Uang dan Keyakinan

Di kondisi seperti ini, banyak sekali orang yang kesulitan masalah uang.

Ada yang pendapatannya terhenti karena di-PHK. Ada juga yang bisnisnya macet. Ada banyak istri yang tidak mendapat uang belanja karena suaminya terkena masalah keuangan.

Jika ada yang membaca tulisan ini, janganlah berputus asa.

Saya ingin menceritakan kisah Rhonda Byrne. Pada suatu titik dia ada di titik terendah kebangkrutan. Pusing tujuh keliling.

Sampai kemudian anaknya menghadiahkan sebuah buku kepadanya. Judul buku itu adalah The Science of Getting Rich. Buku terbitan lama, tahun 1910.

Buku itu kemudian menginspirasi Rhonda Byrne untuk membuat The Secret yang menjadi fenomena global dan diterbitkan ke banyak bahasa.

Tidak hanya Rhonda Byrne, banyak nama-nama besar terpengaruh oleh The Science of Getting Rich karangan Wallace D.Wattles ini. Jejak-jejak pemikiran Wallace bisa ditemukan pada karya-karya Napoleon Hill, Anthony Robbins, dan juga Robert Schuller.

Di buku itu Wallace menceritakan bahwa semua penciptaan dimulai dari pikiran. Semua barang yang ada di dunia ini, termasuk juga semua kondisi dalam hidup kita bisa kita ciptakan terlebih dahulu di dalam pikiran kita.

Pikiran itulah nanti yang akan berlanjut kepada niat. Niat kemudian akan menjadi tindakan. Tindakan kemudian akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan kemudian akan menciptakan peluang-peluang. Lalu terciptalah takdir.

Wallace juga mengajarkan bahwa kekayaan bisa didapatkan lewat kreatifitas, bukan lewat kompetisi. Karena dengan mengajarkan pikiran untuk kreatif maka itu artinya kita beralih dari pola pikir keterbatasan menjadi pola pikir keberlimpahan. Ketika sesuatu dibutuhkan, maka sesuatu itu bisa diciptakan atau didatangkan untuk memenuhi kebutuhan.

Apapun kondisi kita saat ini, bangunlah keyakinan diri bahwa kondisi pasti bisa dan pasti akan berubah. Lampaui apa yang tampak di permukaan. Karena Tuhan pasti punya hadiah terindah untuk orang-orang yang punya keyakinan dan mau berusaha untuk kreatif.

Salam,
Awan
(bersambung…)

Uang, Fase Butuh & Fase Kreasi

Ada beberapa fase orang dalam motivasinya mencari uang.

Yang pertama fase “butuh”. Butuh uang untuk membiayai hidupnya. Butuh uang untuk membayar keinginannya. Butuh uang untuk memenuhi sesuatu yang harus dipenuhi. Mungkin ada hutang atau mungkin keharusan2 yang lain.

Di dalam fase ini biasanya banyak emosi2 yang tidak mengenakkan. Perasaan khawatir, takut, cemas, tegang, was-was biasanya sangat dominan mewarnai hari2nya.

Fase “butuh” ini juga diwarnai oleh pola pikir kelangkaan. Peluang adalah hal yg langka. Uang susah dicari. Keuntungan sulit untuk didapatkan. Efeknya begitu mendapatkan uang pun jadinya dipegang erat2. Kalau lepas rasanya menyakitkan. Kalau harus membayar sesuatu rasanya tidak rela.

Fase “butuh” ini biasanya orang yg sedang berjuang keras. Masih survival.

Namun seringkali fase ini terus mendominasi walau sudah punya banyak.

Maka dari itu kita menjumpai orang kaya yang stress, penuh rasa kecemasan, was2 dan khawatir. Ini adalah contoh orang2 yang sudah sangat terbiasa dengan pola pikirannya sendiri. Sehingga walaupun kondisi finansialnya sudah berubah tetapi dia tidak bisa lepas dari pola pikir “butuh” tadi.

Ada fase yang lain selain fase “butuh”. Yaitu fase “kreasi”. Orang2 yg ada di dalam fase kreasi ini menjadikan pekerjaan sebagai ajang buat dirinya berkreasi. Menciptakan hal2 baru, cara2 baru, layanan2 baru.

Di fase kreasi, ada semangat mengeksplorasi. Semangat untuk belajar hal baru dan menciptakan diri yang baru. Kejutan, kegembiraan, kekaguman, perayaan sangat sering terjadi di dalam fase kreasi ini.

Bahkan untuk orang2 di fase kreasi ini, uang bukan lagi tujuan. Uang nantinya hanyalah sebuah alat untuk berkreasi, berkontribusi, untuk menciptakan dunia yang lebih baik daripada sebelumnya.

Kalau uangnya habis bagaimana? Orang2 di fase kreasi akan punya ketenangan bahwa jika sesuatu habis maka nanti akan tercipta dari sumber yang baru. Pasti akna ada gantinya. Karena Sang Maha Pencipta tidak akan tinggal diam melihat sesuatu yang dibutuhkan untuk menciptakan dunia yang lebih baik.

