INSIGHT DARI MBAK RIRI

October 22, 2020
Awan Rimbawan

Beberapa hari yg lalu aku ketemu dengan Mbak Riri.

Seperti biasa pembawaannya tenang sambil duduk santai di kantin dekat tempat kerjaku.

Aku menyapa dia, Gimana kabarnya Mbak?

Alhamdulillah baik dan sehat2 Mas Awan…
Di kondisi seperti ini, sehat saja sudah sangat Alhamdulillah… Kata Mbak Riri.

Hehe iya bener Mbak, timpalku dengan cepat.
Gimana bisnis mbak?

Mbak Riri menjawab:
Kalau bisnis dan penjualan sedang turun mas.
Dibanding bulan lalu, turunnya mungkin sampai 80%.

Wah banyak banget turunnya Mbak?
Kok Mbak Riri kelihatan tenang-tenang saja?
Aku memburu dengan cepat, penasaran.

Iya Mas… ada masalah teknis yang tak terduga…
Nggak papa… banyak pelajaran yg saya dapat dari sini…
Yang penting terus berusaha aja…
Bisnis memang memang sudah jadi pilihan hidup saya.
Jadi ya naik turun itu biasa bagi saya.
Jawab Mbak Riri.

Selang sejenak… Mbak Riri melanjutkan…
Sama seperti dalam hidup kan Mas…
Kita lagi hidup tenang2 ayem tentrem… eh tiba2 muncul masalah.

Saya merasa…bisnis itu ya mirip2 sama kehidupan.
Kita tidak benar2 tahu kapan masalah bisa datang.

Kok mbak Riri, kok bisa setenang itu menghadapi kondisi penurunan drastis seperti itu? 80% itu gede loh mbak… jawabku…

Gini Mas Awan…
Pegangan saya… hakikatnya pekerjaan dan bisnis adalah titipan.
Nanti ya pastinya akan dikembalikan.
Jadi saya penuhi saja syariatnya.
Bekerja, belajar, dan melayani sebaik2nya…

Kalau sudah memenuhi syariatnya terus disuruh berhenti bekerja ya berarti saya mau dipindah kerja sama Bos Besar ke tempat lain hehe… kata Mbak Riri dengan raut muka jenaka.

Akupun bertanya lagi…
Terus nasib karyawan nya Mbak Riri gimana?
Aku denger sudah mencapai puluhan ya karyawannya…?

Mbak Riri menjawab:
Saya nggak punya karyawan Mas…
Saya punya-nya partner.
Mereka rekan kerja dan tim bersama saya.

Penjualan besar/kecil memang akan berpengaruh terhadap pendapatan mereka.

Makanya kemarin saya ngumpul dengan tim saya.
Saya tanyakan gimana perasaannya di kondisi seperti ini?

Salah satunya ada yg bilang begini..

Bu Riri…saya masih bisa bilang Alhamdulillah dikasih kondisi seperti ini…
Sebelumnya Juni itu kan pendapatan kita bagus sekali.
Sangat berkebalikan dibanding kondisi bulan ini.
Namun dikasih kondisi yg menantang seperti sekarang saya jadi bisa menghargai nilai uang.
Sebelumnya kalau pingin jajan ngga dihitung2.
Kalau sekarang malah saya belajar lagi dalam mengatur pengeluaran. Jajan diatur. Pengeluaran diatur. Malah lebih teratur.
Saya malah berharap mindset seperti ini bisa terus nancep.
Jadi nanti kalau masalah teknisnya sudah beres dan kembali normal, saya malah jadi bisa nabung banyak.
Saya pengen bisa tetap hidup sederhana walau dikasih banyak sama Allah.

MBak Riri melanjutkan ceritanya…
Ada lagi tim saya yg lain, ngomong gini…

Nggak apa apa Bu Riri…
Dulu desember 2017 kita kan juga pernah seperti ini…
Penjualan seret…
Toh tim kita masih bisa bertahan.
Waktu itu cuman ada 4 orang.
Siapa yg sangka sekarang jumlah tim kita sudah 10x dari waktu itu.
Siapa tahu Allah sedang menyiapkan jalan buat naik kelas, 3 tahun kedepan bisa berkembang 10x lipat dari yg sekarang…

Aku terhenyak dan merespon mendengar penuturan Mbak Riri:
Masya Allah Mbak Riri… mindset tim nya keren2 bangetttsss…

Iya Mas, mereka itu energi saya…guru2 saya…jawab Mbak Riri jumawa…

Mbak Riri melanjutkan:
Kalau saya pribadi ya Mas…
Saya memandang sebuah masalah itu bukan sebagai masalah.
Tetapi sebagai peluang.

Peluang buat apa?

  1. Peluang buat upgrade spiritualitas saya.
    Ibadah mana yg masih kurang.
    Ibadah mana yg saya perlu tambah… ini saya refleksikan di kondisi2 sulit seperti ini…
  2. Peluang buat upgrade mindset saya.
    Seperti contohnya kemarin pas bulan Maret awal2 Covid.
    Dalam kondisi tidak menentu itu malah saya belajar dari buku2 tentang mindset dan bertemu dengan Filosofi Stoic.

Orang2 Stoic itu lucu loh Mas Awan…

Bahkan ketika mereka dikasih kondisi kaya, mereka meluangkan waktu tiap bulannya buat pakai baju paling jelek dan bertelanjang kaki keliling2 kota tanpa bawa uang.

Maksudnya biar mereka bisa faham. Kalau nanti ada kejadian jatuh miskin… oh gini to rasanya… kelaparan dan pakai baju jelek. Ah ga papa… aku masih bisa hidup dan bersyukur.

Jadi mereka terus mempersiapkan mindset jika nanti ada kondisi2 yg tidak mereka harapkan.

  1. Kondisi sulit adalah Peluang untuk upgrade skill.
    Saya banyak belajar Mas di kondisi sulit.
    Nanti setelah belajar skill2 baru pasti akan muncul ide baru.
    Sehingga saya belajar melangkah.

Pernah saya bahkan pinjam ke teman untuk bisa belajar hal baru.
Habis itu saya belajar habis2an.
Eh ternyata malah bisa jadi satu tim bisnis baru, Alhamdulillah…

  1. Peluang untuk memperbaiki amal.
    Bagi saya kondisi sulit itu berarti Allah pengen ngomong sesuatu.

Mbak Riri, perbaiki amal2 mu yg berhubungan dengan manusia…
Mana amal2 kebaikan yang perlu ditambah kepada orang lain.
Mana amal2 jelek, habit2 jelek, dosa2 berulang yang perlu dikurangi.
Mana tindakan2 yg bisa dilakukan untuk membantu orang lain?

Mungkin saya masih sedikit sekali sedekahnya… perlu ditambah…
Mungkin saya punya habit kalau ngomong pedes..
Kalau diberikan amanah tentang uang ada cacat2nya…
Itu yg perlu saya perbaiki…

Mungkin saya kurang banyak membantu orang lain…
Memudahkan urusan orang lain…
Itu yg coba saya tambah…

Di setiap kondisi sulit, saya terus berusaha untuk introspeksi diri mengenai hal ini Mas…

Akupun mengangguk2…
Takjub dengan cara Mbak Riri menyikapi permasalahan yg timbul dalam hidupnya…

Jadi menurut Mbak Riri, masalah itu apa? Tanyaku lagi…

Mbak Riri menimpali:
Masalah itu cuman kondisi kehidupan.
Semua kondisi juga punya umur masing2.

Senang ada umurnya.
Susah juga ada umurnya.
Datang dan pergi silih berganti…

Saya berusaha mendidik diri untuk biasa2 saja… kalau senang jangan terlalu senang.
Kalau sulit ya tidak usah terlalu bersedih.

Pertanyaan saya pada diri sendiri…
Bisa engga saya merasakan adanya kasih sayang Allah di dalam semua kondisi itu?

Kalau saya bisa merasakan bahwa kondisi2 itu semua adalah settingan dari Allah…biar saya bisa upgrade hal2 yg saya sebutkan di atas… bagi saya sudah cukup Mas…

Aku tambah terdiam…
Teringat banyak hal yg perlu aku upgrade dalam menyikapi masalahku sendiri.

Sore itu bersama Mbak Riri, aku banyak belajar tentang kehidupan.

Bahwa ternyata kondisi kehidupan ini adalah peluang untuk upgrade. Dan peluang untuk merasakan kasih sayang dari Nya…

Ah Mbak Riri… maturnuwun atas sharing2nya 🙂

Salam,
Awan

Beberapa hari yg lalu aku ketemu dengan Mbak Riri.

Seperti biasa pembawaannya tenang sambil duduk santai di kantin dekat tempat kerjaku.

Aku menyapa dia, Gimana kabarnya Mbak?

Alhamdulillah baik dan sehat2 Mas Awan…
Di kondisi seperti ini, sehat saja sudah sangat Alhamdulillah… Kata Mbak Riri.

Hehe iya bener Mbak, timpalku dengan cepat.
Gimana bisnis mbak?

Mbak Riri menjawab:
Kalau bisnis dan penjualan sedang turun mas.
Dibanding bulan lalu, turunnya mungkin sampai 80%.

Wah banyak banget turunnya Mbak?
Kok Mbak Riri kelihatan tenang-tenang saja?
Aku memburu dengan cepat, penasaran.

Iya Mas… ada masalah teknis yang tak terduga…
Nggak papa… banyak pelajaran yg saya dapat dari sini…
Yang penting terus berusaha aja…
Bisnis memang memang sudah jadi pilihan hidup saya.
Jadi ya naik turun itu biasa bagi saya.
Jawab Mbak Riri.

Selang sejenak… Mbak Riri melanjutkan…
Sama seperti dalam hidup kan Mas…
Kita lagi hidup tenang2 ayem tentrem… eh tiba2 muncul masalah.

Saya merasa…bisnis itu ya mirip2 sama kehidupan.
Kita tidak benar2 tahu kapan masalah bisa datang.

Kok mbak Riri, kok bisa setenang itu menghadapi kondisi penurunan drastis seperti itu? 80% itu gede loh mbak… jawabku…

Gini Mas Awan…
Pegangan saya… hakikatnya pekerjaan dan bisnis adalah titipan.
Nanti ya pastinya akan dikembalikan.
Jadi saya penuhi saja syariatnya.
Bekerja, belajar, dan melayani sebaik2nya…

Kalau sudah memenuhi syariatnya terus disuruh berhenti bekerja ya berarti saya mau dipindah kerja sama Bos Besar ke tempat lain hehe… kata Mbak Riri dengan raut muka jenaka.

Akupun bertanya lagi…
Terus nasib karyawan nya Mbak Riri gimana?
Aku denger sudah mencapai puluhan ya karyawannya…?

Mbak Riri menjawab:
Saya nggak punya karyawan Mas…
Saya punya-nya partner.
Mereka rekan kerja dan tim bersama saya.

Penjualan besar/kecil memang akan berpengaruh terhadap pendapatan mereka.

Makanya kemarin saya ngumpul dengan tim saya.
Saya tanyakan gimana perasaannya di kondisi seperti ini?

Salah satunya ada yg bilang begini..

Bu Riri…saya masih bisa bilang Alhamdulillah dikasih kondisi seperti ini…
Sebelumnya Juni itu kan pendapatan kita bagus sekali.
Sangat berkebalikan dibanding kondisi bulan ini.
Namun dikasih kondisi yg menantang seperti sekarang saya jadi bisa menghargai nilai uang.
Sebelumnya kalau pingin jajan ngga dihitung2.
Kalau sekarang malah saya belajar lagi dalam mengatur pengeluaran. Jajan diatur. Pengeluaran diatur. Malah lebih teratur.
Saya malah berharap mindset seperti ini bisa terus nancep.
Jadi nanti kalau masalah teknisnya sudah beres dan kembali normal, saya malah jadi bisa nabung banyak.
Saya pengen bisa tetap hidup sederhana walau dikasih banyak sama Allah.

MBak Riri melanjutkan ceritanya…
Ada lagi tim saya yg lain, ngomong gini…

Nggak apa apa Bu Riri…
Dulu desember 2017 kita kan juga pernah seperti ini…
Penjualan seret…
Toh tim kita masih bisa bertahan.
Waktu itu cuman ada 4 orang.
Siapa yg sangka sekarang jumlah tim kita sudah 10x dari waktu itu.
Siapa tahu Allah sedang menyiapkan jalan buat naik kelas, 3 tahun kedepan bisa berkembang 10x lipat dari yg sekarang…

Aku terhenyak dan merespon mendengar penuturan Mbak Riri:
Masya Allah Mbak Riri… mindset tim nya keren2 bangetttsss…

Iya Mas, mereka itu energi saya…guru2 saya…jawab Mbak Riri jumawa…

Mbak Riri melanjutkan:
Kalau saya pribadi ya Mas…
Saya memandang sebuah masalah itu bukan sebagai masalah.
Tetapi sebagai peluang.

