Tutur Sang Mentari: Asal Dari Kebingungan

Pagi ini Mentari berbicara kepadaku:

Awan, diam dan perhatikanlah dari mana kebingungan muncul…

Engkau punya suatu gambaran di masa depan yang ingin engkau capai.
Engkau tidak tahu bagaimana cara mencapainya.
Engkaupun bingung…

Engkau punya gambaran di masa lalu, yang tidak ingin engkau alami lagi.
Engkau pun mencoba menghindarinya.
Engkau tidak tahu caranya, dan kau pun bingung…

Tetapi jika engkau diam, berada di saat ini…
Tanpa gambaran tentang masa depan dan masa lalu.
Bisakah engkau bingung?
Bisakah engkau berkata “aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan”
Coba renungkanlah…
Engkau bernafas, engkau duduk/berdiri, engkau tahu tanganmu diletakkan di mana, kakimu berpijak kemana.
Di saat ini, engkau selalu tahu apa yang perlu kau lakukan.
Di saat ini, engkau selalu punya lebih dari apa yang kau butuhkan.
Dan jika kau diam dan sadar, maka engkau akan mengerti bahwa saat ini…hanya saat inilah engkau hidup.
Bukan di masa depan, maupun di masa lalu…

————–
Pelajaran dari seseorang yang dekat:
– Lebih baik makan sedikit daripada tidak sama sekali
– Lebih baik olahraga sedikit daripada tidak sama sekali
– Lebih baik menulis sedikit daripada tidak sama sekali
– Karena yang sedikit, akan jauh lebih baik daripada tidak sama sekali 🙂

Cara Simple Untuk Jadi Kaya

Kemarin, pada sesi sore bertemu Mentari yang sedang tenggelam.
Aku mendapatkan pelajaran lagi.

Kata Mentari, untuk jadi kaya itu sangat simple.
Cukup melakukan dua hal:
1. Bersyukur
2. Membantu orang lain

Aku pun terdiam mendengar kata-kata itu…
Dan kebahagiaan pun merambat hangat, diiringi pancaran Mentari yang indah tenggelam di ufuk barat…

Terima kasih Sang Mentari, Terima kasih Tuhan 🙂

Super Kaya dan Super Miskin

Pagi ini Mentari bertanya kepadaku…

“Awan, kalau saat ini kamu jadi super kaya dan tidak perlu melakukan apapun untuk mencari uang apa yang akan kamu kerjakan?”

“Kamu tidak perlu bekerja untuk mencari uang, kamu tidak perlu melakukan apapun untuk mencari uang. Uang di bank sudah tersedia, bahkan kamu punya sistem yang otomatis menambah rekening bank mu. Sistem ini juga akan berjalan selamanya sejak saat ini sampai kamu meninggal. Apa yang akan kamu kerjakan?”

Pertanyaan itu membuatku terdiam.

Jelas bukan pertanyaan yang bisa dijawab dengan seketika.

Aku berpikir… mungkin aku akan membeli mobil yang bagus, membeli rumah yang mewah… membeli apapun yang aku butuhkan dan aku inginkan. Tetapi dalam pengalamanku, kepemilikan atas sesuatu tidak memberikan kebahagiaan yang bertahan lama. Seperti permen yang manis, namun cepat saja hilang dan kadang malah mengakibatkan gigi rusak.

Bertamasya keliling dunia? Mungkin saja… tetapi capek juga bertamasya terus2an. Dulu waktu aku jadi backpacker keliling ke pulau2 yang eksotis dan kota2 yang tidak pernah aku singgahi juga lama2 ada titik jenuhnya.

Lalu apa yang akan aku lakukan?

Aku merenung lebih dalam lagi…

Kemudian sebuah bayangan yang singgah adalah aku di dalam sebuah ruangan. Dikelilingi oleh rak-rak tinggi yang penuh berisi buku. Aku duduk di sebuah meja, dan menulis. Ada tumpukan buku di meja itu, yang mungkin beberapa waktu yang lalu aku baca.

Sepertinya, yang akan aku lakukan adalah… belajar dan mencipta.

Belajar dari luar diri: buku, orang-orang, film, musik, travelling
Belajar dari dalam diri: meditasi, sholat, zikir

Kemudian menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.
Sesuatu yang membantu orang lain memecahkan masalah yang sedang mereka hadapi.
Sesuatu yang membantu orang lain berkembang dalam hidupnya.

Ketika aku sedang asyik mengeksplorasi bayangan itu, Mentari tiba2 meluncurkan pertanyaan kedua.

“Awan, ayo kita coba skenario lain. Andaikan saja hidup mentakdirkanmu menjadi orang miskin. Seumur hidupmu kamu tidak akan pernah mendapatkan uang lebih dari yang kamu butuhkan. Kamu akan selalu bisa hidup, sampai saatnya kamu mati. Tetapi kamu akan terus tidak punya uang lebih selain cuma membiayai hidupmu secara biasa2 saja. Apa yang akan kamu lakukan?”

Pertanyaan itu membuatku tersentak…
Tampak menakutkan.
Lagipula selama ini di otakku banyak terdapat dogma2 bahwa uang akan memudahkan hidup.
Tetapi bagaimana kalau ada skenario seperti itu?
Selamanya miskin sampai mati…

Hei, bukankah itu berarti aku tidak perlu mengkhawatirkan uang? Sama seperti skenario dimana aku akan menjadi super kaya ?
Bukankah kedua skenario itu sama saja? aku akan punya cukup untuk hidup, sampai akhirnya aku mati? Bukankah semua kondisi sama saja? Aku akan hidup, sampai aku mati.

Dan sepertinya… bayanganku akan tetap sama…
Aku, berada di sebuah ruangan penuh rak buku.
Membaca dan menulis.
Belajar dan mencipta…

Bagaimana dengan kamu kawan? Apa jawabanmu?

Tutur Sang Mentari #16

Hari ini aku bangun kesiangan, terlewat sudah melihat warna oranye Mentari di ufuk timur.
Dan ketika aku menyapanya saat dia sudah agak tinggi dan bersinar terang, Mentari berkata:

Awan… coba rasakan…
Burung berkicau…
Anjing menggonggong…
Kucing mengeong…
Dan istri Abunawas berperangai galak 🙂

Mengubah istri Abunawas yang berperangai galak, sama dengan menyuruh burung untuk mengeong… hopeless…
Bukan berarti bahwa istri Abunawas itu tidak bisa berubah menjadi lembut, besok.
Tetapi pahamilah bahwa sekarang adalah jalannya untuk berperangai galak.
Mungkin besok bisa berubah, tetapi saat ini perangai itulah peran yang harus dia jalankan.

Mengetahui bahwa semua punya jalan masing2 menuju Tuhan maka engkau akan bisa melihat keindahan ciptaanNya.

Abunawas tahu itu, sehingga Abunawas tidak pernah menderita hidup dengan istri yang berperangai galak 🙂

Tutur Sang Mentari #15

Awan: Maukah engkau turun sebentar ke bumi dan menjadi manusia? Aku ingin menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan dari dan kepada manusia lain.

Mentari: Tentu saja, aku akan turun ke bumi dan merubah diriku menjadi seorang manusia sehingga kamu bisa menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan oleh sesama manusia. Aku akan minta bantuan kepada Tuhan agar menggantikanku dengan mentari untuk menyinari bumi selama aku menjadi manusia 😀

[chiuuuuwwwzzzz…. lalu Mentari pun merubah diri, berada di hadapan Awan sebagai seorang laki-laki seumuran Awan. Mereka berdiri berhadap-hadapan di loteng tempat Awan biasa berbincang pagi dan sore dengan Mentari]

Mentari: Oke, aku sudah di sini… mari kita berbincang seolah-olah kita kawan lama yang tidak bertemu.

Awan: Baik… Aku mulai… Hallo Mentari, lama kita sudah tidak bertemu. Apa kabar?

Mentari: Kabar baik Awan, bagaimana denganmu?

Awan: Aku juga baik-baik saja… ngomong-ngomong, kok kamu sendirian… mana istrimu?

Mentari: Oh aku belum punya istri…

Awan: Ah kenapa kamu belum punya istri? apakah kamu tidak ingin punya istri? Nanti kamu tua tidak ada yang ngurus lho… Apa kamu tidak pingin punya anak?

Mentari: Hmm… mau jawaban becanda atau jawaban serius nih he he he…

Awan: Ah kamu ini bisa aja, oke jawaban becanda aja dulu…

Mentari: Jawaban becandanya… “engga tuh” *dengan muka cengengesan* he he he…

Awan: Ok…ok… sekarang jawaban seriusnya?

Mentari: Jawaban seriusnya… “engga pengen” *dengan muka serius*

Awan: Lho kenapa bisa begitu? kenapa kamu engga pengen punya istri? engga pengen punya anak?

Mentari: Awan, dalam hidup ini dua hal yang datang silih berganti : senang… dan sedih… Setelah sedih, ada senang. Setelah senang, ada sedih. Tidak mungkin orang akan sedih terus menerus dan tidak mungkin orang akan senang terus menerus.

Awan: Lalu hubungannya punya istri dan punya anak dengan senang dan sedih apa?

Mentari: Belum punya istri, tetap bakal bertemu senang dan sedih. Sudah punya istri juga tetap bakal bertemu dengan senang dan sedih. Di sini “istri” bisa digantikan dengan variable lain: anak, rumah, mobil, jabatan, dlsb

Awan: Lalu kalau sama-sama aja, enakan punya istri dong… senang ada yang nemenin, sedih juga ada yang menghibur?

Mentari: Bisa jadi, dan yang perlu diperhatikan adalah selain bisa menghibur/menemain, istri juga bisa menjadi sumber dari kesedihan. Begitu pula anak, rumah, mobil, jabatan, gaji, dlsb. Jadi sebenarnya intinya bukanlah “punya” sesuatu, tetapi bagaimana agar pada saat sedih kita tidak terlarut kedalamnya. Sehingga kita bisa menikmati masa-masa sedih, sama seperti kita menikmati masa-masa bahagia.

Awan: Hmm… bagaimana caranya?

Mentari: kuncinya adalah memahami darimana asal dari kesedihan/penderitaan. Pengalamanku, asalnya ada beberapa hal:
– Menginginkan sesuatu secara berlebihan.
– Menggelisahkan sesuatu yang belum dimiliki secara berlebihan.
– Terlalu terobsesi terhadap sesuatu sehingga menyiksa diri karena belum mencapai sebuah keadaan ideal. Selain itu,
– Penolakan terhadap kondisi yang ada.
– Melupakan/mengabaikan sesuatu yang kita miliki (dan biasanya adalah sesuatu yang berharga)
In a simple word, suffering is when you want something that you don’t have and don’t want something that you do have.

Awan: Bagaimana aku tahu bahwa aku sudah berlebihan menginginkan sesuatu?

Mentari: Gampang, ketika kamu merasa sedih, marah, frustrasi, jengkel, stress, depresi, malu dan emosi2 negatif lain. Emosi2 tersebut merupakan sebuah “alarm” kalau kamu menginginkan sesuatu secara berlebihan.

Awan: hmm… menarik sekali…terima kasih Mentari… kini aku tahu bahwa ketika emosi2 negatif itu muncul, maka saatnya aku melihat ke dalam diri. Bukan malah menyerang apa yang ada diluar diri.

Mentari: Betul Awan… Tuhan itu dekat, se-dekat urat nadi…Dia tidak berbicara denganmu dengan menggunakan cara luar biasa seperti sinar terang yang datang dari langit. Dia berbicara padamu setiap saat lewat kehidupan sehari-hari.

Tutur Sang Mentari #14

Awan, ingatlah… bahwa kesengsaraan adalah menginginkan apa yang tidak kamu miliki, dan mengabaikan/menolak apa yang sudah kamu miliki.

Sementara kebahagiaan adalah sebaliknya: mensyukuri dan menikmati apa yang telah kamu miliki dan tidak tersiksa dalam menginginkan sesuatu yang tidak kamu miliki.

Konsep ini bukan berarti bahwa kamu harus menghilangkan mimpi, nilai-nilai ataupun hal-hal yang ingin kamu capai tetapi menyeimbangkannya dengan kemampuan untuk menerima segala sesuatu secara apa adanya.

Dengan itu, tidak ada beban ketika kamu berjuang mengusahakan sesuatu.

Tutur Sang Mentari #13

Dalam sebagian agama ada cerita tentang surga dan neraka.

Surga dan neraka ini akan dimasuki setelah seseorang meninggal dan “diperhitungkan” perbuatannya di dunia.

Di dunia ketika orang hidup, ada juga yang dinamakan surga dan neraka.

Surga adalah ketika kondisi emosi/pikiran bahagia.

Neraka adalah ketika kondisi emosi/pikiran sengsara atau tidak bahagia.

Cara masuk neraka gampang, jangan beriman pada Tuhan.

Berimanlah pada pikiran.

Kalau punya pikiran bahwa kondisi seharusnya adalah A, padahal saat ini adalah B.

Dan kita sangat percaya pada pikiran kita sendiri. Itulah namanya beriman pada pikiran.

Jadilah masuk neraka emosional.

Misal, terburu2 ke suatu tempat dan kemudian terjebak macet.

Pikiran mengatakan “Saya harus cepat2 sampai, sangat penting bahwa saya harus cepat sampai”

Ketika seseorang mempercayai pikiran itu dengan teguh, dengan iman yang kuat maka dia pasti akan cemas.

Marah2 ketika macetnya berkepanjangan. Menggerutu.

Itulah neraka emosional.

 

Sebaliknya cara masuk surga juga gampang.

Percayalah bahwa kondisi realitas saat ini adalah yang terbaik yang diberikan oleh Tuhan.

Berimanlah kepada Tuhan, bukan kepada asumsi pikiran.

Contohnya dalam kondisi macet pikiran berkata “Saya harus cepat2 sampai, sangat penting bahwa saya harus cepat sampai”

Namun tidak diimani, justru yang dipegang teguh adalah “Tuhan telah mentakdirkan macet untuk saya, ini adalah yang terbaik saat ini untuk saya”

Maka pikiran akan menjadi tenang, damai.

Menikmati kondisi yang ada dengan seutuhnya.

 

Jadi Awan (kata sang mentari), masuk surga dan neraka adalah pilihan setiap saat untukmu 🙂

 

 

 

Tutur Sang Mentari #11

Mentari: Hallo Awan, apa kabar?

Awan: Hai Mentari, indah sekali kamu pagi ini. Bulat oranye sempurna di menyegarkan 🙂

Mentari: Iya nih pagi ini aku bisa muncul dengan bulat sempurna. Kamu udah dari kapan di loteng?

Awan: Hari ini agak telat 20menit. Aku mulai berdiri di sini dari 5.20.

Mentari: Hoo bagus…bagus… kamu ga tidur lagi setelah sahur? Ga ngantuk gitu?

Awan: Tadi sempet ngantuk sih, cuman ada hal yang lebih menarik dari tidur… nungguin kamu dan lalu ngobrol sama kamu hehe..

Mentari: Oh gitu ya… siplah kalau gitu… jadi mau ngobrolin apa kita pagi ini?

Awan: Aku mau nanya… menurutmu, kenapa sih kita tidak diberi hidup selama-lama nya? kenapa kita tidak dikasih kekal sama Tuhan?

Mentari: Hmm… kalau menurutku… tujuan dari hidup itu bukan untuk mendapatkan/mempunyai, tetapi untuk melepaskan…

Awan: Maksudnya gimana? Bukannya dalam kehidupan kita sehari-hari kita punya tujuan untuk mendapatkan sesuatu? Misal kerja biar dapat duit, duitnya biar bisa punya rumah. Atau menikah biar punya anak. dll…

Mentari: Iya betul, dan rumah itu tidak abadi, anak juga tidak abadi, uang juga tidak abadi. Apa yang kamu dapatkan/miliki, nanti pada akhirnya akan hilang…akan kamu lepaskan.

