Seri Happy Money Part 13: TBB, TPR & TCK

Seri Happy Money Part 13: TBB, TPR & TCK

Sebelumnya kita sudah membahas tentang tipe-tipe orang berdasarkan pola emosional nya berkaitan dengan uang. Kita sudah membahas tentang:
– Tipe Hemat Kebangetan (THK)
– Tipe Gatal Belanja (TGB)
– Tipe Gila Kerja (TGK)
– Tipe Gak Peduli (TGP)
– Tipe Peledak Tabungan (TPT)

Nah pada tulisan kali ini, kita akan membahas 3 tipe sisanya.

Yang pertama akan kita bahas adalah Tipe Benci Uang (TBU)

TBU ini tercipta karena sebuah pikiran bahwa uang itu adalah barang yang nista. Uang itu sumbel masalah. Uang itu akar dari segala kejahatan. Kepercayaan ini muncul biasanya dikarenakan ada kejadian2 di masa lalu yang menyebabkan masalah besar di keluarga yg ada kaitannya dengan uang.

Kejadian ini kemudian meninggalkan bekas hingga dewasa. Sehingga orang dengan tipe ini ingin hidupnya sesedikit mungkin berhubungan dengan uang.

Apakah anggapan ini benar? Ataukah hanya mewakili satu sisi dari berbagai sisi yang berkaitan dengan uang? Kita akan bahas nanti ya 🙂

Kita akan lanjut dulu membahas tipe yang berikutnya yaitu: Tipe Suka Bertaruh (TSB)

Orang dengan tipe ini mencari kebahagiaan dengan mengambil resiko2 berkaitan dengan uang. Mereka biasanya sangat suka janji2 manis untuk mendapatkan uang yang banyak dengan cara sesingkat-singkatnya.

Sehingga TSB ini gampang sekali tergoda dengan skema2 investasi, bisnis instan, bahkan ada juga yang menghabiskan waktu di tempat2 perjudian.

Mereka ini biasanya bisa kaya dengan cepat tapi juga jatuh miskin secara cepat juga. Proses, kesabaran dan konsistensi adalah dua hal yang membuat mereka alergi. Justru yang disukai adalah hal2 yang cepat dan instan, tanpa perlu proses.

Orang tipe ini sering terjebak oleh ponzi scheme, money game, skema piramida uang dll. Ketika mendapatkan hasil dari pengambilan resikonya dia akan berkoar-koar kemana2 untuk menunjukkan bahwa dia hebat dan pintar. Padahal mungkin itu cuman kebetulan saja sementara jurang kebangkrutan sedang menanti.

Ada sebuah penelitian di luar negeri yang menyatakan bahwa pemenang undian berhadiah biasanya ditemukan bangkrut 3–5 tahun kemudian. Berarti malah beberapa tahun kemudian kondisinya lebih miskin dibanding saat kondisi sebelum mereka menerima hadiah.

Bahkan ada pemenang lotere yang menyesal, berharap dia tidak pernah mendapatkannya. Hal ini dikarenakan sejak menang lotere mereka malah terjebak ke dalam kecanduan narkoba. Malah ada yang mengakibatkan kematian. https://www.cnbc.com/2017/08/25/heres-why-lottery-winners-go-broke.html

Hal ini membuktikan bahwa jika kemampuan pengelolaan uangnya belum memadai, semakin banyak uang bukanlah sebuah kebaikan. Malah justru memperbesar semua kelakuan2 jeleknya.

A fool with money will soon departed. Leaving a fool with misery and desperation.

Tipe terakhir yang akan kita bahas adalah : Tipe Cemas dan Khawatir (TCK).

Tipe ini selalu cemas tentang uang. Jika dia punya uang banyak, dia cemas nanti akan hilang. Jika punya uang sedikit, dia khawatir uang itu tidak cukup untuk kebutuhannya.

Jauh di alam bawah sadarnya, Tipe Cemas dan Khawatir ini tidak mempercayai proses kehidupan. Dia akan selalu khawatir dengan masa depan seolah-olah masa depan pasti penuh dengan masalah.

Perumpamaan TCK ini adalah seperti orang yang membayar bunga atas hutang/pinjaman yang belum dia ambil. Rugi dua kali kan? Uang pinjamannya belum sampai ditangan, tetapi bunganya sudah dibayar dari sekarang.

Masa depan belum tentu terjadi. Masak kekhawatirannya harus dirasakan dari sekarang?

Nah itulah tipe-tipe manusia berdasarkan pola emosionalnya terhadap uang. Sampai dengan saat ini berarti kita sudah membahas tentang :
– Tipe Hemat Kebangetan (THK)
– Tipe Gatal Belanja (TGB)
– Tipe Gila Kerja (TGK)
– Tipe Gak Peduli (TGP)
– Tipe Peledak Tabungan (TPT)
– Tipe Benci Uang (TBU)
– Tipe Suka Bertaruh (TSB)
– Tipe Cemas dan Khawatir (TCK)

Dari semua tipe ini, apakah kita bisa mengenali orang2 yang ada di sekitar kita?

Biasanya orang-orang dengan tipe yg sama berkumpul dan saling mempengaruhi satu sama lain. Jadi jika kita bisa mengidentifikasi orang-orang dengan tipe tertentu maka kita akan bisa berefleksi, kira2 saya masuk tipe yg mana ya?

