Seri Happy Money 7

Seri Happy Money 7

Menurut Ken Honda, hubungan seseorang terhadap uang menciptakan pola-pola tertentu. Berdasarkan pola-pola ini, dia membagi menjadi beberapa tipe.

Pada tulisan ini kita akan membahas tentang tipe yang pertama yaitu Tipe Hemat Kebangetan.

1. Tipe Hemat Kebangetan (THK)
Orang dengan tipe ini suka sekali berhemat dan menabung. Mereka percaya bahwa berhemat dan menabung adalah jalan terbaik untuk mendapatkan keamanan di dalam hidup. Ketika melihat tabungannya nambah, senangnya bukan main. Biasanya orangnya bergaya hidup sangat hemat. Suka pergi ke toko-toko yang memberikan diskon dan pengehematan dalam berbelanja. Ketika mau belanja juga riset detail banget untuk mendapatkan harga paling murah.

Namun tipe ini jika keterusan malah menjadikan kemewahan dan kenyamanan sebagai musuh abadi.

Bahkan ada rasa bersalah yang terasa di hati mereka ketika mereka menikmati uang yang mereka kumpulkan. Akhirnya mereka menabung dan berhemat lagi.

Mereka lupa bahwa tujuan berhemat dan menabung adalah untuk dinikmati di kemudian hari, bukan untuk terus2an hidup seperti itu selamanya.

Biasanya tipe ini punya trauma masa lalu terutama saat mereka kecil. Seringkali mereka tumbuh di rumah yang sangat sulit kehidupan ekonominya. Ada juga yang mengalami kebangkrutan orang tuanya. Bahkan kebangkrutan kakek/neneknya di masa lalu juga bisa mentransfer rasa takut kepada generasi-generasi selanjutnya jika tidak disadari. Menjadikan rasa takut kekurangan uang menemani hari-hari mereka. Seringkali tipe ini tidak menyadarinya. Mereka menganggap bahwa alasan mereka menabung dan berhemat terus menerus adalah sesuatu yang benar. Tanpa menyadari bahwa rasa takut menyelimuti hidup mereka dan mengontrol semua keputusan finansial mereka.

Tipe Hemat Kebangetan ini sebenarnya mempunyai sebuah kesempatan untuk menghadapi kecemasan atau ketakutan tentang uang. Jika mau menengok lebih dalam akan bisa menyadari kapan hal ini mulai ditanamkan.

Karena tidak peduli berapa banyak uang yang dihemat dan ditabung sesungguhnya jumlah itu tidak akan pernah bisa menghilangkan rasa takut kekurangan uang.

Apakah kamu kenal orang yg masuk ke dalam Tipe Hemat Kebangetan ini?

(bersambung…)

Uang, Kepemilikan & Kenangan

Seri Happy Money (Part 6)

Uang, Kepemilikan dan Kenangan

Ada banyak pembahasan mengenai bagaimana mendapatkan lebih banyak uang.
Tapi belum banyak pembahasan mengenai bagaimana kita menggunakan uang yang dimiliki agar mendapatkan kebahagiaan.

Mari kita perhatikan, bagaimana orang-orang menggunakan uangnya.

Ada tipe orang yang menggunakan uang untuk membeli barang-barang.
Coba dibedah…apakah barang2 itu dibutuhkan atau diinginkan?
Karena kebutuhan itu sedikit. Tetapi keinginan itu tidak ada batasnya.
Kebutuhan hidup itu murah.
Keinginan dan gaya hidup, itu yg bikin mahal.

Apalagi keinginan yang disebabkan oleh perbandingan.
Misal kita punya motor, umurnya sudah 5 tahun.
Lalu tetangga kita beli motor baru.
Kemudian muncul pikiran… wah, motorku sudah tua…saatnya ganti motor.
Padahal sebelum tetangga kita beli motor baru, tidak terpikirkan keinginan untuk ganti motor.
Masalahnya jika hal ini tidak disadari maka akan merembet kepada hal2 lain.

Lihat tetangga ganti motor, pengen motor baru.
Lihat teman punya hp terbaru, pengen juga.
Lihat selebgram pamer rumah, merasa rumah yg sekarang ditinggali jelek.

Keinginan yg seperti ini yang jika tidak disadari maka tidak akan ada batasnya.
Kemudian kita akan bekerja lebih keras, untuk mendapatkan uang lebih banyak.
Uang itu akan kita gunakan untuk bisa memiliki lebih banyak barang2, yg lebih baru, yg lebih canggih.
Setelah kita mendapatkan barang itu… eh…muncul barang lain yang lebih baru, lebih canggih, lebih hebat.
Untuk membelinya kita perlu lebih uang lebih banyak.
Sehingga kita bekerja lebih keras lagi.
Begitu seterusnya tanpa henti.

Ada yg bilang…kita sudah bahagia dengan apa yang kita miliki, sampai kita tahu ada barang lain yang kelihatannya lebih baik dari yg kita punya.

Namun ternyata ada yang lebih baik dari kepemilikan.
Yaitu pengalaman.
Sehingga ada ungkapan yang berkata: Don’t buy things, but buy experience.

