MASJID “YANGDITINGGALKAN”

Wah, jam 2 pagi masih rame?

Begitu batinku saat mengunjungi masjid itu.
Padahal ini waktu paling enaknya orang tidur.
Tetapi kok bisa ya, masjid ini tetap ramai?

Parkirannya penuh dengan motor, mobil dan juga bis bis besar.
Melihat dari platnya itu bis-bis rombongan dari luar kota.
Sepertinya mereka penasaran bagaimana manajemen masjid ini berjalan, sehingga bisa selalu ramai 24 jam seperti ini.

Aku mengunjungi masjid itu juga tidak sengaja.
Seorang teman menginfokan nama masjid ini begitu tahu statusku sebagai musafir.
Aku bergerak kesana karena namanya yang unik, dan juga karena info bahwa bisa numpang istirahat di sana.

Ternyata semua orang diterima di masjid itu.
Jika ada masjid-masjid yg menulis “dilarang tidur di sini”, di masjid itu malah disediakan ruangan untuk para musafir beristirahat.
Dilengkapi dengan toilet yang bersih, juga CCTV plus satpam yg menjaga keamanan sandal-sandal orang yg singgah di masjid.

Selepas Subuh, saya berbincang-bincang dengan Imam masjid tersebut.

Saya: Pak kenapa masjid seramai ini dikasih nama Masjid “YangDitinggalkan”?

Imam: Oh ya nak, itu untuk mengingatkan kami tentang sejarah masjid ini.

Dulu Masjid ini sepi, ditinggalkan jamaahnya.

Itu terjadi karena kami sebagai pengurus masjid terlalu menyempitkan peran masjid.

Sebelumnya kami pikir masjid hanyalah sarana sholat dan tempat buat naruh kencleng sedekah saja.

Kalau ada anak-anak yang main game di masjid ini langsung kami hardik HEH MAIN GAME AJA, SANA PERGI DI SINI TEMPAT BUAT SHOLAT!

Padahal anak2 itu bisa diarahkan, diberikan ruang, kemudian dibina pelan-pelan. Anak-anak itu memang sedang masanya senang main game. Akan Lebih baik mereka kami kasih ruang dan wifi buat main game di sini. Nanti waktunya azan sholat akan kami arahkan buat sholat.

Pernah juga kami berpikir bahwa program sedekah adalah satu-satunya ibadah yang akan membawa orang ke surga. Sehingga ketika pas kebetulan tidak banyak jamaah yang datang untuk membantu program sedekah kami, maka kami marah2 ke mereka. HEH, NIAT BANTU GAK SIH? KALAU PROGRAM SEDEKAH SEPI, KALAU ACARA SENANG2 RAME. GIMANA SIH KALIAN MAU SURGA GAK?

Padahal Allah bukan menilai dari ramainya acara sedekah kami atau jumlahnya, tetapi Allah akan menilai dari keikhlasan kami menjalankan apa yg bisa kami lakukan.

Ah… malu rasanya… merasa paling benar… sampai marah2 dan kemudian memandang orang lain lebih rendah daripada kami.

Untung setelah itu ada yang mengingatkan… ketika engkau merasa paling benar, di saat itulah engkau ada di dalam kesalahan. Karena iblis dikeluarkan dari surga bukan karena tidak kenal Allah, tetapi karena merasa paling benar bahwa dia lebih baik daripada Adam.

Dulu, kami rebutan jadi Imam. Atau saling mempengaruhi bapak ini aja yang jadi imam, jangan bapak itu. Bapak itu mah ibadahnya jelek, yg bagus bapak ini. Sangking ngototnya kami dengan jagoan masing-masing, kami menjegal dan merendahkan orang lain.

Sampai kemudian ada yang mengingatkan…

Ibadah orang hanya Allah yang tahu. Orang bisa secara fisik kelihatan sholat, tetapi hatinya melamunkan harta bendanya. Namun ada juga orang yg bekerja, tetapi di dalam hatinya berdzikir kepada Allah. Siapakah kami yang bisa menilai orang lain ?

Semua yang dijadikan rebutan, adalah dunia. Termasuk rebutan jadi imam masjid.

Sejak saat itu kami mulai berusaha membenahi diri. Kami sadar bahwa kami masih banyak kekurangan. Terutama dalam memandang diri paling benar, dan memandang orang lain salah. Kami sadar bahwa selain sholat dan sedekah masih banyak ibadah-ibadah lain yang bisa merekatkan umat.

Sejak saat itu jamaah mulai kami rangkul kembali, kata-kata mulai kami atur kembali.

Sedikit demi sedikit para jamaah pun datang lewat berbagai kegiatan yg kami lakukan. Ada acara senam bareng, ada futsal, ada sepedaan pagi, ada permainan, ada sharing ilmu, ada ATM beras, ada poliklinik gratis, dan lain sebagainya. Semua aktifitas di warga adalah jalan dakwah untuk bisa meramaikan masjid.

Alhamdulillah Nak, sekarang Masjid “YangDitinggalkan” ramai kembali dan terutama bisa menebar manfaat bagi banyak orang.

Akupun manggut-manggut sambil termenung. Masjid saja bisa ditinggalkan jamaah kalau pengurusnya kaku, tidak simpatik dan merasa diri paling benar. Apalagi ruang-ruang sosial yang lain.

Ah semoga obrolan ini tidak hanya menjadi sekedar wacana. Tetapi bisa membuahkan kesadaran di dalam diriku…

—-
Jogjakarta April 2019
(Sekedar latihan nulis cerpen, mohon maaf kalau ada kesamaan nama dan tempat di dalam cerita) 🙏🙏🙏

NASI GORENG KAMBING DI JAKARTA

oleh : Awan Rimbawan

“Maknyusss” Sedapnya!
Begitu gumam saya di dalam hati ketika suapan pertama nasi goreng kambing itu masuk ke dalam mulut. Rasanya beda banget dengan nasi goreng kambing yang pernah saya makan di tempat lain.
Kalau nasi goreng kambing di Jakarta ini, rasa kambingnya menyatu di nasi. Nasinya pulen dan empuk. Gurih rempah yang kuat menghilangkan bau kambing yg biasa ada. Ditemani acar timun dan emping melinjo gurih yang membuat kriuk cita rasa.

Omong-omong, kenapa sih kok tiba-tiba membahas tentang nasi goreng di Jakarta?

Sebenarnya, selain ingat dengan rasanya yang spesial, saya juga sedang teringat dengan siapa saya suka makan di sana. Seseorang yang tidak kalah spesial dengan kelezatan nasi goreng kambing Jakarta itu. Dia punya kualitas diri yang membuat saya selalu mengenangnya. Tegar dan pintar.

Sayangnya, kisah kami berhenti sewaktu dia menikah. Saat itu sayapun masih egois dan terlalu asyik dengan petualangan hidup saya. “Bohemian”, kata dia terakhir kali mengomentari diri saya.

Tetapi, walaupun kisah kami tak berlanjut, dia tetap menempati ruang spesial di hati saya. Seperti nasi goreng kambing ini. Yang sekarang saya nikmati seorang diri, bersama kursi kosong di sebelah saya!

ps: kisah karangan untuk tugas menulis dari bale endah 😀

Semuanya diawali dari mindset: Mas TF

Assalamualaikum para suhu dan rekan2 seperdjoeangan…

Kalau hari Jumat lalu saya ketemu dengan Ketua TDA Solo, hari Sabtu nya saya sudah meluncur ke Jakarta untuk bertemu dengan salah satu kawan baru. Kawan baru ini, sebut saja namanya Mas TF.

Mas TF umurnya masih muda. Baru 30tahun. Beliau seorang apoteker yang kemudian berkarir di salah satu perusahaan kosmetik Indonesia. Di perusahaan itu Mas TF memberikan performance maksimal. Beliau membantu membesarkan omset perusahaan. Dari cuman kisaran beberapa juta sebulan, sampai beromset milyaran dalam sebulan.

Puncak gajinya pada saat itu, hampir 150 juta sebulan. Tetapi kemudian dia memutuskan resign dan memulai usaha.

Berat, pahit dan susah. Tetapi fast forward beberapa tahun kemudian… inilah yg terjadi…

Hari ini beruntung sekali saya bisa berkunjung di pabrik miliknya yang ada di beberapa lokasi di Bogor. Bisnisnya menguasai dari hulu ke hilir. Ada pabrik yang menyediakan makloon, ada brand tersendiri, bahkan ada klinik dan juga apotik.

Bocoran total omset dari perusahaan yg dimilikinya ada di angka ratusan M per tahun. Itu semua dicapai dalam waktu kurang dari 2 tahun.

Terkadang ketika mendengar cerita di atas, kita hanya mendengar versi singkatnya saja. Namun… jika dikupas lebih jauh lagi, ternyata sebelumnya beliau ini mengalami tahun2 yang penuh perjuangan. Yang tentunya tidak akan bisa tergambarkan dengan ringkasan singkat cerita satu dua hari saja.

Yang saya pelajari adalah, semua orang besar pernah mengalami apa yang saat ini kita alami.

Kesulitan, kesedihan, rasa frustrasi, kebimbangan, galau, mentok ga tau mau melakukan apa.

Namun Mas TF mengatakan 2 kunci yg saya coba rekam:

Kunci yg 1. “Masalah dalam hubungan dengan manusia akan bisa terurai setelah kita memperbaiki hubungan dengan Tuhan”
Ini membuat saya bertanya2… kalau saya mengeluhkan tentang tim saya… bukankah itu juga masalah hubungan dengan manusia? Kalau saya mengeluhkan tentang sales dan marketing, itu juga masalah hubungan dengan manusia. Kata-kata Mas TF mengingatkan saya untuk kembali ke basic. Memperbaiki apa yang sering saya lupakan dan sering saya abaikan. Back to fundamental connection.

Kunci yg ke 2: Semuanya berawal dari mindset. Teknik akan mengikuti mindset. Kalau mindsetnya berpikir besar, maka teknik pun akan menyesuaikan untuk menjadi besar.

Saat ini perusahaan Mas TF mempunya 8000 mitra yang membantunya mencapai omset ratusan milyar per tahun. Sistem di dalam perusahaannya juga memungkinkan orang2 yang mau berjuang untuk mendapatkan kesejahteraan. Banyak dari mitra ini yg mendapatkan ratusan juta per bulan. Bukan, ini bukan mlm. Ini murni dagang yang berusaha menghadirkan produk yg berkualitas ke market dan mengajak orang2 yg mau bekerja sama untuk berkembang.

Saya pun teringat, salah satu wejangan dari seorang Guru. Peran kamu sekarang adalah sebagai pengusaha. Sebaik-baik peran pengusaha bukanlah untuk memperkaya diri sendiri, tetapi untuk membagikan kesejahteraan kepada sebanyak mungkin orang. Untuk bisa menghadirkan produk/jasa terbaik yg meningkatkan kualitas hidup sebanyak mungkin orang. Untuk bisa menghadirkan solusi yang mempermudah hidup sebanyak mungkin orang.

Dan semua dimulai dari mindset.

Saya pun terpekur…
Ingatan saya melayang kepada seseorang di TDA yang mengisahkan kepada saya tentang mindset. Tentang daya juang dan ketahanan menghadapi berbagai macam masalah usaha. Beliau bernama Ruliyanto. Lulusan informatika ITB yang sukses berbisnis katering wedding.

Ah saya pun mengangenkan perjumpaan dengan beliau, yang syukurnya bisa terobati beberapa malam lagi.

