Pelajaran dari Seekor Kadal

April 27, 2017
Awan Rimbawan

(catatan singkat dari Mastery Course Asiaworks dan Buku Mastery karangan George Leonard)

saya mengalami pikiran yang kacau
saya mengalami konsep kecewa
saya mengalami pikiran bahwa saya orang yang gagal
saya mengalami pikiran kembali ke masa lalu, masa di mana saya melakukan kesalahan
saya mengalami sensasi fisik lelah dan ingin tidur
saya mengalami pikiran bahwa saya adalah orang yang tidak berguna

Kawan…
Apakah yang anda alami, ketika Anda sedang kecewa?
Apakah anda kecewa…atau Anda mengalami konsep dari kecewa?
Jika Anda menjawab bahwa Anda kecewa…bagaimana Anda tahu bahwa itu adalah kekecewaan?

Dalam buku Mastery karangan George Leonard, salah satu hal yang saya dapatkan…
Bahwa saya pikir Mastery terbatas kepada seseorang yang sedang mengejar skill tertentu.
Katakanlah pelukis, ahli bela diri, programmer dll…

Namun kemudian saya mengalami pemikiran lain.
Pemikiran yang saya alami ini muncul setelah saya mengalami breakdown pagi ini.

Bahwa Mastery tidak terbatas kepada orang-orang yang saya sebutkan di atas.
Mastery sebagai sebuah jalan, melingkupi segala hal…
Melingkupi ketika saya mencuci piring…
Melingkupi ketika saya mengantarkan istri belanja…
Melingkupi segala aspek dalam hidup saya…

Bahkan menjalani hidup itu sendiri adalah sebuah Mastery, sebuah jalan untuk berlatih.
Karena berlatih…dalam jalan Mastery bukanlah kata kerja…namun sebuah kata benda…

Kemarin, di hari libur…saya berkomitmen untuk menghabiskan buku Mastery dalam 1 hari.
Di tengah2 saya membaca, entah dari mana datangnya…ada kadal kecil masuk ke dalam rumah.
Tahu kan kadal yg biasa ada di semak2 rimbun yang larinya cepat?

Walhasil, saya berusaha mengejar2 kadal itu lari kesana kemari.
Ke pojok lemari es, ke bawah lemari, ke kolong tempat tidur, bukan main susahnya…

Kegelian saya terhadap kadal tidak membantu sama sekali, malah memperpanjang proses penangkapan kadal tersebut.
Namun karena saya adalah satu2nya laki2 di rumah, mau tidak mau saya yang maju.

Di tengah2 kefrustrasian saya, saya mengalami pemikiran…
Arrgghhh… I just want to read a book…why this thing happened to me?
Why I can’t be alone enjoying this book…I just want to know what Mastery is…

Lalu saya teringat kata2 Ken Itoh, seorang Trainer Mastery Course dari Asiaworks
“Have what I have…”

George Leonard di bukunya juga berkata…
Bagi seseorang yang menapaki jalan Mastery, tdk ada “in between” semuanya adalah jalan untuk berlatih.

“Before enlightment, carry water and chop wood. After enlightment, carry water and chop wood”

Kebayang kan bagaimana seorang samurai yang mengeluh karena diberikan pertempuran yang menurut pikirannya gampang?

Berangkat dari situ saya mencoba menjalani nya dengan sepenuh hati…
Surrender…coming from nothing…
Beruntung, kadal itu akhirnya berhasir saya keluarkan.
Dengan menahan kegelian yang membuncah2 di dada…

My fellow traveler…
Di titik ini saya menyadari, bahwa di dalam kehidupan tidak ada yang perlu dicapai.
Karena ketika mencapai sesuatu hal, maka sesuatu itu akan lewat menjadi masa lalu.
Selanjutnya akan ada lagi sesuatu yang baru.
Jalan menuju mastery tidak akan pernah ada ujungnya.
Seumur hidup.

Di dalam relationship saya…saya mengalami kemajuan…kedataran…kemunduran…kebahagiaan…kekecewaan…
But that’s not the point…The point is…
Whether I want to continue the journey of Mastery in my relationship or not?
Am I willing to see my spouse as if I don’t know anything about her…or my mind is already full about my concept, prejudice, judgement about (I know) her?

Di dalam usaha saya…saya mengalami kemajuan…kemunduran…stagnasi…
But that’s not the point…
The real question is…
Am I willing to embrace it and continue learning in the journey of Mastery in my business or not?
To accept the stagnation, the profit loss, while continue to hone my business acumen…

Awan Rimbawan, [16.04.17 12:16] Di dalam keimanan saya…saya mengalami kemajuan…melakukan dosa…mengalami syukur dan kekecewaan…mengalami kemunduran…mengalami rasa datar2 saja…
But that’s not the point…
The real question is…
Am I willing to continue adding my knowledge about the essence of my religion?
Am I willing to do good things more and more good things after I committed a sin?
Am I willing to continue searching ways to become closer and closer to Him ?

The journey to Mastery it is a long long road…
There’s nothing to get…not there’s nothing to get…
The continuous process is what matters…
Continue to focus on the question instead on the answer.
Continue to let go what have been collected, in order to embrace new things that haven’t been understand.
Continue to use fool’s mind, instead of expert mind.

Itu sebabnya Jigoro Kano…pendiri Judo, di akhir hidupnya berwasiat kepada murid2 yang mengelilinginya.
Wasiatnya adalah agar dikubur menggunakan white belt (sabuk pemula).
Padahal dia adalah seorang guru martial art yang punya ratusan ribuan bahkan jutaan murid.
White belt bukan hanya cermin dari kerendahan hati.
Lebih dari itu, merupakan mindset bahwa dia adalah selamanya seorang yang tidak tahu apa-apa.
Karena ketidak tahuan nya itulah dia terus berlatih…mengeksplorasi…tanpa beban seorang ahli…tanpa beban pemikiran “I know”

Are you willing to wear your white belt?
Or do you prefer to protect your image as an expert and black belt owner?

*written with love by awan rimbawan
*feel free to share if you think this is going to be useful for other, no need to ask permission nor pay anything to me 😊🙏😊

Facebook Comments

No comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 + 7 =