Bell’s Palsy Bandung

June 22, 2013
Awan Rimbawan

BellsPalsy_SM

Karena di SMS Ari Sandi, dan juga sulitnya mencari informasi pengobatan di Bell’s Palsy di Bandung, maka saya putuskan menuliskannya di sini.

Jadi ceritanya pada 27 Mei yang lalu saya mendapatkan hadiah ulang tahun yang sangat unik. Pagi-pagi bangun, mata sebelah kiri serasa berat. Saya kira karena kecapekan saja gara2 sehari sebelumnya baru saja pulang dari Jakarta.

Besoknya, kok masih sama. Ketika saya berkaca, terasa aneh karena mata kanan sudah menutup, tapi mata kiri terasa menutup cuman sebelah.

Yang lebih aneh, ketika tersenyum tidak simetris antara bagian kanan dan bagian kiri. Wah ada yang nggak beres nih batin saya. Yang paling melihat perbedaannya adalah istri saya.

Saya pikir jangan-jangan ini stroke ringan, langsung saja saya browsing2 dan mendapatkan informasi tentang Bell’s Palsy.

Cari-cari info di mana harus mengkonfirmasi kondisi ini, susah sekali menemukan informasi tentang Bell’s Palsy di Bandung. Kebetulan oleh tante di rekomendasikan ke Dokter Syaraf di Apotek Santi dekat BIP. Nama Dokter nya adalah Ahmad Rizal. Beliau adalah dokter ramah yang informatif. Bell’s Palsy sendiri bukan stroke ringan, terjadi karena syaraf di belakang telinga membengkak sehingga mengakibatkan terganggunya otot di muka. Akibatnya muka jadi tidak simetris. Penyebabnya sampai sekarang belum diketahui secara pasti. Ada yang bilang karena virus, ada juga yang bilang karena terpapar angin sebelah. Namun belum ada yang bisa membuktikan bagaimana virus atau angin bisa menjangkau bagian syaraf yang letaknya jauh di dalam.

Oleh beliau saya diberi obat Prednison dan Methylcobal. Setelah dua minggu saya cek lagi ke sana, ada progress mungkin sekitar 60% dari kondisi semula. Dokter Rizal sendiri menyebutkan bahwa di usia muda biasanya Bell’s Palsy akan sembuh dalam jangka waktu kurang dari 3 bulan. Namun agar lebih cepat, maka di sarankan untuk melakukan Fisioterapi.

Kemudian Saya pun dirujuk ke RS Hasan Sadikin untuk melakukan terapi. Terapinya berupa memberi rangsangan elektrik ke otot muka. Jadi selama syaraf telinga terganggu maka otot di muka tidak mempunyai asupan listrik, oleh karena itu diberi stimulasi dari luar.  Juga disarankan untuk mengkonsumsi vitamin yang berfungsi untuk memberi asupan syaraf seperti Neurobion. Di sana saya bertemu dengan Dokter Novitri, sama seperti Dokter Rizal beliau adalah tipikal Dokter yang ramah dan informatif.

Di minggu ketiga ini kondisi muka sudah pulih 90%. Di harapkan pada minggu ke empat atau ke lima sudah pulih secara normal.

Bagi yang mengalami hal yang sama, segera cek di Dokter Syaraf setempat agar bisa mendapatkan informasi dan penanganan langsung.

Facebook Comments

No comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 + 2 =