Pelajaran Dari 2 Musisi Yang Didepak Dari 2 Band Besar

May 29, 2018
Awan Rimbawan

Konon pada suatu saat ada seorang pemain gitar bernama DM.
Dia tergabung ke dalam sebuah band yang baru mulai naik daun.
Mereka mulai mendapatkan perhatian dari komunitas musik dan sedang memulai tour di kota2 lain.

Namun ketika manggung di sebuah kota, DM dipanggil oleh teman2 satu band nya.
Mereka bilang: “DM, mulai dari sekarang kamu dikeluarkan dari band ini. Kamu bukan lagi anggota band ini”

DM pun bingung dan shock.

Dia pulang ke kota asalnya kebingungan, tidak mengerti apa yang terjadi.
Dalam perasaan frustrasi dan kecewa, dia pun bertekad untuk membuat band baru yg lebih hebat dari band sebelumnya.

Selanjutnya hari2nya dipenuhi dengan latihan keras, siang dan malam.
Lalu dia cari orang2 yang jago2 musik untuk diajak bergabung ke band barunya.
Dia salurkan kemarahan, frustrasi dan ambisinya lewat lagu2 barunya.

Dia terus lakukan hal itu siang dan malam.
Tujuannya adalah untuk mencapai ketenaran dan mengalahkan band lamanya.

Setelah puluhan tahun, kerja kerasnya membuahkan hasil.

Dia berhasil mencapai ketenaran yang dia idam2kan.
Band nya berhasil menjual 25juta copy.
Nama lengkap dari DM adalah Dave Mustaine , gitaris pemrakarsa berdirinya band Megadeth.
Megadeth dianggap sebagai band terbaik di genre Heavy Metal.
Dave Mustaine sendiri dianggap sebagai musisi yg sangat brilian dan berpengaruh di genre tersebut.

Trus gimana kabarnya band lamanya?

Nah, band lama yang mengeluarkan Mustaine bernama… Metallica.
di saat Megadeth berhasil menjual 25 juta copy, Metallica sudah menjual 180 juta copy.
Metallica sering dianggap sebagai Band Rock paling sukses sepanjang sejarah.

Pada tahun 2003, dalam sebuah interview terungkap pernyataan yg sangat menyedihkan.
Terlepas dari nama besar Megadeth dan pencapaiannya, Dave Mustaine masih menganggap dirinya sebagai orang yg gagal.
Di dalam benaknya, dia masih menganggap dirinya sebagai orang yang didepak dari Metallica.

Kita simpan kisah Mustaine, dan kemudian kita coba lihat cerita yang senada.

Ini adalah seorang musisi berinisial PB.

PB adalah drummer dalam sebuah band yang juga sedang naik daun.
Menurut para fans wanita-nya, PB ini yg paling ganteng diantara ke empat anggota band tersebut.
Bahkan wajahnyalah yg muncul di majalah2 ketika band ini mulai dilirik media cetak.
PB juga yang paling professional diantara anggota band lainnya.
Dia tidak menggunakan obat2an terlarang, dan punya pacar tetap.

Tepat tiga hari sebelum peluncuran album pertama, tiba2 PB dipanggil oleh manajernya.
Manajernya bilang, “Kamu dikeluarkan dari band ini”
PB pun bingung, “Kenapa…apa salah saya?”
Manajernya tidak mengatakan alasan apapun, selain bilang bahwa anggota member yg lain ingin dia keluar.

PB pun meninggalkan band tersebut dengan hati remuk dan kecewa.

Sepeninggalan PB, band itu meroket drastis.
Terkenal dengan gaya potongan rambut unik yang kemudian membuat demam generasi pada era 60an dengan potongan rambut poni mereka.
Hasil karya2 band ini melegenda dan mempengaruhi banyak musisi sampai dengan sekarang.

Anda pasti sudah bisa menebak siapa band ini?

Ya, inilah “The Beatles”
nama lengkap PB adalah Pete Best, drummer pertama The Beatles sebelum digantikan oleh Ringo Starr

Apa yang terjadi dengan Pete setelah dikeluarkan dari The Beatles?

Dia pun tenggelam dalam minum2an keras dan mengalami depresi.
Dia kecewa dan frustrasi melihat band lama nya mencapai ketenaran yang tidak pernah dibayangkan oleh band2 lainnya.

Namun lambat laun… dia mulai bangkit lagi…
Tetapi kebangkitannya tidak dilandasi oleh semangat membalas dendam seperi Dave Mustaine.
Kebangkitannya karena dia menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada ketenaran dan uang.

