Uang Bahagia dan Uang tidak Bahagia

Ketika Ken memegang dompet yang dikembalikan oleh wanita itu, dia berpikir…

Wah beruntung sekali… semua uang yang aku dapatkan selama bertahun-tahun ini adalah dari orang-orang yang bahagia dan penuh rasa syukur.

Dia kemudian berpikir bagaimana dia menerima uang yang dimilikinya.

Dia menerimanya lewat pelayanan. Dia membantu orang lain menjadi sukses, sejahtera dan berdaya.

Dia membantu orang lain mendapatkan perasaan damai, bahagia dan juga syukur.

Dia membayangkan bagaimana orang sudah membayarnya lewat buku-buku dan juga training/seminar/workshop yang dia selenggarakan.

Kemudian dia berpikir tentang buku-bukunya dan bagaimana banyak orang sudah merubah hidup mereka sendiri.

Ada yang berganti pekerjaan, menikah, punya anak bahkan meninggalkan hubungan yang tidak sehat. Dia juga mendengar banyak dari pembaca bukunya yang memulai bisnis. Bahkan ada yang memulai dari nol kemudian menjadi perusahaan terbuka.

Ken merasa dia telah banyak membantu orang. Walaupun alat yang digunakan sebenarnya sudah ada di dalam diri mereka sendiri, untuk bisa menyembuhkan hidup dan hubungan mereka dengan uang.

Kemudian dia berpikir… tentu saja… uang akan menjadi bahagia jika diberikan oleh orang yang bahagia menerima produk/jasa yang kita ciptakan untuk mereka. Uang akan menjadi energi kebahagiaan.

Ken berdiri di sana beberapa detik untuk kemudian menyadari… Banyak sekali emosi yang terkandung di dalam uang yang beredar.

Ada orang yang beranggapan bahwa uang itu hanyalah kertas/logam. Tapi sebenarnya lebih dari itu. Uang membawa berbagai macam emosi di dalamnya.

Seperti saat kita merasa stress mendapatkan berbagai macam tagihan yang tidak ada habisnya, gaji kita yang kecil, ataupun kekurangan tabungan untuk masa depan. Seringkali di kondisi-kondisi seperti itu kita merasa lemah, tidak ada harapan dan suram. Bahkan merasa marah dan iri terhadap orang lain yang punya lebih dibanding kita. Banyak orang yang terjebak di dalam energi negatif ini. Bahkan tidak sedikit yang menganggap uang sebagai sebuah penghalang untuk mendapatkan hidup yang bahagia yang mereka inginkan.

Sangat sedikit dari kita yang bisa melihat potensi bahwa uang bisa membawa kebahagiaan, rasa syukur, suka cita. Terutama ketika kita memberikannya dengan penuh kasih kepada orang lain, yang kemudian akan kembali kepada diri kita dengan energi yang sama.

Begitu banyak uang yang ada di dunia yang menyebarkan kebahagiaan dan cinta kasih. Tapi juga begitu banyak yang menyebarkan kesedihan dan rasa takut.

Bersama-sama kita akan mencoba menjawab pertanyaan berikut:
– Bagaimana saya bisa berhubungan secara sehat dengan uang?
– Apakah saya bisa memiliki uang lebih banyak tanpa berkorban dengan sangat besar?
– Dapatkan saya mendapatkan kedamaian saat saya hidup?
– Apa yang bisa saya lakukan untuk menciptakan kehidupan yang bahagia, sejahtera, penuh dengan tujuan yang mulia?

(bersambung)

(silahkan klik t.me/awansg kalau ingin dikabarin untuk sambungan berikutnya)

Uang sebagai Energi?

Pada suatu saat Ken Honda pengarang buku Happy Money bertemu dengan seoarang wanita di sebuah pesta.

Di sana wanita itu meminta izin kepada Ken untuk melihat isi dompetnya.

Walaupun Ken merasa aneh, tapi dia memberikan dompet nya kepada wanita itu.

Wanita itu kemudian mengambil uang yang ada di dompet Ken kemudian memilahnya satu demi satu.

“ini uang bagus, ini juga bagus, ini juga…”

Lalu wanita itu berkata: Bagus… ternyata uang mu bagus semuanya.

Ken sambil kebingungan berkata, apa yang kamu cari?

Oh aku cuman mengecek apakah uang mu tersenyum atau tidak.

Wanita itu kemudian menjelaskan bahwa uang dapat tersenyum ataupun menangis. Tergantung bagaimana uang itu didapat atau diberikan.

Kalau uang itu diberikan/didapat diiringi dari rasa bersalah, kemarahan, maupun kesedihan maka uang itu akan “menangis”. Sebaliknya jika uang itu diberikan/didapat diiringi dengan rasa cinta kasih, syukur dan kebahagiaan maka uang itu akan tersenyum, bahkan tertawa. Karena uang itu diiringi energi positif dari pemberi/penerimanya.

Ken pun merasa terkejut, uang bisa menangis ataupun tersenyum? Uang berubah jika diberikan energi/perasaan?

Sebenarnya pada saat itu Ken sudah sangat mapan, juga merasa sangat faham dengan keuangan.

Saat umurnya masih 20-an dia sudah menentukan tujuan untuk bahagia dan sejahtera di umur 30. Jadi dia memulai bisnis konsultan dan akuntan nya.

Ketika dia mencapai 29 tahun, dia punya kebebasan untuk tetap di rumah dan mengiringi istrinya untuk mengasuh anak perempuannya yang masih bayi. Itu adalah hari-hari terindah dalam hidupnya. Bukan hanya karena dia bisa menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan anak perempuannya. Tetapi juga saat dia menemukan karir keduanya: membantu jutaan orang lainnya untuk hidup bahagia, sejahtera dengan penuh kedamaian.

Hal itu dimulai ketika dia sedang mengajak main anaknya di taman. Tiba2 ada seorang ibu yang berteriak2 ke anaknya. Ayo ibu harus kerja… ayo pulang. Tapi anaknya terus berkata… tapi kita baru sampai, aku pengen main lagi…

Setelah beberapa lama beradu mulut, ibunya pun menarik paksa anaknya untuk pulang kerumah.

Ken merasa sangat sedih melihat kejadian tersebut. Dia tahu jika ibu itu punya pilihan, pastinya dia lebih memilih untuk bermain bersama anaknya di taman di hari yang cerah itu.

Saat pulang ke rumah Ken menulis sebuah catatan singkat tentang pengalamannya dan apa yang dia ketahui selama bertahun2 mendapatkan uang dan menjadi sejahtera.

Dia pikir dia hanya akan menulis 5 halaman. Tapi ternyata menjadi 26 halaman.

Lalu catatannya dia bagi2kan kepada teman2nya. Dan banyak orang yang meminta lagi. Terus menerus seperti itu sampai seorang penerbit memintanya untuk menulis buku tentang hal itu.

Sejak saat itu Ken Honda telah menerbitkan lebih dari 50 buku yang terjual lebih dari 8 juta cetak di Jepang.

Setelah menulis 50 buku, Ken pikir dia telah mengetahui segalanya tentang uang. Tetapi sejak bertemu dengan wanita di pesta itu, dia mulai berpikir ulang tentang apa yang dia lakukan selama ini.

Dia pun mulai berpikir tentang uang sebagai energi.

Uang sebagai Alat vs Uang sebagai Tujuan

Sebelumnya saya berpikir bahwa tindakan saya adalah untuk mendapatkan uang. Uang adalah tujuan.

Namun kemudian setelah saya mendapatkan uang dan menggunakannya untuk apa yang saya inginkan saya jadi kebingungan sendiri. Karena kesenangan mendapatkan yang saya inginkan itu tidak bertahan lama.
Nantinya saya harus bekerja lagi untuk mendapatkan uang. Lalu uang itu saya pakai untuk hal2 yang menyenangkan. Kesenangannya sebentar juga hilang. Begitu terus berputar-putar seterusnya.

Saya merasa seperti tikus yang lari di tempat. Di dalam sebuah roda yang berputar. Mungkin istilah yang tepat adalah Rat-Race. Tikus yang berlomba-lomba tapi tidak kemana-mana. Di situ2 aja.

Ada kacamata yang lain. Uang adalah alat, bukan tujuan. Kalau alat, berarti perlu dipakai untuk mencapai tujuan tertentu. Karena hanya sebagai alat, maka jangan sampai dijadikan tujuan. Tujuannya lah yang perlu dicapai, alatnya mah bebas. Bahkan tidak harus pakai alat yang ada di pikiran.
Pakai alat yang lain juga bisa, asalkan tujuannya sama dan tercapai.

Misalkan ada orang yang pengen kaya, tujuannya nanti biar bisa santai nongkrong di sawah sambil pakai sarung dan ngerokok. Kalau tujuannya itu, ya ga usah harus kerja keras buat kaya. Sekarang juga bisa 🙂

Ada juga cerita tentang nelayan yang ketemu pengusaha dari kota besar. Ada pengusaha itu jalan2 di siang hari di pantai. Ketemu nelayan yang lagi santai2 juga di pantai.

Terus pengusaha ini bilang… Pak, jam segini sudah selesai?
Iya pak, saya kerja cuman 4 jam. Habis itu santai di pantai, main sama anak2, becanda2 sama istri.

Oh ya, memang kalau 4 jam dapat berapa pak?

Dapat 40 ribu.

Mau tidak pak, saya bantu.. Saya bikinkan proposal, nanti bapak presentasi di depan investor. Terus nanti bapak dapat uang, punya banyak kapal. Nanti bapak bisa dapat 100x lebih banyak dari sekarang.

Buat apa pak?

Biar bapak bisa santai di pantai, main sama anak2, jalan2 sama istri.

