LAPORAN KEGIATAN TDA BULAN JULY 2020

 

“Jika belum bisa melakukan yang ideal, jangan ditinggalkan semuanya…”

Itu kalimat yang terngiang2 di bulan july kemarin ketika membersamai kegiatan2 komunitas TanganDiAtas Bandung.

Alhamdulillah, di tengah2 kondisi kesehatan dan bisnis yang tidak menentu ini… member TDA Bandung masih aktif melakukan berbagai kegiatan.

Yang paling baru kemarin adalah TDAQurban.

Lokasinya di atas gunung. Di tempat yang jarang ada qurban. Yang berbeda adalah kali ini pesertanya dibatasi. Dari TDA hanya 20 orang saja. Padahal biasanya bisa ratusan orang member TDA yang datang.

TDAQurban tahun ini sangat menarik bagi saya. Karena dalam mengadakan sebuah acara banyak perhatian dari para member. Perhatian ini muncul dalam bentuk berbagai usulan pendapat. Mulai dari usulan tempat pelaksanaan, pemilihan sapi jawa/sapi madura, pengumpulan dana maupun teknis pelaksanaan di lapangan.

Di sini saya belajar bahwa diskusi mengenai pelaksanaan acara, sebaiknya bukan dipakai untuk memaksakan usulan siapa yang paling benar. Tetapi juga digunakan sebagai bahan latihan untuk bersikap rileks dan lentur.

Sebagaimana di dalam keluarga ada peran seorang ayah dan juga seorang ibu. Ayah yang tegas, keras, visioner. Perlu didampingi oleh ibu yg lembut, penuh kehatian2, memperhatikan perasaan anggota2 keluarga lainnya dan penuh kasih sayang.

Dalam keluarga, jika sang ayah terlalu dominan maka banyak prestasi dicapai, tetapi kemudian banyak korban berjatuhan karena hanya berfokus pada pencapaian. Jika sang ibu terlalu dominan, keadaan nyaman, adem/ayem, tapi tidak ada progress kemajuan.

Ayah dan ibu yg bersedia lentur di dalam sifat keunikan masing2lah yang akan menghasilkan anak2 tangguh sekaligus penuh kasih sayang.

Begitu juga dalam komunitas. Semuanya perlu saling mengisi dan menghormati. Untuk melihat ini bukan hanya tentang pencapaian tetapi proses transformasi individu2 di dalamnya. Sehingga komunitas bisa menjadi tempat belajar yang kemudian menjadi bekal di dalam kehidupan personal dan bisnis2 masing2.

Selain TDA Qurban, saya juga belajar untuk mengapresiasi konsistensi temen2 TDA di dalam membawakan acara Sharing Santai di Telegram.

Sharingnya macam2. Ada yang sharing digital marketing, branding, cara membangun bisnis dari nol, sampai ke masalah kesehatan.

Ternyata Program Sharing Santai di Telegram ini sudah memasuki episode ke #45.

Saya sangat faham, gampang sekali membuat ide program. Tetapi sulit sekali menjaga konsistensinya.

Konsistensi yg tercipta ini besar kemungkinan karena melihat bahwa di dalam sebuah program, yang terpenting bukan hanya terlaksananya program tersebut dengan baik.

Tetapi juga potensi2 silaturrahim yg tercipta.

Program itu hanyalah sebuah wadah, media, momen untuk saling mengenal satu sama lain. Kalau sudah mengenal, maka bermacam2 potensi bisa terwujud.

Orang yg saya temui dan saya layani di dalam komunitas bisa jadi adalah partner bisnis saya di masa depan.

Bisa jadi akan menjadi saudara yg sanggup menyemangati saat saya mungkin sedang terpuruk dalam pengalaman kegagalan. Atau bisa juga jadi supplier yang tepat di masa depan. Bahkan tidak menutup kemungkinan bisa menjadi juga orang2 yg bakal berjasa dalam kisah naik turunnya roda kehidupan saya.

Di dalam pelaksanaan program2 ini…saya belajar bahwa yang namanya sedekah itu bukan hanya berupa uang. Tetapi juga berupa waktu dan kemauan untuk berbagi.

Ketika mengadakan sebuah majlis ilmu, maka panitia pelaksananya pun kemudian mendapatkan pahala dari ilmu yg bermanfaat. Mengalir terus walau maut memisahkan. Ikut bantu menyebarkan flyer kegiatan pun bisa jadi mendapat pahala. Karena kalau belum bisa melakukan yang ideal, jangan ditinggalkan semuanya.

Karena tidak ada balasan dari kebaikan, selain kebaikan… sekecil apapun bisa jadi itu adalah wasilah diturunkannya kemudahan2 di urusan2 yg seharusnya sulit. Atau mungkin kesehatan di kala pandemi sedang menyebar.
Ah entahlah… biar Allah yg memberikan sebaik2 balasan. Kita hanya melaksanakan apa yang bisa kita lakukan.

Selain dari program2 di atas berikut saya sampaikan program2 lain yg berjalan selama bulan July kemarin:

JumaTDAbox
Berbagi nasi box di masjid dan di jalanan.
Alhamdulillah sudah mencapai 2.062 box.
Artinya sudah ada 2.062 orang yang makan nasi tdabox.
Hanya 10 ribu saja bagi yg tertarik untuk berkontribusi.
https://wa.me/6281222888380
Kontak: Ketua Divisi Sosial Kang Angga
Koordinator progam: Kang Ilham

MarkeTDA – 60menit punya bisnis
Program untuk mempertemukan peluang2 bisnis.
Bagi yg belum punya bisnis atau ingin memulai bisnis baru.
Diadakan tiap minggu hari sabtu sore.
Kontak Ketua Divisi Badan Usaha Kang Randy

Kelompok Mentoring Bisnis.
Sementara ini dibuka untuk TDAWarrior (pengurus)
Ada 5 mentor yang dipasangkan dengan 5 kelompok.
Kolaborasi divisi Epik dan Eksternal.
Koordinator Program: Teh Eci

Kerja Sama Eksternal x TDA Bandung
– Kerjasama dengan Lokalate Nutrifood untuk Marketing Business Competion di Kampus2 Bandung
– Kerjasama dengan Klinik Prodia untuk program diskon 10% untuk member TDA Bandung
Kontak kerjasama eksternal: Kang Ipul

KamisAN
Kamis Ask & Share Anything
Curhat, tanya, sharing tentang apa aja.
2 minggu sekali bergantian di group TDA Warrior dan group reg member
Koordinator: (sementara masih Awan)

MENDOAN – Mentoring Dan Silaturrahim Online
2 pekan sekali via Zoom/Google Meet.
Alhamdulillah sudah mencapai episode ke #4
Formatnya dibuka dengan ayat quran, kemudian ada materi dari salah satu member.
Kemudian juga update2 kabar dari member2 yg lain, dilanjutkan dengan diskusi dan ngobrol santai.
Undang salah satu suhu buat webinar.
Moderator Kang Naufal dan Kang Deden.

Haturnuhun aku ucapkan terima kasih atas kerja sama, doa dan dukungannya…

Aku tutup dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, untuk memohon doa dan dukungannya agar acara2 TDA Bandung di bulan Agustus ini lancar terlaksana ๐Ÿ™‚

Salam,
Awan
Pelayan TDA Bandung ๐Ÿ™‚

Saya dan TDA Juni 2019

Saya tidak ingin jadi ketua.
Kenapa?
Karena saya merasa belum mampu.
Bahkan saya menganggap bahwa orang yang menginginkan saya sebagai ketua telah salah menilai saya.

Karena jika saya yang menilai…
Saya ngurusin bisnis aja masih ngos2an.
Ngurusin keluarga masih emosian.
Ngurusin diri sendiri masih sering terjatuh kepada habit jelek dan dosa berulang.

Namun setelah sekian waktu menolak, saya dihadapkan pada sebuah situasi dimana saya tidak lagi bisa berkata tidak. Terlalu banyak budi baik yang saya dapat dari para suhu dan sedulur2 di TDA.

Kemudian muncul pikiran, bisa jadi Allah memberikan tugas ini sebagai jalan untuk memperingan dosa2 saya yang lalu.
Ah malu rasanya jika mengingat masa lalu.
Apalagi dosa2 yang sekarang belum bisa saya tinggalkan. Masak hidup cuman ngumpulin dosa aja, ga pernah berbuat baik?

Jadi saya pikir, mungkin dengan kesempatan melayani banyak orang saya bisa dibantu sama Allah untuk melepaskan diri dari habit jelek yg masih sering kerjakan.

Sayapun teringat perasaan bahagia yang selalu saya dapatkan di TDA. Ada 3 tipe hubungan yg jika dimiliki maka bisa membuat seseorang bahagia:
1. Hubungan dengan orang yang lebih berpengalaman.
2. Hubungan dengan orang yang sepantaran.
3. Hubungan dengan orang yang pengalamannya lebih sedikit.

Dengan orang yang lebih berpengalaman saya bisa belajar dan menimba ilmu. Dengan orang yang sepantaran, saya bisa berdiri di samping, menangis bersama dan saling menyemangati.
Dengan orang yang pengalamannya lebih sedikit dari saya, saya bisa memberi dan berbagi pelajaran yang sudah saya alami.

Dari ketiga hubungan itu saya mengalami:
1. Perasaan berkembang dan mendapat hal2 baru.
2. Perasaan berbagi rasa dan saling memotivasi.
3. Perasaan memberi dan berkontribusi untuk membuat perbedaan di hidup seseorang.

Bagi saya, TDA adalah tempat untuk : Bersilaturrahim, Berbagi/Memberi, Berkreasi.

Silaturrahim membawa rejeki. Walaupun rejeki tidak selalu berbentuk materi. Saya merasa lebih “kaya” secara inspirasi juga lebih bersemangat sepulang dari silaturrahim.

TDA tempat berbagi/memberi. Karena kita semua punya pengalaman dan pengetahuan yang berbeda2. Sehingga kita selalu bisa berbagi/memberi kepada orang yang berbeda.

Pertanyaannya bukan bisa/tidak bisa. Tetapi mau atau tidak mau.

Tindakan berbagi/memberi ini akan merubah mindset. Dari mindset kelangkaan (scarcity) menuju keberlimpahan (abundance). Itu juga kenapa Islam berulang kali mengajarkan hal ini. Kemauan untuk memberilah yang akan menarik jauh lebih banyak hal-hal baik di dalam hidup kita.

TDA adalah tempat berkreasi. Mungkin ini akan lebih tergambar jika saya menceritakan pengalaman beberapa member TDA.

Ada Kang Faisal yang pada saat pertama datang ke TDA aadalah pribadi yang sangat pemalu. Kemudian karena sering bikin acara2 di TDA, akhirnya bisa mengatasi sifat pemalunya. Dan sekarang kalau liat beliau ngomong di podium, bisa terbakar semangat saya.

Ada Pak Kiking, join di TDA ga bisa moto. Sekarang hasil fotonya diakui banyak orang.

Ada member yang dulu tidak bisa nulis. Kemudian bersilaturrahim dan interview ke banyak suhu. Sepulang dari sana ditulis dan dishare. Akhirnya sekarang dia bisa nulis dengan bagus..

Banyak lagi member-member TDA yang memilih untuk berkreasi di TDA. Menciptakan sesuatu yang bermanfaat. Untuk kemudian kebaikan itu berbalik berkali-kali lipat ke dalam hidupnya.

Beberapa waktu yang lalu ada yang bertanya kepada saya…apa visi misi sebagai Ketua TDA ?

Saya jawab, saya tidak punya visi.
TDA milik kita semua.
Maka kita semualah yang akan menggambarkan visi tentang bagaimana TDA seharusnya menjadi.

Di tangan kita lah gambar TDA akan dibentuk bersama2.

Saya bahkan lebih nyaman memandang diri saya bukan sebagai ketua, tetapi sebagai pelayan. Saya ingin berusaha melayani agar visi kita bersama bisa terwujud.

Dulu sebelum saya berangkat lanjut sekolah, saya sempat mengamati TDA berevolusi. Waktu itu masih jaman milis yahoogroups.

Yang saya amati, member2nya sangat membuka diri jika ada yang mau belajar usaha. Bahkan saya ingat dulu ada magang di tempat para member yang sudah berbisnis duluan. Ada yang resign dari kantor, mau belajar bisnis malah dikasih ruko sewa gratis oleh Haji Alay. Barang2 di dalamnya, di isi oleh temen yang lain. Banyak yang tutup juga, tapi tidak mengapa. Toh bisnis di awal sering dipenuhi oleh kegagalan. Itu ongkos belajar.

Semangat berbagi itu tumbuh hidup dan menguat sampai dengan sekarang.

Yang perlu digaris bawahi bahwa TDA bukan milik salah satu orang atau salah satu divisi saja.

Setiap divisi bisa menjadi Tangan Di Atas. Misalkan memberi jalan ilmu di divisi epik, berbagi keceriaan di divisi fun, memberi pikiran dan waktu di divisi membership, bekerja sama dengan pihak2 luar di divisi eksternal dll

Semuanya punya peluang untuk memberi dan berbagi.

Kitapun di sini adalah volunteer, tidak ada yang lebih dibanding yang lain. Semuanya setara. Jadi saya percaya jika setiap komunikasi dilakukan dengan santun, maka peluang miskom akan terminimalisir.

Terakhir, ini komunitas bukan organisasi bisnis. Kalau di bisnis perlu digarap dengan serius, kalau di komunitas janganlah terlalu serius (meminjam bahasanya Coach FR). Jadi enjoy aja… toh kita di sini buat memperbanyak silaturrahim dan berbuat baik ๐Ÿ™‚

Prioritas tetap nomor satu adalah keluarga, nomor dua bisnis, nomor tiga baru TDA.

Lebih bagus lagi kalau kita bisa belajar mengembangkan ketiga2nya bersama2. Bukankah perjalanan itu asiknya rame-rame ? ๐Ÿ™‚

Jadi, saya mengajak kepada saudara2ku semua. Ayo siapa yang ingin menciptakan program2 yang bermanfaat bagi orang banyak, siapa yang ingin melayani dan berbagi, siapa yang ingin untuk berbagi ladang pahala, ayo gabung di kepengurusan 6.0.

Let’s grow and share some fun together ๐Ÿ™‚ http://bit.ly/oprecpelayanTDA

Semuanya diawali dari mindset: Mas TF

Assalamualaikum para suhu dan rekan2 seperdjoeangan…

Kalau hari Jumat lalu saya ketemu dengan Ketua TDA Solo, hari Sabtu nya saya sudah meluncur ke Jakarta untuk bertemu dengan salah satu kawan baru. Kawan baru ini, sebut saja namanya Mas TF.

Mas TF umurnya masih muda. Baru 30tahun. Beliau seorang apoteker yang kemudian berkarir di salah satu perusahaan kosmetik Indonesia. Di perusahaan itu Mas TF memberikan performance maksimal. Beliau membantu membesarkan omset perusahaan. Dari cuman kisaran beberapa juta sebulan, sampai beromset milyaran dalam sebulan.

Puncak gajinya pada saat itu, hampir 150 juta sebulan. Tetapi kemudian dia memutuskan resign dan memulai usaha.

Berat, pahit dan susah. Tetapi fast forward beberapa tahun kemudian… inilah yg terjadi…

Hari ini beruntung sekali saya bisa berkunjung di pabrik miliknya yang ada di beberapa lokasi di Bogor. Bisnisnya menguasai dari hulu ke hilir. Ada pabrik yang menyediakan makloon, ada brand tersendiri, bahkan ada klinik dan juga apotik.

Bocoran total omset dari perusahaan yg dimilikinya ada di angka ratusan M per tahun. Itu semua dicapai dalam waktu kurang dari 2 tahun.

Terkadang ketika mendengar cerita di atas, kita hanya mendengar versi singkatnya saja. Namun… jika dikupas lebih jauh lagi, ternyata sebelumnya beliau ini mengalami tahun2 yang penuh perjuangan. Yang tentunya tidak akan bisa tergambarkan dengan ringkasan singkat cerita satu dua hari saja.

Yang saya pelajari adalah, semua orang besar pernah mengalami apa yang saat ini kita alami.

Kesulitan, kesedihan, rasa frustrasi, kebimbangan, galau, mentok ga tau mau melakukan apa.

Namun Mas TF mengatakan 2 kunci yg saya coba rekam:

Kunci yg 1. “Masalah dalam hubungan dengan manusia akan bisa terurai setelah kita memperbaiki hubungan dengan Tuhan”
Ini membuat saya bertanya2… kalau saya mengeluhkan tentang tim saya… bukankah itu juga masalah hubungan dengan manusia? Kalau saya mengeluhkan tentang sales dan marketing, itu juga masalah hubungan dengan manusia. Kata-kata Mas TF mengingatkan saya untuk kembali ke basic. Memperbaiki apa yang sering saya lupakan dan sering saya abaikan. Back to fundamental connection.

Kunci yg ke 2: Semuanya berawal dari mindset. Teknik akan mengikuti mindset. Kalau mindsetnya berpikir besar, maka teknik pun akan menyesuaikan untuk menjadi besar.

Saat ini perusahaan Mas TF mempunya 8000 mitra yang membantunya mencapai omset ratusan milyar per tahun. Sistem di dalam perusahaannya juga memungkinkan orang2 yang mau berjuang untuk mendapatkan kesejahteraan. Banyak dari mitra ini yg mendapatkan ratusan juta per bulan. Bukan, ini bukan mlm. Ini murni dagang yang berusaha menghadirkan produk yg berkualitas ke market dan mengajak orang2 yg mau bekerja sama untuk berkembang.

Saya pun teringat, salah satu wejangan dari seorang Guru. Peran kamu sekarang adalah sebagai pengusaha. Sebaik-baik peran pengusaha bukanlah untuk memperkaya diri sendiri, tetapi untuk membagikan kesejahteraan kepada sebanyak mungkin orang. Untuk bisa menghadirkan produk/jasa terbaik yg meningkatkan kualitas hidup sebanyak mungkin orang. Untuk bisa menghadirkan solusi yang mempermudah hidup sebanyak mungkin orang.

Dan semua dimulai dari mindset.

Saya pun terpekur…
Ingatan saya melayang kepada seseorang di TDA yang mengisahkan kepada saya tentang mindset. Tentang daya juang dan ketahanan menghadapi berbagai macam masalah usaha. Beliau bernama Ruliyanto. Lulusan informatika ITB yang sukses berbisnis katering wedding.

Ah saya pun mengangenkan perjumpaan dengan beliau, yang syukurnya bisa terobati beberapa malam lagi.

Kamasutra…Kamis Malam Semua Terserah Anda. 14 Maret 2019
Start 18:30 sampe Tuntas
Lokasi di Truno58

*Ditulis 23:00 di kereta Argo Parahyangan kelas ekonomi. Meluncur menuju Bandung kota penuh cinta yang tak pernah bisa kutinggalkan…

(GIVE) BE – DO – HAVE

Assalamualaikum para suhu dan rekan-rekan seperdjoeangan,

Punten newbie numpang lewat…

Beberapa minggu yg lalu di saya hadir di pertemuan KMM Kopi Dangdut.
Suhu yg mengisi di pertemuan tersebut adalah Suhu Hergal.
Di sana ane ketemu lagi sama istilah Be – Do – Have.

Kalau di inget2, ane pertama kali ketemu istilah ini duluuu banget waktu ikutan KMB (Kelompok Mentoring Bisnis).
KMB waktu itu Mentor nya Mas Ruli.

Sebenernya KMB nya Mas Ruli kuotanya udah full.
Tp karena ane bantu2 di kegiatan KMB, jadilah ane bisa nyempil jadi mentee di KMB Mas Ruli.
Alhamdulillah, berkah ikut ngurusin kegiatan TDA ๐Ÿ˜€

So singkat cerita di situ ane belajar tentang konsep Be-Do-Have vs Have-Do-Be.
Perbedaan kedua urutan dari proses berpikir ini memberikan pengaruh yg sangat berbeda.
Kebanyakan orang berpikir bukan dengan urutan Be-Do-Have, tp justru Have-Do-Be.

Di dalam urutan Have-Do-Be , prosesnya adalah sebagai berikut:
1. Saya harus punya dulu (Have)
2. Sebelum bisa melakukan sesuatu (Do)
3. Sehingga kemudian saya bisa merasakan atau menjadi yg saya inginkan (Be)

Misal,
Saya harus punya duit dulu (HAVE)
Untuk kemudian membuat bisnis (DO)
Sehingga saya bisa jadi bahagia (BE Happy)

Contoh lainnya:
Saya harus punya usaha yg keren dulu (HAVE)
Untuk bisa menikah, beli rumah, sedekah, dll (DO)
Sehingga saya bisa menjadi sukses (BE Success)

Pola pikir Have-Do-Be ini sangat membatasi.
Karena untuk melakukan action ada syaratnya, yaitu memiliki sesuatu.
Kemudian untuk mengalami kondisi batin yg kita inginkan, disyaratkan kita sudah punya sesuatu dan sudah melakukan sesuatu.

Pola pikir inilah yang menyebabkan seseorang terjebak di dalam “banyak mikir tp tidak ada action”.
Lalu terjebak dalam berpikiran untuk merasakan sesuatu maka syaratnya harus memiliki sesuatu terlebih dahulu.
Ujungnya2 akan jatuh kedalam mentalitas victim.
Saya gak bisa soalnya… xxx

Nah kabar baiknya, dengan mengubah urutan berpikirnya maka akan menjadi lebih dahsyat lagi.
Caranya adalah dengan mengubah Have-Do-Be menjadi pola pikir Be-Do-Have.

Di dalam urutan ini, maka proses “menjadi” nya yang lebih penting daripada proses “memiliki”.

Misal dalam contoh di sebelumnya…
Saya sekarang bahagia (BE Happy)
sehingga dari keadaan bahagia itu saya bisa memulai bisnis (DO)
ujung2nya saya akan mendapatkan (HAVE result or learning experience)

Atau…
Saya adalah orang sukses (BE)
Sehingga saya bisa melakukan usaha2 untuk merencanakan pernikahan, membuat plan memiliki rumah, atau bersedekah (DO)
Ujung2nya saya akan memiliki apa yang saya rencanakan, atau saya akan memiliki pengalaman lain yang Allah gariskan (HAVE)

Sehingga perubahan urutan dari Have-Do-Be menjadi Be-Do-Have akan mengempower seseorang.
Cara bertindaknya tidak lagi dibatasi oleh apa yang dimiliki.
Cara bertindaknya akan diperkuat justru pada bagaimana dia memandang dirinya sendiri (Be).

Nah permasalahannya bagaimana membuat perubahan pada pola pikir ini?

Semenjak berinteraksi dengan komunitas TDA, saya jadi menemukan sebuah komponen pelengkapnya yaitu: Memberi (Give)

Give adalah komponen pelengkap sehingga seseorang bisa men-switch pola pikirnya dari keterbatasan Have-Do-Be menuju keleluasaan Be-Do-Have.
Have-Do-Be —> Give —-> Be-Do-Have

Di dalam Have-Do-Be, yang menghalangi seseorang untuk bertindak adalah syarat bahwa dia harus memiliki sesuatu.
Nah dengan melakukan proses memberi maka keterbatasan itu pelan2 akan menghilang.
Otaknya akan berpikir bahwa karena dia memberi, maka dia sudah memilikinya.
Kemudian orang tersebut pelan2 akan menjadi sesuatu (Be) sesuai apa yang dia berikan.
Sehingga memungkinkan dia untuk melakukan sesuatu yg lebih besar (Do More).
Ujungnya2 hal2 baik yang dia inginkan akan kembali datang kepadanya (Have).

Contoh kasus…
Salah satu member TDA datang ke TDA tanpa merasa punya skill apa2.
Sebut saja namanya Bebenlicious. (Sama seperti Mawar, bukanlah nama sebenarnya)
Nama sengaja disamarkan karena saat ini beliau sudah jadi suhu dan orangnya sangat rendah hati.

Menarik untuk menyimak perjalanan dia.
Beben datang ke TDA tanpa punya skill apa2.
Tetapi berkat silaturahmi dengan salah satu suhu TDA, dia menemukan sesuatu yg bisa diberikan.
Beben menemukan bahwa dia bisa memberikan waktunya sebagai MC di acara TDA.

Awal2nya tentu saja tidak sempurna.
Awal2nya pasti saja kagok dan banyak crispy nya (garing).
Saya sendiri jadi saksi pas liat Beben nge-mc di TDA Camp Batch 1

Namun dalam ketidaksempurnaan tersebut, dia terus “memberi”
Dia nge-MC di sebagian besar acara TDA.
Baik besar maupun kecil.
Gak mikir bayaran, karena kalau mikir bayaran itu berarti bukanlah proses memberi tetapi proses meminta.
Dia terus memberi…memberi…dan memberi…

Seiring dengan berjalannya waktu skill nya meningkat.
Dia menjadi sesuatu yg lebih besar dari diri sebelumnya.
Sehingga dia bisa Do more and Have more.
Begitu menggulung terus menerus bagai bola salju yg semakin lama semakin besar tak terbendung.
Saat ini, Beben sudah masuk menjadi jajaran MC di acara2 nasional.
Dia berdiri di panggung dengan jumlah audience ribuan orang.
Setara dengan pembicara2 nasional hebat lainnya.

Beben juga sebuah efek dari proses memberi yg dilakukan oleh suhu di TDA yang mengencourage dia untuk naik panggung.
Sebut saja namanya Raisal Ahmad (juga bukan nama sebenarnya.
Beliau adalah suhustad yg rendah hati dan gemar berbagi inspirasi.

Contoh kedua:
Salah satu member di tda yg lain bernama Alif Kurniawan (lagi2 bukan nama sebenarnya)

Ketika awal Alif bergabung di TDA, dia menganggap dirinya sebagai orang yg introvert.

Tetapi kemudian Alif melakukan proses memberi.
Alif memberikan waktunya untuk bergabung di berbagai kepanitiaan buat mensukseskan acara2 TDA.

Di sela2 job kepanitiaannya Alif memberikan nilai lebih dengan memotret dan juga merekam video dalam acara tersebut.

Tidak berhenti di situ, Alif mendekati suhu-suhu di TDA dan membuat video berisi rekaman wawancara dia.

Awalnya tidak sempurna.
Videonya suaranya kecil.
Pas wawancara kagok.
Tetapi dia terus melakukan proses memberi di dalam segala keterbatasannya…

Sekarang?
Dia sudah memiliki skill fotografi dan videografi.
Event-event TDA bandung tidak pernah lepas dari hasil karya dia.

Video ciptaannya selalu bisa memunculkan sisi emosi yang menyentuh kalbu para member TDA.

Alif bertransformasi dari “tidak bisa” menjadi “ahli” dari proses memberi.
Alif menswitch pola pikir Have-Do-Be menjadi Be-Do-Have dari proses memberi.
Alif yg sekarang punya tambahan bisnis foto/videografi dan bisa mendapatkan uang dari passion nya.
Alif yg sekarang adalah seorang Vlogger yg sangat produktif.

Dua contoh suhu di atas sample metamorfosis dari orang biasa menjadi orang luar biasa.
Selain Beben dan Alif, saya menjadi saksi hidup banyak sekali orang yang berubah dengan proses memberi yg tulus di komunitas TDA.
Masih banyak lagi yg lain yg nanti temen2 bakal temukan sendiri waktu kopdar langsung ๐Ÿ™‚

Have-Do-Be —> Give —-> Be-Do-Have

Saya sendiri masih belajar banyak dari para suhu-suhu tersebut.
Yang terus bergerak, berproses dan memberi tanpa mau dibatasi oleh persepsi apa yang mereka miliki.
Yang terus memberi untuk kemudian mengetahui siapa diri mereka sebenarnya.

“Because we are not physical beings who want to experience spiritual things… We are spiritual beings who want to experience physical things”

Salam,
Divisi Epik (Edukasi dan pengembangan kapasitas)
TDA Bandung.

PS:
– Salam super keren buat temen2 KMM Kopi Dangdut yang “memberikan” waktu untuk mengundang para suhu dan menginisiasi pertemuan mingguan.
Contoh nyata yg lain bahwa tidak butuh syarat a,b,c,d untuk memberi, cuman butuh kemauan.
YOU ROCK GUYS!!!!!

– Jangan lewatkan event gratis di Malang untuk upgrade ilmu dan upgrade permodalan biar bisnis makin JOSH GANDOSHH

Sharing KMM di Epik Nasional

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

Mohon ijin para suhu dan rekan2 seperdjoeangan..

Perkenalkan nama saya Awan dari TDA Bandung.

Beberapa hari yang lalu ane di kontak sama suhu ane, Wadir @agung
Diminta cerita2 tentang Epik Bandung.

Sebenarnya belum banyak kegiatan yg dilakukan oleh Epik Bandung.
Jadi sampai saat ini yg udah dilakukan baru:
– 8 WS 2x
– Kulgram 5x
– Webinar 3x
– Sharing Epik 3x
– Webinar 3x
– Epik Mentoring 1x
– KMB periode 3bln untuk reg member (baru mulai bulan ini dgn peserta 30 orang)

Disamping kegiatan untuk registered member di atas… kami di Bandung punya program Epik internal (untuk anggota divisi).
Diantaranya adalah:
1. Bangunin tahajud (90 days tahajud challenge)
2. Mastermind

Untuk kali ini, ane pengen sharing tentang program Mastermind yg dijalankan.

Program ini, didasari oleh pemikiran…
Anggota Epik harus mendapat manfaat ketika bergabung di dalam divisi Epik.

Jadi selain memikirkan peningkatan bisnis registered member, juga ketika bergabung di dalam Epik harusnya bisnisnya meningkat juga.

Oleh karena itu, dibuatlah Kelompok Master Mind khusus divisi epik.
Dimana tiap2 anggotanya saling support untuk meningkatkan bisnis masing2.

Eh tapi enggak cuman di bisnis aja ding…
KMM kami, berfokus di 3 hal penting di dalam kehidupan:
1. Bisnis
2. Relationship/Family
3. Spirituality

Jadi kami saling bantu buat meningkatkan 3 bidang ini di tiap2 member Epik.

Mekanismenya gimana?

Tiap 2 minggu sekali setor laporan dalam bentuk tertulis ke group WA.
Isinya adalah:
A. Progress saat ini
B. Target yg ingin dicapai dalam 2 minggu kedepan
C. Kesulitan yang dihadapi.

Poin A, B dan C di atas, dilaporkan tiap bidang kehidupan: Bisnis, Relationship/Family, Spirituality.

Namun sebelumnya ada aturan yang harus disepakati: Apa yang diceritakan di KMM, stay at KMM ๐Ÿ˜€
Jadi harus saling menjaga kerahasiaan dan ga boleh sampe bocor keluar dari KMM.

Nah setelah dilaporkan progressnya via tulisan, kita bakal setup waktu buat ketemu.
Pada saat ketemu itulah kita brainstorming untuk kesulitan masing2.
Di sesi tersebut, biasanya banyak air mata tertumpah hihihi…
Tapi efeknya adalah kami merasa dekat satu sama lain… dan muncul komitmen untuk saling bantu dan berprogress bersama.

Nah KMM ini udah berjalan dari awal kepengurusan Epik Bandung.
Dan terus terang saat kami ketemuan… 70% membahas masalah yg dihadapi, saling lempar solusi, dan juga ngasih challenge satu sama lain buat 2 minggu kedepan.
30% sisanya kami bahas program2 yg mau dilaksanakan oleh Epik.

Yg ane rasakan…
Setelah merasa mendapat manfaat sebagai anggota Epik, mereka akan dengan semangat juga menjalankan acara2 yang memberi manfaat ke reg member.
Jadi ketika kedekatannya dibangun… Insya Allah semangat untuk berbaginya juga mulai tumbuh kepada para registered member.
Sehingga bisa punya motivasi untuk berkontribusi dalam acara2 Divisi Epik.

Harapannya, di akhir kepengurusan… temen2 di divisi epik bisa sama2 memandang kebelakang…
Kemudian membandingkan perbedaan antara sebelum dan sesudah bergabung di divisi epik.
Kemudian bisa berkata pada diri sendiri… What a great progress in the last 2 years
Bukan hanya di Bisnis, tetapi juga di bidang2 lain dalam kehidupan seperti Relationship/Family dan juga Spirituality.

Karena belajar sendirian ga enak, enaknya rame2 ๐Ÿ˜€

Mungkin sampai di sini dulu sharing ane…
Kalau ada pertanyaan atau ada hal yg ingin di diskusikan bersama…monggo ๐Ÿ™‚

Review Communication Workshop – Mustofa Romdloni

Bruce Lee pernah berkata, saya tidak takut dengan orang yang tahu 1000 tendangan.
Saya takut dengan orang yang tahu 1 tendangan, namun berlatih 1000x

Begitulah saya memandang 8 Worskhop Series (8WS) yang dibawakan oleh Pak MR kemarin.

Di sesi-sesi awal, beliau mensharingkan hal-hal yang terkesan biasa banget dalam berkomunikasi.
Seperti contohnya:
– Jangan mengkritik/menjatuhkan orang lain apalagi di depan orang banyak.
– Sayangi diri sendiri
– Sayangi orang lain.
– Tertarik lah dengan tulus pada orang lain.

Hal-hal yang terkesan biasa inilah prinsip dasar dalam berkomunikasi.
Namun seringkali kita lupa karena ingin menonjolkan diri, pengen dianggap lebih, dan pengen membuktikan bahwa orang lain salah.

Prinsip ini sedikit, namun jika dilatih beribu2 kali… maka itulah yang dilakukan oleh Pak MR.
Ternyata beliau melatih prinsip2 ini selama lebih dari 8tahun sehingga mengakibatkan bisnisnya bisa naik ke kelas korporasi.

Insight yang lain yang saya dapat adalah: Standing Over the Shoulder of Giants.
Dengan berdiri di atas bahu para raksasa, maka kita akan bisa melihat lebih jauh.
Ketika raksasa itu berjalan, maka kita yang “ndemplok” di bahunya akan bisa berjalan lebih cepat dan menempuh jarak lebih panjang.

Inilah yang beliau lakukan ketika menghubungi partner2 potensial di luar negri untuk mau berpartner.

“Saya tahu perusahaan Anda adalah yang salah satu yg terbesar di (negaraxxx). Saya Mustofa Romdloni, siap menjadi partner bisnis Anda untuk sukses di Indonesia.”

Begitulah penggalan email yang menandai pertambahan perusahaan beliau dari bisnis trading ke bisnis manufaktur.

Berpartner, berkolaborasi, adalah koentji untuk menjadi besar.

“Gimana orang2 besar itu mau berpartner dengan kita?” tanya saya.

Beliau jawab… “Melevelkan diri”
Caranya adalah dengan terus meningkatkan kualitas diri, karena kita tidak tahu kapan partner itu akan muncul.
Salah satunya adalah dengan mengasah skill komunikasi kita.

Namun skill komunikasi itu ternyata bukan dimulai ketika ada orang lain.
Skill komunikasi itu dimulai bahkan ketika kita sendiri.

Berkomunikasi pada diri sendiri, memungkinkan kita untuk mengetahui apa kelebihan dan kekurangan kita.
If you know yourself and you know your enemy then you will win 1000 battles – kata Sun Tzu

Sesi siang workshop kemarin ada praktek yg membuat para peserta bisa “mengintip” tipe kepribadian masing2 (Koleris, Melankolis, Sanguinis, Plegmatis)
Tidak berhenti sampai di situ saja, beliau juga mensharingkan bagaimana aplikasi tipe kepribadian ini pada kasus2 bisnisnya.

Sebenarnya workshop dijadwalkan selesai 16.00
Tapi karena pas terpotong di “Teknik Negoisasi”, kami pun sudah terlanjur kepo.
Walhasil materi dilanjut sampai Maghrib.

Sesi negoisasi tersebut banyak contoh2 kasus yang dibabarkan.
Salah satunya adalah bagaimana menjalankan permainan yang cantik antara calon klien, kompetitor yg sudah melayani klien tersebut, dengan perusahaan kita yang ingin masuk.
Kisah cinta segitiga yang sebenarnya bisa dimainkan dengan indah untuk kemudian menghasilkan keseimbangan baru.
Hasilnya win-win, dengan perusahaan kita masuk di dalamnya. Dengan catatan: tahu prinsip dan cara bermainnya ๐Ÿ˜€

Saya tahu betul tantangan Pak MR yang dalam mensharingkan materi ini.
Sebagai praktisi beliau harus berpikir bagaimana mensummary kan pengalaman bertahun2 dengan kasus yg sedemikian banyak menjadi workshop 1 hari.
Oleh karena itu saya mafhum jika di awal2 workshop beliau menshare yang ringan2 dan fun.
Untuk kemudian semakin sore semakin panasss apalagi ditambah dengan pertanyaan2 dari peserta yang semakin menguak tabir2 “off the record” lainnya.
Tidak heran peserta workshop dari pagi sampai maghrib tidak ada yg goyah.
Bahkan setelah maghrib sesi masih berlanjut dengan pindah tempat di kuliner kebuli.
Mungkin ini bedanya orang yang sharing motivasinya untuk dibayar dibanding dengan sharing yang pengen liat orang lain maju dan berkembang.

Ah, begitu banyak mutiara yang saya temukan di workshop kemarin.
Mutiara yang sebelumnya saya anggap “batu biasa” karena saya cuman sekedar tahu luarnya saja.
Tetapi dengan contoh2 kasus yg pernah beliau alami, Pak MR telah menunjukkan bahwa batu itu kalau digosok (dilatih) bakal jadi mutiara.

Nah buat para suhu dan rekan2 seperjuangan yang kelewatan, ini ada beberapa buku referensi yg dibahas di workshop kemarin:
– The Art of Dealing with People
– How to Win Friends and Influence People
– Personality Plus
– All Marketer are Liars
– Blue Ocean

Tentu saja, buku2 ini tidak akan bisa menceritakan pengalaman praktis dari Pak MR.
Tapi paling tidak di sana ada prinsip2 yang mendasari gurita bisnis beliau.

Semoga next time kita bisa belajar bersama di acara2 berikutnya.
Dan kalau ada dirasa ada kebutuhan tentang sesuatu bidang bisnis (sales, marketing, finance, operasional,hrd, legal, dll), jangan ragu2 buat kontak EPIK.
EPIK akan berusaha mencarikan praktisi bisnis yang punya pengalaman agar kita bisa belajar untuk naik kelas bersama2.
Karena belajar sendirian gak asyik, enaknya rame2 ๐Ÿ˜€

Salam,
Your Brother Awan Rimbawan
Pelayan di Div EPIK TDA Bandung

PS:
Special thanks buat Allah YME karena mengizinkan acara ini terlaksana.
Terima kasih buat Pak MR yang walaupun sudah bermacet2 ria 5 jam, namun masih sanggup ngisi materi sampai maghrib.
Terima kasih buat Tim EPIK yang bekerja di background. Tanpa pamrih berepot2 di tengah2 ngurusin bisnisnya masing2 bahkan fleksibel berimprovisasi menghadapi kondisi yg tak tak terduga. You are trully my inspiration: vicky fajar bagas ainy muji hendra ahmad . Om Brata yang udah bikin acara TDA jadi family friendly. Om Agung yg udah nunjukkin tempat nasi kebuli enak ๐Ÿ˜€ .
Terima kasih buat para suhu yg kemarin sudah datang dan melontarkan pertanyaan2 keren.
Terima kasih TDA Blitar dan TDA Tangerang yang udah jauh2 dateng buat acara ini.
Terima kasih buat pengurus yg full support banget banget banget buat acara ini.
Terima kasih buat penyumbang doorprize yang sama banyaknya dengan jumlah peserta ๐Ÿ˜€
Terima kasih… terima kasih… dan terima kasih…

Communication Workshop – Mustofa Romdloni (MR)

Assalamualaikum para suhu dan rekan2 seperjalanan…

Ada yg udah pernah membaca buku biografi Warren Buffet yg judulnya The Snowball Effect?

Disana diceritakan bahwa menurut Buffet… investasi yang paling baik adalah yang tidak dikenakan pajak dan tidak bisa dikalahkan oleh inflasi.

Investasi tersebut adalah: investasi leher ke atas.

“Nobody can take away what you’ve got in yourself, and everybody has potential they haven’t used yet”

Yang mengejutkan, menurut dia investasi terbaik yang pernah dia ambil bukanlah saham perusahaan.
Tetapi mengambil sebuah kursus public speaking dari Dale Carnegie.

Dale Carnegie sendiri terkenal dengan buku klasik yg jadi best seller selama berpuluh2 tahun: How to Win Friends and Influence People.

Konon sebelum mengambil kursus itu, Warren Buffet sangat ketakutan ketika berbicara di hadapan orang banyak.
Bahkan dia bisa tiba2 sakit secara fisik saat harus maju ke atas podium.

Namun Warren Buffet muda sangat bertekad untuk memperbaiki kemampuan komunikasinya.
Karena selain berguna untuk mengkomunikasikan peluang2 investasi kepada orang2 berduit, sekaligus juga sangat berguna untuk memenangkan pujaan hatinya: Susan Thompson.

“You can exponentially increase your potential and enhancing your talents by simply being able to communicate better” kata Warren Buffet.

Biaya kursus public speaking seharga $100 menghasilkan ROI berjuta2 kali lipat dan mengantarkan Warren Buffet menjadi salah satu orang terkaya di dunia.

Saya sebenarnya sudah lama mencari sosok Warren Buffet di TDA.

Sosok yang aktif menciptakan bisnis dan juga sudah masuk ke dalam aktifitas jual beli bisnis.

Sosok ini saya temukan dalam diri Pak MR.

Pertemuan pertama saya dengan beliau di cafe De Tuik Bandung. Waktu itu beliau masih menjabat menjadi Presiden TDA 4.0

Gaya bicaranya santai dan penuh humor, membungkus materi yang berat menjadi ringan dan mudah dicerna.

Setelah pemaparan materi, saya mengajukan sebuah pertanyaan pada beliau…
“Setelah 8 tahun berjuang di level usaha kecil, bagaimana kok Bapak tiba2 bisa melompat ke kelas korporasi?”

Namun sayangnya jawaban beliau pada saat itu belum bisa ditangkap oleh keterbatasan wawasan saya.
Apalagi waktu yang tersedia cuman sebentar, membuat saya tidak bisa mengorek lebih jauh lagi.

Sehingga February yang lalu, ketika ada kesempatan workshop 8WS di bekasi yang diisi oleh beliau sayapun nekat ikut.
Walaupun topiknya masih jauh dari kelas bisnis saya saat ini: “Bagaimana Membuat Valuasi Perusahaan dan Menjualnya Dengan Harga Tinggi”

Di workshop itu mata ane terbuka… bahwa menjual perusahaan itu punya margin yang guedeeee banget.
Tapi lagi2… ane mesih belum ngerti… gimana caranya bisa kayak gitu.
Apa yang harus dilatih di dalam diri ane… dari yg kelas ecek-ecek gini… sehingga bisa naik kelas seperti itu.

Qodarullah beberapa waktu lalu TDA Bandung mengadakan Wisata Bisnis ke TDA Bekasi.
Di mana salah satu kunjungannya adalah ke kantor MR Corp.
Di pertemuan ketiga itulah missing puzzle nya ketemu.

Pada saat itu, beliau bercerita… bagaimana 8 tahun bermacam2 bisnis dibuka… hampir semuanya ditutup.
Mulai dari kursusan, MLM, limbah pabrik, dlsb.
Barisan para mantan kata beliau, mantan bisnis ๐Ÿ˜€

Ternyata di pertemuan ketiga lah saya baru “ngeh”… bahwa rahasia lompatan beliau adalah: skill komunikasi.
8 tahun adalah proses penggodokan skill komunikasi.
Skill yg bertanggung jawab melontarkan bisnisnya dari skala kecil ke skala korporasi dengan kontrak milyaran rupiah perhari.

Beliau membeberkan bahwa skill komunikasi adalah seni agar orang suka dengan kita, percaya, untuk kemudian bersedia mengikuti kemauan kita.

Bisnis di tengah2 banyak sisi dan kerumitan, ternyata fondasi dasarnya adalah komunikasi.
Komunikasi dengan partner agar mau “menyumbangkan” resourcenya.
Komunikasi dengan karyawan agar “rela” melaksanakan tugas2 mereka.
Komunikasi dengan supplier, agar “dengan senang hati” memprioritaskan barang berkualitas sambil dibayar tempo pula ๐Ÿ˜€
Komunikasi dengan customer agar mampu “menceritakan value” sehingga beli sekali kemudian membeli lagi, lagi dan lagi.

Namun sayangnya2… lagi2 waktu yg membatasi paparan pada saat itu.
“Ini kalau diceritakan bisa panjang mas, butuh waktu seharian” imbuh beliau.

Tanpa pikir panjang langsung aja kita todong:
“Kalau begitu kapan ada waktu kosong, sehingga bisa sharing lebih panjang lagi di Bandung Pak?”

Nah beruntung… besok Sabtu tanggal 28 April beliau ada waktu kosong untuk membedah skill komunikasi ini.

Nanti akan dibahas:
– Skill komunikasi seperti apa sih yg bisa membuat seseorang naik kelas dari skala kecil ke skala korporasi dengan kontrak milyaran per bulan?
– Skill komunikasi seperti apa sih yg bisa membuat “orang baru” di sebuah komunitas kemudian diamanahi sebuah kegiatan besar… yang kemudian terlaksana sukses dengan profit berlipat-lipat pula…?
– Skill komunikasi seperti apa sih yg bisa bikin seseorang bisa menciptakan perusahaan yang ketika dijual bikin perusahaan lain berebutan pengen membeli?

Jadi buat yang tertarik untuk naik kelas dengan membedah skill komunikasi beliau, yuk gabung pada:
ยป Sabtu, 28 April 2018
ยป 09.00-16.00
ยป Tebu Hotel, Jl. L.L.R.E Martadinata No. 62 Bandung

Tempat terbatas ya, kelas dibikin format workshop biar efektif supaya materi dagingnya diserap dengan baik.
Kursi hanya tersedia 12 seat lagi. Gak tahu sampai kapan.

Segera klik di sini untuk mengamankan seat Anda: bit.ly/8wscommunication
atau kontak @jargus

PS:
Kadang kita sering cari yang jauh, padahal ada yang dekat.
Kadang kita sering cari di luar, padahal jawabannya ada di dalam.
Kadang kita sering menunda-nunda, padahal tau bahwa solusinya adalah take action.
Kadang sering kita cari cara2 yang canggih, tp lupa bahwa kita punya senjata ampuh dalam diri yg belum di olah.

Karena Guru hanya akan datang jika murid telah siap.

Salam,
Pelayan di Div. EPIK TDA Bandung
Awan Rimbawan

MoslemPreneur

Setelah mendapatkan pencerahan dari suhu @muji ono, ane jadi termenung.
Bayangan kembali ke masa2 awal2 usaha beberapa tahun yg lalu.

Dulu… Waktu mau usaha, ortu ane kurang setuju.
Alesannya lebih baik kerja, karena orang tua ane… wiraswasta itu berat.
Ane pernah menyaksikan ibu pernah bikin pesanan kue sampe jam 2 pagi.
Jam 3 pagi udah bangun lagi lanjut bikin kue.
Itu terjadi berhari2…
Bapak juga coba berbagai usaha, hampir semuanya tidak membuahkan hasil yg diharapkan.
Karena wiraswasta itu berat, beliau ga ingin anaknya mengalami hal yg sama.

Cuman namanya darah muda… rasa penasarannya lebih besar.
Selain itu juga pas kerja pernah terbersit pemikiran.
Kayaknya klo usaha, mungkin ane bakal bisa lebih dekat sama Allah.
Karena ga lagi menggantungkan kepada gaji perusahaan yg pasti ada tiap akhir bulan.

Ternyata oh ternyata…
Setelah dijalani, ternyata lebih berat dr yg sebelumnya dibayangkan ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€
Setelah resign dari kerja, otot eksekusi masih lemah bangettt….
Banyak ide… banyak keinginan… tp sedikit sekali bisa action.
Bahasanya guru ane, nafsu banteng tenaga cacing ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€
Aktifitas yg berulang tiap hari adalah kebanyaikan mikir, berstrategi, berencana ini itu, tp digagalkan lagi pas mau action.

Sampe2 temen yg dulu pernah sekantor jadi kaget pas ketemu ane.
“Wan, kok kamu kurus kering gini???. Kamu ngobat ya???”

Ane cuman bisa tersenyum kecut.

Ga mungkin juga ane ceritain klo ane kebanyakan puasa.
Bukan karena soleh, tp karena ga punya duit sekaligus pusing mikirin tumpukan rencana yang ga ada eksekusinya.

Tapi ane menahan diri untuk curhat kondisi sebenarnya.
Walaupun posisi miskin, tapi masih punya gengsi di hadapan wanita cantik :p

Ditambah lagi, mindset karyawan dan wiraswasta beda.
Jangan2 nanti ane malah tergiur kerja lagi, sekantor lagi dengan dia dan… kemudian … dengannya…
ah… sudahlah… itu masa lalu…

Namun Alhamdulillahnya setelah itu di berikan jalan ketemu dengan orang2 bermindset wirausaha.
Yang gak pelit untuk berbagi ilmu dan pengalaman.
Itulah komunitas TDA.

Di komunitas inilah berkenalan dengan yg namanya mastermind.
Waktu itu ada Pak Kiki Sudiana, Kang dodi diantaranya.

Di mastermind itu enaknya tiap 2minggu ketemuan.
Jadi mau ada progress, ga ada progress, ane tetep datang.
Mau ga mau harus gerak, karena pas dateng harus laporan progress.

Disitulah pertama kali ngerasain sedapnya hasil usaha.
Bisa jualan tas 1200pcs dalam waktu kurang dr 3bln.
Salah satunya gara2 mekanisme mastermind yg harus ngasih progress, dan bisa jadi temen curhat dikala bingung pas mau action.

Yg ane pelajari dari proses tersebut adalah…

1. Usaha itu bukan cuman jalan buat cari uang. Tp terutama, adalah jalan dekat dengan Allah.
Dalam dunia usaha ane jd mengerti bahwa tidak ada yg pasti dan langgeng di dunia ini.
Yang ane dapet, bisa hilang seketika.
Yang ane blm dapet, bisa terwujud dalam waktu sebentar saja.
Denger2 cerita dari pengusaha lain, sesukses apapun bakal bisa rugi juga.
Semuanya mungkin kalau Allah mau.

Sehingga kalau dikasih lebih, tp ga ibadah lebih maka harus mawas diri.
Jangan2 kelebihan itu yg bakal diambil dengan seketika.
Lebih parah lagi kalau dijangkiti dengan kesombongan.
Merasa bahwa keberhasilan ini adalah murni atas usaha sendiri.
Jangan2 bukan hanya diambil, tp bisa2 dihinakan.

Kebalikannya…kalau merasa sedang di dalam kesulitan, tp ga bertambah giat ibadah maka juga perlu waspada.
Karena bisa jadi kesulitan2 itu adalah cara Allah memanggil2 hambanya.
Nah klo dipanggil2 ga dateng, jangan2 nanti lebih keras panggilannya.
Dengan cara ditambah masalah yg lebih berat lagi…lagi…dan lagi…

Pelajaran yang ke 2. Bisnis itu permainan tim.
Bakal berat kalau dijalani sendiri.

Di dalam tim itu ada yg pebih jago dr kita, ada yg setara dengan kita, ada yg skillnya dibawah kita.

Kita perlu berinteraksi dengan semuanya.

Yg lebih jago dari kita adalah mentor, coach, trainer dll.
Perlu didekati buat menimba ilmu dan insight2.

Yg setara dengan kita adalah temen2 seperjalanan.
Interaksi dengan mereka perlu buat saling menyemangati.

Untuk yg pengalamannya masih di bawah kita, itu adalah peluang untuk memberi dan berbagi pengalaman.
Proses ini penting karena bakal mengingatkan… sesusah apapun kondisi, tp selalu ada cara untuk bisa bermanfaat bagi orang lain.
Sehingga dalam diri ini muncul rasa syukur dan mindset berkelimpahan.
Sangat sejalan dengan semangat TDA yang saling memberi dan berbagi.

Namun buat pelajaran nomor 2 ini halangannya adalah: ego
Ego pengen dianggap hebat, akan menghalangi saya bercerita jujur tentang kondisi saat ini. Sehingga orang tidak tahu dan tidak bisa memberikan bantuan.
Ego pengen berhasil dengan usaha sendiri, akan menghalangi saya untuk meminta masukan dari orang2 yg lebih tahu dari saya. Sehingga menahan saya untuk berkembang lewat kolaborasi.
Ego pengen mengalahkan org lain, akan membuat saya minder ketika bertemu dengan org yg lebih hebat. Di saat yg sama, menimbulkan sombong ketika ketemu orang yang kurang dari saya.
Ego pengen selalu sempurna, akan menghalangi saya untuk take action. Semuanya harus nunggu perfect.

Ego-ego tersebut mengisolasi saya dengan orang lain.
Sehingga yg terjadi adalah saya… sendirian… muter2 dipermainkan oleh pemikiran sendiri.

Nah berkaitan dengan ego ini, salah satu cara efektif untuk mempertipisnya adalah dengan membuka diri dan bertemu dengan orang2 baru.
Sowan kepada para guru, menyemangati temen2 seperjalanan, dan juga berbagi kepada rekan2 yg belum tahu.

Beruntung banget… di TDA ketiga hal itu atmosfir tersebut sangat mendukung untuk dilakukan.

Apalagi di acara moslempreneur tanggal 21 nanti…
Banyak suhu bakal dateng, banyak temen2 seperjalanan yg bisa berbagi semangat, dan banyak peluang untuk berbagi skill dan pengalaman kepada orang lain.
Kesempatan untuk bertegur sapa dengan orang2 yg selama ini cuman ketemu di telegram.
Karena tidak ada yang bisa menggantikan silaturahmi secara fisik.

Pertanyaannya, siapkah saya meninggalkan ego saya…
Kemudian take action dengan bertemu para suhu dan rekan2 TDA yang mungkin bisa membuat perbedaan dalam hidup saya?

*SaveTheDate, Moslempreneur 21 April 2018.
*Buruan kontak ke om @david sebelum keabisan tiketnya
*Punya produk bagus tp bingung jualannya? Masih dibuka sponsorship buat yang cari parter bisnis, reseller, atau keagenan. Buruan kontak sist @

RKB Ulum

Marketing selalu menjadi bahasan menarik.
Karena salah satu pilar bisnis ini biasanya gerbang awal menuju sales.

Kemarin ini di acara RKB TDA Bandung, kita belajar bersama tentang FB Ads.
Pematerinya adalah salah satu high quality suhu yang sudah bergelut di dunia ini sejak 2016: Kang Ulum.

Kerja kerasnya di dunia digital advertising ini membuahkan hasil yang manis.
Saya seringkali mendapati beliau malam2 dini hari masih ngulik beginian, di mana orang2 lain masih terlelap tidur.
Seorang pembelajar dan pejuang yang patut dicontoh (y) (y)
Saat ini beliau punya 2 tim di Jambi dan di Bandung dengan belasan karyawan.
Fokusnya pada memasarkan brand sendiri (Batik Zallatra) sambil di waktu yg sama juga membantu memasarkan brand orang lain.

Yang menarik dari pemaparan Kang Ulum adalah fundamental dalam beriklan di facebook.
Ini yang biasanya terlewat di dalam training2 marketing.
Karena jika fundamentalnya belum siap, maka seberapapun efektif teknik marketingnya akan sia2.

Fundamental dalam beriklan ini meliputi:
– Value of product. Seberapa besar manfaat dari produk yang kita jual, atau seberapa besar solusi yang ditawarkan dari produk tersebut.
– Copywriting. Yaitu cara untuk mengkomunikasikan value product kita kepada audience. Karena value yang tidak dikomunikasikan, akan gagal untuk ditangkap oleh customer. Ujung2nya ga jadi beli deh ๐Ÿ˜€
– Targeting. Targeting adalah bagaimana cara kita membagi2 market. Karena tidak ada produk yang ditujukan untuk semua orang. Kalau produk ditujukan untuk semua orang, maka valuenya akan sangat kecil sekali.
– Customer Service. Ini adalah komponen sales. Kalau CS/admin kita tidak bisa closing, maka seberapapun orang yang didatangkan dengan usaha marketing, akan sia-sia.

Setelah mensharingkan fundamentalnya, Kang Ulum membagikan tentang pengetahuan dashboard facebook. Bagaimana struktur iklan di dalam dashboard facebook yaitu Campaign, Adsets dan Ads. Dilengkapi dengan bagaimana cara dasar untuk mulai beriklan.

Berbagai fitur facebook advertising dijelaskan dengan lugas oleh Kang Ulum. Misalnya fitur include, suggestion dan exclude. Misalnya kita jualan fashion untuk kalangan menengah. Kita bisa mentargetkan orang-orang di facebook yang suka brand competitor kita. Misal Zara. Setelah ketemu brand competitor, facebook bisa memberikan saran brand2 yang lain. Lalu kita juga bisa mengeluarkan orang-orang tertentu. Misalnya kita bisa tidak menayangkan ke orang-orang yang suka Tokopedia / Shopee. Karena karakteristik marketnya tidak sesuai dengan yang suka brand Zara. Penyuka toped value nya di harga murah, penyuka brand Zara menyukai eksklusivitas dan brand.

Sesi bersama Kang Ulum ini sangat membuka mindset buat orang yang baru awal-awal beriklan, maupun sudah beriklan namun tidak closing-closing.
Mangga silahkan…buat yang gak sempet datang tetapi kepo buat liat2 slidenya bisa di download di sini http://bit.ly/2v35PFy

Moga2 nanti ada sesi lanjutannya biar lebih mantep lagi dan seperti Kang Ulum ๐Ÿ˜€

NB:
Jangan lupa tanggal 21 April nanti ada acara keren buangett yaitu MoslemPreneur.
Acara ini ditargetkan untuk para member komunitas TDA yang banyak
Buat yang pengen cari reseller, mengenalkan bisnis, atau membuka peluang kerja sama, masih terbuka kesempatan buat buka booth loh.
Buruan kontak panitia sebelum keabisan tempatnya.

Salam,
Div. EPIK (Edukasi dan Peningkatan Kapasitas Anggota)
TDA Bandung

RKB Tyas Tufine

Assalamualaikum Wr Wb brother/sister dan suhu2 sekalian…

Alhamdulillah, hari ini Epik diberikan kesempatan untuk belajar di RKB bersama suhuwati kita Tyas @tufinehijab

Beliau ini lulus kuliah tahun 2015, berkarir sebentar di perbankan kemudian resign di tahun 2016. Namun sekarang sudah merasakan manisnya belasan ribu order tiap bulannya. Yang jossh gandosh adalah ini semua dimulai dari modal nol.

Tanpa punya banyak follower instagram. Tanpa punya modal duit. Tanpa punya kamera bagus buat foto2. Tanpa punya stok barang dll.

Kok bisa?

Ya karena beliau menggunakan sistem PO.
Duit masuk dulu baru diproduksi.

Sistem PO ini dipilih karena keuntungannya sebagai berikut:

1. Tanpa Modal.
Modal biasanya alasan klasik buat yang mau memulai usaha. Berbeda dengan sistem ready stok yang membutuhkan modal awal. Untuk sistem PO, modal bisa didapat dari customer. Masalah modal, solved.

2. Profit bisa dihitung dengan jelas.
Kesalahan klasik pengusaha adalah dalam penghitungan profit. Penjualan banyak, tp setelah dijumlahkan total semua biaya ternyata ga ada profit. Atau bahkan malah rugi. Nah dengan sistem PO kita bisa melakukan simulasi terlebih dahulu. Bahkan dengan menghitung harga produksi satuan. Habis itu ditentukan pengen margin berapa, dengan dikurangi biaya2. Kalau ternyata order banyak, nanti harga produksi turun menyisakan profit tambahan.

3. No dead stok.
Di awal2 usaha, kita tidak tahu bagaimana mengukur minat dari market. Kalau produksi duluan, kemudian salah mengestimasi biaya, maka akan ada stok yang mati karena tidak laku dijual. Bisa tanya suhu2 di sini yang sudah banyak pengalaman, pastinya pernah ngalamin jebakan betmen yg satu ini.

4. Latihan skill penjualan.
Dengan sistem PO maka fokus di awal adalah menjaring orderan. Skill yg dilatih di sini adalah berjualan.

5. Mengetahui minat pasar.
Kesulitan awal usaha adalah mengetahui barang apa yang bakal laku. Dengan sistem PO maka kita bisa berinteraksi lebih banyak dengan pelanggan. Dari interaksi itu kita bisa tahu selera customer seperti apa, barang apa yang laku. Bahkan seringkali customer Teh Tyas ikut membantu untuk memberikan solusi agar produknya semakin bagus. Bikin produk dibantu sama customer, dibayar pula… enak opo enaak? ๐Ÿ˜€

Beberapa quotes powerful yang dinukil dari presentasi Sis Tyas adalah:

“Kesulitan memulai usaha pasti ada. Tetapi kalau kita cuman punya modal 0, maka usaha yg diberikan harus 100. Sehingga bisa mendapatkan hasil 100. Saya ngubek2 penjahit sebandung untuk dapetin penjahit yg mau nerima satuan dan harga terjangkau”

“Di awal usaha pasti ga akan laku. Tetapi yakinlah klo terus berusaha pasti bakal laku.”

“Usaha akan berat kalau sendirian. Dengan gabung ke komunitas usaha, kita bisa dapat banyak masukan”

Nah kalau ingin tahu detailnya bisa dilihat lebih jauh di slide presentasi yg dahsyat di sini: https://goo.gl/G43zZh

Semoga sukses terus sist @tyas dan terus menginspirasi (y)

Salam,
Awan pelayan di Div Epik TDA Bandung.

NB: jangan lupa nanti sore kita ngaji bareng di TDA Mengaji yaaa ๐Ÿ˜€