Polyphasic – Rahasia Bisikan Ilahi

July 09, 2017
Awan Rimbawan

Bismillahirrahmanirrahim…
Dengan menyebut namaMu Ya Allah…

Sesungguhnya tidak ada ilmu yang tidak dariMu
aku tak memiliki apapun selain dari diriMU

Sehingga tidak ada yang bisa disombongkan…
Karena semua karenaMu…semua dariMu…

Semoga apa yang aku tulis ini bisa menjadi sarana penambah amalku…

Karena dosaku, maksiatku, khianatku, khilafku, jauh2 lebih banyak daripada amal baik ku… semoga engkau menerima usahaku Ya Allah…

Perkenalan saya dengan Polyphasic adalah di seputaran tahun 2012. Waktu itu entah bagaimana saya membaca sebuah artikel tentang itu. Kalau tidak salah di Wikipedia.

Polyphasic berarti terdiri dari dua atau lebih fase.

Selain Polyphasic, ada yang namanya Uniphasic atau satu fase.

Fase yang dimaksud di sini adalah fase tidur.

Jadi yang pada umumnya dipakai oleh orang-orang adalah satu fase tidur. Biasanya 8 jam atau lebih. Dilakukan di malam hari.

Sebelum berkenalan dengan konsep Polyphasic, di mindset saya sudah tertanam. Tidur itu ya harus 8 jam atau lebih. Kalau kurang dari itu, maka saya akan mengalami “kurang tidur” dan akhirnya tidak produktif.

Bahkan dulu…saya sempat ngobrol dengan sahabat saya Maria Virgini Claudya. Dia cerita tentang perjuangannya untuk kuliah di Belanda. Sewaktu s1 dagang macem2 barang, sampai kemudian akhirnya bisa kuliah Master di Belanda. Ketika ditanya apa rahasia pencapaiannya dia bilang…mengurangi tidur.

Waktu dengar itu, dalam pikiran saya tolak mentah2. Saya pikir badan saya membutuhkan tidur minimal 8 jam sehari (bahkan seringnya lebih) agar saya bisa beroperasi dengan normal sehari2.

Namun setelah mendengar teori tentang Polyphasic tersebut, ternyata ada cara lain. Cara yang bisa digunakan agar bisa tidur dengan efektif, namun tetap bisa produktif dan bertenaga di sepanjang hari.

Caranya adalah dengan membagi fase2 tidur. Salah satu profesi yang sering menggunakan Polyphasic adalah para tentara. Tentu saja di dalam kondisi perang mereka tidaktidak punya kemewahan untuk tidur dalam satu blok waktu yang panjang. Sebagai latihannya di kondisi damaipun mereka tetap melatih ini.

Terbukti bahwa tentara itu tetap bisa beroperasi dan membela negara dengan stamina prima walaupun tidak bisa tidur dalam blok panjang tersebut.

Praktek pertama kali saya dengan Polyphasic, saya terapkan bersama istri tercinta Dwi Fitrianty Kurnia.

Waktu itu kami sedang mengejar2 berbagai mode transportasi murah. Maklum pengantin baru yg terpisah 6 bulan trus ngotot pengen honeymoon ya harus pinter2 mengatur budget backpacker. Tentu saja transportasi yang murah2 tersedia di jam2 yang tidak normal karena jarang peminat.

Mode Polyphasic yang kami lakukan adalah bergantian tidur dalam fase2 pendek 15-30 menit. Sambil berjaga2 gantian tasnya.

Perjalanan murah backpackeran itu pun terlaksana sepanjang Arnhem – Belgia – Bratislava – Prague dan kota2 lainnya sampai kembali ke Amsterdam.

Belakangan saya baru mengetahui bahwa Polyphasic ini diterapkan juga oleh orang2 besar seperti Einstein, Nikola Tesla, Buckminster Fuller, Kennedy, dll…

Ada sebuah artikel yang saya baca bahwa Polyphasic dapat menstimulus inspirasi2 yang efektif digunakan sebagai problem solving.

Teknik Polyphasic bisa bermacam2, bersebaran teorinya di internet. Namun yang saya gunakan sekarang simple saja. Tidur malam 4-5 jam dan tidur siang 1 sesi selama 20 menit.

