Barang Siapa Tujuannya Adalah Dunia

Dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu , ia mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.

Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. ”

————————-

Berkaitan dengan hadits di atas… Saya bertanya kepada Pak Ustad: Apakah dunia itu hanya harta Pak Ustad?

Kata Pak Ustad:
Oh bukan hanya harta… tetapi semua hal yg bisa di cerap oleh indera, fikiran dan perasaan.
Termasuk diantaranya adalah keinginan untuk dihormati…
Keinginan untuk dianggap hebat
Keinginan untuk dianggap keren
Keinginan untuk dianggap sukses oleh orang lain
Keinginan untuk di… (silahkan isi sendiri)

Kalau ini terus dilakukan maka akan terjangkit tiga penyakit:
1. Kegelisahan yg terus menerus
2. Keletihan yg berkelanjutan
3. Penyesalan yg tidak pernah berhenti

Mendengar jawaban Pak Ustad… ane pun bagaikan tertampar-tampar… Betapa banyak keinginan2 itu ada di dalam hati ane.
Pantesan aja ane sering terjangkiti penyakit di atas…
Trus obatnya gimana Pak Ustad?

Kata Pak Ustad:
Dari pada ingin dihormati… gantilah dengan menghormati orang lain.
Daripada ingin dikenal… gantilah dengan berusaha mengenal orang lain.
Daripada ingin didengar… gantilah untuk belajar diam dan mendengarkan.
Daripada ingin dianggap hebat… gantilah untuk menghebatkan orang lain.
Daripada ingin dibantu orang… gantilah untuk membantu orang lain.
Daripada ingin dianggap sukses… gantilah untuk mensukseskan orang lain.

Karena sebaik2nya kedudukan dan kehormatan bukanlah di mata manusia… tetapi di mata Allah…

Pak Ustad juga menambahkan…

Kegiatan dunia bisa juga bernilai akhirat, tergantung niat di dalam hatinya.

Misalkan kerja, itu adalah aktifitas dunia. Tetapi jika kerja bukan diniatkan tujuannya semata2 uang, tetapi untuk membantu orang lain untuk mengharapkan ridlo dari Allah, maka itulah aktifitas dunia yg bernilai akhirat.

Sebaliknya, aktifitas ibadah yg ditujukan untuk mendapatkan dunia pun ada juga. Misalkan jadi imam dengan niat agar diketahui orang hafalan nya banyak dan nadanya bagus. Maka itu tidak akan ada nilainya di sisi Allah.

…. hatur nuhun pencerahannya Pak Ustad

Bertasbih dan Bekerja Keras Untuk Allah

#7

وَإِذْقَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَئِكَةِ اِنِّى جَاعِلٌ فِىْ الاَرْضِ خَلِيْفَةً قَالُوْا أتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّى أَعْلَمُ مَا لاَتَعْلَمُوْنَ {البقرة: 30}.

“Dan ingatlah tatkala Tuhanmu berkata kepada para Malaikat:’Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di muka bumi . Mereka bekata:’Mengapa Engkau hendak menjadikan (Khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? Tuhan berfirman:”Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui ” (QS.Al-Baqarah: 30).

Ada ulama yg menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut:

Malaikat menyangka bahwa manusia akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah.

Dibandingkan dengan malaikat yang senantiasa bertasbih dan memuji Allah.

Kata bertasbih dan memuji Allah itu bukan berarti duduk dan mengucapkan Subhanallah berulang2.

Tetapi malaikat senantiasa menuruti perintah Allah, bekerja siang dan malam sesuai perintah Allah.

Kalau lawan dari kata merusak adalah merawat… Maka yang malaikat lakukan adalah merawat alam semesta ini dengan baik sesuai dengan perintah Allah.

Maka jika manusia diperintahkan untuk bertasbih dalam surah An Nasr ayat 3:

(3). فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚإِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
fasabbih bihamdi rabbika wastaghfirhu innahu kaana tawwaabaa (maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.)

Maka bukan hanya berarti hanya duduk sepanjang hari mengucapkan Subhanallah berulang kali tetapi justru harus ditambah dengan bergerak, berusaha, bekerja keras, berpikir dan memanfaatkan akal, sehingga bisa memberikan manfaat bagi alam semesta. Dengan diniatkan untuk Allah.

Bertasbih, memuji Allah dan memohon ampunan bukan hanya bisa dilakukan sambil duduk diam… Tetapi terutama dilakukan secara aktif dalam pekerjaan yang kita lakukan.

Wallahu ‘alam bishowab.

Selamat weekend brother/sister, aku doakan bisa terus semangat bekerja dan berbuat kebaikan untuk mengharap ridho Allah 

Cara Menghapuskan Dosa

#6

Semua doa pasti dikabulkan oleh Allah.

Namun sayangnya doa itu terhalang oleh dosa2 dan maksiat.

Bagaikan gelas, air akan mudah sekali masuk jika tidak ada tutupnya.

Namun jika ada tutupnya, maka air tidak akan bisa masuk walaupun air terus menerus dituangkan.

Jadi kalau kita mendapati:

  • hati galau terus menerus
  • pikiran bingung kesana kemari
  • berbagai usaha dilakukan tapi tidak ada hasilnya
  • sakit datang silih berganti
  • rezeki terasa seret
  • sudah berdoa tetapi tidak kunjung selesai…

Besar kemungkinan semua itu diundang oleh dosa dan maksiat yang kita pernah lakukan.

Nah terus gimana dong kalau seperti saya yg terlanjur banyak melakukan dosa dan maksiat?

Dalam sebuah kajian, saya mendengar bahwa dosa dan maksiat bisa dihapuskan dengan 4 cara:

  1. Bertaubat
  2. Berbuat baik
  3. Sabar dalam ujian kesulitan
  4. Dibayar di akhirat

Bertaubat bisa dilakukan dengan banyak-banyak membaca istighfar, mohon ampunan kepada Allah dan menyesali dosa-dosa yang pernah diperbuat. Kemudian bersungguh-sungguh mencari cara dan strategi untuk tidak mengulanginya lagi. Bisa juga dengan memperbanyak sholat taubat.

Berbuat baik bisa dilakukan dengan bersedekah, meningkatkan ibadah, ikut serta dalam project-project kebaikan. Bisa juga dengan mengajak orang lain kepada kebaikan.

Dosa dan maksiat akan mengundang berbagai ujian kesulitan. Sakit yg datang silih berganti, usaha yg tidak kunjung membuahkan hasil, kesialan dan kehilangan barang-barang, dlsb. Namun itu pun hadir karena kasih sayang Allah. Allah ingin memanggil kita untuk menjauhi dosa dan mendekat kepadaNya. Jika kita sabar dalam menghadapi berbagai ujian itu dan berprasangka baik kepada Allah maka hal itu bisa menggugurkan dosa-dosa kita.

Ketiga hal di atas bisa dilakukan di dunia. Namun jika kita tidak juga melakukannya, maka pilihannya adalah dibayar di akhirat. Dibakar di neraka. Itupun karena kasih sayang Allah. Allah menunjukkan bahwa Dia menciptakan neraka agar kita tidak berbuat dosa dan maksiat di dunia. Karena dosa dan maksiat akan membuat hidup di dunia sulit dan menderita. Allah ingin ciptaanNya selamat di dunia dan akhirat.

Saya menulis ini bukan untuk mengajari siapapun. Tetapi agar menjadi catatan dan pengingat bagi diri saya yang telah banyak melakukan dosa dan maksiat. Semoga saya bisa melakukan 3 hal yg awal, sebelum waktu saya habis dan harus membayarnya di akhirat.

Saya juga mendoakan bro/sist semuanya… agar selalu diberi hidayah oleh Allah… hidup bahagia penuh kedamaian di dunia dan selamat sejahtera di akhirat…

Semoga kita bisa memanfaatkan kesempatan hidup di hari ini, Jumat barokah 🙂

Mengobati Iri Dengan Mendoakan Orang Lain

#5
 
Kata Pak Ustad, salah satu cara untuk mengobati penyakit hati adalah doa.
 
Terutama penyakit hati seperti iri.
 
Iri bisa menyebabkan SMS. Susah Melihat orang lain Senang. Senang Melihat orang lain Susah.
 
Jika muncul kesadaran bahwa saya iri melihat pencapaian orang lain, segeralah beristighfar.
 
Istighfar adalah sebuah cara untuk memohon ampun, sekaligus meminta perlindungan.
 
Setelah itu dilanjutkan dengan mendoakan orang yang kita iri kepadanya. Lebih bagus lagi dengan menyertakan objek yg membuat kita iri. Misalnya:
 
“Ya Allah tambahkanlah rejeki kepada orang tersebut”
“Ya Allah berikanlah keberkahan di setiap uang yg dia dapatkan”
“Ya Allah jadikanlah pendapatan yg dia terima menjadi bermanfaat buat keluarga, orang tua dan anak2nya”
“Ya Allah berikanlah dia kebahagiaan”
 
Dengan mendoakan orang lain, maka kita mendidik hati supaya kembali kepada fitrahnya.
 