Disadari atau tidak, hidup kita adalah kumpulan pengalaman dan memori.
Jika kita mempergunakan uang kita untuk hal2 yang bersifat pengalaman maka hidup kita akan kaya oleh memori.
Bahkan seringkali hal-hal yang bersifat pengalaman ini tidak butuh banyak uang untuk menikmatinya.
Ngobrol panjang dengan pasangan, jalan-jalan di alam, atau travelling ala backpacker dengan biaya yg murah meriah, dlsb.
Pengalaman dan memori seperti ini akan membuat kita tersenyum bahagia saat mengenangnya bertahun-tahun kemudian.

Jadi yuk kita coba refleksikan bersama-sama…
Selama ini, uang yg kita dapatkan, lebih banyak dipakai buat membeli barang2 ataukah dipakai buat mengalami hal2 baru yg memperkaya kenangan?

(bersambung…)

Seri Happy Money Part 5

Uang itu apa?
Apakah sesuatu yang berbentuk kertas dan koin yang dijadikan buat alat bayar itu?

Tapi di jaman sekarang, uang tidak cuman berbentuk uang dan kertas.
Ada saldo internet banking, gopay, ovo, paypal, bahkan cryptocurrency.

Uang kertas dan koin bisa hilang.
Begitupun uang yg ada di sistem digital.
Bisa saja terjadi kesalahan sistem dan apa yang kita miliki hilang.

Atau bisa jadi ada masalah dalam kehidupan kita, kemudian uang kita hilang.
Keluarga sakit, ada kebutuhan mendadak, renovasi rumah, dan lain sebagainya.

Jika uang adalah bagian dari permainan kehidupan…
Bagaimana perasaan kita saat ini berkaitan dengan permainan itu?
Apakah merasa kalah?
Apakah merasa kurang dan perlu mendapatkan lebih banyak lagi?
Apakah merasa menang?

Dan bagaimana mendefinisikan kemenangan dalam permainan yang berkaitan dengan uang?
Memiliki lebih banyak di catatan bank?
Memiliki lebih banyak properti?
Memiliki kendaraan yang lebih bagus?
Dibanding siapa?
Bukankah akan ada orang yg memiliki lebih dibanding apa yg kita miliki?

Wahei Takeda seorang billionaire dari Jepang berkata bahwa “There is no end in the money game”
Bahkan saat kita merasa memiliki cukup pun, sesuatu bisa terjadi dan kita kembali ke titik nol. Bahkan minus.
Dari pemahaman seperti itu, bisa kita simpulkan bahwa uang tidak bisa kita kontrol.
Karena apapun bisa terjadi.

Namun Ken Honda mengatakan bahwa kita masih bisa mengontrol satu hal: perasaan kita terhadap uang.
Bagaimana perasaan kita saat mendapatkan uang.
Bagaimana perasaan kita saat mengeluarkan uang.

Dan hal itu sangat berkaitan erat dengan “merasa sejahtera” dibanding dengan jumlah kepemilikan uang, property, emas atau cryptocurrency.

Orang yg super kaya bisa jadi tidak khawatir tentang uang yg mereka miliki sekarang. Tapi banyak orang kaya yang merasa khawatir kehilangan uangnya di masa depan.

Orang kelas menengah banyak yang merasa bahwa kebutuhannya (pendidikan, rumah, kesehatan, entertainment dll) selalu melebihi dari yang mereka dapatkan. Mereka juga merasa khawatir akankah mempunyai cukup untuk hidup di saat mereka tua nanti.

Orang kelas bawah banyak yg merasa stress dalam berjuang keras untuk sekedar memenuhi kebutuhan dasar. Mereka banyak yg tidak menyadari bahwa kalaupun mereka memiliki lebih banyak uang, stress akan tetap bisa terasa seperti kondisi2 di atas.

Ken Honda mewawancarai banyak orang sehingga menjumpai hal-hal di atas.
Namun dia juga menjumpai orang yang bisa tetap bahagia meskipun dia berada di dalam kelas yang sama seperti di atas.
Orang-orang bahagia itu memiliki hubungan dan pemaknaan yang sehat berkaitan dengan uang.
Jumlah uang yang mereka miliki tidak mendefinisikan diri mereka.

Mereka tidak merasa perlu bersaing dengan teman kantor, keluarga atau tetangga mereka. Mereka tidak khawatir tentang masa depan dan hal-hal yang tidak bisa dikontrol. Mereka tidak mempercayai adanya keterbatasan. Mereka tahu bahwa mereka akan selalu mempunyai cukup untuk kebutuhan saat mereka membutuhkannya. Uang tidak mengontrol mereka, sebaliknya mereka yang mengontrol uang.

Pertanyaan untuk diri saya sendiri…
Apakah hubungan saya dengan uang diwarnai dengan ketakutan dan kekhawatiran?
Takut tidak cukup…
Khawatir kekurangan…
Takut tidak punya…
Khawatir dihina…

Ataukah saya bisa mengubahnya menjadi kepercayaan dan keyakinan…

Percaya bahwa semua kebutuhan pasti akan dipenuhi.
Semua keperluan pasti akan dicukupkan…
Karena Dia Maha Tidak Terbatas…

Orang yg hidup dengan keyakinan seperti ini akan mengerjakan apa yang mereka nikmati dan menghasilkan uang yang cukup.
Bahkan mereka akan sering berkata “Saya sudah cukup, saya sudah mempunyai semua yang saya butuhkan”.
Untuk ukuran orang lain, mereka mungkin tidak dipandang kaya, tetapi mereka mempunyai semua yang mereka butuhkan.

