitas dan intuisi, gunakan secepat2nya.

Namun meskipun Anda mengetahui tipe Anda sendiri dan bergerak sesuai dengan bakat Anda, jangan mengharapkan kesuksesan akan datang dengan instan. Semua perlu latihan, semua perlu pemahaman, dan semua butuh proses.

Untuk tipe Buffet, kesabaran dan analisa mendalam adalah latihan yang perlu diasah.

Untuk tipe Soros, dinamika naik dan turun adalah proses yang perlu dinikmati.

Nah saatnya sekarang berefleksi, dari pengalaman dan hasil-hasil di masa lalu. Anda lebih condong ke yang mana? Semoga bisa menjadi panduan untuk melatih skill dan mengasah bakat yang selama ini ada pada diri Anda.

Uang dan Sedekah

Apakah ada kaitannya antara sedekah dengan datangnya uang?

Secara logika, ketika kita mengeluarkan uang maka uang kita akan berkurang. Tetapi tidak sama hasilnya jika dikaitkan dengan sedekah.

Sedekah adalah proses memberi kepada orang lain, di mana orang itu tidak bisa membalas kepada kita. Biasanya yang diberi adalah orang-orang yang kondisi nya dibawah kita.

Sebenarnya proses sedekah ini akan memberikan keyakinan ke dalam diri bahwa kita ini kaya. Kita ini punya lebih untuk diberikan kepada orang lain. Kita ini kondisinya lebih baik dari kondisi orang yang kita beri.

Ketika keyakinan itu tertatanam dalam diri, maka akan muncul rasa syukur. Ketika muncul syukur maka akan muncul rasa bahagia. Ketika kita bahagia maka hati kita dipenuhi dengan kedamaian. Lalu kita bisa bertindak dengan pikiran yang jernih. Ide-ide brilian berdatangan, dan eksekusi tuntas pun menjadi hal yang natural.

Seringkali ada pikiran “Ah sedekahnya nanti saja kalau sudah punya sekian rupiah”. Kalau ada pikiran seperti itu, lebih baik tidak kita ikuti. Karena pikiran itu akan memberikan kesimpulan bahwa saat ini saya tidak punya. Ada rasa cemas di sana. Ada rasa takut. Berarti saat ini saya miskin. Lalu muncul kesedihan, iri hati dan sifat-sifat jelek lainnya. Sehingga ketika melakukan action juga setengah-setengah karena diliputi keraguan. Bagaimana kalau saya gagal? Bagaimana kalau saya sudah mengeluarkan uang, tenaga, pikiran, waktu tapi kemudian tidak berhasil? Akhirnya karena diliputi kecemasan, ketakutan, kekhawatiran pastinya tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal. Atau bahkan tidak ada hasil sama sekali.

Oleh karena itu penting sekali untuk meluangkan sedekah. Sesedikit apapun. Sedekah bisa apapun. Kalau punya uang, sisihkan sedikit. Kalau tidak punya uang, bisa waktu, pikiran maupun tenaga. Semakin kita berkontribusi terhadap orang lain, hukum alam akan membawa kembali kebaikan yang berlipat-lipat ke dalam diri kita.

Tulisan ini, adalah pengingat pada diri sendiri. Kalau berat untuk bersedekah, bisa-bisa saya sedang terjebak dalam pemikiran miskin, ketakutan, kecemasan, keragu-raguan. Solusinya: lakukan sedekah.

Raja dan Sebutir Gula

Suatu ketika ada raja yang sangat kaya luar biasa. Istananya terbuat dari emas permata. Bahkan singgasananya juga terbuat dari berbagai bebatuan yang langka dan indah luar biasa. Raja ini terkenal sangat kaya raya dan juga cerdas luar biasa. Beliau bahkan bisa mengerti bahasa hewan-hewan sangking cerdasnya.

Suatu ketika raja ini sedang berkuda bersama rombongan pasukannya. Di depan jalur kuda tersebut ada barisan semut. Lalu pemimpin semut itu berkata: ayo minggir ada pasukan kuda raja mau lewat. Kalau kita tidak minggir nanti kita akan diinjak2 oleh kuda2 itu.