Atau alternatif lainnya 4jam malam, 15′ sebelum dhuhur dan 15′ sebelum Ashar.

Eksperimen yg saya lakukan, tidur 15′ – 20′ di siang hari bisa mengembalikan kesegaran badan dan fikiran.

Ada beberapa artikel yang menyebutkan bahwa 20′ merupakan waktu yang cukup untuk membawa otak masuk ke fase REM (rapid eye movement) atau Slow Wave Sleep. Pada fase inilah otak bisa beristirahat dengan baik, sehingga ketika bangun badan menjadi segar.

Dalam sebuah teori Polyphasic juga disebutkan bahwa tidur Uniphasic yang 8jam lebih itu, sebenarnya hanya 4jam yang dibutuhkan oleh tubuh. Selebihnya adalah tidur yang kurang efektif. Bisa jadi ditandai dengan tubuh yang masih terasa lelah ketika bangun.

Manusia adalah “creature of habit”. Selepas dari perkenalan awal saya, saya sempat kembali ke Uniphasic dalam waktu yang lama. Bahkan cenderung berlebihan tidurnya…bisa lebih dari 9jam.

Pada saat2 itu, ndak pernah Tahajud bahkan Subuhan juga bernuansa Dluha. Ingin kembali bisa bangun Subuh berat sekali rasanya.

Di masa2 itu saya merasakan swing mood mudah sekali terjadi. Merasa bersemangat di momen tertentu namun berganti kecewa karena hal2 kecil. Pikiran bingung, punya banyak rencana tp tidak ada yang dijalankan. Susah untuk fokus. Sering terjebak ke dalam victim mode dan merasa bahwa sesuatu terjadi karena salah kondisi/orang lain kemudian merasa saya tidak bisa melakukan apa2.

Perlu niat dan effort yang besar untuk mengganti dengan kebiasaan Polyphasic.

Begitu berganti kepada Polyphasic dan melakukan Tahajud yang saya rasakan pikiran lebih damai. Banyak inspirasi2 baru yang bisa difollow up. Lebih mudah untuk fokus. Dipertemukan dengan orang2 baik dan diberikan kekuatan mental yang lebih baik.

Berganti kebiasaan memang sulit, tp hal itu mungkin untuk dilakukan.

Kalau dari contoh dan anjuran, jelas2 Rasullullah menganjurkan bangun di malam hari. Jadi teori Polyphasic ini sebenarnya sudah dianjurkan oleh beliau. Ketika diterapkan maka jadilah orang2 yang penuh inspirasi dan jenius seperti Einstein, Nikola Tesla, Buckminster Fuller, dll…

Bahkan kemarin… saya nonton film “Rudi Habibie”, ada satu scene di mana beliau cari kamar yang mau ditinggali di Aachen Jerman. Muter2 tidak ada yang bisa menampung. Sampai akhirnya ketemu kamar yang kecil dan kurang ideal.

Pak Habibie kemudian dikasih tau sama yang mengantar… “Kamu tidak harus tinggal di sini, kalau tidak nyaman kita bisa cari tempat lain”

Lalu Pak Habibie, berkata… “Tidak perlu, saya hanya tidur 4 jam semalam”

Orang yang malamnya hanya tidur 4 jam, saya asumsikan bahwa siangnya pasti ada sesi tidurnya. So he too, Polyphasic.

Mungkin itu salah satu rahasia kejeniusan dan kesuksesan beliau menjadi seorang teknokrat yang bisa melakukan problem solving untuk masalah2 yang berat sekalipun.

Jadi temen2… buat yang khawatir bangun malam bisa menyebabkan siangnya tidak efektif…bisa dicoba cara ini.

Insya Allah hidupnya jadi lebih berkah, diberikan kekuatan dan inspirasi menghadapi berbagai permasalahan hidup ditambah dengan kedamaian pikiran ditengah badai.

Bisa jadi solusi dari masalah kita simple… ada di depan mata… tp karena pikiran yang kemrungsung jadi tidak terlihat…

Nah itu experienceku…kalau kamu gimana?

Your brother,
Awan Rimbawan

Facebook Comments

No comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 + 1 =