Orang-orang ini menjadikan kepercayaan dan keyakinan menjadi pusat kehidupan mereka. Mereka nyaman secara finansial, sehingga mereka tidak merasa stress berkaitan dengan uang di kehidupan sehari-harinya.

Walaupun kadang ada kondisi saat mereka merasakan stress finansial, mereka mengatakan pada diri sendiri “Ini hal yang biasa terjadi, dan aku selalu bisa melewatinya.”

Untuk mencapai kondisi ini, kita bisa mulai dengan: melatih rasa syukur. Alih-alih berpikir bahwa apa yg dimiliki tidak pernah cukup, mulailah berpikir bahwa “Aku selalu memiliki apa yang aku butuhkan dan aku bersyukur atasnya. Aku bersyukur atas pekerjaan yang aku kerjakan, makanan yang disajikan, mobil yg dikendarai dan semua uang yang dihasilkan”

Apapun yg terjadi, kita selalu bisa berkata: Terima Kasih…
Karena sejatinya begitu banyak yang bisa kita syukuri di kondisi apapun dalam kehidupan.
Jauh lebih banyak daripada yang tidak kita miliki.

(bersambung)

Pemilihan Arus Uang

Seri Happy Money (Part 4)

PEMILIHAN ARUS UANG

Uang itu kita terima dan kita berikan.
Sehingga uang itu bisa kita bayangkan menjadi sebuah aliran.

Sama seperti sungai.
Di mana kita berdiri di tengah2 sungai.
Merasakan air yg datang kepada tubuh kita.
Juga merasakan air yg lewat menjauhi tubuh.

Begitu juga uang.
Uang kita dapatkan, kemudian kita berikan.
Uang juga mengalir melewati diri kita.

Jika yang mengalir melewati hidup kita adalah Uang Bahagia, maka hidup kita akan dipenuhi dengan kebahagiaan.
Sebaliknya jika yang mengalir adalah Uang yg tidak bahagia, maka hidup kita pun akan dipenuhi dengan ketidakbahagiaan.

Uang Bahagia dan Uang tidak bahagia tidak dipengaruhi dari jumlahnya.
Tetapi dipengaruhi dari energi yang mengiringi saat uang itu diberikan atau diterima.
Apakah jumlahnya sedikit atau banyak, maka aliran nya akan tetap sama.

Pilihannya ada pada diri kita masing2.
Apakah kita memilih untuk berada di dalam aliran Uang bahagia, atau berada di dalam aliran Uang tidak bahagia.
Namun kebanyakan orang tidak menyadari adanya aliran ini di dalam hidup mereka.
Padahal hal ini sangat mempengaruhi kehidupan mereka.

Coba perhatikan sebentar orang-orang di sekitar kita.
Teman-teman kita, saudara, orang tua, sekolah, tempat kerja dan lain2.
Apakah rata-rata mereka bekerja di kantor? Apakah mereka berbisnis? Apakah mereka terasa seperti kekurangan uang?
Biasanya kita sangat dipengaruhi oleh lingkungan di mana kita berada.

Bukan hanya orang miskin yang bisa memberikan energi negatif kepada uang sehingga menjadi Uang yg tidak bahagia.
Tetapi kelas menengah dan kelas atas pun bisa memberikan energi negatif tersebut.
Misalnya orang-orang kaya yang ketakutan akan kehilangan uang.
Orang kelas menengah yang selalu membeli apa yang dibeli oleh tetangganya.
Tetangga kita punya itu loh, keren ya…kapan ya kita bisa punya?
Kemudian muncul perasaan tertekan dan perasaan tidak beruntung sehingga kemudian membebani ketika bekerja.
Uang yang akan dihasilkan pun akan menjadi Uang yg tidak bahagia.

Tidak ada salahnya bertujuan untuk menjadi kaya.
Tetapi ada orang-orang yang mulai menyadari bahwa lebih banyak uang tidak akan menyelesaikan semua masalah mereka.
Orang-orang itu mulai menyadari bahwa tidak diperlukan banyak uang untuk mewujudkan hidup ideal mereka.
Mereka memahami bahwa dengan mengubah perilaku dan hubungan mereka dengan uang, mereka bisa menyembuhkan luka masa lalu berkaitan dengan uang.
Sehingga mereka bisa merasa sejahtera dan hidup bahagia terlepas dari berapa banyak yang mereka miliki.

(bersambung…)

Seri Happy Money Part 3

Seri Happy Money (Part 3)

Uang yang bahagia dan Uang yang tidak bahagia.

Ada dua jenis uang: Uang yang bahagia dan Uang yang tidak bahagia.

Uang yang bahagia contohnya adalah uang yang digunakan oleh anak kecil untuk membeli hadiah ulang tahun ibunya. Contoh yang lain adalah ketika orang tua menabung sedikit-sedikit untuk membiayai anaknya kursus sepakbola. Karena tahu anaknya akan bahagia mengikuti kursus sepakbola tersebut. Banyak cara bagaimana uang bisa menjadi Uang yang bahagia:
– membantu keluarga yang sedang dalam kesulitan
– mengirimkan beberapa rupiah untuk bencana
– mengumpulkan uang dengan cara menjual makanan untuk dibagikan kepada orang-orang jalanan yang tidak punya rumah.
– investasi di dalam sebuah bisnis atau project yang akan membantu komunitas.
– menerima uang untuk jasa/layanan dari klien yang puas.

Semua uang yang diputarkan dengan cinta kasih, perhatian dan persahabatan adalah Uang yang bahagia. Uang yang bahagia membuat orang tersenyum dan merasa disayangi.

Uang ini adalah bentuk aktif dari cinta kasih. Sesuatu yang dapat dilihat, dirasakan dan disentuh.

Doa dan perhatian memang bisa membantu orang yang kesulitan. Namun uang juga bisa sangat membantu sehingga mereka bisa keluar dari kesulitan.

Sebaliknya Uang yang tidak bahagia adalah uang yang digunakan untuk membayar sewa, tagihan, pajak sambil mengomel/bersungut-sungut. Kita mengalami bentuk-bentuk lain dari Uang yang tidak bahagia:
– membayar atau menerima uang sebagai pertanggungan proses perceraian yang penuh dengan percekcokan.
– menerima gaji dari perusahaan untuk pekerjaan yang tidak disukai, tetapi tidak bisa ditinggalkan juga.
– membayar bunga tinggi kartu kredit dengan perasaan enggan
– menerima uang dari orang lain yang tidak rela membayarnya. “Saya kecewa dengan jasa anda, tapi saya akan bayar karena menghargai kontraknya”
– uang yang dicuri dari siapapun, terutama yang menimbulkan kesedihan dari kehilangan pemiliknya.

Uang yang diputarkan diiringi rasa frustrasi, marah, sedih, kecewa adalah Uang yang tidak bahagia. Uang dengan tipe ini membuat orang stess, putus asa, depresi, kecewa bahkan sering kali menjadi kejam. Uang tipe ini mengambil harga diri, rasa hormat dan kelembutan dari hati orang-orang yg mengambil dan menerimanya. Kapanpun kita menerima atau memberikan uang dengan diiringi energi negatif, uang itu akan menjadi Uang yang tidak bahagia.

(bersambung)

Uang Bahagia dan Uang tidak Bahagia

Ketika Ken memegang dompet yang dikembalikan oleh wanita itu, dia berpikir…

Wah beruntung sekali… semua uang yang aku dapatkan selama bertahun-tahun ini adalah dari orang-orang yang bahagia dan penuh rasa syukur.

Dia kemudian berpikir bagaimana dia menerima uang yang dimilikinya.

Dia menerimanya lewat pelayanan. Dia membantu orang lain menjadi sukses, sejahtera dan berdaya.

Dia membantu orang lain mendapatkan perasaan damai, bahagia dan juga syukur.

Dia membayangkan bagaimana orang sudah membayarnya lewat buku-buku dan juga training/seminar/workshop yang dia selenggarakan.

Kemudian dia berpikir tentang buku-bukunya dan bagaimana banyak orang sudah merubah hidup mereka sendiri.

Ada yang berganti pekerjaan, menikah, punya anak bahkan meninggalkan hubungan yang tidak sehat. Dia juga mendengar banyak dari pembaca bukunya yang memulai bisnis. Bahkan ada yang memulai dari nol kemudian menjadi perusahaan terbuka.

Ken merasa dia telah banyak membantu orang. Walaupun alat yang digunakan sebenarnya sudah ada di dalam diri mereka sendiri, untuk bisa menyembuhkan hidup dan hubungan mereka dengan uang.

Kemudian dia berpikir… tentu saja… uang akan menjadi bahagia jika diberikan oleh orang yang bahagia menerima produk/jasa yang kita ciptakan untuk mereka. Uang akan menjadi energi kebahagiaan.

Ken berdiri di sana beberapa detik untuk kemudian menyadari… Banyak sekali emosi yang terkandung di dalam uang yang beredar.

Ada orang yang beranggapan bahwa uang itu hanyalah kertas/logam. Tapi sebenarnya lebih dari itu. Uang membawa berbagai macam emosi di dalamnya.

Seperti saat kita merasa stress mendapatkan berbagai macam tagihan yang tidak ada habisnya, gaji kita yang kecil, ataupun kekurangan tabungan untuk masa depan. Seringkali di kondisi-kondisi seperti itu kita merasa lemah, tidak ada harapan dan suram. Bahkan merasa marah dan iri terhadap orang lain yang punya lebih dibanding kita. Banyak orang yang terjebak di dalam energi negatif ini. Bahkan tidak sedikit yang menganggap uang sebagai sebuah penghalang untuk mendapatkan hidup yang bahagia yang mereka inginkan.