Sang Raja karena mengerti bahasa semut memahaminya. Maka sang raja mengalihkan rombongan pasukannya lewat jalur lain sehingga tidak memotong jalur semut-semut tersebut.

Karena pemimpin semut tersebut tahu bahwa raja tersebut mau mengalihkan pasukannya hanya agar semut2 tidak terinjak, maka diapun berinisiatif untuk berterima kasih.

Pemimpin semut datang ke istana raja dengan membawa sesuatu miliki kaumnya yang sangat berharga: sebutir gula.

Sepanjang jalan semut itu ditanyai oleh hewan2. Hei mau kemana engkau? Dan kenapa membawa sebutir gula itu?
Aku mau ketemu sang raja, aku mau berterima kasih kepadanya dengan memberikan gula ini.
Diapun ditertawakan oleh hewan2 tersebut, Raja itu sangat kaya raya kamu membawa gula cuman sebutir lagi apa ada gunanya?

Semut itu menjawab, kalau dia tidak berterima kasih terhadap sebutir gula yang aku bawa maka dia memang raja yang kaya raya.
Tetapi kalau dia berterima kasih dengan gula ini, maka dia bukan hanya raja yang kaya raya tapi juga orang yang sangat bijaksana.

Lalu semut itu pun bertemu dengan raja di singgasananya.

Raja kemudian bertanya, apa yang semut butuhkan dan bagaimana dia bisa membantunya?

Semut bercerita bahwa dia ingin berterima kasih atas apa yang raja lakukan, dan membawa hadiah untuk raja berupa sebutir gula.

Raja kemudian mempersilahkan semut untuk maju dan memberikan hadiahnya.

Semut kemudian mendekat sampai ujung kaki raja.

Raja kemudian berkata silahkan engkau naik tubuhku untuk kemudian memberikan secara langsung gula itu ke mulutku.

Lalu semut pun naik, sedikit demi sedikit sampai akhirnya di mulut raja dan menaruh butiran gula itu di lidah sang raja.

Raja pun merasakan sebutir gula itu. Tanpa dikira semut melihat raja itu mengeluarkan air mata dari kedua matanya.
Dari raut mukanya terlihat sangat bahagia.

Raja berkata, terimakasih wahai semut karena telah menempuh perjalanan sedemikan jauh dan sulitnya hanya untuk memberikan hadiah untukku.

Kita ini sama2 makhluk miskin di hadapan Tuhan, sudah sepantasnya saling memberi dan saling membantu…
Terima kasih atas pemberianmu ya…

Nah kawan2… kalau raja yang sangat kaya raya saja bisa merasa bersyukur karena diberikan sebutir gula, pernahkah kita merasa bersyukur atas apa yang datang pada hidup kita?

Dalam buku Happy Money karangan Ken Honda ada konsep Arigato In dan Arigato Out.

Arigato In artinya berterima kasih atas uang yang masuk akan membuat hati menjadi damai dan bahagia.
Ini adalah praktik yang sangat baik untuk kebahagiaan kita. Seperti contohnya yang dilakukan oleh raja tadi.

Arigato out.
Berterima kasih ketika uang keluar.
Bersyukur ketika uang keluar itu bisa kita bayangkan sebagai rasa terima kasih atas jasa yang kita berikan kepada orang lain.

Misal kita memberikan uang kita untuk membeli makanan. Berarti ada jasa memasak di sana. Kita ucapkan terima kasih kepada orang lain karena sudah memberikan jasanya kepada kita.
Ketika kita membayar pajak, kita ucapkan terima kasih kepada orang2 yang dengan uang pajak ini membangun berbagai fasilitas umum dan kemudahan untuk kita. Jalan raya, rumah sakit, jasa administrasi dan lain sebagainya.

Kemudian saat uang keluar, kita bisa berkata terima kasih… terima kasih… silakan berkelana dan nanti kalau mau kembali lagi bisa ajak teman2mu yg lain ya 😀

Itu juga sebuah praktek yang melihat bahwa uang sebagai aliran energi.
Energi syukur yang kita sirkulasikan keluar, akan menciptakan kekosongan yang nantinya akan terisi dengan energi baru yang masuk kembali.

Jika kita mengantarnya dengan rasa syukur, maka nanti akan kembali masuk dengan syukur juga.

Nah…temen2 yuk kita praktekkan arigato in dan arigato out ini dalam kehidupan kita.

Gratis, dan pastinya semakin bersyukur akan semakin bahagia hidup kita 🙂

Bersyukurlah Masih Punya Masalah Uang.

Masalah Uang adalah permasalahan yang bisa diselesaikan dengan uang. Misalkan saja mau makan, lapar, tapi tidak ada uang. Kalau ada uang maka permasalahan itu bisa diselesaikan. Contoh yang lain adalah mau bayar cicilan motor, tapi tidak ada uang, pusing kepala. Itu adalah masalah yang bisa diselesaikan dengan uang.

Jika Anda sedang mengalami masalah ini, solusinya simpel. Cari uang.

Permasalahannya bagaimana cari uang? Ingat rumusnya: uang adalah sebuah tanda bukti bahwa kita sudah memberi manfaat kepada orang lain. Manfaat yang orang lain hargai.

Sehingga carilah permasalahan, kemudian belajarlah untuk memecahkan permasalahan tersebut. Kalau masalahnya bisa kita selesaikan, maka kita akan diberikan imbalan berupa uang. Semakin besar permasalahan yang kita selesaikan, semakin banyak imbalan uang yang akan kita dapatkan.

Di atas kita bahas contoh-contoh permasalahan yang bisa diselesaikan dengan uang. Selain itu ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan adanya uang.

Misalkan gini…
Kita terlahir sebagai anak orang kaya.
Tentu saja kita tidak akan merasakan ingin makan, tidak ada uang, terus merasakan kelaparan. Masalah orang kaya adalah, uangnya ada. Tapi mau makan apa ya? Mau makan ini bosan… mau makan itu bosan… Akhirnya bingung sendiri tidak makan-makan. Nah ini adalah contoh masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan uang.

Baru-baru ini ada kabar bahwa anak dari milyuner di Indonesia yang terjerat kasus narkoba. Besar dugaan saya bahwa sebelum terjerat kasus tersebut, mereka mengalami permasalahan yang tidak bisa diselesaikan dengan uang: kebosanan, tujuan hidup, kebahagiaan, dlsb.

Masalah Non-Uang lebih kompleks untuk diselesaikan. Karena jawabannya lebih absurd. Lebih mengawang-awang. Masalah ini memerlukan tingkat berpikir yang lebih tinggi daripada sebelumnya.

Jadi syukurilah kalau sekarang kita masih merasakan masalah uang. Karena bisa jadi kalau kita diberikan masalah non-uang, kita tidak akan lulus ujian 🙂

UANG DAN PUASA

Puasa yang dipahami oleh sebagian besar orang adalah menahan untuk tidak makan dan minum dalam rentang waktu tertentu.

Namun kata kuncinya adalah menahan. Kata menahan ini bisa diartikan dengan sangat luas. Menahan emosi. Menahan keinginan. Menahan kata-kata. Menahan perasaan sombong. Menahan nafsu. Menahan uang.

Ternyata ketika kita belajar menahan, maka kita akan memiliki. Ini yang seringkali terlupa. Banyak orang berusaha untuk mendapatkan lebih. Tetapi tidak pernah belajar untuk menahan. Sehingga dapatnya banyak, keluarnya juga banyak. Pada akhirnya sangat sedikit yang tersisa. Atau lebih parah lagi, malah tekor. Itu disebabkan oleh besar pasak daripada tiang. Lebih besar pemasukan daripada pengeluaran.

Ketika dalam kondisi kekurangan uang, penting sekali untuk belajar menahan. Menahan keinginan. Menahan gaya hidup. Menahan tabungan. Menahan pengeluaran. Menahan makan enak. Menahan pemborosan.

