Bukan Bagus, Tetapi Benar

April 08, 2013
Awan Rimbawan

Kalimat itu saya dengar dari mulut Master Lie Kung pada latihan Taichi minggu lalu. Jurus yang bagus belum tentu benar.  Sementara jurus yang benar, akan pasti bermanfaat bagi kesehatan dan juga pemahaman kehidupan.

Pagi ini kalimat itu terngiang kembali, berkaitan dengan menulis. Saya selalu suka menulis, tetapi kadang hambatan yang muncul adalah untuk ingin menulis dengan bagus. Padahal menulis dengan benar adalah curahan hati yang sebenarnya. Menulislah apa yang ada di pikiran. Karena kamu tidak bisa memperbaiki tulisan yang tidak pernah dituliskan.

Maka semenjak hari ini sayapun ingin menulis kembali.

Sebenarnya keinginan menulis kembali ini dipicu oleh beberapa hal. Salah satunya adalah pertemuan dengan teman2 dari klabnul Sabtu lalu di ZOE. Ridlo banyak bercerita tentang kunjungannya ke Spanyol dan restrukturisasi di PT Dirgantara Indonesia. Ifu juga banyak bercerita tentang statusnya sekarang sebagai reporter tetap di Belia. Datang juga Rahmat, pacar Ifu yg tergabung di tim gigsplay.com. Enak ya jadi kontributor music, kerjanya ngedatengin event2 musik terus gak usah bayar tiket hehehe…

Hal lain yang memicu keinginan menulis kembali adalah ketika membaca postingan dari blog Intan http://intanafiah.blogspot.com/2013/03/be-success-business-girls.html tulisan itu mengingatkan saya atas spontanitas menulis yang pernah saya lakukan di awal2 menulis dulu.

Writing is healing, itu kata-kata yang pernah saya berikan kepada almarhum sahabat saya. Mungkin kata-kata tidak bisa diterapkan pada semua orang, tetapi kata-kata itu sangat berlaku untuk saya.

Dan kembali kepada judul tulisan di atas. Menulislah yang benar, menulislah sesuai dengan apa yang dikatakan oleh hatimu. Lupakan menulis dengan bagus, jika itu membebani.

Dan celetukan Teh Kristin pada latihan Taichi minggu lalu pun tiba-tiba muncul di pikiran saya “Oh, jadi harus dinikmati…”

Mungkin ini juga tidak hanya berlaku pada saat main Taichi, atau menulis… mungkin ini juga berlaku pada saat kita menjalani hidup.

 

Coretan di sebuah pagi, selepas sholat Sholat Subuh di Masjid. 

Facebook Comments

No comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 + 9 =