Fitrahnya hati adalah selalu mengajak kepada kebaikan.
Fitrahnya hati adalah senang melihat orang lain bahagia. Justru sedih melihat orang lain berada dalam kesulitan.
Fitrahnya hati adalah memahami bahwa Allah Maha Tak Terbatas. Dia bisa menciptakan matahari, bulan bahkan galaxy sekalipun. Kalau Allah mau, semuanya bisa diberikan untuk kita.
Sehingga tidak ada yg perlu di-iri-kan.
 
Terima kasih Pak Ustad atas pencerahannya 🙏🙂

Kenikmatan Dunia VS Kenikmatan Spiritual

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh my brother/sister semuanya 🙂

Hari kemarin aku reset lagi, padahal baru aja mulai #1.
Alhamdulillah hari ini diberi kekuatan dan kesempatan untuk memulai #1 lagi.

Kemarin, yang ada di pikiran adalah ketika reset maka yang perlu aku lakukan adalah 2 hal:
1. Mengganti dengan ibadah yang lain
2. Melakukan sesuatu yang berbeda sehingga bisa mulai bangun malam lagi.

Untuk yang nomor 1, aku menggantinya dengan dzikir.
Biasanya agenda dzikir sehari 1 jam, karena tidak bangun malam maka dzikir kemarin jadi 2 sesi x 1 jam.

Untuk yang nomor 2, yang berbeda adalah sholat Isya.
Sewaktu reset itu, sebelumnya sholat Isya tidak berjamaah, nah kemarin aku jadi sholat isya berjamaah.

Kebetulan kemarin bertemu secara virtual dengan seorang sahabat.
Dia membahas tentang perbedaan antara kenikmatan dunia vs kenikmatan spiritual.

Kenikmatan dunia pada umumnya mempunyai sifat:
– Sementara. Nikmat sebentar, habis itu hilang.
– Bikin ketagihan, tidak tahu batas dan terus menerus diinginkan
– Panas, menggelora.
– Jumlahnya terbatas.
– Kenikmatan ini berujung pada penderitaan.

Kenikmatan spiritual mempunyai sifat:
– Lebih tahan lama
– Memberikan perasaan cukup dan damai
– Sejuk, tenang.
– Jumlahnya tak terhingga.
– Kenikmatan ini berada dalam kebahagiaan.

Kenikmatan dunia, dinikmati lewat panca indera.
Kenikmatan spiritual, dinikmati lewat hati.

Kenikmatan dunia, saya tidak punya kontrol atasnya.
Kapanpun bisa hilang, habis, atau musnah begitu saja.
Ketika hilang, maka saya akan menderita.
Ketika dipuaskan, sifatnya sebentar, mood membaik, tp dalam waktu sebentar juga akan hilang.

Kenikmatan spiritual, saya bisa akses kapan saja.
Saya bisa berdzikir di mana saja dan kapan saja.
Saya bisa ubah bingung menjadi tenang dengan mengakses kenikmatan spiritual.

Saya di sini tidak berkata bahwa seseorang tidak boleh menikmati kenikmatan dunia.
Tetapi, sangat penting untuk mengetahui karakter dari kenikmatan dunia dan bagaimana bedanya dengan kenikmatan spiritual.

Kuncinya disini bukanlah untuk meninggalkan kenikmatan dunia seketika dan seluruhnya.
Tetapi sedikit demi sedikit mencicipi kenikmatan spiritual, sehingga hidup bisa penuh ketenangan dan kedamaian. Jika sudah terlatih maka, tenang dan damai ini akan dapat diakses kapan saja dan di mana saja.

Proses ibadah, sejatinya adalah bukan sekedar menjalankan kewajiban.
Tetapi adalah sebuah latihan untuk bisa mencicipi kenikmatan spiritual ini.

Malam2… indera saya menginginkan kenikmatan dunia.
Tempat tidur yg empuk…
Lelap yang nyaman…
Selimut yg nyaman…

Bisakah di sela2 malam hari, saya mencicipi kenikmatan spiritual?
Sejuknya hati berdzikir di dalam senyapnya malam.
Tenangnya pikiran ketika meletakkan kepala di atas sajadah.
Damai terasa ketika melantunkan ayat-ayat Al Quran di dalam tahajud?

Mengikuti jejak para kekasih Allah… yang lebih memilih kenikmatan spiritual daripada kenikmatan dunia…

Salam,
Your brother… Awan

Mengendalikan Emosi

#10

Jika ada orang yg berbuat kesalahan dan membuat saya marah, maka saya punya dua pilihan:
.
1. Melampiaskan emosi saya dan menuntut orang itu untuk berubah.
2. Belajar arti sabar dan kasih sayang. Sehingga saya bisa meningkatkan diri saya.
.
Kira2 Allah lebih suka saya melakukan yang mana?
.
Jika saya mengambil pilihan no:1 maka saya akan melatih sifat emosional saya menjadi lebih kuat.
Saya akan berlatih mengembangkan sifat emosional saya lewat satu hal. Lalu lewat hal lain…
Tak terasa waktu berlalu…satu tahun… dua tahun… 5 tahun… bertahun2 latihannya.
.
Apa yang saya latih, itulah yg akan menjadi kuat.
Sehingga tanpa sadar saya akan menjadi orang berumur yang punya sifat emosional meledak2.
Saya tidak bisa mengendalikannya lagi, karena sudah sedemikian kuatnya.
Sifat emosional itulah yang akan memiliki diri saya.
.
Bagaimana dengan menuntut orang lain untuk berubah?
Hehehe… jangankan merubah orang lain…
Merubah diri sendiri aja sulit 😀
.
Badan sendiri, pikiran sendiri, dibawa2 kemana2… coba deh dirubah.
Ga usah yg susah2… coba bangun lebih pagi dari biasanya… bisa merubah diri sendiri?
.
Kalau merubah diri sendiri aja susah, bagaimana bisa menuntut orang lain untuk berubah?
.
Yang ada adalah frustrasi, karena apa yang saya tuntut tidak tercapai.
.
Bagaimana jika saya mengambil pilihan no:2 ?
Bukannya ini susah?
.
Memang lebih susah, tetapi semua ada ilmunya.
.
Jalannya akan lebih simple kalau saya mau menggali lebih dalam lagi tentang pertanyaan ini:
– saya berasal dari mana?
– saat ini apa tugas saya?
– tujuan saya kemana?
.
Salah satu guru saya menyampaikan… orang yang tidak bisa sabar, itu karena mikirnya hanya dunia ini. Tetapi kalau dia berpikir tentang akhirat yang abadi, maka apa yang terjadi di dunia ini sangatlah sebentar.
.
Sabar bukan berarti memendam emosi.
Tetapi memahami dengan seksama, apakah hal tersebut layak untuk dipertikaikan atau tidak?
.
Apakah hal itu pantas untuk menghabiskan waktu hidup saya yg sebentar ini?
Pantas untuk menguras emosi saya?
Pantas untuk mengguncang jiwa saya?
Pantas untuk merusak hubungan saya dengan orang2 di sekitar saya karena terpengaruh dengan hal itu?
.
Ataukah saya bisa menggunakan waktu, pikiran, emosi untuk hal2 lain yang lebih produktif?
.
Sabar dan kasih sayang bukanlah kelemahan.
Justru itu adalah jalur penghubung kita dengan Yang Maha Sabar… Yang Maha Mengasihi dan Maha Menyayangi…
.
Kalau kita sudah terhubung dengan Yang Maha… apa sih yg gak dikasih buat kita? 🙂

“Demi masa.
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh
dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran
dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”
.
Wallahu ‘alam Bishawab…
Semua ilmu hanyalah milikNya…

————–
Pesan sponsor: gimana progress tahajudnya bro/sist? 🙂

Beban Masa Lalu

Setiap orang pasti punya beban masa lalu.
Beban-beban ini jika terlalu lama dipegang maka akan menghasilkan luka batin.
Beban masa lalu dan luka batin ini disadari atau tidak, akan menghasilkan respon otomatis terhadap hidup keseharian.

Ada satu orang ketika makan di sebuah restoran ternyata pelayannya mendahulukan pesanan orang lain.
Padahal dia datang lebih dulu.
Responnya: gebrak meja… marah2 dan ngamuk.

Ada orang kedua, ketika mengalami hal yang sama memberikan respon yg berbeda.
Dia bisa menegur dengan cara yang santun dan rilex.

Kejadian yang sama, respon yg sangat berbeda.

