Alhamdulillah… akhirnya bisa belajar ke Kuala Lumpur…
Diundang datang di acara Asia Innovates di Kuala Lumpur.
Dibayarin tiket pesawat dan hotel. Juga bisa ketemu sama para inovator2 keren internasional…
Semoga bermanfaat…
Alhamdulillah… akhirnya bisa belajar ke Kuala Lumpur…
Diundang datang di acara Asia Innovates di Kuala Lumpur.
Dibayarin tiket pesawat dan hotel. Juga bisa ketemu sama para inovator2 keren internasional…
Semoga bermanfaat…
“Umar, tuh…tuh… liat ada burung!”
Seketika tangis Umar berhenti waktu saya menunjuk seekor burung yg nangkring di pagar. Awalnya hanya ada satu burung. Kemudian seekor burung yg lain terbang menghampiri. Mereka bercicit-cuit dan tidak lama, hinggap burung-burung lainnya. Dalam waktu singkat pagar depan rumah pagi ini jadi tempat kerumunan burung.
Ekspresi Umar pun jadi makin sumringah melihat semakin banyak burung. Saya yang tadinya hanya menargetkan untuk menghentikan tangis Umar, tak sadar ikut tertular kebahagiaan melihat burung-burung ceria bersilaturahim di pagar rumah. Burung-burung itu menjadi sebuah bukti nyata bahwa silaturahim itu ternyata membahagiakan.
Tidak salah kalau universitas Harvard pernah melakukan sebuah riset. Dikenal sebagai riset terpanjang di dunia mengenai kehidupan orang dewasa. Sejak tahun 1938 mereka merekam dan mengikuti kehidupan orang-orang dewasa untuk menemukan apa yang membuat orang-orang itu bahagia. Ternyata mereka menemukan bahwa kunci dari kebahagiaan adalah: relationship.
Orang yg paling bahagia adalah orang yang punya kualitas mendalam terhadap relationship. Baik hubungan dengan keluarga, teman dan juga komunitasnya.
Ba’da lebaran kemarin, saya beruntung bisa berhubungan dan bersilaturrahim dengan banyak orang.
Saat acara aqiqah anak ketiga Abah Zap Express, saya bisa bersilaturrahim dengan Kang Hernawan, Kang Jargus, Kang Faisal, Kang Yasin, Kang Haris dll. Suasana bahagia menyambut bayi yg baru lahir, dibungkus dengan obrolan santai. Tema obrolan seputar dinamika kas di TDA Nasional dan juga dinamika organisasi di TDA Bandung menjadi semakin lezat ditemani gulai kambing aqiqah.
Kemudian beberapa hari kemudian bersilaturahmi di Basecamp Immortal. Ketemu sama Mas Yusuf, Kang Attay, Kang Deden, Kang Ariez, Kang Harland, Kang Bondbond. Di sana saya banyak mendengar pencerahan dari para suhu. Ada yg bercerita mengenai cara yang baik dalam menyampaikan pendapat. Ada yang bercerita mengenai kehangatan yang di dapat dalam komunitas TDA. Ditemani oleh kopi immortal, malam yang dingin itu ternyata sukses menghangatkan hati kami.
Selang beberapa hari, giliran temen2 Divisi Epik yg ngajakin untuk ketemuan. Acaranya dibungkus dengan tema main anak. Jadi dipilihlah play ground TSM. Bareng sama Teh Vicky, Teh Adel, Kang Buder, Kang Bagas, Kang Jargus juga Kang Hendra Martabak. Selagi Kinan, Oi dan tiga bidadari kecilnya Kang Hendra main, kami bisa ngobrolin banyak hal. Terutama tentang bagaimana kelanjutan setelah divisi epik selesai. Bagaimana agar kita bisa terus berkembang saling menguatkan secara personal dan secara bisnis di TDA. Sambil menikmati es krim cone, diskusi tentang cara menghadapi ketakutan ditutup dengan challenge: naik roller coaster bareng-bareng π
Nah kemarin silaturrahmi dilanjutkan di Republik Sadu Soreang. Di sana ngobrol santai bersama Kang Bowo, Aagyn, Mas Wiet, Kang Wildan, Kang Deden, Kang Jargus dlsb. Senangnya makan ikan bakar sambil mendengarkan cerita-cerita perkembangan bisnis para suhu yg semakin meroket. Ada yg lagi ngebangun gedung training, ada yg lagi ngurus perikanan milik salah satu public figure nasional, ada yg dapet orderan ribuan paket, dlsb. Mendengar kisah sukses mereka membuat saya semakin ber-energi menatap masa depan π
Dan barusan saya silaturrahim ke suhu saya mang yasin yang baru saja nambah anak ketiga. Daging domba aqiqah jadi saksi serunya cerita perjalanan bisnis beliau. Saya belajar tentang nature pebisnis. Ada titik mendapatkan, ada titik melepaskan. Ketika mendapatkan perlu melatih rasa syukur. Ketika melepaskan perlu melatih rasa sabar. Ah sebuah pelajaran berharga dari silaturrahim.
Padahal dulu, saya tidak suka silaturrahim.
Ke tempat saudara saja males.
Males ditanya2.
Males dikritik.
Males mendengarkan omongan2 yg tidak enak di telinga.
Ada om yang omongannya pedes.
Ada tante yg judes.
Ada ponakan yg rewel.
Ada sepupu yg kepo dan kompetitif.
Pertanyaan yg bikin iritasi pun bisa muncul out of nowhere:
Kapan nikah?
Kok kurusan?
Kok gendutan?
Kok belum lulus?
Kok belum punya anak?
Ah pusing…
Tapi lambat laun saya sadar bahwa saya tidak bisa mengontrol semua orang. Apalagi mengontrol apa yang mereka katakan.
Lha, jangankan mengontrol orang lain, mengontrol diri sendiri saja sulitnya setengah mati…
Pastinya akan lebih sulit bahkan mustahil untuk mengontrol orang lain.
Sehingga kemudian saya sampai pada kesimpulan bahwa salah satu jalan menuju ketidak bahagiaan adalah ketika kondisi hati digantungkan kepada tindakan/ucapan orang lain.
Lalu saya menemukan, sesuatu yg lebih produktif.
Alih-alih berusaha menjadikan orang lain seperti yang saya harapkan, ternyata akan lebih produktif jika saya melatih sifat yang lain.
Yaitu kedewasaan untuk melihat persamaan.
Untuk menyadari bahwa saya dan dia sama.
Sama-sama seseorang yang punya sifat negatif dan positif.
Bahwa silaturrahim adalah tentang memandang seseorang dalam satu paket. Yaitu sebuah pribadi yang unik dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
Kuncinya bukan untuk menonjolkan perbedaan dan sifat negatif masing2.
Tetapi untuk mengidentifikasi persamaan dan sifat positif orang lain.
Kemudian merayakan persamaan.
Membangkitkan sifat positif dan harapan.
Untuk belajar bekerja sama dan saling melengkapi sebagai jalan mewujudkan kebaikan, di dalam hidup yg singkat ini.
Jangankan dengan orang lain. Dengan saudara sekandung saja pasti ada perbedaan.
Ah saya jadi teringat salah satu pesan guru saya dahulu…
“Untuk bisa bersilaturrahim adalah untuk bisa menyatu.
Dan untuk bisa menyatu, kamu harus bisa mencair…
Nantinya kamu akan memahami bahwa sillaturrahim membawa rejeki.
Termasuk rejeki untuk menjadikan kamu menjadi pribadi yg lebih baik dari sebelumnya…pribadi yang bahagia…”
Terima kasih para suhu, atas pelajaran2 kehidupannya…
PS: denger2 Kang Iman bakal ngadain silaturrahim official TDA tapi kapan waktu dan tempatnya, masih menunggu konfirmasi selanjutnya. Ditunggu aaah biar bisa silaturrahim rame2…
Wah, jam 2 pagi masih rame?
Begitu batinku saat mengunjungi masjid itu.
Padahal ini waktu paling enaknya orang tidur.
Tetapi kok bisa ya, masjid ini tetap ramai?
Parkirannya penuh dengan motor, mobil dan juga bis bis besar.
Melihat dari platnya itu bis-bis rombongan dari luar kota.
Sepertinya mereka penasaran bagaimana manajemen masjid ini berjalan, sehingga bisa selalu ramai 24 jam seperti ini.
Aku mengunjungi masjid itu juga tidak sengaja.
Seorang teman menginfokan nama masjid ini begitu tahu statusku sebagai musafir.
Aku bergerak kesana karena namanya yang unik, dan juga karena info bahwa bisa numpang istirahat di sana.
Ternyata semua orang diterima di masjid itu.
Jika ada masjid-masjid yg menulis “dilarang tidur di sini”, di masjid itu malah disediakan ruangan untuk para musafir beristirahat.
Dilengkapi dengan toilet yang bersih, juga CCTV plus satpam yg menjaga keamanan sandal-sandal orang yg singgah di masjid.
Selepas Subuh, saya berbincang-bincang dengan Imam masjid tersebut.
Saya: Pak kenapa masjid seramai ini dikasih nama Masjid “YangDitinggalkan”?
Imam: Oh ya nak, itu untuk mengingatkan kami tentang sejarah masjid ini.
Dulu Masjid ini sepi, ditinggalkan jamaahnya.
Itu terjadi karena kami sebagai pengurus masjid terlalu menyempitkan peran masjid.
Sebelumnya kami pikir masjid hanyalah sarana sholat dan tempat buat naruh kencleng sedekah saja.
Kalau ada anak-anak yang main game di masjid ini langsung kami hardik HEH MAIN GAME AJA, SANA PERGI DI SINI TEMPAT BUAT SHOLAT!
Padahal anak2 itu bisa diarahkan, diberikan ruang, kemudian dibina pelan-pelan. Anak-anak itu memang sedang masanya senang main game. Akan Lebih baik mereka kami kasih ruang dan wifi buat main game di sini. Nanti waktunya azan sholat akan kami arahkan buat sholat.
Pernah juga kami berpikir bahwa program sedekah adalah satu-satunya ibadah yang akan membawa orang ke surga. Sehingga ketika pas kebetulan tidak banyak jamaah yang datang untuk membantu program sedekah kami, maka kami marah2 ke mereka. HEH, NIAT BANTU GAK SIH? KALAU PROGRAM SEDEKAH SEPI, KALAU ACARA SENANG2 RAME. GIMANA SIH KALIAN MAU SURGA GAK?
Padahal Allah bukan menilai dari ramainya acara sedekah kami atau jumlahnya, tetapi Allah akan menilai dari keikhlasan kami menjalankan apa yg bisa kami lakukan.
Ah… malu rasanya… merasa paling benar… sampai marah2 dan kemudian memandang orang lain lebih rendah daripada kami.
Untung setelah itu ada yang mengingatkan… ketika engkau merasa paling benar, di saat itulah engkau ada di dalam kesalahan. Karena iblis dikeluarkan dari surga bukan karena tidak kenal Allah, tetapi karena merasa paling benar bahwa dia lebih baik daripada Adam.
Dulu, kami rebutan jadi Imam. Atau saling mempengaruhi bapak ini aja yang jadi imam, jangan bapak itu. Bapak itu mah ibadahnya jelek, yg bagus bapak ini. Sangking ngototnya kami dengan jagoan masing-masing, kami menjegal dan merendahkan orang lain.
Sampai kemudian ada yang mengingatkan…
Ibadah orang hanya Allah yang tahu. Orang bisa secara fisik kelihatan sholat, tetapi hatinya melamunkan harta bendanya. Namun ada juga orang yg bekerja, tetapi di dalam hatinya berdzikir kepada Allah. Siapakah kami yang bisa menilai orang lain ?
Semua yang dijadikan rebutan, adalah dunia. Termasuk rebutan jadi imam masjid.
Sejak saat itu kami mulai berusaha membenahi diri. Kami sadar bahwa kami masih banyak kekurangan. Terutama dalam memandang diri paling benar, dan memandang orang lain salah. Kami sadar bahwa selain sholat dan sedekah masih banyak ibadah-ibadah lain yang bisa merekatkan umat.
Sejak saat itu jamaah mulai kami rangkul kembali, kata-kata mulai kami atur kembali.
Sedikit demi sedikit para jamaah pun datang lewat berbagai kegiatan yg kami lakukan. Ada acara senam bareng, ada futsal, ada sepedaan pagi, ada permainan, ada sharing ilmu, ada ATM beras, ada poliklinik gratis, dan lain sebagainya. Semua aktifitas di warga adalah jalan dakwah untuk bisa meramaikan masjid.
Alhamdulillah Nak, sekarang Masjid “YangDitinggalkan” ramai kembali dan terutama bisa menebar manfaat bagi banyak orang.
Akupun manggut-manggut sambil termenung. Masjid saja bisa ditinggalkan jamaah kalau pengurusnya kaku, tidak simpatik dan merasa diri paling benar. Apalagi ruang-ruang sosial yang lain.
Ah semoga obrolan ini tidak hanya menjadi sekedar wacana. Tetapi bisa membuahkan kesadaran di dalam diriku…
—-
Jogjakarta April 2019
(Sekedar latihan nulis cerpen, mohon maaf kalau ada kesamaan nama dan tempat di dalam cerita)Β πππ
oleh : Awan Rimbawan
“Maknyusss” Sedapnya!
Begitu gumam saya di dalam hati ketika suapan pertama nasi goreng kambing itu masuk ke dalam mulut. Rasanya beda banget dengan nasi goreng kambing yang pernah saya makan di tempat lain.
Kalau nasi goreng kambing di Jakarta ini, rasa kambingnya menyatu di nasi. Nasinya pulen dan empuk. Gurih rempah yang kuat menghilangkan bau kambing yg biasa ada. Ditemani acar timun dan emping melinjo gurih yang membuat kriuk cita rasa.
Omong-omong, kenapa sih kok tiba-tiba membahas tentang nasi goreng di Jakarta?
Sebenarnya, selain ingat dengan rasanya yang spesial, saya juga sedang teringat dengan siapa saya suka makan di sana. Seseorang yang tidak kalah spesial dengan kelezatan nasi goreng kambing Jakarta itu. Dia punya kualitas diri yang membuat saya selalu mengenangnya. Tegar dan pintar.
Sayangnya, kisah kami berhenti sewaktu dia menikah. Saat itu sayapun masih egois dan terlalu asyik dengan petualangan hidup saya. “Bohemian”, kata dia terakhir kali mengomentari diri saya.
Tetapi, walaupun kisah kami tak berlanjut, dia tetap menempati ruang spesial di hati saya. Seperti nasi goreng kambing ini. Yang sekarang saya nikmati seorang diri, bersama kursi kosong di sebelah saya!
ps: kisah karangan untuk tugas menulis dari bale endah π
Assalamualaikum para suhu dan rekan2 seperdjoeangan…
Ane pengen ngucapin terima kasih banyak kepada panitia dadakan kontingen bandung goes to PW Nasional.
