Tutur Sang Mentari #16

Hari ini aku bangun kesiangan, terlewat sudah melihat warna oranye Mentari di ufuk timur.
Dan ketika aku menyapanya saat dia sudah agak tinggi dan bersinar terang, Mentari berkata:

Awan… coba rasakan…
Burung berkicau…
Anjing menggonggong…
Kucing mengeong…
Dan istri Abunawas berperangai galak 🙂

Mengubah istri Abunawas yang berperangai galak, sama dengan menyuruh burung untuk mengeong… hopeless…
Bukan berarti bahwa istri Abunawas itu tidak bisa berubah menjadi lembut, besok.
Tetapi pahamilah bahwa sekarang adalah jalannya untuk berperangai galak.
Mungkin besok bisa berubah, tetapi saat ini perangai itulah peran yang harus dia jalankan.

Mengetahui bahwa semua punya jalan masing2 menuju Tuhan maka engkau akan bisa melihat keindahan ciptaanNya.

Abunawas tahu itu, sehingga Abunawas tidak pernah menderita hidup dengan istri yang berperangai galak 🙂

Tutur Sang Mentari #15

Awan: Maukah engkau turun sebentar ke bumi dan menjadi manusia? Aku ingin menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan dari dan kepada manusia lain.

Mentari: Tentu saja, aku akan turun ke bumi dan merubah diriku menjadi seorang manusia sehingga kamu bisa menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan oleh sesama manusia. Aku akan minta bantuan kepada Tuhan agar menggantikanku dengan mentari untuk menyinari bumi selama aku menjadi manusia 😀

[chiuuuuwwwzzzz…. lalu Mentari pun merubah diri, berada di hadapan Awan sebagai seorang laki-laki seumuran Awan. Mereka berdiri berhadap-hadapan di loteng tempat Awan biasa berbincang pagi dan sore dengan Mentari]

Mentari: Oke, aku sudah di sini… mari kita berbincang seolah-olah kita kawan lama yang tidak bertemu.

Awan: Baik… Aku mulai… Hallo Mentari, lama kita sudah tidak bertemu. Apa kabar?

Mentari: Kabar baik Awan, bagaimana denganmu?

Awan: Aku juga baik-baik saja… ngomong-ngomong, kok kamu sendirian… mana istrimu?

Mentari: Oh aku belum punya istri…

Awan: Ah kenapa kamu belum punya istri? apakah kamu tidak ingin punya istri? Nanti kamu tua tidak ada yang ngurus lho… Apa kamu tidak pingin punya anak?

Mentari: Hmm… mau jawaban becanda atau jawaban serius nih he he he…

Awan: Ah kamu ini bisa aja, oke jawaban becanda aja dulu…

Mentari: Jawaban becandanya… “engga tuh” *dengan muka cengengesan* he he he…

Awan: Ok…ok… sekarang jawaban seriusnya?

Mentari: Jawaban seriusnya… “engga pengen” *dengan muka serius*

Awan: Lho kenapa bisa begitu? kenapa kamu engga pengen punya istri? engga pengen punya anak?

Mentari: Awan, dalam hidup ini dua hal yang datang silih berganti : senang… dan sedih… Setelah sedih, ada senang. Setelah senang, ada sedih. Tidak mungkin orang akan sedih terus menerus dan tidak mungkin orang akan senang terus menerus.

Awan: Lalu hubungannya punya istri dan punya anak dengan senang dan sedih apa?

Mentari: Belum punya istri, tetap bakal bertemu senang dan sedih. Sudah punya istri juga tetap bakal bertemu dengan senang dan sedih. Di sini “istri” bisa digantikan dengan variable lain: anak, rumah, mobil, jabatan, dlsb

Awan: Lalu kalau sama-sama aja, enakan punya istri dong… senang ada yang nemenin, sedih juga ada yang menghibur?

Mentari: Bisa jadi, dan yang perlu diperhatikan adalah selain bisa menghibur/menemain, istri juga bisa menjadi sumber dari kesedihan. Begitu pula anak, rumah, mobil, jabatan, gaji, dlsb. Jadi sebenarnya intinya bukanlah “punya” sesuatu, tetapi bagaimana agar pada saat sedih kita tidak terlarut kedalamnya. Sehingga kita bisa menikmati masa-masa sedih, sama seperti kita menikmati masa-masa bahagia.

Awan: Hmm… bagaimana caranya?

Mentari: kuncinya adalah memahami darimana asal dari kesedihan/penderitaan. Pengalamanku, asalnya ada beberapa hal:
– Menginginkan sesuatu secara berlebihan.
– Menggelisahkan sesuatu yang belum dimiliki secara berlebihan.
– Terlalu terobsesi terhadap sesuatu sehingga menyiksa diri karena belum mencapai sebuah keadaan ideal. Selain itu,
– Penolakan terhadap kondisi yang ada.
– Melupakan/mengabaikan sesuatu yang kita miliki (dan biasanya adalah sesuatu yang berharga)
In a simple word, suffering is when you want something that you don’t have and don’t want something that you do have.

Awan: Bagaimana aku tahu bahwa aku sudah berlebihan menginginkan sesuatu?

Mentari: Gampang, ketika kamu merasa sedih, marah, frustrasi, jengkel, stress, depresi, malu dan emosi2 negatif lain. Emosi2 tersebut merupakan sebuah “alarm” kalau kamu menginginkan sesuatu secara berlebihan.

Awan: hmm… menarik sekali…terima kasih Mentari… kini aku tahu bahwa ketika emosi2 negatif itu muncul, maka saatnya aku melihat ke dalam diri. Bukan malah menyerang apa yang ada diluar diri.

Mentari: Betul Awan… Tuhan itu dekat, se-dekat urat nadi…Dia tidak berbicara denganmu dengan menggunakan cara luar biasa seperti sinar terang yang datang dari langit. Dia berbicara padamu setiap saat lewat kehidupan sehari-hari.

Tutur Sang Mentari #14

Awan, ingatlah… bahwa kesengsaraan adalah menginginkan apa yang tidak kamu miliki, dan mengabaikan/menolak apa yang sudah kamu miliki.

Sementara kebahagiaan adalah sebaliknya: mensyukuri dan menikmati apa yang telah kamu miliki dan tidak tersiksa dalam menginginkan sesuatu yang tidak kamu miliki.

Konsep ini bukan berarti bahwa kamu harus menghilangkan mimpi, nilai-nilai ataupun hal-hal yang ingin kamu capai tetapi menyeimbangkannya dengan kemampuan untuk menerima segala sesuatu secara apa adanya.

Dengan itu, tidak ada beban ketika kamu berjuang mengusahakan sesuatu.

Anti Bullying Song – This is for all of you boys/girls :D

Oh-oh-oh
Check it out
Oh no
Here we go

Please help me God, I feel so alone
I’m just a kid, how can I take it on my own
I’ve cried too many tears, yeah, writing this song
Trying to fit in, where do I belong?
I wake up every day, don’t want to leave my home
My momma’s askin’ me why I’m always alone
Too scared to say, too scared to holler
I’m walking to school, with sweat around my collar
I’m just a kid, I don’t want no stress
My nerves are bad, my life’s a mess
The names you call me, they hurt real bad
I want to tell my Mom
She’s havin’ trouble with my Dad
I feel so trapped there’s nowhere to turn
Just goin’ to school
Don’t wanna fight I wanna learn
So please mister bully
Tell me what I’ve done
You know I have no Dad
I’m livin’ with my Mom

Just be hopeful, yes I am
Hopeful for today
Take this music and use it
Let it take you away
And be hopeful, hopeful
And He’ll make a way
I know it ain’t easy, but, that’s okay
Just be hopeful

Why do you trip every single day?
I didn’t ask to be born but now, I have to pay
I ain’t got no money, you take all I have
When I give it to you, I search through My bags
I feel so scared when you shot me down
You kick me, punch me, throw me to the ground
When I ask you, yo, what have I done?
You hit me again, and make fun of my Mom!

I’m hopeful, yes I am
Hopeful for today
Take this music and use it
Let it take you away
And be hopeful, hopeful
And He’ll make a way
I know it ain’t easy, but, that’s okay
Just be hopeful

What I wear is all I have
We lost our home, I’m livin’ from a bag
Yo mister bully, help me please
I’m flesh and blood, accept me please
Hey mister bully, I don’t know what to do
My mind, it can’t explain what I did to you
Mister bully, take in all my please
Every single day you bring me to my knees

Hopeful, yes I am
Hopeful for today
Take this music and use it
Let it take you away
And be hopeful, hopeful
And He’ll make a way
I know it ain’t easy, but, that’s okay
Just be hopeful.

Tutur Sang Mentari #13

Dalam sebagian agama ada cerita tentang surga dan neraka.

Surga dan neraka ini akan dimasuki setelah seseorang meninggal dan “diperhitungkan” perbuatannya di dunia.

Di dunia ketika orang hidup, ada juga yang dinamakan surga dan neraka.

Surga adalah ketika kondisi emosi/pikiran bahagia.

Neraka adalah ketika kondisi emosi/pikiran sengsara atau tidak bahagia.

Cara masuk neraka gampang, jangan beriman pada Tuhan.

Berimanlah pada pikiran.

Kalau punya pikiran bahwa kondisi seharusnya adalah A, padahal saat ini adalah B.

Dan kita sangat percaya pada pikiran kita sendiri. Itulah namanya beriman pada pikiran.

Jadilah masuk neraka emosional.