Sangat sedikit dari kita yang bisa melihat potensi bahwa uang bisa membawa kebahagiaan, rasa syukur, suka cita. Terutama ketika kita memberikannya dengan penuh kasih kepada orang lain, yang kemudian akan kembali kepada diri kita dengan energi yang sama.

Begitu banyak uang yang ada di dunia yang menyebarkan kebahagiaan dan cinta kasih. Tapi juga begitu banyak yang menyebarkan kesedihan dan rasa takut.

Bersama-sama kita akan mencoba menjawab pertanyaan berikut:
– Bagaimana saya bisa berhubungan secara sehat dengan uang?
– Apakah saya bisa memiliki uang lebih banyak tanpa berkorban dengan sangat besar?
– Dapatkan saya mendapatkan kedamaian saat saya hidup?
– Apa yang bisa saya lakukan untuk menciptakan kehidupan yang bahagia, sejahtera, penuh dengan tujuan yang mulia?

(bersambung)

(silahkan klik t.me/awansg kalau ingin dikabarin untuk sambungan berikutnya)

Uang sebagai Energi?

Pada suatu saat Ken Honda pengarang buku Happy Money bertemu dengan seoarang wanita di sebuah pesta.

Di sana wanita itu meminta izin kepada Ken untuk melihat isi dompetnya.

Walaupun Ken merasa aneh, tapi dia memberikan dompet nya kepada wanita itu.

Wanita itu kemudian mengambil uang yang ada di dompet Ken kemudian memilahnya satu demi satu.

“ini uang bagus, ini juga bagus, ini juga…”

Lalu wanita itu berkata: Bagus… ternyata uang mu bagus semuanya.

Ken sambil kebingungan berkata, apa yang kamu cari?

Oh aku cuman mengecek apakah uang mu tersenyum atau tidak.

Wanita itu kemudian menjelaskan bahwa uang dapat tersenyum ataupun menangis. Tergantung bagaimana uang itu didapat atau diberikan.

Kalau uang itu diberikan/didapat diiringi dari rasa bersalah, kemarahan, maupun kesedihan maka uang itu akan “menangis”. Sebaliknya jika uang itu diberikan/didapat diiringi dengan rasa cinta kasih, syukur dan kebahagiaan maka uang itu akan tersenyum, bahkan tertawa. Karena uang itu diiringi energi positif dari pemberi/penerimanya.

Ken pun merasa terkejut, uang bisa menangis ataupun tersenyum? Uang berubah jika diberikan energi/perasaan?

Sebenarnya pada saat itu Ken sudah sangat mapan, juga merasa sangat faham dengan keuangan.

Saat umurnya masih 20-an dia sudah menentukan tujuan untuk bahagia dan sejahtera di umur 30. Jadi dia memulai bisnis konsultan dan akuntan nya.

Ketika dia mencapai 29 tahun, dia punya kebebasan untuk tetap di rumah dan mengiringi istrinya untuk mengasuh anak perempuannya yang masih bayi. Itu adalah hari-hari terindah dalam hidupnya. Bukan hanya karena dia bisa menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan anak perempuannya. Tetapi juga saat dia menemukan karir keduanya: membantu jutaan orang lainnya untuk hidup bahagia, sejahtera dengan penuh kedamaian.

Hal itu dimulai ketika dia sedang mengajak main anaknya di taman. Tiba2 ada seorang ibu yang berteriak2 ke anaknya. Ayo ibu harus kerja… ayo pulang. Tapi anaknya terus berkata… tapi kita baru sampai, aku pengen main lagi…

Setelah beberapa lama beradu mulut, ibunya pun menarik paksa anaknya untuk pulang kerumah.

Ken merasa sangat sedih melihat kejadian tersebut. Dia tahu jika ibu itu punya pilihan, pastinya dia lebih memilih untuk bermain bersama anaknya di taman di hari yang cerah itu.

Saat pulang ke rumah Ken menulis sebuah catatan singkat tentang pengalamannya dan apa yang dia ketahui selama bertahun2 mendapatkan uang dan menjadi sejahtera.

Dia pikir dia hanya akan menulis 5 halaman. Tapi ternyata menjadi 26 halaman.

Lalu catatannya dia bagi2kan kepada teman2nya. Dan banyak orang yang meminta lagi. Terus menerus seperti itu sampai seorang penerbit memintanya untuk menulis buku tentang hal itu.

Sejak saat itu Ken Honda telah menerbitkan lebih dari 50 buku yang terjual lebih dari 8 juta cetak di Jepang.

Setelah menulis 50 buku, Ken pikir dia telah mengetahui segalanya tentang uang. Tetapi sejak bertemu dengan wanita di pesta itu, dia mulai berpikir ulang tentang apa yang dia lakukan selama ini.

Dia pun mulai berpikir tentang uang sebagai energi.

Uang sebagai Alat vs Uang sebagai Tujuan

Sebelumnya saya berpikir bahwa tindakan saya adalah untuk mendapatkan uang. Uang adalah tujuan.

Namun kemudian setelah saya mendapatkan uang dan menggunakannya untuk apa yang saya inginkan saya jadi kebingungan sendiri. Karena kesenangan mendapatkan yang saya inginkan itu tidak bertahan lama.
Nantinya saya harus bekerja lagi untuk mendapatkan uang. Lalu uang itu saya pakai untuk hal2 yang menyenangkan. Kesenangannya sebentar juga hilang. Begitu terus berputar-putar seterusnya.