Pada awal 90-an dalam sebuah wawancara dia berkata…
“Sepertinya saya lebih bahagia saat ini dibanding jika saya tetap di The Beatles”

Loh kok bisa?

Ternyata setelah melewati masa2 depresinya, dia bertemu dengan wanita yg jadi istrinya.
Kemudian dia menikah, punya anak dan membina keluarganya.

Nilai2 yg dia kejar pun berubah.
Ketenaran dan uang memang menyenangkan, tetapi dia memutuskan bahwa ada yang lebih penting dari itu semua:
Keluarga yang saling mencintai,
kehidupan pernikahan yang harmonis,
kebahagiaan dalam hidup sederhana.

Sesuatu yang tidak dimiliki oleh personel Beatles yg lain, bahkan sampai akhir hayat mereka.

Dave Mustaine dan Pete Best sama2 dikeluarkan dari band yang kemudian sukses luar biasa.
Tetapi mereka kemudian memilih respon yg berbeda.

Efeknya…walaupun pencapaian duniawi Dave Mustaine jauh melebihi Pete Best, namun kondisi batin mereka sangat berbeda.
Dave Mustaine menganggap dirinya orang gagal walau telah menjual 25juta album dan berpengaruh di dunia musik.
Sementara Pete Best merasa sangat bahagia walau pencapaian di dunia musiknya jauh lebih kecil daripada Dave Mustaine.

Standar kesuksesan Mustaine adalah sesuatu yg eksternal di luar diri (ketenaran, penjualan album, mengalahkan band lamanya)
Pete merubah standar kesuksesan nya menjadi sesuatu yg internal di dalam diri (relationship, happiness, appreciation of simple life)

Saya rasa ada sebuah pelajaran berharga yg bisa diambil ke dalam dunia usaha.

Bahwa ketika saya sebagai pengusaha terlalu berfokus standar kesuksesan eksternal, maka bisa jadi saya akan menempuh jalan seperti Dave Mustaine.
“Saya sukses kalau saya sudah mendapat omset sekian.”
“Saya sukses kalau saya sudah bisa mempunyai rumah mewah, tas branded, mobil terbaru,dll.”
“Saya sukses kalau bisnis saya sudah lebih gede dari bisnis teman saya.”
“Saya sukses kalau sudah membuktikan pada keluarga saya tentang pencapaian saya.”

Jika begitu ceritanya, maka bisa jadi puluhan tahun kedepan hidup saya dipenuhi dengan dengan kepahitan dan cap bahwa saya tidak sukses.
Hanya karena ada parameter eksternal kesuksesan yang belum saya capai.
Parameter kesuksesan eksternal yg saya buat sendiri.

Padahal ada hal2 lain yg lebih penting dan bersifat internal.
Relationship, kebermanfaatan, banyak kawan dan saudara… yang ternyata membuat hidup jadi lebih indah.

Beruntungnya saya nemu komunitas yang nggak melulu ngomongin bagaimana menggapai pencapaian eksternal tetapi juga mementingkan latihan nilai2 internal.
Silaturahmi, learning, grow together, sharing…

Nggak perlu nunggu super duper kaya dulu buat berbagi.
Yang bisa berbagi 1jt ya silahkan, yg bisa berbagi 250rb ya silahkan.

Kalau belum ada kelonggaran dana, bisa berbagi tenaga.
Bahkan berbagi waktu untuk sekedar datang dan meramaikan.

Karena pada akhirnya kebahagiaan ternyata muncul bukan dari seberapa banyak saya menerima, tetapi seberapa sering saya memberi…

Apalagi aksi2 berbagi secara sosial ini sering banget diadakan oleh TDA Bandung.

Ada yang kebanjiran, cepet bergerak.
Ada yang sakit, buru2 nengokin.
Ditambah lagi kegiatan2 yang peduli sama penduduk2 marjinal yang jauh dari keramaian…

Kegiatan2 sosial TDA, ternyata setelah saya ikuti… di sana ada nilai2 internal yang membuat hidup lebih bahagia dan bermakna.

Oleh karena itu, yuk hari Senin besok kita bareng2 meluangkan waktu.
Bersama2 bareng sedulur2 di TDA kita melakukan kegiatan sosial.

Sementara kita tinggalkan dulu kejar2an hal2 yg bersifat material dan eksternal.
Kita copot dulu gengsi-gengsi yg membatasi persaudaraan.
Tidak ada yang usahanya lebih berhasil, tidak ada yg bisnisnya masih kecil.
Yang ada adalah kita bersama2 menebar manfaat, di tempat di mana banyak orang enggan mendatangi…

See you next Monday, brother/sister 🙂

Facebook Comments

No comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 + 6 =