Freelancer, Jangan Jadi Komoditas!

September 04, 2012
Awan Rimbawan

Awan Rimbawan - Freelancer Jangan Jadi Komoditas

Beberapa hari yang lalu saya dihubungi salah seorang teman pengusaha.

Ceritanya dia baru saja memulai usaha di bidang trading hasil bumi.

Dalam sebulan terakhir dia telah mengirim 4 ton hasil bumi ke Surakarta dan mendapatkan untung tipis dari transaksi tersebut.

Dia meminta advice dari saya untuk bisa mendapatkan pembeli dari luar negeri (ekspor), agar bisa mendapatkan harga jual yang lebih baik.

Yang saya amati dari cerita teman saya, hasil bumi yang dia pasok adalah bahan mentah.

Dan karena bahan mentah, maka untuk bisa mendapatkan untung yang lumayan dia harus main di volume.

Beberapa tahun yang lalu ketika saya berhenti dari United Nations dan mulai berbisnis, saya pernah mendapatkan pembeli batik dari Malaysia dan Saudi Arabia. Masih dalam skala kecil memang, tetapi saya mendapatkan pengalaman berharga pada saat itu.

Pelajaran yang saya dapatkan adalah, lebih menguntungkan berjualan batik dengan mutu yang baik dari pada hanya sekedar berjualan kain. Packaging, serta kepada siapa kita menjual barang tersebut juga sangat berpengaruh terhadap keuntungan yang bisa kita dapatkan.

Kemudian saya teringat di awal-awal saya main freelance di oDesk.

Saya punya pilihan untuk meng-apply pekerjaan2 dengan low skill seperti data entry.

Tetapi kemudian saya urungkan, karena bayarannya kecil sekali dan butuh jam kerja yang panjang.

Pekerjaan-pekerjaan low skill analoginya sama seperti berjualan hasil bumi yang belum di olah.

Harga jualnya rendah, dan banyak yang bisa memasoknya.

Kalau saya berjualan pisang mentah mungkin satu pisang harganya Rp.200,00

Kalau dibikin pisang goreng, mungkin harganya Rp.500,00

Kalau dibikin roti pisang, bisa dijual dengan harga Rp.1.500,00 di toko.

Kalau roti pisang itu dikemas dengan baik dan dijual di supermarket, bisa jadi Rp.4500,00

Kalau roti pisang yang dikemas dengan baik itu dijual di supermarket di Belanda, harganya bisa jadi 2.5 Euro atau setara dengan Rp.30.000,00.

Nah begitupun dengan skill yang ingin Anda jual sebagai Freelancer.

Jangan jadi komoditas dengan berjualan service dengan low skill.

Sifat dari komoditas adalah pasaran, banyak yang memasok, dan butuh volume yang besar untuk bisa menghasilkan revenue.

Salah satu teman saya, mendapatkan pekerjaan data entry dengan memasukkan captcha.

Untuk 100 captcha yang dia berhasil masukkan, dia mendapat 1usd.

Tetapi untuk bisa menyelesaikan 100 captcha dia butuh 3jam.

Yang kemudian dia keluhkan adalah Long-Boring-Working-Hour dan Low-Payment.

Jadi, goreng skill Anda, olah skill Anda sehingga bisa jadi sesuatu yang punya value added tinggi buat client.

Kemudian belajarlah untuk mengemasnya dengan baik lewat profile yang bagus, dan bidding proposal yang menarik.Karena dengan packaging yang bagus, juga bisa meningkatkan harga jual.

(punya permasalahan atau pemikiran mengenai topik ini? silahkan posting di bagian komentar di bawah)

Facebook Comments

11 Comments. Leave new

Taufik Nur Adi
September 4, 2012 2:58 pm

🙂 Saya jadi ingat sebuah cerita mengenai mengapa orang yang Kuliah IT sering dikalahkan oleh orang-orang Non-IT yang belajar Tekun untuk bisa IT. Kalau orang yang kuliah IT tidak memanfaatkan kuliahnya untuk mematangkan diri, tidak memanfaatkan waktu luangnya untuk mengasah Skill. Akan kalah sama orang-orang yang Non-IT yang berusaha untuk MENGEMAS DIRI. Temen2 bisa lihat sendiri yang terjadi sekarang. Pekerjaan Rekayasa Kimia hanya bisa dilakukan oleh orang-orang Ahli Rekayasa Kimia karena Ilmunya spesifik dan kurikulumnya juga disusun sedemikan rupa dan spesifik agar Ahli Rekayasa Kimia memang benar-benar Ahli dibidangnya, Sedangkan IT, banyak sekolah yang tidak menyusun kurikulumnya dengan baik sehingga orang yang kuliah di Rekayasa Perangkat Lunak masih belum mendapatkan ILMU PAMUNGKASNYA dan ilmu yang ada pada kurikulum Rekayasa Perangkat Lunak di Indo khususnya belum benar-benar membentuk Alhi Rekayasa Perangkat Lunak sebenarnya.:)

Reply

Pendapat yang menarik Om Taufik 🙂

Kalau saya justru menggaris bawahi kata2 “belajar tekun”. Jadi masalah utamanya di ketekunan, bukan di orang IT atau non-IT.

Ketekunan ini mungkin ada kaitannya dengan minat, seperti temen saya yang kuliah penerbangan minatnya di programming. Sekarang malah jadi Programmer Java 😀

Mungkin karena saat ini informasi tentang IT begitu gampang di dapat, sehingga membuka peluang siapapun buat terjun ke dunia ini. Apalagi yang memang punya minat dan curiousity di bidang itu.

Kemarin saya ketemu orang Jerman, udah kuliah elektro di jerman trus setahun keluar. Habis itu di Maastricht ngambil kedokteran. Pas saya tanya kenapa, dia bilang… saya masuk elektro karena saya bagus di bidang matematika dan ilmu2 pasti. Tetapi saya pikir alasan bahwa saya masuk ke suatu bidang karena saya bagus di bidang itu adalah alasan yang kurang tepat. Saya ingin masuk ke suatu bidang karena saya punya curiousity di bidang tersebut. Jadilah dia masuk kedokteran.

Dan orang ini, memang super kreatif. Jago bikin film, ngedrum jazz, skateboarding, bahkan saya sempet latian taichi bareng sama dia :D.

So curiousity drive tenacity?

Hmm… Tapi omong2 saya penasaran, ilmu pamungkas yang disebut sama Om Taufik itu seperti gimana ya? 🙂

Reply
Mas'ud Adhi Saputra
September 4, 2012 11:30 pm

Lha klo aku baru tau klo ga minat di IT setelah kuliah 🙂 itulah akhirnya yg ngebuatku jd tukang ketik spt skrg. Hehehehe… Dulu mo banting setir jadi dokter tp takut kuliahnya lebih lama lagi :))

Reply
Tannya Azhmaralda
September 5, 2012 12:13 am

Setuju total!! Inget perjalananku hehehe

Reply
Yola Ifliandry
September 5, 2012 2:23 am

saya juga muter2 dulu .. kuliah akuntansi, ambil brevet A+ B perpajakan (ini cinta pertama) .. tapi gagal jadi akuntan .. kerja di asuransi 9thn … bergaul sama orang IT, ketularan minat, sekarang belajar jadi programmer ..(semoga cinta terakhir ini kesampaian)

Reply

@[1081587151:2048:Mas’ud Adhi Saputra]: wah yg ini yg baru terungkap, pak dokter mas’ud hmmm… kayak gimana ya 😀

Kadang ane pikir2 manusia itu memang harus mengalami, bukan mencapai. Maksudnya, kalau orang ga nyemplung di satu bidang mungkin dia ga bakal tau apakah dia suka di bidang itu apa engga. Yang ada mungkin malah penasaran, gimana ya rasanya klo bekerja/kuliah di bidang A atau B.

Hmm… mungkin perjalanan hidup memang bukan untuk mencapai apa2, tetapi untuk mengalami. Ketika sudah mengalami jadi mengerti kemana arah hati ingin berlayar.

Teteh @[1577710476:2048:Tannya] jg muter2nya kesana kemari ya teh. Tapi di puteran2 itu terdapat pengalaman2 berharga di sana sini. Jadi inget waktu dirimu cerita buka lapak nyoba jualan baju FO. Seneng ya teh laku banyak 😀

@Yola: klo udah bisa nulis hello world brati udah bisa memprogram bro 😀 ehehe… sok atuh ditekuni minatnya, biar ilmunya bisa berguna buat orang orang lain 🙂

Reply
Yola Ifliandry
September 5, 2012 2:23 am

ijin menyimak dulu aja mas Awan.. lagi sibuk bikin portofolio ~ andai desain itu matematika, mungkin lebih mudah bagi saya, desain itu abstract ya 🙁 ~.

Reply

Programmer yang designer? atau designer yg programmer? 😀
Emang bikin portofolionya gimana metodenya bro?
Porto yg lama dicopotin dulu yah?

Reply
Yola Ifliandry
September 6, 2012 3:21 am

programmer yg terpaksa jadi designer mas bro .. 😀
sekarang metodenya -baru proses belajar-, coba corat-coret dikertas dulu .. sebelumnya langsung didepan komputer, langsung photoshop, yg ada nge-blank ..
iya portofolionya dicopotin dulu … lagian cuma ada 4 yg 2 sudah offline …kalo sudah offline masih tetap ditampilkan boleh gak ya ?

Reply

ogt, hmm… design itu awalnya seeing skill bro, baru drawing skill.
the ability to see edges and objects.

sama kayak nyanyi itu awalnya listening skill, jadi pas ngeluarin nada engga fales.

coba cari design2 yg bagus bro, trus amati kenapa bisa bagus.

bisa juga ikutin tutorial, trus nanti di modif lagi.

klo kata master designer @[1653537200:2048:Arief Febrianto], buat jadi designer itu yg penting taste nya.
kalau taste nya udah bagus nanti teknis nya bisa ngikutin.

sok dicobain, ntar kabarin lagi progressnya yah 🙂

Reply

… seeing skill -> drawing skill ..
… taste -> skill …
mantabs bro .. thanks atas sarannya … langsung dicoba … 🙂

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 + 8 =