Misal, terburu2 ke suatu tempat dan kemudian terjebak macet.

Pikiran mengatakan “Saya harus cepat2 sampai, sangat penting bahwa saya harus cepat sampai”

Ketika seseorang mempercayai pikiran itu dengan teguh, dengan iman yang kuat maka dia pasti akan cemas.

Marah2 ketika macetnya berkepanjangan. Menggerutu.

Itulah neraka emosional.

 

Sebaliknya cara masuk surga juga gampang.

Percayalah bahwa kondisi realitas saat ini adalah yang terbaik yang diberikan oleh Tuhan.

Berimanlah kepada Tuhan, bukan kepada asumsi pikiran.

Contohnya dalam kondisi macet pikiran berkata “Saya harus cepat2 sampai, sangat penting bahwa saya harus cepat sampai”

Namun tidak diimani, justru yang dipegang teguh adalah “Tuhan telah mentakdirkan macet untuk saya, ini adalah yang terbaik saat ini untuk saya”

Maka pikiran akan menjadi tenang, damai.

Menikmati kondisi yang ada dengan seutuhnya.

 

Jadi Awan (kata sang mentari), masuk surga dan neraka adalah pilihan setiap saat untukmu 🙂

 

 

 

Tutur Sang Mentari #12

Awan, ingatlah…dalam belajar apapun, salah satu halangan terbesar yang menyebabkan seseorang berhenti mempelajari sesuatu adalah

Ketidak-sabaran

Rasa ketidak sabaran ini disebabkan karena ingin cepat mendapatkan hasil.

Rasa ketidak sabaran ini menimbulkan kebingungan, dan bahkan bisa berakibat kebingungan sehingga tidak bisa menentukan langkah.

Dalam mempelajari sesuatu, mulailah dengan sedikit demi sedikit namun rutin.

Alokasikan waktu, dan lakukan.

Jika kamu terus melakukan setiap hari, pasti akan ada progress.

Tahu/tidak tahu, terus lakukan dan jadikan itu sebagai sebuah kebiasaan.

Selamat hari Sabtu Awan, selamat belajar tentang kehidupan 🙂

 

Tutur Sang Mentari #11

Mentari: Hallo Awan, apa kabar?

Awan: Hai Mentari, indah sekali kamu pagi ini. Bulat oranye sempurna di menyegarkan 🙂

Mentari: Iya nih pagi ini aku bisa muncul dengan bulat sempurna. Kamu udah dari kapan di loteng?

Awan: Hari ini agak telat 20menit. Aku mulai berdiri di sini dari 5.20.

Mentari: Hoo bagus…bagus… kamu ga tidur lagi setelah sahur? Ga ngantuk gitu?

Awan: Tadi sempet ngantuk sih, cuman ada hal yang lebih menarik dari tidur… nungguin kamu dan lalu ngobrol sama kamu hehe..

Mentari: Oh gitu ya… siplah kalau gitu… jadi mau ngobrolin apa kita pagi ini?

Awan: Aku mau nanya… menurutmu, kenapa sih kita tidak diberi hidup selama-lama nya? kenapa kita tidak dikasih kekal sama Tuhan?

Mentari: Hmm… kalau menurutku… tujuan dari hidup itu bukan untuk mendapatkan/mempunyai, tetapi untuk melepaskan…

Awan: Maksudnya gimana? Bukannya dalam kehidupan kita sehari-hari kita punya tujuan untuk mendapatkan sesuatu? Misal kerja biar dapat duit, duitnya biar bisa punya rumah. Atau menikah biar punya anak. dll…

Mentari: Iya betul, dan rumah itu tidak abadi, anak juga tidak abadi, uang juga tidak abadi. Apa yang kamu dapatkan/miliki, nanti pada akhirnya akan hilang…akan kamu lepaskan.

Tuhan memang misterius, tetapi menurutku ini adalah skenario yang indah. Kamu harus mendapatkan sesuatu sehingga akhirnya kamu mengerti artinya melepaskan. Dalam perjalanan hidupmu, sedikit demi sedikit apa yang kamu miliki akan hilang. Apa yang kamu dapatkan akan lepas. Disitulah kamu belajar tentang keikhlasan. Jika kamu tidak merelakannya, maka kamu berarti terikat dengan apa yang kamu miliki. Hidupmu akan menderita. Batinmu akan dipenuhi dengan kesedihan. Dan kemudian… pelepasan yang paling akhir adalah… nyawa. Pada saat itu kamu akan melepaskan tubuhmu, hartamu, pasanganmu, anakmu, kamu akan melepaskan diri dari dunia ini…

Awan: Hmm… kalau begitu apakah lebih baik orang yang tidak memiliki/tidak mempunyai sehingga dia tidak punya keterikatan untuk memiliki?