Mengetahui pola emosional seperti apa yang dominan dalam hidup kita akan mempermudah proses perbaikan yg bisa kita terapkan dalam hidup kita.

Di tulisan2 selanjutnya akan kita bahas lebih lanjut ya… jangan lupa untuk tersenyum dan bahagia 🙂

Salam,
Awan

(bersambung…)

Tipe Peledak Tabungan

TIPE PELEDAK TABUNGAN
(Serial Happy Money Part 12)

Tipe Peledak Tabungan ini sebenarnya adalah gabungan dari dua THK (Tipe Hemat Kebangetan) dan TGB (Tipe Gila Belanja)

Pola emosional dalam hubungannya dengan uang adalah dia akan berhemat dan menabung… hingga pada suatu titik ada sebuah trigger dimana dia perlu membelanjakan uang itu semuanya.

Tipe Peledak Tabungan ini selalu mengalami siklus itu. Sehingga dia tidak akan pernah punya tabungan untuk emergency.

Tabungannya selalu meledak untuk sebuah barang yang nilainya besar. Kalaupun bukan untuk belanja, ada situasi hidup yg mengakibatkan dia kehilangan uang yang dia tabung. Hal ini terjadi berulang-ulang dalam pola yang hanya bisa disadari dengan refleksi.

Biasanya TPT ini punya alam bawah sadar yang merasa bahwa dia tidak merasa pantas memiliki uang sebesar itu. Sehingga harus dihabiskan.

Ada juga yang memiliki keyakinan bahwa dia selama ini sudah menderita dalam menabung dan berhemat. Wajar sekali kalau sekarang saatnya menikmati uang tersebut.

Sayangnya semahal dan sebagus apapun barang yang dia beli, dia tidak akan pernah bisa puas. Bahkan seringkali TPT ini merasa menyesal setelah membelinya. Yang kemudian membawa dia untuk bekerja lebih keras, menabung dan berhemat lebih ketat, untuk kemudian merasa menderita dan berhak untuk menikmati uang itu, lalu meledakkan tabungannya kembali.

Bahkan barang2 yang dia beli sebenarnya tidak sepenting itu untuk digunakan. Barang2 yang sudah dibeli malah seringkali hanya sebentar untuk digunakan untuk kemudian terongok begitu saja. Contohnya seperti sepatu lari mahal yang tidak pernah dipakai untuk berlari. Sepeda terbaru yang hanya dipakai beberapa kali saja, dan contoh2 lainnya.

Karena sebenarnya TPT ini bukan membeli karena kebutuhan, tetapi membeli karena pola emosional nya sendiri bahwa dia harus membelanjakan uang yang sudah dia tabung.

Mungkin ada teman/keluarga yang Anda kenali sebagai Tipe Peledak Tabungan?

(bersambung ke bagian 13…)

Tipe Gak Peduli

TIPE GAK PEDULI
(Seri Happy Money Part 11)

Ini adalah tipe ke empat yang kita bahas dalam kategori pola-pola emosional seseorang dalam hubungannya dengan uang.

Sebelumnya kita sudah membahas THK, TGB, dan TGK. Jika Anda belum membacanya bisa ditengok di t.me/awansg

Untuk tipe TGP ini, biasanya didominasi oleh orang-orang dari kelas menengah. Mereka gampang ditemukan pada profesi guru, PNS, professor, artis, seniman, peneliti, dll.

TGP menjalani hidup seolah2 uang bukanlah faktor yang penting. Mereka sering membawa makan siangnya atau kebutuhan2 lainnya sendiri, tanpa harus membelinya di toko. Orang tipe TGP ini jarang membawa dompet ataupun kartu ATM. Bahkan mereka bisa kehilangan dompet dan baru sadar berhari-hari kemudian.

Hidupnya ringan tanpa beban atau pikiran terkait finansial. Biasanya mereka punya partner yang menangani hal-hal yang berkaitan dengan keuangan mereka. Bisa pasangan, bisa orang tua, bisa juga anak.

Mereka biasanya menghasilkan lebih banyak dari yang mereka butuhkan. Oleh karena itu mereka bisa hidup dengan santai.

TGP ini secara umum hidup dengan bahagia. Sampai suatu kondisi dalam kehidupan mengganggu alur yang tenang itu.

Orang dengan Tipe Gak Peduli ini akan sangat kebingungan jika ditinggalkan oleh partner yang biasanya mengurus keuangannya. Bisa karena meninggal dunia, atau karena sebab lain.

Jika itu terjadi maka dia akan kehilangan semua informasi kunci berkaitan dengan finansialnya. Seringkali akan menghadapi banyak permasalahan finansial karena ketidak tahuannya.

TGP juga akan mengalami goncangan yang besar jika sesuatu terjadi dengan profesinya yang stabil. Umumnya TGP ini tidak pernah mempersiapkan apapun, sehingga jika tiba2 diberhentikan dari pekerjaannya, ataupun terjadi perubahan ekonomi maka akan sulit baginya untuk beradaptasi.

Kehidupan memang tidak akan seterusnya stabil, penuh dengan dinamika di dalamnya. TGP seringkali mendapatkan pelajaran tentang realita kehidupan tersebut dengan cara yang mengejutkan.

Mungkin ada kenal orang dengan pola emosional TGP ?