Peluang buat apa?

  1. Peluang buat upgrade spiritualitas saya.
    Ibadah mana yg masih kurang.
    Ibadah mana yg saya perlu tambah… ini saya refleksikan di kondisi2 sulit seperti ini…
  2. Peluang buat upgrade mindset saya.
    Seperti contohnya kemarin pas bulan Maret awal2 Covid.
    Dalam kondisi tidak menentu itu malah saya belajar dari buku2 tentang mindset dan bertemu dengan Filosofi Stoic.

Orang2 Stoic itu lucu loh Mas Awan…

Bahkan ketika mereka dikasih kondisi kaya, mereka meluangkan waktu tiap bulannya buat pakai baju paling jelek dan bertelanjang kaki keliling2 kota tanpa bawa uang.

Maksudnya biar mereka bisa faham. Kalau nanti ada kejadian jatuh miskin… oh gini to rasanya… kelaparan dan pakai baju jelek. Ah ga papa… aku masih bisa hidup dan bersyukur.

Jadi mereka terus mempersiapkan mindset jika nanti ada kondisi2 yg tidak mereka harapkan.

  1. Kondisi sulit adalah Peluang untuk upgrade skill.
    Saya banyak belajar Mas di kondisi sulit.
    Nanti setelah belajar skill2 baru pasti akan muncul ide baru.
    Sehingga saya belajar melangkah.

Pernah saya bahkan pinjam ke teman untuk bisa belajar hal baru.
Habis itu saya belajar habis2an.
Eh ternyata malah bisa jadi satu tim bisnis baru, Alhamdulillah…

  1. Peluang untuk memperbaiki amal.
    Bagi saya kondisi sulit itu berarti Allah pengen ngomong sesuatu.

Mbak Riri, perbaiki amal2 mu yg berhubungan dengan manusia…
Mana amal2 kebaikan yang perlu ditambah kepada orang lain.
Mana amal2 jelek, habit2 jelek, dosa2 berulang yang perlu dikurangi.
Mana tindakan2 yg bisa dilakukan untuk membantu orang lain?

Mungkin saya masih sedikit sekali sedekahnya… perlu ditambah…
Mungkin saya punya habit kalau ngomong pedes..
Kalau diberikan amanah tentang uang ada cacat2nya…
Itu yg perlu saya perbaiki…

Mungkin saya kurang banyak membantu orang lain…
Memudahkan urusan orang lain…
Itu yg coba saya tambah…

Di setiap kondisi sulit, saya terus berusaha untuk introspeksi diri mengenai hal ini Mas…

Akupun mengangguk2…
Takjub dengan cara Mbak Riri menyikapi permasalahan yg timbul dalam hidupnya…

Jadi menurut Mbak Riri, masalah itu apa? Tanyaku lagi…

Mbak Riri menimpali:
Masalah itu cuman kondisi kehidupan.
Semua kondisi juga punya umur masing2.

Senang ada umurnya.
Susah juga ada umurnya.
Datang dan pergi silih berganti…

Saya berusaha mendidik diri untuk biasa2 saja… kalau senang jangan terlalu senang.
Kalau sulit ya tidak usah terlalu bersedih.

Pertanyaan saya pada diri sendiri…
Bisa engga saya merasakan adanya kasih sayang Allah di dalam semua kondisi itu?

Kalau saya bisa merasakan bahwa kondisi2 itu semua adalah settingan dari Allah…biar saya bisa upgrade hal2 yg saya sebutkan di atas… bagi saya sudah cukup Mas…

Aku tambah terdiam…
Teringat banyak hal yg perlu aku upgrade dalam menyikapi masalahku sendiri.

Sore itu bersama Mbak Riri, aku banyak belajar tentang kehidupan.

Bahwa ternyata kondisi kehidupan ini adalah peluang untuk upgrade. Dan peluang untuk merasakan kasih sayang dari Nya…

Ah Mbak Riri… maturnuwun atas sharing2nya 🙂

Salam,
Awan

No comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *