Membangun Sistem Bisnis

July 16, 2018
Awan Rimbawan

Suatu hari ada seorang pemuda bernama Sam.
Sam mengumpulkan tabungan dari hasil kerjanya selama bertahun2.
Kemudian membayar DP untuk membeli sebuah bisnis.

Karena ketidaktahuannya dalam berbisnis, dia cuman tahu bahwa bisnis itu menghasilkan omset X rupiah.
Cukup besar, dan kira-kira sama dengan nilai tabungan yang dia kumpulkan setelah bertahun2.

Ternyata setelah menjadi owner dari bisnis itu, barulah dia tahu.
Omset itu masih harus di potong oleh gaji karyawan.
Masih harus dipotong oleh sewa tempat.
Belum lagi biaya mesin2.
Setelah setahun berjalan, ternyata mesin2 harus diupdate.

Yang lebih parah lagi, dia masuk ke dalam bisnis yang sgt bergantung pada skill sdm nya.
Dia ada di dalam bisnis mengelola sumber daya manusia.
Ini adalah bisnis yang tingkat kesulitannya tergolong paling tinggi.
Karena bisnis bergantung pada SDM, dan orang datang dan pergi.

Akibatnya Sam harus banting tulang, pergi pagi pulang dini hari.
Mengerjakan segala hal ketika di situ tidak ada orang yg mengerjakan.
Mulai dari melayani pelanggan, ngerjain pembukuan, interview, quality control, setor duit ke bank, termasuk kadang nyapu2 bersihin kantor.
Jam kerjanya minimal adalah 12 jam sehari. Itupun kalau beruntung.
15 jam sehari itu jam kerja normal.

Diakhir bulan, dia selalu deg-deg-an… ini karyawan bisa gajian ga ya…
Mikirin gaji orang, tapi gaji sendiri sampe ga ketauan.
Bahkan sangking ga punya duitnya, kantor pun akhirnya jadi rumah.

Hebatnya, Sam menjalani ini selama 15 tahun.
Dari pertengahan 30tahun, sampai menjelang 50-an.

Sebagian karena tidak ada pilihan lain…harus bertahan hidup, sebagian lagi karena ego nya.
“Aku harus bisa mengerjakan hal-hal yang penting sendiri.”
“Aku pasti bisa, aku adalah Superman”
Begitu batinnya…

Sampai pada suatu ketika… badannya tidak lagi bisa mentolerir bertahun2 kerja rodi nya.
Bisnisnya benar2 diambang kebangkrutan.
Pertumbuhan omset, disertai dengan pertumbuhan biaya, disertai dengan pertumbuhan hutang.
Perpisahan rumah tangga terjadi, karena dia tidak punya waktu untuk keluarganya.

Dalam detik2 akhir itu… pikirannya melayang…
Ah kalau memang toh mau berakhir bisnis ini, kenapa tidak mencoba sesuatu yg berbeda?

Pikirannya melayang semakin tinggi…

Bayangan roh nya seolah-olah mengangkat…
Kemudian ketika melihat ke bawah, dan tampaklah bisnisnya…

Dari atas, dia bisa melihat keseluruhan bisnisnya…

Ternyata bisnisnya adalah sebuah sistem besar.
Di dalamnya terdiri dari unit-unit kecil yang saling berhubungan.

Setiap unit, mempunyai input-proses-output.
Output dari sebuah unit bersambung menjadi input dari unit yang lainnya.

Tiba2 pencerahan muncul.

Jika ingin memperbaiki sistem bisnis, maka yang perlu diperbaiki adalah unit-unit kecil di dalamnya.
Fokus kepada perbaikan performansi di dalam tiap unit, maka otomatis akan terjadi peningkatan di dalam sistem besarnya.
Yang bisa diperbaiki adalah input dan proses di dalam tiap2 unit tersebut.

Disuntik semangat dari pencerahan tersebut, Sam bekerja lagi dengan giat.
Namun kali ini dia bekerja bukan sebagai seorang Superman yang kerjanya memadamkan kebakaran.
Dia bekerja sebagai System Builder.

Dia ambil satu unit, tentukan tujuan unit tersebut kemudian buat prosedur dan langkah-langkah detailnya.
Ambil lagi unit yang lain, lakukan hal yang sama.
Satu demi satu.
Dia berubah dari seorang yang pekerja di dalam sistem, menjadi seorang leader yang membuat dan mengarahkan sistem.

