Built and Scaled DTC Brands from $3/Day → $66K/Month | $1M+ Revenue | Fractional CMO · Performance Marketing · Creative Strategy · 40+ Team Builder | UK Royal Academy Engineering Fellow
10-11 Agustus kemarin saya mengikuti training di PT Kayaba. Sebenarnya saya belum jelas materi trainingnya itu apa. Namun melihat bahwa penyelenggaranya adalah Yayasan Dharma Bakti Astra (YDBA), saya jadi tertarik untuk mengikutinya. Tentu saja dikarenakan nama besar Astra dan juga tokoh2 yang saya kagumi.
Ada beberapa Instruktur dari Pelatihan tersebut, salah satunya bernama Pak Soetardjo. Beliau adalah orang jogja dengan senyum lebar yang ramah.
Instruktur yang lainnya yaitu Pak Mugi Hastomo. Beliau sudah bergabung dengan Astra semenjak 1970an. Masuk sebagai teknisi las kemudian meniti karir sampai level management di divisi training.
Sepanjang pelatihan berlangsung beliau2 ini dengan sabar menjawab pertanyaan2 peserta yang kadang nyeleneh dan out of the topic.
Maklum para pesertanya adalah para pengusaha. Sebagai pengusaha tentu saja bukan hanya ingin mendapatkan materi sesuai dengan topik, tetapi lebih lanjut lagi ingin menggali bagaimana cara Astra bekerja, bagaimana Om William membangun sumber daya manusia di awal Astra, dlsb
Gregory Bateson, seorang ahli biologi dan antropologi pernah berkata: Knowledge at any given moment will be a function of the thresholds of our available means of perception
Terjemahan bebasnya kira-kira adalah, sedalam apa pengetahuan yang kita dapatkan akan sangat tergantung dengan apa yang bisa kita masukkan dalam persepsi kita.
Saya beruntung ketika kemarin ikut training dengan orang-orang yang sangat kritis mengajukan pertanyaan-pertanyaan sepanjang jalannya training.
Ada Bang Dhino dari Kalimantan yang cerdas dan humoris. Ada Mas Arief English dari Pemalang yang jago bahasa inggris dan populer. Mas Abe yang kritis dan tajam dalam mengajukan pertanyaan, dan teman2 lainnya yang nanya hal yg aneh2 tapi bermanfaat 😀
Berkat pertanyaan-pertanyaan dari mereka pemahaman saya menjadi meningkat dibanding jika saya satu group dengan anak2 SMP yang pendiam 😀
Oh ya, materi yang disampaikan kemarin adalah bagaimana Astra membangun nilai2 bagi orang2 yang akan masuk ke dalamnya. Ada training Basic Mentality sehingga orang2 yang masuk ke dalam Astra punya values yang sama dan bisa satu gerak menuju tujuan.
Kemudian disampaikan juga mengenai PDCA atau singkatan dari Plan – Do – Check – Action. Ini adalah langkah2 yang terlihat simple, namun setelah dipaparkan ternyata sangat bermanfaat dalam memperbaiki sistem.
Di hari kedua, dijelaskan tentang filosofi 5R yaitu Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin. Filosofi ini perlu diterapkan agar bisa menghilangkan pemborosan, mencegah bahaya atau meningkatkan keamanan dan kesehatan, dan juga untuk membangun citra yang baik.
Terakhir kami di ajak masuk ke pabrik PT Kayaba yang khusus memproduksi shockbreaker. Sebagian shockbreaker yang di produksi adalah untuk motor. Saya dibuat terkagum-kagum dengan proses yg ada di pabrik ini. Luasnya mungkin ada sekitar 5 hektar. Di dalamnya banyak robot2. Proses yang terukur dan presisi. Jelas label ada di mana-mana. Mengintip sekelumit kecil dari dunia industri yang mengagumkan. Namun kami di sana tidak boleh mengambil dokumentasi. Bahkan sebetulnya pabrik bukan merupakan tempat wisata, namun tempat kerja yang penuh dengan barang dan proses yang harus ditangani dengan hati-hati karena bisa membahayakan. Bayangkan saja ada alat peleburan timah yang di dalamnya bersuhu 740 derajat. Bahkan ketika tour pabrik berlangsung kami selalu diwanti-wanti untuk tidak memasukkan tangan ke dalam saku dan tetap waspada terhadap arahan dari tim leader.
Charlie Munger menikah pada umur 21 tahun. Setelah mengalami kehidupan pernikahan selama 8 tahun, Charlie Munger mengalami perceraian. Pada saat itu umurnya 29 tahun.
Kejadian itu membuat dirinya sangat terpukul secara emosional. Dia kehilangan semuanya. Mantan istrinya mengambil alih rumahnya di Pasadena. Dia harus hidup nomaden di University Club ditemani mobil Pontiac tuanya.
Tidak lama setelah kejadian itu, putranya Teddy terkena Leukimia. Pada tahun 1955 tidak ada asuransi kesehatan dan semua harus dibayar dengan menggunakan uang tabungan yang dimiliki. Saat itu penyakit Leukimia merupakan vonis mati karena dunia kedokteran belum menemukan obatnya.
Setiap hari Charlie pergi ke rumah sakit, hanya bisa memeluk anaknya yang semakin hari semakin memburuk kondisinya, kemudian pulang sambil berurai mata di jalanan.
Kejadian itu berlangsung selama satu tahun sampai akhirnya anaknya meninggal. Dia berkata “Saya tidak bisa membayangkan pengalaman yang lebih menyedihkan dari melihat Anak yang kondisi semakin buruk hari demi hari menuju kematian”
Charlie berumur 31 tahun ketika dia ada di kondisi bangkrut, bercerai dan harus menguburkan anaknya yang meninggal pada umur 9 tahun.
Namun Charlie adalah seorang kutu buku. Dia kerap kali merekomendasikan satu buku bagus dari Viktor E. Frankl berjudul Man’s Search For Meaning. Di buku itu ditulis: “Ketika kita tidak lagi bisa mengubah sebuah situasi, kita ditantang untuk mengubah diri kita sendiri…”
Kesulitan dan tragedi dalam hidup bisa menjebak seseorang mempunyai mental korban. Namun Charlie beranggapan bahwa saat-saat pahit adalah saat yang paling tepat untuk mengubah diri.
Charlie Munger menjadikan momen-momen kesulitan dalam hidupnya sebagai energi untuk berkembang.
Dia membaca banyak buku dan mempelajari berbagai macam disiplin ilmu secara otodidak. Pengetahuannya menjadi sangat dalam dibidang matematika, fisika, psikologi, ekonomi, biologi, kimia, dan bidang-bidang lainnya.
Dia tidak mempunyai ijazah undergraduate(s1) tetapi lulus dengan sangat memuaskan (magna cum laude) dari Harvard Law School.
Walaupun tidak pernah mengambil mata kuliah bisnis, ekonomi maupun finansial dia mempelajarinya secara otodidak dan menjadi orang yang sangat kaya dan dihormati di bidang investasi. Multiple Mental Model adalah cara yang dia gunakan untuk mengidentifikasi perusahaan-perusahaan mana yang akan memberi keuntungan paling besar untuk investasinya. Multiple Mental Model sendiri merupakan hasil penggabungan antara gagasan-gagasan besar di berbagai disiplin ilmu yang dia pelajari (psikologi, fisika, kimia, ekonomi, bisnis, biologi, dll) yang digunakan untuk mengevaluasi keputusan investasinya.
Pada umur 69 tahun, dia masuk ke jajaran 400 besar orang terkaya di dunia.
Nama Charlie Munger mungkin lebih tidak populer dibanding Warren Buffet. Tetapi Warren Buffet mengakui bahwa Berkshire Hathaway – perusahaan yang dibesarkannya bersama Charlie – bisa menjadi sebesar ini karena sumbangsih pikiran Charlie.
Setelah bertemu dengan Nancy Barry, dia menikah lagi dan menjalani kehidupan yang bahagia ditemani dengan 8 anak. Bersama istrinya dia menjadi philantropist yang banyak menyumbang ke organisasi sosial dan universitas.
Mengutip kata-katanya… Kehidupan akan memberikan kejadian yang mengecewakan, menyedihkan, tidak adil. Ada orang yang bisa bangkit dan ada yang tidak. Dan saya berpikir bahwa sikap yang diambil oleh Epictetus sangatlah benar. Dia berkata: setiap kesempatan yang hilang di dalam hidup adalah sebuah peluang untuk merubah perilaku menjadi lebih baik, setiap kesempatan yang hilang adalah peluang untuk belajar sesuatu, dan tugasmu bukanlah mengasihani dirimu dan terus menerus bersedih hati, tetapi menggunakan kejadian yang mengecewakan itu secara konstruktif untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Buat yang saat ini sedang mengalami kesedihan, jangan pedulikan kejadiannya. Tetapi gunakanlah energi tersebut sebagai bahan bakar untuk merubah diri menjadi lebih baik. Remember that you don’t have to chase people, you just need to attract them. The only way to attract people is always striving everyday to become respected, productive and valuable person that people want to be around them.
Minggu lalu KMB kelompok Mas Ruli mengadakan pertemuan lagi.
Biasanya kami ketemu santai di foodcourt, tetapi karena saat ini lagi puasa kok kayaknya kurang cocok kalau ketemunya di Foodcourt 😀 Akhirnya dipilihlah ruang training tempatnya Ibu Mega di Commtech MTC.
Pada KMB pertemuan kedua Mas Ruli membahas tentang nilai-nilai dalam organisasi.
Organisasi punya akar kata yang sama dengan organisme. Organisme sendiri terdiri dari kumpulan sel-sel. Cara sebuah sel memperbanyak adalah dengan membelah diri. Dari satu sel menjadi dua, dari dua menjadi empat, dari empat menjadi delapan, dan seterusnya. Sehingga akhirnya akan bisa menjadi organisme yang lebih besar dan kuat. Contohnya tangan yang kecil menjadi besar dan kuat, bayi menjadi orang dewasa.
Begitupun dengan organisasi bisnis. Untuk bisa berkembang menjadi lebih besar, kuat, dan mampu melayani lebih banyak pelanggan diperlukan adanya mekanisme pembelahan atau peng-copy-an. Yang di belah atau dicopy adalah nilai-nilainya. Organisasi yang berkembang dengan didukung oleh nilai-nilai yang sama, walaupun orang-orang di dalam organisasi tersebut mempunyai fungsi yang berbeda-beda namun tetap bisa menjadi satu kesatuan.
Mas Ruli mencontohkan di bisnisnya Catering Resep Bunda mengalami perubahan yang besar setelah mempunyai nilai-nilai perusahaan. Imbasnya yang paling terasa adalah lebih mudah untuk mengambil keputusan besar seperti rekruitmen, mengakhiri masa kontrak, pembelian aset, ataupun mengatakan tidak pada peluang-peluang yang membuat fokus terpecah.
Beliau juga menceritakan tentang sebuah perusahaan bernama Zappos. Awalnya perusahaan ini hanya menjual sepatu secara online dengan sistem dropship.
CEO Zappos bernama Tony Hsieh. Sebelum bergabung bersama Zappos dia telah mengembangkan perusahaan dari 2 orang menjadi 200 orang. Namun pada satu titik dia merasa bahwa kantornya tidak lagi menjadi tempat yang menyenangkan untuk bekerja. Padahal isinya adalah orang-orang yang sangat kompeten secara skill. Di pagi hari, dia harus memaksa dirinya sendiri untuk berangkat ke kantor.
Dia merasa aneh. Karena jika sebagai founder saja dia enggan ke kantor apalagi orang2 yang bekerja di dalamnya? Akhirnya perusahaan tersebut dia jual.
Karena tidak ingin mengulangi kesalahan seperti di perusahaan sebelumnya, ketika membangun Zappos dia ingin melakukan yang berbeda. Dia memfokuskan pada pembentukan nilai-nilai dan budaya perusahaan sejak organisasi masih kecil. Karena dia telah mengalami bahwa jika organisasi sudah besar akan lebih sulit dalam menanamkan nilai-nilai dan membangun company culture.
Dia memproyeksikan agar Zappos menjadi yang terbaik di bidang customer service dan customer experience. Hal ini kemudian diterjemahkan menjadi 10 core values:
– Deliver WOW Through Service
– Embrace and Drive Change
– Create Fun and a Little Weirdness
– Be Adventurous, Creative, and Open-Minded
– Pursue Growth and Learning
– Build Open and Honest Relationships with Communication
– Build a Positive Team and Family Spirit
– Do More with Less
– Be Passionate and Determined
– Be Humble
Dengan nilai-nilai ini menjadi pedoman maka keseluruhan proses dalam perusahaan mengacu pada nilai-nilai ini.
Misalnya customer service di zappos bertujuan memberikan pelayanan dan pengalaman terbaik, maka mereka menggunakan nomor telpon toll free sehingga pelanggan bisa menelpon secara gratis. Pelanggan bebas untuk menelpon berlama-lama dan meminta masukan / berkonsultasi dengan customer service. Bahkan rekor terlama seorang pelanggan menelpon adalah 8 jam.
Jika di Zappos tidak ada item yang diinginkan pelanggan maka customer service akan mencarikan dan menunjukkan di tempat lain walaupun itu adalah competitor Zappos.
Zappos memberikan free shipping, bahkan free return shipping. Ada pelanggan yang pesan 10 sepatu untuk dicoba di rumah dan kemudian dia mengembalikan 9 sepatu, tidak menjadi masalah di Zappos. Return ini berlaku 365 hari. Jadi beli hari ini, pakai dulu dan tahun depan dibalikin pun bisa di Zappos 😀
Ada cerita seorang pelanggan yang memesan sepatu untuk ibunya. Namun setelah memesan ternyata ibunya meninggal secara mendadak. Selang beberapa waktu pelanggan ini mau melakukan return karena sepatu itu tidak ada yang memakai. Zappos tidak hanya memberikan return tetapi customer servicenya secara diam-diam mengirimkan karangan bunga duka cita ke rumah pelanggan tersebut.
Ini adalah efek tertanamnya nilai Deliver WOW Through Service di karyawan Zappos.
Untuk bisa mendapatkan karyawan yang berfokus pada pelayanan pelanggan, pada saat rekruitmen Zappos tidak hanya menitik beratkan pada skill yang dimiliki tetapi mempertimbangkan apakah orang ini akan sejalan dengan nilai-nilai perusahaan atau tidak. Jika tidak maka orang itu tidak akan diterima bekerja di Zappos. Bahkan untuk posisi customer service, setelah seminggu training Zappos menawarkan $3000 untuk keluar. $3000 adalah setara satu bulan gaji. Hal ini ditujukan untuk mengeliminasi orang-orang yang hanya ingin mengejar uangnya saja.
Untuk jangka pendek hal-hal diatas sepertinya hanya buang-buang uang saja. Namun ini membuat pelanggan balik lagi untuk berbelanja di Zappos. Bahkan 75% dari penjualan Zappos berasal dari pelanggan lama.
Saya sempat kepikiran dari budget mana mereka mengambil biaya untuk free shipping, free return shipping, tagihan toll free agar pelanggan bisa nelpon gratis dll. Ternyata biaya-biaya itu dianggap Zappos sebagai biaya marketing. Karena hal-hal seperti itulah yang menarik pelanggan dan mengakibatkan pelanggan membeli berulang-ulang dari mereka. Life Time Value yang panjang untuk setiap pelanggan yang digaet.
Apakah strategi ini berhasil? Pada akhirnya kita bisa lihat pada catatan penjualan mereka dari tahun ke tahun:
Pada tahun 2009 Zappos dibeli oleh Amazon sebesar $1.2 billion. Tentu saja dengan catatan dari Tony Hsieh bahwa Amazon akan membiarkan Zappos independen dengan nilai-nilai dan company culture yang tetap terjaga.
Sebelumnya saya menganggap nilai-nilai perusahaan untuk ukm tidaklah penting. Yang penting sales dan omzet. Namun KMB kemarin mengubah pandangan saya.
Mas Ruli juga men-share bahwa untuk UKM nilai-nilai perusahaan adalah perpanjangan dari nilai-nilai ownernya. Masih ingat tentang konsep Be Do Have yang di share di KMB pertemuan pertama? “Be” dari ownernya bisa diperpanjang menjadi nilai-nilai perusahaan.
Tentu saja menemukan nilai-nilai ini bukanlah proses sekali jadi. Zappos awalnya muncul dengan 37 nilai-nilai perusahaan. Mas Ruli membutuhkan 6 bulan untuk muncul dengan nilai-nilai perusahaannya yang disingkat “J.I.M.A.T”. Jadi ini adalah proses berulang yang membutuhkan evaluasi secara berkala.
Namun seperti orang bijak pernah berkata “It’s easier to edit something that is written, than thin air”. Lebih mudah untuk mengubah sesuatu yang sudah ditulis daripada yang masih di awang-awang.
Tanggal 16-17 Juni yang lalu saya mengikuti Kubik Leadership Training di Ritz Carlton Jakarta.
Temen-temen TDA pasti tidak asing dengan nama Kubik karena founder2nya yaitu Pak Jamil Azzaini, Pak Indrawan Nugroho dan Pak Farid Poniman sangat sering berbagi di acara-acara TDA.
Di awal acara Kubik Leadership Training, kami dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil. Fasilitator group kami adalah Kang Harry seorang pebisnis EO yang gagah dan komunikatif 🙂
Kebetulan sekali saya sekelompok dengan Coach Fahmi. Beliau ini adalah salah satu guru yang masuk ke daftar sowan saya.
Adalah Kang Faisal MotivaKreatif yang pertama kali menceritakan kepada saya tentang Coach Fahmi.
Lalu waktu acara BED di Sabuga ITB saya baru saja duduk dan menonton Mbak Sally BatikTrusmi, tiba2 ada orang yang duduk di sebelah dan ternyata beliau adalah Coach Fahmi. Sewaktu itu sempat ngobrol2 sebentar mengenai acara Grounded Coaching di Malang yang saya ingin ikuti.
Coach Fahmi ini mempunyai model bisnis yang sangat unik. Berbisnis sejak tahun 1991 (25 thn yg lalu). Beliau fokus untuk membuat sistem. Sehingga bisnisnya bermacam2 bidangnya: Fashion, kuliner, merchandising dll. Selain memegang brand nya sendiri, beliau juga memegang brand2 orang lain seperti Kebab Turki Baba Rafi, Ayam geprek dll…
Coach Fahmi, Awan Rimbawan dan Kang Harry (Fasilitator Group)
Selain Coach Fahmi, saya juga satu kelompok dengan Ustad Adam, seorang pakar Ruqyah yg sering tampil di Trans7.
Juga ada Koh Toni leader di MCI Nanospray, Mbak Kiki yang baru dipilih sebagai pimpinan organisasi Non Profit, Mas Ardan yang punya ratusan Agen tour dan travel, Kang Gingin pencipta produk2 Asuransi Jiwasraya dan juga Mbak Alin ekspert di bidang Project Management sekaligus founder di PT Avenew Indonesia.
Orang-orang yang saya temui di group saya orang2 hebat. Kualitas kepemimpinan beliau2 ini sungguh tidak diragukan lagi melihat organisasi yg dipimpin dan karya2 yang diciptakannya. Namun mengapa mereka masih mau repot2 2 hari mengikuti training leadership?
Jawabannya saya rasa ada dalam kemauan mereka untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Ada satu kalimat yang saya ingat: lautan menjadi tempat menampung air dari berbagai sungai karena dia merendahkan letaknya. Manusia juga bisa menjadi penampung dari ilmu2 kalau kita mau merendahkan hati untuk belajar pada orang lain.
Kelompok 10, Terbaik – Sempurna
Hari pertama ada beberapa materi yang disampaikan oleh Pak Indrawan, Pak Poniman dan Kakek Jamil.
Materi pertama disampaikan oleh Pak Indrawan memberikan pengantar bahwa sekarang dunia ini ada dalam kondisi VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity and Ambiguity).
Alias cepat sekali berubah.
Untuk itu ada perbedaan antara kepemimpinan dan manajerialship.
Kepemimpinan berkaitan dengan:
– menentukan arah
– menyelaraskan orang dengan sifat, skill dan kepentinganyang berbeda2 hingga bisa bekerja sama mencapai arah tersebut
– menghadirkan motivasi dan inspirasi
Sementara manajerialship berkaitan dengan:
– perencanaan dan penganggaran
– pengaturan dan penyusunan karyawan
– kontrol dan problem solving
Di dalam kondisi yang cepat sekali berubah ini manajerialship saja tidak cukup dan harus dilengkapi dengan leadership
Materi kedua disampaikan oleh Pak Farid Poniman. Beliau ini adalah penemu konsep Stifin, yang menjelaskan personality manusia yang berbeda2.
Namun pada kesempatn tersebut beliau tidak membahas konsep Stifin, namun membahas tentang Filosofi kepemimpinan.
Filosofi kepemimpinan yang beliau sampaikan adalah:
1. Mengambil sebanyak mungkin energi untuk memimpin.
2. Menselaraskan energi kepemimpinan agar mestakung
3. Memiliki skema kompetensi yang sederhana.
Materi ketiga disampaikan oleh Kakek Jamil.
Saya sendiri sudah lama sekali tidak melihat Kakek Jamil Azzaini secara langsung.
Seingat saya terakhir itu di Pesta Wirausaha TDA 2008/2009 yang bertempat di gedung BPPT Jakarta.
Ingatan yang terpatri pada waktu itu adalah penampilan teatrikal beliau yang sangat memukau.
Kalau melihat beliau berbicara di panggung, bisa menyihir dengan naik turunnya nada suara dan bahasa tubuh yang luar biasa. Pada Kubik Leadership Training kemarin pun beliau terlihat begitu matang dalam penyampaian materi dan cerita-cerita pendukungnya.
Beberapa catatan yang saya ingat dari pemaparan beliau adalah:
“Jika Anda lelah melakukan kebaikan, maka selalu ingat bahwa lelahnya akan sirna dan kebaikannya akan kekal”
“Jika salah, perbaiki. Jika gagal, ulangi. Jika menyerah maka kalah”
“Ketika naik sepeda di jalan menanjak kita akan merasa kepayahan karena butuh tenaga besar, maka itu tandanya kita akan sampai ditempat yang lebih tinggi. Ketika naik sepeda di jalan menurun, kita akan merasa santai tidak perlu tenaga yang besar.
Jika saat ini kita merasa susah dan payah, ingatlah berarti hidup kita akan menuju tempat yang lebih tinggi.
Namun jika saat ini hidup kita terasa santai maka berhati2lah karena kemungkinan hidup kita sedang menurun.”
“Jangan pernah meludah di sumur tempat minum sendiri. Contohnya adalah menjelek2an perusahaan tempat kita bekerja dan menerima gaji”
Kakek Jamil juga mensharing tentang Prinsip-prinsip kepemimpinan yaitu:
1. Panggilan jiwa untuk membuat orang2 mencapai tujuan.
2. Memimpin tim dimulai dengan arah.
3. Kepemimpinan tim adalah tentang membangun keseimbangan (visi, strategi, dan eksekusi).
Pada hari kedua, sebagian besar kegiatan dipandu oleh Pak Indrawan.
Sesinya kebanyakan group activity dari pagi sampai sore.
Pada kesempatan kali itu diperkenalkan sebuah tool leadership bernama SuksesMulia Team Leadership Compass:
Tool ini mempermudah kita memahami di mana posisi tim/perusahaan kita dalam segi Visi, Strategi dan Eksekusi.
Setelah kita mengetahui di mana posisinya, tool itu akan memberi arah mana untuk bergerak.
Sesi terakhir ditutup oleh Kakek Jamil lagi.
Pada sesi terakhir ini beliau memamparkan bahwa Kepemimpinan di drive oleh sebuah emosi yang muncul dari alasan.
Beliau menceritakan bahwa prinsip2 di atas akan mempunyai daya dorong yang luar biasa jika kita mengetahui untuk siapa kita berbuat (selain tentu saja untuk Tuhan dan anggota tim). Contohnya beliau ingin Kubik bisa punya prestasi yang membanggakan karena pendorongnya adalah ingin mempersembahkan untuk Bapak beliau yang telah berjuang keras sepanjang hidup dan sekarang sedang terbaring sakit.
Penampilan teatrikal beliau, ditambah dengan lampu yang meredup dan background musik yang mendukung kembali mengaduk2 emosi peserta training. Beliau sukses membawa emosional state para peserta untuk selanjutnya berkumpul di group2 kecil dan saling sharing kepada siapa perjuangan menjadi seorang leader dipersembahkan. Ada yang untuk ibu, untuk anak, untuk istri, dll.
Banyak sekali insight yang di dapat selama 2 hari kemarin. Saya juga bertemu dengan pribadi2 yang menakjubkan di sana. Ditambah lagi istri dan saya juga mengikuti tes Stifin untuk bisa lebih memahami tentang karakter masing2.
Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada tim Kubik karena telah menyelenggarakan training ini. Tidak lupa kepada temen-temen TDA bandung yang sudah bergabung belajar bersama di acara ini. Semoga kita semua bisa menjadi pemimpin yang lebih baik menuju peradaban SuksesMulia 🙂
Rombongan TDA Bandung bersama Pak Farid Poniman, Founder Kubik dan Penemu Stifin
Namanya Brata Manggala.
Sejak lulus kuliah lama berkecimpung di bidang NGO (Non Governmental Organization) hingga pernah membawanya sampai ke tanah Papua.
Keuletannya dalam berusaha patut diacungi jempol.
Walaupun pendapatan dari gaji di NGO sudah mencukupi, namun terus mencari peluang untuk bisa berusaha.
Pernah berusaha buka usaha es krim.
Sempat ramai, namun karena trend nya bergeser lalu sepi dan tutup meninggalkan hutang.
Tidak kapok sampai di situ, dia membereskan hutang-hutang yang ada.
Dan kemudian mencoba bangkit usaha lagi.
Kali ini dia mencoba untuk usaha di bidang pendidikan anak dengan bendera Misi Bermain.
Sungguh menarik untuk menyimak bagaimana perjuangan lelaki muda ini.
Untuk bisa dekat dengan anak istri.
“Karena tanggung jawab terbesar pendidikan anak sesungguhnya ada pada orang tuanya” – ujarnya lugas.
Foto di atas ini menampilkan sosok-sosok ulet lainnya.
Ada istri dan anak saya paling kiri, Pak Hendra, Teh Acit dan Teh Fuzi.
Istri saya adalah orang yg ulet karena ditengah2 prioritas mengurus anak (not an easy task) masih mau berusaha untuk berjualan baju anak.
Kemudian ada Pak Hendra yang merupakan pengusaha sukses di bidang percetakan, tour travel dan beberapa usaha lainnya. Di kesempatan waktu itu beliau mensharingkan bagaimana membangun usaha dengan baik. Prinsip yang selalu dipegangnya adalah: cari di mana bisa jual dengan harga tinggi(sukur2 bisa kontan), dan cari di mana bisa beli dengan harga murah (sukur2 pembayaran bisa mundur dulu). Dari beliau saya juga belajar bahwa usaha dan kegiatan sosial bisa berjalan beriringan karena beliau juga punya yayasan sosial dan mengelola panti asuhan di Cililin.
Menarik juga mendengar cerita dari Teh Acit.
Bagaimana beliau bisa memberikan dana yang tidak sedikit kepada orang lain untuk investasi usaha, kemudian kehilangan semua dana itu.
Dari titik itu dia tidak menyerah, untuk mengembalikan dana tersebut(yang sebagian ada dana orang lain yang) beliau mencoba berjualan dengan membuka lapak di gasibu.
Setelah sekian lama membuka lapak dengan segala suka dukanya, kemudian ber-angan2 punya kios di Baltos.
Walaupun harga kios dirasa sangat mahal, tetapi tidak menyerah untuk terus mencari cara.
Akhirnya setelah berbagai cara dicoba, suatu waktu ketemulah jalan memiliki kios dengan harga jauh dibawah pasaran.
Bahkan karena melihat keinginan usaha yang besar pemilik sebelumnya memperbolehkan untuk mencicil dan sekaligus menempati terlebih dahulu walaupun cicilannya belum lunas.
Alhamdulillah saat ini usaha Teh Acit sudah punya 1 kios pribadi utk toko offline, 1 kios utk gudang kecil yg sewa dibaltos, dan 1 gudang besar di Cigadung.
Kerennya lagi Teh Acit dan suaminya saat ini masih menjadi orang kantoran.
Bagaimana bisa jadi kerja kantoran namun usahanya juga berkembang?
Menurut cerita beliau, saya lihat kuncinya ada di delegasi terhadap orang kepercayaan dan bersedia untuk mengorbankan waktu istirahat.
Ketika masa2 merintis jualan di Gasibu suaminya juga rela untuk ngepak2 barang sampai jam 12malam.
Teh Acitnya pulang kerja juga masih harus beresin pembukuan sampai dini hari.
Besoknya pagi2 jam 3 harus bangun nyiap2in segala sesuatu keperluan usaha dan kerja.
Hal-hal seperti itu sudah menjadi santapan biasa apalagi ketika baru punya kios di baltos dan belum ada karyawan.
Selain itu Teh Acit juga berpartner dengan sepupunya (Teh Illa) untuk sama-sama membangun bisnis ini.
Teh Acit fokus buat produksi dan pengadaan barang, Teh Illa fokus buat marketing.
Berkat kerja keras dan keuletan mereka, bisnis baju tidur Rumah Azura saat ini berhasil menangguk omset ratusan juta tiap bulannya.
Kemudian yang paling kanan dari foto di atas adalah Teh Fuzi.
Usahanya di bidang dekorasi rumah.
Waktu melihat Fanspage Zyva Craft di facebook, produknya lucu2 dan keren sekali.
Tidak sangka kreatifitas yang biasanya muncul dari orang jurusan seni ternyata bisa juga muncul dari seorang lulusan teknik industri.
Walaupun suaminya sudah bekerja kantoran dan bisa mencukupi, namun beliau tidak mau berpangku tangan.
Waktunya diisi dengan kegiatan yang produktif, mengurusi usaha yang omsetnya cukup fantastis untuk ukuran ibu rumah tangga.
Ini adalah foto ketika Pak Hendra, Teh Acit dan Teh Fuzi menjadi narasumber di acara Entrepreneurship Radio Talk Sindo Jaya Bandung
Profil selanjutnya adalah Teh Novy dengan produknya yang yummy
Pengusaha kuliner ini sebelumnya sudah belasan tahun bekerja semenjak dia masih SMK.
Meniti karir dari staff sampai akhirnya ke level manajer HRD.
Namun kemudian lebih memilih untuk membuka usaha agar bisa lebih dekat dengan anak.
Beruntung karena pasangan hidup yang dikenalnya dalam waktu singkat, ternyata suka masak.
Suami Teh Novi, Kang Fajar mencoba berbagai resep dan akhirnya muncullah produk pertamanya yaitu Pisang Crispy Royal Dubai.
Yang lebih menarik lagi, Kang Fajar ini selain suka ngulik masak-memasak adalah seorang passionate teacher.
Beliau dengan senyum ramah memperkenalkan diri sebagai seorang Teacherpreneur.
Teaching sebagai penyaluran passion dan juga entrepreneur sebagai jalan untuk penghidupan yg lebih baik.
Perjalanan kedua pasangan ini berbisnis tidak selalu mulus.
Pernah berjualan gerobak di daerah Dipati Ukur dan berurusan dengan preman.
Sampai diusir2 pedagang martabak kaki lima.
Namun begitu buah keuletan dan kegigihan mereka kini mulai terlihat.
Dari channel mobile(available di Go-Food), online dan offline per bulannya bisa mendapatkan omset yang bisa membuat hati tersenyum 🙂
Saat ini kedua pasangan muda ini terus bahu membahu untuk membangun bisnis kulinernya, selain tentu saja memprioritaskan untuk mengasuh dan mendidik anak lelaki bermata indah Dek Raffa.
Mereka adalah orang-orang ulet yang saya temui. Penuh kerja keras dan perjuangan. Terima kasih Allah, telah mempertemukan saya dengan mereka. Perjalanan hidup mereka mewarnai hidup saya dan
Beberapa hari yang lalu, Mbak Yus mengabarkan bahwa beliau bertemu dengan Importer asal Ghana. Importer ini sedang mencari supplier yang ingin memasarkan produk2 ke West Africa. Lebih lanjut lagi, Mbak Yus juga diminta untuk mengkoordinir perjalanan bisnis importer tersebut ke Indonesia untuk bertemu dengan supplier-supplier dan badan Export-Import yang ada di Indonesia.