(GIVE) BE – DO – HAVE

December 04, 2018
Awan Rimbawan
TDA

Assalamualaikum para suhu dan rekan-rekan seperdjoeangan,

Punten newbie numpang lewat…

Beberapa minggu yg lalu di saya hadir di pertemuan KMM Kopi Dangdut.
Suhu yg mengisi di pertemuan tersebut adalah Suhu Hergal.
Di sana ane ketemu lagi sama istilah Be – Do – Have.

Kalau di inget2, ane pertama kali ketemu istilah ini duluuu banget waktu ikutan KMB (Kelompok Mentoring Bisnis).
KMB waktu itu Mentor nya Mas Ruli.

Sebenernya KMB nya Mas Ruli kuotanya udah full.
Tp karena ane bantu2 di kegiatan KMB, jadilah ane bisa nyempil jadi mentee di KMB Mas Ruli.
Alhamdulillah, berkah ikut ngurusin kegiatan TDA 😀

So singkat cerita di situ ane belajar tentang konsep Be-Do-Have vs Have-Do-Be.
Perbedaan kedua urutan dari proses berpikir ini memberikan pengaruh yg sangat berbeda.
Kebanyakan orang berpikir bukan dengan urutan Be-Do-Have, tp justru Have-Do-Be.

Di dalam urutan Have-Do-Be , prosesnya adalah sebagai berikut:
1. Saya harus punya dulu (Have)
2. Sebelum bisa melakukan sesuatu (Do)
3. Sehingga kemudian saya bisa merasakan atau menjadi yg saya inginkan (Be)

Misal,
Saya harus punya duit dulu (HAVE)
Untuk kemudian membuat bisnis (DO)
Sehingga saya bisa jadi bahagia (BE Happy)

Contoh lainnya:
Saya harus punya usaha yg keren dulu (HAVE)
Untuk bisa menikah, beli rumah, sedekah, dll (DO)
Sehingga saya bisa menjadi sukses (BE Success)

Pola pikir Have-Do-Be ini sangat membatasi.
Karena untuk melakukan action ada syaratnya, yaitu memiliki sesuatu.
Kemudian untuk mengalami kondisi batin yg kita inginkan, disyaratkan kita sudah punya sesuatu dan sudah melakukan sesuatu.

Pola pikir inilah yang menyebabkan seseorang terjebak di dalam “banyak mikir tp tidak ada action”.
Lalu terjebak dalam berpikiran untuk merasakan sesuatu maka syaratnya harus memiliki sesuatu terlebih dahulu.
Ujungnya2 akan jatuh kedalam mentalitas victim.
Saya gak bisa soalnya… xxx

Nah kabar baiknya, dengan mengubah urutan berpikirnya maka akan menjadi lebih dahsyat lagi.
Caranya adalah dengan mengubah Have-Do-Be menjadi pola pikir Be-Do-Have.

Di dalam urutan ini, maka proses “menjadi” nya yang lebih penting daripada proses “memiliki”.

Misal dalam contoh di sebelumnya…
Saya sekarang bahagia (BE Happy)
sehingga dari keadaan bahagia itu saya bisa memulai bisnis (DO)
ujung2nya saya akan mendapatkan (HAVE result or learning experience)

Atau…
Saya adalah orang sukses (BE)
Sehingga saya bisa melakukan usaha2 untuk merencanakan pernikahan, membuat plan memiliki rumah, atau bersedekah (DO)
Ujung2nya saya akan memiliki apa yang saya rencanakan, atau saya akan memiliki pengalaman lain yang Allah gariskan (HAVE)

Sehingga perubahan urutan dari Have-Do-Be menjadi Be-Do-Have akan mengempower seseorang.
Cara bertindaknya tidak lagi dibatasi oleh apa yang dimiliki.
Cara bertindaknya akan diperkuat justru pada bagaimana dia memandang dirinya sendiri (Be).

Nah permasalahannya bagaimana membuat perubahan pada pola pikir ini?

Semenjak berinteraksi dengan komunitas TDA, saya jadi menemukan sebuah komponen pelengkapnya yaitu: Memberi (Give)

Give adalah komponen pelengkap sehingga seseorang bisa men-switch pola pikirnya dari keterbatasan Have-Do-Be menuju keleluasaan Be-Do-Have.
Have-Do-Be —> Give —-> Be-Do-Have

Di dalam Have-Do-Be, yang menghalangi seseorang untuk bertindak adalah syarat bahwa dia harus memiliki sesuatu.
Nah dengan melakukan proses memberi maka keterbatasan itu pelan2 akan menghilang.
Otaknya akan berpikir bahwa karena dia memberi, maka dia sudah memilikinya.
Kemudian orang tersebut pelan2 akan menjadi sesuatu (Be) sesuai apa yang dia berikan.
Sehingga memungkinkan dia untuk melakukan sesuatu yg lebih besar (Do More).
Ujungnya2 hal2 baik yang dia inginkan akan kembali datang kepadanya (Have).

