Seri Happy Money Part 3

Seri Happy Money (Part 3)

Uang yang bahagia dan Uang yang tidak bahagia.

Ada dua jenis uang: Uang yang bahagia dan Uang yang tidak bahagia.

Uang yang bahagia contohnya adalah uang yang digunakan oleh anak kecil untuk membeli hadiah ulang tahun ibunya. Contoh yang lain adalah ketika orang tua menabung sedikit-sedikit untuk membiayai anaknya kursus sepakbola. Karena tahu anaknya akan bahagia mengikuti kursus sepakbola tersebut. Banyak cara bagaimana uang bisa menjadi Uang yang bahagia:
– membantu keluarga yang sedang dalam kesulitan
– mengirimkan beberapa rupiah untuk bencana
– mengumpulkan uang dengan cara menjual makanan untuk dibagikan kepada orang-orang jalanan yang tidak punya rumah.
– investasi di dalam sebuah bisnis atau project yang akan membantu komunitas.
– menerima uang untuk jasa/layanan dari klien yang puas.

Semua uang yang diputarkan dengan cinta kasih, perhatian dan persahabatan adalah Uang yang bahagia. Uang yang bahagia membuat orang tersenyum dan merasa disayangi.

Uang ini adalah bentuk aktif dari cinta kasih. Sesuatu yang dapat dilihat, dirasakan dan disentuh.

Doa dan perhatian memang bisa membantu orang yang kesulitan. Namun uang juga bisa sangat membantu sehingga mereka bisa keluar dari kesulitan.

Sebaliknya Uang yang tidak bahagia adalah uang yang digunakan untuk membayar sewa, tagihan, pajak sambil mengomel/bersungut-sungut. Kita mengalami bentuk-bentuk lain dari Uang yang tidak bahagia:
– membayar atau menerima uang sebagai pertanggungan proses perceraian yang penuh dengan percekcokan.
– menerima gaji dari perusahaan untuk pekerjaan yang tidak disukai, tetapi tidak bisa ditinggalkan juga.
– membayar bunga tinggi kartu kredit dengan perasaan enggan
– menerima uang dari orang lain yang tidak rela membayarnya. “Saya kecewa dengan jasa anda, tapi saya akan bayar karena menghargai kontraknya”
– uang yang dicuri dari siapapun, terutama yang menimbulkan kesedihan dari kehilangan pemiliknya.

Uang yang diputarkan diiringi rasa frustrasi, marah, sedih, kecewa adalah Uang yang tidak bahagia. Uang dengan tipe ini membuat orang stess, putus asa, depresi, kecewa bahkan sering kali menjadi kejam. Uang tipe ini mengambil harga diri, rasa hormat dan kelembutan dari hati orang-orang yg mengambil dan menerimanya. Kapanpun kita menerima atau memberikan uang dengan diiringi energi negatif, uang itu akan menjadi Uang yang tidak bahagia.

(bersambung)

Uang Bahagia dan Uang tidak Bahagia

Ketika Ken memegang dompet yang dikembalikan oleh wanita itu, dia berpikir…

Wah beruntung sekali… semua uang yang aku dapatkan selama bertahun-tahun ini adalah dari orang-orang yang bahagia dan penuh rasa syukur.

Dia kemudian berpikir bagaimana dia menerima uang yang dimilikinya.

Dia menerimanya lewat pelayanan. Dia membantu orang lain menjadi sukses, sejahtera dan berdaya.

Dia membantu orang lain mendapatkan perasaan damai, bahagia dan juga syukur.

Dia membayangkan bagaimana orang sudah membayarnya lewat buku-buku dan juga training/seminar/workshop yang dia selenggarakan.

Kemudian dia berpikir tentang buku-bukunya dan bagaimana banyak orang sudah merubah hidup mereka sendiri.

Ada yang berganti pekerjaan, menikah, punya anak bahkan meninggalkan hubungan yang tidak sehat. Dia juga mendengar banyak dari pembaca bukunya yang memulai bisnis. Bahkan ada yang memulai dari nol kemudian menjadi perusahaan terbuka.

Ken merasa dia telah banyak membantu orang. Walaupun alat yang digunakan sebenarnya sudah ada di dalam diri mereka sendiri, untuk bisa menyembuhkan hidup dan hubungan mereka dengan uang.

Kemudian dia berpikir… tentu saja… uang akan menjadi bahagia jika diberikan oleh orang yang bahagia menerima produk/jasa yang kita ciptakan untuk mereka. Uang akan menjadi energi kebahagiaan.

Ken berdiri di sana beberapa detik untuk kemudian menyadari… Banyak sekali emosi yang terkandung di dalam uang yang beredar.

Ada orang yang beranggapan bahwa uang itu hanyalah kertas/logam. Tapi sebenarnya lebih dari itu. Uang membawa berbagai macam emosi di dalamnya.

Seperti saat kita merasa stress mendapatkan berbagai macam tagihan yang tidak ada habisnya, gaji kita yang kecil, ataupun kekurangan tabungan untuk masa depan. Seringkali di kondisi-kondisi seperti itu kita merasa lemah, tidak ada harapan dan suram. Bahkan merasa marah dan iri terhadap orang lain yang punya lebih dibanding kita. Banyak orang yang terjebak di dalam energi negatif ini. Bahkan tidak sedikit yang menganggap uang sebagai sebuah penghalang untuk mendapatkan hidup yang bahagia yang mereka inginkan.

Sangat sedikit dari kita yang bisa melihat potensi bahwa uang bisa membawa kebahagiaan, rasa syukur, suka cita. Terutama ketika kita memberikannya dengan penuh kasih kepada orang lain, yang kemudian akan kembali kepada diri kita dengan energi yang sama.

Begitu banyak uang yang ada di dunia yang menyebarkan kebahagiaan dan cinta kasih. Tapi juga begitu banyak yang menyebarkan kesedihan dan rasa takut.

Bersama-sama kita akan mencoba menjawab pertanyaan berikut:
– Bagaimana saya bisa berhubungan secara sehat dengan uang?
– Apakah saya bisa memiliki uang lebih banyak tanpa berkorban dengan sangat besar?
– Dapatkan saya mendapatkan kedamaian saat saya hidup?
– Apa yang bisa saya lakukan untuk menciptakan kehidupan yang bahagia, sejahtera, penuh dengan tujuan yang mulia?

(bersambung)

(silahkan klik t.me/awansg kalau ingin dikabarin untuk sambungan berikutnya)

Uang sebagai Alat vs Uang sebagai Tujuan

Sebelumnya saya berpikir bahwa tindakan saya adalah untuk mendapatkan uang. Uang adalah tujuan.

Namun kemudian setelah saya mendapatkan uang dan menggunakannya untuk apa yang saya inginkan saya jadi kebingungan sendiri. Karena kesenangan mendapatkan yang saya inginkan itu tidak bertahan lama.
Nantinya saya harus bekerja lagi untuk mendapatkan uang. Lalu uang itu saya pakai untuk hal2 yang menyenangkan. Kesenangannya sebentar juga hilang. Begitu terus berputar-putar seterusnya.

Saya merasa seperti tikus yang lari di tempat. Di dalam sebuah roda yang berputar. Mungkin istilah yang tepat adalah Rat-Race. Tikus yang berlomba-lomba tapi tidak kemana-mana. Di situ2 aja.

Ada kacamata yang lain. Uang adalah alat, bukan tujuan. Kalau alat, berarti perlu dipakai untuk mencapai tujuan tertentu. Karena hanya sebagai alat, maka jangan sampai dijadikan tujuan. Tujuannya lah yang perlu dicapai, alatnya mah bebas. Bahkan tidak harus pakai alat yang ada di pikiran.
Pakai alat yang lain juga bisa, asalkan tujuannya sama dan tercapai.

Misalkan ada orang yang pengen kaya, tujuannya nanti biar bisa santai nongkrong di sawah sambil pakai sarung dan ngerokok. Kalau tujuannya itu, ya ga usah harus kerja keras buat kaya. Sekarang juga bisa 🙂

Ada juga cerita tentang nelayan yang ketemu pengusaha dari kota besar. Ada pengusaha itu jalan2 di siang hari di pantai. Ketemu nelayan yang lagi santai2 juga di pantai.

Terus pengusaha ini bilang… Pak, jam segini sudah selesai?
Iya pak, saya kerja cuman 4 jam. Habis itu santai di pantai, main sama anak2, becanda2 sama istri.

Oh ya, memang kalau 4 jam dapat berapa pak?

Dapat 40 ribu.

Mau tidak pak, saya bantu.. Saya bikinkan proposal, nanti bapak presentasi di depan investor. Terus nanti bapak dapat uang, punya banyak kapal. Nanti bapak bisa dapat 100x lebih banyak dari sekarang.

Buat apa pak?

Biar bapak bisa santai di pantai, main sama anak2, jalan2 sama istri.

Nah sekarang kan saya udah bisa pak? 😀

Jadi penting sekali untuk tahu bahwa uang itu hanya alat, untuk mencapai tujuan. Kalau tidak nanti kebingungan. Alatnya sudah dapat, tujuannya tidak tahu buat apa…

Uang adalah alat. Uang hanya bisa menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan…uang… Selain masalah yg berkaitan dengan uang, ada banyak masalah dalam kehidupan ini… Karena masalah2 itu adalah cara Tuhan agar membuat kehidupan kita berkembang dan tidak monoton.

Money only can solve specific problem: Money Problem
Money problem is just one of many problems that exist in the world.

Uang VS Kesejahteraan

Ada sebuah sudut pandang yang menarik. Yaitu uang tidak sama dengan kesejahteraan.

Uang adalah alat untuk mencatat kesejahteraan yang kita berikan dalam hidup orang lain.

Kesejahteraan itu apa?
– Kenikmatan
– Manfaat
– Perubahan emosi
– Kemudahan
– Penghematan
– Kesehatan
– Naiknya status sosial
– Inovasi

Contoh dalam kenikmatan: Saya bisa masak seafood.
Maka kenikmatan makanan yang saya masak itu akan dicatat oleh uang. Uang itu akan diberikan oleh orang lain sebagai alat pencatat/pengukur kenikmatan masakan saya.

Semakin enak saya memasak, semakin besar uang yang diberikan kepada orang lain kepada saya. Kemudian misalkan saya mengubah warung sea food saya menjadi sebuah restoran. Tempatnya lebih nyaman, parkirannya lebih luas, interior nya instagrammable.

Maka orang-orang yang makan di restoran saya akan merasa gengsi yang tinggi. Bahkan bisa posting di instagram, kemudian mereka merasa status sosial nya naik. Maka semakin banyak pula uang yang diberikan kepada saya dari orang2 yang makan seafood di restauran saya.

Lanjut lagi… Restoran saya selain menyajikan makanan, tempat yang bergengsi juga menyajikan nonton film bersama di layar lebar. Di sana ditayangkan film-film yang menyajikan berbagai emosi. Sedih, Marah, Bahagia, dlsb.

Restoran saya selain menyajikan makanan yang enak, tempat yg bergengsi juga menyediakan tempat bagi orang-orang yang bosan. Agar mereka bisa merasakan berbagai emosi sehingga mereka tidak bosan.

Maka semakin banyak pula uang yang akan masuk kepada saya. Uang hanyalah sebuah pencatatan, bahwa saya bisa meningkatkan kesejahteraan orang lain.

Nah untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain ini butuh skill. Butuh keberanian. Butuh eksperimen. Butuh inovasi. Butuh sistem, dll. Orang-orang yang melakukannya akan mengalami peningkatan pendapatan.

Jadi fokusnya bukan untuk mencari uang. Tetapi mencari cara untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain. Fokus untuk memberi manfaat. Memberikan sesuatu yang berbeda, unik dan berharga.

Jika fokusnya ke sana, maka uang tidak perlu dicari. Uang tidak perlu dikejar2. Nanti malah uang bisa ditarik, bisa diciptakan dari usaha2 meningkatkan kesejahteraan orang lain.

Lalu selanjutnya, uang yang di dapat bukan dibelanjakan sepenuhnya untuk konsumtif. Karena konsumtif akan segera habis. Kesenangannya bersifat sementara. Tetapi akan digunakan untuk usaha meningkatkan kesejahteraan orang lain. Misal dengan membeli buku yg bisa memberikan pengetahuan yg bermanfaat untuk orang lain. Mengikuti training, skill, pelatihan sehingga bisa melakukan sesuatu yg bermanfaat untuk orang lain. Membuat produk atau jasa yang bisa bermanfaat buat orang lain. Fokusnya kepada orang lain, karena nanti orang lain yang akan mengukur. Seberapa besar manfaat yang sudah dia terima. Kemudian mereka memberikan uang kepada kita sebagai cara untuk mengukurnya.

Sebaliknya… ketika saya sedang dalam kondisi kekurangan uang. Itu berarti sebuah indikasi bisa jadi saya kurang memberikan manfaat bagi hidup orang lain.

Nah selanjutnya tidak semua manfaat diberikan nilai yg sama.

Misalkan mencabut rumput itu juga bermanfaat bagi orang lain. Tapi banyak orang yang bisa melakukannya.

Hukum ekonomi berlaku. Jika banyak orang yang bisa melakukannya, maka harga akan turun. Karena akan gampang mencari penggantinya. Tetapi jika kita bisa melakukan sesuatu yang orang lain tidak bisa melakukannya.
Maka kita akan dihargai lebih oleh orang lain.

Bagaimana melakukan sesuatu yang orang lain tidak bisa lakukan? Biasanya adalah dengan menggabungkan beberapa skill secara unik. Misal sebagai CS, punya skill untuk ramah dan empati terhadap customer. Digabungkan dengan skill riset market. Sehingga bisa tahu produk apa yang punya potensi untuk laku.

Contoh lain…mempunyai skill desain, banyak orang yang bisa. Tapi kemudian belajar skill story telling, branding, product creation. Perpaduan skill ini lebih sedikit yg bisa. Sehingga nanti akan lebih banyak manfaat yg diberikan kepada orang lain. Sehingga nanti akan lebih banyak uang yg tertarik kepada dia.

Contoh lain sebagai advertiser. Punya kemampuan sebagai leader, komunikasi, content creation. Ini akan menjadi perpaduan skill yg unik.
Kalau sudah punya skill unik seperti ini, maka uang akan datang. Uang akan tercipta. Uang akan tertarik. Karena uang akan mencatat berapa banyak manfaat yang sudah diberikan kepada orang lain. Seberapa besar kesejahteraan yang sudah dikontribusikan kepada hidup orang lain.
Ini adalah hukum yang berlaku di dunia.

Jadi uang itu efek samping. Efek samping dari kebermanfaatan yang kita berikan kepada orang lain. Kalau kita bisa bermanfaat, pasti orang akan memberikan imbalan. Cara memberikan manfaat salah satunya adalah perlu ilmu. Perlu skill. Untuk bisa mendapatkan ilmu dan skill perlu kemauan dan latihan dari diri kita sendiri. Masing-masing kita diberikan bakat dan ketertarikan. Jika itu diasah maka akan menjadi skill.

Irisan antara Ketertarikan (passion), Skill (keahlian) dan Market(apa yang dihargai oleh orang lain) akan menghasilkan uang mengalir ke dalam hidup kita