Kenikmatan Dunia VS Kenikmatan Spiritual

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh my brother/sister semuanya πŸ™‚

Hari kemarin aku reset lagi, padahal baru aja mulai #1.
Alhamdulillah hari ini diberi kekuatan dan kesempatan untuk memulai #1 lagi.

Kemarin, yang ada di pikiran adalah ketika reset maka yang perlu aku lakukan adalah 2 hal:
1. Mengganti dengan ibadah yang lain
2. Melakukan sesuatu yang berbeda sehingga bisa mulai bangun malam lagi.

Untuk yang nomor 1, aku menggantinya dengan dzikir.
Biasanya agenda dzikir sehari 1 jam, karena tidak bangun malam maka dzikir kemarin jadi 2 sesi x 1 jam.

Untuk yang nomor 2, yang berbeda adalah sholat Isya.
Sewaktu reset itu, sebelumnya sholat Isya tidak berjamaah, nah kemarin aku jadi sholat isya berjamaah.

Kebetulan kemarin bertemu secara virtual dengan seorang sahabat.
Dia membahas tentang perbedaan antara kenikmatan dunia vs kenikmatan spiritual.

Kenikmatan dunia pada umumnya mempunyai sifat:
– Sementara. Nikmat sebentar, habis itu hilang.
– Bikin ketagihan, tidak tahu batas dan terus menerus diinginkan
– Panas, menggelora.
– Jumlahnya terbatas.
– Kenikmatan ini berujung pada penderitaan.

Kenikmatan spiritual mempunyai sifat:
– Lebih tahan lama
– Memberikan perasaan cukup dan damai
– Sejuk, tenang.
– Jumlahnya tak terhingga.
– Kenikmatan ini berada dalam kebahagiaan.

Kenikmatan dunia, dinikmati lewat panca indera.
Kenikmatan spiritual, dinikmati lewat hati.

Kenikmatan dunia, saya tidak punya kontrol atasnya.
Kapanpun bisa hilang, habis, atau musnah begitu saja.
Ketika hilang, maka saya akan menderita.
Ketika dipuaskan, sifatnya sebentar, mood membaik, tp dalam waktu sebentar juga akan hilang.

Kenikmatan spiritual, saya bisa akses kapan saja.
Saya bisa berdzikir di mana saja dan kapan saja.
Saya bisa ubah bingung menjadi tenang dengan mengakses kenikmatan spiritual.

Saya di sini tidak berkata bahwa seseorang tidak boleh menikmati kenikmatan dunia.
Tetapi, sangat penting untuk mengetahui karakter dari kenikmatan dunia dan bagaimana bedanya dengan kenikmatan spiritual.

Kuncinya disini bukanlah untuk meninggalkan kenikmatan dunia seketika dan seluruhnya.
Tetapi sedikit demi sedikit mencicipi kenikmatan spiritual, sehingga hidup bisa penuh ketenangan dan kedamaian. Jika sudah terlatih maka, tenang dan damai ini akan dapat diakses kapan saja dan di mana saja.

Proses ibadah, sejatinya adalah bukan sekedar menjalankan kewajiban.
Tetapi adalah sebuah latihan untuk bisa mencicipi kenikmatan spiritual ini.

Malam2… indera saya menginginkan kenikmatan dunia.
Tempat tidur yg empuk…
Lelap yang nyaman…
Selimut yg nyaman…

Bisakah di sela2 malam hari, saya mencicipi kenikmatan spiritual?
Sejuknya hati berdzikir di dalam senyapnya malam.
Tenangnya pikiran ketika meletakkan kepala di atas sajadah.
Damai terasa ketika melantunkan ayat-ayat Al Quran di dalam tahajud?

Mengikuti jejak para kekasih Allah… yang lebih memilih kenikmatan spiritual daripada kenikmatan dunia…

Salam,
Your brother… Awan

Sharing KMM di Epik Nasional

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

Mohon ijin para suhu dan rekan2 seperdjoeangan..

Perkenalkan nama saya Awan dari TDA Bandung.

Beberapa hari yang lalu ane di kontak sama suhu ane, Wadir @agung
Diminta cerita2 tentang Epik Bandung.

Sebenarnya belum banyak kegiatan yg dilakukan oleh Epik Bandung.
Jadi sampai saat ini yg udah dilakukan baru:
– 8 WS 2x
– Kulgram 5x
– Webinar 3x
– Sharing Epik 3x
– Webinar 3x
– Epik Mentoring 1x
– KMB periode 3bln untuk reg member (baru mulai bulan ini dgn peserta 30 orang)

Disamping kegiatan untuk registered member di atas… kami di Bandung punya program Epik internal (untuk anggota divisi).
Diantaranya adalah:
1. Bangunin tahajud (90 days tahajud challenge)
2. Mastermind

Untuk kali ini, ane pengen sharing tentang program Mastermind yg dijalankan.

Program ini, didasari oleh pemikiran…
Anggota Epik harus mendapat manfaat ketika bergabung di dalam divisi Epik.

Jadi selain memikirkan peningkatan bisnis registered member, juga ketika bergabung di dalam Epik harusnya bisnisnya meningkat juga.

Oleh karena itu, dibuatlah Kelompok Master Mind khusus divisi epik.
Dimana tiap2 anggotanya saling support untuk meningkatkan bisnis masing2.

Eh tapi enggak cuman di bisnis aja ding…
KMM kami, berfokus di 3 hal penting di dalam kehidupan:
1. Bisnis
2. Relationship/Family
3. Spirituality

Jadi kami saling bantu buat meningkatkan 3 bidang ini di tiap2 member Epik.

Mekanismenya gimana?

Tiap 2 minggu sekali setor laporan dalam bentuk tertulis ke group WA.
Isinya adalah:
A. Progress saat ini
B. Target yg ingin dicapai dalam 2 minggu kedepan
C. Kesulitan yang dihadapi.

Poin A, B dan C di atas, dilaporkan tiap bidang kehidupan: Bisnis, Relationship/Family, Spirituality.

Namun sebelumnya ada aturan yang harus disepakati: Apa yang diceritakan di KMM, stay at KMM πŸ˜€
Jadi harus saling menjaga kerahasiaan dan ga boleh sampe bocor keluar dari KMM.

Nah setelah dilaporkan progressnya via tulisan, kita bakal setup waktu buat ketemu.
Pada saat ketemu itulah kita brainstorming untuk kesulitan masing2.
Di sesi tersebut, biasanya banyak air mata tertumpah hihihi…
Tapi efeknya adalah kami merasa dekat satu sama lain… dan muncul komitmen untuk saling bantu dan berprogress bersama.

Nah KMM ini udah berjalan dari awal kepengurusan Epik Bandung.
Dan terus terang saat kami ketemuan… 70% membahas masalah yg dihadapi, saling lempar solusi, dan juga ngasih challenge satu sama lain buat 2 minggu kedepan.
30% sisanya kami bahas program2 yg mau dilaksanakan oleh Epik.

Yg ane rasakan…
Setelah merasa mendapat manfaat sebagai anggota Epik, mereka akan dengan semangat juga menjalankan acara2 yang memberi manfaat ke reg member.
Jadi ketika kedekatannya dibangun… Insya Allah semangat untuk berbaginya juga mulai tumbuh kepada para registered member.
Sehingga bisa punya motivasi untuk berkontribusi dalam acara2 Divisi Epik.

Harapannya, di akhir kepengurusan… temen2 di divisi epik bisa sama2 memandang kebelakang…
Kemudian membandingkan perbedaan antara sebelum dan sesudah bergabung di divisi epik.
Kemudian bisa berkata pada diri sendiri… What a great progress in the last 2 years
Bukan hanya di Bisnis, tetapi juga di bidang2 lain dalam kehidupan seperti Relationship/Family dan juga Spirituality.

Karena belajar sendirian ga enak, enaknya rame2 πŸ˜€

Mungkin sampai di sini dulu sharing ane…
Kalau ada pertanyaan atau ada hal yg ingin di diskusikan bersama…monggo πŸ™‚

Mengendalikan Emosi

#10

Jika ada orang yg berbuat kesalahan dan membuat saya marah, maka saya punya dua pilihan:
.
1. Melampiaskan emosi saya dan menuntut orang itu untuk berubah.
2. Belajar arti sabar dan kasih sayang. Sehingga saya bisa meningkatkan diri saya.
.
Kira2 Allah lebih suka saya melakukan yang mana?
.
Jika saya mengambil pilihan no:1 maka saya akan melatih sifat emosional saya menjadi lebih kuat.
Saya akan berlatih mengembangkan sifat emosional saya lewat satu hal. Lalu lewat hal lain…
Tak terasa waktu berlalu…satu tahun… dua tahun… 5 tahun… bertahun2 latihannya.
.
Apa yang saya latih, itulah yg akan menjadi kuat.
Sehingga tanpa sadar saya akan menjadi orang berumur yang punya sifat emosional meledak2.
Saya tidak bisa mengendalikannya lagi, karena sudah sedemikian kuatnya.
Sifat emosional itulah yang akan memiliki diri saya.
.
Bagaimana dengan menuntut orang lain untuk berubah?
Hehehe… jangankan merubah orang lain…
Merubah diri sendiri aja sulit πŸ˜€
.
Badan sendiri, pikiran sendiri, dibawa2 kemana2… coba deh dirubah.
Ga usah yg susah2… coba bangun lebih pagi dari biasanya… bisa merubah diri sendiri?
.
Kalau merubah diri sendiri aja susah, bagaimana bisa menuntut orang lain untuk berubah?
.
Yang ada adalah frustrasi, karena apa yang saya tuntut tidak tercapai.
.
Bagaimana jika saya mengambil pilihan no:2 ?
Bukannya ini susah?
.
Memang lebih susah, tetapi semua ada ilmunya.
.
Jalannya akan lebih simple kalau saya mau menggali lebih dalam lagi tentang pertanyaan ini:
– saya berasal dari mana?
– saat ini apa tugas saya?
– tujuan saya kemana?
.
Salah satu guru saya menyampaikan… orang yang tidak bisa sabar, itu karena mikirnya hanya dunia ini. Tetapi kalau dia berpikir tentang akhirat yang abadi, maka apa yang terjadi di dunia ini sangatlah sebentar.
.
Sabar bukan berarti memendam emosi.
Tetapi memahami dengan seksama, apakah hal tersebut layak untuk dipertikaikan atau tidak?
.
Apakah hal itu pantas untuk menghabiskan waktu hidup saya yg sebentar ini?
Pantas untuk menguras emosi saya?
Pantas untuk mengguncang jiwa saya?
Pantas untuk merusak hubungan saya dengan orang2 di sekitar saya karena terpengaruh dengan hal itu?
.
Ataukah saya bisa menggunakan waktu, pikiran, emosi untuk hal2 lain yang lebih produktif?
.
Sabar dan kasih sayang bukanlah kelemahan.
Justru itu adalah jalur penghubung kita dengan Yang Maha Sabar… Yang Maha Mengasihi dan Maha Menyayangi…
.
Kalau kita sudah terhubung dengan Yang Maha… apa sih yg gak dikasih buat kita? πŸ™‚

β€œDemi masa.
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh
dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran
dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”
.
Wallahu ‘alam Bishawab…
Semua ilmu hanyalah milikNya…

————–
Pesan sponsor: gimana progress tahajudnya bro/sist? πŸ™‚

Beban Masa Lalu

Setiap orang pasti punya beban masa lalu.
Beban-beban ini jika terlalu lama dipegang maka akan menghasilkan luka batin.
Beban masa lalu dan luka batin ini disadari atau tidak, akan menghasilkan respon otomatis terhadap hidup keseharian.

Ada satu orang ketika makan di sebuah restoran ternyata pelayannya mendahulukan pesanan orang lain.
Padahal dia datang lebih dulu.
Responnya: gebrak meja… marah2 dan ngamuk.

Ada orang kedua, ketika mengalami hal yang sama memberikan respon yg berbeda.
Dia bisa menegur dengan cara yang santun dan rilex.

Kejadian yang sama, respon yg sangat berbeda.

