Mukernas TDA Bali – History Wakaf ACT

July 29, 2017
Awan Rimbawan

Assalamualaikum brother and sister, para suhu dan rekan2 seperdjoeangan…

Pingin share sedikit oleh2 dari Bali boleh?

Kemarin ane ikut ke acara Mukernas TDA 5.0 mengiringi suhu2 dan pembesar TDA bandung.

Sebenarnya ketika pertama diajak untuk datang di acara ini, ane masih ragu2 buat berangkat.

Soalnya kondisi cashflow belum dianggarkan, trus juga belum tahu itu acara isinya apa dan apa peran ane di sana.
Jangan2 cuman jadi pendengar aja gak mudeng yg di depan ngomong apa.

Tapi salah satu suhu ane pernah ngomong gini… “Fly with eagle, then you will become an eagle”

Ane ngebayangin pastinya di sana gak hanya bakal ketemu “eagle” tapi banyak Garuda2 jumbo size yang pastinya bisa nularin pencerahan kepada newbie cupu seperti ane ini…

Then what I experience in Bali during Mukernas moment…was beyond my wildest imagination…

Yang jadi catatan pertama kali adalah pemaparan dari temen2 Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Ane sudah sering dengar tentang ACT, aksi sosialnya ada di mana2.
Selalu jadi salah satu dari pionir dalam bencana2 yang terjadi di nasional.

Tapi ACT hadir di acara usaha? what’s the correlation?

Apalagi masuknya ada di sesi berkaitan dengan Permadani.
Permadani sendiri adalah sebuah ide permodalan dari TDA yang akan dikucurkan buat pengusaha2 yang membutuhkan dana.
Diatur secara syariah dan tanpa bunga tentunya.

Sumber dana dari Permadani ini adalah dari para anggota yang “kelebihan dana”, dan selain itu tak disangka2… juga dari ACT.

Kok bisa organisasi sosial seperti ACT mengucurkan dana permodalan?

Di awal presentasinya, ACT bercerita tentang history wakaf.
Dan ane sebagai seorang abangan, cuman tahunya wakaf itu ya tanah, atau duit.

Namun di situ diceritakan bahwa ternyata history wakaf pertama kali bukan tanah atau uang, tetapi aset produktif yaitu kebun kurma.
Kebun yang masih produktif, dan terus menerus menghasilkan.
Hasilnya itulah yang digunakan untuk kepentingan umat.

Mengadopsi konsep ini, ACT melakukan hal serupa.
Mereka membuat program bernama wakaf saham.
Kepemilikan perusahaanlah yang diwakafkan.
Sehingga setiap tahun dalam pembagian laba perusahaan, akan ada bagian yang bisa digunakan oleh kegiatan sosial.

ACT dalam hal ini bukanlah sebagai pemilik saham yang diwakafkan, tetapi hanya sebagai wakil(nazhir).
Pemilik sahamnya siapa? Allah.
Saham itu akan jadi harta wakaf yang tidak boleh di jual, diwariskan ataupun dibeli oleh orang lain.
Keren gak sih kalau ada Allah dalam board of commissioner kita.
Ketika kita buntu dalam usaha, kita bisa curhat sama Dia kapanpun dimanapun 😉

Pada presentasi tersebut ACT juga menceritakan sesuatu yang makjleb banget.
Kita kerja banting tulang, kepala pusing mikirin bisnis… percuma kalau anak2 kita engga jadi anak soleh.
Percuma kalau mereka tidak bisa mendoakan kita ketika kita meninggal.
Karena itulah salah satu passive pahala yang sesungguhnya.
Bisnis juga seperti itu, kalau bisnis yang sahamnya diwakafkan bisa terus berjalan… maka sepanjang umur bisnis itu, akan ada pahala kebaikan yang mengalir…

Kebetulan yang presentasi dari ACT adalah seorang pengusaha di bidang property.
Contoh teknisnya seperti ini…
Beliau mencari tanah2 yang kurang produktif.
Misal nilai tanah 50Milyar tp hanya menghasilkan 200jt per tahun.
Karena hanya digunakan sebagai kos2an sederhana.
Sedangkan di kanan kirinya sudah berdiri kantor2 dan apartemen.

Maka di tanah itu bisa dibangunkan sebuah aset usaha berupa gedung perkantoran.
Setelah bangunannya diperbaiki, maka aset tersebut bakal lebih produktif.
Mungkin bisa menghasilkan 5M pertahun.
Nah dari pertambahan keuntungan tersebut pada RUPS bisa dibagi menjadi laba ditahan dan deviden.
Deviden dari saham yang diwakafkan itu yang nantinya dibagikan kepada kegiatan sosial.
Pemilik tanah untung lebih banyak.
Ummat juga diuntungkan.

Konsep inilah yang membuat ACT bisa menyalurkan berbagai bantuan.
Beberapa diantaranya adalah membangun sekolah di tepian negri:

Kapal kemanusiaan ke afrika:

Mengharukan sekali mendengarkan contoh nyata, bagaimana bisnis dan kegiatan kemanusiaan bisa dikolaborasikan.
Untuk seluas2nya kebaikan di dunia…

Lalu di pojok kiri ruang pertemuan, sambil merasakan bulir2 bening yang menetes dari mata, saya teringat Doa nabi sulaiman:

“Ya Tuhanku, ampunilah aku…
serta anugerahkan kepadaku kerajaan yang tidak dipunyai oleh seorang juapun sesudahku,
sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi”
(QS: Shaad 35)

Pertama kali mendengar doa ini terasa aneh… kok seorang nabi besar memintanya fokus ke dunia.

Namun setelah ditelaah lebih jauh… kuncinya ada di bagian awal doa tersebut…
“ampunilah aku”

Nabi Sulaiman tahu… manusia hanya punya sekian tahun saja untuk hidup…
Jika beristighfar tiap hari, hanya sebatas hidup sajalah bisa minta ampun…

Namun jika diberikan kerajaan yang luar biasa…
Maka kerajaan itu bisa menjadi amal jariyah, yang pahalanya tidak putus2 bahkan setelah orang nya meninggal jauhpun.
Semakin besar kerajaan itu, semakin besar potensi dia bisa bertahan lama memberikan passive pahala.

“yang tidak dipunyai oleh seorang juapun sesudahku” mungkin berkaitan dengan talent yang beliau miliki…

Talent nya sebagai orang yang sanggup mengatur dengan baik sumberdaya2 yang melimpah dan mengarahkannya kepada yang paling membutuhkan.
Talent untuk membuat sistem sehingga kerajaannya bukan hanya menghasilkan tetapi juga self sustain tanpa keberadaan dirinya.

Kita di sini dalam sebuah alur kehidupan, tidak pernah tanpa sebab.
Pasti ada maksud Allah, kenapa kita ada di profesi kita sekarang.

Semoga… kita semua, diberikan kemampuan, kebijaksanaan, ketenangan, untuk mengusahakan dan menerima “kerajaan yang luar biasa” untuk kemudian mengatur dan mengarahkannya kepada kebaikan…Amin…amin…amin…

Your brother,
Awan.
Newbie di divisi edukasi TDA bandung
28 July 04:00 Cozy Hotel, Denpasar

Facebook Comments

No comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 + 3 =