Mengubah Malas menjadi Sukses – Kisah Pendiri Penerbit Jabal

April 28, 2017
Awan Rimbawan

Perkenalan saya dengan Kang Hendra Setiawan dimulai ketika saya mengikuti sebuah camp wirausaha. Kebetulan waktu itu saya kebagian menginap sekamar dengan beliau. Ketika saya menanyakan apa usahanya? Beliau bilang… pedagang kaki lima, jualan buku…

Saya tidak pernah menyangka bahwa itu adalah awal dari sebuah relationship yg membawa banyak pencerahan dalam hidup saya.

Tentu saja saya tidak begitu saya percaya bahwa Kang Hendra ini betul2 jualan buku di kaki lima. Pelan2 baru ketahuan siapa beliau…

Hendra Setiawan lahir tahun 77, pernah kuliah dobel di UGM jurusan akuntansi dan juga Unsoed manajemen. Pada saat kuliah menurutnya, beliau tergolong mahasiswa yg malas dan tukang tidur. IPK nya di UGM 2,0 dan di Unsoed 2,8. Namun perkenalannya dengan 2 organisasi membentuk perkembangan kepribadiannya.

Organisasi yang pertama adalah masjid. Sewaktu jadi mahasiswa, beliau tinggal di Masjid dan belajar banyak tentang pelayanan. Hal ini dikarenakan banyak orang yang datang ke masjid dan butuh bantuan. Pernah suatu keika ada orang yang mau nyari alamat, dan dibantu muter2 3 hari nyari kos2an. Eh kemudian diketahui bahwa motivasi orang ini pengen mengembalikan dompet dan ingin diberi imbalan. Di Masjid inilah PH belajar tentang membantu dan melayani orang lain secara ikhlas. Organisasi kedua yang berkontribusi di dirinya adalah HMI. Di sana PH belajar tentang kebebasan berpikir. Sampai saat ini masih sering bertemu dengan teman2 HMI dan juga tokoh2 besar yg pernah tergabung di dalamnya.

Karena ketika kuliah beliau menyadari bahwa dirinya adalah orangnya malas, jarang kuliah, dan tukang tidur, maka beliau merasa tidak cocok bekerja sebagai karyawan. Kemudian yang beliau lakukan adalah menciptakan sistem yg cocok dengan gayanya sendiri. Jadi mulailah beliau memulai berdagang. Dagang macem2 apa aja parfum, cendol, alat-alat tulis. Termasuk jualan pulpen di bis pernah beliau lakukan. Tahu kan orang2 yg jualan di bis, pidato dulu di depan dan pulpennya dibagi2kan?

Setelah lulus kuliah beliau mulai merintis usaha penerbitan. Rumus yg selalu dia pegang adalah: cari bisnis yg mensyaratkan dibayar secara cash oleh pembeli, dan jika membayar ke supplier juga cash, sukur2 ke supplier bisa mundur. Beliau berprunsip tidak pernah melakukan piutang, dan membayar secara cash.

Dengan rumus ini, keuangannya selalu sehat dan disukai oleh para supplierkarena selalu membayar dgn cash. Bisnisnya pun membesar sehingga Penerbit Jabal menjadi salah satu penerbit terkemuka untuk Al Quran dan juga buku-buku agama islam. Total Al Quran yang pernah dijual sudah menembus angka 1 juta.

Namun begitu beliau merasa bahwa pencapaian terbesar Jabal bukan di omset atau di penjualan, tetapi perusahaan senantiasa dalam kondisi yg sehat karena selalu membayar dengan cash dan tidak punya piutang.

Beliau menceritakan bahwa saat sekarang ini, cash is the king. Karena dengan adanya cash, maka sebuah perusahaan selalu bisa mempunyai posisi yg lebih menguntungkan dalam menentukan penawaran harga dari supplier. Perusahaan juga pastinya dalam kondisi yang sehat, karena memiliki cash segar untuk membiayai operasionalnya. Bahkan beliau mensharingkan tidak ada perusahaan yang bangkrut karena rugi… yg ada perusahaan bangkrut karena tidak punya cash untuk membiayai operasionalnya. Mungkin sudut pandang pencapaian ini, didapat karena background beliau yg mempelajari akuntansi. Beliau juga pernah mengikuti sertifikasi Islamic Financial Qualification yang diberikan oleh Farouk Abdullah Alwyni, mantan direktur bank muamalat.

Namun begitu perjalanan usaha tidak selalu mulus. Ketika sedang merintis bisnis baru yaitu travel umroh, beliau pernah tertipu sebesar 1,2 Milyar. Tentu saja itu bukan uang yang sedikit dan sempat membuat beliau galau selama 3 bulan. Momen kebangkitannya dimulai saat mengingat lagi apa yang paling membuat semangat dalam hidup saat ini, yaitu keluarga. Bukan hanya keluarga inti (anak/istri) tetapi juga ada anggota keluarga di luar keluarga inti yang mendapatkan manfaat dalam perjuangannya berusaha. Syukur alhamdulillah, kerugian itu tidak berdampak di bisnis penerbitannya. Bahkan kemudian malah bertambah asetnya. Seperti biasa pembelian aset pun dibayar secara cash.

Beliau berkata bahwa nasihat terbaik yg pernah didapat adalah… Differentiate or Die (Berbeda atau mati). Kang Hendra dapatkan itu di buku karangan Jack Trout. Dari situ beliau berpikir bahwa bisnisnya harus ada pembeda. Walaupun secara jujur mengatakan kalau ditanya apa perbedaan Jabal dengan penerbit lain, beliau berkata tidak tahu…tetapi mindset bahwa harus selalu berbeda itu selalu dipakai. Buku lain yang menginspirasi adalah The Road to Mecca, yang menceritakan tentang perjalanan hidup Mohammad Asad. Nilai yang menginspirasi dari buku itu adalah kebebasan untuk bertindak dan melakukan apa yang diinginkan dalam hidup.

Pak Hendra senang sekali menonton film perang dan autobiografi. Bahkan juga… main game tentang perang. Kalau main game perang bisa sampai di tegur istri karena habis isya main sampe subuh.. dan setelah subuh baru tidur. Setelah itu bangun, makan main lagi sampai tamat. Berhenti hanya kalau makan, sholat dan ke kamar mandi. Beliau mengungkapkan bahwa di game dan film perang terdapat strategi2 yang sangat beliau senangi. Nonton film tentang biography juga banyak memberikan pelajaran berharga di hidupnya.

Di akhir pertemuan, saya mengajukan pertanyaan imajiner…

Kalau Anda bangun di dunia yg baru, suasananya seperti bumi. Peradaban nya sama dengan saat ini. Namun Di sana tidak kenal siapa2 cuman ada uang 5jt dan laptop, apa yg mau dilakukan?

Beliau berkata dengan enteng….
– Laptopnya dikasihin ke orang yg membutuhkan.
– 2,5jt nya di infaq kan.
– 2,5jt sisanya dibuat menikmati hidup.

Kenapa bisa begitu? karena menurut beliau tidak ada jaminan besok masih hidup. Tidak ada jaminan besok bangun di dunia yg lain dan dapet laptop dan 5jt lagi. Juga tidak ada jaminan kalau engga ada duit engga bisa makan. Disamping itu tidak ada jaminan punya umur panjang.

Yang pasti adalah… sekarang ada laptop dan uang di tangan. Yang pasti adalah sekarang bisa bersedekah dan menikmati hidup yang diberikan.

Terus kalau ternyata umur masih ada dan duit sudah habis gimana? Yah tinggal kerja atau jualan apa gitu, jawabnya….

Sekali lagi, tidak ada jaminan bahwa kalau tidak ada uang tidak bisa makan…

Pandangan yang menarik, mungkin inilah nilai yang membuat bisnisnya membesar secara sehat. Bersedekah dan menikmati apa yang ada sekarang. Kalau tidak punya dan ada kebutuhan, ya simple saja…berusaha. Tidak heran yayasan yang didirikannya: Pondok Yatim Al Hilal juga berfungsi sebagai saluran kegiatan philantrophynya. Memiliki beberapa pondok yang tersebar di bandung dan juga ratusan anak yatim yang tinggal di dalam pondok dan juga di luar pondok.

Terima kasih atas ilmunya Kang Hendra dalam tiga kata, beliau ini adalah lowprofile, ikhlas dan philantropist. Pastinya akan menginspirasi banyak orang lagi… 🙏🙏🙏

*Made with love by Awan Rimbawan*

Facebook Comments

No comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 + 2 =