Money Mindset Pasangan Muda

June 09, 2021
Awan Rimbawan

Studi Kasus Mindset Langka vs Mindset Berlimpah Pada Pasangan Muda

Saat tulisan ini dibuat, saya menginjak kehidupan pernikahan 10 tahun.
Pada tahun-tahun awal pernikahan banyak sekali dinamika yang terjadi berkaitan dengan uang. Dinamika adalah pilihan kata lain yang lebih halus untuk percekcokan 🙂

Awalnya saya kira, penyebabnya adalah karena kondisi keuangan.
Awalnya saya kira, yang salah adalah kondisi.
Yang salah adalah istri.
Yang salah adalah orang lain.
Yang salah adalah …. kecuali saya.

Sampai pada satu titik saya mereview bahwa saya perlu memperbaiki diri sendiri. Saya perlu mengkaji ulang hubungan saya dengan Tuhan. Saya perlu belajar untuk memiliki mindset yang lebih efektif. Saya perlu belajar meningkatkan diri sendiri. Kalau tidak, pasti kehidupan pernikahan saya akan berantakan.

Karena di luar sana pasti ada yang kondisi keuangannya di bawah kondisi saya. Bagi orang-orang yang kondisi keuangannya di bawah saya, adakah yang lebih bahagia dalam menjalani hidupnya? Pasti ada.

Sebaliknya, di luar sana pasti ada yang kondisi keuangannya lebih baik dari kondisi saya. Bagi orang-orang yang kondisi keuangannya lebih baik dari saya, adakah yang lebih sengsara dalam menjalani hidupnya? Pasti ada.

Jadi ini bukan masalah kondisi. Ini adalah masalah manajemen mindset, pikiran dan hati saya. Ini adalah masalah pemilihan kacamata.

Kondisi ini juga berlaku jika saya kaitkan tentang istri.

Di awal-awal pernikahan saya penuh dengan rasa menyalahkan istri saya. Istri saya yang salah. Tidak bisa berhemat. Tidak bisa mengatur keuangan.

Namun kalau dipikir-pikir lagi…

Di luar sana adakah suami yang istri nya lebih tidak mampu mengatur keuangan dibanding istri saya? Pasti ada.

Bagi suami-suami yang punya istri seperti itu, adakah yang lebih bahagia dalam menjalani kehidupan pernikahannya dibanding saya ? Pasti ada.

Sebaliknya, di luar sana adakah suami istrinya lebih pintar mengatur keuangan dibanding istri saya? Pasti ada.
Bagi suami-suami yang punya istri seperti itu, adakah yang kehidupan rumah tangganya lebih sengsara ? Pasti ada.

Jadi ini bukan tentang istri saya. Ini adalah tentang bagaimana saya memandang istri saya. Bagaimana saya mengatur pikiran, hati dan perasaan berkaitan pandangan saya dengan istri saya.

Maka dari situ saya berusaha untuk mengupgrade diri.

Eh btw, Ini lagi ngomongin apa ya, kok jadinya ngomongin tentang istri ? hehehe… 🙂 Maaf…maaf… kadang suka kecampur2 karena saya berusaha mengingat apa yang terjadi 10 tahun yang lalu.

Nah dalam studi kasus tentang Uang di dalam kehidupan pasangan muda…

Saya mulai belajar bahwa ketika saya menggunakan mindset uang adalah sesuatu yang langka maka saya berubah menjadi orang yang penuh ketegangan. Misalnya istri pengen jajan aja bawaannya tegang. Pikiran berkecamuk, emang ga bisa ngirit ? Emang ga bisa makan di rumah aja ya?

Padahal ya wajar sekali seorang manusia pengen jajan. Apalagi wanita mahluk emosional. Emosi sangat dipengaruhi oleh apa yang dikonsumsi.
Jadi ya wajar saja kalau dia jajan. Laki-laki saja suka cilok ya kan? 😀

Gimana nanti kalau engga cukup?

Nah di sini saya merubah mindset. Kacamata yang saya gunakan adalah: kalau namanya kebutuhan ya pasti nanti akan dicukupi. Selama saya masih ditugaskan untuk menjalani hidup ini, pastinya kebutuhan saya untuk hidup dan menjalankan tugas akan dipenuhi. Di setiap tugas, pasti akan ada fasilitas.

Atau mungkin apa yang saya sangka sebagai kebutuhan, itu cuman keinginan.
Karena kalau benar kebutuhan hidup, maka jika tidak dicukupi maka akan akan berhenti hidupnya 🙂 Sebaliknya jika tidak dicukupi kemudian masih terus hidup, berarti itu bukanlah kebutuhan hidup.

Begitu juga ketika ada kebutuhan2 mendadak yang datang dari orang tua.

Jika mindset yang dipakai adalah uang itu langka dan terbatas maka pikiran2 yg muncul adalah:
– Ini orang tua apa nggak tahu anaknya lagi susah?
– Duh aku udah nabung lama buat beli itu, tapi kok harus dipake buat kebutuhan orang tua…
– Belum lagi kalau ternyata yang butuh adalah mertua… bisa2 nanti marah2 ke istri… orang tua kamu kok gitu???

Tapi ketika saya menaruh kacamata uang adalah langka dan terbatas.
Lalu belajar menggunakan kacamata yang lain: bahwa uang itu berlimpah dan tidak terbatas saya menjadi lebih tenang, lebih damai, lebih cool calm and confident dalam menghadapi tantangan kehidupan 🙂

Kalau orang tua butuh uang, kalau ada ya diberikan. Toh nanti akan ada gantinya datang lagi.

Kalau tidak ada uang gimana? Bisa ngasih yang lain: perhatian, waktu, tenaga, empati, kasih sayang dll. Jadinya bisa memaknai bahwa ada hal-hal lain selain uang yang bisa kita berikan.

Terus kebutuhan rumah tangga gimana?

Mengurus anak dan istri itu tugas dari Allah. Mengurus orang tua itu juga tugas dari Allah. Dalam setiap tugas, pasti ada fasilitas. Kewajiban saya adalah untuk bergerak, belajar, berusaha. Hasil dan fasilitas, ya biar Allah saja yang mencukupi.

Jadinya nanti juga tidak akan ge-er. Kalau mendapatkan hasil, itu bukan semata2 karena saya hebat. Tapi karena Allah memudahkan dengan fasilitas2.

Sebaliknya kalau saya tidak mendapatkan hasil yg ditargetkan juga tidak akan depresi/stress. Karena toh nanti kalau memang itu sebuah kebutuhan maka pasti akan dicukupi.

Mindset uang langka dan terbatas saya rasakan tidak memberikan kehidupan rumah tangga yang saya inginkan. Karena kehidupan yang saya inginkan itu kehidupan yang damai, tenang, kreatif. Bukan kehidupan yang tegang, was-was, saling menyalahkan dan penuh percekcokan.

No comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *