Jalan-Jalan Ke Kebun Teh

Sudah lama ga touring.

Minggu kemarin akhirnya sempet juga touring bareng sama my partner in crime: icicu ๐Ÿ˜€

Bell’s Palsy Bandung

BellsPalsy_SM

Karena di SMS Ari Sandi, dan juga sulitnya mencari informasi pengobatan di Bell’s Palsy di Bandung, maka saya putuskan menuliskannya di sini.

Jadi ceritanya pada 27 Mei yang lalu saya mendapatkan hadiah ulang tahun yang sangat unik. Pagi-pagi bangun, mata sebelah kiri serasa berat. Saya kira karena kecapekan saja gara2 sehari sebelumnya baru saja pulang dari Jakarta.

Besoknya, kok masih sama. Ketika saya berkaca, terasa aneh karena mata kanan sudah menutup, tapi mata kiri terasa menutup cuman sebelah. Continue reading Bell’s Palsy Bandung

Freedom

For Freelancer, the world is our playground.
We learn to play, and play to learn
We learn by our own choice, play by our own choice
We make choices of our own skill, carrer track and in consequence: our income

We are free to decide…

For us, freedom is above all

Belajar Dari Para Indihe

Ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari freelancer India, Pakistan, Bangladesh.

Yang pertama adalah keberanian (atau ada yg bilang kenekatan).

Sering kali saat saya menginterview mereka, ternyata bahasa inggrisnya ancur2an. Tapi mereka berani banget ngomong. Juga dengan nada bicara yang sangat meyakinkan. Kata2 seperti: “no issues”, “no problem”, “I can satisfy you” sering sekali terucap.

Yang kedua, banyak dari mereka yang kerjanya berkelompok. Pada salah satu kesempatan menginterview mereka untuk job wordpress dengan custom php, yang saya interview berkata: could you please wait a moment, I need to check something. Ternyata microphone dia tidak di mute dan saya bisa mendengar dia diskusi di belakang. Saya test pertanyaan lagi tentang graphic design, dia juga ngobrol lagi di belakang. Jadi saya mengambil kesimpulan walaupun dia apply pekerjaan secara individual, tetapi ngerjainnya keroyokan juga. Mungkin ada yang bagian wordpress, programmer, database, komunikasi ke klien dll.

Kalau temen2, ada ga yang dipelajari dari interaksi dengan freelancer2 dari India Pakistan Bangladesh?

Memperbaiki Diri Lewat Penyakit

Sudah berbulan-bulan kebiasaan tahajud tidak dilakukan.

Ada saja kelewatnya, padahal sudah disetelin beker. Bahkan dua handphone jadi beker tapi tetep ga bisa bangun. Bangun cuman matiin trus tidur lagi.

Bangun paginya kesel karena udah niat tapi kelewatan.

Tapi sudah seminggu ini kebiasaan tahajud itu bisa diaktifkan lagi.

Awalnya karena saya kena Bell’s Palsy, kaget aja tiba2 bangun kok muka miring sebelah.

Ternyata setelah browsing-browsing ada syaraf di belakang telinga yang terganggu.

Sempat dikira stroke, tetapi setelah periksa ke dokter ternyata bukan.

Dari situ Mama menyarankan untuk bangun dini hari, mandi air dingin dengan meniatkan semuanya untuk Allah kemudian dilanjutkan tahajud.

Alhamdulillah sekarang kebiasaannya bisa diaktifkan kembali, dan Bell’s Palsy pun berangsur-angsur hilang.

Sebenarnya ketika disarankan seperti itu otak saya mentrigger seribu alasan.

Pengennya ngomong: wah bell’s palsy itu ada kemungkinan karena dingin, jadi kalau mandi malem nanti takutnya tambah parah, dsb dsb…

Tapi kemudian saya pikir, terima saja dulu… dicoba dulu… baru liat hasilnya…

Mungkin juga Allah ngasih penyakit ini biar ada perbaikan dalam kebiasaanku ๐Ÿ™‚

Pelajaran selanjutnya adalah klo punya keterbatasan, jangan dijadikan alasan. Misal: wah aku kan gampang sakit, jadinya aku ga bisa…

Atau wah aku dasarnya tubuhnya lemah, jadinya…

Justru hal itu bisa kita gunakan untuk memperbaiki diri.

Karena aku tahu sekarang kondisi tubuhku lemah, maka aku harus memperhatikan makan dan lebih disiplin olah raga.

Itu baru mindset yang bisa membantu diri berkembang ๐Ÿ™‚

Craftmanship Mindset

Saya pertama kali mengenal kata-kata ini di buku Robert Greene – Mastery

Kemudian saya selanjutnya di bukuย Cal Newport –ย So Good They Can’t Ignore You: Why Skills Trump Passion in the Quest for Work You Love

Kedua buku itu ikut berkontribusi dalam pemikiran saya, yaitu the love of creating and dealing with difficulties.

Buku Robert Greene banyak menceritakan kisah-kisah tentang orang-orang hebat dan dedikasi yang mereka berikan terhadap skill mereka. Contohnya Charles Darwin, dia menghabiskan puluhan tahun untuk akhirnya bisa menciptakan sebuah teori. Mozart juga seperti itu. Penuturannya menarik karena menceritakan perjalanan dari Apprenticeship hingga Mastery.

Buku Cal Newport mengambil sudut pandang berbeda. Dia memberikan proposisi bahwa “Instead of finding the right job, it’s better to do the job right”.

Kemudian perbedaan antara Passion mindset vs Craftmanship mindset. Passion mindset berfokus pada pertanyaan “Apa yang dunia bisa berikan pada saya?” mungkin kebahagiaan dalam melakukan sesuatu. Sedangkan Craftmanship berfokus pada “Apa yang bisa saya ciptakan untuk dunia?”

Saya teringat sebuah kisah di buku itu tentang Steve Jobs. Masa muda Steve Jobs adalah penuh pencarian. Dia mencoba banyak hal dan akhirnya tertarik kepada spiritual dan pernah berkelana sampai india untuk mencari guru spiritual. Cal berpendapat, jika Steve Jobs mengikuti passionnya mungkin dia adalah seorang tokoh spiritual pada akhir hidupnya. Tetapi pada akhir hidupnya dia menjadi seorang teknolog.

Saya pernah ada dalam situasi yang tidak mengenakkan. Yaitu selalu dalam pertanyaan “Apa passion saya” ? Kedua buku ini ikut berkontribusi dalam mengakhiri kebingungan saya dengan menawarkan mindset baru. Craftmanship Mindset.

ps: one great book leads to another one, after these books I have met other inspiring book from Derek Sivers which featured on Cal books.

Kekenyangan Informasi

Kekenyangan informasi bisa mengakibatkan:

  • kebingungan apa yang mau dilakukan
  • kehabisan waktu tanpa mencapai apa-apa yang produktif

 

Contohnya orang yang ada di facebook hanya untuk menghabiskan waktu berlama-lama ngeliatin status orang.

Yang ada kita jadi reaktif. Kita jadi trigger dan akhirnya ga ada produktifitas apapun.

Bukan berarti ga boleh ngeliatin status orang, tetapi gimana kalau dibatasi porsi nya?

15 menit?

Atau lebih baik, gunakan social media untuk kebutuhan kita:

3 x 15 menit tiap hari untuk membangun hubungan dengan teman-teman yang positif.

Bukannya “ga punya batas waktu dan membiarkan social media mengkonsumsi waktu kita dan membuat kita jadi orang yang reaktif terhadap status, pemberitaan dll”

Saya sendiri masih mencoba menerapkannya.

Biasanya pertanyaan pertama adalah “what do I want?”