Saya bukanlah peran saya…

Peran saya sebagai anak…
Peran saya sebagai suami…
Peran saya sebagai CEO…
Peran saya sebagai pebisnis…
Peran saya sebagai investor…
Peran saya sebagai orang tua…

Tapi saya bukanlah peran saya…
Saya sudah ada jauh sebelum peran saya ada…
Dan saya akan tetap ada bahkan setelah semua peran2 itu selesai masanya…

Saya lebih besar daripada peran saya…
Saya adalah sesuatu yg stabil di dalam dinamis naik turunnya peran-peran kehidupan

Peran saya adalah sebuah cara saya untuk mengalami dunia…
Juga bagaimana hubungannya dengan sisi-sisi diri saya…

Peran saya adalah tugas yg perlu saya laksanakan sebaik2nya…
Tanpa perlu terbebani dengan hasilnya…
Seperti nafas yg terjadi secara natural.
Jalani saja…
Toh jikapun peran itu sudah usai, maka saya akan diberikan peran yg lain…
Begitu seterusnya silih berganti…
Seperti nafas yg datang dan pergi silih berganti
Sampai waktunya peran sebagai manusia selesai… Dan nafaspun terhenti…

Saya memiliki peran saya…
Tapi peran saya tidaklah memiliki diri saya…
Sama seperti saya memiliki motor, tapi motor itu tidaklah memiliki diri saya.
Jika peran itu hilang, saya tidak perlu kehilangan diri saya.

Saya memiliki motor, berarti motor itu bukan diri saya.
Saya memiliki rumah, berarti rumah itu bukan diri saya.
Saya memiliki peran, berarti peran itu bukan diri saya…
Karena sesuatu yg saya miliki, berarti bukanlah diri saya…

Kemelekatan terhadap sebuah peran… Keharusan mendapatkan hasil tertentu dalam sebuah peran… Adalah resep penderitaan, kecemasan, penyesalan…

Semua orang punya perannya masing2.
Punya tanggung jawab masing2.
Untuk meningkatkan kesadarannya.
Bahwa dirinya bukanlah perannya.
Semua orang, termasuk saya dan orang tua saya. Termasuk anak2 dan istri saya. Juga saudara2 saya…Karena peran2 itu saling bergantian. Agar aku bisa mengalami kehidupan ini sepenuh2nya…sedalam2nya…

Ah…jadi teringat kata-kata Rumi:
Aku mati sebagai mineral dan menjelma tumbuhan,
Aku mati sebagai tumbuhan dan terlahir binatang,
Aku mati sebagai binatang dan kini manusia.
Kenapa aku mesti takut, maut tak menyebabkanku berkurang….
Namun sekali lagi aku harus mati sebagai manusia…
Dan melambung bersama malaikat; dan bahkan setelah menjelma malaikat aku harus mati lagi; segalanya kecuali Tuhan, akan lenyap sama sekali.
Apabila telah kukorbankan jiwa malaikat ini, Aku akan menjelma sesuatu yang tak terpahami.
O,..biarlah diriku tak ada!
Sebab ketiadaan menyanyikan nada-nada suci,

KepadaNya kita akan kembali.”

Experiment with Food – Experiment with Truth

Gandhi pernah menulis sebuah autobiografi berjudul The Story of My Experiments with Truth.

Waktu membacanya aku jadi tahu ternyata banyak sekali eksperimen2 yang beliau lakukan dalam hidup agar bisa mengalami kebenaran.

Gandhi orang besar, dan beliau sangat terinspirasi oleh Jalaludin Rumi. Bahkan Gandhi pernah berandai-andai. Andaikan saja Mussolini dan Hitler pernah membaca dan mengerti karya-karya Rumi maka kemungkinan besar dunia tidak akan pernah mengalami kejadian yang sangat mengerikan: Perang Dunia I & Perang Dunia II.

Dalam skala individu perang selalu terjadi. Terutama di dalam batin manusia. Peperangan itu tidak terlihat, tetapi nyata adanya. Seringkali aku mengalami perang batin, sudah tahu apa yang sebaiknya aku lakukan, tetapi kok tetap saja melakukan hal yang lain. Atau kebalikannya aku tahu itu seharusnya aku hindari, tetapi kok tetap aku lakukan.

Karena itu aku mencoba bereksperimen. Tulisan ini juga sebagai laporan untuk menutup sebuah periode eksperimen yang aku lakukan dua bulan terakhir.

Eksperimen yg aku lakukan berkaitan dengan makanan. Sebelum aku menceritakan bagaimana eksperimen ini dilakukan, aku akan menceritakan kenapa aku melakukannya.

Tujuan pertama aku melakukannya adalah untuk mendapatkan hasil yg berbeda. Karena kalau terus melakukan hal yg sama, maka akan mendapatkan hasil yg sama. Kalau ingin hasil yg berbeda, pastinya perlu melakukan hal yg berbeda pula.

Bagaimana kalau tidak mendapatkan hasil yg berbeda? Ya sudah tidak apa-apa, anggap saja eksperimen just 4 fun 🙂

Tujuan kedua dari eksperimen juga ditujukan untuk lebih memahami diri. Terutama hubungan diri ini dengan kehidupan. Ada orang bijak yg berkata bahwa penguasaan kehidupan, sejatinya adalah tentang penguasaan diri (Self Mastery). Siapa yg bisa menguasai dirinya, maka akan bisa menjalani kehidupan dengan baik. Kebalikannya, siapa yang tidak bisa menguasai dirinya maka kehidupannya akan berantakan.

Aku sendiri masih merasa di level yg sangat rendah berkaitan dengan penguasaan diri / Self Mastery ini. Terbukti dari tidak selarasnya antara apa yg aku ketahui baik buatku tapi malah melakukan apa yg tidak baik buatku 😀

Maka dari itu aku mencoba bereksperimen lewat makanan. Sanggupkan aku hanya makan makanan yg aku tentukan? Bukan sesuatu yg lidahku inginkan?