(bersambung ke bagian 12…)

Tipe Gila Kerja

TIPE GILA KERJA
(Seri Happy Money Part 10)

Pada tulisan kali ini kita akan membahas tipe yang ketiga yaitu Tipe Gila Kerja (TGK).

Dalam pola emosionalnya terhadap uang, TGK ini adalah tipe yang senang sekali menghasilkan uang.

Orang dengan tipe seperti ini menghabiskan waktu, tenaga dan pikirannya untuk mencari uang lebih banyak lagi.

Mereka tidak merasa bersalah jika mereka tidak punya waktu untuk keluarganya karena semua waktunya habis untuk bekerja. Tipe ini berpikir toh apa yang dia lakukan adalah untuk kebaikan keluarganya.

Disadari atau tidak, mereka sangat menyukai diketahui oleh orang lain dalam kesuksesan finansialnya. Bahkan sebenarnya tujuan mereka untuk mendapatkan uang lebih banyak lagi bukanlah untuk kebutuhan keluarganya, tetapi agar diketahui oleh orang lain bahwa mereka adalah orang yang sukses.
Karena sebenarnya kebutuhan keluarga dan dirinya punya batas cukup. Tetapi keinginan untuk disebut hebat dan sukses tidak pernah cukup.

Sayangnya jika pola emosional ini tidak disadari mereka akan terus mengejar uang dan kesuksesan untuk mendapatkan perhatian dari orang lain. Tidak perduli berapapun yang mereka dapatkan mereka akan terus bekerja dan mencari cara untuk menghasilkan lebih banyak uang dan kesuksesan lagi. Tanpa disadari bahwa mereka telah kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga…waktu bersama orang2 tercinta.

Apakah Anda kenal orang dengan pola emosional seperti ini?

(Bersambung ke bagian ke 11…)

Uang Waktu dan Ilmu

UANG, WAKTU DAN ILMU
(Seri Happy Money Part 9)

Pada tulisan sebelumnya kita sudah membahas tentang 2 tipe manusia berdasarkan pola emosionalnya terhadap uang.
Tipe yang sudah kita bahas adalah THK(Tipe Hemat Kebangetan) dan juga TGB(Tipe Gatal Belanja).
Selain itu pada postingan sebelumnya kita juga membahasa mengenai kemungkinan kondisi penyebab dari kejadian yg dialami di masa lalu. Jika Anda belum membacanya, Anda bisa baca di t.me/awansg

Sebelum saya melanjutkan pembahasan kepada tipe yang ketiga, saya ingin bercerita satu hal terlebih dahulu.

Pada suatu ketika saya berpartner dengan salah satu rekan saya untuk membuat bisnis.
Setelah berjalan beberapa saat, tampaknya bisnis harus kita hentikan karena hasilnya tidak sesuai dengan keinginan.
Alhamdulillah karena diawali dengan niat baik, silaturahim kami terus berjalan tanpa ada kendala.

Kemudian setelah beberapa saat partner saya bertanya: kok mereka bisa sukses ya? kok kita tidak bisa ya?
Beliau bertanya seperti itu karena model bisnis yg kita jalani belum berhasil mencapai kesuksesan seperti salah satu brand yang jadi referensi kita.

Ketika saya merefleksikan diri terhadap pertanyaan itu, saya terpikirkan mengenai 3 komponen:
1. Uang
2. Waktu
3. Ilmu

Kebanyakan orang mengejar uang dalam aktifitasnya. Entah itu beraktifitas sebagai pengusaha atau sebagai profesional.
Namun jika ditelaah lebih lanjut kita akan bisa lihat bahwa uang merupakan efek terhadap manfaat-manfaat yang kita berikan kepada orang lain. Kita memberikan manfaat kepada orang lain dengan cara memberikan waktu kita, atau membagikan ilmu kita. Begitulah alur bagaimana uang tercipta.

Misalkan dokter. Dia memberikan manfaat kesehatan kepada orang sakit. Sehingga orang mau memberikan uang kepadanya. Dalam hal ini
Dokter memberikan manfaat berkaitan dengan ilmu yg dia miliki dan waktu yang dia berikan dalam menangani pasien.

Contoh lain mengenai penciptaan uang adalah kegiatan memasak. Karena saya tidak punya waktu untuk memasak maka orang lain yang memasak, saya yang makan. Selanjutnya saya akan membayar waktu yang dihabiskan untuk memasak makanan itu kepada yang memasak.

Semakin tinggi ilmu memasaknya, maka kemungkinan besar akan semakin banyak uang yang saya keluarkan. Misalnya yang masak adalah chef di restoran hotel bintang lima. Dia punya ilmu memasak yang tinggi sehingga membuat makanan jadi lezat, dia juga punya ilmu menyajikan makanan sehingga tampak sangat menarik dan menggugah selera. Bahkan dia juga bisa mendesain ruangan makanan jadi nyaman dan eksklusif sehingga sehingga ketika saya membawa kolega saya makan di restoran hotel bintang lima tersebut status sosial saya jadi naik.

Saya pikir, jika mau diberikan skala prioritas. Maka yang paling besar pengaruhnya dalam penciptaan uang adalah: ilmu. Uang akan mendekat kepada orang yang berilmu. Karena dari ilmu tersebut maka dia akan bisa memberikan manfaat kepada orang lain.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana jika belum punya ilmu?

Jika belum punya ilmu, berarti harus mau membayar dengan waktu. Harus mau meluangkan waktu untuk belajar, praktek dan bereksperimen. Sehingga akhirnya bisa berilmu dan bisa memberikan manfaat bagi orang lain.

Salah satu pengalaman saya ketika saya tidak punya uang adalah memberikan waktu saya agar bisa bermanfaat bagi orang lain. Waktu itu saya baru menjalani operasi lutut dan oleh dokter diminta untuk istirahat di atas tempat tidur selama 6 bulan. Karena tidak bisa masuk kantor, maka saya mencari pekerjaan lewat internet. Saya memulai dengan pekerjaan yang modalnya cuman waktu, yaitu mensetup situs wordpress untuk orang lain. Pekerjaan yang sangat mudah bahkan banyak sekali tutorial nya di youtube. Saya pikir pasti di luar sana ada orang yang tidak punya waktu untuk melakukan instalasi wordpress. Atau waktunya lebih berharga mengerjakan sesuatu yang lain daripada mensetup website. Ternyata betul saya menemukan orang-orang yang mau membayar atas jasa tersebut. Uang yang saya terima saya pakai untuk kebutuhan hidup saya dan belajar hal2 baru. Sehingga kemudian saya bisa terus melayani klien yang berbeda2 dari ilmu yg saya pelajari. Waktu itu saya sempat melayani klien dari USA, France dan juga Switzerland.

Itu jika dari sudut pandang profesional.

Jika sudut pandangnya adalah pebisnis maka pebisnis perlu menyiapkan uang, waktu dan juga ilmu. Uang untuk modal bukan hanya untuk modal produksi tetapi juga modal operasional.

Operasional standar yang dibutuhkan oleh sebuah usaha mencakup bidang:
1. Marketing
2. Sales
3. HRD
4. Financial
5. Produksi
6. RnD

Memang ada bidang2 usaha yang tidak membutuhkan lengkap seperti di atas. Misalnya jika Anda membuka kantin di dalam kampus yang ramai oleh mahasiswa, maka mungkin Anda tidak perlu marketing dan sales.

Namun untuk bidang2 tertentu prioritas terhadap Marketing dan Sales adalah urat nadi dari bisnis. Karena bisnis tidak bisa berjalan, jika tidak ada penjualan.

Untuk terjadinya sebuah penjualan pemilik bisnis perlu mengalokasikan Uang, Waktu atau Ilmu. Kalau ilmunya tidak ada, berarti harus mau menyediakan waktu untuk belajar. Namun jika waktunya juga tidak ada, maka harus mau menyediakan uang tambahan untuk membayar orang yang punya waktu dan ilmu. Dalam kasus saya, salah satu bisnis tidak berjalan dengan baik karena saat itu kami hanya menyiapkan biaya produksi saja. Kami tidak punya ilmunya dan kami tidak punya waktu untuk mempelajari, mengengeksekusi atau bereskperimentasi. Kami juga tidak menyiapkan biaya untuk membayar orang yang punya waktu dan punya ilmu untuk bisa menjalankan bisnis tersebut.

Ada yang bilang bahwa kadang kita menang dan kadang kita mendapatkan pelajaran.

Bagi saya semua proses di atas baik dalam kacamata profesional maupun bisnis adalah pelajaran yang sangat berharga bagi saya.
Mudah2an tulisan ini juga memberikan manfaat bagi Anda berkaitan dengan penciptaan uang dalam kehidupan Anda.

Tentu saja karena keterbatasan waktu penulisan saya tidak membahas mengenai faktor keberuntungan maupun campur tangan Tuhan. Yang mana hal itu berperan sangat dominan dan berada di luar jangkauan manusia. Tugas kita adalah terus bergerak, berusaha, dan mengiringinya dengan doa…

Semoga sehat dan sejahtera selalu ya… jangan lupa untuk tersenyum dan bahagia 🙂

(bersambung ke part 10…)

Happy Money Tipe Gatal Belanja

Seri Happy Money Part 8: Tipe Gatal Belanja

Ada yang bilang bahwa orang biasa bisa jadi hebat karena satu hal: menghadapi kesulitan demi kesulitan… menghadapi kegagalan demi kegagalan… tanpa kehilangan semangat dan antusiasme.

Sesuatu yg hebat, memang banyak halangannya. Kesulitan, kegagalan, rintangan, kekecewaan, pertentangan dari orang2 terdekat, dlsb. Tetapi bagaimana tetap menjaga semangat dan antusiasme walaupun melewati hal-hal itulah yang menentukan kualitas pribadi seseorang.

Sama halnya seperti bahasan kita sekarang, tentang tipe-tipe manusia berdasarkan pola emosionalnya terhadap uang.

Bisa jadi setelah kita menyadari tipe seperti apa kita ini, maka kita akan menemui berbagai kegagalan dan kesulitan untuk bisa mengarahkan diri menjadi lebih baik. Tapi akankah kita terus berusaha? ataukah sekali mencoba, sekali gagal kemudian menyerah?

Di tulisan sebelumnya kita telah membahas tipe 1 yaitu THK (Tipe Hemat Kebangetan).
Kalau kamu belum baca tentang THK ini, kamu bisa join di t.me/awansg

Selanjutnya di tulisan kali ini kita akan membahas ke pola emosional tipe ke 2: Tipe Gatal Belanja (TGB).

