Apakah bisa jadi Freelancer tanpa skill?

August 05, 2012
Awan Rimbawan

“Apakah bisa jadi Freelancer tanpa skill apapun? Adakah trik walau tanpa skill tetap bisa menghasilkan dari job freelancer?”

Ini adalah salah satu pertanyaan yang saya dapat minggu ini.

Memang, ketiadaan skill kadang merupakan hambatan seseorang menjadi Freelancer. Tetapi selama kita yakin banyak jalan menuju Amsterdam, pasti ada cara untuk mengatasinya.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya akan mengambil perumpamaan dalam dunia bisnis.

Misalkan Anda akan berbisnis Handphone.

Hal pertama yang harus Anda lakukan adalah membeli Handphone untuk kemudian dijual kembali (kulakan). Tentu saja Anda tidak perlu membeli ratusan Handphone sebagai syarat untuk memulai berjualan. Anda bisa memulai dengan bermodalkan 1 buah HP.

Setelah anda punya HP maka langkah selanjutnya adalah mempromosikan dagangan Anda.

Kalau Anda memutuskan membuka kios HP di rumah, Anda harus promosi ke teman-teman, saudara, atau kenalan tentang bisnis baru Anda. Mungkin Anda akan membutuhkan iklan, flyer, baliho dan lain-lain sebagai media promosi.

Anda bisa juga menyewa kios di pusat perdagangan atau menyewa tempat dimana banyak orang mencari HP

Perumpamaan di atas bisa kita terapkan dalam dunia Freelance.

Saya rasa ada dua hal penting yang harus dimiliki oleh seorang Freelancer yaitu:

  1. Memiliki skill untuk dijual
  2. Bisa mengkomunikasikan skill yang dimilikinya

Untuk memiliki skill, anda butuh modal. Modal bisa berupa uang dan (atau) waktu. Uang  digunakan untuk membayar training, membeli buku, kursus, membayar mentor yang bisa menuntun Anda dll. Modal waktu dibutuhkan untuk proses pembelajaran agar skill tersebut bisa meresap. Jika Anda punya uang, maka waktu yang Anda butuhkan bisa relatif lebih singkat karena ada yang menuntun (buku,video,tutor,mentor). Jika tidak punya uang, Anda bisa belajar secara otodidak via internet.

Skill ini harus terus di update. Anda harus mau menyisihkan modal untuk mengupdate nya. Jika tidak, ini sama seperti punya toko HP tetapi ketika barang dagangan habis terjual Anda tidak kulakan lagi. Atau HP yang anda miliki sudah ketinggalan jaman, tidak ada orang lagi yang mau beli. Dalam kondisi seperti ini Anda harus belanja barang-barang baru yang bisa mengikuti trend saat ini.

Jika seorang Freelancer tidak mau mengupdate skill, resikonya dia akan “out of business”.

Memang ada pekerjaan-pekerjaan yang relatif tidak membutuhkan skill seperti Data Entry. Tetapi sifat pekerjaan low skill adalah bayarannya kecil, dan saingannya banyak (karena hampir semua orang bisa melakukannya).

Akan lebih baik jika Anda “kulakan” skill yang bagus dan banyak yang membutuhkan, sehingga Anda bisa menjualnya kembali dengan harga yang bagus.

Prinsip kedua adalah mampu mengkomunikasikan skill yang dimiliki.

Memiliki skill tidak semerta-merta membuat Client menghire Anda. Sama seperti punya toko HP di rumah tidak semerta-merta membuat pembeli datang. Dengan kemampuan mengkomunikasikan apa yang Anda miliki, maka penjualan pasti akan lebih tinggi lagi.

Hal ini yang kadang sering dilupakan oleh para Freelancer.

Ada beberapa pembaca buku  Panduan Praktis Jadi Freelancer di Odesk untuk Pemula yang skillnya bagus, tetapi belum pernah di hire di marketplace Freelance seperti oDesk atau Elance. Hal ini dikarenakan kurangnya kemampuan mengkomunikasikan skill yang dimiliki lewat Bidding Proposal.

Komunikasi pada dasarnya adalah seni mendengar. Untuk bisa menulis proposal bidding yang baik Anda harus bisa “mendengar” kebutuhan Client dalam sebuah Job Description. Hanya setelah Anda mengetahui kebutuhan dasarnya, maka Anda bisa menawarkan sesuatu yang tepat untuk Client.

Pada banyak kesempatan saya sering mengamati bahwa Client lebih memilih menghire Freelancer yang skill nya cukup namun komunikatif daripada Freelancer yang punya skill dewa tetapi tidak komunikatif.

Nah, kembali pada pertanyaan awal di tulisan ini.

“Apakah bisa jadi Freelancer tanpa skill?”

Saya lebih memilih untuk menjawabnya dengan mengubah pertanyaannya menjadi:

“Apa yang bisa saya lakukan untuk menjadi seorang Freelancer yang hebat?”

  1. Miliki sebuah skill.
  2. Belajar untuk mengkomunikasikan skill yang dimiliki.

Kuncinya disini adalah belajar sambil praktek. Anda tidak harus memiliki ratusan HP untuk bisa membuka toko HP. Anda bisa mulai dengan 1 buah HP dan kemudian menggunakan keuntungan yang di dapat untuk membeli HP-HP baru.

Sebenarnya ada trik jika Anda tidak punya skill, yaitu berpartner dengan orang yang punya skill. Tapi saya rasa team yang hebat terdiri dari orang-orang yang punya skill hebat dan saling melengkapi. Kalau Anda mau mengajak orang yang punya programming skill untuk menjadi partner Anda, maka Anda harus punya skill lain yang melengkapi skill nya. Mungkin skill marketing, mungkin skill graphic design, skill copy writing atau yang lain. Kalau Anda punya skill marketing tingkat internasional, partner Anda juga harus punya skill programming yang hebat. Jika tidak maka bisa jadi partnership Anda tidak akan berumur panjang.

So, how do you think?

Facebook Comments

22 Comments. Leave new

Ilham T Ardiananta
August 6, 2012 8:35 pm

itu kn masi ada skill.. bukan Tanpa skill.

Reply
Awan Rimbawan
August 6, 2012 9:49 pm

sepakat,
bisa share gimana cara apa yg digunakan buat dapetin skill nya gan?

Reply
Awan Rimbawan
August 6, 2012 10:38 pm

sepakat,
bisa share cara apa yg digunakan buat dapetin skill yg sekarang dimiliki gan?

Reply
Dhea Aditya Nugraha
August 6, 2012 9:13 pm

Umumnya tiap orang punya kelebihan & kekurangan, tapi bisa belajar sana sini, dari buku, liat tutorial, bongkar template. tapi…
Effort? Wajib! No pain no gain! 😀

Reply
Awan Rimbawan
August 6, 2012 9:49 pm

That’s a spirit!
dulu mulainya gimana gan? cerita dikit dong 🙂

Reply
Yola Ifliandry
August 7, 2012 12:35 am

iya gan dulu mulainya bagaimana ?

Reply
Dhea Aditya Nugraha
August 7, 2012 10:20 am

Cerita ngga yaaaa.. haha

Saya tau website freelance juga dari Pak @[1189758555:2048:Awan Rimbawan] waktu kuliah, beliau dulu sempat mengajar di kampus saya, karena tertarik dan penasaran, akhirnya nyoba juga daftar. Paling annoying pas bikin id pa*pal buat payment methodnya (dulu blm ada WT klw ga salah), verifikasinya bikin bingung(ga punya kartu kredit).

Sempet vakum juga di odesk, maklum mahasiswa tk akhir. Coba lagi aktif di odesk setelah lulus, kebetulan saya lebih tertarik ke bagian design & multimedia.
Liat job-nya aneh’, job deskripsinya “expert blah blah blah only”, kadang butuh contractor yang jam kerjanya udah 100++, feedbacknya harus 4-5 bintang.

Mau mulai udah ga pede, mau apply tapi syaratnya edun’an. Kadang suka mikir klw lagi ngelamun, “Di hire aja belom, gmn mau dpt feedback/jam kerja.” ::youdontsay::

Akhirnya coba belajar lagi, cari-cari info mulai dari forum, tutorial, bongkar template, sampai download video training + preset segala macem kalau diitung’ lebih dari 70GB, bagusin profil, banyakin porfolio, sampe belajar bikin cover letter yang bener. (makasih banyak buat buku panduannya, banyak yang bisa saya pelajarin).

Semuanya kerasa sekarang, sedikit demi sedikit udah dpt job walaupun fee nya kecil dan skill masih pas-pas’an. Tapi achievement nya itu loh, rasanya nikmat. Usaha yang dulu dilakuin kebayar ngga sia’.