Sehingga dia akhirnya punya kumpulan System Operating Procedure untuk tiap unitnya.
Di dalam SOP tersebut disebutkan target yg jelas, kemudian langkah-langkah detail.
Sehingga orang yang baru masuk, tidak perlu mikir lagi.
Orang itu bakal tahu dengan jelas targetnya, juga langkah2 untuk mencapainya.
Efeknya, walaupun orang gonta ganti tetapi unit tersebut bisa terus berjalan.
Kejelasan target dan langkah2 itu ternyata juga membuat tingkat keluar masuk karyawan pun menurun.

Sam kini berusia 60-an
Dia memiliki bisnis yang sangat profitable yang berjalan selama 34 tahun.
Bebas pergi kemanapun, bebas melakukan apapun yg dia suka.
Bekerja dengan jam kerja jauh lebih sedikit dan mempunyai berbagai kegiatan amal.
Bahkan walaupun tinggal di USA, dia punya lembaga non-profit internasional di Kashmir.

Dialah Sam Carpenter dan bisnis yang diceritakan di atas adalah Centratel.
Bidang bisnis Centratel adalah outsourcing telephone service.
Mungkin di Indonesia mirip seperti Infomedia.
Ketika dia masuk di bisnis itu, industri outourcing telephone service sedang dalam masa Sunset.
Kini Centratel menjadi salah satu perusahaan papan atas di industrinya dengan laba sehat dan gaji karyawan 2x di atas rata2 standar industri.

Nah pertanyaannya, bagaimana dengan kita sendiri yang ingin membuat sistem dalam bisnis kita?

Salah satu caranya bisa aja undang Sam ke Indonesia.
Biaya utamanya, perlu bayarin tiket pesawat dari USA.
Mungkin kalau patungan bareng bisa aja.
Tapi ada cara kedua yg mungkin bisa jadi alternatif.

Yaitu baca bukunya Sam Carpenter.
Judulnya Work The System.
Bisa beli di Amazon tebalnya kira-kira hanya 261 halaman buku fisik.
Atau 700 halaman buku digital berformat epub.

Atau mau cara ketiga…

Dateng di acara hari Senin besok.
Kita bakal undang Coach Budi Dermawan.
Owner dari Cupreme cookies dan juga Clothingzones.
Klo browsing di Google bakal ketemu berbagai liputan media, bukti bahwa bisnis ini sudah bertahan diterpa waktu 🙂
Salah satu penguatnya adalah adanya SOP yang jelas.
SOP yang dibuat sudah teruji pada produksi ribuan baju dan kuenya.

Naah… buat yang berminat, yuk hadir di acara SILATURAHMI EPIK TDA BANDUNG:
Hari : Senin 16 July 2018
Waktu : 13.00 – sampai puas
Tempat : Bandung Techno Park bit.ly/lokasibtp
CP: Awan

Pendaftaran: isi aja daftar di group yaa…

FAQ:
– Bayarnya berapa? GRATIS
Ini adalah acara kita bersama… Ada yang nyumbang ilmu, ada yang nyumbang tenaga, ada yg nyumbang desain flyer, ada yang nyumbang tempat, ada yg nyumbang ide, dll.
Kalau mau nyumbang produk buat doorprize boleh. Kalau mau bawa snack buat cemilan bareng2 orang di sebelahnya juga boleh.
Tangan Di Atas hadir dengan spirit berbagi dan memberi 🙂

– Kok ngadainnya di jam kerja, ga di weekend?
Biar yg dateng memang bener2 butuh solusi dari bisnisnya. Terus sambil nyocokin waktunya Coach Buder dan juga availibility tempatnya 🙂

– Acaranya cuman sharing materi aja?
Selesai sharing materi bisa kenalan dan silaturahmi sesama member TDA Bandung.
Insya Allah silaturahmi membawa rejeki…
Ane sendiri selama ikut acara TDA udah ketemu partner, mentor, sodara seperjuangan, dll..
Beberapa malah ada yg punya cerita lanjutan, ketemu bahu untuk bersandar (halah)

Sampe ketemu hari Senin yaaa…

Salam,
your brother at div. EPIK TDA Bandung.
(Edukasi Peningkatan Ilmu dan Kapasitas)

Facebook Comments