TGB ini punya pola emosional yang sangat khas yaitu tidak bisa melihat uang nganggur. Sama seperti rasa gatal yang bikin tidak betah, bawaannya pengen digaruk aja. TGB ini juga sama… kalau punya uang, selalu langsung berpikir mau dibelikan barang apa.

Ketika pikirannya sedang santai, dia pasti teringat bahwa dia punya uang sekian, dan akan sangat nikmat jika dibelikan barang x.

Tipe Gatal Belanja ini kalau ngecek ke aplikasi hp nya maka bakal ditemukan banyak apps marketplace maupun apps order makanan. Bahkan biasanya notifikasi apps2 ini juga diaktifkan. Pokoknya jangan sampai kelewatan jika ada pengumuman penawaran khusus, voucher, diskon sehingga punya pembenaran untuk membeli sekarang. Mumpung lagi diskon.

Hobby jalan2nya seputar mall, foodcourt, pasar, trade center dlsb.

Walaupun sudah hidup ber puluh2 tahun, biasanya TGB ini tidak pernah punya tabungan. Alasannya, nabung kan buat beli barang, buat dinikmati. Atau…uangku habis buat makan. Padahal jika mau jujur, ketertarikan terhadap kepemilikan barang lebih besar daripada memiliki cadangan keuangan sebagai bahan di saat kehidupan sedang sulit.

Pola emosional Tipe Gatal Belanja ada yang dibentuk dari masa kecil di dalam keluarga yang sulit keuangan. Ketika mau beli sesuatu, orang tuanya sering bilang: kita tidak punya uang untuk membelinya. Kondisi kekurangan ini terbawa ketika dirinya dewasa. Sehingga sewaktu sudah punya uang hasil kerja dia sendiri, dia berpikir untuk menikmatinya. Dengan dalih, kan dulu waktu kecil mau beli apa-apa tidak bisa, sekarang saatnya aku menikmatinya.

Seringkali TGB ini terjebak oleh kesulitan keuangan. Karena tidak pernah punya tabungan, maka saat terjadi hal2 yang tidak terduga: sakit, kebutuhan kritis mendadak, maka dia terpaksa cari hutang. Hutang ini nanti akan melilit dirinya sendiri sehingga dia akan mencari hutang berikutnya. Gali lobang tutup lobang. Tanpa sadar lobang yang dia gali semakin dalam.

TGB biasanya akan mencari pasangan yang berkebalikan dengan dirinya. Karena TGB membutuhkan sumber daya yang tidak ada pada dirinya. Nanti pilihannya ada dua, apakah dia yang mendominasi pasangannya, atau pasangannya yang bisa mengarahkan dirinya. Kalau pasangannya yang di dominasi oleh TGB maka rumah tangga mereka akan dipenuhi dengan permasalahan keuangan. Tanpa dia sadari pasangannya akan dia bawa dalam kesulitan ekonomi. Karena dia tidak bisa menentukan prioritas membeli sesuatu dan tidak bisa membuat perencanaan kapan paling tepat membeli sesuatu. Tetapi jika TGB mau diarahkan oleh pasangannya dalam menentukan prioritas dan perencanaan pembelian maka biasanya kondisi finansial mereka akan lebih tahan terhadap dinamika kehidupan.

Bisa jadi dia belanja bukan untuk dirinya sendiri. Bisa jadi dia belanja untuk barang-barang pasangannya, atau untuk anaknya, atau untuk orang tuanya. Tetapi di sini dia tidak punya prioritas. Apa yang penting untuk dibeli sekarang. Apa yang butuh disabarkankan dulu… sekarang sudah cukup… nanti saja…

Tanpa skala prioritas dan tanpa perencanaan pembelian maka TGB akan sangat impulsif dalam membeli barang. Sehingga nanti diapun akan menghadapi kejutan-kejutan tidak mengenakkan dalam perjalanan kehidupannya. Karena tidak selamanya hidup berjalan mulus. Pasti nanti akan ada saat2 sulit datang.

Tipe Gatal Belanja tidak menyadari bahwa pembelian barang2 secara impulsif tidak akan pernah bisa memuaskan dahaganya. Ada yang bilang, kamu tidak akan pernah merasa cukup dalam mengkonsumsi apa yang tidak kamu butuhkan. Karena rasa cukup itu datangnya dari kesadaran atas apa yang dibutuhkan. Kalau mengkonsumsi yang tidak dibutuhkan ya bakal terus aja tidak akan pernah ada rem nya 🙂

Karena membeli barang-barang tidak pernah memuaskannya. Maka seringkali setelah membeli sesuatu dia akan kecewa. Kurang ini…kurang itu…Kemudian mencari barang yang lainnya. Kalaupun dia puas, maka kepuasan itu tidak akan bertahan lama. Begitu ada sesuatu yang baru, sesuatu yang lain, maka dia akan berusaha membelinya. Fokus TGB biasanya tertambat pada kesulitan hidupnya yang dikira akan bisa diselesaikan jika membeli barang. Fokus TGB biasanya pada apa yang dia tidak miliki, alih2 menciptakan waktu untuk mensyukuri apa yang dia miliki.