Ini ceritaku, apa ceritamu? 😛

Reply
Awan Rimbawan
August 7, 2012 1:39 pm

Dhea, thank you for sharing with us 🙂

I believe new freelancer will benefit from your story and offcourse, the demonstration of your persistence!

odesk profile nya share jg dong bro.
sapa tau Yola atau yg lain bisa berkolaborasi 🙂

Reply
Dhea Aditya Nugraha
August 7, 2012 2:25 pm

You are most welcome,
sebenernya masih panjang ceritanya, tapi takutnya malah jadi novel 😀
https://www.odesk.com/users/~~f8353e23711507b7 <– profile odesk ku 😉

Reply
Awan Rimbawan
August 7, 2012 4:57 pm

mantaph profile nya,
teteuph ceumungudh menuju 1000usd yah!

panjangin aja Dhea, nanti klo dah jadi novel ane baca 😀

Reply
Dhea Aditya Nugraha
August 9, 2012 12:20 pm

Aminn..
hahaa, ngga ah. Nanti pada tidur bacanya 😛

Reply
Awan Rimbawan
August 9, 2012 4:50 pm

eits, tidurnya orang puasa kan berpahala *ga nyambung 😀

Udah punya blog blum? tulis di blog atuh, nanti kita link2an blog nya 🙂

Reply
Dhea Aditya Nugraha
August 9, 2012 6:06 pm

haha, bisa aja nih.
blm, pngnya siih punya. nanti coba bkin deh.

Reply
Yola Ifliandry
August 7, 2012 12:56 am

Gan admin, bagaimana cara mengetahui bahwa skill kita sudah layak jual, karena kadang untuk nge-bid di odesk suka ragu, mampu atau tidak menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Reply
Awan Rimbawan
August 7, 2012 1:39 pm

Thanks for the good question Yola 🙂

Untuk mengetahui skill layak jual ada dua cara:
1. Baca baik2 job description, kira2 apakah mampu mengerjakan? Kalau di rasa mampu, berarti skill nya sudah layak jual.
2. Cara yang lebih cepat, banyakin bidding. Kadang kita sendiri harus nge-push pembelajaran skill. Salah satu caranya adalah dengan punya klien, jadi dipaksa buat ngoprek 🙂

Coba share odesk profile nya jg dong.

Reply
Yola Ifliandry
August 9, 2012 4:51 am

baru mulai ikut test, percentile-nya masih rendah, susah ternyata testnya 🙁
https://www.odesk.com/users/~~7eeef03ca42f962d
portofolio seperti ini layak ditampilin di odesk gak Gan ? barisha-resources*com (semua dikerjain sendiri) .. mohon review & sarannya …

Reply
Awan Rimbawan
August 9, 2012 4:50 pm

komposisi warna nya udah bagus gan, untuk desain trend nya bisa disesuaikan dengan mengubah ujung lancip menjadi rounded.

Bisa juga cek2 di website macam ini buat liatin trend nya: http://www.hongkiat.com/blog/web-design-trend-2012/

Masukin aja di porto gan, sambil terus bikin yang lebih bagus lagi.

Udah ada blog blm gan?

Reply
Yola Ifliandry
August 10, 2012 12:22 am

terima kasih gan atas review dan sarannya ..
belum punya blog gan, bingung milih konsepnya apa ..
maunya bidang IT, tapi hobi ane malah baca2 buku motivasi ..
seperti NLP, EFT dan sejenisnya .. kalau bikin blog mengenai hal tersebut ..
apa masih bisa untuk menunjang karir freelancer (web developer) .. ?
lain jalur soalnya .. : )

Reply
Awan Rimbawan
August 10, 2012 7:26 am

hehe, klo bingung ga usah dipilih2 gan. dihajar aja langsung 😀

semua keinginan pada dasarnya adalah potensi yang ingin merealisasikan diri.

punya bidang2 lain itu bagus karena bakal memberi sudut pandang baru.

so, just do it, write whatever you want. write as many as you can to train your communication muscle.

ditunggu yah blog nya, nanti kita link2an 🙂

*ane jg suka baca2 materi motivasi kok, Jim Rohn, Anthony Robbins, Zig Ziglar, Seth Godin, Carol Dweck, Mihaly Mitchzelsky dll 😀

Reply
Dwi YuliYanto
August 7, 2012 5:51 pm

bener mas..kl saya ngerasa paling susah mengkomunikasikan skill yang dimiliki 🙁

Reply
Dwi YuliYanto
August 7, 2012 5:51 pm

Note “yaitu berpartner dengan orang yang punya skill. Tapi saya rasa team yang hebat terdiri dari orang-orang yang punya skill hebat dan saling melengkapi. Kalau Anda mau mengajak orang yang punya programming skill untuk menjadi partner Anda, maka Anda harus punya skill lain yang melengkapi skill nya. Mungkin skill marketing, mungkin skill graphic design, skill copy writing atau yang lain. “

Reply
Awan Rimbawan
August 7, 2012 8:50 pm

Mas Dwi,

Communication is just like muscle, you have to train it so that you can use it.

But the fact that you give comment here is a prove that you have intention to train your communication skill 🙂

Lebih bagus lagi kalau mulai latihan menulis Mas. Karena konon kabarnya, penulis yang baik itu adalah pembicara yang baik. Tetapi tidak sebaliknya.

Sudah ada blog?

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 + 1 =