Kamasutra…Kamis Malam Semua Terserah Anda. 14 Maret 2019
Start 18:30 sampe Tuntas
Lokasi di Truno58

*Ditulis 23:00 di kereta Argo Parahyangan kelas ekonomi. Meluncur menuju Bandung kota penuh cinta yang tak pernah bisa kutinggalkan…

Barang Siapa Tujuannya Adalah Dunia

Dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu , ia mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.

Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. ”

————————-

Berkaitan dengan hadits di atas… Saya bertanya kepada Pak Ustad: Apakah dunia itu hanya harta Pak Ustad?

Kata Pak Ustad:
Oh bukan hanya harta… tetapi semua hal yg bisa di cerap oleh indera, fikiran dan perasaan.
Termasuk diantaranya adalah keinginan untuk dihormati…
Keinginan untuk dianggap hebat
Keinginan untuk dianggap keren
Keinginan untuk dianggap sukses oleh orang lain
Keinginan untuk di… (silahkan isi sendiri)

Kalau ini terus dilakukan maka akan terjangkit tiga penyakit:
1. Kegelisahan yg terus menerus
2. Keletihan yg berkelanjutan
3. Penyesalan yg tidak pernah berhenti

Mendengar jawaban Pak Ustad… ane pun bagaikan tertampar-tampar… Betapa banyak keinginan2 itu ada di dalam hati ane.
Pantesan aja ane sering terjangkiti penyakit di atas…
Trus obatnya gimana Pak Ustad?

Kata Pak Ustad:
Dari pada ingin dihormati… gantilah dengan menghormati orang lain.
Daripada ingin dikenal… gantilah dengan berusaha mengenal orang lain.
Daripada ingin didengar… gantilah untuk belajar diam dan mendengarkan.
Daripada ingin dianggap hebat… gantilah untuk menghebatkan orang lain.
Daripada ingin dibantu orang… gantilah untuk membantu orang lain.
Daripada ingin dianggap sukses… gantilah untuk mensukseskan orang lain.

Karena sebaik2nya kedudukan dan kehormatan bukanlah di mata manusia… tetapi di mata Allah…

Pak Ustad juga menambahkan…

Kegiatan dunia bisa juga bernilai akhirat, tergantung niat di dalam hatinya.

Misalkan kerja, itu adalah aktifitas dunia. Tetapi jika kerja bukan diniatkan tujuannya semata2 uang, tetapi untuk membantu orang lain untuk mengharapkan ridlo dari Allah, maka itulah aktifitas dunia yg bernilai akhirat.

Sebaliknya, aktifitas ibadah yg ditujukan untuk mendapatkan dunia pun ada juga. Misalkan jadi imam dengan niat agar diketahui orang hafalan nya banyak dan nadanya bagus. Maka itu tidak akan ada nilainya di sisi Allah.

…. hatur nuhun pencerahannya Pak Ustad

CATATAN PW NAS 2019 FROM BANDUNG WITH LOVE

Assalamualaikum para suhu dan rekan2 seperdjoeangan…
Ane pengen ngucapin terima kasih banyak kepada panitia dadakan kontingen bandung goes to PW Nasional.
Panitia dadakan ini diinisiasi dgn waktu yg sangat mepet oleh Kang Iman Firmansyah

Sebenernya apa yang beliau lakukan ini simple…
Mengawal dan mengkoordinasikan teman2 yg antusias ingin datang ke PW.

Namun sesuatu yg simple bukan berarti mudah.
Saya tahu banyak sekali waktu, tenaga dan pikiran yg tercurah…

Kang Iman, kemudian dibantu oleh Coach Branto, Coach Buder dan akhirnya banyak yg lain berkontribusi.
Baik dengan cara mengkoordinasikan jam keberangkatan, rental mobil, bikin kaos, arrange penginapan, jemputin yg terjebak hujan, sharing materi dlsb.

Bukan hal yg mudah di tengah2 waktu yg singkat dan kesibukan mengurus bisnis.

Alhamdulillah 48 orang member TDA Bandung berangkat ke PW Nas dan pulang dengan selamat.

Tapi kenapa sih mereka mau repot2 melakukan hal itu?

Saya yakin bukan karena uang, karena tidak mendapat gaji dari aktifitas ini. Besar kemungkinan tindakan ini lahir dari ketulusan untuk melayani orang lain.
Keinginan untuk berbuat kebaikan terlepas dari keterbatasan yg sedang dialami oleh pribadi masing2.

Teman-teman yang kemarin datang di PW juga punya pengalaman yg berbeda2. Karena banyak hal yg terjadi bersamaan dengan begitu banyak panggung dan pembicara.

Contohnya ada yang mengalami momen2 pencerahan di panggung inspirasi bersama Coach Rene.

Coach Rene yg saat itu bertindak sebagai Komisaris Utama Ancol mengingatkan kembali: “Seberapa banyakpun uang dan harta tidak akan bisa dibawa mati”

Yang lebih penting dari pertanyaan mencari uang sebanyak2nya adalah: “Apa yg sudah dan akan saya lakukan untuk bisa melayani orang lain?”
Karena itu adalah bekal yg sesungguhnya yang akan bisa dibawa mati.

Saya jadi teringat seorang bijak yg berkata: “Seumur hidup orang mencari sesuatu yg tidak pasti. Padahal kematian itu adalah sesuatu yg pasti”

Siang itu, rasanya saya tidak berada di lingkungan wirausaha tetapi berada di sebuah pengajian besar yg mengajarkan tentang makna kehidupan.

Saya juga menjadi saksi seorang teman yang mengalami manisnya deal-deal bisnis di luar gedung. Kebetulan dia ketemu dengan kenalan lama seorang pengusaha besar.

Sebenernya teman saya ini dari dulu pengen kerjasama, tapi tidak tahu bagaimana bentuknya. Kemarin pas ketemu lagi, teman saya ini berceletuk: “Pak ajarin saya tentang usaha Bapak dong…”
Eh pengusaha itu malah menimpali: :”Hayuk kita bikin brand bareng aja…”
Padahal sudah bertahun2 dia pengen kolaborasi, tp ternyata gongnya baru terjadi sekarang.
As simple as that, sebuah deal terjadi di suasana santai meja kantin. Saya yakin hal-hal seperti ini banyak terjadi di meja2 yg lain.

Ada juga yang nginep di Aston Marina terus waktu Subuh ga tau cari masjid di mana. Akhirnya dia melangkah ke mushola hotel. Harapannya di sana bisa ketemu orang lain yg bisa berjamaah. Nah kebetulan ketemu rombongan TDA dari kota lain.

Ngobrol kesana kemari sampai kemudian membuka topik tentang bagaimana menyeimbangkan bisnis dan sosial. Ternyata teman TDA dari daerah lain ini kemudian mensharingkan bagaimana caranya walaupun bisnis masih kecil tapi sudah bisa bikin sekolah tahfidz gratis.
Dengan murid tetap 70 orang plus santri kalong yg berjumlah ratusan orang. Semuanya gratis-tis.

Momen ini sepertinya menjadi titik Aha teman saya.
Mindsetnya mulai terbuka bahwa memungkinkan kok, membuat sebuah perbaikan sosial walaupun bisnisnya masih kecil.

Di waktu yg lain di area lobby gedung saya ketemu teman lama. Sebut saja si X dan si Y.
X ini cerita bisnis lagi struggle dan ancur2an, kebetulan Y bisnisnya sudah agak stabil dan trend nya menaik.

Selanjutnya X cerita bahwa dia udah belajar ke sana kemari, teknik2 bisnis udah banyak yg khatam. Tapi entah kenapa, kok ya selalu gagal ketika dieksekusi.
Ada yang udah deket mau deal besar, tapi gagal maning gagal maning.
Kemudian yg udah dapet deal, cari supplier banyak yg gak amanah.
Akhirnya kepercayaan customer luntur dan dia pun kena marah-marah.
Cerita lagi bahwa pegawainya keluar masuk dan bahkan ada yg melakukan penipuan.

Dibedahlah sama si Y.
Bukan tentang bisnisnya, tetapi apa yg dilakukan oleh X di luar bisnis.

Ternyata baru ketauanlah dosa2 yg sering dilakukan oleh si X dalam kehidupan sehari-hari-nya.

Y pun memberikan masukan bahwa dosa dan maksiat itu akan mengundang kesulitan hidup.
Kesulitan dalam bidang bisnis, karir, jodoh, finansial, kesehatan, keluarga, dlsb.
Nah untuk memulihkannya maka yg pertama dibenahi bukan teknis bagaimana membereskan kesulitan itu.
Yang perlu dibenahi adalah hubungan dengan Tuhannya terlebih dahulu.

Cara yg sangat ampuh adalah dengan memperbayak tobat, meningkatkan kualitas ibadah dan juga memperbanyak kegiatan membantu orang lain.

Anda tahu apa yang indah dari dialog di atas?
Teman saya X dan Y tidak berasal dari satu kepercayaan agama yg sama.
Saya mendengar secara jelas bahwa Y tidak menyalahkan agama X.
Tetapi mencari persamaan-persamaan yang bisa digunakan untuk memperbaiki hidup X.

Ah indah sekali menyaksikan dialog mereka berdua.
Menggunakan persamaan-persamaan sebagai jembatan untuk membuat dunia ini menjadi tempat yg lebih baik.

Memang komunitas dengan berbagai macam warna dan karakter di dalamnya adalah tempat ideal sebagai pemersatu persamaan.

Sebagai pendengar dan pengamat di PW nasional saya, cuman bisa membatin Subhanallah…

Ternyata etul juga bahwa hidup kita secara syariatnya diubah dengan dua hal: buku yg dibaca dan orang yg ditemui.

Begitu juga dengan orang-orang yg saya temui di kontingen bandung kemarin. Kami mengalami berbagai macam momen2 bersama:
– Malam2 hunting nasi goreng kambing…😆
– Pagi2 saling gerebek kamar, buat nyari sarapan…😆
– Lari terbirit2 waktu salah gedor kamar orang…😆
– Udah rame2 naik lift ternyata salah tower, terpaksa turun lagi lewat tangga darurat 😆
– Dorong2 orang jadi ketua, hanya untuk kemudian masuk ke dalam bursa pemilihan sekjen.😆
– Rame2 ngeliat pantai, sesuatu yg tidak ada di Bandung😆
– Makan mie goreng sepiring bareng2…😆
Ah…Banyak sekali tawa, haru dan inspirasi bercampur di PW Nasional.
Banyak sekali ilmu, insight dan pengalaman.
Banyak sekali orang yang mencerahkan.

Saya rasa, momen2 itulah yang abadi akan tersimpan sebagai sebuah kenangan indah.
Karena seringkali, hal-hal simple yg berharga di dalam kehidupan tidak bisa dinilai dengan uang.

Salut buat Kang Iman yang menginisiasi koordinasi kontingen kemarin dengan ketulusan.
Salut buat teman2 lain yg membantu keberangkatan dan kepulangan.
Salut buat panitia PW Nas dan juga Kang Ferdian Brillian yang sudah bekerja keras dengan ketulusan.

Saya yakin ketulusan tersebut akan menular di dalam diri orang-orang.
Untuk mau memulai mencari cara untuk melayani, untuk tidak melulu berpikir tentang keuntungan sendiri.
Hal jazaa ‘ul-ihsaani illal-ihsaan (Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula)

Terima kasih Ya Allah, Terima kasih atas persaudaraan dan keindahan ini. 🙏🙏🙏

SILATURAHMI FISIK YANG TAK PERNAH BISA TERGANTIKAN.


Pengen deh seperti suhu-suhu yg ane temui di acara Kelompok Mastermind (KMM) Bandung Entrpreneur Forum (BEF) TDA BDG kemarin…

 

Ada salah satu suhu yang bisa konsisten sedekah 50% dari keuntungan bisnisnya.

Mau keuntungan besar, mau keuntungan kecil pokoknya dipotong 50% buat sedekah.

 

Gimana cara mulainya?

Ternyata beliau mulai justru dari pendapatan kecil.

Sewaktu masih kerja, konsisten mensedekahkan 50% dari gajinya.

Kemudian sambil kerja, merintis usaha.

Ga muluk2 ga pakai modal uang.

Cuman bantuin jualan temen sekantornya aja.

Dikasih diskon 10%, itu yg diusahakan.

 

Kemudian berlanjut resign dari pekerjaan.

Padahal ketika mau resign pendapatan dari bisnis baru setengah dari gajinya di kerjaan.

Ujian selanjutnya, bisakah beliau konsisten mensedekahkan 50% dari pendapatannya?

Ternyata ujian tersebut pun dilalui, walau itu berarti beliau harus menurunkan gaya hidupnya.

 

Bahkan sampai dengan sekarang…

Ketika bisnis sudah berkembang dan punya 4 karyawan pun, masih tetap seperti itu…

Pengen deh…

 

Pengen juga seperti suhu yg lain.

Belajar untuk diam, bukan belajar untuk pamer omset agar dianggap hebat oleh orang lain.

Padahal saya tahu salah satu gaji karyawannya aja ada yg menyentuh angka ribu-an dollar per bulan.

 

Itu baru satu karyawan, padahal beliau punya puluhan karyawan.

 

Karyawan2nya direkrut dari lingkungan tetangga2 sekitar.

Yang pengangguran, yang ga ada kerjaan, yang sehari-hari cuman nongkrong2, diajarin dari nol sampai bisa.

 

Kemudian diarahkan sering mendekat ke masjid.

Karena beliau percaya bahwa keberkahan suatu daerah berkorelasi erat dengan makmurnya masjid di daerah tersebut.

 

Ketika ngobrol2 santai dan dikorek2, baru beliau cerita bahwa sekarang ini beliau sedang belajar sesuatu…

Yaitu mendawamkan kebesaran Allah agar terhindar dari penyakit sombong.

Karena kesombongan dan keinginan untuk dihormati orang itulah yg nantinya justru bakal menghinakan.

 

Ada lagi yg mendesain sistem dikantornya untuk sama2 mendekat kepada Allah.

Karyawan2nya setiap pagi ada laporan ibadah tahajud, dzikir dan tilawah hari kemarin.

Pagi2 Dluha bersama, dan baca quran bersama.

Setiap minggu ngundang guru tahsin, dan juga ada sesi ngaji tafsir.

 

“Ini sebenarnya bungkusnya aja bisnis, tp dalemnya pelan2 pengen seperti pesantren Kang”, ujarnya.

 

Ternyata bisnis bagi dia, hanyalah sebuah jembatan untuk mendekatkan orang2 di dalamnya kepada Allah.

 

Pengen deh punya mindset seperti beliau2 ini…

Yang yakin (bukan sekedar percaya) bahwa Allah selalu memberi yg terbaik.

 

Salah satu suhu bercerita bahwa ketika anaknya lahir, dia cuman pegang uang 2jt.

Buat lahiran di bidan habis 1,5 juta.

Selesai lahiran uang cuman tersisa tinggal 500rb lagi, namun ada yang aneh… asi yg masuk selalu keluar lagi.

Akhirnya dicek ke rumah sakit dan baru ketahuan bahwa bayinya tidak punya kerongkongan.

 

Dokter bilang untuk operasi dan tindakan paling tidak butuh 100jt.

Padahal dia hanya pegang 500rb.

 

Namun yg mampu menyelesaikan segala masalah kan bukan uang, tetapi Allah.

Ya udah, bergantungnya sama Allah aja, jangan sama uang.

 

Apa yang mau dilakukan lagi selain mendekat kepada Allah?

 

Dari situ beliau kemudian belajar.

Bahwa Nabi Yunus pun seperti itu.

Ketika berada dalam tiga kegelapan: gelapnya malam, gelapnya dasar laut, dan gelapnya perut ikan, Nabi Yunus berdoa:

 

“La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minaz zalimin”

“Bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah Termasuk orang-orang yang zalim.”

 

Setelah berdoa apakah langsung dikeluarkan dari perut ikan paus?

 

Tidak…

 

Karena Ikan itu masih di dasar laut maka kalau langsung dikeluarkan, bisa2 nanti malah mati di dasar lautan.

Perlu dikondisikan dulu sama Allah untuk dikeluarkan dari kesulitan di saat yg tepat…

 

Dinaikkan pelan2 ke permukaan dan dikeluarkan di tempat yg aman di pinggir pantai.

Setelah Nabi Yunus kembali kepada kaumnya ternyata kondisi umatnya sudah beriman semua.

Dibereskan sama Allah semua permasalahan2nya.

 

Ah, dari suhu2 kemarin saya banyak sekali belajar.

Bahwa step awal memperbaiki segala kesulitan adalah: perbaiki dulu hubungan dengan Allah.

Perbaiki dulu ibadahnya.

Perbaiki dulu niatnya.

Baru kemudian sisanya baru berikhtiar.

 

Terima kasih atas pencerahannya para suhu…

 

Saya makin yakin bahwa tidak ada yang bisa menggantikan pertemuan fisik silaturahmi.

Karena pastinya cerita-cerita seperti ini tidak akan saya bisa dapatkan kalau saya cuman melototin group whatsapp dan telegram.