Panitia dadakan ini diinisiasi dgn waktu yg sangat mepet oleh KangΒ Iman Firmansyah
Sebenernya apa yang beliau lakukan ini simple…
Mengawal dan mengkoordinasikan teman2 yg antusias ingin datang ke PW.
Namun sesuatu yg simple bukan berarti mudah.
Saya tahu banyak sekali waktu, tenaga dan pikiran yg tercurah…
Kang Iman, kemudian dibantu oleh Coach Branto, Coach Buder dan akhirnya banyak yg lain berkontribusi.
Baik dengan cara mengkoordinasikan jam keberangkatan, rental mobil, bikin kaos, arrange penginapan, jemputin yg terjebak hujan, sharing materi dlsb.
Bukan hal yg mudah di tengah2 waktu yg singkat dan kesibukan mengurus bisnis.
Alhamdulillah 48 orang member TDA Bandung berangkat ke PW Nas dan pulang dengan selamat.
Tapi kenapa sih mereka mau repot2 melakukan hal itu?
Saya yakin bukan karena uang, karena tidak mendapat gaji dari aktifitas ini. Besar kemungkinan tindakan ini lahir dari ketulusan untuk melayani orang lain.
Keinginan untuk berbuat kebaikan terlepas dari keterbatasan yg sedang dialami oleh pribadi masing2.
Teman-teman yang kemarin datang di PW juga punya pengalaman yg berbeda2. Karena banyak hal yg terjadi bersamaan dengan begitu banyak panggung dan pembicara.
Contohnya ada yang mengalami momen2 pencerahan di panggung inspirasi bersama Coach Rene.
Coach Rene yg saat itu bertindak sebagai Komisaris Utama Ancol mengingatkan kembali: “Seberapa banyakpun uang dan harta tidak akan bisa dibawa mati”
Yang lebih penting dari pertanyaan mencari uang sebanyak2nya adalah: “Apa yg sudah dan akan saya lakukan untuk bisa melayani orang lain?”
Karena itu adalah bekal yg sesungguhnya yang akan bisa dibawa mati.
Saya jadi teringat seorang bijak yg berkata: “Seumur hidup orang mencari sesuatu yg tidak pasti. Padahal kematian itu adalah sesuatu yg pasti”
Siang itu, rasanya saya tidak berada di lingkungan wirausaha tetapi berada di sebuah pengajian besar yg mengajarkan tentang makna kehidupan.
Saya juga menjadi saksi seorang teman yang mengalami manisnya deal-deal bisnis di luar gedung. Kebetulan dia ketemu dengan kenalan lama seorang pengusaha besar.
Sebenernya teman saya ini dari dulu pengen kerjasama, tapi tidak tahu bagaimana bentuknya. Kemarin pas ketemu lagi, teman saya ini berceletuk: “Pak ajarin saya tentang usaha Bapak dong…”
Eh pengusaha itu malah menimpali: :”Hayuk kita bikin brand bareng aja…”
Padahal sudah bertahun2 dia pengen kolaborasi, tp ternyata gongnya baru terjadi sekarang.
As simple as that, sebuah deal terjadi di suasana santai meja kantin. Saya yakin hal-hal seperti ini banyak terjadi di meja2 yg lain.
Ada juga yang nginep di Aston Marina terus waktu Subuh ga tau cari masjid di mana. Akhirnya dia melangkah ke mushola hotel. Harapannya di sana bisa ketemu orang lain yg bisa berjamaah. Nah kebetulan ketemu rombongan TDA dari kota lain.
Ngobrol kesana kemari sampai kemudian membuka topik tentang bagaimana menyeimbangkan bisnis dan sosial. Ternyata teman TDA dari daerah lain ini kemudian mensharingkan bagaimana caranya walaupun bisnis masih kecil tapi sudah bisa bikin sekolah tahfidz gratis.
Dengan murid tetap 70 orang plus santri kalong yg berjumlah ratusan orang. Semuanya gratis-tis.
Momen ini sepertinya menjadi titik Aha teman saya.
Mindsetnya mulai terbuka bahwa memungkinkan kok, membuat sebuah perbaikan sosial walaupun bisnisnya masih kecil.
Di waktu yg lain di area lobby gedung saya ketemu teman lama. Sebut saja si X dan si Y.
X ini cerita bisnis lagi struggle dan ancur2an, kebetulan Y bisnisnya sudah agak stabil dan trend nya menaik.
Selanjutnya X cerita bahwa dia udah belajar ke sana kemari, teknik2 bisnis udah banyak yg khatam. Tapi entah kenapa, kok ya selalu gagal ketika dieksekusi.
Ada yang udah deket mau deal besar, tapi gagal maning gagal maning.
Kemudian yg udah dapet deal, cari supplier banyak yg gak amanah.
Akhirnya kepercayaan customer luntur dan dia pun kena marah-marah.
Cerita lagi bahwa pegawainya keluar masuk dan bahkan ada yg melakukan penipuan.
Dibedahlah sama si Y.
Bukan tentang bisnisnya, tetapi apa yg dilakukan oleh X di luar bisnis.
Ternyata baru ketauanlah dosa2 yg sering dilakukan oleh si X dalam kehidupan sehari-hari-nya.
Y pun memberikan masukan bahwa dosa dan maksiat itu akan mengundang kesulitan hidup.
Kesulitan dalam bidang bisnis, karir, jodoh, finansial, kesehatan, keluarga, dlsb.
Nah untuk memulihkannya maka yg pertama dibenahi bukan teknis bagaimana membereskan kesulitan itu.
Yang perlu dibenahi adalah hubungan dengan Tuhannya terlebih dahulu.
Cara yg sangat ampuh adalah dengan memperbayak tobat, meningkatkan kualitas ibadah dan juga memperbanyak kegiatan membantu orang lain.
Anda tahu apa yang indah dari dialog di atas?
Teman saya X dan Y tidak berasal dari satu kepercayaan agama yg sama.
Saya mendengar secara jelas bahwa Y tidak menyalahkan agama X.
Tetapi mencari persamaan-persamaan yang bisa digunakan untuk memperbaiki hidup X.
Ah indah sekali menyaksikan dialog mereka berdua.
Menggunakan persamaan-persamaan sebagai jembatan untuk membuat dunia ini menjadi tempat yg lebih baik.
Memang komunitas dengan berbagai macam warna dan karakter di dalamnya adalah tempat ideal sebagai pemersatu persamaan.
Sebagai pendengar dan pengamat di PW nasional saya, cuman bisa membatin Subhanallah…
Ternyata etul juga bahwa hidup kita secara syariatnya diubah dengan dua hal: buku yg dibaca dan orang yg ditemui.
Begitu juga dengan orang-orang yg saya temui di kontingen bandung kemarin. Kami mengalami berbagai macam momen2 bersama:
– Malam2 hunting nasi goreng kambing…π
– Pagi2 saling gerebek kamar, buat nyari sarapan…π
– Lari terbirit2 waktu salah gedor kamar orang…π
– Udah rame2 naik lift ternyata salah tower, terpaksa turun lagi lewat tangga daruratΒ π
– Dorong2 orang jadi ketua, hanya untuk kemudian masuk ke dalam bursa pemilihan sekjen.π
– Rame2 ngeliat pantai, sesuatu yg tidak ada di Bandungπ
– Makan mie goreng sepiring bareng2…π
Ah…Banyak sekali tawa, haru dan inspirasi bercampur di PW Nasional.
Banyak sekali ilmu, insight dan pengalaman.
Banyak sekali orang yang mencerahkan.
Saya rasa, momen2 itulah yang abadi akan tersimpan sebagai sebuah kenangan indah.
Karena seringkali, hal-hal simple yg berharga di dalam kehidupan tidak bisa dinilai dengan uang.
Salut buat Kang Iman yang menginisiasi koordinasi kontingen kemarin dengan ketulusan.
Salut buat teman2 lain yg membantu keberangkatan dan kepulangan.
Salut buat panitia PW Nas dan juga KangΒ Ferdian BrillianΒ yang sudah bekerja keras dengan ketulusan.
Saya yakin ketulusan tersebut akan menular di dalam diri orang-orang.
Untuk mau memulai mencari cara untuk melayani, untuk tidak melulu berpikir tentang keuntungan sendiri.
Hal jazaa ‘ul-ihsaani illal-ihsaan (Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula)
Terima kasih Ya Allah, Terima kasih atas persaudaraan dan keindahan ini.Β πππ
Pengen deh seperti suhu-suhu yg ane temui di acara Kelompok Mastermind (KMM) Bandung Entrpreneur Forum (BEF) TDA BDG kemarin…
Ada salah satu suhu yang bisa konsisten sedekah 50% dari keuntungan bisnisnya.
Mau keuntungan besar, mau keuntungan kecil pokoknya dipotong 50% buat sedekah.
Gimana cara mulainya?
Ternyata beliau mulai justru dari pendapatan kecil.
Sewaktu masih kerja, konsisten mensedekahkan 50% dari gajinya.
Kemudian sambil kerja, merintis usaha.
Ga muluk2 ga pakai modal uang.
Cuman bantuin jualan temen sekantornya aja.
Dikasih diskon 10%, itu yg diusahakan.
Kemudian berlanjut resign dari pekerjaan.
Padahal ketika mau resign pendapatan dari bisnis baru setengah dari gajinya di kerjaan.
Ujian selanjutnya, bisakah beliau konsisten mensedekahkan 50% dari pendapatannya?
Ternyata ujian tersebut pun dilalui, walau itu berarti beliau harus menurunkan gaya hidupnya.
Bahkan sampai dengan sekarang…
Ketika bisnis sudah berkembang dan punya 4 karyawan pun, masih tetap seperti itu…
Pengen deh…
Pengen juga seperti suhu yg lain.
Belajar untuk diam, bukan belajar untuk pamer omset agar dianggap hebat oleh orang lain.
Padahal saya tahu salah satu gaji karyawannya aja ada yg menyentuh angka ribu-an dollar per bulan.
Itu baru satu karyawan, padahal beliau punya puluhan karyawan.
Karyawan2nya direkrut dari lingkungan tetangga2 sekitar.
Yang pengangguran, yang ga ada kerjaan, yang sehari-hari cuman nongkrong2, diajarin dari nol sampai bisa.
Kemudian diarahkan sering mendekat ke masjid.
Karena beliau percaya bahwa keberkahan suatu daerah berkorelasi erat dengan makmurnya masjid di daerah tersebut.
Ketika ngobrol2 santai dan dikorek2, baru beliau cerita bahwa sekarang ini beliau sedang belajar sesuatu…
Yaitu mendawamkan kebesaran Allah agar terhindar dari penyakit sombong.
Karena kesombongan dan keinginan untuk dihormati orang itulah yg nantinya justru bakal menghinakan.
Ada lagi yg mendesain sistem dikantornya untuk sama2 mendekat kepada Allah.
Karyawan2nya setiap pagi ada laporan ibadah tahajud, dzikir dan tilawah hari kemarin.
Pagi2 Dluha bersama, dan baca quran bersama.
Setiap minggu ngundang guru tahsin, dan juga ada sesi ngaji tafsir.
“Ini sebenarnya bungkusnya aja bisnis, tp dalemnya pelan2 pengen seperti pesantren Kang”, ujarnya.
Ternyata bisnis bagi dia, hanyalah sebuah jembatan untuk mendekatkan orang2 di dalamnya kepada Allah.
Pengen deh punya mindset seperti beliau2 ini…
Yang yakin (bukan sekedar percaya) bahwa Allah selalu memberi yg terbaik.
Salah satu suhu bercerita bahwa ketika anaknya lahir, dia cuman pegang uang 2jt.
Buat lahiran di bidan habis 1,5 juta.
Selesai lahiran uang cuman tersisa tinggal 500rb lagi, namun ada yang aneh… asi yg masuk selalu keluar lagi.
Akhirnya dicek ke rumah sakit dan baru ketahuan bahwa bayinya tidak punya kerongkongan.
Dokter bilang untuk operasi dan tindakan paling tidak butuh 100jt.
Padahal dia hanya pegang 500rb.
Namun yg mampu menyelesaikan segala masalah kan bukan uang, tetapi Allah.
Ya udah, bergantungnya sama Allah aja, jangan sama uang.
Apa yang mau dilakukan lagi selain mendekat kepada Allah?
Dari situ beliau kemudian belajar.
Bahwa Nabi Yunus pun seperti itu.
Ketika berada dalam tiga kegelapan: gelapnya malam, gelapnya dasar laut, dan gelapnya perut ikan, Nabi Yunus berdoa:
“La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minaz zalimin”
“Bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah Termasuk orang-orang yang zalim.”
Setelah berdoa apakah langsung dikeluarkan dari perut ikan paus?
Tidak…
Karena Ikan itu masih di dasar laut maka kalau langsung dikeluarkan, bisa2 nanti malah mati di dasar lautan.
Perlu dikondisikan dulu sama Allah untuk dikeluarkan dari kesulitan di saat yg tepat…
Dinaikkan pelan2 ke permukaan dan dikeluarkan di tempat yg aman di pinggir pantai.
Setelah Nabi Yunus kembali kepada kaumnya ternyata kondisi umatnya sudah beriman semua.
Dibereskan sama Allah semua permasalahan2nya.
Ah, dari suhu2 kemarin saya banyak sekali belajar.
Bahwa step awal memperbaiki segala kesulitan adalah: perbaiki dulu hubungan dengan Allah.
Perbaiki dulu ibadahnya.
Perbaiki dulu niatnya.
Baru kemudian sisanya baru berikhtiar.
Terima kasih atas pencerahannya para suhu…
Saya makin yakin bahwa tidak ada yang bisa menggantikan pertemuan fisik silaturahmi.
Karena pastinya cerita-cerita seperti ini tidak akan saya bisa dapatkan kalau saya cuman melototin group whatsapp dan telegram.
Selamat bersilaturahmi di hari minggu ini para sahabat π
Jangan lupa minggu depan kita silaturahmi dan ketemu langsung dengan para suhu2 kelas kakap di Pesta Wirausaha Nasional
Mau berangkat baren g2 sama TDA BDG ?
Kontak aja suhu ane: Coach Subranto dari Dyummy Catering +62818277112
See you π
Assalamualaikum wr wb para suhu dan rekan2 seperjalanan… πππ
Pengen cerita sedikit bolehkah?
Malam minggu lalu saya main ke tempat seorang teman.
Kabar terakhir dia udah pindah rumah, jadi ini pertama kalinya saya mengunjungi rumahnya yang baru.
Ba’da Maghrib saya sampai di shareloc yang dia kasih.