Dengan latihan menahan ini maka kita akan bisa memiliki lebih. Praktek ini juga akan menghindarkan kita dari jebakan besar pasak daripada tiang.

Latihan puasa sangat penting untuk dilakukan. Mulai dari yang paling gampang, puasa Ramadhan. Nanti berlanjut menjadi puasa senin kamis. Berlanjut lagi jadi Puasa Daud. Atau puasa-puasa yang sunnah yang lain.

Dimulai dari menahan makanan, nanti berlanjut menahan saat buka puasa. Ada yang bilang bahwa kualitas puasa seseorang ditentukan saat berbuka tiba. Apakah dia mengumbar nafsu dengan makan apa saja? Ataukah dia bisa melanjutkan menahan. Makan secukupnya saja. Maka itu saat-saat berbuka adalah latihan sebenarnya untuk belajar menahan.

Latihan menahan ini akan bisa mendidik jiwa kita sehingga tidak gampang diombang-ambingkan oleh godaan. Salah satunya dari godaan makanan. Banyak makanan enak yang menggoda, tapi apakah baik untuk kesehatan?

Dengan latihan menahan ini maka tubuh kita akan jadi sehat. Kalau tubuh sehat maka pikiran akan jernih. Kalau pikiran akan jernih ide-ide kreatif bermunculan. Kita akan bisa menyelesaikan banyak permasalahan. Sehingga tidak mungkin tidak uang akan datang.

Tapi kalau dari makanan saja kita tidak bisa menahan. Maka pasti pengeluaran kita besar untuk makanan. Belum lagi efek kesehatan yang muncul dari makanan-makanan yang merusak fisik. Kalau sudah tidak punya uang, kemudian badan sakit pasti sengsara sekali. Kalau punya uang tapi badan sakit, masih lumayan. Walaupun tetap akan kehilangan uang.

Proses ini perlu dilakukan bertahap, sedikit demi sedikit. Sehingga tidak kaget. Kata orang soleh, amalan yang paling disukai adalah yang kecil namun konsisten. Terus berprogress.

Semoga kita bisa latihan bersama-sama ya 🙂

Uang dan Dzikir.

Apakah berdzikir bisa mendatangkan uang? Apakah tujuan berdzikir adalah untuk mendatangkan uang?

Saya bukan ustadz. Bahkan kalau mengenang masa lalu saya, banyak sekali dosa dan maksiat. Sekarang juga masih sering melakukan dosa. Jadi sepertinya kurang cocok kalau saya menjelaskan tentang dzikir dan agama. Jadi apapun yang saya tulis di sini, silahkan dikonfirmasi dengan ustadz yang Anda percayai. Kalau beliau berkata berbeda, kemungkinan besar beliau yg benar. Saya sendiri masih perlu banyak belajar.

Di tulisan kali ini saya ingin bercerita bahwa di barat ada teknologi yang bernama subliminal dan afirmasi. Saya coba jelaskan satu-satu ya…

Afirmasi adalah proses pengulangan sebuah kata-kata positif berkali-kali. Salah satu tokohnya yang terkenal adalah Louise Hay.

Afirmasi ini sangat efektif kalau pikiran kita seringkali dipenuhi dengan pikiran-pikiran yang negatif. Misal rasa pesimis, kurang percaya diri, mudah galau dlsb.

Dengan melakukan afirmasi, atau pengulangan kata-kata positif, maka pikiran kita pun akan mengikuti. Semacam mengarahkan kembali pikiran yang kacau dan liar. Di selaraskan dengan kata yang sama berulang-ulang. Karena pikiran adalah gelombang, dan kata-suara juga merupakan gelombang. Maka gelombang pikiran diselaraskan lagi dengan gelombang yang sama dan berulang-ulang dari kata/kalimat afirmasi yang kita ucapkan.

Ada juga subliminal. Yang menggunakan gelombang-gelombang tertentu dan diperdengarkan secara audio. Biasanya dipakai untuk orang-orang yang sulit konsentrasi atau menaikkan mood. Subliminal banyak menggunakan teknologi audio untuk mempengaruhi pikiran dan perasaan. Bahkan beberapa yang berusaha untuk mengakses pikiran-pikiran bawah sadar sehingga bisa memprogram ulang belief-belief yang sudah lama berada di dalam diri manusia.

Saya merasa ada kemiripan antara afirmasi, subliminal dan dzikir. Walaupun saya tidak mengerti 100% dimensi dzikir yang mungkin lebih dipahami oleh pak ustadz, tapi di banyak kesempatan dzikir inilah yang membereskan pikiran saya, menjernihkan mental dan memberikan ketenangan batin.

Apakah serta merta memberikan uang? tentu saja tidak. Tetapi dari pikiran yang jernih, dari hati yang tenang dan dari jiwa yang bersih kemudian bisa muncul ide-ide yang membuat saya keluar dari himpitan finansial. Tentu saja bukan berhenti di tataran ide, tetapi juga harus diwujudkan dengan tindakan. Yang menarik dari pikiran yang tenang muncul kemantapan hati untuk melakukan sebuah tindakan. Dalam pengalaman saya, kemantapan hati itulah yang sangat berharga. Ketenangan batin itulah yang sangat dinantikan oleh orang-orang. Sehingga apa yang dilakukan nanti akan bisa dinikmati. Kalau kita menikmati prosesnya maka kebingungan, ketakutan dan kekhawatiran tidak akan membayangi lagi.

Pada suatu saat saya ada dalam kondisi finansial yang sulit. Bekerja 18 jam sehari sepertinya tidak pernah cukup waktu. Mau ngerjain apapun sepertinya tidak ada hasilnya. Beberapa peluang, sedikit lagi bisa menghasilkan ternyata gagal. Sampai bingung sendiri.

Di titik itulah saya memulai sebuah ritual baru. Berdzikir di pagi hari. Hanya satu kata: alhamdulillah. Saya menyebutkan semua hal yang saya syukuri. Alhamdulillah masih diberi mata. Alhamdulillah diberikan kesehatan. Alhamdulillah diberikan kesempatan hidup hari ini. Alhamdulillah jempol saya tidak sakit. dan seterusnya. Saya coba disiplinkan pikiran saya minimal 30 menit. Kadang hingga satu jam.

Setelah dirutinkan, saya bisa bekerja dengan pikiran jernih. Saya bisa bersikap tenang. Saya kemudian bisa punya ide dan tindakan yang mantap di hati.

Dengan kemajuan teknologi saat ini, memulai praktik dzikir bahkan sangat mudah. Ada momen-momen di mana saya buka youtube dan mencari dzikir yang saya sukai artinya. Di sana diulang2. Saya tinggal mendengarkan dan mengikuti. Metode ini efektif jika masih malas dzikir sendirian.

Berdasarkan pengalaman saya, ketika kondisi sedang tidak baik2 saja, justru itu kondisi yang sangat ideal untuk saya mengarahkan pikiran saya. Bisa dengan afirmasi, subliminal atau dengan dzikir.

Silahkan dicoba kalau tidak percaya 🙂

Uang dan Keyakinan

Di kondisi seperti ini, banyak sekali orang yang kesulitan masalah uang.

Ada yang pendapatannya terhenti karena di-PHK. Ada juga yang bisnisnya macet. Ada banyak istri yang tidak mendapat uang belanja karena suaminya terkena masalah keuangan.

Jika ada yang membaca tulisan ini, janganlah berputus asa.

Saya ingin menceritakan kisah Rhonda Byrne. Pada suatu titik dia ada di titik terendah kebangkrutan. Pusing tujuh keliling.

Sampai kemudian anaknya menghadiahkan sebuah buku kepadanya. Judul buku itu adalah The Science of Getting Rich. Buku terbitan lama, tahun 1910.

Buku itu kemudian menginspirasi Rhonda Byrne untuk membuat The Secret yang menjadi fenomena global dan diterbitkan ke banyak bahasa.