Pada kasus yg lain…
Ada satu orang, ketika berinteraksi dengan orang lain permasalahan uang maka cenderung mengikhlaskan.
Ya udahlah… duit bisa dicari lagi… biarin aja.
Yg penting next time jaga2 aja.
Ada ya dikasih, ga ada ya bilang seadanya.

Ada orang kedua, ketika hutangnya tidak dibayar2 marah2 luar biasa.
Nagih2 sampai debt collector dibawa2.
Kalau perlu diperkarakan.

Kejadian yang sama, respon yg sangat berbeda.

Kalau kejadian nya sama, tp responnya berbeda… berarti yang membuat sesorang marah/emosi/bingung/stress bukanlah kejadiannya.
Tetapi sesuatu di dalam diri.

Menengok dua kasus di atas, kita bisa berkaca…
Hidup tidak pernah memberikan kejadian yang selalu sesuai dengan keinginan saya.

Orang lain tidak bisa saya kontrol.
Juga tidak semua keadaan bisa berjalan sesuai keinginan saya.

Kalau di setiap kejadian yg tidak sesuai keinginan saya maka respon saya adalah marah2, bingung, stress…
Maka pasti ada beban2 yang saya bawa dari dulu, sehingga menimbulkan luka di dalam diri.
Luka itu jika disentuh, maka akan sakit dan saya akan meradang.
Karena kalau kulit saya tidak ada lukanya maka, disentuh juga tidak ada masalah.

Dengan memahami hal ini, maka yg perlu saya lakukan bukanlah menyalahkan orang dan keadaan diluar diri saya.
Tetapi berkaca lagi ke dalam…
Apa sih yang Tuhan inginkan dari diri saya?

Bukankah Tuhan Maha Pemaaf?
Lalu kenapa saya tidak mau memaafkan kesalahan orang lain?

Bukankah Tuhan Maha Pengasih?
Lalu kenapa saya tidak mengedepankan kasih sayang malah mengumbar emosi?

Bukankah Tuhan Maha Sabar?
Mungkinkah Dia ingin mengajarkan kesabaran kepada saya lewat peristiwa ini?

Karena kesabaran tidak bisa dipelajari lewat kondisi yang mudah, hal itu hanya bisa dijalani lewat kondisi yang sulit.
Kesabaran tidak bisa dipelajari ketika saya bertemu dengan orang yang sabar, kesabaran dipelajari ketika saya dipertemukan dengan orang yang emosional.

Gimana caranya?

Kemampuan manusia terbatas.
Godaan setan sedemikian kuat.
Nafsu yang dibentuk dari habit bertahun2 sudah sedemikan mencengkeram jiwa.

Satu2nya cara adalah meminta pertolongan kepada Yang Maha Kuat dan Yang Maha Tak Berbatas.
Mohon pertolongan agar dilapangkan dada saya…
Mohon pertolongan agar diturunkan beban yang jika dibawa terlalu lama maka akan menimbulkan luka…

Maka jika beban2 itu sudah lepas dari punggung…
Seseorang akan bebas untuk bisa berkerja dan berkreasi di muka bumi ini…
Otomatis maka kesuksesan pun akan datang karena mampu mencipta tanpa beban.

Setiap ada kesulitan yang datang, tidak akan membebani… orang itu pun dengan ringan akan memilih action lain yg lebih produktif.
Maka setelah kesulitan akan ada kemudahan…

Orang seperti ini, mampu terlihat tidak punya rasa capek.
Staminanya luar biasa, pencapaiannya banyak.
Setelah beres mengerjakan satu project, maka dia akan bisa dengan sigap membereskan project yg lain.

Dan orang2 seperti ini… tidak akan berharap banyak kepada manusia lain.
Karena dia tahu, manusia itu adalah makhluk yg terbatas.
Gampang berbuat kesalahan, gampang berbuat error.
Dia hanya akan berharap kepada Tuhan…

————-
“Bukankah kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?”
“Dan kami pun telah menurunkan beban darimu,”
“yang memberatkan punggungmu,”
“dan kami tinggikan sebutan mu bagimu.”
“Maka sesungguhnya berama kesulitan ada kemudahan,”
“sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”
“Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yg lain)”
“dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap”

>>> ada yg tahu surat apa ini? πŸ™‚

Review Communication Workshop – Mustofa Romdloni

Bruce Lee pernah berkata, saya tidak takut dengan orang yang tahu 1000 tendangan.
Saya takut dengan orang yang tahu 1 tendangan, namun berlatih 1000x

Begitulah saya memandang 8 Worskhop Series (8WS) yang dibawakan oleh Pak MR kemarin.

Di sesi-sesi awal, beliau mensharingkan hal-hal yang terkesan biasa banget dalam berkomunikasi.
Seperti contohnya:
– Jangan mengkritik/menjatuhkan orang lain apalagi di depan orang banyak.
– Sayangi diri sendiri
– Sayangi orang lain.
– Tertarik lah dengan tulus pada orang lain.

Hal-hal yang terkesan biasa inilah prinsip dasar dalam berkomunikasi.
Namun seringkali kita lupa karena ingin menonjolkan diri, pengen dianggap lebih, dan pengen membuktikan bahwa orang lain salah.

Prinsip ini sedikit, namun jika dilatih beribu2 kali… maka itulah yang dilakukan oleh Pak MR.
Ternyata beliau melatih prinsip2 ini selama lebih dari 8tahun sehingga mengakibatkan bisnisnya bisa naik ke kelas korporasi.

Insight yang lain yang saya dapat adalah: Standing Over the Shoulder of Giants.
Dengan berdiri di atas bahu para raksasa, maka kita akan bisa melihat lebih jauh.
Ketika raksasa itu berjalan, maka kita yang “ndemplok” di bahunya akan bisa berjalan lebih cepat dan menempuh jarak lebih panjang.

Inilah yang beliau lakukan ketika menghubungi partner2 potensial di luar negri untuk mau berpartner.

“Saya tahu perusahaan Anda adalah yang salah satu yg terbesar di (negaraxxx). Saya Mustofa Romdloni, siap menjadi partner bisnis Anda untuk sukses di Indonesia.”

Begitulah penggalan email yang menandai pertambahan perusahaan beliau dari bisnis trading ke bisnis manufaktur.

Berpartner, berkolaborasi, adalah koentji untuk menjadi besar.

“Gimana orang2 besar itu mau berpartner dengan kita?” tanya saya.

Beliau jawab… “Melevelkan diri”
Caranya adalah dengan terus meningkatkan kualitas diri, karena kita tidak tahu kapan partner itu akan muncul.
Salah satunya adalah dengan mengasah skill komunikasi kita.

Namun skill komunikasi itu ternyata bukan dimulai ketika ada orang lain.
Skill komunikasi itu dimulai bahkan ketika kita sendiri.

Berkomunikasi pada diri sendiri, memungkinkan kita untuk mengetahui apa kelebihan dan kekurangan kita.
If you know yourself and you know your enemy then you will win 1000 battles – kata Sun Tzu

Sesi siang workshop kemarin ada praktek yg membuat para peserta bisa “mengintip” tipe kepribadian masing2 (Koleris, Melankolis, Sanguinis, Plegmatis)
Tidak berhenti sampai di situ saja, beliau juga mensharingkan bagaimana aplikasi tipe kepribadian ini pada kasus2 bisnisnya.

Sebenarnya workshop dijadwalkan selesai 16.00
Tapi karena pas terpotong di “Teknik Negoisasi”, kami pun sudah terlanjur kepo.
Walhasil materi dilanjut sampai Maghrib.

Sesi negoisasi tersebut banyak contoh2 kasus yang dibabarkan.
Salah satunya adalah bagaimana menjalankan permainan yang cantik antara calon klien, kompetitor yg sudah melayani klien tersebut, dengan perusahaan kita yang ingin masuk.
Kisah cinta segitiga yang sebenarnya bisa dimainkan dengan indah untuk kemudian menghasilkan keseimbangan baru.
Hasilnya win-win, dengan perusahaan kita masuk di dalamnya. Dengan catatan: tahu prinsip dan cara bermainnya πŸ˜€

Saya tahu betul tantangan Pak MR yang dalam mensharingkan materi ini.
Sebagai praktisi beliau harus berpikir bagaimana mensummary kan pengalaman bertahun2 dengan kasus yg sedemikian banyak menjadi workshop 1 hari.
Oleh karena itu saya mafhum jika di awal2 workshop beliau menshare yang ringan2 dan fun.
Untuk kemudian semakin sore semakin panasss apalagi ditambah dengan pertanyaan2 dari peserta yang semakin menguak tabir2 “off the record” lainnya.
Tidak heran peserta workshop dari pagi sampai maghrib tidak ada yg goyah.
Bahkan setelah maghrib sesi masih berlanjut dengan pindah tempat di kuliner kebuli.
Mungkin ini bedanya orang yang sharing motivasinya untuk dibayar dibanding dengan sharing yang pengen liat orang lain maju dan berkembang.

Ah, begitu banyak mutiara yang saya temukan di workshop kemarin.
Mutiara yang sebelumnya saya anggap “batu biasa” karena saya cuman sekedar tahu luarnya saja.
Tetapi dengan contoh2 kasus yg pernah beliau alami, Pak MR telah menunjukkan bahwa batu itu kalau digosok (dilatih) bakal jadi mutiara.

Nah buat para suhu dan rekan2 seperjuangan yang kelewatan, ini ada beberapa buku referensi yg dibahas di workshop kemarin:
– The Art of Dealing with People
– How to Win Friends and Influence People
– Personality Plus
– All Marketer are Liars
– Blue Ocean

Tentu saja, buku2 ini tidak akan bisa menceritakan pengalaman praktis dari Pak MR.
Tapi paling tidak di sana ada prinsip2 yang mendasari gurita bisnis beliau.

Semoga next time kita bisa belajar bersama di acara2 berikutnya.
Dan kalau ada dirasa ada kebutuhan tentang sesuatu bidang bisnis (sales, marketing, finance, operasional,hrd, legal, dll), jangan ragu2 buat kontak EPIK.
EPIK akan berusaha mencarikan praktisi bisnis yang punya pengalaman agar kita bisa belajar untuk naik kelas bersama2.
Karena belajar sendirian gak asyik, enaknya rame2 πŸ˜€

Salam,
Your Brother Awan Rimbawan
Pelayan di Div EPIK TDA Bandung

PS:
Special thanks buat Allah YME karena mengizinkan acara ini terlaksana.
Terima kasih buat Pak MR yang walaupun sudah bermacet2 ria 5 jam, namun masih sanggup ngisi materi sampai maghrib.
Terima kasih buat Tim EPIK yang bekerja di background. Tanpa pamrih berepot2 di tengah2 ngurusin bisnisnya masing2 bahkan fleksibel berimprovisasi menghadapi kondisi yg tak tak terduga. You are trully my inspiration: vicky fajar bagas ainy muji hendra ahmad . Om Brata yang udah bikin acara TDA jadi family friendly. Om Agung yg udah nunjukkin tempat nasi kebuli enak πŸ˜€ .
Terima kasih buat para suhu yg kemarin sudah datang dan melontarkan pertanyaan2 keren.
Terima kasih TDA Blitar dan TDA Tangerang yang udah jauh2 dateng buat acara ini.
Terima kasih buat pengurus yg full support banget banget banget buat acara ini.
Terima kasih buat penyumbang doorprize yang sama banyaknya dengan jumlah peserta πŸ˜€
Terima kasih… terima kasih… dan terima kasih…

Communication Workshop – Mustofa Romdloni (MR)

Assalamualaikum para suhu dan rekan2 seperjalanan…

Ada yg udah pernah membaca buku biografi Warren Buffet yg judulnya The Snowball Effect?

Disana diceritakan bahwa menurut Buffet… investasi yang paling baik adalah yang tidak dikenakan pajak dan tidak bisa dikalahkan oleh inflasi.

Investasi tersebut adalah: investasi leher ke atas.

“Nobody can take away what you’ve got in yourself, and everybody has potential they haven’t used yet”

Yang mengejutkan, menurut dia investasi terbaik yang pernah dia ambil bukanlah saham perusahaan.
Tetapi mengambil sebuah kursus public speaking dari Dale Carnegie.