Walaupun kondisi masa kecil yang serba kekurangan akan mengarahkan seseorang menjadi TGB, tetapi saya pernah bertemu dengan orang yang dari keluarga kekurangan namun tidak menjadi TGB. Orang ini bahkan bisa mengapresiasi hal-hal kecil dan fokus terhadap pengalaman dari pada kepemilikan barang2. Dia cenderung menyukai aktifitas-aktifitas yang memberikan kesan dan kenangan, daripada membeli barang2. Jadi hal ini membuktikan bahwa bagaimanapun kondisi kita di masa kecil, kita akan tetap punya pilihan untuk menentukan ingin menjadi orang seperti apa.

Penting untuk menyadari pola emosional kita terhadap uang. Sehingga kita bisa mengambil pilihan apakah akan terus berada dalam pola emosional itu, atau memutuskan untuk menjadi seseorang yang berbeda dari sebelumnya.

Apakah kamu kenal orang yang masuk ke dalam pola emosional Tipe Gatal Belanja?

(bersambung…)

Seri Happy Money 7

Seri Happy Money 7

Menurut Ken Honda, hubungan seseorang terhadap uang menciptakan pola-pola tertentu. Berdasarkan pola-pola ini, dia membagi menjadi beberapa tipe.

Pada tulisan ini kita akan membahas tentang tipe yang pertama yaitu Tipe Hemat Kebangetan.

1. Tipe Hemat Kebangetan (THK)
Orang dengan tipe ini suka sekali berhemat dan menabung. Mereka percaya bahwa berhemat dan menabung adalah jalan terbaik untuk mendapatkan keamanan di dalam hidup. Ketika melihat tabungannya nambah, senangnya bukan main. Biasanya orangnya bergaya hidup sangat hemat. Suka pergi ke toko-toko yang memberikan diskon dan pengehematan dalam berbelanja. Ketika mau belanja juga riset detail banget untuk mendapatkan harga paling murah.

Namun tipe ini jika keterusan malah menjadikan kemewahan dan kenyamanan sebagai musuh abadi.

Bahkan ada rasa bersalah yang terasa di hati mereka ketika mereka menikmati uang yang mereka kumpulkan. Akhirnya mereka menabung dan berhemat lagi.

Mereka lupa bahwa tujuan berhemat dan menabung adalah untuk dinikmati di kemudian hari, bukan untuk terus2an hidup seperti itu selamanya.

Biasanya tipe ini punya trauma masa lalu terutama saat mereka kecil. Seringkali mereka tumbuh di rumah yang sangat sulit kehidupan ekonominya. Ada juga yang mengalami kebangkrutan orang tuanya. Bahkan kebangkrutan kakek/neneknya di masa lalu juga bisa mentransfer rasa takut kepada generasi-generasi selanjutnya jika tidak disadari. Menjadikan rasa takut kekurangan uang menemani hari-hari mereka. Seringkali tipe ini tidak menyadarinya. Mereka menganggap bahwa alasan mereka menabung dan berhemat terus menerus adalah sesuatu yang benar. Tanpa menyadari bahwa rasa takut menyelimuti hidup mereka dan mengontrol semua keputusan finansial mereka.

Tipe Hemat Kebangetan ini sebenarnya mempunyai sebuah kesempatan untuk menghadapi kecemasan atau ketakutan tentang uang. Jika mau menengok lebih dalam akan bisa menyadari kapan hal ini mulai ditanamkan.

Karena tidak peduli berapa banyak uang yang dihemat dan ditabung sesungguhnya jumlah itu tidak akan pernah bisa menghilangkan rasa takut kekurangan uang.

Apakah kamu kenal orang yg masuk ke dalam Tipe Hemat Kebangetan ini?

(bersambung…)

Uang, Kepemilikan & Kenangan

Seri Happy Money (Part 6)

Uang, Kepemilikan dan Kenangan

Ada banyak pembahasan mengenai bagaimana mendapatkan lebih banyak uang.
Tapi belum banyak pembahasan mengenai bagaimana kita menggunakan uang yang dimiliki agar mendapatkan kebahagiaan.

Mari kita perhatikan, bagaimana orang-orang menggunakan uangnya.

Ada tipe orang yang menggunakan uang untuk membeli barang-barang.
Coba dibedah…apakah barang2 itu dibutuhkan atau diinginkan?
Karena kebutuhan itu sedikit. Tetapi keinginan itu tidak ada batasnya.
Kebutuhan hidup itu murah.
Keinginan dan gaya hidup, itu yg bikin mahal.

Apalagi keinginan yang disebabkan oleh perbandingan.
Misal kita punya motor, umurnya sudah 5 tahun.
Lalu tetangga kita beli motor baru.
Kemudian muncul pikiran… wah, motorku sudah tua…saatnya ganti motor.
Padahal sebelum tetangga kita beli motor baru, tidak terpikirkan keinginan untuk ganti motor.
Masalahnya jika hal ini tidak disadari maka akan merembet kepada hal2 lain.

Lihat tetangga ganti motor, pengen motor baru.
Lihat teman punya hp terbaru, pengen juga.
Lihat selebgram pamer rumah, merasa rumah yg sekarang ditinggali jelek.