Tidak hanya Rhonda Byrne, banyak nama-nama besar terpengaruh oleh The Science of Getting Rich karangan Wallace D.Wattles ini. Jejak-jejak pemikiran Wallace bisa ditemukan pada karya-karya Napoleon Hill, Anthony Robbins, dan juga Robert Schuller.

Di buku itu Wallace menceritakan bahwa semua penciptaan dimulai dari pikiran. Semua barang yang ada di dunia ini, termasuk juga semua kondisi dalam hidup kita bisa kita ciptakan terlebih dahulu di dalam pikiran kita.

Pikiran itulah nanti yang akan berlanjut kepada niat. Niat kemudian akan menjadi tindakan. Tindakan kemudian akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan kemudian akan menciptakan peluang-peluang. Lalu terciptalah takdir.

Wallace juga mengajarkan bahwa kekayaan bisa didapatkan lewat kreatifitas, bukan lewat kompetisi. Karena dengan mengajarkan pikiran untuk kreatif maka itu artinya kita beralih dari pola pikir keterbatasan menjadi pola pikir keberlimpahan. Ketika sesuatu dibutuhkan, maka sesuatu itu bisa diciptakan atau didatangkan untuk memenuhi kebutuhan.

Apapun kondisi kita saat ini, bangunlah keyakinan diri bahwa kondisi pasti bisa dan pasti akan berubah. Lampaui apa yang tampak di permukaan. Karena Tuhan pasti punya hadiah terindah untuk orang-orang yang punya keyakinan dan mau berusaha untuk kreatif.

Salam,
Awan
(bersambung…)

Uang, Fase Butuh & Fase Kreasi

Ada beberapa fase orang dalam motivasinya mencari uang.

Yang pertama fase “butuh”. Butuh uang untuk membiayai hidupnya. Butuh uang untuk membayar keinginannya. Butuh uang untuk memenuhi sesuatu yang harus dipenuhi. Mungkin ada hutang atau mungkin keharusan2 yang lain.

Di dalam fase ini biasanya banyak emosi2 yang tidak mengenakkan. Perasaan khawatir, takut, cemas, tegang, was-was biasanya sangat dominan mewarnai hari2nya.

Fase “butuh” ini juga diwarnai oleh pola pikir kelangkaan. Peluang adalah hal yg langka. Uang susah dicari. Keuntungan sulit untuk didapatkan. Efeknya begitu mendapatkan uang pun jadinya dipegang erat2. Kalau lepas rasanya menyakitkan. Kalau harus membayar sesuatu rasanya tidak rela.

Fase “butuh” ini biasanya orang yg sedang berjuang keras. Masih survival.

Namun seringkali fase ini terus mendominasi walau sudah punya banyak.

Maka dari itu kita menjumpai orang kaya yang stress, penuh rasa kecemasan, was2 dan khawatir. Ini adalah contoh orang2 yang sudah sangat terbiasa dengan pola pikirannya sendiri. Sehingga walaupun kondisi finansialnya sudah berubah tetapi dia tidak bisa lepas dari pola pikir “butuh” tadi.

Ada fase yang lain selain fase “butuh”. Yaitu fase “kreasi”. Orang2 yg ada di dalam fase kreasi ini menjadikan pekerjaan sebagai ajang buat dirinya berkreasi. Menciptakan hal2 baru, cara2 baru, layanan2 baru.

Di fase kreasi, ada semangat mengeksplorasi. Semangat untuk belajar hal baru dan menciptakan diri yang baru. Kejutan, kegembiraan, kekaguman, perayaan sangat sering terjadi di dalam fase kreasi ini.

Bahkan untuk orang2 di fase kreasi ini, uang bukan lagi tujuan. Uang nantinya hanyalah sebuah alat untuk berkreasi, berkontribusi, untuk menciptakan dunia yang lebih baik daripada sebelumnya.

