Mindset saat ga ada uang

June 08, 2021
Awan Rimbawan

Kebanyakan kita pernah mengalaminya.
Kecuali Anda berasal dari orang tua yang kaya raya dan punya harta tidak habis-habis tujuh turunan.

Di saat-saat kita tidak punya uang, dan ada kebutuhan yang harus diselesaikan rasanya sangat menyiksa.
Secara emosional bahkan bisa dirasakan secara fisik: perut serasa diremas-remas. Jantung berdetak kencang. Bahkan hati terasa mengkeret.

Bisa jadi ada transaksi penting yang lepas. Atau project yang tiba-tiba dicancel. Biaya tambahan sehingga profit kita lenyap begitu saja.

Mungkin ada kerusakan yang butuh di servis. Atau mungkin juga seperti banyak orang yang tenggelam di dalam cicilan rumah, mobil, kartu kredit dan berbagai macam hutang lainnya.

Kebanyakan dari kita mengalami masa-masa sulit terkait dengan kekurangan uang.

Tapi saya percaya “bagaimana” cara kita meresponnya lebih penting daripada selesainya masalah itu.

Masa-masa sulit bahkan bisa menjadi coach terbaik yang menunjukkan apa yang sebenarnya kita benar-benar butuhkan. Apa yang benar-benar penting dan prioritas di dalam hidup kita. Bahkan kalau mau memandang jujur, itu adalah masa pertumbuhan yang penting bagi kehidupan kita.

Bagi sebagian orang. Tekanan kebutuhan akan uang seakan tidak ada habisnya.

Ketika single butuh uang buat bersosialisasi dan mencari calon pasangan. Ketika sudah punya pasangan butuh uang buat anak lahiran. Anak-anak semakin bertambah merasa butuh lebih banyak uang lagi. Mereka membesar, juga semakin butuh lebih. Tekanan tersebut terus menerus dirasakan sepanjang hidup.

Seakan-akan ketika kehilangan pekerjaan maka kehidupan akan runtuh. Karena hidup dari gaji yg habis tiap bulan. Bahkan meninggalkan hutang. Satu lagi pertengkaran dengan pasangan maka perceraian tidak akan terhindarkan. Bulan demi bulan seperti menghadapi stress yang semakin menyiksa.

Jika ada yang sedang merasakan ini, percayalah… bagaimanapun kelihatannya… tetapi kondisi ini hanya sementara.

Penambahan penghasilan bukanlah jawaban dari permasalahan ini. Karena jika penghasilan bertambah tetapi mindset tetap sama maka tidak akan ada perubahan. Lebih banyak uang, lebih banyak keinginan, lebih banyak kepemilikan. Karena memiliki lebih banyak, pasti lebih banyak pengeluaran, bahkan bisa2 lebih banyak hutang.

Mindset yang lebih efektif adalah menggunakan waktu ini sebagai periode untuk refleksi diri dan pertumbuhan.

Ambil waktu untuk merenung, bagaimana kita mengeluarkan uang selama ini. Untuk apa? dan apakah benar2 perlu? ataukah ada cara-cara kreatif yang bisa kita lakukan untuk bisa memenuhi kebutuhan tanpa harus mengeluarkan uang itu?

Ambil waktu untuk menghitung, bukan apa yang tidak dimiliki. Tetapi menghitung apa yang dimiliki. Pasti yang dimiliki lebih banyak daripada yang tidak dimiliki. Tetapi jika fokus perhatiannya pada yang tidak dimiliki maka akan membawa kepada kesedihan, iri hati dan amarah.

Sebaliknya jika fokus perhatian pada apa yang dimiliki, maka yang muncul adalah rasa syukur dan penghargaan. Coba lihat apakah masih punya mata untuk melihat? Masih punya hidung untuk mencium? Masih punya kaki untuk berjalan? Masih punya tangan untuk mengambil barang-barang? Jantung masih berdetak bahkan tanpa perlu komando. Coba hitung apa yang dimiliki, pastilah tidak akan bisa karena sangking banyaknya.

Di sana akan muncul rasa syukur, rasa terima kasih, penghargaan terhadap hidup yg diberikan oleh Tuhan.

Fokuskan perhatian kepada pengalaman-pengalaman yang membahagiakan. Kemudian nanti hidup akan menuntun kita kepada hal-hal yang baik.

Di dalam merasa cukup, merasa bahagia, merasa bersyukur maka kita akan bisa berpikir jernih. Untuk melangkah dan memberikan kontribusi bagi orang lain.

Jika kita bisa memberikan kontribusi positif di dalam hidup orang lain maka tidak mungkin tidak, uang rezeki dan kebahagiaan akan mengalir ke dalam hidup kita lagi.

Yuk kita diskusi…
Bagaimana menurut Anda?

Salam,
Awan

No comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *