Sharing untuk TDA: Inovator Inovasi Indonesia Expo 2017

Assalamualaikum para mastah, suhu dan rekan2 seperdjoeangan 😀

Mohon ijin pagi ini untuk melaksanakan Sharing Epik #3: Inovator Inovasi Indonesia Expo – Kemenristek Dikti

Powered by Div Epik (Edukasi dan Pengembangan Ilmu serta Kapasitas) TDA Bandung: @jargus , @Muji_ono , @vickyoktrya , dan saya sendiri…

Semenjak hari Rabu kemarin, saya ada di Surabaya.
Bukan untuk jalan2, tetapi mengikuti sebuah pameran bertajuk Inovator Inovasi Indonesia Expo.
Dari namanya, bisa ketauan bahwa yang dipamerkan adalah produk2 Inovasi.
Pesertanya pameran nya dari berbagai kota di Indonesia, dari sabang sampai merauke.
Tetapi mempunyai kesamaan, yaitu tenant binaan yang pengembangan produknya dibiayai oleh Kemenristek Dikti.

Produknya bermacam2. Ada yang membuat mini tank tanpa awak. Klien nya jelas, Angkatan Darat. Karena produk yang sensitif seperti ini, tim pembuatnya sudah menandatangani kontrak untuk tidak mempunyai social network account. Tetapi tidak mengapa, karena pihak militer sudah menyiapkan budget untuk kontrak2 pemesanan.

Ada yang meriset produk di teknologi Beacon. Salah satu keunggulan produk ini adalah bisa meningkatkan proses data transfer. Kita tahu teknologi RFID yg sekarang ini digunakan pada kartu tol hanya bisa berfungsi di jarak dekat (kita harus menempelkan kartu ke sensor pintu tol). Dengan teknologi Beacon maka dalam jarak ratusan meter juga sudah bisa di deteksi. Juga tidak perlu satu2, tetapi bisa melakukan identifikasi ratusan mobil dalam satu waktu. Jika ini bisa diterapkan, akan menjadi solusi kemacetan gerbang pintu tol karena mobil2 hanya tinggal lewat saja tanpa perlu menempelkan kartunya.

Di bidang pangan, ada yang mengembangkan produk karena melihat kondisi daerahnya. Misalkan seorang pemuda di Banyuwangi mengetahui bahwa daerahnya adalah produsen buah kakao. Buah itu hanya diambil biji nya saja, sedang kulitnya dibuang dan jadi limbah pertanian. Setelah dilakukan riset maka diketahui bahwa kandungan oksidan nya tinggi sehingga bisa digunakan sebagai supplemen pencegah kanker. Oleh karena itu dibuat ekstraknya dan dikemas dalam bentuk kapsul yg tahan lama. Bahan baku yang murah, melimpah merupakan daya saing yang besar untuk produk yang berkualitas.

Stand di samping saya, Batian merupakan produk pencatatan keuangan untuk usaha mikro. Standnya diserbu ratusan orang tiap harinya karena simplisitas penggunaannya. Selepas pameran sudah ada pihak yang siap bekerja sama untuk menyebarkan dan memasarkan produk ini untuk wilayah jawa timur.

Total ada 450+ produk inovasi yang dipamerkan, tersebar di kategori pangan, energi, material maju, transportasi, pertahanan keamanan, teknologi informasi komunikasi, dlsb.
Di tengah2 segala pemberitaan miring tentang kondisi Indonesia, event ini adalah sebuah bukti bahwa ibu pertiwi masih terus melahirkan para pejuang.

Nah terus, apa manfaatnya buat temen2 TDA?

Yang pertama, dari sini saya melihat bahwa banyak sekali peluang kerja sama yang bisa dikolaborasikan. Komunitas bisnis yang cenderung praktis, bisa bekerja sama dengan tim2 inovator ini, untuk mengkomersialisasikan hasil riset dan inovasi mereka. Temen2 bisa browsing di bagian peserta di website ini i3expo.id untuk melihat kira-kira apa saja yang match dengan domain yang dikuasai.

Yang kedua, pemerintah terutama dari kemenristek dikti saat ini sedang gencar-gencarnya membiayai pengembangan produk inovasi yang mempunyai potensi pasar yg bagus. Kalau ada dari teman2 yang punya ide pengembangan produk, bisa mengikuti program IBT CPPBT (Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi). Tahun lalu yang ketrima bisa mendapatkan dana sampai 325jt per tenant. Ini dana hibah dari kemenristek, jadi tidak ada embel2 minta saham ataupun harus dikembalikan.

Ada salah satu tips sakti yang ane dapat ketika mengikuti program ini. Yaitu menyusun proposal nya jangan seperti menyusun karya ilmiah, tetapi disusun mengikuti flow nya Smart Business Map.

Smart Business Map sendiri adalah sebuah tool yang bisa digunakan untuk menganalisa dan merancang bisnis. Simpel dan aplikatif namun sangat powerful. Dibuat oleh Pak Budi Isman yang sukses menaikan valuasi PT. Sari Husada (lebih dikenal dengan brand SGM), dari 4 Trilyun menjadi 22 Trilyun hanya dalam waktu 2 tahun saja.

Untuk tulisan mengenai Smart Business Map sudah saya kumpulkan di sini http://bit.ly/awanSBM

So, kesempatan ada di depan mata… monggo buat yang ingin memanfaatkan sebaik2nya.

Kalau ada temen2 yang ingin tanya2 lebih lanjut mengenai program ini, jangan ragu buat kontak2 ane. Buat yang pengen daftar tapi gak punya ide…ane juga punya daftar ide2 yg bisa dieksekusi hehehe… 😀

Good luck and have a wonderful morning, Bismillah… 🙂

Ada tips nggak klo pas puasa jadi lemes dan males kerja?

Ada temen nanyain, apakah ada tips kalau pas puasa jadi lemes dan males kerja?

Aku jawab gini…

[5:49 AM, 10/1/2017] +62 856-2442-2245: Klo kata guru ane gini bro…

Puasa itu pada hakikatnya latihan mengendalikan keinginan badaniyah.
Dalam hal ini yg paling kuat adalah seks dan makan/minum.
Karena keinginan ini kalau engga bisa kita kendalikan, bakal bikin masalah buat hidup/badan kita.

Seks yang tidak terkontrol bisa bawa banyak banget masalah.
Kalau duit kita udah banyak dan engga bisa mengontrol keinginan seks ini, maka godaan2 yang datang bisa bikin hancur hidup kita.
Karena laki2 itu lebih banyak lagi cobaannya kalau lagi banyak duit.
Beda sama perempuan, cobaannya ketika lagi ga punya duit masih tetep setia ga dia sama lakinya 😀

Keinginan makanan juga gitu.
Makanan/minuman yang engga kita kontrol bakal bawa penyakit berbahaya.
Kalau nanti kita udah banyak duit tp kita gak kontrol ini, maka duit itu habisnya buat pengobatan.

Nah untuk menjaga hal2 itu, maka dilatih ruhiyah nya dengan cara puasa (salah satunya).