Aku menyadari bahwa aku sudah terprogram untuk makan pada waktu-waktu tertentu. Sehingga ketika waktu itu datang, aku pun memasukkan makanan ke dalam tubuhku. Walaupun pada saat itu, kemungkinan tubuhku belum membutuhkan makanan.

Selain dari itu aku juga menyadari bahwa aku sudah terprogram kepada rasa-rasa tertentu. Contohnya adalah rasa pedas. Sehingga kalau ketemu dengan rasa itu, maka aku terus memasukkan makanan ke dalam tubuhku. Walaupun mungkin tubuhku sudah berkata stop, tapi aku lanjutkant terus. Sehingga aku kekenyangan, ngantuk dan akhirnya malas mengerjakan apa2 yg penting aku kerjakan. Ironis karena makanan yang seharusnya memperkuat tubuh, malah membebani tubuh.

Program dan pola itu kata halus dari candu. Karena candu adalah saat aku tidak bisa berhenti melakukan sesuatu padahal itu tidak baik buatku.

Jadi bagaimana eksperimen yg aku lakukan?

Aku melakukan 3 hari Water Detox. Istirahat 1 hari makan bebas, kemudian lanjut 6 hari Diet Bumi.

Prosesnya bagaimana? Untuk Water Detox simpel saja. Tidak makan apapun, hanya minum air putih. Harapannya agar air putih bisa mendetoksifikasi racun2 yg tertimbun di dalam tubuh.

Untuk Diet Bumi juga simpel. Minum hanya air putih. Makanannya bebas, asalkan berasal dari dalam bumi. Yaitu umbi2an dan kacang2an. Contohnya singkong, ubi, kacang, kentang, wortel, bengkoang, dll. Tidak digoreng, tetapi dikukus, direbus atau jika memungkinkan dimakan mentah seperti bengkoang.

Untuk melakukan hal ini godaannya banyak sekali. Contohnya saat pagi s.d siang di kantor bisa tahan. Tapi sampai di rumah ternyata tergoda oleh masakan di rumah. Itu terjadi berulang-ulang. Ada juga hari-hari yg lain, ketika malam2 ada yg ngajakin makan dimsum, pizza, nasi padang, dlsb. Oleh karena itu eksperimen ini aku berulang kali gagal untuk menyelesaikan periode yg sudah ditargetkan. Baru dapat sehari trus gagal. Atau sudah 2 hari tapi kemudian tergoda.

Karena berulang kali gagal, maka aku bereksperimen dengan cara lain.

Aku pernah membaca bahwa manusia ini mahluk yg lemah ketika berkomitmen kepada diri sendiri. Tapi bisa menjadi sangat kuat ketika berkomitmen dengan orang lain.

Salah satu cara berkomitmen dengan orang lain adalah lewat bantuan seorang coach/mentor.

Aku pernah melakukan ini. Salah satunya dari seorang coach dari switzerland yg punya MBA & PhD. Hasilnya cukup efektif. Kalau tidak salah sekitar $100/jam.

Namun kali ini aku ingin eksperimen sesuatu yg berbeda. Aku akan cari temanku.

Kalau aku fail, maka aku bayar ke mereka 100rb. Aku cari 5 orang. Sehingga kalau fail sehari maka aku perlu bayar 500rb. Karena targetku 3 hari detox bumi + 6 hari Diet Bumi maka total 9 hari. Kalau fail terus2an maka aku akan menghabiskan uang 500 x 9 = 4,5jt.

Apakah aku punya budget sebanyak itu? Tentu saja tidak. Tapi apakah kalau aku fail aku harus membayar itu? Tentu saja iya. Karena bagiku hutang haruslah ditepati.

Pada periode yg lain aku melakukan modifikasi. Mekanismenya jadi begini:

– kontak 5 orang teman
– kalau aku fail aku bayar ke mereka
– kalau aku berhasil, uangnya aku sumbangkan ke organisasi sosial.

Dengan cara ini, teman2 ku tidak lagi menggoda aku untuk fail. Tapi mereka malah membantuku karena mereka tahu bantuan mereka akan membuat aku bisa menyumbang ke org sosial. Mereka kan jadi dapat pahala juga hehehe….

Akhirnya akupun melakukan hal itu. Aku kontak 5 orang temanku. Setiap kali mau ada godaan aku teringat janjiku kepada mereka. Aku tidak mau punya hutang.

Oleh dari itu aku bereskan s.d selesai.

Alhamdulillah, eksperimen ini aku selesaikan dengan periode berikut

– 3 hari water detox – DONE
– 6 hari diet bumi – DONE
– eksperimen tambahan bonus 3 hari diet bumi – DONE

Sebenarnya aku mau lanjut eksperimen, tp ada protes dari istri. Katanya aku jadi kurus. Ya sudah kalau begitu aku pause dulu eksperimennya, recovery dulu biar badan tidak terlalu kurus hehe….

Lemas tidak? tentu saja lemas. Lapar tidak? tentu saja lapar. Tapi aku belajar bahwa tubuh itu mengikuti pikiran. Itu juga kenapa di dalam Islam niat adalah hal yang sangat penting. Niat akan menguatkan pikiran. Pikiran juga nanti akan mengatur dan menguatkan tubuh.

Pikiran juga punya erat kaitannya dengan perasaan. Aku merasakan kedamaian saat aku tidak direpotkan oleh makanan. Tidak repot mencari. Tidak repot memproses.

Tidak repot mengeluarkan sisa2 makanan yg tidak bisa aku proses.

