Review Communication Workshop – Mustofa Romdloni

April 29, 2018
Awan Rimbawan
TDA

Bruce Lee pernah berkata, saya tidak takut dengan orang yang tahu 1000 tendangan.
Saya takut dengan orang yang tahu 1 tendangan, namun berlatih 1000x

Begitulah saya memandang 8 Worskhop Series (8WS) yang dibawakan oleh Pak MR kemarin.

Di sesi-sesi awal, beliau mensharingkan hal-hal yang terkesan biasa banget dalam berkomunikasi.
Seperti contohnya:
– Jangan mengkritik/menjatuhkan orang lain apalagi di depan orang banyak.
– Sayangi diri sendiri
– Sayangi orang lain.
– Tertarik lah dengan tulus pada orang lain.

Hal-hal yang terkesan biasa inilah prinsip dasar dalam berkomunikasi.
Namun seringkali kita lupa karena ingin menonjolkan diri, pengen dianggap lebih, dan pengen membuktikan bahwa orang lain salah.

Prinsip ini sedikit, namun jika dilatih beribu2 kali… maka itulah yang dilakukan oleh Pak MR.
Ternyata beliau melatih prinsip2 ini selama lebih dari 8tahun sehingga mengakibatkan bisnisnya bisa naik ke kelas korporasi.

Insight yang lain yang saya dapat adalah: Standing Over the Shoulder of Giants.
Dengan berdiri di atas bahu para raksasa, maka kita akan bisa melihat lebih jauh.
Ketika raksasa itu berjalan, maka kita yang “ndemplok” di bahunya akan bisa berjalan lebih cepat dan menempuh jarak lebih panjang.

Inilah yang beliau lakukan ketika menghubungi partner2 potensial di luar negri untuk mau berpartner.

“Saya tahu perusahaan Anda adalah yang salah satu yg terbesar di (negaraxxx). Saya Mustofa Romdloni, siap menjadi partner bisnis Anda untuk sukses di Indonesia.”

Begitulah penggalan email yang menandai pertambahan perusahaan beliau dari bisnis trading ke bisnis manufaktur.

Berpartner, berkolaborasi, adalah koentji untuk menjadi besar.

“Gimana orang2 besar itu mau berpartner dengan kita?” tanya saya.

Beliau jawab… “Melevelkan diri”
Caranya adalah dengan terus meningkatkan kualitas diri, karena kita tidak tahu kapan partner itu akan muncul.
Salah satunya adalah dengan mengasah skill komunikasi kita.

Namun skill komunikasi itu ternyata bukan dimulai ketika ada orang lain.
Skill komunikasi itu dimulai bahkan ketika kita sendiri.

Berkomunikasi pada diri sendiri, memungkinkan kita untuk mengetahui apa kelebihan dan kekurangan kita.
If you know yourself and you know your enemy then you will win 1000 battles – kata Sun Tzu

Sesi siang workshop kemarin ada praktek yg membuat para peserta bisa “mengintip” tipe kepribadian masing2 (Koleris, Melankolis, Sanguinis, Plegmatis)
Tidak berhenti sampai di situ saja, beliau juga mensharingkan bagaimana aplikasi tipe kepribadian ini pada kasus2 bisnisnya.

Sebenarnya workshop dijadwalkan selesai 16.00
Tapi karena pas terpotong di “Teknik Negoisasi”, kami pun sudah terlanjur kepo.
Walhasil materi dilanjut sampai Maghrib.

Sesi negoisasi tersebut banyak contoh2 kasus yang dibabarkan.
Salah satunya adalah bagaimana menjalankan permainan yang cantik antara calon klien, kompetitor yg sudah melayani klien tersebut, dengan perusahaan kita yang ingin masuk.
Kisah cinta segitiga yang sebenarnya bisa dimainkan dengan indah untuk kemudian menghasilkan keseimbangan baru.
Hasilnya win-win, dengan perusahaan kita masuk di dalamnya. Dengan catatan: tahu prinsip dan cara bermainnya 😀

Saya tahu betul tantangan Pak MR yang dalam mensharingkan materi ini.
Sebagai praktisi beliau harus berpikir bagaimana mensummary kan pengalaman bertahun2 dengan kasus yg sedemikian banyak menjadi workshop 1 hari.
Oleh karena itu saya mafhum jika di awal2 workshop beliau menshare yang ringan2 dan fun.
Untuk kemudian semakin sore semakin panasss apalagi ditambah dengan pertanyaan2 dari peserta yang semakin menguak tabir2 “off the record” lainnya.
Tidak heran peserta workshop dari pagi sampai maghrib tidak ada yg goyah.
Bahkan setelah maghrib sesi masih berlanjut dengan pindah tempat di kuliner kebuli.
Mungkin ini bedanya orang yang sharing motivasinya untuk dibayar dibanding dengan sharing yang pengen liat orang lain maju dan berkembang.

Ah, begitu banyak mutiara yang saya temukan di workshop kemarin.
Mutiara yang sebelumnya saya anggap “batu biasa” karena saya cuman sekedar tahu luarnya saja.
Tetapi dengan contoh2 kasus yg pernah beliau alami, Pak MR telah menunjukkan bahwa batu itu kalau digosok (dilatih) bakal jadi mutiara.

Nah buat para suhu dan rekan2 seperjuangan yang kelewatan, ini ada beberapa buku referensi yg dibahas di workshop kemarin:
– The Art of Dealing with People
– How to Win Friends and Influence People
– Personality Plus
– All Marketer are Liars
– Blue Ocean

Tentu saja, buku2 ini tidak akan bisa menceritakan pengalaman praktis dari Pak MR.
Tapi paling tidak di sana ada prinsip2 yang mendasari gurita bisnis beliau.

Semoga next time kita bisa belajar bersama di acara2 berikutnya.
Dan kalau ada dirasa ada kebutuhan tentang sesuatu bidang bisnis (sales, marketing, finance, operasional,hrd, legal, dll), jangan ragu2 buat kontak EPIK.
EPIK akan berusaha mencarikan praktisi bisnis yang punya pengalaman agar kita bisa belajar untuk naik kelas bersama2.
Karena belajar sendirian gak asyik, enaknya rame2 😀

Salam,
Your Brother Awan Rimbawan
Pelayan di Div EPIK TDA Bandung

PS:
Special thanks buat Allah YME karena mengizinkan acara ini terlaksana.
Terima kasih buat Pak MR yang walaupun sudah bermacet2 ria 5 jam, namun masih sanggup ngisi materi sampai maghrib.
Terima kasih buat Tim EPIK yang bekerja di background. Tanpa pamrih berepot2 di tengah2 ngurusin bisnisnya masing2 bahkan fleksibel berimprovisasi menghadapi kondisi yg tak tak terduga. You are trully my inspiration: vicky fajar bagas ainy muji hendra ahmad . Om Brata yang udah bikin acara TDA jadi family friendly. Om Agung yg udah nunjukkin tempat nasi kebuli enak 😀 .
Terima kasih buat para suhu yg kemarin sudah datang dan melontarkan pertanyaan2 keren.
Terima kasih TDA Blitar dan TDA Tangerang yang udah jauh2 dateng buat acara ini.
Terima kasih buat pengurus yg full support banget banget banget buat acara ini.
Terima kasih buat penyumbang doorprize yang sama banyaknya dengan jumlah peserta 😀
Terima kasih… terima kasih… dan terima kasih…

Facebook Comments