Pada kasus yg lain…
Ada satu orang, ketika berinteraksi dengan orang lain permasalahan uang maka cenderung mengikhlaskan.
Ya udahlah… duit bisa dicari lagi… biarin aja.
Yg penting next time jaga2 aja.
Ada ya dikasih, ga ada ya bilang seadanya.

Ada orang kedua, ketika hutangnya tidak dibayar2 marah2 luar biasa.
Nagih2 sampai debt collector dibawa2.
Kalau perlu diperkarakan.

Kejadian yang sama, respon yg sangat berbeda.

Kalau kejadian nya sama, tp responnya berbeda… berarti yang membuat sesorang marah/emosi/bingung/stress bukanlah kejadiannya.
Tetapi sesuatu di dalam diri.

Menengok dua kasus di atas, kita bisa berkaca…
Hidup tidak pernah memberikan kejadian yang selalu sesuai dengan keinginan saya.

Orang lain tidak bisa saya kontrol.
Juga tidak semua keadaan bisa berjalan sesuai keinginan saya.

Kalau di setiap kejadian yg tidak sesuai keinginan saya maka respon saya adalah marah2, bingung, stress…
Maka pasti ada beban2 yang saya bawa dari dulu, sehingga menimbulkan luka di dalam diri.
Luka itu jika disentuh, maka akan sakit dan saya akan meradang.
Karena kalau kulit saya tidak ada lukanya maka, disentuh juga tidak ada masalah.

Dengan memahami hal ini, maka yg perlu saya lakukan bukanlah menyalahkan orang dan keadaan diluar diri saya.
Tetapi berkaca lagi ke dalam…
Apa sih yang Tuhan inginkan dari diri saya?

Bukankah Tuhan Maha Pemaaf?
Lalu kenapa saya tidak mau memaafkan kesalahan orang lain?

Bukankah Tuhan Maha Pengasih?
Lalu kenapa saya tidak mengedepankan kasih sayang malah mengumbar emosi?

Bukankah Tuhan Maha Sabar?
Mungkinkah Dia ingin mengajarkan kesabaran kepada saya lewat peristiwa ini?

Karena kesabaran tidak bisa dipelajari lewat kondisi yang mudah, hal itu hanya bisa dijalani lewat kondisi yang sulit.
Kesabaran tidak bisa dipelajari ketika saya bertemu dengan orang yang sabar, kesabaran dipelajari ketika saya dipertemukan dengan orang yang emosional.

Gimana caranya?

Kemampuan manusia terbatas.
Godaan setan sedemikian kuat.
Nafsu yang dibentuk dari habit bertahun2 sudah sedemikan mencengkeram jiwa.

Satu2nya cara adalah meminta pertolongan kepada Yang Maha Kuat dan Yang Maha Tak Berbatas.
Mohon pertolongan agar dilapangkan dada saya…
Mohon pertolongan agar diturunkan beban yang jika dibawa terlalu lama maka akan menimbulkan luka…

Maka jika beban2 itu sudah lepas dari punggung…
Seseorang akan bebas untuk bisa berkerja dan berkreasi di muka bumi ini…
Otomatis maka kesuksesan pun akan datang karena mampu mencipta tanpa beban.

Setiap ada kesulitan yang datang, tidak akan membebani… orang itu pun dengan ringan akan memilih action lain yg lebih produktif.
Maka setelah kesulitan akan ada kemudahan…

Orang seperti ini, mampu terlihat tidak punya rasa capek.
Staminanya luar biasa, pencapaiannya banyak.
Setelah beres mengerjakan satu project, maka dia akan bisa dengan sigap membereskan project yg lain.

Dan orang2 seperti ini… tidak akan berharap banyak kepada manusia lain.
Karena dia tahu, manusia itu adalah makhluk yg terbatas.
Gampang berbuat kesalahan, gampang berbuat error.
Dia hanya akan berharap kepada Tuhan…

————-
“Bukankah kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?”
“Dan kami pun telah menurunkan beban darimu,”
“yang memberatkan punggungmu,”
“dan kami tinggikan sebutan mu bagimu.”
“Maka sesungguhnya berama kesulitan ada kemudahan,”
“sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”
“Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yg lain)”
“dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap”

>>> ada yg tahu surat apa ini? 🙂

Ilmu Permen

(QS. Alam Nasyroh: 5)
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

(QS. Alam Nasyroh: 6)
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Beberapa minggu yang lalu saya bertemu dengan seorang ustad yang bercerita tentang ilmu permen.

Maksudnya seperti apa ilmu permen itu?

Jadi misalkan saya punya sebuah permen di kantung celana saya.

Permen itu tidak ada bungkusnya.

Lalu saya ambil di kantung celana saya dan kemudian saya berikan kepada Anda.

Maukah Anda menerima dan memakannya?

Tentu saja tidak…

Anda mungkin akan berpikir, jijik, kotor, dlsb…permen di saku celana dan tidak ada bungkusnya kok mau dikasihin ke orang lain.

Nah bagaimana misalkan di kantung celana yang lain ternyata ada permen juga yang masih ada bungkusnya. Jika saya berikan pada Anda, kemungkinan besar Anda mau menerimanya.

Padahal jika Anda terima… Anda akan buka bungkusnya, dibuang dan kemudian dimakan permennya.

Nah kemudahan/rezeki datang kepada kita juga sama, tidak pernah tanpa bungkus.

Padahal kita tidak butuh bungkusnya, tetapi secara mekanismenya dia akan datang dengan bungkus.

Bungkus nya adalah berupa kesulitan.
Bungkus nya adalah rasa sakit.
Bungkusnya adalah apa yang selama ini kita sebut musibah.

My brother/sister…
Seringkali ketika sebuah kejadian yang sulit, menyakitkan, atau kita anggap sebagai musibah… kita serta merta menolaknya.
Menggerutu.
Mengeluh.
Menyebarkan kabar ke sosial media dan semua friendlist kita.
Padahal ini adalah cara tercepat untuk menolak rezeki dan kemudahan yg akan datang bersamanya.

Namun jika kita sabar, menerima dengan ikhlas…
Sambil berpikir… “Wow..bungkusnya aja segede ini (sesulit dan semenyakitkan ini), apalagi nanti isinya?? Alhamdulillah…terima kasih Ya Allah… saya ikhlas atas segala ketentuanmu…”
Maka rezeki dan kemudahan akan datang bersamanya.
Ayatnya pun jelas… sesudah kesulitan ada kemudahan.
Bahkan diulang dua kali untuk mengingatkan lagi.
Sesudah bencana ada keberuntungan.
Sesudah kerugian ada profit.
Sesudah kegagalan akan ada kesuksesan.

Saya punya teman yang sikap mentalnya selalu positif.
Hidup tidak selalu mudah untuknya.
Tetapi dia tidak pernah sekalipun berbicara yang negatif ataupun mengeluh.
Baik di kalangan teman2nya sendiri, apalagi di sosial media.

Jika berkunjung ke timeline nya dipenuhi dengan kalimat2 yang menginspirasi.
Jika menyapanya di WA akan didapatkan semangat.
Walaupun bisa jadi kondisinya lg terlihat semrawut.
Sejak dulu saya tahu banyak hal yang harus diurus, urusan keluarga, urusan adik2nya…
Belum lagi isi kepalanya dipenuhi dengan bagaimana agar bisnisnya bisa survive, cara gaji karyawan, memotivasi team, menyusun strategi, dll.
Saya bisa mengerti bahwa dia juga punya rasa takut, ketidakpercayaan diri, kebingungan, kekecewaan apalagi ketika usahanya tidak berjalan seperti yg dia inginkan.
Saya sangat tahu bahwa dia bangun jam 2 pagi sementara suaminya masih tidur lelap.
Saya sangat tahu bagaimana dia membangun bisnis untuk menghidupi keluarga sementara suaminya bersikap “santai” dan “jangan ganggu me time aku yah!”

Tetapi saya amat salut dengan sikap mental positif yg dia miliki.
Maka dia pun kemudian menarik orang2 positif ke dalam hidupnya.
Dia menarik rejeki2 ke dalam hidupnya.
Bukan hanya berupa uang, tetapi juga kesempatan dan kelapangan hati.
Karirnya melesat dan dikelilingi oleh sahabat2 yang siap membantunya.

Karunia besar adalah memiliki karakter untuk tetap bisa tersenyum, bersyukur dan menikmati proses yg diberikan Tuhan di depan prahara kehidupan.

Dia adalah saksi hidup bahwa barang siapa yang bersyukur maka akan Ku tambahi, dan barang siapa yang tidak bersyukur /mengingkari nikmatku maka siksaKu amat pedih.
QS. ‘Ibrahim [14] : 7

Tulisan ini untuk diri saya sendiri, semoga saya bisa mengingat bahwa yang memberikan bungkus itu Tuhan… dan yang memberikan permen itu juga Tuhan.

Ketika saya mengeluh tentang “bungkus”, pada hakikatnya adalah saya juga menyalahkan Tuhan. Bungkus ditolak, isi juga akan hilang.

Ketika saya menerima dengan ikhlas “bungkus”, maka Tuhan pun akan membukakan dan memberikan isi nya yang manis kepada saya…

Dosa dan Tahajud

DOSA DAN TAHAJUD

Assalamualaikum men temen…

Pengen cerita sedikit tentang kondisi tadi malam. Berkaitan dengan analisa mengapa itu bisa terjadi.

Tadi malem aku coba pakai 2 teknik. Yang pertama minum air dari om Matori dan juga foto ember alarmy.

Sebelum tidur, aku minum air putih 4 gelas.

Dengan harapan kebangun biar bisa ke belakang.

Nah bener aja bisa bangun jam setengah 2.

Tp sampe kamar mandi, setelah menyelesaikan hajat engga sekalian wudlu tp balik lagi ke kasur.

“bentar baring2 dulu deh… masih setengah 2”, pikirku.

Trus jam 2 nya kebangun karena dibangunin sama istri.

Alarmy bunyi, dan ga berhenti sebelum foto ember merah di kamar mandi.

Ya udah deh jalan ke kamar mandi, foto ember.

Engga sekalian wudlu… balik lagi ke kasur.

Bangun2 udah denger qomat subuh. Bahkan adzan aja ga kedengeran…

Akhirnya reset lagi.

Nah dari experience yang aku alamin, aku coba instrospeksi dan mempelajari kenapa hal ini bisa terjadi.

Setelah dilihat-lihat Ini persis sama sepertii waktu awal2 aku bentuk group ini.

Jadi ketika aku membentuk group ini, kondisinya bukan karena aku udah bisa rajin tahajud secara konsisten.

Tetapi justru karena engga berhasil2 untuk melakukan tahajud.

Karena frustrasi gak bisa2, setelah lama nyobain sendirian ga berhasil2…akhirnya ga ada jalan lain… selain ngajakin orang lain, walaupun diri sendiri belum bener. Harapannya akan bisa saling mengingatkan dan menyemangati untuk bisa melaksanakan tahajud. Alhamdulillah rekor berturut2nya #38 walaupun belum sampai #90. Alhamdulillah begitu ga tahajud semalam, langsung disambung lagi dengan malam berikutnya engga perlu nunggu berminggu-minggu atau berbulan-bulan kemudian baru mulai lagi.

Tapi itu merupakan lompatan besar, karena waktu group ini dimulai, aku selalu kelewatan. Bukan hanya tahajud, tetapi juga subuh.

Subuhnya selalu bernuansa dluha…Astaghfirullah…

Waktu itu segala teknik sudah dicoba, segala tips sudah dilaksanakan tetap engga bisa.

Ternyata yang memberatkan aku untuk tahajud walaupun sudah berulang kali bisa bangun adalah: dosa

Dosa adalah pemberat aku melakukan tahajud.

Jadi walaupun sudah bangun, tetap mode otomatisnya adalah matiin beker dan tidur lagi.

Setelah aku browsing2, dengerin ceramah2 di youtube maupun dengerin pengajian secara langsung…, dosa ini punya dua sisi.

Yang pertama sisi psikologis dan kedua sisi spritual.

Sisi psikologis dari melakukan dosa adalah diikuti dengan rasa bersalah.

Rasa bersalah itu bisa menghalangi untuk melakukan ibadah2 yg lain.

Ada pikiran gini: “ah kamu munafik banget… habis melakukan dosa trus ibadah…”

“Udah lah, ga usah…”

“Masak habis melakukan dosa trus sholat, gak malu apa sama dosa2 yg kamu lakukan tadi?”

Akhirnya ibadah2 yg lain pun tidak dilakukan.

Bayangkan saja, ketika kondisi sadar 100% saja untuk melakukan ibadah saja berat dengan pikiran seperti itu.

Apalagi kondisi belum sadar 100% misalnya seperti bangun tidur.

Padahal pikiran2 itu berasal dari bisikan2 setan untuk menghalangi orang2 beribadah lebih banyak lagi.

Justru yang seharusnya dilakukan setelah berbuat dosa adalah bertaubat, ibadahnya ditambah, berbuat baiknya juga ditambah.

Bahkan ketika dosa itu sudah menjadi habit, jangan pernah berhenti untuk bertaubat dan jangan berhenti untuk menambah ibadah.