Pada saat puasa badan kita dilemahkan.
Kita akan mudah ngantuk, lemes.

Tetapi itu sebenernya ngomong sama mind/nafsu kita.
“Nih, aku udah set mind ga makan, ga berhubungan seks.
Memang bakal lemes, memang bakal ngantuk.
Tapi aku yang set mind, aku yang pegang kendali, bukan kamu yah mind/nafsu”

Jadi nanti kalau di kemudian hari ada kejadian, yang menggoda nafsu atau mind bilang itu bakal menyenangkan banget…”aku” nya udah terlatih
Apakah ini cukup atau berlebihan?
Apakah ini bakal membawa kebaikan atau malah kehancuran?

Bagi mind yang gak terlatih, dia tahu apa yg dipilih bakal bawa kehancuran.
Tetapi karena yang mengendalikan itu “mind/nafsu” maka tetep akan dia ambil.
“Aku” nya di sini kalah sama “mind/nafsu”

Jadi wajar banget klo badan u lebih lemah waktu puasa, daripada saat engga puasa.
Tetapi di situ “aku” akan lebih kuat dari “mind/nafsu”

Lebih keren lagi…kalau u bilang…
“Oke… badan lemes dan ngantuk… I understand that…
Tapi “aku” adalah yang berkuasa di sini.
Dan “aku” mau, walaupun badan lemah/lemes/ngantuk, harus tetep bekerja, harus tetep optimal yah!
Ga boleh ngikutin “mind/nafsu” yang nyuruh tidur berlebihan atau excuse macam2, oke!”

Pada saat itu “aku” akan semakin memperkuat posisinya over “mind/nafsu” yg nyuruh istirahat.

Jadi ini adalah latihan… agar “aku” bisa command badan/mind/nafsu di kondisi apapun.
Mau lemah, mau berenergi…
Mau ada godaan, mau gak ada godaan…
“Aku” yang in charge, bukan kondisi badan/mind/nafsu

Nanti pelan2 badan akan ngikutin…
Karena tahu “Aku” ini adalah master nya…
Dia tahu dia engga bisa ngikutin arahannya “mind/nafsu” buat leha2 karena kondisi lemah.
Jadi nanti pelan2 badan akan menyesuaikan.

Gw pelajarin…semua orang hebat, punya kontrol diri yang kuat.
Entah itu dari pada saat mereka hidup, atau dari kehidupan keluarganya.
Muhammad, Jesus, Gandhi, Buddha, dll.
Bahkan Hitler sekalipun belajar occultism yang punya praktek2 latihan untuk mengendalikan mind/nafsu.
Puasa, Meditasi, Sholat, dll adalah cara2 untuk mengendalikannya.

It won’t be easy, but it’s worth the effort ?

Allah menilai proses, bukan hasil – 90 days tahajud challenge day #29

#29 bit.ly/90tahajud

Assalamualaikum my brother and sister…

Kemarin kembali diingatkan oleh guru ane…

Bahwa manusia seringkali menilai secara hasil…

Ketika kita menulis cv, kita menulis hasil dari pencapaian2 kita.

Menyelesaikan project A

Mendapatkan prestasi B

Meraih IPK 4.00

Tidak pernah menulis prosesnya…

Begadang semaleman untuk bisa lulus di ujian…

Harus bekerja keras memutar otak agar bisa meraih X

Pun ketika ditulis prosesnya, maka hasil akhirnya yang akan dinilai.

Tetapi Allah… menilai proses… menilai usahanya…

Meraih IPK 4.0 ,tetapi di dapat dengan santai2… bisa jadi dinilai lebih sedikit daripada yang meraih IPK 2.0 tetapi belajar habis2an…

Begitupun dalam ibadah…

Orang A yang mempunyai hafalan 100 ayat, bisa jadi mendapat timbangan yang lebih sedikit dari orang B yang hafal 10 ayat. Karena si A tidak membutuhkan usaha yang besar untuk bisa hafal 100, sedangkan si B harus bolak balik membutuhkan waktu lama, karena usia, karena kesibukan, namun terus berusaha agar bisa mencapai 10.

Orang A yang sudah tahajud 30 malam berturut2, bisa jadi mendapat timbangan lebih sedikit daripada orang yang baru berhasil tahajud B 1 kali.

Karena mungkin orang A tidak membutuhkan usaha yang lebih besar karena sudah terbiasa sebelumnya, sedangkan orang B harus memaksa diri keluar dari comfort zone dan mengalami kekecewaan pagi berulang kali karena gagal bangun terus menerus untuk bisa berhasil 1 kali.

Jadi… yuk kita sama2 mengusahakan… untuk terus menjadi lebih baik dari sebelumnya…

Karena ketika ada perasaan berpuas diri, sudah merasa lebih baik, bisa jadi itu adalah bisikan syetan agar kita tidak menambah usaha kita… agar kita tidak push ourself keluar wilayah nyaman ibadah kita…

Karena belum tentu pencapaian kita, akan dinilai oleh Allah lebih baik daripada pencapaian orang lain yang kelihatannya di bawah kita.

Kita tidak melihat usaha dari orang tersebut. Hanya Allah lah yang tahu usaha dari masing2 individu…

Bisa jadi… orang itu usahanya lebih besar untuk mencapai itu.

We need to pursuit exellence, but what count’s in Allah eyes is the effort we put in that pursuit…

Bismillah…

Cara melatih Being

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Salam hormat buat para suhu dan temen2 seperjuangan ???

Mohon izin untuk mereshare materi daging dari my good friend Adhe Alfan Nafi.

Dia adalah Kadiv Epik (edukasi dan pengembangan ilmu serta kapasitas) TDA Jaksel.

Sedikit perkenalan, dia adalah lulusan STAN yang sudah punya pekerjaan yang nyaman namun “nekat” untuk resign dan memulai bisnis.

Sempat mendapatkan pertentangan dari orang tua, tetapi setelah sama2 meminta petunjuk dari Allah maka dimantapkan untuk memilih jalan bisnis.

Awalnya berbisnis adsense… sempat punya team untuk mengeruk dollar, namun kemudian omsetnya turun. Tidak menyerah, dia kemudian beralih mengembangkan bisnis olshop peralatan bayi AdoraBabyShop.com sampai dengan sekarang.

Saat ini fokus mengembangkan produk brand sendiri bernama LactaTea.com Asi Booster. Omset dari sini…saya nggak bisa bilang…tp yang pasti bikin ????

Saya mengenal dia sebagai pribadi pembelajar. Dari dia saya banyak belajar bagaimana mengimplementasikan spiritual speed reading, mindmap, 4dx dan ilmu2 lain yang bermanfaat buat bisnis dan kehidupan.

Nah kali ini saya ingin mensharingkan tulisan dia tentang “being”

Being adalah elemen penting yang menentukan bagaimana orang bertindak.

Sebuah pedang tajam yang diayunkan dengan being asal2an akan mempunyai dampak berbeda dengan pedang tumpul yang diayunkan dengan being seorang master.

Ini juga jadi salah satu jawaban, mengapa sebuah teknik ampuh tidak bisa jalan oleh sebagian besar orang, tetapi sukses dijalankan oleh segelintir orang.

Tekniknya sama, being nya yang berbeda.

Because it’s not about the gun, it’s about the man behind the gun.

Jadi jika bertemu orang yang sering berganti2 teknik, berganti2 bisnis, berganti2 metode namun belum membuahkan hasil yg diinginkan… siapa tahu yang salah bukan teknik/metode/bisnis nya tetapi bisa dicek bagian being nya.

Pertanyaannya bagaimana melatih being kita, sehingga bisa jadi powerful?

Di bawah akan saya share tulisan Adhe Alfan Nafi tentang “Cara melatih being”

Jika ada yang mau ditanyakan, nanti bisa via facebook nya: https://www.facebook.com/adhealfannafi
atau bisa juga lewat ane, nanti ane bantu confirm ke dia.

*Terselenggara berkat kolaborasi Epik TDA Bandung & Jaksel
*Pesan sponsor… jangan lupa tahajudnya… 🙂

—————

Awan Rimbawan:
Bismillahirrahmanirrahim…

Cara ngelatih BEING
by Adhe Alfan Nafi

Betapa pentingnya memiliki Being yang terbaik. Bahwa jika beingnya bagus, maka hidupnya juga akan bagus. Bukan cuma tentang usaha, atau pribadi, atau keluarga saja. Tapi Being ini mempengaruhi semua aspek dalam hidup kita. SEKALI LAGI, SEMUA ASPEK DALAM HIDUP KITA.

Bahkan setelah mati pun, Being kita bakal terus ada efeknya (legacy kita ke anak cucu, masyarakat n bangsa, dan bahkan juga hisab kita nanti di akhirat)

Nah, sekarang kita bakal belajar gimana sih cara latihan Being?

Being manusia aku bagi jadi 3 bagian: tubuh, pikiran, emosi.
3 hal ini yang menurutku membedakan tingkat efektivitas tiap manusia.
Physically + intellectually + emotionally.

Nah, 3 hal itu lah yg kita latih tiap hari supaya terus meningkat.
Spiritual aku masukin ke emosional + intelektual…

Tubuh dilatih dengan cara olahraga (bermacam macam jenis olahraga), martial arts, puasa, makan makanan sehat, meditasi, polyphasic (efisiensi tidur), dansa, yoga, dll.

Pikiran dilatih dengan cara belajar skill baru (hard skill, soft skill), meditasi (meditasi menurutku lebih ke latihan pikiran drpd latihan tubuh), visualisasi, membaca buku, bekerja keras, tahfidz Qur’an, dll.

Ikut KMB dengan baik, juga bentuk latihan pikiran… Latihan bikin plan yg baik, strategi yg baik…

Emosi / hati dilatih dengan mengokohkan sifat sifat baik, menghilangkan sifat sifat buruk (biasanya kecanduan. Kecanduan makan, kecanduan main hape, kecanduan sosmed, kecanduan lawan jenis, dll), dan dengan ibadah.

Misal: latihan disiplin waktu, latihan tanggung jawab, latihan volunteer (jadi pengurus tda Jaksel?), Latihan manajemen waktu, latihan positive thinking, latihan sholat tahajud setiap hari, latihan sholat tepat waktu n berjama’ah, latihan sedekah setiap hari, dll.
Banyak hal yg bisa dilakukan tuk melatih Being kita.
N setiap kita melatih salah satu dari 3 aspek itu, sebetulnya kita juga melatih aspek yg lain.

Coz satu sama lain saling mendukung n saling mempengaruhi.

Kalau teman teman latihan tubuh, maka pikiran/otak bakal jadi lebih encer/cerdas, n emosi bakal lebih tenang n happy…
dan begitu juga sebaliknya dengan latihan pikiran n emosi… akan mempengaruhi aspek Being lainnya…

Ini based on experience ku… jadi cara ku blm tentu works buat teman teman semua. Yang perlu dipelajari disini adalah prinsip prinsipnya saja… ambil yang baik n kira kira berguna.

Aku akan list satu demi satu pokok ide yg ku pikir ngaruh ke cara melatih Being supaya konsisten.

The past does not equal the future.
Keyakinan keyakinan yang tidak memberdayakan dari masa lalu, ganti dengan keyakinan keyakinan yang memberdayakan. Kalau anda dulu gagal, belum tentu di masa depan bakal gagal juga. Asal terus mencoba yakin pasti bakal dapet apa yg di inginkan.

Mulai dari target kecil dulu.
Yang penting konsisten. Ingat cerita tentang cara teman latihan polyphasic? Dimana dia ngurangin tidur dimulai dari 5 menit dulu sampai terbiasa, lanjut ke 15 menit sampai terbiasa, lanjut ke 30 menit sampai terbiasa, sampai akhirnya bisa ngurangin tidur 2 jam dalam sehari. Sama seperti cerita itu, ketika teman teman ingin latihan Being, mulai dari target kecil aja dulu. Biasakan selama seminggu dulu, baru kemudian naikkan dosisnya sedikit lagi. Begitu seterusnya.

Yang penting konsisten.
Kita ingin membentuk kebiasaan baru. Skill baru. Maka konsistensi itu penting. Sedikit sedikit asal konsisten, lama lama menjadi besar n kuat kebiasaannya… daripada karena saking semangatnya langsung kejar target besar, namun cuman bertahan selama beberapa hari saja n ga lanjut lagi, coz kitanya ga kuat, kitanya belum terbiasa.

Ajak bareng bareng teman tuk latihan bersama-sama.
Or ikut ke sebuah komunitas baru. Kalau dijalankan bareng pasti jadi lebih ringan. Sekarang sudah lebih mudah mencari teman tuk latihan sesuatu. Asal kita mau mencari, besar kemungkinan ada yg bersedia. Komunitas komunitas juga sekarang banyak tersedia… tinggal kita usaha mencarinya saja…

Dgn latihan bareng bareng bisa saling menguatkan, bisa tanya tanya misal ada problem, n bisa dapet jalan pintas coz belajar langsung dari orang yg sdh menguasai duluan. Ada banyak banget manfaat latihan bareng bareng dibanding latihan sendiri.

Buat papan skor.
Ini tips yg working banget di hidup saya. Dengan menggunakan papan skor, saya bisa lsg tahu progress saya sampai mana. Pikiran jadi lebih jelas berapa saya sudah menang n kalah. Apa yg saya harus lakukan tuk mencapai target. Juga berguna tuk bangun n menjaga momentum. Dengan adanya papan skor yg saya update setiap hari, saya terus menjaga momentum n semangat tuk terus latihan memperbaiki diri. (Laporan keuangan bisnis kita juga sebenarnya adalah papan skor bisnis kita)

Kalau jatuh bangun lagi.
Kita pasti bakal ada hari hari dimana kita ga ngerjain latihan, entah karena alasan apapun. Dan itu wajar sekali. Jika latihan diet, mungkin ada sesekali kita kebablasan makan makanan yg dilarang. But, it’s oke. Itu wajar. Yang penting bangun lagi. Lanjut lagi dietnya besok lagi. Jadikan pengalaman jatuh itu jadi pelajaran. Gimana caranya besok besok biar ga jatuh? Bikin system supaya ga jatuh lgi.

Be kind to your self.
Perlakukan diri anda dgn baik hati. Biasanya kalau kita gagal, kita jadi keras sama diri kita. Kita jadi menyesal thd diri kita, or bahkan mengutuk diri sendiri. Kenapa gw dengan bodohnya ngelakuin itu? Kenapa gw ga ngelakuin itu? Kenapa gw malah ngelakuin itu drpd latihan? Dll. Jangan terlalu keras pada diri anda. Sayangi diri anda sendiri. Cukup jadikan pelajaran kejadian tersebut n lanjut lagi besoknya. Kalau anda terlalu keras pada diri anda, yg ada hidup anda bakal ga enjoy. Di nikmati aja proses latihannya.

Baca buku “Growth Mindset” karangan Carol Dweck, PhD (sudah ada terjemahan bahasa Indonesianya).
Buku ini akan mengajarkan kita gimana menjadi tangguh. Gimana supaya kita tumbuh terus dan terus dan terus… buku ini akan mengubah mindset anda n membuat anda siap tuk latihan terus sepanjang hayat.

Pilih latihan yang bakal paling ngefek di hidup anda.
Kalau saya, latihan yang paling ngefek dihidup saya adalah latihan disiplin waktu. Coz waktu adalah hidup itu sendiri. Kalau saya bisa mempergunakan waktu dgn baik, saya bisa mempelajari / latihan skill lainnya dengan cepat.

Latihan lain mungkin bisa latihan rutin belajar, latihan olahraga, latihan keberanian n tanggung jawab, dll… Cari satu latihan yg kalau kita menguasainya, hidup kita berubah bumi n langit…

Belajar dari orang yg sdh menguasai.
Ini prinsip shortcut banget. Belajar dari orang yg sdh menguasai nya bakal jauh lebih cepat daripada trial n error sendiri. Makanya teman teman ikut kmb, coz mencari jalan pintas membangun usaha dari para mentor yg sdh berhasil.

Biasakan belajar langsung dari ahlinya untuk mempercepat proses.
Bayar kalau perlu. Kita bisa cari duit lagi, tapi waktu ga akan pernah bisa kembali lagi…

Baik… cukup segini dl aja tips n triknya… nanti di sambung lagi sharingnya… sedikit sedikit yg penting meresap…

Semoga bermanfaat ???
#withlove #latihanbeing
Adhe Alfan Nafi

Mukernas TDA Bali – History Wakaf ACT

Assalamualaikum brother and sister, para suhu dan rekan2 seperdjoeangan…

Pingin share sedikit oleh2 dari Bali boleh?

Kemarin ane ikut ke acara Mukernas TDA 5.0 mengiringi suhu2 dan pembesar TDA bandung.

Sebenarnya ketika pertama diajak untuk datang di acara ini, ane masih ragu2 buat berangkat.

Soalnya kondisi cashflow belum dianggarkan, trus juga belum tahu itu acara isinya apa dan apa peran ane di sana.
Jangan2 cuman jadi pendengar aja gak mudeng yg di depan ngomong apa.

Tapi salah satu suhu ane pernah ngomong gini… “Fly with eagle, then you will become an eagle”

Ane ngebayangin pastinya di sana gak hanya bakal ketemu “eagle” tapi banyak Garuda2 jumbo size yang pastinya bisa nularin pencerahan kepada newbie cupu seperti ane ini…

Then what I experience in Bali during Mukernas moment…was beyond my wildest imagination…

Yang jadi catatan pertama kali adalah pemaparan dari temen2 Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Ane sudah sering dengar tentang ACT, aksi sosialnya ada di mana2.
Selalu jadi salah satu dari pionir dalam bencana2 yang terjadi di nasional.

Tapi ACT hadir di acara usaha? what’s the correlation?

Apalagi masuknya ada di sesi berkaitan dengan Permadani.
Permadani sendiri adalah sebuah ide permodalan dari TDA yang akan dikucurkan buat pengusaha2 yang membutuhkan dana.
Diatur secara syariah dan tanpa bunga tentunya.

Sumber dana dari Permadani ini adalah dari para anggota yang “kelebihan dana”, dan selain itu tak disangka2… juga dari ACT.

Kok bisa organisasi sosial seperti ACT mengucurkan dana permodalan?

Di awal presentasinya, ACT bercerita tentang history wakaf.
Dan ane sebagai seorang abangan, cuman tahunya wakaf itu ya tanah, atau duit.

Namun di situ diceritakan bahwa ternyata history wakaf pertama kali bukan tanah atau uang, tetapi aset produktif yaitu kebun kurma.
Kebun yang masih produktif, dan terus menerus menghasilkan.
Hasilnya itulah yang digunakan untuk kepentingan umat.

Mengadopsi konsep ini, ACT melakukan hal serupa.
Mereka membuat program bernama wakaf saham.
Kepemilikan perusahaanlah yang diwakafkan.
Sehingga setiap tahun dalam pembagian laba perusahaan, akan ada bagian yang bisa digunakan oleh kegiatan sosial.

ACT dalam hal ini bukanlah sebagai pemilik saham yang diwakafkan, tetapi hanya sebagai wakil(nazhir).
Pemilik sahamnya siapa? Allah.
Saham itu akan jadi harta wakaf yang tidak boleh di jual, diwariskan ataupun dibeli oleh orang lain.
Keren gak sih kalau ada Allah dalam board of commissioner kita.
Ketika kita buntu dalam usaha, kita bisa curhat sama Dia kapanpun dimanapun 😉

Pada presentasi tersebut ACT juga menceritakan sesuatu yang makjleb banget.
Kita kerja banting tulang, kepala pusing mikirin bisnis… percuma kalau anak2 kita engga jadi anak soleh.
Percuma kalau mereka tidak bisa mendoakan kita ketika kita meninggal.
Karena itulah salah satu passive pahala yang sesungguhnya.
Bisnis juga seperti itu, kalau bisnis yang sahamnya diwakafkan bisa terus berjalan… maka sepanjang umur bisnis itu, akan ada pahala kebaikan yang mengalir…

Kebetulan yang presentasi dari ACT adalah seorang pengusaha di bidang property.
Contoh teknisnya seperti ini…
Beliau mencari tanah2 yang kurang produktif.
Misal nilai tanah 50Milyar tp hanya menghasilkan 200jt per tahun.
Karena hanya digunakan sebagai kos2an sederhana.
Sedangkan di kanan kirinya sudah berdiri kantor2 dan apartemen.

Maka di tanah itu bisa dibangunkan sebuah aset usaha berupa gedung perkantoran.
Setelah bangunannya diperbaiki, maka aset tersebut bakal lebih produktif.
Mungkin bisa menghasilkan 5M pertahun.
Nah dari pertambahan keuntungan tersebut pada RUPS bisa dibagi menjadi laba ditahan dan deviden.
Deviden dari saham yang diwakafkan itu yang nantinya dibagikan kepada kegiatan sosial.
Pemilik tanah untung lebih banyak.
Ummat juga diuntungkan.

Konsep inilah yang membuat ACT bisa menyalurkan berbagai bantuan.
Beberapa diantaranya adalah membangun sekolah di tepian negri:

Kapal kemanusiaan ke afrika:

Mengharukan sekali mendengarkan contoh nyata, bagaimana bisnis dan kegiatan kemanusiaan bisa dikolaborasikan.
Untuk seluas2nya kebaikan di dunia…

Lalu di pojok kiri ruang pertemuan, sambil merasakan bulir2 bening yang menetes dari mata, saya teringat Doa nabi sulaiman:

“Ya Tuhanku, ampunilah aku…
serta anugerahkan kepadaku kerajaan yang tidak dipunyai oleh seorang juapun sesudahku,
sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi”
(QS: Shaad 35)

Pertama kali mendengar doa ini terasa aneh… kok seorang nabi besar memintanya fokus ke dunia.

Namun setelah ditelaah lebih jauh… kuncinya ada di bagian awal doa tersebut…
“ampunilah aku”

Nabi Sulaiman tahu… manusia hanya punya sekian tahun saja untuk hidup…
Jika beristighfar tiap hari, hanya sebatas hidup sajalah bisa minta ampun…

Namun jika diberikan kerajaan yang luar biasa…
Maka kerajaan itu bisa menjadi amal jariyah, yang pahalanya tidak putus2 bahkan setelah orang nya meninggal jauhpun.
Semakin besar kerajaan itu, semakin besar potensi dia bisa bertahan lama memberikan passive pahala.

“yang tidak dipunyai oleh seorang juapun sesudahku” mungkin berkaitan dengan talent yang beliau miliki…

Talent nya sebagai orang yang sanggup mengatur dengan baik sumberdaya2 yang melimpah dan mengarahkannya kepada yang paling membutuhkan.
Talent untuk membuat sistem sehingga kerajaannya bukan hanya menghasilkan tetapi juga self sustain tanpa keberadaan dirinya.

Kita di sini dalam sebuah alur kehidupan, tidak pernah tanpa sebab.
Pasti ada maksud Allah, kenapa kita ada di profesi kita sekarang.

Semoga… kita semua, diberikan kemampuan, kebijaksanaan, ketenangan, untuk mengusahakan dan menerima “kerajaan yang luar biasa” untuk kemudian mengatur dan mengarahkannya kepada kebaikan…Amin…amin…amin…

Your brother,
Awan.
Newbie di divisi edukasi TDA bandung
28 July 04:00 Cozy Hotel, Denpasar

Kehilangan Pendengaran – Bisakah Main Musik Lagi ?


….
I don’t live the way I want to
That whole picture never came into view
And I’m tired of getting used to
The Day
So I will try If I would Try
….

Itu adalah penggalan lirik lagu dari seseorang… yang kehilangan pendengarannya umur 18 tahun.

Bagaimana rasanya kehilangan pendengaran?

I don’t know…but I imagine, it must be devastating… and really frustrating…

Di dalam rasa kecewa dan frustrasinya, dia pun meninggalkan dunia musik

Wajar saja, bagaimana bisa bernyanyi atau bermain alat musik jika kamu tidak mendengar?

Bahkan memahami orang lain berbicara saja harus menggunakan indera mata, bahasa isyarat…

Namun cerita tidak berhenti di situ…

Setelah mengatasi rasa frustrasinya dia berusaha bangkit lagi dan belajar untuk merasakan tempo musik lewat getaran lantai, muscle memory dan mempercayai perasaan agar pitch suara yg dihasilkan selaras dengan musik…

Menyerah dan beralasan adalah biasa, namun mencoba berjuang ditengah2 keterbatasan adalah pilihan…

Ladies and Gentleman I present you… 29 years old Mandy Harvey…

https://www.youtube.com/watch?v=ZKSWXzAnVe0

Wejangan dari Gus Dur

Suatu ketika Alissa, anak sulung Gus Dur mendapati adik sulungnya Inay mengecat rambut jadi kuning/merah.

Karena mengetahui bahwa Gus Dur yang saat itu jadi presiden sedang disorot banyak pihak, tentu saja dia memarahi adiknya. Anak kyai kok rambutnya di cat… nggak pantes, jadi bahan omongan orang…begitu mungkin dalam pikiran Alissa.

Selanjutnya, dia bawa adiknya itu kehadapan sang Bapak.

“Ini lho Pak… Inay rambutnya dicat warna kuning/merah… diomongin banyak orang yang lihat”
kira2 begitulah tuturnya kepada Bapak, dengan harapan Bapaknya akan juga memarahi Inay.

Gus Dur lalu bertanya…

“Kamu gimana Inay, sudah siap belum dikomentarin dan diomongin sama orang2 ?”

“Siap Pak, ga papa” – kata Inay

Gus Dur pun menengok kembali ke arah Alissa…
“Lah ini, orang yang melakukannya saja sudah siap dengan segala konsekwensi dari tindakan yang dipilih…kok kamu yang ribut…”

….

Tadi malam saya dengar ini dari penuturan Mbak Alissa dan Mbak Inay di acara Kompas TV – Warisan Gus Dur

Mungkin dialog nya tidak tepat seperti itu, tetapi kira2 begitulah kurang lebihnya.

Sayapun berfikir dan melakukan introspeksi… seringkali saya melihat orang berbuat sesuatu, mencoba menasehati…ttp tidak didengar… lalu saya uring2an sendiri…

Padahal orang yang dinasehati itu tentunya sudah siap dengan segala konsekwensinya…karena dinasehati pun tidak mau berubah… kenapa harus saya yang ribut?

Selain itu… saya juga teringat tentang tindakan saya sendiri… Bahwa apapun yang saya lakukan hari ini, akan ada konsekwensinya di masa depan.

Apa yang saya lakukan, maupun apa yang tidak saya lakukan.

Dulu waktu saya jadi “kebo-kebluk” susah bangun pagi… saya perlu sebuah shock therapy untuk diingatkan kembali apa konsekwensinya…

Konsekwensi bahwa saya memberikan contoh yang tidak baik bagi anak…
Ketika bangun siang, dan kemudian terjaga dengan pikiran yang semrawut…bagaimana konsekwensi di kerjaan saya… kemudian bagaimana dengan tanggung jawab saya untuk mencari nafkah untuk keluarga…
Konsekwensi ketika subuh tidur lagi, apa akibatnya nanti untuk kesehatan saya…
Kesehatan yang juga akan berpengaruh terhadap keluarga yang nanti akan mengurus saya ketika sakit…merepotkan istri…merepotkan anak…
Konsekwensi terhadap apa yang ingin saya capai dalam hidup… apa yang akan terjadi dengan cita2 yang masih ingin saya kejar…
Pastinya sedikit banyak anak saya akan mewarisi mindset dan kebiasaan yang saya lakukan… lalu apa yang akan terjadi dengan masa depan dia?
Siapkah saya dengan segala konsekwensinya?
Punya keinginan banyak…punya cita2 bagus…tp bahkan memulai meningkatkan diri sendiri saja tidak mau…sudah siap dengan konsekwensinya?
Ketika kebiasaan jelek dibangun sehingga sulit diubah, ketika kebiasaan2 baik tidak dimulai…ketika bermalas2an dibiarkan…sudah siapkah menerima konsekwensi ketika umur menginjak kepala 50, tetapi tidak ada karya apapun…sedikit sekali manfaat buat orang2 sekitar?
Siapkah menerima konsekwensi untuk dicontoh oleh anak anak dan keluarga?

Tidak heran Anthony Robbins pernah bercerita bahwa mind akan melahirkan action… action akan melahirkan direction… direction akan membawa ke sebuah destination…

Bukan sebuah kebetulan juga bahwa destination dan destiny punya akar kata yang sama…

Tindakan kecil…sebuah perbaikan…akan bisa membawa seseorang ke tempat yang sama sekali berbeda…kepada takdir yang sangat beda…

Saya teringat sebuah kisah waktu Gus Dur SMP, beliau sudah membaca karya2 Karl Max dan filsafat Plato… Bacaan2 di masa lalu… telah membawanya ke arah yang sangat berbeda dengan rekan2 sebayanya…

Kemudian…jika ada yang mengatakan takdir ada di tangan Tuhan, tentu saja harus dilengkapi bahwa Dia tidak menolong suatu kaum sebelum kaum itu menolong dirinya sendiri…

Hmm…

Saya belum sempurna, juga pastinya tidak akan pernah menjadi sempurna. Tetapi setiap hari, pastinya ada yang bisa saya lakukan untuk bisa lebih baik daripada hari kemarin…

Terima kasih Gus… atas wejangannya…

Pertanyaan Yang Perlu Diajukan Untuk Menjawab Tantangan Hidup

Pagi ini saya beruntung dapat kuliah sebelum Subuh dari seorang guru.

Dia bercerita bahwa hidup tidak akan lepas dari masalah.
Namun cara saya untuk memandang masalah itulah yang akan menentukan kualitas hidup saya.

Cerita darinya membuat saya mengingatkan suatu konsep…
Bahwa saya bisa memandang masalah sebagai sebuah beban, atau memandangnya sebagai sebuah tantangan yang diambil untuk memperbesar kapasitas diri.

Karena ada perbedaan besar dari kata “saya dapat masalah” dengan “saya bersedia menjawab tantangan” tersebut.

Analoginya seperti gambar no: 1

Saya ada di tengah lingkaran.
Garis lingkaran ini adalah batas kemampuan saya.
Apa yang ada di dalam lingkaran adalah semua yang bisa saya lakukan.
Apa yang ada di luar lingkaran adalah apa yang belum bisa saya lakukan.

Masalah/tantangan pastinya adalah hal yang belum bisa saya lakukan.
Maka hal itu pasti ada di luar lingkaran saya.

Nah hidup selalu memunculkan tantangan itu.

Kadang saya menghindarinya, namun biasanya akan muncul di tempat lain.
Dia akan terus menghantam garis batas pada apa yang bisa saya lakukan…
Bum…bum…bum…

Sampai tantangan itu terasa sangat menyakitkan, dan saya memilih untuk menjawab tantangan itu.

Yang terjadi kemudian adalah saya akan berusaha sekuat tenaga mengerahkan kemampuan untuk mengatasinya.
Namun karena apa yang saya tahu tidak mencukupi, maka saya tetap tidak bisa melakukannya.
Jika saya tidak menyerah, maka saya akan mencari sumber2 informasi yang lain… saya akan bertanya kepada banyak orang… saya akan browsing… saya akan ambil kursus… saya akan cari buku… dlsb…
Sampai saya mempunyai kompetensi dan kepercayaan diri untuk bisa mengatasi masalah itu.

Lalu suatu saat…tantangan itu bisa diselesaikan…

Tanpa sadar… lingkaran sayapun membesar…
Kapasitas saya sebagai seorang manusia pun membesar…
Masalah2 dan tantangan2 yang bisa saya selesaikan semakin banyak di banding sebelumnya…
Seperti contoh gambar berikut…

Bagaimana kalau masalahnya tidak selesai2 ?
Saya yakin efeknya akan sama… selama saya terus mencari cara, talk to people, get books, take a course… maka kapasitas saya sebagai seorang manusia juga akan membesar…

Proses ini akan berulang terus dan menerus… karena seorang master berkata…sejatinya… hidup bukanlah berisi rangkaian masalah/beban yang tidak pernah berhenti, namun rangkaian tantangan yang ditujukan untuk berkembang…

Selanjutnya…penting sekali untuk menyadari pertanyaan2 apa yang saya fokuskan dalam menghadapi sebuah tantangan dalam hidup.

Pertanyaan2 yang sering muncul adalah:
– Kenapa saya harus dapet masalah kayak gini sih?
– Ini masalah kok ga selesai2 kenapa ya?
– Nyebelin banget sih, beruntun gini dapet masalahnya!
Jawaban apa yang diberikan oleh pikiran? alasan2 kenapa saya dapat masalah… alasan2 kenapa masalahnya tidak selesai2… alasan2 bahwa saya selalu dapat masalah yang beruntun…

Tentunya respon saya akan berbeda jika ketika pertanyaan2 di atas timbul, saya mengganti fokus saya dengan menciptakan pertanyaan2 baru seperti contoh berikut:
– Bagaimana caranya untuk bisa melewati tantangan ini?
– Siapa yang pernah mengalami hal ini?
– Buku apa yang bisa saya baca agar saya mempunyai pengetahuan yang cukup untuk menjawab tantangan ini?
Jawaban apa yang diberikan oleh pikiran?

Group pertanyaan pertama fokus kepada masalah, group pertanyaan kedua fokus kepada solusi.
Menurut salah satu teori, kalau hidup saya terasa nelangsa dan isinya komplain… besar kemungkinan saya selalu fokus pada masalah, bukan pada solusi.
Sebuah saran bagus, untuk menghabiskan waktu 20% fokus kepada masalah dan 80% fokus kepada solusi.
Bukan sebaliknya.

Anthony Robbin di Personal Power (yang saya dengarkan sambil jemur baju pagi2) membagikan 5 pertanyaan yang memberikan kekuatan kepadanya ketika menghadapi tantangan2 hidup:

1. Apa sisi baik dari adanya kejadian ini? (What’s great about this?)
Ketika pertanyaan ini pertama diajukan, tentu jawaban cepatnya: tidak ada. Bagaimana kalau diganti… “Apa sisi baik yang mungkin bisa timbul dari kejadian ini?”… maka jawabannya bisa muncul.
Misal pasangan saya gak suka olahraga… saya ingin mengajak dia olahraga… sisi positif yang muncul dari kejadian itu adalah… karena kejadian ini, sisi baik yang mungkin akan muncul adalah saya jadi lebih rajin lagi berolah raga dengan mengajak pasangan saya olah raga…
Yang lainnya, saya jadi bisa belajar memotivasi orang lain… kalau saya bisa memotivasi pasangan saya, maka saya akan bisa memotivasi anak saya… kalau saya bisa memotivasi anak saya… maka saya bisa membangun kelg yg sehat… saya juga akan bisa memotivasi teman2 saya… saya akan bisa menjadi manusia yang lebih bermanfaat lagi… dst dst…

2. Apa yang belum sempurna? (What’s not perfect yet ?)
Kalau dicermati…ada asumsi tersembunyi didalam pertanyaan ini…yaitu…bahwa keadaan bisa jadi sempurna…tetapi untuk saat ini…apa yang belum sempurna? Tetapi sebuah pengingat bahwa keadaan bisa loh buat jadi sempurna…maka bisa memandang dengan lebih cerah.

Misal… dari kasus pasangan yang jarang olahraga… yang belum sempurna adalah kami hanya olahraga sebulan sekali, kalau sedang mood saja. Kalau kecapekan kerja sibuk sama ngurus anak ya udah ga kepikiran olahraga.

3. Saya bersedia melakukan apa agar keadaan bisa menjadi seperti yang saya inginkan? (What I’m willing to do to make it the way I want ?)
Pada pertanyaan ini juga ada sebuah asumsi…bahwa saya bersedia melakukan sesuatu untuk membuat keadaan jadi lebih baik…asumsi yg lain adalah…saya bisa membuat keadaan ini jadi lebih baik, kalau saya melakukan sesuatu…

Misal contoh kasus di atas… olahraga enaknya dilakukan pagi2… kalau saat ini saya bangunnya siang, ya saya akan bersedia untuk bangun lebih pagi dari biasanya… pasangan saya juga pastinya tidak mau mengajak saya olahraga kalau saya bangunnya siang… gimana mau ngajak olahraga, kalau sholat subuh saja susah dibangunkan?

4. Apa yang akan saya stop lakukan, agar keadaan bisa menjadi seperti yang saya inginkan? (What I’m no longer want to do in order to make it the way I want? )
Misal: Saya akan berhenti untuk complaint bahwa saya dan pasangan jarang olahraga…kemudian mulai mencari alternatif2 olahraga yang bisa dilakukan.. saya akan berhenti untuk menanyakan pertanyaan2 standar dan mulai menanyakan pertanyaan2 lebih dalam untuk menggali motivasi dia dalam hidup dan jg berolahraga…dlsb

5. How can I do what’s necessary to get this job done…and enjoy the process
Nah ini adalah pertanyaan yang bagus… karena begitu menanyakan hal ini maka otak akan mencari cara2 fun untuk melakukannya.
Misal: olahraga yang digabung dengan game, olahraga dengan menggunakan outfit2 yang lucu/tidak biasa, diskusi gimana nih olahraga yg fun menurut kamu? dlsb…

….

Wah jadi panjang…padahal maunya cuman bikin status biasa aja…

Ya udah… gitu aja deh, daripada nanti tambah panjang lagi hehehe…

Sebagai penutup…saya ucapkan terima kasih kepada guru saya untuk kuliah sebelum subuh hari ini…
Saya yakin, semua yang baik asalnya dari Tuhan… dan bukan kebetulan saya dan Anda di posisi sekarang ini… pertanyaannya sekarang… waktunya mau dihabiskan untuk fokus kepada masalah, atau fokus kepada solusi?

Enjoy your day!
Awan

Mengubah Malas menjadi Sukses – Kisah Pendiri Penerbit Jabal

Perkenalan saya dengan Kang Hendra Setiawan dimulai ketika saya mengikuti sebuah camp wirausaha. Kebetulan waktu itu saya kebagian menginap sekamar dengan beliau. Ketika saya menanyakan apa usahanya? Beliau bilang… pedagang kaki lima, jualan buku…

Saya tidak pernah menyangka bahwa itu adalah awal dari sebuah relationship yg membawa banyak pencerahan dalam hidup saya.

Tentu saja saya tidak begitu saya percaya bahwa Kang Hendra ini betul2 jualan buku di kaki lima. Pelan2 baru ketahuan siapa beliau…

Hendra Setiawan lahir tahun 77, pernah kuliah dobel di UGM jurusan akuntansi dan juga Unsoed manajemen. Pada saat kuliah menurutnya, beliau tergolong mahasiswa yg malas dan tukang tidur. IPK nya di UGM 2,0 dan di Unsoed 2,8. Namun perkenalannya dengan 2 organisasi membentuk perkembangan kepribadiannya.

Organisasi yang pertama adalah masjid. Sewaktu jadi mahasiswa, beliau tinggal di Masjid dan belajar banyak tentang pelayanan. Hal ini dikarenakan banyak orang yang datang ke masjid dan butuh bantuan. Pernah suatu keika ada orang yang mau nyari alamat, dan dibantu muter2 3 hari nyari kos2an. Eh kemudian diketahui bahwa motivasi orang ini pengen mengembalikan dompet dan ingin diberi imbalan. Di Masjid inilah PH belajar tentang membantu dan melayani orang lain secara ikhlas. Organisasi kedua yang berkontribusi di dirinya adalah HMI. Di sana PH belajar tentang kebebasan berpikir. Sampai saat ini masih sering bertemu dengan teman2 HMI dan juga tokoh2 besar yg pernah tergabung di dalamnya.

Karena ketika kuliah beliau menyadari bahwa dirinya adalah orangnya malas, jarang kuliah, dan tukang tidur, maka beliau merasa tidak cocok bekerja sebagai karyawan. Kemudian yang beliau lakukan adalah menciptakan sistem yg cocok dengan gayanya sendiri. Jadi mulailah beliau memulai berdagang. Dagang macem2 apa aja parfum, cendol, alat-alat tulis. Termasuk jualan pulpen di bis pernah beliau lakukan. Tahu kan orang2 yg jualan di bis, pidato dulu di depan dan pulpennya dibagi2kan?

Setelah lulus kuliah beliau mulai merintis usaha penerbitan. Rumus yg selalu dia pegang adalah: cari bisnis yg mensyaratkan dibayar secara cash oleh pembeli, dan jika membayar ke supplier juga cash, sukur2 ke supplier bisa mundur. Beliau berprunsip tidak pernah melakukan piutang, dan membayar secara cash.

Dengan rumus ini, keuangannya selalu sehat dan disukai oleh para supplierkarena selalu membayar dgn cash. Bisnisnya pun membesar sehingga Penerbit Jabal menjadi salah satu penerbit terkemuka untuk Al Quran dan juga buku-buku agama islam. Total Al Quran yang pernah dijual sudah menembus angka 1 juta.

Namun begitu beliau merasa bahwa pencapaian terbesar Jabal bukan di omset atau di penjualan, tetapi perusahaan senantiasa dalam kondisi yg sehat karena selalu membayar dengan cash dan tidak punya piutang.

Beliau menceritakan bahwa saat sekarang ini, cash is the king. Karena dengan adanya cash, maka sebuah perusahaan selalu bisa mempunyai posisi yg lebih menguntungkan dalam menentukan penawaran harga dari supplier. Perusahaan juga pastinya dalam kondisi yang sehat, karena memiliki cash segar untuk membiayai operasionalnya. Bahkan beliau mensharingkan tidak ada perusahaan yang bangkrut karena rugi… yg ada perusahaan bangkrut karena tidak punya cash untuk membiayai operasionalnya. Mungkin sudut pandang pencapaian ini, didapat karena background beliau yg mempelajari akuntansi. Beliau juga pernah mengikuti sertifikasi Islamic Financial Qualification yang diberikan oleh Farouk Abdullah Alwyni, mantan direktur bank muamalat.

Namun begitu perjalanan usaha tidak selalu mulus. Ketika sedang merintis bisnis baru yaitu travel umroh, beliau pernah tertipu sebesar 1,2 Milyar. Tentu saja itu bukan uang yang sedikit dan sempat membuat beliau galau selama 3 bulan. Momen kebangkitannya dimulai saat mengingat lagi apa yang paling membuat semangat dalam hidup saat ini, yaitu keluarga. Bukan hanya keluarga inti (anak/istri) tetapi juga ada anggota keluarga di luar keluarga inti yang mendapatkan manfaat dalam perjuangannya berusaha. Syukur alhamdulillah, kerugian itu tidak berdampak di bisnis penerbitannya. Bahkan kemudian malah bertambah asetnya. Seperti biasa pembelian aset pun dibayar secara cash.

Beliau berkata bahwa nasihat terbaik yg pernah didapat adalah… Differentiate or Die (Berbeda atau mati). Kang Hendra dapatkan itu di buku karangan Jack Trout. Dari situ beliau berpikir bahwa bisnisnya harus ada pembeda. Walaupun secara jujur mengatakan kalau ditanya apa perbedaan Jabal dengan penerbit lain, beliau berkata tidak tahu…tetapi mindset bahwa harus selalu berbeda itu selalu dipakai. Buku lain yang menginspirasi adalah The Road to Mecca, yang menceritakan tentang perjalanan hidup Mohammad Asad. Nilai yang menginspirasi dari buku itu adalah kebebasan untuk bertindak dan melakukan apa yang diinginkan dalam hidup.

Pak Hendra senang sekali menonton film perang dan autobiografi. Bahkan juga… main game tentang perang. Kalau main game perang bisa sampai di tegur istri karena habis isya main sampe subuh.. dan setelah subuh baru tidur. Setelah itu bangun, makan main lagi sampai tamat. Berhenti hanya kalau makan, sholat dan ke kamar mandi. Beliau mengungkapkan bahwa di game dan film perang terdapat strategi2 yang sangat beliau senangi. Nonton film tentang biography juga banyak memberikan pelajaran berharga di hidupnya.

Di akhir pertemuan, saya mengajukan pertanyaan imajiner…

Kalau Anda bangun di dunia yg baru, suasananya seperti bumi. Peradaban nya sama dengan saat ini. Namun Di sana tidak kenal siapa2 cuman ada uang 5jt dan laptop, apa yg mau dilakukan?

Beliau berkata dengan enteng….
– Laptopnya dikasihin ke orang yg membutuhkan.
– 2,5jt nya di infaq kan.
– 2,5jt sisanya dibuat menikmati hidup.

Kenapa bisa begitu? karena menurut beliau tidak ada jaminan besok masih hidup. Tidak ada jaminan besok bangun di dunia yg lain dan dapet laptop dan 5jt lagi. Juga tidak ada jaminan kalau engga ada duit engga bisa makan. Disamping itu tidak ada jaminan punya umur panjang.

Yang pasti adalah… sekarang ada laptop dan uang di tangan. Yang pasti adalah sekarang bisa bersedekah dan menikmati hidup yang diberikan.

Terus kalau ternyata umur masih ada dan duit sudah habis gimana? Yah tinggal kerja atau jualan apa gitu, jawabnya….

Sekali lagi, tidak ada jaminan bahwa kalau tidak ada uang tidak bisa makan…

Pandangan yang menarik, mungkin inilah nilai yang membuat bisnisnya membesar secara sehat. Bersedekah dan menikmati apa yang ada sekarang. Kalau tidak punya dan ada kebutuhan, ya simple saja…berusaha. Tidak heran yayasan yang didirikannya: Pondok Yatim Al Hilal juga berfungsi sebagai saluran kegiatan philantrophynya. Memiliki beberapa pondok yang tersebar di bandung dan juga ratusan anak yatim yang tinggal di dalam pondok dan juga di luar pondok.

Terima kasih atas ilmunya Kang Hendra dalam tiga kata, beliau ini adalah lowprofile, ikhlas dan philantropist. Pastinya akan menginspirasi banyak orang lagi… ???

*Made with love by Awan Rimbawan*

Siapa Yang Menahan Saya ?

Pagi yang cerah akhi/ukhti, brother and sister 🙂

Di pagi yg indah ini saya ingin menanyakan pada diri sendiri…

Siapakah orang yang berani itu?

Apakah orang yang tidak pernah mempunyai rasa takut sama sekali?

Ataukah orang yang juga punya rasa takut… tetapi memilih untuk tetap melakukannya?

Siapakah orang yang rajin itu?

Apakah orang yang tidak punya rasa malas…

Ataukah orang yang juga punya rasa malas… tetapi tetap melakukannya?

Siapakah orang yang yakin itu?

Apakah orang yang tidak punya keraguan sama sekali…

Ataukah orang biasa yang juga punya rasa ragu-ragu, tetapi tetap mengambil keputusan walaupun dia belum tahu hasilnya?

Siapakah orang yang saleh itu?

Apakah orang yang tidak pernah di dekati oleh setan

Ataukah orang yang juga menerima bisikan setan, tetapi memilih untuk tidak mengikutinya?

Kemudian… kalau saya lihat kebelakang ke dalam hidup saya…

Siapakah orang yang beriman itu?

Apakah orang yang selalu bisa melihat apa yang tidak terlihat…

Ataukah orang biasa yang tidak bisa melihat apa yang tidak terlihat, tetapi memilih untuk menghidupkan dan meyakininya?

Berapa banyak saya berkata
“lagi enggak mood”,
“ini gara2 bisikan setan”,
“saya orangnya suka ragu2”
“saya orangnya tidak bisa mengambil keputusan”,
“saya suka malas”
“saya suka menunda2 waktu”
“saya belum yakin”
sebagai pembenaran untuk tidak melakukan?
sebagai pembenaran apa yang saya tahan untuk tidak kerjakan?
sebagai pembenaran untuk tidak mempercayai?
sebagai pembenaran agar saya tidak mencapai apa yang saya ingin capai?

Jadi selama ini…siapa yang menahan saya?
“mood” kah?
“malas” kah?
“setan” kah?
“tidak bisa mengambil keputusan” kah?

….
….

Terima kasih Tuhan… telah diberi satu kesempatan lagi untuk hidup hari ini…
Hari ini…saya berkomitmen untuk mengambil tanggung jawab atas kesempatan yang Engkau berikan…
www.awanrimbawan.com