Mentari: Memang ada orang-orang yang bisa mengerti konsep melepaskan walaupun mereka tidak memiliki. Ini biasanya orang-orang yang tidak terbelenggu oleh keinginannya. Kalau kita punya anak, maka kita akan terikat dengan anak tersebut. Hal ini dikarenakan konsep “punya” yang tertanam di dalam pikiran. Beda kalau anak itu dianggap bukan milik kita, tetapi hanya titipan. Akan lebih ringan menjalaninya. Kita tidak akan merasa bangga dan menghina orang2 yang “tidak punya” anak. Kita tidak akan merasa bahwa kita lebih bahagia daripada yang tidak punya. Karena toh itu cuman titipan, ada untuk nantinya dilepaskan.

Orang yang tidak punya sesuatu, sebenarnya tidak punya beban yang melekat pada apa yang dipunyainya.

Awan: Wah menarik dan mencerahkan sekali ngobrol sama kamu Mentari… sayangnya sekarang sudah jam setengah tujuh… aku harus berangkat kerja.

Mentari: Tidak apa2 Awan, kita bisa ketemu lagi sore nanti sebelum aku turun ke peraduan.

Awan: Terima Kasih mentari, sampai nanti sore! 😀

 

Tutur Sang Mentari #10

*tutur sang mentari padaku pagi ini…

Kalau kamu ingin seseorang melakukan sesuatu, tinggal meminta dengan baik.

Kalau orang tersebut tidak mau melakukan apa yang kamu minta, dan kamu merasa marah, sebal atau tersinggung berarti kamu perlu menengok ke dalam dirimu sendiri.

Kamu menginginkan sesuatu yang dalam imajinasimu adalah berbeda dengan kenyataan.

Kamu menganggap apa yang diimajinasikan dalam pikiranmu adalah lebih baik daripada kenyataan.

Padahal kenyataan adalah yang nyata2nya ada.

Perasaan marah, sedih, tersinggung, sebal sebenarnya bukan terjadi karena orang itu tidak melakukan apa yang kamu minta.

Tetapi adalah sangking percayanya dirimu terhadap pikiranmu, terhadap imajinasimu.

Sangking ber-iman-nya kamu terhadap pikiran dan bayanganmu sendiri, sehingga kamu masuk neraka emosional (sedih, marah, kecewa, sebal, tersinggung, dsb).

Kalau kamu beriman pada Tuhan, maka kamu tidak akan masuk ke dalam neraka emosional.

Kamu akan yakin bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik, selalu menciptakan yang terbaik, selalu membuat keadaan yang paling bermanfaat bagi semuanya untuk kapanpun.

Realitas akan memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga dan bermanfaat daripada imajinasi/pikiran yang paling indah sekalipun.

Kemudian muncul pikiran…

“Kalau gitu tidak akan ada perubahan dong?”

Benarkah? Benarkah tidak akan ada perubahan jika kita berpegang pada realitas?

Dalam pengalaman saya perubahan pasti akan terjadi, tetapi apakah kita akan menyertakan emosi negatif di dalam prosesnya atau tidak merupakan pilihan kita.

Senangnya Punya Banyak Teman Taiji

Awan-Rimbawan-Senangnya-Taiji

Photos by www.flickr.com/photos/lifemagic/438465940/in/photostream/

Hari Sabtu kemarin saya ditelpon oleh Bu Ratna.
Beliau ini salah satu sesepuh Taiji di Bali.
Rumahnya sering menjadi tempat persinggahan para praktisi dan master Taiji yang datang ke Bali.
Rencananya saya akan dikirimi buku Zhan Zhuang oleh beliau.
Bu Ratna bilang jarang ada anak muda yang mau belajar Zhan Zhuang.
Saya muda? Tentu saja kalau dibandingkan dengan beliau yang umurnya kurang lebih dua kali umur saya.
Saya senang berteman dengan orang2 yang lebih senior.
Mendapat banyak kebijaksanaan dan cerita hidup 🙂

Teman tambahan yang saya kenal adalah Ko Arief Teguh.
Beliau ini tinggal di California dan sudah 8 tahun belajar Taiji.
Style yang dipelajari adalah Traditional Yang style tipe akhir hayat Yang Chen Fu (termasuk yg dimodernisasi) juga traditional sabre(sword) aliran Fu Zhong Wen.

Kemudian ada Bro Steven Yangdianto di Medan yang tempat latihannya saya masukkan ke Peta Taiji
Bro Steven ini malah punya beberapa buku Taiji klasik dan sempat mengusahakan untuk men-translate ke Bahasa Indonesia.
Bukan hal yang mudah karena tulisan kuno mempunya perbedaan tata bahasa, slang, keadaan yang sangat besar mempengaruhi artinya.

Ada yang bilang “life without friends is like the sky without sun”
Ya, teman2 baru saya ini menambah terangnya sinar matahari yang menerangi hidup saya 🙂