Kalau uangnya habis bagaimana? Orang2 di fase kreasi akan punya ketenangan bahwa jika sesuatu habis maka nanti akan tercipta dari sumber yang baru. Pasti akna ada gantinya. Karena Sang Maha Pencipta tidak akan tinggal diam melihat sesuatu yang dibutuhkan untuk menciptakan dunia yang lebih baik.

Saatnya kita sama2 ber refleksi. Saat ini kita ada di fase mana? Kemudian kalau boleh memilih kita ingin menuju ke fase yang mana?

Salam,

Awan

(bersambung…)

Uang dan Rasa Minder

Uang adalah efek samping.

Hasil dari manfaat yang kita berikan kepada orang lain.

Uang adalah tanda bukti. Bahwa sebelumnya saya telah memudahkan hidup orang lain. Kemudian orang tersebut memberikan tanda berupa uang.

Namun ada kalanya saat kita akan menciptakan sesuatu yg bermanfaat bagi orang lain, ada perasaan minder.

Misalnya saya ingin membuat buku. Saya tahu bahwa buku bisa menjadi sebuah hal yg bermanfaat buat ornag lain. Akan tetapi begitu mau bergerak ada pikiran yg berkata, saya ini siapa? Kok berani2nya bikin buku dan ngajarin orang lain. Emangnya sudah sehebat apa sih saya?

Lalu hari ini, didalam sebuah kelas menulis saya bertanya kepada guru saya.

Mas, gimana mengatasi rasa minder?

Setengah tertawa beliau menjawab… Wah kalau Mas Awan yg nanya tentang rasa minder saya bingung jawabnya…

Gini aja deh, saya tanya ke peserta kelas yg lain. Selain Mas Awan…

Bapak ibu… Kalau ada mantan ketua TDA Bandung nulis buku tentang kewirausahaan ada yg mau beli ga?

Jawab peserta yg lain: Mauuu…

Mendengar jawaban itu pikiran minder saya kembali usil menjawab: ah ini kan gara2 temen2 sekelasnya orang2 baik aja, jadi jawabnya mau. Sekedar solidaritas buat mendukung rekan seperjuangan 😀

Sayapun kembali sibuk dengan pikiran minder saya.

Namun beberapa saat kemudian saya teringat oleh sebuah pertanyaan. Kalau rasa ini tidak pernah hilang, apa yg akan saya lakukan?

Misalkan saja seumur hidup saya mencari cara untuk mengatasi rasa minder saya. Tapi ternyata rasa itu akan terus ada, apa yg akan saya lakukan?

Apakah akan terus mengikutinya dan tidak berbuat apa2.

Ataukah saya akan mengambil langkah penciptaan meskipun rasa minder itu tetap membayangi ?

Jangan2 saya salahengartikan. Jangan2 rasa itu memang diperlukan. Sebuah cara agar saya terus mencari ilmu. Tetapi bukan untuk menghalangi saya untuk bergerak dan menciptakan kebermanfaatan.

Lalu di sesi refleksi hening, saya kembali mengingat suara yg muncul beberapa minggu yg lalu.

Suara itu menyeruak begitu saja dalam keheningan semilir angin…

Sampai kapan kamu akan terus merasa tidak punya kemampuan? Merasa tidak punya cukup pencapaian? Merasa tidak punya cukup keahlian dan pengalaman?

Sampai kapan kamu terus berlindung dalam perasaan2 itu sehingga kamu tidak mengambil tindakan apa2 ?

Sampai kapan kamu akan terus lari, menghabiskan waktumu dengan pengalihan2 yang menyenangkan sesaat yang menghabiskan waktumu?

Padahal banyak sekali orang2 yang butuh bantuan. Banyak sekali orang2 yg kondisinya dibawahmu, dan kamu bisa membagikan sesuatu untuk perbaikan hidup mereka. Tuhan bisa saja melahirkanmu sebagai pemulung. Sebagai orang yg di phk. Sebagai org yg frustrasi karena masalah uang. Tapi Tuhan menjadikan cerita hidupmu berbeda. Masak iya kamu mau egois sendirian?

Mendengar suara itu, saya teringat sebuah ucapan…Tuhan tak pernah menghukum orang yg tidak mampu. Tapi Tuhan pasti akan mempertanyakan orang yg tidak berusaha…

Tulisan ini, adalah untuk orang2 yg punya rasa minder. Anda tidak sendirian. Saya pun sama.

Ini bukan hanya tentang menulis buku. Tetapi semua hal yg kita inginkan dalam hidup tetapi tidak kunjung kita lakukan. Hanya karena ada perasaan minder membayanginya. Besar kemungkinan orang2 yg PD itu bukanlah yg tidak punya perasaan minder. Tetapi yg terus berusaha walaupun punya perasaan minder.

Tulisan ini untuk berbagi semangat. Yuk sama-sama terus bergerak dan berusaha. Di luar sana banyak orang2 yg kondisinya tidak seberuntung kita.

Mulailah mencipta, walau tak sempurna. Karena anugerah yang diberikan oleh Tuhan tak pernah salah alamat. Karena pengalaman yg Dia berikan tak pernah salah orang. Kita bisa memberi manfaat kepada orang lain yg kondisinya berbeda dengan kita. Dan uang, hanyalah sebuah tanda akibat manfaat yg kita berikan kepada orang lain.

Jangan lupa buat tersenyum sepanjang perjalanan dalam proses penciptaan yg penuh ketidak sempurnaan. Untuk tidak terlalu serius memandang kegagalan dan kesalahan. Agar kita bisa sadar menyerahka kesempurnaan sebagai hak milik Tuhan saja.

Salam,

Awan

Bersambung….

Kenapa saya menulis tentang uang?

Kenapa saya menulis tentang uang?

Saya menulis ini ditengah2 kondisi pandemi covid-19.
Covid-19 menyebabkan banyak sekali orang yang meninggal dunia. Yang meninggal tidak hanya yang berusia senior, tetapi yang muda2 juga banyak yang meninggal dunia.

Kematian tidak pernah pandang bulu, kalau sudah saatnya saya pun juga akan meninggal dunia. Tidak ada yang tahu kapan waktunya.

Oleh karena itu selagi masih diberikan umur, saya ingin meninggalkan sebuah catatan untuk anak saya. Anak saya ada 4 orang. Pasti nanti suatu saat mereka akan bertemu dengan yang namanya uang. Oleh dari itu saya ingin menuliskan sebuah catatan untuk mereka. Sehingga mereka punya mindset yang efektif terkait dengan uang.

Ada saat-saat di dalam hidup saya dimana saya mengalami kesulitan keuangan. Ini juga jadi catatan mengenai mindset2 yang saya temui sepanjang perjalanan saya berhubungan dengan uang.

Pastinya catatan ini tidak akan pernah selesai membahas topik ini. Ini hanyalah kontribusi kecil ditengah samudra ilmu kehidupan.

Semoga bermanfaat untuk anak2ku dan siapapun orang yang sedang kesulitan masalah uang. Sebenarnya masalah uang terletak di dua sisi. Yaitu sisi fisik dan sisi psikologis.

Pengalaman saya sendiri, sisi psikologis jauh lebih besar pengaruhnya dibanding sisi fisik.

Sisi fisik berkaitan dengan jumlah uang. Baik yang dipegang secara cash, di bank, atau dalam bentuk aset2. Sisi psikologis berkaitan dengan ketenangan dan kedamaian yang ada kaitannya dengan uang.

Tidak selalu jumlah yang sedikit membawa kesengsaraan. Tidak selalu juga jumlah yang banyak akan membawa kebahagiaan dan kedamaian. Inilah permainan dunia non materi dan dunia materi.

Yang saya temui ada orang-orang yang tidak memiliki lebih banyak dibanding saya, tetapi hidup lebih damai dan bahagia. Ada juga orang-orang yang memiliki lebih banyak dibanding saya tetapi memiliki kehidupan yang lebih kacau dan sengsara. Sehingga penting sekali memahami sisi emosional/psikologis dan juga sisi teknis berkaitan dengan uang.

(bersambung…)