Ketika masuk gerbang kompleks perumahannya… wow…saya berdecak kagum…
“Perumahan elite ini… Masjidnya aja gede dan kelihatan rame kegiatan” batin saya…
Benar juga, setelah masuk ke dalam… wuih… nyaman banget…
Jalannya bukan dilapisi aspal, tp batako sehingga memberikan kesan eksklusif…
Agak sedikit naik turun seperti dibentuk oleh landscape profesional, sehingga tidak curam… sepertinya nyaman sekali dinikmati untuk jalan2 ringan di pagi/sore hari.
Waktu itu karena saya kesana malam hari, saya bisa menikmati keindahan tata lampunya.
Terasa bahwa lampu2 di dalamnya juga di konsep dengan teliti untuk mengatur temaram lampu di malam hari.
Terang, tp tidak menyilaukan.
Cenderung adem, tapi engga gelap juga.
Romantis-romantis gimanaa…gitu… kata istri saya yg sedang menggendong Umar dan memangku Kinan di sebelah saya πππ
Suasana perumahannya, membawa memory saya ke resort2 di Bali…
Penasaran waktu sampai di rumahnya saya tanya2… kok bisa dapet rumah di komplek elite seperti ini?
Teman saya pun berkisah… memang beberapa waktu yg lalu, dia sedang bingung2nya…
Bisnis belum terlalu menghasilkan, tinggal di apartemen sempit.
Berasa banget sumpeknya ditinggali istri dan dua orang anak ditambah barang2 pendukung keluarga.
Ditambah lagi ternyata pengeluaran di apartemen besar, buat listrik sama air aja menghabiskan 1jt/bln.
Belum termasuk biaya buat parkir motor plus mobil yang juga harus dibayar sekitar 400rb tiap bulan.
Setahun ditotal udah bisa beli motor dua biji tuh πππ
Di kondisi sulit tersebut, dia mencoba apa aja yg bisa dilakukan.
Selain ngurusin bisnis yg masih dirintis…, dia juga memutar otak untuk membuka usaha2 baru yg fast cash…
Tp bukannya untung… malah makin menggerus modal yg udah tipis…
Bahkan waktu itu sangking kepepetnya pernah jadi supir Grab pula…
Yah pokoknya apa aja deh yang bisa menghasilkan duit…
Namun kondisi tdk juga membaik…
Hutang pun sedikit demi sedikit bertambah… awalnya pelan, tapi pasti…
Tambah lama bukannya berkurang malah percepatannya jadi tambah kencang…
Kencang dan pasti…
Ah… pusingnya sampai tujuh puluh keliling…
Nah terus gimana dong kok tiba2 bisa punya rumah di kawasan elite dan nyaman ?
Cash lagi, ga pake kredit2an!
Sejalan dengan mazhab cash nya King @hendrajabal yg denger2 lagi dibujuk2 untuk ngasih pencerahan di PW Jabar sama Suhu @attayrust dkk πππ
Ternyata setelah diceritakan solusinya simple banget…
Dulu waktu dia masih kerja, dia pernah beli rumah di daerah Karawang.
Setelah itu dia resign dari kerjaan untuk memulai bisnis di Bandung.
Tapi karena bisnis masih merintis jadilah akhirnya kelimpungan sendiri.
Tabungan menipis dan akhirnya habis…
Sekian lama bertahan di kondisi tersebut, tp akhirnya tidak kuat juga…
Cicilan rumah di Karawang pun akhirnya tersendat2.
Kondisi tambah kembang kempis boro2 mikirin cicilan rumah… kebutuhan aja lagi susah…
Akhirnya rumah itu dijual…
Sebenerna harga pasaran tidak terlalu tinggi.
Tapi tak dinyana… tetangga sebelah rumahnya pengen beli rumah itu.
Karena tetangganya pengen ngelebarin rumah, jadi mau membeli dengan harga berapapun karena itu satu2nya pilihan buat ngelebarin rumah.
Akhirnya rumah itu dijual dengan selisih ratusan jt di atas harga pasar.
Hasilnya bisa buat nutup hutang, bahkan bisa beli rumah di kawasan yg super nyaman sekarang ini.
…
Sepulang dari rumah temen saya ini, saya terpekur…
Gitu yah, kalau Allah mau mengubah sesuatu kondisi…
Gampaaang banget…
Semua kesulitan2 yg dialami oleh seseorang, bisa dikasih solusi dengan sangat mudah.
Min haitsu laa yah tasib itu seringnya sudah ada di depan mata, tetapi tidak pernah kepikiran.
Tidak pernah dibayangkan oleh orang yg sedang mengalami kesulitan itu.
Bayangin aja, temen saya ini sebenernya bisa aja tidak perlu mengalami kondisi2 sulit…
Tinggal jual rumah aja, beres deh urusan.
Tetapi dibikin lupa dulu sama Allah untuk kepikiran ngejual rumah.
Kemudian baru diingatkan dan dipertemukan momennya pas tetangganya mau ngelebarin rumah.
Timing yg pas itu diatur sehingga mengakibatkan dia bisa untung besaarr…
Semua kesulitan2 finansial nya hilang, dikasih bonus rumah yg sangat nyaman…
Berarti jangan2… klo saya saat ini sedang ngadepin kesulitan…itupun sebenarnya sudah ada solusinya…
Tp karena dosa2 saya, jadi ga keliatan tuh solusinya… π π
Padahal Dia itu Maha Mampu dan Maha Kuasa…
Bikin malam yg gelap jadi siang yg terang benderang aja bisa…
Apalagi cuman mengubah kondisi sulit menjadi kondisi lapang…
Kemudian saya ingat, bahwa temen saya ini diujung masa2 sulitnya juga sempat melakukan riyadhoh…
Rajin sedekah,
rutin baca Al Waqiah tiap pagi dan sore,
rajin tahajud,
rutin baca Ar Rahman selepas Dluha,
berusaha menyenangkan orang tua dan anak istri,
termasuk coba sedikit2 mensedekahkan barang yang paling disukai…
Mungkin ini juga syariat yang membuat Allah membuka jalan kemudahan…
kalau saya pikir2 lagi… salah satu barang yang umumnya paling disukai oleh pengusaha adalah: Uang
Umumnya… orang memulai bisnis/usaha untuk uang…
Bukan salah, tetapi jika pikiran itu terlalu mendominasi… maka akhirnya…
Bisnis ketika dapet uang banyak seneng tp merasa pengen lebih banyak lagi…
Bisnis ketika dapet uang sedikit sedih dan galau… ujung2nya frustrasi dan mager (males gerak)
Kondisi hati diombang ambingkan oleh uang yang dihasilkan oleh bisnis tersebut…
Beruntungnya saya masuk di komunitas TDA yang suhu2 nya selalu mengingatkan tentang kegiatan berbagi dan memberi…
Bagi saya ini adalah penyeimbang, sehingga hati bisa tenang menghadapi kondisi bisnis yang naik turun… maupun uang yg datang dan pergi πππ
Termasuk ketika Div Sos yang aktif bergerak setiap ada bencana2 sosial
Saya kembali diingatkan…
Bahwa saudara2 kita di Palu, tidak pernah memilih untuk mendapatkan bencana…
Tidak pernah memilih untuk mengalami kejadian gempa yg dahsyat sehingga rumah bisa bergeser jauh…
Melihat dengan mata kepala sendiri laut menggulung daratan dan menyeret apapun yg dimiliki ke dasar laut…
Mengalami getaran bumi yg bikin orang yang tiarap bisa terbawa 1 km dari tempat dia berada sebelum gempa…
ah…
Saya tiba2 teringat wejangan dari guru saya…
Bahwa dosa2 seseorang dihapuskan lewat 4 cara:
1. Dengan kebaikan yg dia lakukan
2. Dengan musibah/cobaan (kondisi apapun yg tidak mengenakkan)
3. Dengan taubat dan istighfar
4. …. dengan masuk neraka terlebih dahulu… naudzubillahi min dzalik… πππ
Semoga apa yang terjadi di Palu merupakan cara Allah untuk menghapus dosa2…
Juga sebagai jalan kita untuk berbuat kebaikan kepada sesama…
Terima kasih divsos yang sudah menjadi jalan kebaikan dan jalan penghapus dosa buat temen2 TDA πππ
Bukan masalah banyak / sedikitnya sumbangan…
Karena ini adalah tentang kita sebagai pengusaha, yang berusaha menetralkan hati dan pikiran dari sesuatu yg jika tidak di manage… berpotensi mendominasi hidup kita dan menjauhkan dari Allah
PS: temen saya yg saya ceritakan di awal tadi salah satu panitia aktif di TLC kemarin… juga sering berbagi kebaikan di TDA… di tengah kondisi bisnis yg belum mapan… di tengah berbagai kesulitan finansial… tetapi tetapi aktif berbuat kebaikan… salut…salut…salut…πππ
…
…Ow…ow siapa dia?
