Politik dan Nurani Pelayanan

July 06, 2012
Awan Rimbawan

Saya bukan tipe orang yang gemar mendengarkan perbincangan tentang politik. Kalau ada acara-acara diskusi di politik di televisi, pasti saya ganti. . Kenapa? Karena saya pikir kondisi perpolitikan di Indonesia penuh dengan permainan dan kecurangan. Pemimpin-pemimpin politik hanya bisa ngomong, diskusi tanpa ada solusi yang nyata.

Beda dengan sahabat saya Agung Widyangga yang sejak jaman kuliah suka sekali ngomong tentang politik. Dulu jika dia berbicara tentang politik saya cuman mendengarkan tanpa ada antusiasme untuk mengubahnya menjadi sebuah diskusi.

Namun beberapa hari ini saya menghabiskan banyak waktu di Youtube untuk mendengarkan omongan-omongan berbau politik.

Awalnya ketika saya tidak sengaja menemukan link video di profil Izman, partner latihan Taichi saya dulu di Binus. Video itu berjudul: Kelemahan dan Kegagalan Jokowi.

Di video ini, ada seorang lelaki yang berdiri di atas sebuah panggung besar dan berbicara dengan bahasa tubuh seperti orang grogi. Dalam batin saya: Pantesan gagal wong cara ngomong saja seperti orang kebingungan gitu.

Coba Anda lihat sendiri:

Tetapi ada sesuatu yang membuat saya tertarik sehingga tidak hanya menonton habis video itu, tetapi berlanjut sampai Part 2 dan Part 3 nya.

Saya tidak hanya terpesona dengan solusi-solusi yang diimplementasikan oleh (mantan) Walikota Solo ini. Tetapi lebih dari itu, saya terpesona oleh kesederhanaan sikap dan kebersahajaan beliau.

Video ini adalah awal dari rangkaian video-video lain dimana saya belajar banyak hal tentang konsep pemimpin sebagai pelayan. Tentang Fokus. Tentang bagaimana memanusiakan manusia.

Ketika di wawancara di Mata Najwa, saya baru mendengar ada balon penguasa yang mengatakan dirinya adalah semut. Yang malu-malu ketika ditanya apakah betul dia tidak pernah mengambil gaji dalam dua kali masa jabatannya (bukan dua bulan, tapi dua kali masa jabatan = 7 tahun). Yang tetap tenang ketika dicecar dengan pertanyaan-pertanyaan Najwa yang mencoba menyudutkan. Yang cita-cita nya sederhana: jadi tukang kayu.

Saya masih buta tentang politik, tetapi dari video-video di Youtube beberapa hari terakhir ini saya tidak lagi alergi terhadapnya. Politik, sama seperti hal-hal yang lain bisa jadi pedang bermata dua yang bisa digunakan untuk kebaikan maupun kejahatan. Bahkan saya belajar banyak tentang filosofi hidup dan hubungan antar manusia untuk melayani dan memberi manfaat sebesar-besarnya bagi kehidupan.

Wakil Jokowi, Ahok pun seorang yang punya “theme” sama. Seorang yang muncul dari nurani karena didikan ayahnya yang suka membantu orang. Filosofi nya dalam berpolitik adalah: Jika saya punya uang 1 milyar dan saya ingin membantu 500rb untuk tiap kepala keluarga, maka saya akan bisa membantu 2000 kk. Tetapi jika saya menjadi Bupati maka saya punya 300 milyar uang negara untuk membantu lebih banyak lagi kepala keluarga.

Berikut video Ahok di Q TV:

Dan kritiknya yang cerdas dan berani di DPR:

Saya baru melihat satu pasangan Cagub DKI Jakarta, dan ini juga bukan alat kampanye pasangan Jokowi-Ahok.

Saya hanya orang yang merasa tercerahkan ketika melihat paparan beliau-beliau ini. Jika Anda kebetulan menemukan pasangan yang lebih baik dari Jokowi-Ahok, pilihlah mereka. Seperti Ahok bilang di salah program televisi: Semua calon baik, tinggal kita berlomba-lomba dengan program-program kreatif untuk menuntaskan masalah yg ada di Jakarta.

Walaupun saat ini saya jauh dari Jakarta, tetapi saya juga ingin ketika saya nanti menyambangi kota itu saya tidak lagi di  sambut dengan macet atau banjir.

Siapapun nanti yang terpilih, paling tidak saya telah belajar satu hal yang penting dari pasangan Jokowi-Ahok:

Jika pemimpin mempunyai nurani pelayanan, maka politik bukanlah alat untuk berkuasa tetapi sebuah cara untuk mensejahterakan sebanyak mungkin manusia.

*hmm…kalau ada pengusaha eksportir yang sukses jadi pejabat…bisa jadi di masa depan  nanti  ada pengusaha IT yang bakal maju jadi pejabat. Mungkin sahabat saya Agung Widyangga yang sekarang mengelola PT Neuronworks suatu saat akan terpanggil untuk mengikuti jejak Jokowi – Ahok 😉

Facebook Comments

6 Comments. Leave new

Pertanyaannya kalo selama 7 tahun tidak mengambil gaji, lalu darimana ya pa jokowi bisa menghidupi keluarganya? bagaimana juga dengan
http://www.tempo.co/read/news/2012/06/06/228408617/Mengapa-Kekayaan-Jokowi-Meningkat-Dibanding-2010

Reply

Hi Qlight, terima kasih sudah berpartisipasi dalam diskusi ini.

Saya punya banyak teman dari komunitas TDA (Tangan Di Atas) yang berbisnis dengan prinsip: usaha jalan, orang nya jalan2.

Teman-teman saya ini sudah berkecimpung di dunia bisnis beberapa lama, dan bisa membuat sistem bisnis dimana dirinya tidak lagi menjadi bagian dari bisnis tersebut.

Saya kira dengan pengalaman sebagai pebisnis eksportir selama 23 tahun, adalah mungkin untuk membuat sistem bisnis dimana seseorang tidak lagi menjadi bagian dari sistem. Passive income ini yang kemudian membuat seseorang bisa melakukan hal2 lain selain mengurusi bisnisnya, namun keluarganya tetap bisa menghidupi.

Tentang kenaikan kekayaan, adalah mungkin sekali bagi seorang pengusaha mendapatkan lonjakan keuntungan alias laba besar dalam berbisnis.

Misalnya jika menemukan jalur marketing baru, atau membuka pasar baru yang cukup sukses.

Yang saya bingung justru lonjakan kenaikan kekayaan seseorang yang notabene bekerja sebagai PNS. Karena setahu saya, jarang sekali ada gaji yang bisa naik menjadi 100% di tahun berikutnya.

Namun sekali lagi, jawaban di atas merupakan asumsi dari kacamata saya yang banyak bergaul di dunia bisnis.

Mengenai pastinya bagaimana, hanya Pak Jokowi sendiri yang mengetahui kebenarannya.

Terima kasih atas pertanyaan kritis Anda, dan jika ada sudut pandang lain monggo silahkan di share.

Oh ya, jika ada program2 bagus dari calon yang lain, silahkan di share juga.

Semoga bisa jadi diskusi yang bisa memperkaya khasanah intelektual kita 🙂

Reply

he..he.h.ehe.. nyebut2 nama, Sebenarnya politik cuma sebuah bidang.. makanya di tiap universitas ada. Betul politik bagaikan sebuah pisau, tergantung siapa yg menggunakannya pembunuh, perampok atau juru masak 😀

Kenapa kita orang biasa harus tau politik atau tepatnya perkembangan politik tanah air atau miinimal daerah kita (sebut kabupaten), krn yg saudara Awan bilang :
Walaupun saat ini saya jauh dari Jakarta, tetapi saya juga ingin ketika saya nanti menyambangi kota itu saya tidak lagi di sambut dengan macet atau banjir.

Intinya seperti itu. 1 suara tapi bermakna, apalagi klo ikut menyuarakan berdasarkan data n fakta yg menjadi landasan kita.

Reply

Hallo Ngga 🙂

Lama gak denger obrolan mu tentang politik, jadi teringat2 🙂

Sepakat kali ini. Terus terang video-video ini banyak mengubah persepsiku tentang politik. Masih ada harapan 😉

Reply

oh yah.. NeuronWorks-nya bukan “W”nya besar.. krn artinya neuron n worksnya sudah menyatu menjadi sebuah kesatuan cara bekerja… yaitu Neuronworks.
gitu..

Reply

edited bro, sorry for the typho 🙂

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 + 3 =