Dale Carnegie sendiri terkenal dengan buku klasik yg jadi best seller selama berpuluh2 tahun: How to Win Friends and Influence People.

Konon sebelum mengambil kursus itu, Warren Buffet sangat ketakutan ketika berbicara di hadapan orang banyak.
Bahkan dia bisa tiba2 sakit secara fisik saat harus maju ke atas podium.

Namun Warren Buffet muda sangat bertekad untuk memperbaiki kemampuan komunikasinya.
Karena selain berguna untuk mengkomunikasikan peluang2 investasi kepada orang2 berduit, sekaligus juga sangat berguna untuk memenangkan pujaan hatinya: Susan Thompson.

“You can exponentially increase your potential and enhancing your talents by simply being able to communicate better” kata Warren Buffet.

Biaya kursus public speaking seharga $100 menghasilkan ROI berjuta2 kali lipat dan mengantarkan Warren Buffet menjadi salah satu orang terkaya di dunia.

Saya sebenarnya sudah lama mencari sosok Warren Buffet di TDA.

Sosok yang aktif menciptakan bisnis dan juga sudah masuk ke dalam aktifitas jual beli bisnis.

Sosok ini saya temukan dalam diri Pak MR.

Pertemuan pertama saya dengan beliau di cafe De Tuik Bandung. Waktu itu beliau masih menjabat menjadi Presiden TDA 4.0

Gaya bicaranya santai dan penuh humor, membungkus materi yang berat menjadi ringan dan mudah dicerna.

Setelah pemaparan materi, saya mengajukan sebuah pertanyaan pada beliau…
“Setelah 8 tahun berjuang di level usaha kecil, bagaimana kok Bapak tiba2 bisa melompat ke kelas korporasi?”

Namun sayangnya jawaban beliau pada saat itu belum bisa ditangkap oleh keterbatasan wawasan saya.
Apalagi waktu yang tersedia cuman sebentar, membuat saya tidak bisa mengorek lebih jauh lagi.

Sehingga February yang lalu, ketika ada kesempatan workshop 8WS di bekasi yang diisi oleh beliau sayapun nekat ikut.
Walaupun topiknya masih jauh dari kelas bisnis saya saat ini: “Bagaimana Membuat Valuasi Perusahaan dan Menjualnya Dengan Harga Tinggi”

Di workshop itu mata ane terbuka… bahwa menjual perusahaan itu punya margin yang guedeeee banget.
Tapi lagi2… ane mesih belum ngerti… gimana caranya bisa kayak gitu.
Apa yang harus dilatih di dalam diri ane… dari yg kelas ecek-ecek gini… sehingga bisa naik kelas seperti itu.

Qodarullah beberapa waktu lalu TDA Bandung mengadakan Wisata Bisnis ke TDA Bekasi.
Di mana salah satu kunjungannya adalah ke kantor MR Corp.
Di pertemuan ketiga itulah missing puzzle nya ketemu.

Pada saat itu, beliau bercerita… bagaimana 8 tahun bermacam2 bisnis dibuka… hampir semuanya ditutup.
Mulai dari kursusan, MLM, limbah pabrik, dlsb.
Barisan para mantan kata beliau, mantan bisnis πŸ˜€

Ternyata di pertemuan ketiga lah saya baru “ngeh”… bahwa rahasia lompatan beliau adalah: skill komunikasi.
8 tahun adalah proses penggodokan skill komunikasi.
Skill yg bertanggung jawab melontarkan bisnisnya dari skala kecil ke skala korporasi dengan kontrak milyaran rupiah perhari.

Beliau membeberkan bahwa skill komunikasi adalah seni agar orang suka dengan kita, percaya, untuk kemudian bersedia mengikuti kemauan kita.

Bisnis di tengah2 banyak sisi dan kerumitan, ternyata fondasi dasarnya adalah komunikasi.
Komunikasi dengan partner agar mau “menyumbangkan” resourcenya.
Komunikasi dengan karyawan agar “rela” melaksanakan tugas2 mereka.
Komunikasi dengan supplier, agar “dengan senang hati” memprioritaskan barang berkualitas sambil dibayar tempo pula πŸ˜€
Komunikasi dengan customer agar mampu “menceritakan value” sehingga beli sekali kemudian membeli lagi, lagi dan lagi.

Namun sayangnya2… lagi2 waktu yg membatasi paparan pada saat itu.
“Ini kalau diceritakan bisa panjang mas, butuh waktu seharian” imbuh beliau.

Tanpa pikir panjang langsung aja kita todong:
“Kalau begitu kapan ada waktu kosong, sehingga bisa sharing lebih panjang lagi di Bandung Pak?”

Nah beruntung… besok Sabtu tanggal 28 April beliau ada waktu kosong untuk membedah skill komunikasi ini.

Nanti akan dibahas:
– Skill komunikasi seperti apa sih yg bisa membuat seseorang naik kelas dari skala kecil ke skala korporasi dengan kontrak milyaran per bulan?
– Skill komunikasi seperti apa sih yg bisa membuat “orang baru” di sebuah komunitas kemudian diamanahi sebuah kegiatan besar… yang kemudian terlaksana sukses dengan profit berlipat-lipat pula…?
– Skill komunikasi seperti apa sih yg bisa bikin seseorang bisa menciptakan perusahaan yang ketika dijual bikin perusahaan lain berebutan pengen membeli?

Jadi buat yang tertarik untuk naik kelas dengan membedah skill komunikasi beliau, yuk gabung pada:
Β» Sabtu, 28 April 2018
Β» 09.00-16.00
Β» Tebu Hotel, Jl. L.L.R.E Martadinata No. 62 Bandung

Tempat terbatas ya, kelas dibikin format workshop biar efektif supaya materi dagingnya diserap dengan baik.
Kursi hanya tersedia 12 seat lagi. Gak tahu sampai kapan.

Segera klik di sini untuk mengamankan seat Anda: bit.ly/8wscommunication
atau kontak @jargus

PS:
Kadang kita sering cari yang jauh, padahal ada yang dekat.
Kadang kita sering cari di luar, padahal jawabannya ada di dalam.
Kadang kita sering menunda-nunda, padahal tau bahwa solusinya adalah take action.
Kadang sering kita cari cara2 yang canggih, tp lupa bahwa kita punya senjata ampuh dalam diri yg belum di olah.