Tuhan memang misterius, tetapi menurutku ini adalah skenario yang indah. Kamu harus mendapatkan sesuatu sehingga akhirnya kamu mengerti artinya melepaskan. Dalam perjalanan hidupmu, sedikit demi sedikit apa yang kamu miliki akan hilang. Apa yang kamu dapatkan akan lepas. Disitulah kamu belajar tentang keikhlasan. Jika kamu tidak merelakannya, maka kamu berarti terikat dengan apa yang kamu miliki. Hidupmu akan menderita. Batinmu akan dipenuhi dengan kesedihan. Dan kemudian… pelepasan yang paling akhir adalah… nyawa. Pada saat itu kamu akan melepaskan tubuhmu, hartamu, pasanganmu, anakmu, kamu akan melepaskan diri dari dunia ini…

Awan: Hmm… kalau begitu apakah lebih baik orang yang tidak memiliki/tidak mempunyai sehingga dia tidak punya keterikatan untuk memiliki?

Mentari: Memang ada orang-orang yang bisa mengerti konsep melepaskan walaupun mereka tidak memiliki. Ini biasanya orang-orang yang tidak terbelenggu oleh keinginannya. Kalau kita punya anak, maka kita akan terikat dengan anak tersebut. Hal ini dikarenakan konsep “punya” yang tertanam di dalam pikiran. Beda kalau anak itu dianggap bukan milik kita, tetapi hanya titipan. Akan lebih ringan menjalaninya. Kita tidak akan merasa bangga dan menghina orang2 yang “tidak punya” anak. Kita tidak akan merasa bahwa kita lebih bahagia daripada yang tidak punya. Karena toh itu cuman titipan, ada untuk nantinya dilepaskan.

Orang yang tidak punya sesuatu, sebenarnya tidak punya beban yang melekat pada apa yang dipunyainya.

Awan: Wah menarik dan mencerahkan sekali ngobrol sama kamu Mentari… sayangnya sekarang sudah jam setengah tujuh… aku harus berangkat kerja.

Mentari: Tidak apa2 Awan, kita bisa ketemu lagi sore nanti sebelum aku turun ke peraduan.

Awan: Terima Kasih mentari, sampai nanti sore! 😀

 

Tutur Sang Mentari #10

*tutur sang mentari padaku pagi ini…

Kalau kamu ingin seseorang melakukan sesuatu, tinggal meminta dengan baik.

Kalau orang tersebut tidak mau melakukan apa yang kamu minta, dan kamu merasa marah, sebal atau tersinggung berarti kamu perlu menengok ke dalam dirimu sendiri.

Kamu menginginkan sesuatu yang dalam imajinasimu adalah berbeda dengan kenyataan.

Kamu menganggap apa yang diimajinasikan dalam pikiranmu adalah lebih baik daripada kenyataan.

Padahal kenyataan adalah yang nyata2nya ada.

Perasaan marah, sedih, tersinggung, sebal sebenarnya bukan terjadi karena orang itu tidak melakukan apa yang kamu minta.

Tetapi adalah sangking percayanya dirimu terhadap pikiranmu, terhadap imajinasimu.

Sangking ber-iman-nya kamu terhadap pikiran dan bayanganmu sendiri, sehingga kamu masuk neraka emosional (sedih, marah, kecewa, sebal, tersinggung, dsb).

Kalau kamu beriman pada Tuhan, maka kamu tidak akan masuk ke dalam neraka emosional.

Kamu akan yakin bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik, selalu menciptakan yang terbaik, selalu membuat keadaan yang paling bermanfaat bagi semuanya untuk kapanpun.

Realitas akan memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga dan bermanfaat daripada imajinasi/pikiran yang paling indah sekalipun.

Kemudian muncul pikiran…

“Kalau gitu tidak akan ada perubahan dong?”

Benarkah? Benarkah tidak akan ada perubahan jika kita berpegang pada realitas?

Dalam pengalaman saya perubahan pasti akan terjadi, tetapi apakah kita akan menyertakan emosi negatif di dalam prosesnya atau tidak merupakan pilihan kita.