Keinginan yg seperti ini yang jika tidak disadari maka tidak akan ada batasnya.
Kemudian kita akan bekerja lebih keras, untuk mendapatkan uang lebih banyak.
Uang itu akan kita gunakan untuk bisa memiliki lebih banyak barang2, yg lebih baru, yg lebih canggih.
Setelah kita mendapatkan barang itu… eh…muncul barang lain yang lebih baru, lebih canggih, lebih hebat.
Untuk membelinya kita perlu lebih uang lebih banyak.
Sehingga kita bekerja lebih keras lagi.
Begitu seterusnya tanpa henti.

Ada yg bilang…kita sudah bahagia dengan apa yang kita miliki, sampai kita tahu ada barang lain yang kelihatannya lebih baik dari yg kita punya.

Namun ternyata ada yang lebih baik dari kepemilikan.
Yaitu pengalaman.
Sehingga ada ungkapan yang berkata: Don’t buy things, but buy experience.

Disadari atau tidak, hidup kita adalah kumpulan pengalaman dan memori.
Jika kita mempergunakan uang kita untuk hal2 yang bersifat pengalaman maka hidup kita akan kaya oleh memori.
Bahkan seringkali hal-hal yang bersifat pengalaman ini tidak butuh banyak uang untuk menikmatinya.
Ngobrol panjang dengan pasangan, jalan-jalan di alam, atau travelling ala backpacker dengan biaya yg murah meriah, dlsb.
Pengalaman dan memori seperti ini akan membuat kita tersenyum bahagia saat mengenangnya bertahun-tahun kemudian.

Jadi yuk kita coba refleksikan bersama-sama…
Selama ini, uang yg kita dapatkan, lebih banyak dipakai buat membeli barang2 ataukah dipakai buat mengalami hal2 baru yg memperkaya kenangan?

(bersambung…)

Seri Happy Money Part 5

Uang itu apa?
Apakah sesuatu yang berbentuk kertas dan koin yang dijadikan buat alat bayar itu?

Tapi di jaman sekarang, uang tidak cuman berbentuk uang dan kertas.
Ada saldo internet banking, gopay, ovo, paypal, bahkan cryptocurrency.

Uang kertas dan koin bisa hilang.
Begitupun uang yg ada di sistem digital.
Bisa saja terjadi kesalahan sistem dan apa yang kita miliki hilang.

Atau bisa jadi ada masalah dalam kehidupan kita, kemudian uang kita hilang.
Keluarga sakit, ada kebutuhan mendadak, renovasi rumah, dan lain sebagainya.

Jika uang adalah bagian dari permainan kehidupan…
Bagaimana perasaan kita saat ini berkaitan dengan permainan itu?
Apakah merasa kalah?
Apakah merasa kurang dan perlu mendapatkan lebih banyak lagi?
Apakah merasa menang?

Dan bagaimana mendefinisikan kemenangan dalam permainan yang berkaitan dengan uang?
Memiliki lebih banyak di catatan bank?
Memiliki lebih banyak properti?
Memiliki kendaraan yang lebih bagus?
Dibanding siapa?
Bukankah akan ada orang yg memiliki lebih dibanding apa yg kita miliki?

Wahei Takeda seorang billionaire dari Jepang berkata bahwa “There is no end in the money game”
Bahkan saat kita merasa memiliki cukup pun, sesuatu bisa terjadi dan kita kembali ke titik nol. Bahkan minus.
Dari pemahaman seperti itu, bisa kita simpulkan bahwa uang tidak bisa kita kontrol.
Karena apapun bisa terjadi.

Namun Ken Honda mengatakan bahwa kita masih bisa mengontrol satu hal: perasaan kita terhadap uang.
Bagaimana perasaan kita saat mendapatkan uang.
Bagaimana perasaan kita saat mengeluarkan uang.

Dan hal itu sangat berkaitan erat dengan “merasa sejahtera” dibanding dengan jumlah kepemilikan uang, property, emas atau cryptocurrency.

Orang yg super kaya bisa jadi tidak khawatir tentang uang yg mereka miliki sekarang. Tapi banyak orang kaya yang merasa khawatir kehilangan uangnya di masa depan.

Orang kelas menengah banyak yang merasa bahwa kebutuhannya (pendidikan, rumah, kesehatan, entertainment dll) selalu melebihi dari yang mereka dapatkan. Mereka juga merasa khawatir akankah mempunyai cukup untuk hidup di saat mereka tua nanti.

Orang kelas bawah banyak yg merasa stress dalam berjuang keras untuk sekedar memenuhi kebutuhan dasar. Mereka banyak yg tidak menyadari bahwa kalaupun mereka memiliki lebih banyak uang, stress akan tetap bisa terasa seperti kondisi2 di atas.

Ken Honda mewawancarai banyak orang sehingga menjumpai hal-hal di atas.
Namun dia juga menjumpai orang yang bisa tetap bahagia meskipun dia berada di dalam kelas yang sama seperti di atas.
Orang-orang bahagia itu memiliki hubungan dan pemaknaan yang sehat berkaitan dengan uang.
Jumlah uang yang mereka miliki tidak mendefinisikan diri mereka.

Mereka tidak merasa perlu bersaing dengan teman kantor, keluarga atau tetangga mereka. Mereka tidak khawatir tentang masa depan dan hal-hal yang tidak bisa dikontrol. Mereka tidak mempercayai adanya keterbatasan. Mereka tahu bahwa mereka akan selalu mempunyai cukup untuk kebutuhan saat mereka membutuhkannya. Uang tidak mengontrol mereka, sebaliknya mereka yang mengontrol uang.

Pertanyaan untuk diri saya sendiri…
Apakah hubungan saya dengan uang diwarnai dengan ketakutan dan kekhawatiran?
Takut tidak cukup…
Khawatir kekurangan…
Takut tidak punya…
Khawatir dihina…

Ataukah saya bisa mengubahnya menjadi kepercayaan dan keyakinan…

Percaya bahwa semua kebutuhan pasti akan dipenuhi.
Semua keperluan pasti akan dicukupkan…
Karena Dia Maha Tidak Terbatas…

Orang yg hidup dengan keyakinan seperti ini akan mengerjakan apa yang mereka nikmati dan menghasilkan uang yang cukup.
Bahkan mereka akan sering berkata “Saya sudah cukup, saya sudah mempunyai semua yang saya butuhkan”.
Untuk ukuran orang lain, mereka mungkin tidak dipandang kaya, tetapi mereka mempunyai semua yang mereka butuhkan.

Orang-orang ini menjadikan kepercayaan dan keyakinan menjadi pusat kehidupan mereka. Mereka nyaman secara finansial, sehingga mereka tidak merasa stress berkaitan dengan uang di kehidupan sehari-harinya.

Walaupun kadang ada kondisi saat mereka merasakan stress finansial, mereka mengatakan pada diri sendiri “Ini hal yang biasa terjadi, dan aku selalu bisa melewatinya.”

Untuk mencapai kondisi ini, kita bisa mulai dengan: melatih rasa syukur. Alih-alih berpikir bahwa apa yg dimiliki tidak pernah cukup, mulailah berpikir bahwa “Aku selalu memiliki apa yang aku butuhkan dan aku bersyukur atasnya. Aku bersyukur atas pekerjaan yang aku kerjakan, makanan yang disajikan, mobil yg dikendarai dan semua uang yang dihasilkan”

Apapun yg terjadi, kita selalu bisa berkata: Terima Kasih…
Karena sejatinya begitu banyak yang bisa kita syukuri di kondisi apapun dalam kehidupan.
Jauh lebih banyak daripada yang tidak kita miliki.

(bersambung)

Pemilihan Arus Uang

Seri Happy Money (Part 4)

PEMILIHAN ARUS UANG

Uang itu kita terima dan kita berikan.
Sehingga uang itu bisa kita bayangkan menjadi sebuah aliran.

Sama seperti sungai.
Di mana kita berdiri di tengah2 sungai.
Merasakan air yg datang kepada tubuh kita.
Juga merasakan air yg lewat menjauhi tubuh.

Begitu juga uang.
Uang kita dapatkan, kemudian kita berikan.
Uang juga mengalir melewati diri kita.

Jika yang mengalir melewati hidup kita adalah Uang Bahagia, maka hidup kita akan dipenuhi dengan kebahagiaan.
Sebaliknya jika yang mengalir adalah Uang yg tidak bahagia, maka hidup kita pun akan dipenuhi dengan ketidakbahagiaan.

Uang Bahagia dan Uang tidak bahagia tidak dipengaruhi dari jumlahnya.
Tetapi dipengaruhi dari energi yang mengiringi saat uang itu diberikan atau diterima.
Apakah jumlahnya sedikit atau banyak, maka aliran nya akan tetap sama.

Pilihannya ada pada diri kita masing2.
Apakah kita memilih untuk berada di dalam aliran Uang bahagia, atau berada di dalam aliran Uang tidak bahagia.
Namun kebanyakan orang tidak menyadari adanya aliran ini di dalam hidup mereka.
Padahal hal ini sangat mempengaruhi kehidupan mereka.

Coba perhatikan sebentar orang-orang di sekitar kita.
Teman-teman kita, saudara, orang tua, sekolah, tempat kerja dan lain2.
Apakah rata-rata mereka bekerja di kantor? Apakah mereka berbisnis? Apakah mereka terasa seperti kekurangan uang?
Biasanya kita sangat dipengaruhi oleh lingkungan di mana kita berada.

Bukan hanya orang miskin yang bisa memberikan energi negatif kepada uang sehingga menjadi Uang yg tidak bahagia.
Tetapi kelas menengah dan kelas atas pun bisa memberikan energi negatif tersebut.
Misalnya orang-orang kaya yang ketakutan akan kehilangan uang.
Orang kelas menengah yang selalu membeli apa yang dibeli oleh tetangganya.
Tetangga kita punya itu loh, keren ya…kapan ya kita bisa punya?
Kemudian muncul perasaan tertekan dan perasaan tidak beruntung sehingga kemudian membebani ketika bekerja.
Uang yang akan dihasilkan pun akan menjadi Uang yg tidak bahagia.

Tidak ada salahnya bertujuan untuk menjadi kaya.
Tetapi ada orang-orang yang mulai menyadari bahwa lebih banyak uang tidak akan menyelesaikan semua masalah mereka.
Orang-orang itu mulai menyadari bahwa tidak diperlukan banyak uang untuk mewujudkan hidup ideal mereka.
Mereka memahami bahwa dengan mengubah perilaku dan hubungan mereka dengan uang, mereka bisa menyembuhkan luka masa lalu berkaitan dengan uang.
Sehingga mereka bisa merasa sejahtera dan hidup bahagia terlepas dari berapa banyak yang mereka miliki.

(bersambung…)