Karena Guru hanya akan datang jika murid telah siap.

Salam,
Pelayan di Div. EPIK TDA Bandung
Awan Rimbawan

MoslemPreneur

Setelah mendapatkan pencerahan dari suhu @muji ono, ane jadi termenung.
Bayangan kembali ke masa2 awal2 usaha beberapa tahun yg lalu.

Dulu… Waktu mau usaha, ortu ane kurang setuju.
Alesannya lebih baik kerja, karena orang tua ane… wiraswasta itu berat.
Ane pernah menyaksikan ibu pernah bikin pesanan kue sampe jam 2 pagi.
Jam 3 pagi udah bangun lagi lanjut bikin kue.
Itu terjadi berhari2…
Bapak juga coba berbagai usaha, hampir semuanya tidak membuahkan hasil yg diharapkan.
Karena wiraswasta itu berat, beliau ga ingin anaknya mengalami hal yg sama.

Cuman namanya darah muda… rasa penasarannya lebih besar.
Selain itu juga pas kerja pernah terbersit pemikiran.
Kayaknya klo usaha, mungkin ane bakal bisa lebih dekat sama Allah.
Karena ga lagi menggantungkan kepada gaji perusahaan yg pasti ada tiap akhir bulan.

Ternyata oh ternyata…
Setelah dijalani, ternyata lebih berat dr yg sebelumnya dibayangkan πŸ˜€ πŸ˜€
Setelah resign dari kerja, otot eksekusi masih lemah bangettt….
Banyak ide… banyak keinginan… tp sedikit sekali bisa action.
Bahasanya guru ane, nafsu banteng tenaga cacing πŸ˜€ πŸ˜€
Aktifitas yg berulang tiap hari adalah kebanyaikan mikir, berstrategi, berencana ini itu, tp digagalkan lagi pas mau action.

Sampe2 temen yg dulu pernah sekantor jadi kaget pas ketemu ane.
“Wan, kok kamu kurus kering gini???. Kamu ngobat ya???”

Ane cuman bisa tersenyum kecut.

Ga mungkin juga ane ceritain klo ane kebanyakan puasa.
Bukan karena soleh, tp karena ga punya duit sekaligus pusing mikirin tumpukan rencana yang ga ada eksekusinya.

Tapi ane menahan diri untuk curhat kondisi sebenarnya.
Walaupun posisi miskin, tapi masih punya gengsi di hadapan wanita cantik :p

Ditambah lagi, mindset karyawan dan wiraswasta beda.
Jangan2 nanti ane malah tergiur kerja lagi, sekantor lagi dengan dia dan… kemudian … dengannya…
ah… sudahlah… itu masa lalu…

Namun Alhamdulillahnya setelah itu di berikan jalan ketemu dengan orang2 bermindset wirausaha.
Yang gak pelit untuk berbagi ilmu dan pengalaman.
Itulah komunitas TDA.

Di komunitas inilah berkenalan dengan yg namanya mastermind.
Waktu itu ada Pak Kiki Sudiana, Kang dodi diantaranya.

Di mastermind itu enaknya tiap 2minggu ketemuan.
Jadi mau ada progress, ga ada progress, ane tetep datang.
Mau ga mau harus gerak, karena pas dateng harus laporan progress.

Disitulah pertama kali ngerasain sedapnya hasil usaha.
Bisa jualan tas 1200pcs dalam waktu kurang dr 3bln.
Salah satunya gara2 mekanisme mastermind yg harus ngasih progress, dan bisa jadi temen curhat dikala bingung pas mau action.

Yg ane pelajari dari proses tersebut adalah…

1. Usaha itu bukan cuman jalan buat cari uang. Tp terutama, adalah jalan dekat dengan Allah.
Dalam dunia usaha ane jd mengerti bahwa tidak ada yg pasti dan langgeng di dunia ini.
Yang ane dapet, bisa hilang seketika.
Yang ane blm dapet, bisa terwujud dalam waktu sebentar saja.
Denger2 cerita dari pengusaha lain, sesukses apapun bakal bisa rugi juga.
Semuanya mungkin kalau Allah mau.

Sehingga kalau dikasih lebih, tp ga ibadah lebih maka harus mawas diri.
Jangan2 kelebihan itu yg bakal diambil dengan seketika.
Lebih parah lagi kalau dijangkiti dengan kesombongan.
Merasa bahwa keberhasilan ini adalah murni atas usaha sendiri.
Jangan2 bukan hanya diambil, tp bisa2 dihinakan.

Kebalikannya…kalau merasa sedang di dalam kesulitan, tp ga bertambah giat ibadah maka juga perlu waspada.
Karena bisa jadi kesulitan2 itu adalah cara Allah memanggil2 hambanya.
Nah klo dipanggil2 ga dateng, jangan2 nanti lebih keras panggilannya.
Dengan cara ditambah masalah yg lebih berat lagi…lagi…dan lagi…

Pelajaran yang ke 2. Bisnis itu permainan tim.
Bakal berat kalau dijalani sendiri.

Di dalam tim itu ada yg pebih jago dr kita, ada yg setara dengan kita, ada yg skillnya dibawah kita.

Kita perlu berinteraksi dengan semuanya.

Yg lebih jago dari kita adalah mentor, coach, trainer dll.
Perlu didekati buat menimba ilmu dan insight2.

Yg setara dengan kita adalah temen2 seperjalanan.
Interaksi dengan mereka perlu buat saling menyemangati.

Untuk yg pengalamannya masih di bawah kita, itu adalah peluang untuk memberi dan berbagi pengalaman.
Proses ini penting karena bakal mengingatkan… sesusah apapun kondisi, tp selalu ada cara untuk bisa bermanfaat bagi orang lain.
Sehingga dalam diri ini muncul rasa syukur dan mindset berkelimpahan.
Sangat sejalan dengan semangat TDA yang saling memberi dan berbagi.