 

Selamat bersilaturahmi di hari minggu ini para sahabat 🙂

 

Jangan lupa minggu depan kita silaturahmi dan ketemu langsung dengan para suhu2 kelas kakap di Pesta Wirausaha Nasional

 

Mau berangkat baren g2 sama TDA BDG ?

Kontak aja suhu ane: Coach Subranto dari Dyummy Catering +62818277112

 

See you 🙂

Bertasbih dan Bekerja Keras Untuk Allah

#7

وَإِذْقَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَئِكَةِ اِنِّى جَاعِلٌ فِىْ الاَرْضِ خَلِيْفَةً قَالُوْا أتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّى أَعْلَمُ مَا لاَتَعْلَمُوْنَ {البقرة: 30}.

“Dan ingatlah tatkala Tuhanmu berkata kepada para Malaikat:’Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di muka bumi . Mereka bekata:’Mengapa Engkau hendak menjadikan (Khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? Tuhan berfirman:”Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui ” (QS.Al-Baqarah: 30).

Ada ulama yg menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut:

Malaikat menyangka bahwa manusia akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah.

Dibandingkan dengan malaikat yang senantiasa bertasbih dan memuji Allah.

Kata bertasbih dan memuji Allah itu bukan berarti duduk dan mengucapkan Subhanallah berulang2.

Tetapi malaikat senantiasa menuruti perintah Allah, bekerja siang dan malam sesuai perintah Allah.

Kalau lawan dari kata merusak adalah merawat… Maka yang malaikat lakukan adalah merawat alam semesta ini dengan baik sesuai dengan perintah Allah.

Maka jika manusia diperintahkan untuk bertasbih dalam surah An Nasr ayat 3:

(3). فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚإِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
fasabbih bihamdi rabbika wastaghfirhu innahu kaana tawwaabaa (maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.)

Maka bukan hanya berarti hanya duduk sepanjang hari mengucapkan Subhanallah berulang kali tetapi justru harus ditambah dengan bergerak, berusaha, bekerja keras, berpikir dan memanfaatkan akal, sehingga bisa memberikan manfaat bagi alam semesta. Dengan diniatkan untuk Allah.

Bertasbih, memuji Allah dan memohon ampunan bukan hanya bisa dilakukan sambil duduk diam… Tetapi terutama dilakukan secara aktif dalam pekerjaan yang kita lakukan.

Wallahu ‘alam bishowab.

Selamat weekend brother/sister, aku doakan bisa terus semangat bekerja dan berbuat kebaikan untuk mengharap ridho Allah 

Cara Menghapuskan Dosa

#6

Semua doa pasti dikabulkan oleh Allah.

Namun sayangnya doa itu terhalang oleh dosa2 dan maksiat.

Bagaikan gelas, air akan mudah sekali masuk jika tidak ada tutupnya.

Namun jika ada tutupnya, maka air tidak akan bisa masuk walaupun air terus menerus dituangkan.

Jadi kalau kita mendapati:

  • hati galau terus menerus
  • pikiran bingung kesana kemari
  • berbagai usaha dilakukan tapi tidak ada hasilnya
  • sakit datang silih berganti
  • rezeki terasa seret
  • sudah berdoa tetapi tidak kunjung selesai…

Besar kemungkinan semua itu diundang oleh dosa dan maksiat yang kita pernah lakukan.

Nah terus gimana dong kalau seperti saya yg terlanjur banyak melakukan dosa dan maksiat?

Dalam sebuah kajian, saya mendengar bahwa dosa dan maksiat bisa dihapuskan dengan 4 cara:

  1. Bertaubat
  2. Berbuat baik
  3. Sabar dalam ujian kesulitan
  4. Dibayar di akhirat

Bertaubat bisa dilakukan dengan banyak-banyak membaca istighfar, mohon ampunan kepada Allah dan menyesali dosa-dosa yang pernah diperbuat. Kemudian bersungguh-sungguh mencari cara dan strategi untuk tidak mengulanginya lagi. Bisa juga dengan memperbanyak sholat taubat.

Berbuat baik bisa dilakukan dengan bersedekah, meningkatkan ibadah, ikut serta dalam project-project kebaikan. Bisa juga dengan mengajak orang lain kepada kebaikan.

Dosa dan maksiat akan mengundang berbagai ujian kesulitan. Sakit yg datang silih berganti, usaha yg tidak kunjung membuahkan hasil, kesialan dan kehilangan barang-barang, dlsb. Namun itu pun hadir karena kasih sayang Allah. Allah ingin memanggil kita untuk menjauhi dosa dan mendekat kepadaNya. Jika kita sabar dalam menghadapi berbagai ujian itu dan berprasangka baik kepada Allah maka hal itu bisa menggugurkan dosa-dosa kita.

Ketiga hal di atas bisa dilakukan di dunia. Namun jika kita tidak juga melakukannya, maka pilihannya adalah dibayar di akhirat. Dibakar di neraka. Itupun karena kasih sayang Allah. Allah menunjukkan bahwa Dia menciptakan neraka agar kita tidak berbuat dosa dan maksiat di dunia. Karena dosa dan maksiat akan membuat hidup di dunia sulit dan menderita. Allah ingin ciptaanNya selamat di dunia dan akhirat.

Saya menulis ini bukan untuk mengajari siapapun. Tetapi agar menjadi catatan dan pengingat bagi diri saya yang telah banyak melakukan dosa dan maksiat. Semoga saya bisa melakukan 3 hal yg awal, sebelum waktu saya habis dan harus membayarnya di akhirat.

Saya juga mendoakan bro/sist semuanya… agar selalu diberi hidayah oleh Allah… hidup bahagia penuh kedamaian di dunia dan selamat sejahtera di akhirat…

Semoga kita bisa memanfaatkan kesempatan hidup di hari ini, Jumat barokah 🙂

Mengobati Iri Dengan Mendoakan Orang Lain

#5
 
Kata Pak Ustad, salah satu cara untuk mengobati penyakit hati adalah doa.
 
Terutama penyakit hati seperti iri.
 
Iri bisa menyebabkan SMS. Susah Melihat orang lain Senang. Senang Melihat orang lain Susah.
 
Jika muncul kesadaran bahwa saya iri melihat pencapaian orang lain, segeralah beristighfar.
 
Istighfar adalah sebuah cara untuk memohon ampun, sekaligus meminta perlindungan.
 
Setelah itu dilanjutkan dengan mendoakan orang yang kita iri kepadanya. Lebih bagus lagi dengan menyertakan objek yg membuat kita iri. Misalnya:
 
“Ya Allah tambahkanlah rejeki kepada orang tersebut”
“Ya Allah berikanlah keberkahan di setiap uang yg dia dapatkan”
“Ya Allah jadikanlah pendapatan yg dia terima menjadi bermanfaat buat keluarga, orang tua dan anak2nya”
“Ya Allah berikanlah dia kebahagiaan”
 
Dengan mendoakan orang lain, maka kita mendidik hati supaya kembali kepada fitrahnya.
 
Fitrahnya hati adalah selalu mengajak kepada kebaikan.
Fitrahnya hati adalah senang melihat orang lain bahagia. Justru sedih melihat orang lain berada dalam kesulitan.
Fitrahnya hati adalah memahami bahwa Allah Maha Tak Terbatas. Dia bisa menciptakan matahari, bulan bahkan galaxy sekalipun. Kalau Allah mau, semuanya bisa diberikan untuk kita.
Sehingga tidak ada yg perlu di-iri-kan.
 
Terima kasih Pak Ustad atas pencerahannya 🙏🙂

(GIVE) BE – DO – HAVE

Assalamualaikum para suhu dan rekan-rekan seperdjoeangan,

Punten newbie numpang lewat…

Beberapa minggu yg lalu di saya hadir di pertemuan KMM Kopi Dangdut.
Suhu yg mengisi di pertemuan tersebut adalah Suhu Hergal.
Di sana ane ketemu lagi sama istilah Be – Do – Have.

Kalau di inget2, ane pertama kali ketemu istilah ini duluuu banget waktu ikutan KMB (Kelompok Mentoring Bisnis).
KMB waktu itu Mentor nya Mas Ruli.

Sebenernya KMB nya Mas Ruli kuotanya udah full.
Tp karena ane bantu2 di kegiatan KMB, jadilah ane bisa nyempil jadi mentee di KMB Mas Ruli.
Alhamdulillah, berkah ikut ngurusin kegiatan TDA 😀

So singkat cerita di situ ane belajar tentang konsep Be-Do-Have vs Have-Do-Be.
Perbedaan kedua urutan dari proses berpikir ini memberikan pengaruh yg sangat berbeda.
Kebanyakan orang berpikir bukan dengan urutan Be-Do-Have, tp justru Have-Do-Be.

Di dalam urutan Have-Do-Be , prosesnya adalah sebagai berikut:
1. Saya harus punya dulu (Have)
2. Sebelum bisa melakukan sesuatu (Do)
3. Sehingga kemudian saya bisa merasakan atau menjadi yg saya inginkan (Be)

Misal,
Saya harus punya duit dulu (HAVE)
Untuk kemudian membuat bisnis (DO)
Sehingga saya bisa jadi bahagia (BE Happy)

Contoh lainnya:
Saya harus punya usaha yg keren dulu (HAVE)
Untuk bisa menikah, beli rumah, sedekah, dll (DO)
Sehingga saya bisa menjadi sukses (BE Success)

Pola pikir Have-Do-Be ini sangat membatasi.
Karena untuk melakukan action ada syaratnya, yaitu memiliki sesuatu.
Kemudian untuk mengalami kondisi batin yg kita inginkan, disyaratkan kita sudah punya sesuatu dan sudah melakukan sesuatu.

Pola pikir inilah yang menyebabkan seseorang terjebak di dalam “banyak mikir tp tidak ada action”.
Lalu terjebak dalam berpikiran untuk merasakan sesuatu maka syaratnya harus memiliki sesuatu terlebih dahulu.
Ujungnya2 akan jatuh kedalam mentalitas victim.
Saya gak bisa soalnya… xxx

Nah kabar baiknya, dengan mengubah urutan berpikirnya maka akan menjadi lebih dahsyat lagi.
Caranya adalah dengan mengubah Have-Do-Be menjadi pola pikir Be-Do-Have.

Di dalam urutan ini, maka proses “menjadi” nya yang lebih penting daripada proses “memiliki”.

Misal dalam contoh di sebelumnya…
Saya sekarang bahagia (BE Happy)
sehingga dari keadaan bahagia itu saya bisa memulai bisnis (DO)
ujung2nya saya akan mendapatkan (HAVE result or learning experience)

Atau…
Saya adalah orang sukses (BE)
Sehingga saya bisa melakukan usaha2 untuk merencanakan pernikahan, membuat plan memiliki rumah, atau bersedekah (DO)
Ujung2nya saya akan memiliki apa yang saya rencanakan, atau saya akan memiliki pengalaman lain yang Allah gariskan (HAVE)

Sehingga perubahan urutan dari Have-Do-Be menjadi Be-Do-Have akan mengempower seseorang.
Cara bertindaknya tidak lagi dibatasi oleh apa yang dimiliki.
Cara bertindaknya akan diperkuat justru pada bagaimana dia memandang dirinya sendiri (Be).

Nah permasalahannya bagaimana membuat perubahan pada pola pikir ini?

Semenjak berinteraksi dengan komunitas TDA, saya jadi menemukan sebuah komponen pelengkapnya yaitu: Memberi (Give)

Give adalah komponen pelengkap sehingga seseorang bisa men-switch pola pikirnya dari keterbatasan Have-Do-Be menuju keleluasaan Be-Do-Have.
Have-Do-Be —> Give —-> Be-Do-Have

Di dalam Have-Do-Be, yang menghalangi seseorang untuk bertindak adalah syarat bahwa dia harus memiliki sesuatu.
Nah dengan melakukan proses memberi maka keterbatasan itu pelan2 akan menghilang.
Otaknya akan berpikir bahwa karena dia memberi, maka dia sudah memilikinya.
Kemudian orang tersebut pelan2 akan menjadi sesuatu (Be) sesuai apa yang dia berikan.
Sehingga memungkinkan dia untuk melakukan sesuatu yg lebih besar (Do More).
Ujungnya2 hal2 baik yang dia inginkan akan kembali datang kepadanya (Have).

Contoh kasus…
Salah satu member TDA datang ke TDA tanpa merasa punya skill apa2.
Sebut saja namanya Bebenlicious. (Sama seperti Mawar, bukanlah nama sebenarnya)
Nama sengaja disamarkan karena saat ini beliau sudah jadi suhu dan orangnya sangat rendah hati.

Menarik untuk menyimak perjalanan dia.
Beben datang ke TDA tanpa punya skill apa2.
Tetapi berkat silaturahmi dengan salah satu suhu TDA, dia menemukan sesuatu yg bisa diberikan.
Beben menemukan bahwa dia bisa memberikan waktunya sebagai MC di acara TDA.

Awal2nya tentu saja tidak sempurna.
Awal2nya pasti saja kagok dan banyak crispy nya (garing).
Saya sendiri jadi saksi pas liat Beben nge-mc di TDA Camp Batch 1

Namun dalam ketidaksempurnaan tersebut, dia terus “memberi”
Dia nge-MC di sebagian besar acara TDA.
Baik besar maupun kecil.
Gak mikir bayaran, karena kalau mikir bayaran itu berarti bukanlah proses memberi tetapi proses meminta.
Dia terus memberi…memberi…dan memberi…

Seiring dengan berjalannya waktu skill nya meningkat.
Dia menjadi sesuatu yg lebih besar dari diri sebelumnya.
Sehingga dia bisa Do more and Have more.
Begitu menggulung terus menerus bagai bola salju yg semakin lama semakin besar tak terbendung.
Saat ini, Beben sudah masuk menjadi jajaran MC di acara2 nasional.
Dia berdiri di panggung dengan jumlah audience ribuan orang.
Setara dengan pembicara2 nasional hebat lainnya.

Beben juga sebuah efek dari proses memberi yg dilakukan oleh suhu di TDA yang mengencourage dia untuk naik panggung.
Sebut saja namanya Raisal Ahmad (juga bukan nama sebenarnya.
Beliau adalah suhustad yg rendah hati dan gemar berbagi inspirasi.

Contoh kedua:
Salah satu member di tda yg lain bernama Alif Kurniawan (lagi2 bukan nama sebenarnya)

Ketika awal Alif bergabung di TDA, dia menganggap dirinya sebagai orang yg introvert.

Tetapi kemudian Alif melakukan proses memberi.
Alif memberikan waktunya untuk bergabung di berbagai kepanitiaan buat mensukseskan acara2 TDA.

Di sela2 job kepanitiaannya Alif memberikan nilai lebih dengan memotret dan juga merekam video dalam acara tersebut.

Tidak berhenti di situ, Alif mendekati suhu-suhu di TDA dan membuat video berisi rekaman wawancara dia.

Awalnya tidak sempurna.
Videonya suaranya kecil.
Pas wawancara kagok.
Tetapi dia terus melakukan proses memberi di dalam segala keterbatasannya…

Sekarang?
Dia sudah memiliki skill fotografi dan videografi.
Event-event TDA bandung tidak pernah lepas dari hasil karya dia.

Video ciptaannya selalu bisa memunculkan sisi emosi yang menyentuh kalbu para member TDA.

Alif bertransformasi dari “tidak bisa” menjadi “ahli” dari proses memberi.
Alif menswitch pola pikir Have-Do-Be menjadi Be-Do-Have dari proses memberi.
Alif yg sekarang punya tambahan bisnis foto/videografi dan bisa mendapatkan uang dari passion nya.
Alif yg sekarang adalah seorang Vlogger yg sangat produktif.

Dua contoh suhu di atas sample metamorfosis dari orang biasa menjadi orang luar biasa.
Selain Beben dan Alif, saya menjadi saksi hidup banyak sekali orang yang berubah dengan proses memberi yg tulus di komunitas TDA.
Masih banyak lagi yg lain yg nanti temen2 bakal temukan sendiri waktu kopdar langsung 🙂

Have-Do-Be —> Give —-> Be-Do-Have

Saya sendiri masih belajar banyak dari para suhu-suhu tersebut.
Yang terus bergerak, berproses dan memberi tanpa mau dibatasi oleh persepsi apa yang mereka miliki.
Yang terus memberi untuk kemudian mengetahui siapa diri mereka sebenarnya.

“Because we are not physical beings who want to experience spiritual things… We are spiritual beings who want to experience physical things”

Salam,
Divisi Epik (Edukasi dan pengembangan kapasitas)
TDA Bandung.

PS:
– Salam super keren buat temen2 KMM Kopi Dangdut yang “memberikan” waktu untuk mengundang para suhu dan menginisiasi pertemuan mingguan.
Contoh nyata yg lain bahwa tidak butuh syarat a,b,c,d untuk memberi, cuman butuh kemauan.
YOU ROCK GUYS!!!!!

– Jangan lewatkan event gratis di Malang untuk upgrade ilmu dan upgrade permodalan biar bisnis makin JOSH GANDOSHH