OLEH-OLEH DARI UK Part 1 – KOMERSIALISASI TEKNOLOGI

February 05, 2018
Awan Rimbawan

Para suhu dan rekan2-rekan seperjalanan…
Mohon ijin buat sharing cerita yang kebetulan baru saja saya alami.

Saat ini kita hidup di jaman yang penuh kesempatan.
Indonesia sedang getol2nya membantu para pengusaha muda untuk bisa maju.
Salah satunya lewat kemenristek dikti, pemerintah membuat program yang namanya Inkubator Bisnis Teknologi (IBT) dan Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT).
Setiap tahun program ini diadakan dan seleksinya antara bulan2 November/Desember.
Untuk yang tertarik mengikuti, silahkan browsing2 dengan kata kunci IBT kemenristek dikti untuk mengetahui proses seleksi selanjutnya.

Dari ribuan proposal yang masuk, tahun 2017 kemarin dipilih sekitar 500an yang akan mengikuti pembinaan selama 7 bulan.
Selanjutnya dari 500 itu ditawarkan siapa yang berminat untuk mengikuti training di Inggris.
Sewaktu angkatan saya, ada sekitar 100 yang berminat dan mengirimkan lamaran.
Dari 100 itu akan dipilih 25 peserta untuk presentasi di Embassy Inggris.
Kemudian dari 25 orang yang presentasi, akan dipilih 12 orang untuk berangkat training 2 minggu ke Inggris.
Kebetulan saya ada diantara 12 orang yg berangkat di awal tahun 2018 kemarin.

Training ini terselenggara dengan dukungan dana dari Newton Fund.
Nama programnya adalah Leadership Innovation Fellowship.
Yang mengadakan adalah Royal Academy of Engineering UK dengan dibantu oleh Oxentia.
Oxentia sendiri adalah perusahaan konsultan Oxford University yang fokus di bidang komersialisasi teknologi.

Apa itu komersialisasi teknologi?
Ini adalah tema besar yang diusung selama training 2 minggu di Inggris.

Komersialisasi teknologi adalah proses untuk mengkomersialisasikan hasil-hasil riset yang ada di universitas.
Jadi hasil-hasil riset itu tidak hanya berakhir dengan buku jilid yang berdebu di rak-rak perpustakaan.
Tetapi bisa menjadi produk komersial yang dinikmati oleh masyarakat luas.

Secara peradaban masyarakat diuntungkan karena kehidupan sehari2nya terbantu oleh teknologi ini.
Kemudian untuk universitas/peneliti, akan ada dana keuntungan yang bisa dipakai untuk meningkatkan kualitas pendidikan, mempermurah biaya perkuliahan, maupun mendanai riset2 lanjutan.

Oxentia sebagai perusahaan yang melakukan komersialisasi teknologi dari Oxford University mempunyai track record yang sangat baik.
Tahun 2016 kemarin mereka mampu membukukan Revenue 22,2 juta Poundsterling (sekitar 422 milyar rupiah), menciptakan 21 perusahaan baru, dan mempatenkan sebanyak 2873.

Penciptaan perusahaan baru dan paten merupakan 2 cara untuk mengkomersialisasikan teknologi.

Ini adalah model bisnis yang menarik, karena kita sebagai orang yang berkecimpung di dunia bisnis mengetahui bahwa USP adalah salah satu kunci penting kesuksesan bisnis.
Unique Sales Proposition (USP) yang kuat merupakan pembeda produk kita dengan produk sejenis di pasaran.
Tanpa adanya USP maka usaha kita akan menghasilkan produk yang sama2 saja.
Efeknya akan susah sekali untuk mendongkrak sales karena pelanggan tidak merasa penting untuk berpindah ke brand baru.

Nah ternyata USP ini bisa dihasilkan dari hasil riset yang dilakukan oleh universitas.
Inovasi dan teknologi hasil riset ini memungkinkan untuk mendapatkan margin gila2an.
Salah satu peneliti yang saya ajak ngobrol di program itu membocorkan tentang hpp dan harga jual.
Dia jual sebuah zat dengan harga 20-30x dari hpp.
Ada yang beli?
Ada dong… karena dengan inovasi yg dia kerjakan, maka harga jualnya bisa dibandrol lebih murah dengan zat sejenis yg ada di pasaran dan kualitas yg sama.

Namun “duit gede”nya sebenarnya bukan dari jualan produk.
Tetapi dari model bisnis yg lain, yaitu jualan lisensi dan jualan perusahaan.

Hasil riset itu jika diubah menjadi lisensi, maka akan memungkinkan untuk dijual ke perusahaan lain.
Misal, rumus-rumus yang menghasilkan zat yg lebih murah dengan dengan kualitas yg lebih baik itu dijual ke perusahaan lain yg sudah memproduksi zat yg sama.
Maka tiap kali produk nya keluar bisa diminta royalti atas penggunaan rumus tersebut.

Rute yang lain, hasil riset itu dibuatkan perusahaan.
Istilah yang mereka gunakan adalah “spin-out”.
Spin out ini adalah perusahaan terpisah yang menggunakan hasil riset sebagai “core product” nya.
Perusahaan spin out ini, bisa jadi perusahaan publik (IPO) sehingga sahamnya bisa dimiliki banyak orang.
Atau rute yang lain adalah dijual ke perusahaan lain yg lebih besar.

Contoh kasusnya adalah hasil penelitian dari departemen zoology.
Zoology ini adalah cabang dari biology yg mempelajari tentang hewan-hewan.
Pada tahun 2000 beberapa peneliti di departemen tersebut, mempelajari tentang bagaimana hewan bergerak.
Penelitian nya dibuatkan sebuah software simulasi tentang pergerakan.

Hasil penelitian tersebut kemudian dibuatkan sebuah perusahaan spin-out bernama Natural Motion.
Awalnya Natural Motion memilih masuk ke industri game.
Dia membuat sebuah engine untuk memproduksi game.
Ditawarkan engine tersebut ke perusahaan2 pembuat game.
Namun tidak ada yang tertarik.
Lalu berubah membuat animasi2 film dan iklan.
Sayangnya belum menghasilkan revenue yg baik.

Banting setir, akhirnya membuat game sendiri.
Ternyata di sini boomingnya.
Salah satu game nya CSR Racing mendapatkan 180jt download.
Game berbayar yang sangat laris untuk iPhone.
Diikuti dengan game2 lain yang meledak di pasaran seperti Clumsy Ninja, My Horse dan Back Breaker.

Tahun 2014, Natural Motion dibeli oleh Zynga sebesar 527 juta US dollar.
47 juta pound dikembalikan ke Oxford University.
Bisa digunakan oleh universitas untuk membiayai riset2 yang lain, dana awal pembuatan spin out company yg lain, ataupun meningkatkan kualitas pendidikan di sana.

Jadi, buat temen2 yg bergelut di dunia usaha.
Mungkin ini momen yg baik untuk mulai bersilaturahmi ke universitas2.
Siapa tahu ada hasil2 riset di sana yang bisa jadi peluang.
Bisa untuk meluncurkan produk baru, menambah value dari existing product atau bahkan bikin perusahaan baru lagi.

Selama 2 minggu kemarin, kami diperkenalkan dengan berbagai materi mengenai komersialisasi teknologi.
Pesertanya bukan hanya dari Indonesia tetapi juga ada dari negara lain yaitu Thailand dan Filipina.
Materinya ada tentang Business Model, Presentation/pitching for investor, Finance for beginner, Mindfullness, Leadership, Intellectual Property, Product Design, Digital Marketing, Negotiation, dlsb.

Ada beberapa hal menarik di materi2 selama 2 minggu kemarin.
Mungkin jika ada rekan2 yang berminat, bisa saya sharingkan untuk tulisan-tulisan selanjutnya.

Biar tidak terlalu panjang, sementara saya sudahi dulu cerita kebetulan saya.
Mudah2an bermanfaat dan selamat berkarya untuk hari ini 🙂

Salam,
Awan

Facebook Comments