Bisnis Jalur Utara VS Bisnis Jalur Selatan

June 25, 2018
Awan Rimbawan

Assalamualaikum para suhu dan rekan2 seperjuangan…

Pengen cerita sedikit tentang cerita mudik boleh?

Orang2 yang mudik dari Jawa belahan Barat menuju ke arah Timur, tentunya tidak asing dengan Jalur Selatan dan Jalur Utara.

Kemarin ane iseng2 cari2 data kecelakaan di kedua jalur ini.
Nemulah data di tahun 2011.

Ternyata data kecelakaan tahun 2011, terdapat 65 kecelakaan di Jalur Utara.
Sementara di Jalur Selatan terdapat 42 insiden kecelakaan di tahun itu.

Kalau melihat karakteristiknya, Jalur Selatan cenderung berbelok-belok dan naik turun.
Sementara Jalur Utara jalannya cenderung lurus, apalagi dengan adanya tol kinyis-kinyis yg masih mulus.

Mungkin karakter jalan ini ada kaitannya dengan jumlah kecelakaan yg terjadi.

Jalur Selatan yang berkelok-kelok membuat para pengemudi lebih waspada.
Ada belokan, ada turunan, harus siap-siap di rem.
Setelah turunan ada tanjakan, perlu turun gigi sehingga bisa punya daya yang maksimal buat naik ke atas.

Sementara Jalur Utara, gas pol… lancar jaya… tidak terasa kecepatan sudah 160km/jam.
Apalagi pemandangan kanan kiri Jalur Utara yang monoton ini sering membuat ngantuk.
Micro sleep alias tidur dalam hitungan detik, bisa berakibat fatal.

2 kondisi jalur ini mirip dengan bisnis.

Ketika orang membangun bisnis ada yang melalui “Jalur Selatan” dan ada yang melalui “Jalur Utara”.

Ada yang baru mulai bisnis, kok mudah banget… bisa mencapai profit ratusan juta dalam waktu singkat.
Milih produk langsung meledak.
Milih target market kok ya pas.
Milih supplier, kok ya dapat yg amanah.

Tapi ada juga yang sudah bertahun2 bisnis… melihat omset puluhan juta aja hanya di momen2 tertentu.
Itu omset, apalagi ngitung profit.
Coba berpuluh2 produk, ga ada yang jalan.
Milih target market, kok ya dingin2 aja.
Dapet supplier, dikasih barang yang reject, dst dst…

Nah yang repot kalau orang yang bisnisnya kebetulan ada di “Jalur Utara” ini jadi terlena, hilang kesadaran.
Merasa lebih pintar dan lebih berhasil.
Merasa dirinya hebat dalam bisnis… membanding2kan pencapaian yang lebih banyak dalam waktu tempuh yang lebih singkat.
Memandang rendah kepada orang yang bisnisnya di “Jalur Selatan”

Padahal di Jalur Utara terdapat jebakan betmen yang menunggu ketika lengah.
Terbukti dari statistik jumlah kecelakaan nya lebih tinggi dari jalur selatan.

Sementara saya diam-diam kagum dengan orang2 yg ulet berbisnis walau ada di “Jalur Selatan”.
Mereka menjalani jalur yg berkelok2, butuh tenaga ekstra untuk naik tanjakan, siap2 waspada rem pada saat turunan.
Kemudian menyerahkan hasil dari usaha kesabarannya di tangan Tuhan-nya.

Orang-orang seperti ini, memperbaiki fundamental dan mindset.
Belajar kesana-kemari.
Menghitung dan mengalokasikan sumber daya dengan se-hati-hati mungkin.
Mikir gimana caranya membuat “ada” dari sumber daya yang tidak ada dan tidak punya.
Gagal, bangkit lagi…
Bikin baru, gagal, coba lagi…
Masih gagal, terus2 di ulik lagi…
Sambil ibadahnya dikencengin, terus mendekat kepada Tuhan-nya…

“Bisnis Jalur Utara” tantangannya adalah apakah bisa bersyukur, berbagi dan tetap rendah hati.
Sementara “Bisnis Jalur Selatan” tantangannya adalah sabar sambil terus berjuang.

Bisa jadi di akhirat nanti Dia akan berkata:
“Yang Aku anggap hebat bukanlah pebisnis yang coba bisnis di bidang A, B, C, D…Z berhasil semua.
Karena keberhasilan itu adalah fasilitas dari Ku.
Hak prerogratif Ku fasilitas2 itu mau diberikan kepada siapa.
Yang Aku anggap hebat adalah justru pebisnis yang aku tugaskan di dunia dengan sedikit atau bahkan tanpa fasilitas keberhasilan.
Namun dia coba terus berjuang pantang menyerah sampai Aku menjemputnya.”

Nah kalau temen2 bisnisnya ngerasa ada di “Jalur Utara” atau “Jalur Selatan” nih? 🙂

Salam,
Your brother di Divisi EPIK TDA Bandung 🙂

Facebook Comments