Contoh kasus…
Salah satu member TDA datang ke TDA tanpa merasa punya skill apa2.
Sebut saja namanya Bebenlicious. (Sama seperti Mawar, bukanlah nama sebenarnya)
Nama sengaja disamarkan karena saat ini beliau sudah jadi suhu dan orangnya sangat rendah hati.

Menarik untuk menyimak perjalanan dia.
Beben datang ke TDA tanpa punya skill apa2.
Tetapi berkat silaturahmi dengan salah satu suhu TDA, dia menemukan sesuatu yg bisa diberikan.
Beben menemukan bahwa dia bisa memberikan waktunya sebagai MC di acara TDA.

Awal2nya tentu saja tidak sempurna.
Awal2nya pasti saja kagok dan banyak crispy nya (garing).
Saya sendiri jadi saksi pas liat Beben nge-mc di TDA Camp Batch 1

Namun dalam ketidaksempurnaan tersebut, dia terus “memberi”
Dia nge-MC di sebagian besar acara TDA.
Baik besar maupun kecil.
Gak mikir bayaran, karena kalau mikir bayaran itu berarti bukanlah proses memberi tetapi proses meminta.
Dia terus memberi…memberi…dan memberi…

Seiring dengan berjalannya waktu skill nya meningkat.
Dia menjadi sesuatu yg lebih besar dari diri sebelumnya.
Sehingga dia bisa Do more and Have more.
Begitu menggulung terus menerus bagai bola salju yg semakin lama semakin besar tak terbendung.
Saat ini, Beben sudah masuk menjadi jajaran MC di acara2 nasional.
Dia berdiri di panggung dengan jumlah audience ribuan orang.
Setara dengan pembicara2 nasional hebat lainnya.

Beben juga sebuah efek dari proses memberi yg dilakukan oleh suhu di TDA yang mengencourage dia untuk naik panggung.
Sebut saja namanya Raisal Ahmad (juga bukan nama sebenarnya.
Beliau adalah suhustad yg rendah hati dan gemar berbagi inspirasi.

Contoh kedua:
Salah satu member di tda yg lain bernama Alif Kurniawan (lagi2 bukan nama sebenarnya)

Ketika awal Alif bergabung di TDA, dia menganggap dirinya sebagai orang yg introvert.

Tetapi kemudian Alif melakukan proses memberi.
Alif memberikan waktunya untuk bergabung di berbagai kepanitiaan buat mensukseskan acara2 TDA.

Di sela2 job kepanitiaannya Alif memberikan nilai lebih dengan memotret dan juga merekam video dalam acara tersebut.

Tidak berhenti di situ, Alif mendekati suhu-suhu di TDA dan membuat video berisi rekaman wawancara dia.

Awalnya tidak sempurna.
Videonya suaranya kecil.
Pas wawancara kagok.
Tetapi dia terus melakukan proses memberi di dalam segala keterbatasannya…

Sekarang?
Dia sudah memiliki skill fotografi dan videografi.
Event-event TDA bandung tidak pernah lepas dari hasil karya dia.

Video ciptaannya selalu bisa memunculkan sisi emosi yang menyentuh kalbu para member TDA.

Alif bertransformasi dari “tidak bisa” menjadi “ahli” dari proses memberi.
Alif menswitch pola pikir Have-Do-Be menjadi Be-Do-Have dari proses memberi.
Alif yg sekarang punya tambahan bisnis foto/videografi dan bisa mendapatkan uang dari passion nya.
Alif yg sekarang adalah seorang Vlogger yg sangat produktif.

Dua contoh suhu di atas sample metamorfosis dari orang biasa menjadi orang luar biasa.
Selain Beben dan Alif, saya menjadi saksi hidup banyak sekali orang yang berubah dengan proses memberi yg tulus di komunitas TDA.
Masih banyak lagi yg lain yg nanti temen2 bakal temukan sendiri waktu kopdar langsung 🙂

Have-Do-Be —> Give —-> Be-Do-Have

Saya sendiri masih belajar banyak dari para suhu-suhu tersebut.
Yang terus bergerak, berproses dan memberi tanpa mau dibatasi oleh persepsi apa yang mereka miliki.
Yang terus memberi untuk kemudian mengetahui siapa diri mereka sebenarnya.

“Because we are not physical beings who want to experience spiritual things… We are spiritual beings who want to experience physical things”

Salam,
Divisi Epik (Edukasi dan pengembangan kapasitas)
TDA Bandung.

PS:
– Salam super keren buat temen2 KMM Kopi Dangdut yang “memberikan” waktu untuk mengundang para suhu dan menginisiasi pertemuan mingguan.
Contoh nyata yg lain bahwa tidak butuh syarat a,b,c,d untuk memberi, cuman butuh kemauan.
YOU ROCK GUYS!!!!!

– Jangan lewatkan event gratis di Malang untuk upgrade ilmu dan upgrade permodalan biar bisnis makin JOSH GANDOSHH

Facebook Comments