Saatnya kita sama2 ber refleksi. Saat ini kita ada di fase mana? Kemudian kalau boleh memilih kita ingin menuju ke fase yang mana?

Salam,

Awan

(bersambung…)

Uang dan Rasa Minder

Uang adalah efek samping.

Hasil dari manfaat yang kita berikan kepada orang lain.

Uang adalah tanda bukti. Bahwa sebelumnya saya telah memudahkan hidup orang lain. Kemudian orang tersebut memberikan tanda berupa uang.

Namun ada kalanya saat kita akan menciptakan sesuatu yg bermanfaat bagi orang lain, ada perasaan minder.

Misalnya saya ingin membuat buku. Saya tahu bahwa buku bisa menjadi sebuah hal yg bermanfaat buat ornag lain. Akan tetapi begitu mau bergerak ada pikiran yg berkata, saya ini siapa? Kok berani2nya bikin buku dan ngajarin orang lain. Emangnya sudah sehebat apa sih saya?

Lalu hari ini, didalam sebuah kelas menulis saya bertanya kepada guru saya.

Mas, gimana mengatasi rasa minder?

Setengah tertawa beliau menjawab… Wah kalau Mas Awan yg nanya tentang rasa minder saya bingung jawabnya…

Gini aja deh, saya tanya ke peserta kelas yg lain. Selain Mas Awan…

Bapak ibu… Kalau ada mantan ketua TDA Bandung nulis buku tentang kewirausahaan ada yg mau beli ga?

Jawab peserta yg lain: Mauuu…

Mendengar jawaban itu pikiran minder saya kembali usil menjawab: ah ini kan gara2 temen2 sekelasnya orang2 baik aja, jadi jawabnya mau. Sekedar solidaritas buat mendukung rekan seperjuangan 😀

Sayapun kembali sibuk dengan pikiran minder saya.

Namun beberapa saat kemudian saya teringat oleh sebuah pertanyaan. Kalau rasa ini tidak pernah hilang, apa yg akan saya lakukan?

Misalkan saja seumur hidup saya mencari cara untuk mengatasi rasa minder saya. Tapi ternyata rasa itu akan terus ada, apa yg akan saya lakukan?

Apakah akan terus mengikutinya dan tidak berbuat apa2.

Ataukah saya akan mengambil langkah penciptaan meskipun rasa minder itu tetap membayangi ?

Jangan2 saya salahengartikan. Jangan2 rasa itu memang diperlukan. Sebuah cara agar saya terus mencari ilmu. Tetapi bukan untuk menghalangi saya untuk bergerak dan menciptakan kebermanfaatan.

Lalu di sesi refleksi hening, saya kembali mengingat suara yg muncul beberapa minggu yg lalu.

Suara itu menyeruak begitu saja dalam keheningan semilir angin…

Sampai kapan kamu akan terus merasa tidak punya kemampuan? Merasa tidak punya cukup pencapaian? Merasa tidak punya cukup keahlian dan pengalaman?

Sampai kapan kamu terus berlindung dalam perasaan2 itu sehingga kamu tidak mengambil tindakan apa2 ?

Sampai kapan kamu akan terus lari, menghabiskan waktumu dengan pengalihan2 yang menyenangkan sesaat yang menghabiskan waktumu?

Padahal banyak sekali orang2 yang butuh bantuan. Banyak sekali orang2 yg kondisinya dibawahmu, dan kamu bisa membagikan sesuatu untuk perbaikan hidup mereka. Tuhan bisa saja melahirkanmu sebagai pemulung. Sebagai orang yg di phk. Sebagai org yg frustrasi karena masalah uang. Tapi Tuhan menjadikan cerita hidupmu berbeda. Masak iya kamu mau egois sendirian?

Mendengar suara itu, saya teringat sebuah ucapan…Tuhan tak pernah menghukum orang yg tidak mampu. Tapi Tuhan pasti akan mempertanyakan orang yg tidak berusaha…

Tulisan ini, adalah untuk orang2 yg punya rasa minder. Anda tidak sendirian. Saya pun sama.

Ini bukan hanya tentang menulis buku. Tetapi semua hal yg kita inginkan dalam hidup tetapi tidak kunjung kita lakukan. Hanya karena ada perasaan minder membayanginya. Besar kemungkinan orang2 yg PD itu bukanlah yg tidak punya perasaan minder. Tetapi yg terus berusaha walaupun punya perasaan minder.

Tulisan ini untuk berbagi semangat. Yuk sama-sama terus bergerak dan berusaha. Di luar sana banyak orang2 yg kondisinya tidak seberuntung kita.

Mulailah mencipta, walau tak sempurna. Karena anugerah yang diberikan oleh Tuhan tak pernah salah alamat. Karena pengalaman yg Dia berikan tak pernah salah orang. Kita bisa memberi manfaat kepada orang lain yg kondisinya berbeda dengan kita. Dan uang, hanyalah sebuah tanda akibat manfaat yg kita berikan kepada orang lain.

Jangan lupa buat tersenyum sepanjang perjalanan dalam proses penciptaan yg penuh ketidak sempurnaan. Untuk tidak terlalu serius memandang kegagalan dan kesalahan. Agar kita bisa sadar menyerahka kesempurnaan sebagai hak milik Tuhan saja.

Salam,

Awan

Bersambung….

Kenapa saya menulis tentang uang?

Kenapa saya menulis tentang uang?

Saya menulis ini ditengah2 kondisi pandemi covid-19.
Covid-19 menyebabkan banyak sekali orang yang meninggal dunia. Yang meninggal tidak hanya yang berusia senior, tetapi yang muda2 juga banyak yang meninggal dunia.

Kematian tidak pernah pandang bulu, kalau sudah saatnya saya pun juga akan meninggal dunia. Tidak ada yang tahu kapan waktunya.

Oleh karena itu selagi masih diberikan umur, saya ingin meninggalkan sebuah catatan untuk anak saya. Anak saya ada 4 orang. Pasti nanti suatu saat mereka akan bertemu dengan yang namanya uang. Oleh dari itu saya ingin menuliskan sebuah catatan untuk mereka. Sehingga mereka punya mindset yang efektif terkait dengan uang.

Ada saat-saat di dalam hidup saya dimana saya mengalami kesulitan keuangan. Ini juga jadi catatan mengenai mindset2 yang saya temui sepanjang perjalanan saya berhubungan dengan uang.

Pastinya catatan ini tidak akan pernah selesai membahas topik ini. Ini hanyalah kontribusi kecil ditengah samudra ilmu kehidupan.

Semoga bermanfaat untuk anak2ku dan siapapun orang yang sedang kesulitan masalah uang. Sebenarnya masalah uang terletak di dua sisi. Yaitu sisi fisik dan sisi psikologis.

Pengalaman saya sendiri, sisi psikologis jauh lebih besar pengaruhnya dibanding sisi fisik.

Sisi fisik berkaitan dengan jumlah uang. Baik yang dipegang secara cash, di bank, atau dalam bentuk aset2. Sisi psikologis berkaitan dengan ketenangan dan kedamaian yang ada kaitannya dengan uang.

Tidak selalu jumlah yang sedikit membawa kesengsaraan. Tidak selalu juga jumlah yang banyak akan membawa kebahagiaan dan kedamaian. Inilah permainan dunia non materi dan dunia materi.

Yang saya temui ada orang-orang yang tidak memiliki lebih banyak dibanding saya, tetapi hidup lebih damai dan bahagia. Ada juga orang-orang yang memiliki lebih banyak dibanding saya tetapi memiliki kehidupan yang lebih kacau dan sengsara. Sehingga penting sekali memahami sisi emosional/psikologis dan juga sisi teknis berkaitan dengan uang.

(bersambung…)

Seri Happy Money Part 13: TBB, TPR & TCK

Seri Happy Money Part 13: TBB, TPR & TCK

Sebelumnya kita sudah membahas tentang tipe-tipe orang berdasarkan pola emosional nya berkaitan dengan uang. Kita sudah membahas tentang:
– Tipe Hemat Kebangetan (THK)
– Tipe Gatal Belanja (TGB)
– Tipe Gila Kerja (TGK)
– Tipe Gak Peduli (TGP)
– Tipe Peledak Tabungan (TPT)

Nah pada tulisan kali ini, kita akan membahas 3 tipe sisanya.

Yang pertama akan kita bahas adalah Tipe Benci Uang (TBU)

TBU ini tercipta karena sebuah pikiran bahwa uang itu adalah barang yang nista. Uang itu sumbel masalah. Uang itu akar dari segala kejahatan. Kepercayaan ini muncul biasanya dikarenakan ada kejadian2 di masa lalu yang menyebabkan masalah besar di keluarga yg ada kaitannya dengan uang.

Kejadian ini kemudian meninggalkan bekas hingga dewasa. Sehingga orang dengan tipe ini ingin hidupnya sesedikit mungkin berhubungan dengan uang.

Apakah anggapan ini benar? Ataukah hanya mewakili satu sisi dari berbagai sisi yang berkaitan dengan uang? Kita akan bahas nanti ya 🙂

Kita akan lanjut dulu membahas tipe yang berikutnya yaitu: Tipe Suka Bertaruh (TSB)

Orang dengan tipe ini mencari kebahagiaan dengan mengambil resiko2 berkaitan dengan uang. Mereka biasanya sangat suka janji2 manis untuk mendapatkan uang yang banyak dengan cara sesingkat-singkatnya.

Sehingga TSB ini gampang sekali tergoda dengan skema2 investasi, bisnis instan, bahkan ada juga yang menghabiskan waktu di tempat2 perjudian.

Mereka ini biasanya bisa kaya dengan cepat tapi juga jatuh miskin secara cepat juga. Proses, kesabaran dan konsistensi adalah dua hal yang membuat mereka alergi. Justru yang disukai adalah hal2 yang cepat dan instan, tanpa perlu proses.

Orang tipe ini sering terjebak oleh ponzi scheme, money game, skema piramida uang dll. Ketika mendapatkan hasil dari pengambilan resikonya dia akan berkoar-koar kemana2 untuk menunjukkan bahwa dia hebat dan pintar. Padahal mungkin itu cuman kebetulan saja sementara jurang kebangkrutan sedang menanti.

Ada sebuah penelitian di luar negeri yang menyatakan bahwa pemenang undian berhadiah biasanya ditemukan bangkrut 3–5 tahun kemudian. Berarti malah beberapa tahun kemudian kondisinya lebih miskin dibanding saat kondisi sebelum mereka menerima hadiah.

Bahkan ada pemenang lotere yang menyesal, berharap dia tidak pernah mendapatkannya. Hal ini dikarenakan sejak menang lotere mereka malah terjebak ke dalam kecanduan narkoba. Malah ada yang mengakibatkan kematian. https://www.cnbc.com/2017/08/25/heres-why-lottery-winners-go-broke.html

Hal ini membuktikan bahwa jika kemampuan pengelolaan uangnya belum memadai, semakin banyak uang bukanlah sebuah kebaikan. Malah justru memperbesar semua kelakuan2 jeleknya.

A fool with money will soon departed. Leaving a fool with misery and desperation.

Tipe terakhir yang akan kita bahas adalah : Tipe Cemas dan Khawatir (TCK).

Tipe ini selalu cemas tentang uang. Jika dia punya uang banyak, dia cemas nanti akan hilang. Jika punya uang sedikit, dia khawatir uang itu tidak cukup untuk kebutuhannya.

Jauh di alam bawah sadarnya, Tipe Cemas dan Khawatir ini tidak mempercayai proses kehidupan. Dia akan selalu khawatir dengan masa depan seolah-olah masa depan pasti penuh dengan masalah.

Perumpamaan TCK ini adalah seperti orang yang membayar bunga atas hutang/pinjaman yang belum dia ambil. Rugi dua kali kan? Uang pinjamannya belum sampai ditangan, tetapi bunganya sudah dibayar dari sekarang.

Masa depan belum tentu terjadi. Masak kekhawatirannya harus dirasakan dari sekarang?

Nah itulah tipe-tipe manusia berdasarkan pola emosionalnya terhadap uang. Sampai dengan saat ini berarti kita sudah membahas tentang :
– Tipe Hemat Kebangetan (THK)
– Tipe Gatal Belanja (TGB)
– Tipe Gila Kerja (TGK)
– Tipe Gak Peduli (TGP)
– Tipe Peledak Tabungan (TPT)
– Tipe Benci Uang (TBU)
– Tipe Suka Bertaruh (TSB)
– Tipe Cemas dan Khawatir (TCK)

Dari semua tipe ini, apakah kita bisa mengenali orang2 yang ada di sekitar kita?

Biasanya orang-orang dengan tipe yg sama berkumpul dan saling mempengaruhi satu sama lain. Jadi jika kita bisa mengidentifikasi orang-orang dengan tipe tertentu maka kita akan bisa berefleksi, kira2 saya masuk tipe yg mana ya?

Mengetahui pola emosional seperti apa yang dominan dalam hidup kita akan mempermudah proses perbaikan yg bisa kita terapkan dalam hidup kita.

Di tulisan2 selanjutnya akan kita bahas lebih lanjut ya… jangan lupa untuk tersenyum dan bahagia 🙂

Salam,
Awan

(bersambung…)

Tipe Peledak Tabungan

TIPE PELEDAK TABUNGAN
(Serial Happy Money Part 12)

Tipe Peledak Tabungan ini sebenarnya adalah gabungan dari dua THK (Tipe Hemat Kebangetan) dan TGB (Tipe Gila Belanja)

Pola emosional dalam hubungannya dengan uang adalah dia akan berhemat dan menabung… hingga pada suatu titik ada sebuah trigger dimana dia perlu membelanjakan uang itu semuanya.

Tipe Peledak Tabungan ini selalu mengalami siklus itu. Sehingga dia tidak akan pernah punya tabungan untuk emergency.

Tabungannya selalu meledak untuk sebuah barang yang nilainya besar. Kalaupun bukan untuk belanja, ada situasi hidup yg mengakibatkan dia kehilangan uang yang dia tabung. Hal ini terjadi berulang-ulang dalam pola yang hanya bisa disadari dengan refleksi.

Biasanya TPT ini punya alam bawah sadar yang merasa bahwa dia tidak merasa pantas memiliki uang sebesar itu. Sehingga harus dihabiskan.

Ada juga yang memiliki keyakinan bahwa dia selama ini sudah menderita dalam menabung dan berhemat. Wajar sekali kalau sekarang saatnya menikmati uang tersebut.

Sayangnya semahal dan sebagus apapun barang yang dia beli, dia tidak akan pernah bisa puas. Bahkan seringkali TPT ini merasa menyesal setelah membelinya. Yang kemudian membawa dia untuk bekerja lebih keras, menabung dan berhemat lebih ketat, untuk kemudian merasa menderita dan berhak untuk menikmati uang itu, lalu meledakkan tabungannya kembali.

Bahkan barang2 yang dia beli sebenarnya tidak sepenting itu untuk digunakan. Barang2 yang sudah dibeli malah seringkali hanya sebentar untuk digunakan untuk kemudian terongok begitu saja. Contohnya seperti sepatu lari mahal yang tidak pernah dipakai untuk berlari. Sepeda terbaru yang hanya dipakai beberapa kali saja, dan contoh2 lainnya.

Karena sebenarnya TPT ini bukan membeli karena kebutuhan, tetapi membeli karena pola emosional nya sendiri bahwa dia harus membelanjakan uang yang sudah dia tabung.

Mungkin ada teman/keluarga yang Anda kenali sebagai Tipe Peledak Tabungan?

(bersambung ke bagian 13…)

Tipe Gak Peduli

TIPE GAK PEDULI
(Seri Happy Money Part 11)

Ini adalah tipe ke empat yang kita bahas dalam kategori pola-pola emosional seseorang dalam hubungannya dengan uang.

Sebelumnya kita sudah membahas THK, TGB, dan TGK. Jika Anda belum membacanya bisa ditengok di t.me/awansg

Untuk tipe TGP ini, biasanya didominasi oleh orang-orang dari kelas menengah. Mereka gampang ditemukan pada profesi guru, PNS, professor, artis, seniman, peneliti, dll.

TGP menjalani hidup seolah2 uang bukanlah faktor yang penting. Mereka sering membawa makan siangnya atau kebutuhan2 lainnya sendiri, tanpa harus membelinya di toko. Orang tipe TGP ini jarang membawa dompet ataupun kartu ATM. Bahkan mereka bisa kehilangan dompet dan baru sadar berhari-hari kemudian.

Hidupnya ringan tanpa beban atau pikiran terkait finansial. Biasanya mereka punya partner yang menangani hal-hal yang berkaitan dengan keuangan mereka. Bisa pasangan, bisa orang tua, bisa juga anak.

Mereka biasanya menghasilkan lebih banyak dari yang mereka butuhkan. Oleh karena itu mereka bisa hidup dengan santai.

TGP ini secara umum hidup dengan bahagia. Sampai suatu kondisi dalam kehidupan mengganggu alur yang tenang itu.

Orang dengan Tipe Gak Peduli ini akan sangat kebingungan jika ditinggalkan oleh partner yang biasanya mengurus keuangannya. Bisa karena meninggal dunia, atau karena sebab lain.

Jika itu terjadi maka dia akan kehilangan semua informasi kunci berkaitan dengan finansialnya. Seringkali akan menghadapi banyak permasalahan finansial karena ketidak tahuannya.

TGP juga akan mengalami goncangan yang besar jika sesuatu terjadi dengan profesinya yang stabil. Umumnya TGP ini tidak pernah mempersiapkan apapun, sehingga jika tiba2 diberhentikan dari pekerjaannya, ataupun terjadi perubahan ekonomi maka akan sulit baginya untuk beradaptasi.

Kehidupan memang tidak akan seterusnya stabil, penuh dengan dinamika di dalamnya. TGP seringkali mendapatkan pelajaran tentang realita kehidupan tersebut dengan cara yang mengejutkan.

Mungkin ada kenal orang dengan pola emosional TGP ?

(bersambung ke bagian 12…)

Tipe Gila Kerja

TIPE GILA KERJA
(Seri Happy Money Part 10)

Pada tulisan kali ini kita akan membahas tipe yang ketiga yaitu Tipe Gila Kerja (TGK).

Dalam pola emosionalnya terhadap uang, TGK ini adalah tipe yang senang sekali menghasilkan uang.

Orang dengan tipe seperti ini menghabiskan waktu, tenaga dan pikirannya untuk mencari uang lebih banyak lagi.

Mereka tidak merasa bersalah jika mereka tidak punya waktu untuk keluarganya karena semua waktunya habis untuk bekerja. Tipe ini berpikir toh apa yang dia lakukan adalah untuk kebaikan keluarganya.

Disadari atau tidak, mereka sangat menyukai diketahui oleh orang lain dalam kesuksesan finansialnya. Bahkan sebenarnya tujuan mereka untuk mendapatkan uang lebih banyak lagi bukanlah untuk kebutuhan keluarganya, tetapi agar diketahui oleh orang lain bahwa mereka adalah orang yang sukses.
Karena sebenarnya kebutuhan keluarga dan dirinya punya batas cukup. Tetapi keinginan untuk disebut hebat dan sukses tidak pernah cukup.

Sayangnya jika pola emosional ini tidak disadari mereka akan terus mengejar uang dan kesuksesan untuk mendapatkan perhatian dari orang lain. Tidak perduli berapapun yang mereka dapatkan mereka akan terus bekerja dan mencari cara untuk menghasilkan lebih banyak uang dan kesuksesan lagi. Tanpa disadari bahwa mereka telah kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga…waktu bersama orang2 tercinta.

Apakah Anda kenal orang dengan pola emosional seperti ini?

(Bersambung ke bagian ke 11…)

Uang Waktu dan Ilmu

UANG, WAKTU DAN ILMU
(Seri Happy Money Part 9)

Pada tulisan sebelumnya kita sudah membahas tentang 2 tipe manusia berdasarkan pola emosionalnya terhadap uang.
Tipe yang sudah kita bahas adalah THK(Tipe Hemat Kebangetan) dan juga TGB(Tipe Gatal Belanja).
Selain itu pada postingan sebelumnya kita juga membahasa mengenai kemungkinan kondisi penyebab dari kejadian yg dialami di masa lalu. Jika Anda belum membacanya, Anda bisa baca di t.me/awansg

Sebelum saya melanjutkan pembahasan kepada tipe yang ketiga, saya ingin bercerita satu hal terlebih dahulu.

Pada suatu ketika saya berpartner dengan salah satu rekan saya untuk membuat bisnis.
Setelah berjalan beberapa saat, tampaknya bisnis harus kita hentikan karena hasilnya tidak sesuai dengan keinginan.
Alhamdulillah karena diawali dengan niat baik, silaturahim kami terus berjalan tanpa ada kendala.

Kemudian setelah beberapa saat partner saya bertanya: kok mereka bisa sukses ya? kok kita tidak bisa ya?
Beliau bertanya seperti itu karena model bisnis yg kita jalani belum berhasil mencapai kesuksesan seperti salah satu brand yang jadi referensi kita.

Ketika saya merefleksikan diri terhadap pertanyaan itu, saya terpikirkan mengenai 3 komponen:
1. Uang
2. Waktu
3. Ilmu

Kebanyakan orang mengejar uang dalam aktifitasnya. Entah itu beraktifitas sebagai pengusaha atau sebagai profesional.
Namun jika ditelaah lebih lanjut kita akan bisa lihat bahwa uang merupakan efek terhadap manfaat-manfaat yang kita berikan kepada orang lain. Kita memberikan manfaat kepada orang lain dengan cara memberikan waktu kita, atau membagikan ilmu kita. Begitulah alur bagaimana uang tercipta.

Misalkan dokter. Dia memberikan manfaat kesehatan kepada orang sakit. Sehingga orang mau memberikan uang kepadanya. Dalam hal ini
Dokter memberikan manfaat berkaitan dengan ilmu yg dia miliki dan waktu yang dia berikan dalam menangani pasien.

Contoh lain mengenai penciptaan uang adalah kegiatan memasak. Karena saya tidak punya waktu untuk memasak maka orang lain yang memasak, saya yang makan. Selanjutnya saya akan membayar waktu yang dihabiskan untuk memasak makanan itu kepada yang memasak.

Semakin tinggi ilmu memasaknya, maka kemungkinan besar akan semakin banyak uang yang saya keluarkan. Misalnya yang masak adalah chef di restoran hotel bintang lima. Dia punya ilmu memasak yang tinggi sehingga membuat makanan jadi lezat, dia juga punya ilmu menyajikan makanan sehingga tampak sangat menarik dan menggugah selera. Bahkan dia juga bisa mendesain ruangan makanan jadi nyaman dan eksklusif sehingga sehingga ketika saya membawa kolega saya makan di restoran hotel bintang lima tersebut status sosial saya jadi naik.

Saya pikir, jika mau diberikan skala prioritas. Maka yang paling besar pengaruhnya dalam penciptaan uang adalah: ilmu. Uang akan mendekat kepada orang yang berilmu. Karena dari ilmu tersebut maka dia akan bisa memberikan manfaat kepada orang lain.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana jika belum punya ilmu?

Jika belum punya ilmu, berarti harus mau membayar dengan waktu. Harus mau meluangkan waktu untuk belajar, praktek dan bereksperimen. Sehingga akhirnya bisa berilmu dan bisa memberikan manfaat bagi orang lain.

Salah satu pengalaman saya ketika saya tidak punya uang adalah memberikan waktu saya agar bisa bermanfaat bagi orang lain. Waktu itu saya baru menjalani operasi lutut dan oleh dokter diminta untuk istirahat di atas tempat tidur selama 6 bulan. Karena tidak bisa masuk kantor, maka saya mencari pekerjaan lewat internet. Saya memulai dengan pekerjaan yang modalnya cuman waktu, yaitu mensetup situs wordpress untuk orang lain. Pekerjaan yang sangat mudah bahkan banyak sekali tutorial nya di youtube. Saya pikir pasti di luar sana ada orang yang tidak punya waktu untuk melakukan instalasi wordpress. Atau waktunya lebih berharga mengerjakan sesuatu yang lain daripada mensetup website. Ternyata betul saya menemukan orang-orang yang mau membayar atas jasa tersebut. Uang yang saya terima saya pakai untuk kebutuhan hidup saya dan belajar hal2 baru. Sehingga kemudian saya bisa terus melayani klien yang berbeda2 dari ilmu yg saya pelajari. Waktu itu saya sempat melayani klien dari USA, France dan juga Switzerland.

Itu jika dari sudut pandang profesional.

Jika sudut pandangnya adalah pebisnis maka pebisnis perlu menyiapkan uang, waktu dan juga ilmu. Uang untuk modal bukan hanya untuk modal produksi tetapi juga modal operasional.

Operasional standar yang dibutuhkan oleh sebuah usaha mencakup bidang:
1. Marketing
2. Sales
3. HRD
4. Financial
5. Produksi
6. RnD

Memang ada bidang2 usaha yang tidak membutuhkan lengkap seperti di atas. Misalnya jika Anda membuka kantin di dalam kampus yang ramai oleh mahasiswa, maka mungkin Anda tidak perlu marketing dan sales.

Namun untuk bidang2 tertentu prioritas terhadap Marketing dan Sales adalah urat nadi dari bisnis. Karena bisnis tidak bisa berjalan, jika tidak ada penjualan.

Untuk terjadinya sebuah penjualan pemilik bisnis perlu mengalokasikan Uang, Waktu atau Ilmu. Kalau ilmunya tidak ada, berarti harus mau menyediakan waktu untuk belajar. Namun jika waktunya juga tidak ada, maka harus mau menyediakan uang tambahan untuk membayar orang yang punya waktu dan ilmu. Dalam kasus saya, salah satu bisnis tidak berjalan dengan baik karena saat itu kami hanya menyiapkan biaya produksi saja. Kami tidak punya ilmunya dan kami tidak punya waktu untuk mempelajari, mengengeksekusi atau bereskperimentasi. Kami juga tidak menyiapkan biaya untuk membayar orang yang punya waktu dan punya ilmu untuk bisa menjalankan bisnis tersebut.

Ada yang bilang bahwa kadang kita menang dan kadang kita mendapatkan pelajaran.

Bagi saya semua proses di atas baik dalam kacamata profesional maupun bisnis adalah pelajaran yang sangat berharga bagi saya.
Mudah2an tulisan ini juga memberikan manfaat bagi Anda berkaitan dengan penciptaan uang dalam kehidupan Anda.

Tentu saja karena keterbatasan waktu penulisan saya tidak membahas mengenai faktor keberuntungan maupun campur tangan Tuhan. Yang mana hal itu berperan sangat dominan dan berada di luar jangkauan manusia. Tugas kita adalah terus bergerak, berusaha, dan mengiringinya dengan doa…

Semoga sehat dan sejahtera selalu ya… jangan lupa untuk tersenyum dan bahagia 🙂

(bersambung ke part 10…)

Happy Money Tipe Gatal Belanja

Seri Happy Money Part 8: Tipe Gatal Belanja

Ada yang bilang bahwa orang biasa bisa jadi hebat karena satu hal: menghadapi kesulitan demi kesulitan… menghadapi kegagalan demi kegagalan… tanpa kehilangan semangat dan antusiasme.

Sesuatu yg hebat, memang banyak halangannya. Kesulitan, kegagalan, rintangan, kekecewaan, pertentangan dari orang2 terdekat, dlsb. Tetapi bagaimana tetap menjaga semangat dan antusiasme walaupun melewati hal-hal itulah yang menentukan kualitas pribadi seseorang.

Sama halnya seperti bahasan kita sekarang, tentang tipe-tipe manusia berdasarkan pola emosionalnya terhadap uang.

Bisa jadi setelah kita menyadari tipe seperti apa kita ini, maka kita akan menemui berbagai kegagalan dan kesulitan untuk bisa mengarahkan diri menjadi lebih baik. Tapi akankah kita terus berusaha? ataukah sekali mencoba, sekali gagal kemudian menyerah?

Di tulisan sebelumnya kita telah membahas tipe 1 yaitu THK (Tipe Hemat Kebangetan).
Kalau kamu belum baca tentang THK ini, kamu bisa join di t.me/awansg

Selanjutnya di tulisan kali ini kita akan membahas ke pola emosional tipe ke 2: Tipe Gatal Belanja (TGB).

TGB ini punya pola emosional yang sangat khas yaitu tidak bisa melihat uang nganggur. Sama seperti rasa gatal yang bikin tidak betah, bawaannya pengen digaruk aja. TGB ini juga sama… kalau punya uang, selalu langsung berpikir mau dibelikan barang apa.

Ketika pikirannya sedang santai, dia pasti teringat bahwa dia punya uang sekian, dan akan sangat nikmat jika dibelikan barang x.

Tipe Gatal Belanja ini kalau ngecek ke aplikasi hp nya maka bakal ditemukan banyak apps marketplace maupun apps order makanan. Bahkan biasanya notifikasi apps2 ini juga diaktifkan. Pokoknya jangan sampai kelewatan jika ada pengumuman penawaran khusus, voucher, diskon sehingga punya pembenaran untuk membeli sekarang. Mumpung lagi diskon.

Hobby jalan2nya seputar mall, foodcourt, pasar, trade center dlsb.

Walaupun sudah hidup ber puluh2 tahun, biasanya TGB ini tidak pernah punya tabungan. Alasannya, nabung kan buat beli barang, buat dinikmati. Atau…uangku habis buat makan. Padahal jika mau jujur, ketertarikan terhadap kepemilikan barang lebih besar daripada memiliki cadangan keuangan sebagai bahan di saat kehidupan sedang sulit.

Pola emosional Tipe Gatal Belanja ada yang dibentuk dari masa kecil di dalam keluarga yang sulit keuangan. Ketika mau beli sesuatu, orang tuanya sering bilang: kita tidak punya uang untuk membelinya. Kondisi kekurangan ini terbawa ketika dirinya dewasa. Sehingga sewaktu sudah punya uang hasil kerja dia sendiri, dia berpikir untuk menikmatinya. Dengan dalih, kan dulu waktu kecil mau beli apa-apa tidak bisa, sekarang saatnya aku menikmatinya.

Seringkali TGB ini terjebak oleh kesulitan keuangan. Karena tidak pernah punya tabungan, maka saat terjadi hal2 yang tidak terduga: sakit, kebutuhan kritis mendadak, maka dia terpaksa cari hutang. Hutang ini nanti akan melilit dirinya sendiri sehingga dia akan mencari hutang berikutnya. Gali lobang tutup lobang. Tanpa sadar lobang yang dia gali semakin dalam.

TGB biasanya akan mencari pasangan yang berkebalikan dengan dirinya. Karena TGB membutuhkan sumber daya yang tidak ada pada dirinya. Nanti pilihannya ada dua, apakah dia yang mendominasi pasangannya, atau pasangannya yang bisa mengarahkan dirinya. Kalau pasangannya yang di dominasi oleh TGB maka rumah tangga mereka akan dipenuhi dengan permasalahan keuangan. Tanpa dia sadari pasangannya akan dia bawa dalam kesulitan ekonomi. Karena dia tidak bisa menentukan prioritas membeli sesuatu dan tidak bisa membuat perencanaan kapan paling tepat membeli sesuatu. Tetapi jika TGB mau diarahkan oleh pasangannya dalam menentukan prioritas dan perencanaan pembelian maka biasanya kondisi finansial mereka akan lebih tahan terhadap dinamika kehidupan.

Bisa jadi dia belanja bukan untuk dirinya sendiri. Bisa jadi dia belanja untuk barang-barang pasangannya, atau untuk anaknya, atau untuk orang tuanya. Tetapi di sini dia tidak punya prioritas. Apa yang penting untuk dibeli sekarang. Apa yang butuh disabarkankan dulu… sekarang sudah cukup… nanti saja…

Tanpa skala prioritas dan tanpa perencanaan pembelian maka TGB akan sangat impulsif dalam membeli barang. Sehingga nanti diapun akan menghadapi kejutan-kejutan tidak mengenakkan dalam perjalanan kehidupannya. Karena tidak selamanya hidup berjalan mulus. Pasti nanti akan ada saat2 sulit datang.

Tipe Gatal Belanja tidak menyadari bahwa pembelian barang2 secara impulsif tidak akan pernah bisa memuaskan dahaganya. Ada yang bilang, kamu tidak akan pernah merasa cukup dalam mengkonsumsi apa yang tidak kamu butuhkan. Karena rasa cukup itu datangnya dari kesadaran atas apa yang dibutuhkan. Kalau mengkonsumsi yang tidak dibutuhkan ya bakal terus aja tidak akan pernah ada rem nya 🙂

Karena membeli barang-barang tidak pernah memuaskannya. Maka seringkali setelah membeli sesuatu dia akan kecewa. Kurang ini…kurang itu…Kemudian mencari barang yang lainnya. Kalaupun dia puas, maka kepuasan itu tidak akan bertahan lama. Begitu ada sesuatu yang baru, sesuatu yang lain, maka dia akan berusaha membelinya. Fokus TGB biasanya tertambat pada kesulitan hidupnya yang dikira akan bisa diselesaikan jika membeli barang. Fokus TGB biasanya pada apa yang dia tidak miliki, alih2 menciptakan waktu untuk mensyukuri apa yang dia miliki.

Walaupun kondisi masa kecil yang serba kekurangan akan mengarahkan seseorang menjadi TGB, tetapi saya pernah bertemu dengan orang yang dari keluarga kekurangan namun tidak menjadi TGB. Orang ini bahkan bisa mengapresiasi hal-hal kecil dan fokus terhadap pengalaman dari pada kepemilikan barang2. Dia cenderung menyukai aktifitas-aktifitas yang memberikan kesan dan kenangan, daripada membeli barang2. Jadi hal ini membuktikan bahwa bagaimanapun kondisi kita di masa kecil, kita akan tetap punya pilihan untuk menentukan ingin menjadi orang seperti apa.

Penting untuk menyadari pola emosional kita terhadap uang. Sehingga kita bisa mengambil pilihan apakah akan terus berada dalam pola emosional itu, atau memutuskan untuk menjadi seseorang yang berbeda dari sebelumnya.

Apakah kamu kenal orang yang masuk ke dalam pola emosional Tipe Gatal Belanja?

(bersambung…)