Nah sekarang kan saya udah bisa pak? 😀

Jadi penting sekali untuk tahu bahwa uang itu hanya alat, untuk mencapai tujuan. Kalau tidak nanti kebingungan. Alatnya sudah dapat, tujuannya tidak tahu buat apa…

Uang adalah alat. Uang hanya bisa menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan…uang… Selain masalah yg berkaitan dengan uang, ada banyak masalah dalam kehidupan ini… Karena masalah2 itu adalah cara Tuhan agar membuat kehidupan kita berkembang dan tidak monoton.

Money only can solve specific problem: Money Problem
Money problem is just one of many problems that exist in the world.

Uang VS Kesejahteraan

Ada sebuah sudut pandang yang menarik. Yaitu uang tidak sama dengan kesejahteraan.

Uang adalah alat untuk mencatat kesejahteraan yang kita berikan dalam hidup orang lain.

Kesejahteraan itu apa?
– Kenikmatan
– Manfaat
– Perubahan emosi
– Kemudahan
– Penghematan
– Kesehatan
– Naiknya status sosial
– Inovasi

Contoh dalam kenikmatan: Saya bisa masak seafood.
Maka kenikmatan makanan yang saya masak itu akan dicatat oleh uang. Uang itu akan diberikan oleh orang lain sebagai alat pencatat/pengukur kenikmatan masakan saya.

Semakin enak saya memasak, semakin besar uang yang diberikan kepada orang lain kepada saya. Kemudian misalkan saya mengubah warung sea food saya menjadi sebuah restoran. Tempatnya lebih nyaman, parkirannya lebih luas, interior nya instagrammable.

Maka orang-orang yang makan di restoran saya akan merasa gengsi yang tinggi. Bahkan bisa posting di instagram, kemudian mereka merasa status sosial nya naik. Maka semakin banyak pula uang yang diberikan kepada saya dari orang2 yang makan seafood di restauran saya.

Lanjut lagi… Restoran saya selain menyajikan makanan, tempat yang bergengsi juga menyajikan nonton film bersama di layar lebar. Di sana ditayangkan film-film yang menyajikan berbagai emosi. Sedih, Marah, Bahagia, dlsb.

Restoran saya selain menyajikan makanan yang enak, tempat yg bergengsi juga menyediakan tempat bagi orang-orang yang bosan. Agar mereka bisa merasakan berbagai emosi sehingga mereka tidak bosan.

Maka semakin banyak pula uang yang akan masuk kepada saya. Uang hanyalah sebuah pencatatan, bahwa saya bisa meningkatkan kesejahteraan orang lain.

Nah untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain ini butuh skill. Butuh keberanian. Butuh eksperimen. Butuh inovasi. Butuh sistem, dll. Orang-orang yang melakukannya akan mengalami peningkatan pendapatan.

Jadi fokusnya bukan untuk mencari uang. Tetapi mencari cara untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain. Fokus untuk memberi manfaat. Memberikan sesuatu yang berbeda, unik dan berharga.

Jika fokusnya ke sana, maka uang tidak perlu dicari. Uang tidak perlu dikejar2. Nanti malah uang bisa ditarik, bisa diciptakan dari usaha2 meningkatkan kesejahteraan orang lain.

Lalu selanjutnya, uang yang di dapat bukan dibelanjakan sepenuhnya untuk konsumtif. Karena konsumtif akan segera habis. Kesenangannya bersifat sementara. Tetapi akan digunakan untuk usaha meningkatkan kesejahteraan orang lain. Misal dengan membeli buku yg bisa memberikan pengetahuan yg bermanfaat untuk orang lain. Mengikuti training, skill, pelatihan sehingga bisa melakukan sesuatu yg bermanfaat untuk orang lain. Membuat produk atau jasa yang bisa bermanfaat buat orang lain. Fokusnya kepada orang lain, karena nanti orang lain yang akan mengukur. Seberapa besar manfaat yang sudah dia terima. Kemudian mereka memberikan uang kepada kita sebagai cara untuk mengukurnya.

Sebaliknya… ketika saya sedang dalam kondisi kekurangan uang. Itu berarti sebuah indikasi bisa jadi saya kurang memberikan manfaat bagi hidup orang lain.

Nah selanjutnya tidak semua manfaat diberikan nilai yg sama.

Misalkan mencabut rumput itu juga bermanfaat bagi orang lain. Tapi banyak orang yang bisa melakukannya.

Hukum ekonomi berlaku. Jika banyak orang yang bisa melakukannya, maka harga akan turun. Karena akan gampang mencari penggantinya. Tetapi jika kita bisa melakukan sesuatu yang orang lain tidak bisa melakukannya.
Maka kita akan dihargai lebih oleh orang lain.

Bagaimana melakukan sesuatu yang orang lain tidak bisa lakukan? Biasanya adalah dengan menggabungkan beberapa skill secara unik. Misal sebagai CS, punya skill untuk ramah dan empati terhadap customer. Digabungkan dengan skill riset market. Sehingga bisa tahu produk apa yang punya potensi untuk laku.

Contoh lain…mempunyai skill desain, banyak orang yang bisa. Tapi kemudian belajar skill story telling, branding, product creation. Perpaduan skill ini lebih sedikit yg bisa. Sehingga nanti akan lebih banyak manfaat yg diberikan kepada orang lain. Sehingga nanti akan lebih banyak uang yg tertarik kepada dia.

Contoh lain sebagai advertiser. Punya kemampuan sebagai leader, komunikasi, content creation. Ini akan menjadi perpaduan skill yg unik.
Kalau sudah punya skill unik seperti ini, maka uang akan datang. Uang akan tercipta. Uang akan tertarik. Karena uang akan mencatat berapa banyak manfaat yang sudah diberikan kepada orang lain. Seberapa besar kesejahteraan yang sudah dikontribusikan kepada hidup orang lain.
Ini adalah hukum yang berlaku di dunia.

Jadi uang itu efek samping. Efek samping dari kebermanfaatan yang kita berikan kepada orang lain. Kalau kita bisa bermanfaat, pasti orang akan memberikan imbalan. Cara memberikan manfaat salah satunya adalah perlu ilmu. Perlu skill. Untuk bisa mendapatkan ilmu dan skill perlu kemauan dan latihan dari diri kita sendiri. Masing-masing kita diberikan bakat dan ketertarikan. Jika itu diasah maka akan menjadi skill.

Irisan antara Ketertarikan (passion), Skill (keahlian) dan Market(apa yang dihargai oleh orang lain) akan menghasilkan uang mengalir ke dalam hidup kita

Money Mindset Pasangan Muda

Studi Kasus Mindset Langka vs Mindset Berlimpah Pada Pasangan Muda

Saat tulisan ini dibuat, saya menginjak kehidupan pernikahan 10 tahun.
Pada tahun-tahun awal pernikahan banyak sekali dinamika yang terjadi berkaitan dengan uang. Dinamika adalah pilihan kata lain yang lebih halus untuk percekcokan 🙂

Awalnya saya kira, penyebabnya adalah karena kondisi keuangan.
Awalnya saya kira, yang salah adalah kondisi.
Yang salah adalah istri.
Yang salah adalah orang lain.
Yang salah adalah …. kecuali saya.

Sampai pada satu titik saya mereview bahwa saya perlu memperbaiki diri sendiri. Saya perlu mengkaji ulang hubungan saya dengan Tuhan. Saya perlu belajar untuk memiliki mindset yang lebih efektif. Saya perlu belajar meningkatkan diri sendiri. Kalau tidak, pasti kehidupan pernikahan saya akan berantakan.

Karena di luar sana pasti ada yang kondisi keuangannya di bawah kondisi saya. Bagi orang-orang yang kondisi keuangannya di bawah saya, adakah yang lebih bahagia dalam menjalani hidupnya? Pasti ada.

Sebaliknya, di luar sana pasti ada yang kondisi keuangannya lebih baik dari kondisi saya. Bagi orang-orang yang kondisi keuangannya lebih baik dari saya, adakah yang lebih sengsara dalam menjalani hidupnya? Pasti ada.

Jadi ini bukan masalah kondisi. Ini adalah masalah manajemen mindset, pikiran dan hati saya. Ini adalah masalah pemilihan kacamata.

Kondisi ini juga berlaku jika saya kaitkan tentang istri.

Di awal-awal pernikahan saya penuh dengan rasa menyalahkan istri saya. Istri saya yang salah. Tidak bisa berhemat. Tidak bisa mengatur keuangan.

Namun kalau dipikir-pikir lagi…

Di luar sana adakah suami yang istri nya lebih tidak mampu mengatur keuangan dibanding istri saya? Pasti ada.

Bagi suami-suami yang punya istri seperti itu, adakah yang lebih bahagia dalam menjalani kehidupan pernikahannya dibanding saya ? Pasti ada.

Sebaliknya, di luar sana adakah suami istrinya lebih pintar mengatur keuangan dibanding istri saya? Pasti ada.
Bagi suami-suami yang punya istri seperti itu, adakah yang kehidupan rumah tangganya lebih sengsara ? Pasti ada.

Jadi ini bukan tentang istri saya. Ini adalah tentang bagaimana saya memandang istri saya. Bagaimana saya mengatur pikiran, hati dan perasaan berkaitan pandangan saya dengan istri saya.

Maka dari situ saya berusaha untuk mengupgrade diri.

Eh btw, Ini lagi ngomongin apa ya, kok jadinya ngomongin tentang istri ? hehehe… 🙂 Maaf…maaf… kadang suka kecampur2 karena saya berusaha mengingat apa yang terjadi 10 tahun yang lalu.

Nah dalam studi kasus tentang Uang di dalam kehidupan pasangan muda…

Saya mulai belajar bahwa ketika saya menggunakan mindset uang adalah sesuatu yang langka maka saya berubah menjadi orang yang penuh ketegangan. Misalnya istri pengen jajan aja bawaannya tegang. Pikiran berkecamuk, emang ga bisa ngirit ? Emang ga bisa makan di rumah aja ya?

Padahal ya wajar sekali seorang manusia pengen jajan. Apalagi wanita mahluk emosional. Emosi sangat dipengaruhi oleh apa yang dikonsumsi.
Jadi ya wajar saja kalau dia jajan. Laki-laki saja suka cilok ya kan? 😀

Gimana nanti kalau engga cukup?

Nah di sini saya merubah mindset. Kacamata yang saya gunakan adalah: kalau namanya kebutuhan ya pasti nanti akan dicukupi. Selama saya masih ditugaskan untuk menjalani hidup ini, pastinya kebutuhan saya untuk hidup dan menjalankan tugas akan dipenuhi. Di setiap tugas, pasti akan ada fasilitas.

Atau mungkin apa yang saya sangka sebagai kebutuhan, itu cuman keinginan.
Karena kalau benar kebutuhan hidup, maka jika tidak dicukupi maka akan akan berhenti hidupnya 🙂 Sebaliknya jika tidak dicukupi kemudian masih terus hidup, berarti itu bukanlah kebutuhan hidup.

Begitu juga ketika ada kebutuhan2 mendadak yang datang dari orang tua.

Jika mindset yang dipakai adalah uang itu langka dan terbatas maka pikiran2 yg muncul adalah:
– Ini orang tua apa nggak tahu anaknya lagi susah?
– Duh aku udah nabung lama buat beli itu, tapi kok harus dipake buat kebutuhan orang tua…
– Belum lagi kalau ternyata yang butuh adalah mertua… bisa2 nanti marah2 ke istri… orang tua kamu kok gitu???

Tapi ketika saya menaruh kacamata uang adalah langka dan terbatas.
Lalu belajar menggunakan kacamata yang lain: bahwa uang itu berlimpah dan tidak terbatas saya menjadi lebih tenang, lebih damai, lebih cool calm and confident dalam menghadapi tantangan kehidupan 🙂

Kalau orang tua butuh uang, kalau ada ya diberikan. Toh nanti akan ada gantinya datang lagi.

Kalau tidak ada uang gimana? Bisa ngasih yang lain: perhatian, waktu, tenaga, empati, kasih sayang dll. Jadinya bisa memaknai bahwa ada hal-hal lain selain uang yang bisa kita berikan.

Terus kebutuhan rumah tangga gimana?

Mengurus anak dan istri itu tugas dari Allah. Mengurus orang tua itu juga tugas dari Allah. Dalam setiap tugas, pasti ada fasilitas. Kewajiban saya adalah untuk bergerak, belajar, berusaha. Hasil dan fasilitas, ya biar Allah saja yang mencukupi.

Jadinya nanti juga tidak akan ge-er. Kalau mendapatkan hasil, itu bukan semata2 karena saya hebat. Tapi karena Allah memudahkan dengan fasilitas2.

Sebaliknya kalau saya tidak mendapatkan hasil yg ditargetkan juga tidak akan depresi/stress. Karena toh nanti kalau memang itu sebuah kebutuhan maka pasti akan dicukupi.

Mindset uang langka dan terbatas saya rasakan tidak memberikan kehidupan rumah tangga yang saya inginkan. Karena kehidupan yang saya inginkan itu kehidupan yang damai, tenang, kreatif. Bukan kehidupan yang tegang, was-was, saling menyalahkan dan penuh percekcokan.

Mindset Langka dan Mindset Berlimpah tentang Uang

Apa itu Mindset? Mindset bagi saya seperti kacamata.

Fungsi dari kacamata adalah memudahkan kita untuk melihat dunia.
Sehingga kita bisa lebih mudah bergerak menuju tujuan.

Misalnya saja kacamata hitam, cocok dipakai di kondisi terik matahari.
Agar kita tidak silau, sehingga bisa bergerak menuju tujuan dengan lebih nyaman.

Namun kacamata hitam, tidak cocok dipakai di dalam ruangan yang teduh.
Sudah sepantasnya kita copot kacamata hitam tersebut agar kita bisa bergerak dengan lebih mudah di dalam ruangan.

Ada juga kacamata baca.
Gunanya adalah dipakai oleh orang-orang yang matanya rabun dekat.
Sehingga dengan menggunakan kacamata baca, maka orang yang pandangannya kabur ketika melihat tulisan pada jarak dekat menjadi lebih jelas.

Namun kacamata baca tidak cocok dipakai oleh orang dengan mata normal.
Karena kacamata baca itu malah akan membuat pandangannya menjadi kabur.

Jadi kacamata adalah sesuatu yang bisa dipakai dan dilepas sesuai dengan kebutuhan.

Kacamata bukan tentang benar/salah.
Tetapi disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi dan tujuan yang ingin dicapai.

Mindset juga seperti itu.

Kita tidak bicara tentang benar/salah.
Tetapi kita patut mempertanyakan apakah mindset ini cocok dipakai dalam mencapai tujuan saya, atau malah menghalangi?

Setelah menyadari bahwa mindset bisa dicopot/dipasang, maka jika mindset yang sekarang saya pakai akan membantu saya mencapai tujuan maka akan terus saya pakai.

Tapi jika mindset tersebut tidak cocok/menghalangi maka saya akan melepaskannya. Kemudian mengganti dengan mindset lain yang akan mendukung pencapaian tujuan saya.

Bagaimana cara mengganti mindset yang akan membantu kita mencapai tujuan? Nah sebelum kita bisa mengganti mindset, kita perlu menyadari mindset-mindset apa yang kita pakai sekarang.

Mindset/Pertanyaan/Permasalahan Yang Umum Terkait Dengan Uang

Contoh Mindset Yang Umum Dipakai.
– Uang itu susah di dapat.
– Uang itu keluarnya gampang banget.
– Uang itu sesuatu yang terbatas.
– Setelah menikah dan punya anak banyak sekali kebutuhan yg berkaitan dengan uang. Uang tidak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan.

Dari pertanyaan-pertanyaan yang terkait perasaan yang berhubungan dengan uang diantaranya yang umum adalah seperti ini:
– Rasanya uang itu kalau pas lagi banyak hati jadi senang, tapi kalau pas lagi sedikit hati jadi khawatir tegang.
– Gimana ya caranya biar kondisi perasaan bisa stabil dan tidak naik turun tergantung dengan jumlah uang yg dimiliki?
– Bagaimana ya uang ini bisa bertahan lama bareng sama aku? Kok kayaknya baru pegang sebentar saja sudah lepas lagi…
– Gimana caranya agar kita tidak terlalu terikat dengan uang?
– Kenapa uang jadi sumber masalah?
– Kenapa kita dipandang rendah oleh orang-orang di sekeliling kita jika tidak punya uang?
– Bagaimana menyikapi perasaan takut tidak cukup dengan uang yang sekarang ini dimiliki?
– Ketika ngerasa punya uang sedikit lebih banyak dari biasanya maka tidak terlalu peduli dalam membelanjakan atau menyimpannya.
Tetapi saat teringat tentang goal besar yang butuh uang besar, jadi stress sendiri. Bagaimana menyikapinya?
– Bagaimana memanage keuangan jika kita adalah seorang ibu rumah tangga?
– Bagaimana supaya tabungan ga dikorek-korek kalau uang pegangan sudah menipis?

Yuk kita bahas satu persatu terkait dengan mindset-mindset dan pertanyaan2 yang muncul seperti di atas.

Mindset Langka VS Mindset Berlimpah.

Mindset Langka memandang bahwa sesuatu itu:
– terbatas jumlahnya
– harus diperebutkan lewat kompetisi
– kalau hilang maka sulit untuk mendapatkan kembali

Mindset berlimpah memandang bahwa sesuatu itu:
– jumlahnya tidak terbatas
– bisa diciptakan
– jika hilang/habis pasti akan ada penggantinya

Kedua mindset ini sama-sama bisa kita pakai saat kita memandang uang.

Mana yang benar?
Memandang uang sebagai sesuatu yang langka.
Ataukah memandang uang sebagai sesuatu yang berlimpah.

Ingat di awal saya tidak berbicara mengenai benar / salah 🙂

Saya berbicara mindset mana yang efektif dalam hidup yang ingin kita jalani.
Mindset mana yang mendekatkan kepada tujuan.
Mindset mana yang menjauhkan kepada tujuan.
Masing-masing dari kita perlu merasakan dan memilih, sesuai dengan kondisi masing2.

Tiap mindset akan menghasilkan kumpulan perasaan dan tindakan yang berbeda-beda.

Misalnya jika saya memilih mindset uang itu langka:
– karena langka jadi susah di dapat
– karena langka jadi kalau dikeluarkan maka susah untuk didapat lagi
– karena langka jadi uang itu harus diperebutkan dalam sebuah kompetisi

Maka kumpulan perasaan dan tindakan yang dihasilkan adalah sebagai berikut:
– rasa cemas kalau nanti ada kebutuhan mendadak
– rasa khawatir kalau kalah berkompetisi dengan orang lain, mungkin juga muncul dendam
– rasa minder dan iri kalau ada orang yang mempunyai lebih
– cenderung memilih tindakan2 yang cepat, jalan pintas tanpa berpikir efek jangka panjang
– sedih jika ada pengeluaran tiba-tiba
– jika terjadi sesuatu di luar rencana, maka saya akan menyalahkan, menghakimi orang lain di sekitar saya
– pelit, berat untuk bersedekah

Sebaliknya untuk mindset bahwa uang itu berlimpah:
– karena berlimpah jadi uang itu gampang didapat
– karena berlimpah maka jika dikeluarkan maka nanti juga akan mudah didapat lagi
– karena berlimpah maka bisa diciptakan lewat kerjasama dan kreativitas

Maka kumpulan perasaan dan tindakan yang dihasilkan adalah sebagai berikut:
– Memiliki ketenangan dalam berkreasi dan mencipta
– Bebas untuk berkontribusi
– Mudah bersedekah
– Damai dalam menyikapi naik turunnya kondisi keuangan
– Percaya bahwa dalam setiap tugas, pasti ada fasilitas.
Masak udah dikasih tugas sama Tuhan Yang Maha Kaya, masak ga dikasih fasilitas apa2
– Jika terjadi sesuatu di luar rencana anggaran, percaya bahwa jika itu kebutuhan pasti nanti akan dicukupi.
Kemudian fokus ke action-action apa yang bisa dilakukan saat ini.
– Maksimal dalam ikhtiar dan ikhlas terhadap hasilnya.

Mindset saat ga ada uang

Kebanyakan kita pernah mengalaminya.
Kecuali Anda berasal dari orang tua yang kaya raya dan punya harta tidak habis-habis tujuh turunan.

Di saat-saat kita tidak punya uang, dan ada kebutuhan yang harus diselesaikan rasanya sangat menyiksa.
Secara emosional bahkan bisa dirasakan secara fisik: perut serasa diremas-remas. Jantung berdetak kencang. Bahkan hati terasa mengkeret.

Bisa jadi ada transaksi penting yang lepas. Atau project yang tiba-tiba dicancel. Biaya tambahan sehingga profit kita lenyap begitu saja.

Mungkin ada kerusakan yang butuh di servis. Atau mungkin juga seperti banyak orang yang tenggelam di dalam cicilan rumah, mobil, kartu kredit dan berbagai macam hutang lainnya.

Kebanyakan dari kita mengalami masa-masa sulit terkait dengan kekurangan uang.

Tapi saya percaya “bagaimana” cara kita meresponnya lebih penting daripada selesainya masalah itu.

Masa-masa sulit bahkan bisa menjadi coach terbaik yang menunjukkan apa yang sebenarnya kita benar-benar butuhkan. Apa yang benar-benar penting dan prioritas di dalam hidup kita. Bahkan kalau mau memandang jujur, itu adalah masa pertumbuhan yang penting bagi kehidupan kita.

Bagi sebagian orang. Tekanan kebutuhan akan uang seakan tidak ada habisnya.

Ketika single butuh uang buat bersosialisasi dan mencari calon pasangan. Ketika sudah punya pasangan butuh uang buat anak lahiran. Anak-anak semakin bertambah merasa butuh lebih banyak uang lagi. Mereka membesar, juga semakin butuh lebih. Tekanan tersebut terus menerus dirasakan sepanjang hidup.

Seakan-akan ketika kehilangan pekerjaan maka kehidupan akan runtuh. Karena hidup dari gaji yg habis tiap bulan. Bahkan meninggalkan hutang. Satu lagi pertengkaran dengan pasangan maka perceraian tidak akan terhindarkan. Bulan demi bulan seperti menghadapi stress yang semakin menyiksa.

Jika ada yang sedang merasakan ini, percayalah… bagaimanapun kelihatannya… tetapi kondisi ini hanya sementara.

Penambahan penghasilan bukanlah jawaban dari permasalahan ini. Karena jika penghasilan bertambah tetapi mindset tetap sama maka tidak akan ada perubahan. Lebih banyak uang, lebih banyak keinginan, lebih banyak kepemilikan. Karena memiliki lebih banyak, pasti lebih banyak pengeluaran, bahkan bisa2 lebih banyak hutang.

Mindset yang lebih efektif adalah menggunakan waktu ini sebagai periode untuk refleksi diri dan pertumbuhan.

Ambil waktu untuk merenung, bagaimana kita mengeluarkan uang selama ini. Untuk apa? dan apakah benar2 perlu? ataukah ada cara-cara kreatif yang bisa kita lakukan untuk bisa memenuhi kebutuhan tanpa harus mengeluarkan uang itu?

Ambil waktu untuk menghitung, bukan apa yang tidak dimiliki. Tetapi menghitung apa yang dimiliki. Pasti yang dimiliki lebih banyak daripada yang tidak dimiliki. Tetapi jika fokus perhatiannya pada yang tidak dimiliki maka akan membawa kepada kesedihan, iri hati dan amarah.

Sebaliknya jika fokus perhatian pada apa yang dimiliki, maka yang muncul adalah rasa syukur dan penghargaan. Coba lihat apakah masih punya mata untuk melihat? Masih punya hidung untuk mencium? Masih punya kaki untuk berjalan? Masih punya tangan untuk mengambil barang-barang? Jantung masih berdetak bahkan tanpa perlu komando. Coba hitung apa yang dimiliki, pastilah tidak akan bisa karena sangking banyaknya.

Di sana akan muncul rasa syukur, rasa terima kasih, penghargaan terhadap hidup yg diberikan oleh Tuhan.

Fokuskan perhatian kepada pengalaman-pengalaman yang membahagiakan. Kemudian nanti hidup akan menuntun kita kepada hal-hal yang baik.

Di dalam merasa cukup, merasa bahagia, merasa bersyukur maka kita akan bisa berpikir jernih. Untuk melangkah dan memberikan kontribusi bagi orang lain.

Jika kita bisa memberikan kontribusi positif di dalam hidup orang lain maka tidak mungkin tidak, uang rezeki dan kebahagiaan akan mengalir ke dalam hidup kita lagi.

Yuk kita diskusi…
Bagaimana menurut Anda?

Salam,
Awan

Kenapa kita harus belajar mengenai Money Mindset?

Uang adalah salah satu hal yang sangat penting dalam kehidupan kita.
Masalah yang terjadi tentang uang bisa membuat stress, bingung, khawatir, ketakutan.
Apalagi banyak cerita bahwa hubungan keluarga putus gara-gara masalah uang.
Hubungan bisnis jadi pecah gara-gara masalah uang.
Hubungan pertemanan menjadi renggang gara-gara masalah uang.

Sehingga jika kita tidak mempelajari mindset yang bakal mendukung hubungan-hubungan dalam hidup kita berkaitan dengan uang,
maka bisa menimbulkan banyak permasalahan.

Kita perlu mempelajari tentang uang, dan juga pikiran2 yang timbul berkaitan dengan uang.
Sehingga kita bisa memilih pikiran mana yang bermanfaat untuk hidup kita.
Ataupun kita bisa mengidentifikasi pikiran mana yang tidak bermanfaat untuk hidup kita.

Saya sengaja memilih kata manfaat/tidak manfaat.
Bukan benar dan salah.
Karena manfaat dan tidak tergantung tujuan hidup kita seperti apa.

Uang adalah salah satu hal yang sangat penting dalam kehidupan kita.
Masalah yang terjadi tentang uang bisa membuat stress, bingung, khawatir, ketakutan.
Apalagi banyak cerita bahwa hubungan keluarga putus gara-gara masalah uang.
Hubungan bisnis jadi pecah gara-gara masalah uang.
Hubungan pertemanan menjadi renggang gara-gara masalah uang.

Sehingga jika kita tidak mempelajari mindset yang bakal mendukung hubungan-hubungan dalam hidup kita berkaitan dengan uang,
maka bisa menimbulkan banyak permasalahan.

Kita perlu mempelajari tentang uang, dan juga pikiran2 yang timbul berkaitan dengan uang.
Sehingga kita bisa memilih pikiran mana yang bermanfaat untuk hidup kita.
Ataupun kita bisa mengidentifikasi pikiran mana yang tidak bermanfaat untuk hidup kita.

Saya sengaja memilih kata manfaat/tidak manfaat.
Bukan benar dan salah.
Karena manfaat dan tidak tergantung tujuan hidup kita seperti apa.

Pikiran yang bermanfaat berarti mendukung/mendekatkan kepada tujuan dalam kehidupan kita.
Pikiran yang tidak bermanfaat berarti malah membebani/menjauhkan kepada tujuan yang kita inginkan dalam hidup kita.

Tulisan Pertama di Medium

Ini adalah tulisan pertamaku di medium.

Rencananya ingin bisa menulis lagi secara konsisten.

Sekedar menuangkan apa yg ada di dalam pikiranku.

Sekitar 10 tahun yang lalu aku pernah menulis sebuah ebook.

Panduan praktis Odesk untuk pemula.

Isinya bagaimana memulai menjadi freelancer di platform Odesk.

Sekarang Odesk sudah berubah menjadi Upwork.

Di platform Upwork ini orang2 bisa kerja dari jarak jauh. Tidak perlu ngantor. Istilah kerennya Remote Working.

Saat ini remote working juga semakin mewabah bersamaan dengan wabah Covid-19 yang terjadi.

Di Indonesia sendiri wabah Covid19 ini mengakibatkan pengangguran begitu banyak.

Orang2 yang menganggur tersebut tidak ada pemasukan.

Uang tabungan mereka pun semakin menipis.

Oleh karena itu, aku ingin mencoba mencatat apa yg aku pelajari tentang uang.

Sekedar berbagi pengalaman.

Atau bahkan sebagai catatan bahan pelajaranku sendiri tentang uang.

Mudah2an bisa menjadi bermanfaat.

Terutama catatan buat anak cucuku berikutnya.

Agar mereka bisa mempelajari apa yg sebaiknya dilakukan.

Dan apa yg sebaiknya tidak dilakukan.