πππ

Lelaki itu duduk di depanku…
Sesekali dia menyeruput Mocacchino hangat di tengah2 obrolan kita berdua.
Belum terlalu tua… masih di bawah 40an.
Tetapi di matanya terpantul berbagai macam cerita kehidupan.
Dia pernah mengambil jalan yang salah.
Namun kuasa Allah menjadikan dia punya keinginan kembali ke jalan yang benar.
Yang aku salutkan pada dirinya adalah begitu hormatnya pada sosok bernama ibu.
“Saya tanpa ibu, bukan apa2 mas…”
“Saya banting tulang kerja sampai malam sering gak tidur… tetapi di akhir tahun cuman untung 100jt-an”
“Namun di tahun kedua setelah mengikut kata2 ibu, semuanya berubah. Ibu bilang bisnis jangan sampai mengambil hak orang lain walau sekecil apapun. Jangan sampai menunda2 pembayaran ke yang berhak.”
“Alhamdulillah setelah mengikuti kata2 ibu, di tahun berikutnya profit bersih 1,3M dalam bentuk cash”
Sambil menerawang…laki2 itu kembali bercerita…
“Pernah suatu ketika saya pergi ke pasar di luar kota dengan dagangan penuh satu mobil…”
“Mobil rentalan, termasuk supir juga. Biaya bensin dan lain2. Biasanya cuman pulang malam gak nginap. Karena buat dagangan saya pasar itu cuman ramai di hari tertentu saja. Kalau tidak laku hari itu, saya terpaksa pulang dan bawa dagangan kembali. Nanti balik ke pasar itu minggu depannya lagi.”
“Saya stand by di pasar dari ba’da subuh. Buat dagangan saya di pasar itu paling2 ramainya dari jam 5 sampai jam 8 saja. Namun… sampai jam 8 belum juga ada pembeli. Padahal biasanya jam 8 sudah dipacking sama pembeli untuk dikirimkan ke luar jawa”
“Terbayang kerugian yang harus saya tanggung kalau sampai enggak laku hari itu. Berarti saya harus pulang ke kota asal tanpa bawa apa2, minggu depan baru bisa balik lagi karena jaraknya jauh hanya bisa seminggu sekali. Tekor di sewa mobil, bayar supir dan bensin. Plus seminggu kedepan gak ada pemasukan apa2 sampai saya kembali ke pasar ini”
“Saya cuman duduk termenung, sampai kemudian kepikiran buat telpon ibu.”
“Assalamualaikum Bu, saya lagi di pasar nih… Dagangan belum ada yang laku satupun. Minta doanya ya bu… ”
“Kata ibu: Oh ya… ini ibu mau sholat Dluha, nanti ibu khususkan doa buat dagangannya.”
“Terima kasih Bu…”
“Habis telpon ibu, saya coba putar2 pasar… sambil berharap ada celah2 buat menawarkan dagangan ke pedagang2 lain. Untung dikit gpp deh, yg penting barang laku. Pikir saya waktu itu”
“Tapi setelah muter2… pedagang2 lain tidak bisa membeli barang saya karena pasar sudah sepi. Mereka tidak mau nanggung resiko bawa pulang barang karena pasar sudah mulai sepi…”
“Waktu itu jam menunjukkan pukul 9. Saya balik ke mobil dengan lemas, karena saya tahu pasar tutup jam 10.”
“Waktu saya lagi melamun… tiba2 ada suara: Ini berapaan?”
“Ternyata ada yg nanya dagangan saya… sigap saya menjawab semua pertanyaannya dengan semangat…”
“Gak disangka2… setelah hampir 1/2 jam tanya harga berbagai macam barang dia bilang: Ya udah mas, ini barangnya turunin semua ya…”
“Hah semua bu? ” Kata saya…
“Iya mas, semua yg ada di isi mobil ini, saya minta totalannya. Saya transfer sekarang pakai internet banking ya…”
“Ternyata…Barang itu diborong, ludes satu mobil!”
“Alhamdulillaah… kata saya dalam hati… sambil menurunkan barang dagangan2 itu.”
“Selesai beres, saya ngomong ke supir saya…”
“Alhamdulillah barang laku… sok mau ditraktir makan di mana aja, saya yang bayar. Kata saya sumringah…”
“Supir saya dengan enteng bilang: Ya iyalah barang laku semua, wong yg ngeborong malaikat.”
“Heh, malaikat gimana? orang yg ngeborong encik-encik udah tua gitu…??”
“Emang boss lupa yah, tadi pagi telpon minta doa sama ibu biar dagangannya laku?”
“Ooooh ternyata… supir saya denger waktu saya telpon sama ibu. Saya sendiri kelupaan karena setelah telpon ibu dilanjut putar2 pasar dan menawarkan dagangan ke pedagang2 yang lain”
“Masya Allah… saya bilang… saya bener2 lupa…”
“Ternyata memang bener… saya tanpa doa ibu, tidak akan jadi apa2…”
Itu adalah sepenggal cerita yang saya dapatkan bersama laki2 itu. Dia tidak mau disebutkan namanya. Tetapi saya banyak belajar dari dia yang merupakan member TDA jadul.
Dia juga bercerita, dulu waktu masuk TDA… dipikirnya komunitas bisnis ya tempatnya jualan… cari2 peluang dngan nawar2in dagangan ke member2 yg lain…
Ternyata di TDA beda banget… TDA bukan tempat jualan. TDA adalah tempat belajar dan mendapatkan saudara-saudara baru…
Dia bilang: “Di TDA orangnya gak pelit ilmu… welcome banget buat member baru kalau ingin belajar sama yang sudah duluan usaha. Bahkan saya belajar ke jalan yang bener juga dari para ustad2 yang “nyamar” jadi pengusaha di TDA.”
Tetapi buat para member yg baru masuk TDA gimana caranya biar bisa kenal member2 lain?
Gimana bisa tahu bahwa si A jago SEO, si B jualan kenceng dengan penguasaan marketplace, si C paham tentang kerjasama syariah, dll…?
Salah satunya adalah dengan cara datang di acara besok. Pembukaan dan sosialisasi KMM.
KMM: Kelompok Master Mind, adalah sebuah kelompok yang memungkinkan anggotanya mengenal satu sama lain.
Di dalam KMM, kita akan bersama2 membangun sikap saling support diantara anggota kelompoknya. Sharing tentang progress, saling bantu berpikir buat mensolusikan kesulitan yg sedang dihadapi, berbagi mimpi dan target2, juga kira2 gimana how-to nya.