Saya merasa seperti tikus yang lari di tempat. Di dalam sebuah roda yang berputar. Mungkin istilah yang tepat adalah Rat-Race. Tikus yang berlomba-lomba tapi tidak kemana-mana. Di situ2 aja.

Ada kacamata yang lain. Uang adalah alat, bukan tujuan. Kalau alat, berarti perlu dipakai untuk mencapai tujuan tertentu. Karena hanya sebagai alat, maka jangan sampai dijadikan tujuan. Tujuannya lah yang perlu dicapai, alatnya mah bebas. Bahkan tidak harus pakai alat yang ada di pikiran.
Pakai alat yang lain juga bisa, asalkan tujuannya sama dan tercapai.

Misalkan ada orang yang pengen kaya, tujuannya nanti biar bisa santai nongkrong di sawah sambil pakai sarung dan ngerokok. Kalau tujuannya itu, ya ga usah harus kerja keras buat kaya. Sekarang juga bisa 🙂

Ada juga cerita tentang nelayan yang ketemu pengusaha dari kota besar. Ada pengusaha itu jalan2 di siang hari di pantai. Ketemu nelayan yang lagi santai2 juga di pantai.

Terus pengusaha ini bilang… Pak, jam segini sudah selesai?
Iya pak, saya kerja cuman 4 jam. Habis itu santai di pantai, main sama anak2, becanda2 sama istri.

Oh ya, memang kalau 4 jam dapat berapa pak?

Dapat 40 ribu.

Mau tidak pak, saya bantu.. Saya bikinkan proposal, nanti bapak presentasi di depan investor. Terus nanti bapak dapat uang, punya banyak kapal. Nanti bapak bisa dapat 100x lebih banyak dari sekarang.

Buat apa pak?

Biar bapak bisa santai di pantai, main sama anak2, jalan2 sama istri.

Nah sekarang kan saya udah bisa pak? 😀

Jadi penting sekali untuk tahu bahwa uang itu hanya alat, untuk mencapai tujuan. Kalau tidak nanti kebingungan. Alatnya sudah dapat, tujuannya tidak tahu buat apa…

Uang adalah alat. Uang hanya bisa menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan…uang… Selain masalah yg berkaitan dengan uang, ada banyak masalah dalam kehidupan ini… Karena masalah2 itu adalah cara Tuhan agar membuat kehidupan kita berkembang dan tidak monoton.

Money only can solve specific problem: Money Problem
Money problem is just one of many problems that exist in the world.

Uang VS Kesejahteraan

Ada sebuah sudut pandang yang menarik. Yaitu uang tidak sama dengan kesejahteraan.

Uang adalah alat untuk mencatat kesejahteraan yang kita berikan dalam hidup orang lain.

Kesejahteraan itu apa?
– Kenikmatan
– Manfaat
– Perubahan emosi
– Kemudahan
– Penghematan
– Kesehatan
– Naiknya status sosial
– Inovasi

Contoh dalam kenikmatan: Saya bisa masak seafood.
Maka kenikmatan makanan yang saya masak itu akan dicatat oleh uang. Uang itu akan diberikan oleh orang lain sebagai alat pencatat/pengukur kenikmatan masakan saya.

Semakin enak saya memasak, semakin besar uang yang diberikan kepada orang lain kepada saya. Kemudian misalkan saya mengubah warung sea food saya menjadi sebuah restoran. Tempatnya lebih nyaman, parkirannya lebih luas, interior nya instagrammable.

Maka orang-orang yang makan di restoran saya akan merasa gengsi yang tinggi. Bahkan bisa posting di instagram, kemudian mereka merasa status sosial nya naik. Maka semakin banyak pula uang yang diberikan kepada saya dari orang2 yang makan seafood di restauran saya.

Lanjut lagi… Restoran saya selain menyajikan makanan, tempat yang bergengsi juga menyajikan nonton film bersama di layar lebar. Di sana ditayangkan film-film yang menyajikan berbagai emosi. Sedih, Marah, Bahagia, dlsb.

Restoran saya selain menyajikan makanan yang enak, tempat yg bergengsi juga menyediakan tempat bagi orang-orang yang bosan. Agar mereka bisa merasakan berbagai emosi sehingga mereka tidak bosan.

Maka semakin banyak pula uang yang akan masuk kepada saya. Uang hanyalah sebuah pencatatan, bahwa saya bisa meningkatkan kesejahteraan orang lain.

Nah untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain ini butuh skill. Butuh keberanian. Butuh eksperimen. Butuh inovasi. Butuh sistem, dll. Orang-orang yang melakukannya akan mengalami peningkatan pendapatan.

Jadi fokusnya bukan untuk mencari uang. Tetapi mencari cara untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain. Fokus untuk memberi manfaat. Memberikan sesuatu yang berbeda, unik dan berharga.

Jika fokusnya ke sana, maka uang tidak perlu dicari. Uang tidak perlu dikejar2. Nanti malah uang bisa ditarik, bisa diciptakan dari usaha2 meningkatkan kesejahteraan orang lain.

Lalu selanjutnya, uang yang di dapat bukan dibelanjakan sepenuhnya untuk konsumtif. Karena konsumtif akan segera habis. Kesenangannya bersifat sementara. Tetapi akan digunakan untuk usaha meningkatkan kesejahteraan orang lain. Misal dengan membeli buku yg bisa memberikan pengetahuan yg bermanfaat untuk orang lain. Mengikuti training, skill, pelatihan sehingga bisa melakukan sesuatu yg bermanfaat untuk orang lain. Membuat produk atau jasa yang bisa bermanfaat buat orang lain. Fokusnya kepada orang lain, karena nanti orang lain yang akan mengukur. Seberapa besar manfaat yang sudah dia terima. Kemudian mereka memberikan uang kepada kita sebagai cara untuk mengukurnya.

Sebaliknya… ketika saya sedang dalam kondisi kekurangan uang. Itu berarti sebuah indikasi bisa jadi saya kurang memberikan manfaat bagi hidup orang lain.

Nah selanjutnya tidak semua manfaat diberikan nilai yg sama.

Misalkan mencabut rumput itu juga bermanfaat bagi orang lain. Tapi banyak orang yang bisa melakukannya.

Hukum ekonomi berlaku. Jika banyak orang yang bisa melakukannya, maka harga akan turun. Karena akan gampang mencari penggantinya. Tetapi jika kita bisa melakukan sesuatu yang orang lain tidak bisa melakukannya.
Maka kita akan dihargai lebih oleh orang lain.

Bagaimana melakukan sesuatu yang orang lain tidak bisa lakukan? Biasanya adalah dengan menggabungkan beberapa skill secara unik. Misal sebagai CS, punya skill untuk ramah dan empati terhadap customer. Digabungkan dengan skill riset market. Sehingga bisa tahu produk apa yang punya potensi untuk laku.

Contoh lain…mempunyai skill desain, banyak orang yang bisa. Tapi kemudian belajar skill story telling, branding, product creation. Perpaduan skill ini lebih sedikit yg bisa. Sehingga nanti akan lebih banyak manfaat yg diberikan kepada orang lain. Sehingga nanti akan lebih banyak uang yg tertarik kepada dia.

Contoh lain sebagai advertiser. Punya kemampuan sebagai leader, komunikasi, content creation. Ini akan menjadi perpaduan skill yg unik.
Kalau sudah punya skill unik seperti ini, maka uang akan datang. Uang akan tercipta. Uang akan tertarik. Karena uang akan mencatat berapa banyak manfaat yang sudah diberikan kepada orang lain. Seberapa besar kesejahteraan yang sudah dikontribusikan kepada hidup orang lain.
Ini adalah hukum yang berlaku di dunia.

Jadi uang itu efek samping. Efek samping dari kebermanfaatan yang kita berikan kepada orang lain. Kalau kita bisa bermanfaat, pasti orang akan memberikan imbalan. Cara memberikan manfaat salah satunya adalah perlu ilmu. Perlu skill. Untuk bisa mendapatkan ilmu dan skill perlu kemauan dan latihan dari diri kita sendiri. Masing-masing kita diberikan bakat dan ketertarikan. Jika itu diasah maka akan menjadi skill.

Irisan antara Ketertarikan (passion), Skill (keahlian) dan Market(apa yang dihargai oleh orang lain) akan menghasilkan uang mengalir ke dalam hidup kita

Money Mindset Pasangan Muda

Studi Kasus Mindset Langka vs Mindset Berlimpah Pada Pasangan Muda

Saat tulisan ini dibuat, saya menginjak kehidupan pernikahan 10 tahun.
Pada tahun-tahun awal pernikahan banyak sekali dinamika yang terjadi berkaitan dengan uang. Dinamika adalah pilihan kata lain yang lebih halus untuk percekcokan 🙂

Awalnya saya kira, penyebabnya adalah karena kondisi keuangan.
Awalnya saya kira, yang salah adalah kondisi.
Yang salah adalah istri.
Yang salah adalah orang lain.
Yang salah adalah …. kecuali saya.

Sampai pada satu titik saya mereview bahwa saya perlu memperbaiki diri sendiri. Saya perlu mengkaji ulang hubungan saya dengan Tuhan. Saya perlu belajar untuk memiliki mindset yang lebih efektif. Saya perlu belajar meningkatkan diri sendiri. Kalau tidak, pasti kehidupan pernikahan saya akan berantakan.

Karena di luar sana pasti ada yang kondisi keuangannya di bawah kondisi saya. Bagi orang-orang yang kondisi keuangannya di bawah saya, adakah yang lebih bahagia dalam menjalani hidupnya? Pasti ada.

Sebaliknya, di luar sana pasti ada yang kondisi keuangannya lebih baik dari kondisi saya. Bagi orang-orang yang kondisi keuangannya lebih baik dari saya, adakah yang lebih sengsara dalam menjalani hidupnya? Pasti ada.

Jadi ini bukan masalah kondisi. Ini adalah masalah manajemen mindset, pikiran dan hati saya. Ini adalah masalah pemilihan kacamata.

Kondisi ini juga berlaku jika saya kaitkan tentang istri.

Di awal-awal pernikahan saya penuh dengan rasa menyalahkan istri saya. Istri saya yang salah. Tidak bisa berhemat. Tidak bisa mengatur keuangan.

Namun kalau dipikir-pikir lagi…

Di luar sana adakah suami yang istri nya lebih tidak mampu mengatur keuangan dibanding istri saya? Pasti ada.

Bagi suami-suami yang punya istri seperti itu, adakah yang lebih bahagia dalam menjalani kehidupan pernikahannya dibanding saya ? Pasti ada.

Sebaliknya, di luar sana adakah suami istrinya lebih pintar mengatur keuangan dibanding istri saya? Pasti ada.
Bagi suami-suami yang punya istri seperti itu, adakah yang kehidupan rumah tangganya lebih sengsara ? Pasti ada.

Jadi ini bukan tentang istri saya. Ini adalah tentang bagaimana saya memandang istri saya. Bagaimana saya mengatur pikiran, hati dan perasaan berkaitan pandangan saya dengan istri saya.

Maka dari situ saya berusaha untuk mengupgrade diri.

Eh btw, Ini lagi ngomongin apa ya, kok jadinya ngomongin tentang istri ? hehehe… 🙂 Maaf…maaf… kadang suka kecampur2 karena saya berusaha mengingat apa yang terjadi 10 tahun yang lalu.

Nah dalam studi kasus tentang Uang di dalam kehidupan pasangan muda…

Saya mulai belajar bahwa ketika saya menggunakan mindset uang adalah sesuatu yang langka maka saya berubah menjadi orang yang penuh ketegangan. Misalnya istri pengen jajan aja bawaannya tegang. Pikiran berkecamuk, emang ga bisa ngirit ? Emang ga bisa makan di rumah aja ya?

Padahal ya wajar sekali seorang manusia pengen jajan. Apalagi wanita mahluk emosional. Emosi sangat dipengaruhi oleh apa yang dikonsumsi.
Jadi ya wajar saja kalau dia jajan. Laki-laki saja suka cilok ya kan? 😀

Gimana nanti kalau engga cukup?

Nah di sini saya merubah mindset. Kacamata yang saya gunakan adalah: kalau namanya kebutuhan ya pasti nanti akan dicukupi. Selama saya masih ditugaskan untuk menjalani hidup ini, pastinya kebutuhan saya untuk hidup dan menjalankan tugas akan dipenuhi. Di setiap tugas, pasti akan ada fasilitas.

Atau mungkin apa yang saya sangka sebagai kebutuhan, itu cuman keinginan.
Karena kalau benar kebutuhan hidup, maka jika tidak dicukupi maka akan akan berhenti hidupnya 🙂 Sebaliknya jika tidak dicukupi kemudian masih terus hidup, berarti itu bukanlah kebutuhan hidup.

Begitu juga ketika ada kebutuhan2 mendadak yang datang dari orang tua.

Jika mindset yang dipakai adalah uang itu langka dan terbatas maka pikiran2 yg muncul adalah:
– Ini orang tua apa nggak tahu anaknya lagi susah?
– Duh aku udah nabung lama buat beli itu, tapi kok harus dipake buat kebutuhan orang tua…
– Belum lagi kalau ternyata yang butuh adalah mertua… bisa2 nanti marah2 ke istri… orang tua kamu kok gitu???

Tapi ketika saya menaruh kacamata uang adalah langka dan terbatas.
Lalu belajar menggunakan kacamata yang lain: bahwa uang itu berlimpah dan tidak terbatas saya menjadi lebih tenang, lebih damai, lebih cool calm and confident dalam menghadapi tantangan kehidupan 🙂

Kalau orang tua butuh uang, kalau ada ya diberikan. Toh nanti akan ada gantinya datang lagi.

Kalau tidak ada uang gimana? Bisa ngasih yang lain: perhatian, waktu, tenaga, empati, kasih sayang dll. Jadinya bisa memaknai bahwa ada hal-hal lain selain uang yang bisa kita berikan.

Terus kebutuhan rumah tangga gimana?

Mengurus anak dan istri itu tugas dari Allah. Mengurus orang tua itu juga tugas dari Allah. Dalam setiap tugas, pasti ada fasilitas. Kewajiban saya adalah untuk bergerak, belajar, berusaha. Hasil dan fasilitas, ya biar Allah saja yang mencukupi.

Jadinya nanti juga tidak akan ge-er. Kalau mendapatkan hasil, itu bukan semata2 karena saya hebat. Tapi karena Allah memudahkan dengan fasilitas2.

Sebaliknya kalau saya tidak mendapatkan hasil yg ditargetkan juga tidak akan depresi/stress. Karena toh nanti kalau memang itu sebuah kebutuhan maka pasti akan dicukupi.

Mindset uang langka dan terbatas saya rasakan tidak memberikan kehidupan rumah tangga yang saya inginkan. Karena kehidupan yang saya inginkan itu kehidupan yang damai, tenang, kreatif. Bukan kehidupan yang tegang, was-was, saling menyalahkan dan penuh percekcokan.