Aku juga merasakan sensitifitas ku meningkat. Emosi2 yg selama ini aku kubur dalam-dalam muncul ke permukaan. Aku baru menyadari, selama ini aku mengalihkan perasaan-perasaan ini salah satunya dengan makanan. Aku jadi menyadari punya pola menjadikan makanan sebagai pengalihan atas emosi yg datang. Bosan, sedih, kecewa, khawatir, takut, cemas, banyak sekali emosi yg aku alihkan lewat makanan.

Di dalam eksperimen ini, aku belajar untuk membersamainya. Membiarkan emosi2 itu datang, tinggal, dan kemudian pergi pada waktunya masing2. Pengamatanku ini membawaku pada pemahaman… Bahwa di dalam hidup ini, semuanya muncul, ada dan tenggelam. Tidak ada yang terus menerus ada. Mungkinkah ini berkaitan dengan apa yg diceritakan di Ar Rahman? Semuanya fana, yg kekal adalah wajah Tuhan yg Maha Agung.

Tidak ada yg perlu dilekati. Tidak ada yg perlu dipaksa untuk dipegang erat2

Karena semuanya akan muncul dan tenggelam.Hidup ini hanyalah permainan besar yang sepertinya akan terus timbul dan tenggelam.

Di eksperimen bonus, hari ketiga aku mendengar Puisi Dari Singkong… begini bunyinya…

……

Hai Awan…

Akulah singkong di atas piring…

Aku yg mengucapkan hal ini kepadamu…

Hidupmu takkan selamanya mulus.

Kadang di atas, kadang di bawah.

Maka berlatihlah, bereksperimenlah…

Sekarang mungkin kamu bisa makan padang,

bisa makan pizza, bisa makan nasi kuning dan gorengan…

Tapi mungkin nanti ada saatnya kamu makan cuman bisa singkong, cuman bisa minum air saja.

Maka jika saat itu tiba, berlatihlah.

Latihlah dirimu agar kuat.

Latih jiwamu agar tidak mengambil apa yg bukan hakmu

Latih dirimu untuk bersikap jujur dan tetap lurus.

Ingatlah bahwa kamu bisa sedih.

Tapi Allah akan membersamaimu.

Kalau kamu selalu mengingatNya.

Menjadikan Dia sebagai niat persembahan hidupMu.

Kamu mungkin meraa terluka.

Tapi luka itu tempat masuknya Cahaya…

Kamu mungkin merasa sakit…

tapi sakit itu tempat memahami makna…

Semoga engkau selamat di dunia dan akhirat…

Tertanda,

Singkong di atas piring.

Uzlah

Uzlah, menyepi itu diperlukan…

Agar seseorang bisa mengambil jarak…

Menyadari kemelekatan…

Menyadari penderitaan…

Menyadari apa yang benar-benar penting dalam kehidupan…

Sehingga bisa mengantarkan fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah

Begitupun dalam menulis…

Sudah sekian lama Uzlah dan berpuasa untuk posting di blog ini…

Bismillah… aku kembali…

Mas Bejo dan Pesta Wirausaha

MAS BEJO DAN PESTAWIRAUSAHA

Suatu hari di tahun 2009, Mas Bejo datang di Pesta Wirausaha TDA . Waktu itu acaranya diadakan di Gedung BPPT Jakarta.

Di acara itu Mas Bejo tidak kenal siapa2.
Datang untuk mencari ilmu, mencari pencerahan di tengah2 kebingungan.

Sudah satu tahun lamanya sejak dia resign dari United Nations. Meninggalkan gaji besar, fasilitas mewah dan mobil dinas Double Cabin yang siap mengantarnya kemanapun dia mau.

Mas Bejo resign untuk sebuah desakan hati… ingin belajar berwirausaha.

Namun idealisme harus bertemu dengan realita.

Satu tahun lamanya berjibaku di dunia wirausaha, belum juga ketemu jalan terang.

Padahal sudah jualan macem2… sendal wanita, mukena, baju batik, seprai batik dlsb. Semuanya membuahkan hasil yg tidak seberapa.

Siang itu di baris terakhir panggung Pesta Wirausaha…Mas Bejo menitikkan air mata.

Bukan karena motivasi yang menyentuh kalbu dari Kek Jamil Azzaini di pusat panggung.

Tapi karena muncul perasaan… “Segini banyaknya manusia…segini banyaknya pengusaha…masak tidak ada jalan usaha yang cocok buatku?” begitu pikir Mas Bejo.

Untung bangku penonton gelap, hanya dia dan Tuhan yang tahu jatuhnya bulir2 air mata dari rasa itu.

Mas Bejo pulang dari Pesta Wirausaha merasa tidak mendapat apa2.

Hanya segepok brosur dari berbagai sponsor.

Dia belum menyadari bahwa ada bibit2 yang tertanam. Yang kemudian akan tumbuh subur dan membuahkan hasil…

Pada saat itu dia tidak merasa lebih pintar, hanya merasakan bahwa berwirausaha adalah jalan perjuangannya.

Bertahun2 kemudian dia baru menyadari bahwa frustrasi yang dirasakan itu adalah karena belum munculnya kesadaran dalam batinnya.

Kesadaran bahwa dalam belajar usaha, yg dikejar bukan sukses, terkenal ataupun banyak harta. Bukan juga adu cepat, adu scale up, tanpa ada kejelasan arah kehidupan. Tapi belajar wirausaha sejatinya adalah bagian dari proses belajar tentang keikhlasan untuk mendekat kepada Sang Maha.

Pemahaman seperti itu akan datang bertahun2 kemudian. Sebagai bentuk istiqomah atas jalan yg dipilih. Serta latihan kesadaran untuk melepaskan pikiran2 yang tidak mendukung untuk hidup di dunia dan bekal di akhirat nantinya.

Bulan berganti tahun, waktupun berlalu… Jalan hidup mengantarkannya Mas Bejo pada sebuah operasi lutut di mana dia harus bedrest selama 6bln. Namun dasar Bejo… ternyata jalan hidup itu pulalah yang membawanya ke sebuah usaha IT Outsourcing. Melayani klien dari berbagai negara.

2011 Mas Bejo mendapatkan Netherland Fellowship Award untuk beasiswa Master nya.

Sepulang dari sana di tahun 2013 kembali full di dunia wirausaha…

Namun kemudian baru tahun 2015 dia kembali menyambung silaturrahmi di komunitas TDA. Karena dia mulai menyadari bahwa berwirausaha itu tidak bisa sendiri. Banyak sekali godaan, dan butuh lingkungan positif untuk berbagi dan saling menyemangati.

Lingkungan yang positif itulah yang menguatkannya melewati banyak gelombang halangan dan rintangan. Mentor, sahabat, bahkan keluarga semuanya Mas Bejo temukan di TDA.

Alhamdulillah berkat izin Allah sampai dengan 2023 Mas Bejo masih setia di jalur wirausaha…

Pesta Wirausaha Nasional 2023 akan digelar pada tanggal 21 – 22 Januari 2023 di Youth Centre Sport Arcamanik Bandung.

Pasti diantara pengunjungnya nanti akan ada Mas Bejo – Mas Bejo baru yg sedang kebingungan. Yang sedang mencari jalan. Yang hampir putus harapan. Yang pusing krn banyak utangan.

Tapi seperti halnya Mas Bejo yg tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Bisa jadi bibit yg tertanam di acara Pesta Wirausaha itulah yang akan menjadi kebermanfaatan bertahun-tahun setelahnya.

Bibit yang akan tumbuh subur dengan akar yg dalam menghunjam ke tanah, ranting yang menaungi dan buah2 yang merekah memberikan manfaat.

Karena sukses sejati bukan dihitung berdasarkan bulan atau tahun…tapi generasi dan bahkan peradaban.

Manusia hanya diperintahkan syariat berusaha. Namun hakikat hasil ada di dalam genggamanNya.

Semoga Pesta Wirausaha Nasional nanti bisa menjadi momentum silaturrahim kita semua, untuk tumbuh melenting lebih tinggi lagi…

Al Fatihah untuk para panitia PW dan pengurus TDA semuanya…🙏🙏

*cerita Mas Bejo hanya fiksi dan rekaan belaka.
*tapi kerja keras para pengurus dan panitia nyata adanya. 👍😊

Uang sebagai Energi?

Pada suatu saat Ken Honda pengarang buku Happy Money bertemu dengan seoarang wanita di sebuah pesta.

Di sana wanita itu meminta izin kepada Ken untuk melihat isi dompetnya.

Walaupun Ken merasa aneh, tapi dia memberikan dompet nya kepada wanita itu.

Wanita itu kemudian mengambil uang yang ada di dompet Ken kemudian memilahnya satu demi satu.

“ini uang bagus, ini juga bagus, ini juga…”

Lalu wanita itu berkata: Bagus… ternyata uang mu bagus semuanya.

Ken sambil kebingungan berkata, apa yang kamu cari?

Oh aku cuman mengecek apakah uang mu tersenyum atau tidak.

Wanita itu kemudian menjelaskan bahwa uang dapat tersenyum ataupun menangis. Tergantung bagaimana uang itu didapat atau diberikan.

Kalau uang itu diberikan/didapat diiringi dari rasa bersalah, kemarahan, maupun kesedihan maka uang itu akan “menangis”. Sebaliknya jika uang itu diberikan/didapat diiringi dengan rasa cinta kasih, syukur dan kebahagiaan maka uang itu akan tersenyum, bahkan tertawa. Karena uang itu diiringi energi positif dari pemberi/penerimanya.

Ken pun merasa terkejut, uang bisa menangis ataupun tersenyum? Uang berubah jika diberikan energi/perasaan?

Sebenarnya pada saat itu Ken sudah sangat mapan, juga merasa sangat faham dengan keuangan.

Saat umurnya masih 20-an dia sudah menentukan tujuan untuk bahagia dan sejahtera di umur 30. Jadi dia memulai bisnis konsultan dan akuntan nya.

Ketika dia mencapai 29 tahun, dia punya kebebasan untuk tetap di rumah dan mengiringi istrinya untuk mengasuh anak perempuannya yang masih bayi. Itu adalah hari-hari terindah dalam hidupnya. Bukan hanya karena dia bisa menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan anak perempuannya. Tetapi juga saat dia menemukan karir keduanya: membantu jutaan orang lainnya untuk hidup bahagia, sejahtera dengan penuh kedamaian.

Hal itu dimulai ketika dia sedang mengajak main anaknya di taman. Tiba2 ada seorang ibu yang berteriak2 ke anaknya. Ayo ibu harus kerja… ayo pulang. Tapi anaknya terus berkata… tapi kita baru sampai, aku pengen main lagi…

Setelah beberapa lama beradu mulut, ibunya pun menarik paksa anaknya untuk pulang kerumah.

Ken merasa sangat sedih melihat kejadian tersebut. Dia tahu jika ibu itu punya pilihan, pastinya dia lebih memilih untuk bermain bersama anaknya di taman di hari yang cerah itu.

Saat pulang ke rumah Ken menulis sebuah catatan singkat tentang pengalamannya dan apa yang dia ketahui selama bertahun2 mendapatkan uang dan menjadi sejahtera.

Dia pikir dia hanya akan menulis 5 halaman. Tapi ternyata menjadi 26 halaman.

Lalu catatannya dia bagi2kan kepada teman2nya. Dan banyak orang yang meminta lagi. Terus menerus seperti itu sampai seorang penerbit memintanya untuk menulis buku tentang hal itu.

Sejak saat itu Ken Honda telah menerbitkan lebih dari 50 buku yang terjual lebih dari 8 juta cetak di Jepang.

Setelah menulis 50 buku, Ken pikir dia telah mengetahui segalanya tentang uang. Tetapi sejak bertemu dengan wanita di pesta itu, dia mulai berpikir ulang tentang apa yang dia lakukan selama ini.

Dia pun mulai berpikir tentang uang sebagai energi.

Money Mindset Pasangan Muda

Studi Kasus Mindset Langka vs Mindset Berlimpah Pada Pasangan Muda

Saat tulisan ini dibuat, saya menginjak kehidupan pernikahan 10 tahun.
Pada tahun-tahun awal pernikahan banyak sekali dinamika yang terjadi berkaitan dengan uang. Dinamika adalah pilihan kata lain yang lebih halus untuk percekcokan 🙂

Awalnya saya kira, penyebabnya adalah karena kondisi keuangan.
Awalnya saya kira, yang salah adalah kondisi.
Yang salah adalah istri.
Yang salah adalah orang lain.
Yang salah adalah …. kecuali saya.

Sampai pada satu titik saya mereview bahwa saya perlu memperbaiki diri sendiri. Saya perlu mengkaji ulang hubungan saya dengan Tuhan. Saya perlu belajar untuk memiliki mindset yang lebih efektif. Saya perlu belajar meningkatkan diri sendiri. Kalau tidak, pasti kehidupan pernikahan saya akan berantakan.

Karena di luar sana pasti ada yang kondisi keuangannya di bawah kondisi saya. Bagi orang-orang yang kondisi keuangannya di bawah saya, adakah yang lebih bahagia dalam menjalani hidupnya? Pasti ada.

Sebaliknya, di luar sana pasti ada yang kondisi keuangannya lebih baik dari kondisi saya. Bagi orang-orang yang kondisi keuangannya lebih baik dari saya, adakah yang lebih sengsara dalam menjalani hidupnya? Pasti ada.

Jadi ini bukan masalah kondisi. Ini adalah masalah manajemen mindset, pikiran dan hati saya. Ini adalah masalah pemilihan kacamata.

Kondisi ini juga berlaku jika saya kaitkan tentang istri.

Di awal-awal pernikahan saya penuh dengan rasa menyalahkan istri saya. Istri saya yang salah. Tidak bisa berhemat. Tidak bisa mengatur keuangan.

Namun kalau dipikir-pikir lagi…

Di luar sana adakah suami yang istri nya lebih tidak mampu mengatur keuangan dibanding istri saya? Pasti ada.

Bagi suami-suami yang punya istri seperti itu, adakah yang lebih bahagia dalam menjalani kehidupan pernikahannya dibanding saya ? Pasti ada.

Sebaliknya, di luar sana adakah suami istrinya lebih pintar mengatur keuangan dibanding istri saya? Pasti ada.
Bagi suami-suami yang punya istri seperti itu, adakah yang kehidupan rumah tangganya lebih sengsara ? Pasti ada.

Jadi ini bukan tentang istri saya. Ini adalah tentang bagaimana saya memandang istri saya. Bagaimana saya mengatur pikiran, hati dan perasaan berkaitan pandangan saya dengan istri saya.

Maka dari situ saya berusaha untuk mengupgrade diri.

Eh btw, Ini lagi ngomongin apa ya, kok jadinya ngomongin tentang istri ? hehehe… 🙂 Maaf…maaf… kadang suka kecampur2 karena saya berusaha mengingat apa yang terjadi 10 tahun yang lalu.

Nah dalam studi kasus tentang Uang di dalam kehidupan pasangan muda…

Saya mulai belajar bahwa ketika saya menggunakan mindset uang adalah sesuatu yang langka maka saya berubah menjadi orang yang penuh ketegangan. Misalnya istri pengen jajan aja bawaannya tegang. Pikiran berkecamuk, emang ga bisa ngirit ? Emang ga bisa makan di rumah aja ya?

Padahal ya wajar sekali seorang manusia pengen jajan. Apalagi wanita mahluk emosional. Emosi sangat dipengaruhi oleh apa yang dikonsumsi.
Jadi ya wajar saja kalau dia jajan. Laki-laki saja suka cilok ya kan? 😀

Gimana nanti kalau engga cukup?

Nah di sini saya merubah mindset. Kacamata yang saya gunakan adalah: kalau namanya kebutuhan ya pasti nanti akan dicukupi. Selama saya masih ditugaskan untuk menjalani hidup ini, pastinya kebutuhan saya untuk hidup dan menjalankan tugas akan dipenuhi. Di setiap tugas, pasti akan ada fasilitas.

Atau mungkin apa yang saya sangka sebagai kebutuhan, itu cuman keinginan.
Karena kalau benar kebutuhan hidup, maka jika tidak dicukupi maka akan akan berhenti hidupnya 🙂 Sebaliknya jika tidak dicukupi kemudian masih terus hidup, berarti itu bukanlah kebutuhan hidup.

Begitu juga ketika ada kebutuhan2 mendadak yang datang dari orang tua.

Jika mindset yang dipakai adalah uang itu langka dan terbatas maka pikiran2 yg muncul adalah:
– Ini orang tua apa nggak tahu anaknya lagi susah?
– Duh aku udah nabung lama buat beli itu, tapi kok harus dipake buat kebutuhan orang tua…
– Belum lagi kalau ternyata yang butuh adalah mertua… bisa2 nanti marah2 ke istri… orang tua kamu kok gitu???

Tapi ketika saya menaruh kacamata uang adalah langka dan terbatas.
Lalu belajar menggunakan kacamata yang lain: bahwa uang itu berlimpah dan tidak terbatas saya menjadi lebih tenang, lebih damai, lebih cool calm and confident dalam menghadapi tantangan kehidupan 🙂

Kalau orang tua butuh uang, kalau ada ya diberikan. Toh nanti akan ada gantinya datang lagi.

Kalau tidak ada uang gimana? Bisa ngasih yang lain: perhatian, waktu, tenaga, empati, kasih sayang dll. Jadinya bisa memaknai bahwa ada hal-hal lain selain uang yang bisa kita berikan.

Terus kebutuhan rumah tangga gimana?

Mengurus anak dan istri itu tugas dari Allah. Mengurus orang tua itu juga tugas dari Allah. Dalam setiap tugas, pasti ada fasilitas. Kewajiban saya adalah untuk bergerak, belajar, berusaha. Hasil dan fasilitas, ya biar Allah saja yang mencukupi.

Jadinya nanti juga tidak akan ge-er. Kalau mendapatkan hasil, itu bukan semata2 karena saya hebat. Tapi karena Allah memudahkan dengan fasilitas2.

Sebaliknya kalau saya tidak mendapatkan hasil yg ditargetkan juga tidak akan depresi/stress. Karena toh nanti kalau memang itu sebuah kebutuhan maka pasti akan dicukupi.

Mindset uang langka dan terbatas saya rasakan tidak memberikan kehidupan rumah tangga yang saya inginkan. Karena kehidupan yang saya inginkan itu kehidupan yang damai, tenang, kreatif. Bukan kehidupan yang tegang, was-was, saling menyalahkan dan penuh percekcokan.

Mindset Langka dan Mindset Berlimpah tentang Uang

Apa itu Mindset? Mindset bagi saya seperti kacamata.

Fungsi dari kacamata adalah memudahkan kita untuk melihat dunia.
Sehingga kita bisa lebih mudah bergerak menuju tujuan.

Misalnya saja kacamata hitam, cocok dipakai di kondisi terik matahari.
Agar kita tidak silau, sehingga bisa bergerak menuju tujuan dengan lebih nyaman.

Namun kacamata hitam, tidak cocok dipakai di dalam ruangan yang teduh.
Sudah sepantasnya kita copot kacamata hitam tersebut agar kita bisa bergerak dengan lebih mudah di dalam ruangan.

Ada juga kacamata baca.
Gunanya adalah dipakai oleh orang-orang yang matanya rabun dekat.
Sehingga dengan menggunakan kacamata baca, maka orang yang pandangannya kabur ketika melihat tulisan pada jarak dekat menjadi lebih jelas.

Namun kacamata baca tidak cocok dipakai oleh orang dengan mata normal.
Karena kacamata baca itu malah akan membuat pandangannya menjadi kabur.

Jadi kacamata adalah sesuatu yang bisa dipakai dan dilepas sesuai dengan kebutuhan.

Kacamata bukan tentang benar/salah.
Tetapi disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi dan tujuan yang ingin dicapai.

Mindset juga seperti itu.

Kita tidak bicara tentang benar/salah.
Tetapi kita patut mempertanyakan apakah mindset ini cocok dipakai dalam mencapai tujuan saya, atau malah menghalangi?

Setelah menyadari bahwa mindset bisa dicopot/dipasang, maka jika mindset yang sekarang saya pakai akan membantu saya mencapai tujuan maka akan terus saya pakai.

Tapi jika mindset tersebut tidak cocok/menghalangi maka saya akan melepaskannya. Kemudian mengganti dengan mindset lain yang akan mendukung pencapaian tujuan saya.

Bagaimana cara mengganti mindset yang akan membantu kita mencapai tujuan? Nah sebelum kita bisa mengganti mindset, kita perlu menyadari mindset-mindset apa yang kita pakai sekarang.

Mindset/Pertanyaan/Permasalahan Yang Umum Terkait Dengan Uang

Contoh Mindset Yang Umum Dipakai.
– Uang itu susah di dapat.
– Uang itu keluarnya gampang banget.
– Uang itu sesuatu yang terbatas.
– Setelah menikah dan punya anak banyak sekali kebutuhan yg berkaitan dengan uang. Uang tidak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan.

Dari pertanyaan-pertanyaan yang terkait perasaan yang berhubungan dengan uang diantaranya yang umum adalah seperti ini:
– Rasanya uang itu kalau pas lagi banyak hati jadi senang, tapi kalau pas lagi sedikit hati jadi khawatir tegang.
– Gimana ya caranya biar kondisi perasaan bisa stabil dan tidak naik turun tergantung dengan jumlah uang yg dimiliki?
– Bagaimana ya uang ini bisa bertahan lama bareng sama aku? Kok kayaknya baru pegang sebentar saja sudah lepas lagi…
– Gimana caranya agar kita tidak terlalu terikat dengan uang?
– Kenapa uang jadi sumber masalah?
– Kenapa kita dipandang rendah oleh orang-orang di sekeliling kita jika tidak punya uang?
– Bagaimana menyikapi perasaan takut tidak cukup dengan uang yang sekarang ini dimiliki?
– Ketika ngerasa punya uang sedikit lebih banyak dari biasanya maka tidak terlalu peduli dalam membelanjakan atau menyimpannya.
Tetapi saat teringat tentang goal besar yang butuh uang besar, jadi stress sendiri. Bagaimana menyikapinya?
– Bagaimana memanage keuangan jika kita adalah seorang ibu rumah tangga?
– Bagaimana supaya tabungan ga dikorek-korek kalau uang pegangan sudah menipis?

Yuk kita bahas satu persatu terkait dengan mindset-mindset dan pertanyaan2 yang muncul seperti di atas.

Mindset Langka VS Mindset Berlimpah.

Mindset Langka memandang bahwa sesuatu itu:
– terbatas jumlahnya
– harus diperebutkan lewat kompetisi
– kalau hilang maka sulit untuk mendapatkan kembali

Mindset berlimpah memandang bahwa sesuatu itu:
– jumlahnya tidak terbatas
– bisa diciptakan
– jika hilang/habis pasti akan ada penggantinya

Kedua mindset ini sama-sama bisa kita pakai saat kita memandang uang.

Mana yang benar?
Memandang uang sebagai sesuatu yang langka.
Ataukah memandang uang sebagai sesuatu yang berlimpah.

Ingat di awal saya tidak berbicara mengenai benar / salah 🙂

Saya berbicara mindset mana yang efektif dalam hidup yang ingin kita jalani.
Mindset mana yang mendekatkan kepada tujuan.
Mindset mana yang menjauhkan kepada tujuan.
Masing-masing dari kita perlu merasakan dan memilih, sesuai dengan kondisi masing2.

Tiap mindset akan menghasilkan kumpulan perasaan dan tindakan yang berbeda-beda.

Misalnya jika saya memilih mindset uang itu langka:
– karena langka jadi susah di dapat
– karena langka jadi kalau dikeluarkan maka susah untuk didapat lagi
– karena langka jadi uang itu harus diperebutkan dalam sebuah kompetisi

Maka kumpulan perasaan dan tindakan yang dihasilkan adalah sebagai berikut:
– rasa cemas kalau nanti ada kebutuhan mendadak
– rasa khawatir kalau kalah berkompetisi dengan orang lain, mungkin juga muncul dendam
– rasa minder dan iri kalau ada orang yang mempunyai lebih
– cenderung memilih tindakan2 yang cepat, jalan pintas tanpa berpikir efek jangka panjang
– sedih jika ada pengeluaran tiba-tiba
– jika terjadi sesuatu di luar rencana, maka saya akan menyalahkan, menghakimi orang lain di sekitar saya
– pelit, berat untuk bersedekah

Sebaliknya untuk mindset bahwa uang itu berlimpah:
– karena berlimpah jadi uang itu gampang didapat
– karena berlimpah maka jika dikeluarkan maka nanti juga akan mudah didapat lagi
– karena berlimpah maka bisa diciptakan lewat kerjasama dan kreativitas

Maka kumpulan perasaan dan tindakan yang dihasilkan adalah sebagai berikut:
– Memiliki ketenangan dalam berkreasi dan mencipta
– Bebas untuk berkontribusi
– Mudah bersedekah
– Damai dalam menyikapi naik turunnya kondisi keuangan
– Percaya bahwa dalam setiap tugas, pasti ada fasilitas.
Masak udah dikasih tugas sama Tuhan Yang Maha Kaya, masak ga dikasih fasilitas apa2
– Jika terjadi sesuatu di luar rencana anggaran, percaya bahwa jika itu kebutuhan pasti nanti akan dicukupi.
Kemudian fokus ke action-action apa yang bisa dilakukan saat ini.
– Maksimal dalam ikhtiar dan ikhlas terhadap hasilnya.

Mindset saat ga ada uang

Kebanyakan kita pernah mengalaminya.
Kecuali Anda berasal dari orang tua yang kaya raya dan punya harta tidak habis-habis tujuh turunan.

Di saat-saat kita tidak punya uang, dan ada kebutuhan yang harus diselesaikan rasanya sangat menyiksa.
Secara emosional bahkan bisa dirasakan secara fisik: perut serasa diremas-remas. Jantung berdetak kencang. Bahkan hati terasa mengkeret.

Bisa jadi ada transaksi penting yang lepas. Atau project yang tiba-tiba dicancel. Biaya tambahan sehingga profit kita lenyap begitu saja.

Mungkin ada kerusakan yang butuh di servis. Atau mungkin juga seperti banyak orang yang tenggelam di dalam cicilan rumah, mobil, kartu kredit dan berbagai macam hutang lainnya.

Kebanyakan dari kita mengalami masa-masa sulit terkait dengan kekurangan uang.

Tapi saya percaya “bagaimana” cara kita meresponnya lebih penting daripada selesainya masalah itu.

Masa-masa sulit bahkan bisa menjadi coach terbaik yang menunjukkan apa yang sebenarnya kita benar-benar butuhkan. Apa yang benar-benar penting dan prioritas di dalam hidup kita. Bahkan kalau mau memandang jujur, itu adalah masa pertumbuhan yang penting bagi kehidupan kita.

Bagi sebagian orang. Tekanan kebutuhan akan uang seakan tidak ada habisnya.

Ketika single butuh uang buat bersosialisasi dan mencari calon pasangan. Ketika sudah punya pasangan butuh uang buat anak lahiran. Anak-anak semakin bertambah merasa butuh lebih banyak uang lagi. Mereka membesar, juga semakin butuh lebih. Tekanan tersebut terus menerus dirasakan sepanjang hidup.

Seakan-akan ketika kehilangan pekerjaan maka kehidupan akan runtuh. Karena hidup dari gaji yg habis tiap bulan. Bahkan meninggalkan hutang. Satu lagi pertengkaran dengan pasangan maka perceraian tidak akan terhindarkan. Bulan demi bulan seperti menghadapi stress yang semakin menyiksa.

Jika ada yang sedang merasakan ini, percayalah… bagaimanapun kelihatannya… tetapi kondisi ini hanya sementara.

Penambahan penghasilan bukanlah jawaban dari permasalahan ini. Karena jika penghasilan bertambah tetapi mindset tetap sama maka tidak akan ada perubahan. Lebih banyak uang, lebih banyak keinginan, lebih banyak kepemilikan. Karena memiliki lebih banyak, pasti lebih banyak pengeluaran, bahkan bisa2 lebih banyak hutang.

Mindset yang lebih efektif adalah menggunakan waktu ini sebagai periode untuk refleksi diri dan pertumbuhan.

Ambil waktu untuk merenung, bagaimana kita mengeluarkan uang selama ini. Untuk apa? dan apakah benar2 perlu? ataukah ada cara-cara kreatif yang bisa kita lakukan untuk bisa memenuhi kebutuhan tanpa harus mengeluarkan uang itu?

Ambil waktu untuk menghitung, bukan apa yang tidak dimiliki. Tetapi menghitung apa yang dimiliki. Pasti yang dimiliki lebih banyak daripada yang tidak dimiliki. Tetapi jika fokus perhatiannya pada yang tidak dimiliki maka akan membawa kepada kesedihan, iri hati dan amarah.

Sebaliknya jika fokus perhatian pada apa yang dimiliki, maka yang muncul adalah rasa syukur dan penghargaan. Coba lihat apakah masih punya mata untuk melihat? Masih punya hidung untuk mencium? Masih punya kaki untuk berjalan? Masih punya tangan untuk mengambil barang-barang? Jantung masih berdetak bahkan tanpa perlu komando. Coba hitung apa yang dimiliki, pastilah tidak akan bisa karena sangking banyaknya.

Di sana akan muncul rasa syukur, rasa terima kasih, penghargaan terhadap hidup yg diberikan oleh Tuhan.

Fokuskan perhatian kepada pengalaman-pengalaman yang membahagiakan. Kemudian nanti hidup akan menuntun kita kepada hal-hal yang baik.

Di dalam merasa cukup, merasa bahagia, merasa bersyukur maka kita akan bisa berpikir jernih. Untuk melangkah dan memberikan kontribusi bagi orang lain.

Jika kita bisa memberikan kontribusi positif di dalam hidup orang lain maka tidak mungkin tidak, uang rezeki dan kebahagiaan akan mengalir ke dalam hidup kita lagi.

Yuk kita diskusi…
Bagaimana menurut Anda?

Salam,
Awan

Kenapa kita harus belajar mengenai Money Mindset?

Uang adalah salah satu hal yang sangat penting dalam kehidupan kita.
Masalah yang terjadi tentang uang bisa membuat stress, bingung, khawatir, ketakutan.
Apalagi banyak cerita bahwa hubungan keluarga putus gara-gara masalah uang.
Hubungan bisnis jadi pecah gara-gara masalah uang.
Hubungan pertemanan menjadi renggang gara-gara masalah uang.

Sehingga jika kita tidak mempelajari mindset yang bakal mendukung hubungan-hubungan dalam hidup kita berkaitan dengan uang,
maka bisa menimbulkan banyak permasalahan.

Kita perlu mempelajari tentang uang, dan juga pikiran2 yang timbul berkaitan dengan uang.
Sehingga kita bisa memilih pikiran mana yang bermanfaat untuk hidup kita.
Ataupun kita bisa mengidentifikasi pikiran mana yang tidak bermanfaat untuk hidup kita.

Saya sengaja memilih kata manfaat/tidak manfaat.
Bukan benar dan salah.
Karena manfaat dan tidak tergantung tujuan hidup kita seperti apa.

Uang adalah salah satu hal yang sangat penting dalam kehidupan kita.
Masalah yang terjadi tentang uang bisa membuat stress, bingung, khawatir, ketakutan.
Apalagi banyak cerita bahwa hubungan keluarga putus gara-gara masalah uang.
Hubungan bisnis jadi pecah gara-gara masalah uang.
Hubungan pertemanan menjadi renggang gara-gara masalah uang.

Sehingga jika kita tidak mempelajari mindset yang bakal mendukung hubungan-hubungan dalam hidup kita berkaitan dengan uang,
maka bisa menimbulkan banyak permasalahan.

Kita perlu mempelajari tentang uang, dan juga pikiran2 yang timbul berkaitan dengan uang.
Sehingga kita bisa memilih pikiran mana yang bermanfaat untuk hidup kita.
Ataupun kita bisa mengidentifikasi pikiran mana yang tidak bermanfaat untuk hidup kita.

Saya sengaja memilih kata manfaat/tidak manfaat.
Bukan benar dan salah.
Karena manfaat dan tidak tergantung tujuan hidup kita seperti apa.

Pikiran yang bermanfaat berarti mendukung/mendekatkan kepada tujuan dalam kehidupan kita.
Pikiran yang tidak bermanfaat berarti malah membebani/menjauhkan kepada tujuan yang kita inginkan dalam hidup kita.

Tulisan Pertama di Medium

Ini adalah tulisan pertamaku di medium.

Rencananya ingin bisa menulis lagi secara konsisten.

Sekedar menuangkan apa yg ada di dalam pikiranku.

Sekitar 10 tahun yang lalu aku pernah menulis sebuah ebook.

Panduan praktis Odesk untuk pemula.

Isinya bagaimana memulai menjadi freelancer di platform Odesk.

Sekarang Odesk sudah berubah menjadi Upwork.

Di platform Upwork ini orang2 bisa kerja dari jarak jauh. Tidak perlu ngantor. Istilah kerennya Remote Working.

Saat ini remote working juga semakin mewabah bersamaan dengan wabah Covid-19 yang terjadi.

Di Indonesia sendiri wabah Covid19 ini mengakibatkan pengangguran begitu banyak.

Orang2 yang menganggur tersebut tidak ada pemasukan.

Uang tabungan mereka pun semakin menipis.

Oleh karena itu, aku ingin mencoba mencatat apa yg aku pelajari tentang uang.

Sekedar berbagi pengalaman.

Atau bahkan sebagai catatan bahan pelajaranku sendiri tentang uang.

Mudah2an bisa menjadi bermanfaat.

Terutama catatan buat anak cucuku berikutnya.

Agar mereka bisa mempelajari apa yg sebaiknya dilakukan.

Dan apa yg sebaiknya tidak dilakukan.