Di acara besok, Insya Allah akan disharing juga member2 yang sudah berpengalaman di bisnisnya masing2.
Nantinya kelompok master mind bisa request untuk silaturahmi kepada para member2 berpengalaman, yang welcome untuk berbagi ilmu.
Ada yang bilang… “Entrepreneurship is a lonely path”, tetapi tidak begitu di TDA. Karena di TDA… semua bisa jadi saudara… and with brothers and sisters among you, you’ll never walk alone π
Alhamdulillah Epik juga sudah melobby pihak Bandung Techno Park agar bisa berkumpul dengan nyaman. Kalau acara2 Epik sebelumnya di amphiteater yang cocok untuk menyampaikan materi, tapi kursinya fix dan ga cocok buat kelompok2… maka untuk acara besok sudah disiapkan ruang khusus di mana kursinya bisa dipindah2 dan berkelompok2. Cocok buat simulasi bagaimana cara melakukan KMM.
Lho kok bisa gratis pakai ruangan amphiteater dan juga ruang kayak gini?
Mau tahu rahasianya…?
Pak Kiki Sudiana… salah satu petinggi di Bandung Techno Park adalah temen KMM saya ketika awal saya gabung TDA. Alhamdulillah dapet banyak ilmu dan pencerahan dari beliau selama KMM sampai dengan sekarang π
Jadi siapa yang datang besok?
Mohon konfirmasi ke @bagasulistya 0878 2527 6121
Soalnya kursi di ruangan itu terbatas… Juga karena keterbatasan jumldivisi epik ga belum bisa memfasilitasi kalau terlalu banyak yang mau ikut KMM. Soalnya member divisi Epik kan juga terbatas π
Acaranya gratiss… ga usah bayar… Cukup bawa cemilan aja buat teman2 di sebelahnya.
Siapa cepat, dia dapat… kontak ke @bagasulistya 0878 2527 6121 sambil bilang mau bawa cemilan apa buat besok π
Boleh juga klo mau ajakin temen2 yg minat buat satu kelompok di KMM, tapi sekali lagi Div Epik gak menjamin kalau kursinya masih available. Jadi yg mau datang pliss konfirm ke @bagasulistya 0878 2527 6121 sambil sebutin passwordnya: nama cemilan yg mau dibawa besok π
PS: KMM punya beberapa kepanjangan:
1. Kelompok Master Mind
2. Ketemu Mastah Mastah
3. Kelompok Makan-makan
4. Kelompok Menonton Movie
5. (you choose ^_^)
Suatu hari ada seorang pemuda bernama Sam.
Sam mengumpulkan tabungan dari hasil kerjanya selama bertahun2.
Kemudian membayar DP untuk membeli sebuah bisnis.
Karena ketidaktahuannya dalam berbisnis, dia cuman tahu bahwa bisnis itu menghasilkan omset X rupiah.
Cukup besar, dan kira-kira sama dengan nilai tabungan yang dia kumpulkan setelah bertahun2.
Ternyata setelah menjadi owner dari bisnis itu, barulah dia tahu.
Omset itu masih harus di potong oleh gaji karyawan.
Masih harus dipotong oleh sewa tempat.
Belum lagi biaya mesin2.
Setelah setahun berjalan, ternyata mesin2 harus diupdate.
Yang lebih parah lagi, dia masuk ke dalam bisnis yang sgt bergantung pada skill sdm nya.
Dia ada di dalam bisnis mengelola sumber daya manusia.
Ini adalah bisnis yang tingkat kesulitannya tergolong paling tinggi.
Karena bisnis bergantung pada SDM, dan orang datang dan pergi.
Akibatnya Sam harus banting tulang, pergi pagi pulang dini hari.
Mengerjakan segala hal ketika di situ tidak ada orang yg mengerjakan.
Mulai dari melayani pelanggan, ngerjain pembukuan, interview, quality control, setor duit ke bank, termasuk kadang nyapu2 bersihin kantor.
Jam kerjanya minimal adalah 12 jam sehari. Itupun kalau beruntung.
15 jam sehari itu jam kerja normal.
Diakhir bulan, dia selalu deg-deg-an… ini karyawan bisa gajian ga ya…
Mikirin gaji orang, tapi gaji sendiri sampe ga ketauan.
Bahkan sangking ga punya duitnya, kantor pun akhirnya jadi rumah.
Hebatnya, Sam menjalani ini selama 15 tahun.
Dari pertengahan 30tahun, sampai menjelang 50-an.
Sebagian karena tidak ada pilihan lain…harus bertahan hidup, sebagian lagi karena ego nya.
“Aku harus bisa mengerjakan hal-hal yang penting sendiri.”
“Aku pasti bisa, aku adalah Superman”
Begitu batinnya…
Sampai pada suatu ketika… badannya tidak lagi bisa mentolerir bertahun2 kerja rodi nya.
Bisnisnya benar2 diambang kebangkrutan.
Pertumbuhan omset, disertai dengan pertumbuhan biaya, disertai dengan pertumbuhan hutang.
Perpisahan rumah tangga terjadi, karena dia tidak punya waktu untuk keluarganya.
Dalam detik2 akhir itu… pikirannya melayang…
Ah kalau memang toh mau berakhir bisnis ini, kenapa tidak mencoba sesuatu yg berbeda?
Pikirannya melayang semakin tinggi…
Bayangan roh nya seolah-olah mengangkat…
Kemudian ketika melihat ke bawah, dan tampaklah bisnisnya…
Dari atas, dia bisa melihat keseluruhan bisnisnya…
Ternyata bisnisnya adalah sebuah sistem besar.
Di dalamnya terdiri dari unit-unit kecil yang saling berhubungan.
Setiap unit, mempunyai input-proses-output.
Output dari sebuah unit bersambung menjadi input dari unit yang lainnya.
Tiba2 pencerahan muncul.
Jika ingin memperbaiki sistem bisnis, maka yang perlu diperbaiki adalah unit-unit kecil di dalamnya.
Fokus kepada perbaikan performansi di dalam tiap unit, maka otomatis akan terjadi peningkatan di dalam sistem besarnya.
Yang bisa diperbaiki adalah input dan proses di dalam tiap2 unit tersebut.
Disuntik semangat dari pencerahan tersebut, Sam bekerja lagi dengan giat.
Namun kali ini dia bekerja bukan sebagai seorang Superman yang kerjanya memadamkan kebakaran.
Dia bekerja sebagai System Builder.
Dia ambil satu unit, tentukan tujuan unit tersebut kemudian buat prosedur dan langkah-langkah detailnya.
Ambil lagi unit yang lain, lakukan hal yang sama.
Satu demi satu.
Dia berubah dari seorang yang pekerja di dalam sistem, menjadi seorang leader yang membuat dan mengarahkan sistem.
Sehingga dia akhirnya punya kumpulan System Operating Procedure untuk tiap unitnya.
Di dalam SOP tersebut disebutkan target yg jelas, kemudian langkah-langkah detail.
Sehingga orang yang baru masuk, tidak perlu mikir lagi.
Orang itu bakal tahu dengan jelas targetnya, juga langkah2 untuk mencapainya.
Efeknya, walaupun orang gonta ganti tetapi unit tersebut bisa terus berjalan.
Kejelasan target dan langkah2 itu ternyata juga membuat tingkat keluar masuk karyawan pun menurun.
Sam kini berusia 60-an
Dia memiliki bisnis yang sangat profitable yang berjalan selama 34 tahun.
Bebas pergi kemanapun, bebas melakukan apapun yg dia suka.
Bekerja dengan jam kerja jauh lebih sedikit dan mempunyai berbagai kegiatan amal.
Bahkan walaupun tinggal di USA, dia punya lembaga non-profit internasional di Kashmir.
Dialah Sam Carpenter dan bisnis yang diceritakan di atas adalah Centratel.
Bidang bisnis Centratel adalah outsourcing telephone service.
Mungkin di Indonesia mirip seperti Infomedia.
Ketika dia masuk di bisnis itu, industri outourcing telephone service sedang dalam masa Sunset.
Kini Centratel menjadi salah satu perusahaan papan atas di industrinya dengan laba sehat dan gaji karyawan 2x di atas rata2 standar industri.
Nah pertanyaannya, bagaimana dengan kita sendiri yang ingin membuat sistem dalam bisnis kita?
Salah satu caranya bisa aja undang Sam ke Indonesia.
Biaya utamanya, perlu bayarin tiket pesawat dari USA.
Mungkin kalau patungan bareng bisa aja.
Tapi ada cara kedua yg mungkin bisa jadi alternatif.
Yaitu baca bukunya Sam Carpenter.
Judulnya Work The System.
Bisa beli di Amazon tebalnya kira-kira hanya 261 halaman buku fisik.
Atau 700 halaman buku digital berformat epub.
Atau mau cara ketiga…
Dateng di acara hari Senin besok.
Kita bakal undang Coach Budi Dermawan.
Owner dari Cupreme cookies dan juga Clothingzones.
Klo browsing di Google bakal ketemu berbagai liputan media, bukti bahwa bisnis ini sudah bertahan diterpa waktu π
Salah satu penguatnya adalah adanya SOP yang jelas.
SOP yang dibuat sudah teruji pada produksi ribuan baju dan kuenya.
Naah… buat yang berminat, yuk hadir di acara SILATURAHMI EPIK TDA BANDUNG:
Hari : Senin 16 July 2018
Waktu : 13.00 – sampai puas
Tempat : Bandung Techno Park bit.ly/lokasibtp
CP: Awan
Pendaftaran: isi aja daftar di group yaa…
FAQ:
– Bayarnya berapa? GRATIS
Ini adalah acara kita bersama… Ada yang nyumbang ilmu, ada yang nyumbang tenaga, ada yg nyumbang desain flyer, ada yang nyumbang tempat, ada yg nyumbang ide, dll.
Kalau mau nyumbang produk buat doorprize boleh. Kalau mau bawa snack buat cemilan bareng2 orang di sebelahnya juga boleh.
Tangan Di Atas hadir dengan spirit berbagi dan memberi π
– Kok ngadainnya di jam kerja, ga di weekend?
Biar yg dateng memang bener2 butuh solusi dari bisnisnya. Terus sambil nyocokin waktunya Coach Buder dan juga availibility tempatnya π
– Acaranya cuman sharing materi aja?
Selesai sharing materi bisa kenalan dan silaturahmi sesama member TDA Bandung.
Insya Allah silaturahmi membawa rejeki…
Ane sendiri selama ikut acara TDA udah ketemu partner, mentor, sodara seperjuangan, dll..
Beberapa malah ada yg punya cerita lanjutan, ketemu bahu untuk bersandar (halah)
Sampe ketemu hari Senin yaaa…
Salam,
your brother at div. EPIK TDA Bandung.
(Edukasi Peningkatan Ilmu dan Kapasitas)
Ga terasa, hampir setahun mainan FB ads.
Tanggal 15 July 2017 itu pertama kali ikutan trainingnya Om Bram.
Masih inget perasaannya…duduk di pojok belakang, sambil mikir… ini Om Bram ngomong bahasa planet apa ya?
Setiap ada istilah2 aneh yg keluar dari paparan Om Bram… ane lgsg buru2 googling.
Ga ketemu, nanya deh… (maaf ya om, waktu itu banyak nanya dari pojokan)
Pas waktu itu mikir… ternyata FB ads banyak banget istilah2 yg gw ga ngerti.
Padahal kirain cuman ngiklan gitu doang, apa susahnya sih?
Jebul banyak banget yg harus dipelajari.
Itupun seiring berjalannya waktu baru tau klo yg diajarin sama Om Bram udah cara yang paling simple.
Baru ngomongin metriks inti2nya aja…belum ngomongin metriks2 lain yang umum dipake oleh advertiser.
Bulan2 awal dipenuhi dengan cycle yg sama.
Replay video –> praktek –> laporan progress ke Om Bram –> pusing, cobain dulu… —> replay video lagi… dst dst…
Nanya2 juga sama suhu2 yg ada di kelas seangkatan ane @harys , @kamal , @mary
Super helpful banget nih suhu2 yg baik hati.
Tapi ternyata ini gak cuman tentang teknik beriklan.
Setahun terakhir ini pelajaran yang ane catat adalah:
1. Perubahan mindset dalam eksekusi.
Sebagai seorang Intuiting, nature nya adalah melihat gambaran besar.
Tetapi ane Intuiting yg berlebihan… ane perlu tahu setiap step dulu, jelas dulu, baru mau melangkah.
Ditambah lagi berlebihan keinginan untuk menjadikan setiap step itu sempurna.
Walhasil ga jadi praktek2. Banyak ide tapi lambat eksekusi.
Akhirnya pusing sendiri krn banyak nglamun tp ga ada hasil.
Mindset ini berbeda 180 derajat dengan pola Sensing nya Om Bram.
Hajar dulu, ga perlu perfect dulu, ambil cara yg paling simple kemudian lakukan.
Setelah jalan, lihat feedbacknya. Improve dari sana.
Fast execution – fast improvement.
2. Perubahan dalam logic
Logika ane berlebihan dalam intuisi. Ini perlu diimbangi oleh runtutan logika dan data yang memang kuat di orang Sensing.
Waktu dikasih tau buku Think Smarter nya Michael Kalet, langsung deh beli di Google Play.
Padahal waktu itu lg diskon jadi cuman 15rb. Tp krn terburu2 jadi beli pake full price, 237rb.
Ah sudahlah… yg penting ada hasilnya.
Ternyata di situ diajarin cara berpikir yg runut.
Gimana problem solving dengan berpikir secara kritis.
Pengambilan keputusan bisa di breakdown secara runut.
Dari sanalah jadi keranjingan untuk upgrade logika berpikir ane.
3. Perubahan dalam bekerja secara tim.
Sebelumnya ane terbiasa handle team online. Waktu itu pernah sampe 30 orang yg lokasinya beda2.
Tp sejak setahun kemarin ane eksperimen buat develop team offline setelah ikut DTF nya Om Bram.
Sekarang ini ada 5 orang teamnya.
Pengennya sih bisa nambah lagi biar bisa jadi jalan rejeki sama orang lain.
Cuman di sini mindset yg ditambahkan adalah… kekuranganku bisa ditambal dengan team.
Sebelumnya pengennya bisa jadi superman dan ngerjain sendiri semuanya.
Tp ternyata hidup jadi lebih enak dengan adanya team.
Grow juga jadi lebih cepat.
Menengok 1 tahun ke belakang, what a wonderful progress…
Walaupun masih jauh dari para mastah, tp ak ucapkan Alhamdulillah…
Bisa numpang belajar dan numpang idup.
Terima kasih Om Bram, terima kasih team managix, terima kasih rekan2 dan suhu2 seperjalanan.
Terima kasih Tuhan