Namun buat pelajaran nomor 2 ini halangannya adalah: ego
Ego pengen dianggap hebat, akan menghalangi saya bercerita jujur tentang kondisi saat ini. Sehingga orang tidak tahu dan tidak bisa memberikan bantuan.
Ego pengen berhasil dengan usaha sendiri, akan menghalangi saya untuk meminta masukan dari orang2 yg lebih tahu dari saya. Sehingga menahan saya untuk berkembang lewat kolaborasi.
Ego pengen mengalahkan org lain, akan membuat saya minder ketika bertemu dengan org yg lebih hebat. Di saat yg sama, menimbulkan sombong ketika ketemu orang yang kurang dari saya.
Ego pengen selalu sempurna, akan menghalangi saya untuk take action. Semuanya harus nunggu perfect.

Ego-ego tersebut mengisolasi saya dengan orang lain.
Sehingga yg terjadi adalah saya… sendirian… muter2 dipermainkan oleh pemikiran sendiri.

Nah berkaitan dengan ego ini, salah satu cara efektif untuk mempertipisnya adalah dengan membuka diri dan bertemu dengan orang2 baru.
Sowan kepada para guru, menyemangati temen2 seperjalanan, dan juga berbagi kepada rekan2 yg belum tahu.

Beruntung banget… di TDA ketiga hal itu atmosfir tersebut sangat mendukung untuk dilakukan.

Apalagi di acara moslempreneur tanggal 21 nanti…
Banyak suhu bakal dateng, banyak temen2 seperjalanan yg bisa berbagi semangat, dan banyak peluang untuk berbagi skill dan pengalaman kepada orang lain.
Kesempatan untuk bertegur sapa dengan orang2 yg selama ini cuman ketemu di telegram.
Karena tidak ada yang bisa menggantikan silaturahmi secara fisik.

Pertanyaannya, siapkah saya meninggalkan ego saya…
Kemudian take action dengan bertemu para suhu dan rekan2 TDA yang mungkin bisa membuat perbedaan dalam hidup saya?

*SaveTheDate, Moslempreneur 21 April 2018.
*Buruan kontak ke om @david sebelum keabisan tiketnya
*Punya produk bagus tp bingung jualannya? Masih dibuka sponsorship buat yang cari parter bisnis, reseller, atau keagenan. Buruan kontak sist @

RKB Ulum

Marketing selalu menjadi bahasan menarik.
Karena salah satu pilar bisnis ini biasanya gerbang awal menuju sales.

Kemarin ini di acara RKB TDA Bandung, kita belajar bersama tentang FB Ads.
Pematerinya adalah salah satu high quality suhu yang sudah bergelut di dunia ini sejak 2016: Kang Ulum.

Kerja kerasnya di dunia digital advertising ini membuahkan hasil yang manis.
Saya seringkali mendapati beliau malam2 dini hari masih ngulik beginian, di mana orang2 lain masih terlelap tidur.
Seorang pembelajar dan pejuang yang patut dicontoh (y) (y)
Saat ini beliau punya 2 tim di Jambi dan di Bandung dengan belasan karyawan.
Fokusnya pada memasarkan brand sendiri (Batik Zallatra) sambil di waktu yg sama juga membantu memasarkan brand orang lain.

Yang menarik dari pemaparan Kang Ulum adalah fundamental dalam beriklan di facebook.
Ini yang biasanya terlewat di dalam training2 marketing.
Karena jika fundamentalnya belum siap, maka seberapapun efektif teknik marketingnya akan sia2.

Fundamental dalam beriklan ini meliputi:
– Value of product. Seberapa besar manfaat dari produk yang kita jual, atau seberapa besar solusi yang ditawarkan dari produk tersebut.
– Copywriting. Yaitu cara untuk mengkomunikasikan value product kita kepada audience. Karena value yang tidak dikomunikasikan, akan gagal untuk ditangkap oleh customer. Ujung2nya ga jadi beli deh πŸ˜€
– Targeting. Targeting adalah bagaimana cara kita membagi2 market. Karena tidak ada produk yang ditujukan untuk semua orang. Kalau produk ditujukan untuk semua orang, maka valuenya akan sangat kecil sekali.
– Customer Service. Ini adalah komponen sales. Kalau CS/admin kita tidak bisa closing, maka seberapapun orang yang didatangkan dengan usaha marketing, akan sia-sia.

Setelah mensharingkan fundamentalnya, Kang Ulum membagikan tentang pengetahuan dashboard facebook. Bagaimana struktur iklan di dalam dashboard facebook yaitu Campaign, Adsets dan Ads. Dilengkapi dengan bagaimana cara dasar untuk mulai beriklan.

Berbagai fitur facebook advertising dijelaskan dengan lugas oleh Kang Ulum. Misalnya fitur include, suggestion dan exclude. Misalnya kita jualan fashion untuk kalangan menengah. Kita bisa mentargetkan orang-orang di facebook yang suka brand competitor kita. Misal Zara. Setelah ketemu brand competitor, facebook bisa memberikan saran brand2 yang lain. Lalu kita juga bisa mengeluarkan orang-orang tertentu. Misalnya kita bisa tidak menayangkan ke orang-orang yang suka Tokopedia / Shopee. Karena karakteristik marketnya tidak sesuai dengan yang suka brand Zara. Penyuka toped value nya di harga murah, penyuka brand Zara menyukai eksklusivitas dan brand.

Sesi bersama Kang Ulum ini sangat membuka mindset buat orang yang baru awal-awal beriklan, maupun sudah beriklan namun tidak closing-closing.
Mangga silahkan…buat yang gak sempet datang tetapi kepo buat liat2 slidenya bisa di download di sini http://bit.ly/2v35PFy

Moga2 nanti ada sesi lanjutannya biar lebih mantep lagi dan seperti Kang Ulum πŸ˜€

NB:
Jangan lupa tanggal 21 April nanti ada acara keren buangett yaitu MoslemPreneur.
Acara ini ditargetkan untuk para member komunitas TDA yang banyak
Buat yang pengen cari reseller, mengenalkan bisnis, atau membuka peluang kerja sama, masih terbuka kesempatan buat buka booth loh.
Buruan kontak panitia sebelum keabisan tempatnya.

Salam,
Div. EPIK (Edukasi dan Peningkatan Kapasitas Anggota)
TDA Bandung

RKB Tyas Tufine

Assalamualaikum Wr Wb brother/sister dan suhu2 sekalian…

Alhamdulillah, hari ini Epik diberikan kesempatan untuk belajar di RKB bersama suhuwati kita Tyas @tufinehijab

Beliau ini lulus kuliah tahun 2015, berkarir sebentar di perbankan kemudian resign di tahun 2016. Namun sekarang sudah merasakan manisnya belasan ribu order tiap bulannya. Yang jossh gandosh adalah ini semua dimulai dari modal nol.

Tanpa punya banyak follower instagram. Tanpa punya modal duit. Tanpa punya kamera bagus buat foto2. Tanpa punya stok barang dll.

Kok bisa?

Ya karena beliau menggunakan sistem PO.
Duit masuk dulu baru diproduksi.

Sistem PO ini dipilih karena keuntungannya sebagai berikut:

1. Tanpa Modal.
Modal biasanya alasan klasik buat yang mau memulai usaha. Berbeda dengan sistem ready stok yang membutuhkan modal awal. Untuk sistem PO, modal bisa didapat dari customer. Masalah modal, solved.

2. Profit bisa dihitung dengan jelas.
Kesalahan klasik pengusaha adalah dalam penghitungan profit. Penjualan banyak, tp setelah dijumlahkan total semua biaya ternyata ga ada profit. Atau bahkan malah rugi. Nah dengan sistem PO kita bisa melakukan simulasi terlebih dahulu. Bahkan dengan menghitung harga produksi satuan. Habis itu ditentukan pengen margin berapa, dengan dikurangi biaya2. Kalau ternyata order banyak, nanti harga produksi turun menyisakan profit tambahan.

3. No dead stok.
Di awal2 usaha, kita tidak tahu bagaimana mengukur minat dari market. Kalau produksi duluan, kemudian salah mengestimasi biaya, maka akan ada stok yang mati karena tidak laku dijual. Bisa tanya suhu2 di sini yang sudah banyak pengalaman, pastinya pernah ngalamin jebakan betmen yg satu ini.

4. Latihan skill penjualan.
Dengan sistem PO maka fokus di awal adalah menjaring orderan. Skill yg dilatih di sini adalah berjualan.

5. Mengetahui minat pasar.
Kesulitan awal usaha adalah mengetahui barang apa yang bakal laku. Dengan sistem PO maka kita bisa berinteraksi lebih banyak dengan pelanggan. Dari interaksi itu kita bisa tahu selera customer seperti apa, barang apa yang laku. Bahkan seringkali customer Teh Tyas ikut membantu untuk memberikan solusi agar produknya semakin bagus. Bikin produk dibantu sama customer, dibayar pula… enak opo enaak? πŸ˜€

Beberapa quotes powerful yang dinukil dari presentasi Sis Tyas adalah:

“Kesulitan memulai usaha pasti ada. Tetapi kalau kita cuman punya modal 0, maka usaha yg diberikan harus 100. Sehingga bisa mendapatkan hasil 100. Saya ngubek2 penjahit sebandung untuk dapetin penjahit yg mau nerima satuan dan harga terjangkau”

“Di awal usaha pasti ga akan laku. Tetapi yakinlah klo terus berusaha pasti bakal laku.”

“Usaha akan berat kalau sendirian. Dengan gabung ke komunitas usaha, kita bisa dapat banyak masukan”

Nah kalau ingin tahu detailnya bisa dilihat lebih jauh di slide presentasi yg dahsyat di sini: https://goo.gl/G43zZh

Semoga sukses terus sist @tyas dan terus menginspirasi (y)

Salam,
Awan pelayan di Div Epik TDA Bandung.

NB: jangan lupa nanti sore kita ngaji bareng di TDA Mengaji yaaa πŸ˜€

Training Finansial TDA

Kalau melihat poster seperti di atas, ane ngerasa beruntung ada di TDA gan.
Bayangin aja, kursus sejenis yg diadain sama TDA bbrapa yg lalu, hanya 7,5% dari biaya di poster di atas.
Memang bukan perbandingan apple to apple karena poster di atas 2 hari dan workshop adwords tda cuman sehari.
Tapi buat pemula yang baru mau mulai, jelas value for money nya besar sekali.
Trus nanti kalau dasarnya sudah ada, bisa eksplore sendiri lebih dalam.
Budget yg ada juga bisa dipake buat yg lebih penting di stage bisnis saat ini.
Apalagi pemateri di TDA praktisi yang sudah terbukti menjalankan jurus tersebut di bisnisnya.
Bukan sekedar tau teori dan sumber utama pendapatannya dari jualan seminar.

Cerita lain tentang kursus sejenis yg ada di luaran TDA, ane jg pernah ikut workshop Financial Literacy gan.
Waktu itu workshop nya dibandrol dengan harga 4jt.
Ternyata isi di dalemnya mirip banget dengan yang diajarin sama suhu ane Mas Baim di workshop TDA.
Murah banget diadain sama TDA, dengan isi yang gak murahan.
Karena digabungkan dengan pengalaman beliau mengembangkan bisnisnya sendiri.
Terbukti.

Nah sekarang, kok ya ndilalah TDA mau ngadain training finansial lagi.
Dengan biaya yang naudzubilah murah banget, dibalikin pula duitnya.
Bertaburan doorprize pula.

Masih kurang josh?
Yang ane rasain, ikutan workshop di TDA kesempatan ketemu sama suhu2 yang lowprofile.
Selama ini ga pernah muncul di panggung, tapi bisnisnya super sehat dan bikin ngecess πŸ˜€
Ga mau sebut nama ah, menjaga privasi beliau… tp nanti klo ketemu dan kenal langsung orangnya pasti bakalan paham.

Ane rasa, TDA ini bikin kursus finansial juga bukan tanpa sebab.
Karena ini fundamental banget.
Gagal memahami finansial berujung pada kerja pagi pulang malam, omset gila-gilaan, profit maksimal tetapi gak punya cash buat gaji karyawan.
Ngenes…

Namun kalau memang di reg member tidak ada yang mau daftar lagi, kayaknya saya harus merelakan…
Merelakan Mas Yusuf dan Mbak Dessy membroadcast ini di group umum dan sosmed.