Jangn berhenti untuk meminta ampunan, meminta perlindungan dan terus menambah ibadah serta berbuat kebaikan.

Dari Abu Huroiroh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang diceritakan dari Rabbnya ‘azza wa jalla,

Dari Abu Huroiroh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang diceritakan dari Rabbnya ‘azza wa jalla,

أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا فَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَىْ رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَبْدِى أَذْنَبَ ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَىْ رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ

“Ada seorang hamba yang berbuat dosa lalu dia mengatakan ‘Allahummagfirliy dzanbiy’ [Ya Allah, ampunilah dosaku]. Lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa’. (Maka Allah mengampuni dosanya), kemudian hamba tersebut mengulangi lagi berbuat dosa, lalu dia mengatakan, ‘Ay robbi agfirli dzanbiy’ [Wahai Rabb, ampunilah dosaku]. Lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa’. (Maka Allah mengampuni dosanya), kemudian hamba tersebut mengulangi lagi berbuat dosa, lalu dia mengatakan, ‘Ay robbi agfirli dzanbiy’ [Wahai Rabb, ampunilah dosaku]. Lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa. Beramallah sesukamu, sungguh engkau telah diampuni.”( HR. Muslim no. 2758). An Nawawi dalam Syarh Muslim mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan ‘beramallah sesukamu’ adalah selama engkau berbuat dosa lalu bertaubat, maka Allah akan mengampunimu.

Lebih lanjut dari sisi psikologis… setiap dosa itu punya trigger.

Trigger ini bisa berkaitan dengan 5 panca indera: apa yg dilihat, didengar, dicium atau disentuh.

Trigger ini bisa juga berkaitan dengan situasi.

Nah untuk menghindar dari dosa2 yang sudah sering dilakukan, pertama2 adalah mengidentifikasi trigger2 ini.

Waktu melakukan dosa, sebelum nya ngapain, situasinya gimana.

Misal dosa orang yang kecanduan alkohol… trigger nya apa? melihat film action dan di salah sastu adegannya ada orang yg minum2an keras sambil ngumpul sama teman2nya… dll.

Lalu dia tertrigger untuk minum2 dan melakukan hal2 yang lebih berdosa lagi.

Nah trigger2 ini setelah diidentifikasi, maka harus dihindari atau diubah.

Apa yang dilihat mata, apa yang didengar, apa yang dicium, kondisi2 yang memungkinkan untuk berbuat dosa…

Semua trigger, setelah di identifikasi…harus dihindari…

Nah temen2… tulisan ini sebenarnya sebagai pengingat buat diriku sendiri.

Tujuannya agar terus mengurangi dosa, menambah ibadah serta berbuat kebaikan.

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53).

Puasa dan Kehidupan Sehari-hari

#33
Cara saya menjalani hidup, bisa tercermin dari bagaimana saya Sholat…

Apakah ketika sholat pikiran lompat kemana2 ?
Besar kemunginan pada saya mengerjakan sesuatu hal juga sulit untuk fokus.

Apakah ketika sholat saya terburu2 ?
Besar kemungkinan juga pekerjaan inginnya buru2 dan sekedar beres kewajiban saja.

Kalau ketika sholat saya sekedar membaca bacaannya tanpa meresapi maknanya…
Besar kemungkinan apapun yg saya lakukan di dalam kehidupan tidak pernah berdoa dengan khusyuk, terhubung kepada kekuatan Sang Maha mewujudkan segala sesuatu….

Apakah ketika sholat saya teringat tentang apa-apa yang belum atau harus saya kerjakan?
Besar kemungkinan bahwa di kehidupan saya juga sulit untuk berada “di sini – di saat ini” untuk memberikan hasil terbaik.

Apa yang saya lakukan pada saat saya sholat, itu juga apa yang saya lakukan dalam kehidupan saya.

Sehingga jika saya ingin kehidupan saya lebih baik, maka saya perlu berlatih untuk lebih baik di dalam sholat saya.

Terburu-buru, tidak khusyuk, terlempar di pikiran masa lalu dan masa depan yang penuh kekhawatiran dan penyesalan, tidak terhubung kepada kekuatan Yang Maha mewujudkan… akan berakibat kepada pemilihan keputusan yang buruk…. pemilihan keputusan yang buruk akan berakibat pada tindakan yang buruk… tindakan yang buruk…keji dan munkar…

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

… dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar