Semuanya adalah energi

July 21, 2012
Awan Rimbawan

Kim memandang sepatunya. Bagian bawah sepatu yang terbuat dari bahan suede terasa licin di lantai panggung. Matanya kemudian bergerak mencari sikat kawat untuk digosokkan ke bagian bawah agar sepatunya punya cengkeraman yang baik di lantai kayu.

Tidak seperti biasa, Kim merasakan sesuatu yang berbeda di sesi latihan balet kali ini. Entah mengapa gerakan-gerakan rutin yang dilakukannya bukanlah lagi seperti berasal dari logika. Gerakan-gerakan itu muncul dari rasa. Kali ini dia bisa merasakan dengan jelas bagaimana putaran badannya selaras dengan musik, juga keterhubungan yang intens dengan rekan-rekan tim nya. Dia bisa merasakan ujung jari kaki yang menyentuh lantai seiring dengan perpindahan berat badan diikuti lambaian tangan dan lentik jarinya mengayun natural dalam sebuah gelombang yang indah.

Sesi latihan balet yang biasanya mekanis dan membosankan, kali ini terasa mengalir begitu saja.

Pada saat perjalanan pulang, badannya merasa penat namun inderanya segar luar biasa. Dalam kayuhan sepeda dia melihat lampu-lampu malam yang berbaris temaram di sisi kiri. Sinar putih-kuning yang cantik dibingkai lengkungan-lengkungan khas eropa.

Pohon-pohon yang tertiup angin, membuat semua daun-daun nya bergetar. Kim melihat semua getaran itu sebagai sebuah kesatuan yang merupakan kumpulan dari banyak hal yang berbeda. Gemerisik gesekan daunnya terdengar lewat telinga kiri, disaat yang sama telinga kanan nya juga mendengar bunyi kesiur angin yg membelai kepala nya. Kemudian pelan-pelan hilang.

Ada sebuah taman kecil yang dia lewati. Taman itu mempunyai kolam kecil dan air mancur yang muncul dari mulut empat patung naga. Malam itu, percikan suara air terasa begitu indah. Seolah-olah telinganya bisa menangkap setiap atom-atom air yang bertumbukan. Tiap tetes air itu bagaikan menyapanya…Hai hai… sambil tersenyum lebar-lebar seakan itu adalah senyum terakhir mereka sebelum musnah bergabung dengan kawan-kawannya.

Malam itu, Kim merasa bahwa semua adalah energi. Muncul, terasa dan hilang, berganti. Seperti riak air yang bergerak menyebar, jauh dan kemudian luruh menjadi substansi yang sama seperti semula. Substansi yang kemudian akan menciptakan dirinya kembali dan segala hal yang terlihat berbeda.

Facebook Comments

No comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 + 5 =